Tau
ga sih??? Ternyata Ka’ Bowo alias Ka’ Riyan itu termasuk orang yang
suka diperhatiin. Eitsssss tar dulu, suka
diperhatiin disini bukan berarti doi suka caper ke orang lain, tapi di
perhatiin disini dalam hal yang wajar, ya iyalah manusia mana sih yang ga
suka di perhatiin, so itu sebuah hal yang wajar banget kalo ternyata Mr
Bowo yang pinter komputer ini memang suka sama yang namanya di perhatiin.
Doi juga termasuk orang yang terbuka, maksudnya disini itu
kalau ada orang yang ga suka sama nih cowok mendingan ngomong langsung aja
ke doi nya jadi ga usah main belakang!!! Menurut doi,
doi termasuk orang yang kooferatif, pekerja keras, dan juga
egois.
Tapi ada juga hal yang ga di sukai sama doi, yaitu
menunggu, memang menunggu disini memiliki arti yang luas banget,
pokoknya hal yang ga suka sama doi menunggu, menunggu dalam segi apapun.
Doi juga ga suka sama yang namanya di bohongin, di
curangin, and satu hal lagi doi paling ga suka kalau doi
lagi ngomong tiba-tiba ada yang memotong pembicaraannya, so jangan
coba-coba untuk nyelak omongan kalo dio lagi ngomong, cukup menjadi
pendengar yang baik aja.
Selama ini doi juga punya temen yang paling “BEST FRIEND”
banget deh, katanya namanya “Bezit” alias Ahmad Nurwanto,
pokoknya doi bilang “ Its My Best Friend”.
Doi yang memiliki kegiatan yang teramat padat,
kadang-kadang suka bingung untuk mengatur waktunya, antara waktu kuliahnya
dengan waktu mengajar di SMKN 8 karena kebingungannya itu, doi
sempet ga kuliah selama 1 bulan karena doi begitu sibuk dalam
kegiatan sehari-harinya. Untuk cowok yang tinggal di daerah Volvo ini,doi
paling suka jalan kaki saat pulang ke rumahnya.
Terakhir mengenai Doi, saat ini pastinya doi lagi
menjadi orang yang selalu di cari sama seluruh kelas 3 di SMKN 8
karena banyak yang berkepentingan menanyakan soal proposal ke cowok yan g
suka pakai jaket hitam ini. Untuk lebih jauh mengenal tentang Ka’Bowo anda
bisa melihat di halaman Comment.
|

[Pengalaman rohani]
Pada usia 16 tahun
Jefri sudah mengenal dugem (dunia gemerlap) alias dunia malam. Hampir semua
tempat hiburan di Jakarta, mulai dari diskotik, bar, club, cafe telah ia
singgahi, Di lembah hitam itu, ia mengenal pergaulan bebas, miras, hingga
narkoba. Ketergantungannya pada narkoba membuatnya gendeng bahkan nyaris
mati. Saat itulah ia mulai mengenal Allah, menyadari kebodohannya selama ini.
Kini, orang menyebut Jefri ustaz gaul, karena dakwahnya yang
komunikatif.Jefri yang sekarang memang bukan Jefri yang dulu lagi. Jefri
yang sekarang adalah Jefri yang shaleh, tawadhu, dan istiqomah namun tetap
gaul. Padahal dahulu, ia anak muda begajul. Hidupnya hanya mengejar
kesenangan dan 'kebebasan’. Kalau ada yang menanyakan di mana Diskotik
Stardust, pasti ia menjawabnya dengan cepat dan tangkas. Namanya juga anak
gaul.Ketika Amanah menemuinya di Masjid Al Hakim, Menteng, Jakarta Pusat dan
menanyakan sesuatu tentang kisah masa lalunya, terlihat roman wajahnya
berkerut dan bibirnya bergetar, seperti enggan dan berat membuka kembali
lembaran masa lalunya yang getir. Karena bagi Jefri, masa lalunya adalah aib,
Berikut ini penuturannya."Terus terang, kalau saya ceritakan masa lalu saya,
itu sama saja membuka aib sendiri, Mungkin sebagian orang akan mengatakan 'Aah..
apa sih gunanya membuka aib, sudah, tutup sajalah'. Dan sebenarnya saya
berusaha untuk itu. Tapi tampaknya Allah berkehendak lain, seakan-akan.
Allah ingin menghantarkan orang-orang di sekeliling saya untuk bertanya
tentang latar belakang saya. Hingga pada akhirnya saya pun harus terbuka:
inilah saya dan inilah latar belakang saya sesungguhnya.Saat
menimbang-nimbang untuk menceritakan masa lalu ini, saya teringat hadis
Rasulullah SAW yang mengatakan: 'Dosa yang dilakukan secara terang-terangan,
maka memohon ampunan kepada Allah-nya pun harus secara terang-terangan.
Begitu juga dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka permohonan
ampunannya pun juga harus secara sembunyi-sembunyi.'Jadi, anggap saja, apa
yang saya ceritakan ini adalah pengakuan dan
keterusterangan sebuah dosa masa lalu. Karena begitulah masa jahiliah
meliputi hidup saya. Bayangkan, usia 16 tahun saya sudah mengenal dunia
malam. Bulak-balik masuk café, diskotik, club, dan tempat hiburan lainnya.
Itu saya-lakukan secara terang-terangan.
Latar belakang saya sendiri, sebenarnya biasa-biasa saja, seperti
teman-teman yang punya masa lalu. Cuma mungkin, orang menganggap saya lebih
beruntung, karena saya pernah punya basic agama. Tetapi saya selalu bilang,
orang yang mau kembali tidak harus punya basic. Artinya, seseorang ingin
kembali ke jalan yang lurus, tidak mesti jadi ustadz. Paling tidak, menjadi
ustadz bagi dirinya sendiri. Atau untuk teman-teman terdekatnya.
Basic yang saya dapat juga sebenarnya anugerah dari Allah. Apalagi saya
adalah anak seorang pendakwah. Ibu saya seorang ustadzah yang sering
berceramah di majelis taklim. Dalam hal pendidikan, diajari ngaji iya,
sekolah cukup. Tapi di pesantren (Darul Qolam, Gintung, Tangerang) tidak
selesai. Harusnya selesai 6 tahun, baru 4 tahun, tidak diteruskan. Karena
memang, di pesantren, saya kabur-kaburan terus. Keluar dari pesantren, saya
seperti burung yang lepas dari kandang. Pindah ke Aliyah Jakarta Pusat cuma
setahun. Akhirnya saya benar-benar tidak selesai sekolah.
Anak Pendakwah
Lalu kenapa Jefri yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang taat dalam
beragama ini (pendakwah), bisa menjadi korban narkoba? Orangtua kecolongan?
"Boleh dibilang saya yang error. Orangnya susah dikasih tahu, dilarang malah
makin jadi. Tapi begini, buah saja tidak semuanya bagus. Di antara yang
bagus, pasti ada yang busuk. Yang jelas, saya tidak mau bilang orangtua saya
kecolongan. Dan saya tidak ingin menyalahkan orangtua saya. Saya akui itulah
kebodohan saya. Sebafo sekarang, saya baru merasakan, bagaimana beratnya .menjadi
orangtua. Lagipula, orangtua saya sudah memberikan segalanya untuk saya,
baik pendidikan agama maupun yang bersifat duniawi.
Lain hal, bila orangtua tidak memberikan pendidikan agama. Tidak mengenalkan
anak dengan masjid, tidak pernah mengajarkan shalat, atau orangtua tidak
pernah terlibat kegiatan keagamaan. Tapi lagi-lagi, saya yang bangor. Bahkan,
saya lebih banyak bikin orang tersesat.
Ketika tahu anaknya pecandu narkoba, orangtua mana yang tak terpukul. Tentu
saja mereka terpukul. Apalagi orangtua saya adalah pendakwah, ibu saya
ustadzah. Untungnya orangtua saya sabarbanget. Nah, kalau saya bisa kembali,
itu karena cucuran air mata orangtua saya, yang hatinya tidak pernah lelah
berdoa kepada Allah untuk kesembuhan anaknya.
Tapi kenapa saya kergantungan dengan Narkoba? Waktu itu adalah anak muda
yang naluri ingin tahunya sangat besar, terutama hal-hal yang baru meskipun
negatif. Namanya anak muda, selalu punya motto: kebebasan adalah sesuatu
yang dicari dan paling didambakan. Kehidupan freedom itulah yang ingin
dinikmati. Artinya saya bisa bebas bergaul dengan siapa saja, dan bebas
hidup dengan siapa saja.
Dulu, saya sebenarnya orang yang ngerti agama, ya cukuplah untuk ukuran
remaja, Hanya saja, saya tidak dewasa dalam beragama. Saya baru sadar bahwa
ternyata dalam beragama itu perlu kedewasaan. Sebab dewasa dalam beragama,
akan membuat kita menjadi istiqomah. Waktu itu, ngerti agama tapi tidak
terpanggil. Kalau melihat karakter saya, anehlah. Di sisi lain, kalau ada
acara-acara Hari Raya Besar Islam di sekolah, saya selalu terlibat. Tapi di
sisi lain, kalau sedang ke kantin sekolah, saya juga suka ngeboat alias
pakai narkoba. Waktu SMA dulu saya merasa seperti mempunyai dua sisi di
dalam diri.
Awal saya mengenal narkoba adalah akibat seringnya nongkrong bareng
temervtemen di tempat-tempat hiburan malam, seperti diskotik, club, bar,
hingga café-café. Orang pasti tahu pengaruh dari seringnya mangkal di tempat
maksiat itu. Mirasf zina, hingga narkoba (dan aneka jenisnya) adalah sajian
yang tak sulit dielakkan untuk dicoba. Nah, dari mulai mencoba-coba, mencari
kesenangan, sampai akhirnya menjadi ketergantungan dongan barang haram
tersebut.
Bibit-bibit jahiliah itu, sudah saya rasakan sejak SMA (1994-1997). Apalagi
saya suka ngedance, dan pernah menjadi penari latar di setiap tempat hiburan.
Ketika saya masuk teater, kenakalan saya makin menjadi-jadi. Dari situlah
saya mulai bergumul dengan yang namanya kebebasan. Pokoknya, tiada hari
tanpa pesta dan hura-hura, Kalau pas nggak punya duit, pasti ada saja yang
ngajak untuk ngeboat dan dianterin pulang. Wah..pokoknya jahiliah
banget-banget...
Jadi Paranoid
Tahun demi tahun, hingga tahun ketiga, saya mulai mengalami apa yang disebut
paranoid, Parno kata anak gaul. Itu berlangsung selama 1,5 tahun. Paranoid
itu bawaannya selalu ngeri, takut, curiga, selalu prasangka buruk dengan
siapa saja. Jadi semacam ilusinasi. bayangan ketakutan: takut dibunuh orang,
padahal tidak ada. Pernah suatu malam, saya seperti melihat orang bawa
kampak mau membunuh saya. Betul-betul nampak, Saya pun lari ke atap untuk
mencari tahu, eh ternyata tidak ada, Tersiksa banget.
Banyak upaya orangtua saya untuk menyembuhkan saya. Saya sudah mengikuti
program rehablitasi di beberapa tempat, baik rumah sakit maupun pengobatan
alternatif, Tapi toh, tidak membawa hasil. Yang jelas, sudah ratusan juta
rupiah yang dikeluarkan orangtua untuk mencari jalan kesembuhan saya.
Hidayah dari Allah baru muncul, ketika saya betul-betul takut mati. Dari
situ saya mulai mengenal Allah. Dan minta ampun kepada orangtua, lalu
mencium kaki mereka. Proses sadar saya kemudian adalah saat orangtua
mengajak saya umrah. Anehnya, sesampai di Madinah, shalat di raudhah tidak
merasakan sentuhan apa-apa, di makam Rasul juga biasa aja. Tapi begitu
keluar, tengkuk ini seperti ada yang menarik keras dari belakang, saya pun
tersudut di tembok. Saat itu memori jahiliah saya seperti terekam jelas.
Berat dan tidak mudah untuk meninggaikan kebiasaan buruk yang saya cintai.
Sampai saya menikah dengan istri saya pun, saya masih pakai narkoba,
Untungnya istri saya (Pipik Dian Irawati - mantan model Aneka Yes, reef)
sabar seperti petani. Saya betul-betul sembuh saat saya kembali mengenal
jati diri saya sendiri, bukan siapa-siapa. Dan untuk sumbuh, saya hanya
lakukan dua hal : berobat dan bertobat. Karena yang saya lakukan selama ini
adalah dosa besar. Kemudian, saya minta keridhaan orangtua. Ketika ada
keridhaan, maka kemudahan untuk bisa sembuh itu besar.
Taubatan Nasuha
Setelah meninggaikan drugs, saya baru berpikir, manusia itu terkadang
mempunyai sifal-sifat nakal, liar. Kalau kita mau jujur, suatu ketika kita
ingin rasanya bebas, Tapi saat kita berpikir, apa mungkin manusia bisa bebas.
Oh.. ternyata ada, Islam itu membuat kita jadi bebas, yakni bebas dari
godaan dan gangguan setan yang terkutuk. Jadi, kata siapa Islam itu tak bisa
membuat hambanya menjadi bebas? Justru kebebasan dalam Islam membuat kita
menjadi selamat. Bukan maiah membuat diri kita menjadi hancur. Kata-kata
seperti A'udzLibiilahi minas-syaithanir-rajim adalah konsep bebas dalam
Islam, Dalam artian bebas beribadah, bebas berbuat kebaikan, bebas tidak
menyakiti orang lain, bebas memiliki prinsip tanpa menzalimi orang lain,
bebas mencari rezeki tapi juga memberikan haknya kepada orang lain.
Hidup itu hitam putih, tapi kita ada di abu-abu. Jadi, siapa yang berani
menjamin dirinya putih. Bahkan RasuluHah sendiri bilang, kita masuk surga
bukan karena amalan kita, tapi karei id rahmat dan ridha Allah. Di dunia ini,
tidak ada manusia yang bersih dari dosa, Sebab itu jangan suka memvonis
seorang masuk neraka. Itu hak Adah. Kita hanya bias mendoakan satu sama
lain. RasuluHah saja, tetap mencintai umatnya yang berbuat maksiat. Takdir
kita sudah ditetapkan Allah dalam Lauh Mahfudz. Meskipun kita lahir sebagai
manusia yang bejat, hidup sesat, tapi Allah Maha Tahu akhir hidup hambaNya
dengan diberikannya hidayah. Bila istiqomah, maka seseorang akan wafat dalam
keadaan baik.
Sejak saya taubatan nasuha, saya memilih jalur dakwah dalam hidup saya. Apa
yang saya lakukan sekarang merupakan 'dendam masa lalu’ saya. Dulu saya suka
mengajak orang berbuat maksiat, sekarang saya harus bisa mengajak orang lain
untuk berbuat kebajikan. Saya ingin orang lain tidak mengalami apa yang
pernah saya alami. Itu saja.
Saya menganggap masa lalu adalah pelajaran bagi saya. Kini, saya punya
motto, ketika kita menjadikan masa lalu sebagai madrasah di situlah ladang
ilmu bisa diraih.
Pesan-pesan? Ya, semua kembali pada diri kita sendiri. Caranya, dengan
menimbang baik-buruknya : Gara-gara narkoba gue putus sekolah, gara-gara dia
gue diputusin cewek gue, gara-gara dia ortu gue gak percaya, gara-gara dia
gue hilang pekerjaan. Gara-gara dia barang gue habis dan seterusnya, Jadi,
elo kudu tinggalin tu narkoba. Kita harus ikhlas, yakni ibadah karena hati
demi Allah sukai.
So, say no to drug! Tidak ada kata sulit untuk sembuh. Elo bisa
selama elo mau, dan punya keinginan untuk sembuh. Kalo elo sayang ama ortu,
ama diri sendiri, insya Allah, elo pasti punya jalan keluar.
Begitulah gaya dakwah Ustadz Jetri yang gaul. Sejak orang mulai tahu latar
belakang Jefri, kini banyak orangtua yang curhat tentang anak-anak yang
menjadi korban narkoba Jefri sendiri punya rencana membuat paket umrah anti
narkoba dan paket dakwah gaul di stasiun TV swasta.
|