Harmonisasi Kecantikan

 

FORUM SILATURAHMI

REMAJA dan ANAK MUSLIM

KUMPULAN TULISAN REZA ERVANI

< Back       <<Home

DINAMIKA DA'WAH DAN KEHIDUPANYang Cantik Yang Dinamis

Published by :

MADING HARMONI

DKM AL HIDAYAH UNJANI Cimahi

 

Sangat jarang sekali kaum hawa yang bisa menyelesaikan tuntas satu bulan penuh shaum di bulan Ramadhan, karena rancangan Allah pada kondisi biologisnya memang demikian adanya.

 

Tapi tentu ada hikmah tersendiri yang tersembunyi dibalik kelemahan alami itu.

 

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(QS. Al Baqarah 185)

 

Distorsi peran Ramadhan wanita sudah membuatnya menjadi sekedar tukang belanja dan tukang sibuk mempersiapkan hidangan berbuka. Noise yang demikian parah, sehingga hikmah itupun terhalang oleh bisingnya budaya sekular yang mengaku mengedepankan emansipasi wanita.

 

Tengoklah sejenak sepenggal perjalanan seorang bunda yang malamnya dilalui untuk menjajakan kalender Islami di depan pintu masuk salah satu mall besar di tengah kota Bandung.

 

Jilbabnya begitu panjang dan rapi, mengejek ratusan bahkan ribuan pakaian sejajar atau bahkan lebih tinggi dari pinggul yang hilir mudik di depan beliau. Mungkin mimpi untuk menjadi seorang Khansa bagi dirinya sendiri sudah dilumuri dengan pesimis, tapi tidak untuk sang buah hati yang menunggu di rumah.

 

Tengoklah pula kisah seorang ustadzah, yang mimpinya tentang keadilan dan kesejahteraan ummat tidak pernah mati, yang rasa sayangnya mengalahkan kelelahan fisik karena sedang mengandung calon mujahid kedua belas, yang rela menyeberangi sungai  berjam-jam karena jembatannya hanyut oleh banjir, hanya untuk mengantar beberapa kantung beras dan kotak mie, karena bayangan wajah-wajah di seberang yang ingin dibuatnya tersenyum manis.

 

Dengarkan pula tangisan seorang istri dokter yang juga seorang ustadz ketika harus ikut berangkat ke daerah terpencil di belahan timur Indonesia. Tangisan yang kemudian berubah menjadi energi yang menghasilkan puluhan anak berjilbab dan berkopiah lucu berangkat sambil berdendang ke TKA/TPA rintisan.

 

Adakah mereka berfikir tentang makanan yang sedikit lain di meja ketika nanti beduk maghrib ditabuh, atau kala sepertiga malam yang dingin ?

Sudah terlalu biasa bagi mereka untuk menemani si kecil mengeja huruf per huruf di lembar IQRO’ setiap senja dan terbangun menangis bertiga bersama sang suami dan Robbnya di sepertiga malam. Sehingga rasa sayang untuk sekedar melakukan rutinitas itu di bulan Ramadhan terus menggelitik guna melakukan suatu yang beda.

 

Suatu yang beda itu bukan berlama-lama di pasar Raya, atau ikut pengajian untuk kemudian pulang sambil tertawa-tiwi dengan teman-teman lama.

 

Ada cita-cita bening di benak mereka ketika melihat senja akhir Ramadhan nanti tiba, bukan baju lebaran, karena usaha kekasih bukanlah orderan program TV yang mendadak jadi paling Islami di bulan Ramadhan. Bukan pula susunan toples-toples kue di meja, karena THR yang hampir dilupakan, selalu telat.

 

Cita-cita bening itu adalah kebersamaan bersama ummat, yang datang ke kuburan orang tuanya ketika menjelang Ramadhan mengantarkan doa dan keluhan bahwa yang kaya tak pernah berubah derwawan tanpa alasan. Yang sering berkhayal seandainya 1 syawal itu setiap hari, karena plastik beras tiba-tiba datang ramah menyambangi.

 

Cita-cita bening itu adalah kerinduan berkumpul dengan sang kekasih, si sulung sampai si bungsu di depan jamuan ifthor jama’I di saung tengah-tengah telaga Al Kautsar yang abadi.

 

Dan wanita-wanita itu akan terus bergerak dalam pimpinanNya untuk impian sejati itu.

 

Allahu ‘Alam

 

Selamat Menunaikan Ibadah bulan Ramadhan …

 

Pesantren Daarut Tauhid

Sore Menjelang 1 Ramadhan 1424 H

 

© 2003 FOSILRAM Group

Hosted by www.Geocities.ws

1