|
FORUM SILATURAHMI REMAJA dan ANAK MUSLIM |
|||
|
|||
< Back
<<Home
Penulis tidak yakin, Romeo akan tetap memilih Juliet, bahkan rela mati, kalau Juliet tidak cukup cantik. Tidak mungkin pula, menurut penulis, Qais akan menjadi gila, menangis meraung-raung di depan pusara Laila, kalau Laila tidak punya yang disebut kecantikan. Jadi haruskah cantik untuk dicintai sedemikian rupa ? Penulis terkesan dengan ucapan Ummu Hasan, isteri yang ditinggal syahid suaminya, Ismail Abu Syaneb, seorang tokoh pimpinan HAMAS Palestina. Ketika ditanya tentang perasaannya setelah ditinggal sang suami tercinta, beliau menjawab : “Perasaan
saya seperti orang yang kehilangan sesuatu yang mulia dari hati ini. Saya
berduka, tapi saya juga merasakan sebuah kebanggaan karena suami telah
memperoleh apa yang ia cita-citakan dalam hidupnya ….” Dan penulis punya keyakinan, kata-kata ini hanyalah setitik cahaya dari jutaan cahaya yang lahir dari jiwa seorang wanita, yang dicintai oleh seorang laki-laki sekaliber Ismail Abu Syaneb, Asy Syahid. Entah apakah Ummu Hasan wanita yang cantik secara fisik atau tidak, tapi itu tidak menjadi sesuatu yang penting lagi … Jadi haruskan cantik untuk dicintai sedemikian rupa ? Kalau boleh jujur, penulis tidak setuju dengan konsep inner beauty, bukan tidak setuju dengan keluhurannya, tapi selama ini inner beauty hanya menjadi topeng baru. Seorang yang tidak terlalu cantik dengan nada perlahan akan berkata,”Gak pa pa saya nggak cantik juga, yang penting kan hatinya bersih …”. Sementara yang cantik akan berucap dalam hatinya,”Hhh … kalau hati saya bersih, maka kecantikan saya benar-benar akan sempurna …” Kenapa ini ? Kenapa hanya menjadi tempat persembunyian dari ketidak sempurnaan fisik atau malah jadi point tambahan kerupawanan ? Haruskah cantik untuk dicintai sedemikian rupa ? Memang, kecantikan adalah satu nilai penting, sehingga Rasulullah pun memasukkannya dalam empat kriteria penilaian wanita yang layak dinikahi. Tapi apakah dia segala-galanya ? Adik penulis yang akhwat, pernah cerita ke penulis tentang keminderan seorang temannya. Temannya
itu berkata,”Kenapa sih ikhwan-ikhwan pada milih yang cantik, pintar,
fakultas tertentu …. Padahal kan belum tentu yang jilbabnya sama-sama
rapi punya kualitas yang bisa dipertanggung jawabkan.” Sebagai pembela akhwat, adik penulis menyampaikan ucapan temannya itu kepada penulis dengan berapi-api. Penulis tidak bisa menjawab, hanya bisa mikir …, dan mungkin ucapan teman adik penulis itu benar adanya … Jadi, haruskah cantik untuk dicintai sedemikian rupa ? Tulisan Nina Armando, dalam majalah UMMI terbaru (No 5/XV September 2003) cukup menarik untuk dikaji. Tulisan dengan tajuk “Pahlawan Perempuan harus Cantik dan Seksi” itu mengungkapkan betapa frame yang dipakai masyarakat dalam mengidolakan tokoh perempuan adalah kecantikan. Tapi ada tulisan lain yang membuat penulis ingin mengangkat tema ini ke permukaan, yaitu “Blue Moon”, cerpen yang menjadi kias utama di majalah Annida (maaf, penulis lupa nomornya … cari sendiri aja ya). Cerpen itu bertutur tentang seorang wanita yang cacat kakinya akibat kecelakaan lalu lintas, yang menjelang usianya ke empat puluh tahun belum juga menikah, karena enam kali proses pernikahan yang dijalaninya kandas di tengah jalan, karena sang ikhwan atau keluarga ikhwan mengambil keputusan yang berlandaskan kesempurnaan fisik. Sungguh Maha Adil Allah azza wa Jalla Yang Menciptakan setiap rupa … Seperti
ucapan seorang sahabat ketika istrinya ngambek karena seluruh harta
yang diserahkan khalifah padanya habis dibagi-bagikan kepada rakyat di
daerah kekuasaannya : “Istriku ketahuilah, bahwa bidadari di surga
itu cantik luar biasa, tapi aku, kalau bisa memilih, akan lebih memilih
dirimu untuk menjadi bidadariku di surga nanti …” Jadi haruskah cantik untuk dicintai sedemikian rupa ? Allahu ‘Alam Bits
(benteng ikhwan tengah sawah)
|
|||
|