Harmonisasi Kecantikan

 

FORUM SILATURAHMI

REMAJA dan ANAK MUSLIM

KUMPULAN TULISAN REZA ERVANI

< Back       <<Home

DINAMIKA DA'WAH DAN KEHIDUPANHarmonisasi Kecantikan

Published by :

MADING HARMONI

DKM AL HIDAYAH UNJANI Cimahi

 

PROLOG

 

“Aku nggak mau punya istri aktivis !!!”

 

“Lho, kenapa ? Kan biar mudah kalo’ sefikrah !!!’

 

“Ih nggak mau, bayangkan, ketika aku pulang kerja, capek da’wah, e .. dirumah kosong melompong, nasi gak ada, yang ada cuma selembar kertas pesan di meja makan … BI’ UMI NGISI TA’LIM AMPE SORE, MASAK SENDIRI YA ….. wah …kagak la ya … mending dapet yang sholihah tapi biasa-biasa aja …., biar ada yang mijitin kalo cape’, ada tempet muroja-ah, curhat … he .. he … he”

 

“Dasar !!! pengennya yang enak-enak aja !!!”

 

Dialog diatas benar terjadi …, di sebuah masjid kampus besar di bilangan kota Bandung. Atau mungkin dialog yang sama sering terjadi di dalam hati para akhvis.

 

Dengar pula cerita seorang ustadz dari Jakarta.

 

Ketika malam pertama itu tiba, panggilan da’wah tiba-tiba datang. Sementara bidadari merajuk di sisi ranjang, berharap tidak ditinggal sendirian. Tapi kemantapan hati kemudian berbicara, langkah tetap terayun, walau tanpa hantaran payung dari sang bidadari, yang memilih tetap ngambek di kamar.

 

Beberapa tahun kemudian, ketika kemalasan atau gerimis yang datang, giliran sang bidadari yang dengan payung di tangan berkata,”Ayo Bi, masa’ hujan gerimis aja nggak jadi ngisi liqo’, kasian tuh udah pada nunggu syaikhnya datang …. Hayo dong !!!”

 

 

1

 

Bagian yang paling penulis sukai dari buku-buku motivasi adalah kisah sukses seseorang karena menerima dorongan luar biasa dari orang terdekat mereka.

 

Sampai saat ini, penulis masih berpendapat bahwa cita-cita adalah hal pertama yang pernah kita buat sendiri serta merupakan harta kita yang termahal. Sayangnya, banyak orang yang membiarkan hartanya yang paling berharga ini dicuri. Dan kebanyakan, pencurinya adalah orang-orang terdekat kita; guru, orang tua, teman, istri atau anak.

 

 

 

2

 

Idealisme adalah bahasa lain dari cita-cita.

 

Ketika seorang jatuh cinta kepada seseorang, saat itu muncullah harapannya akan orang yang dicintainya itu. Sadar atau tidak, harapan ini dibangun dalam kerangka cita-citanya sendiri. Makanya sering kita dengar seorang ikhwan bercita-cita memiliki pasangan hidup yang sholihah, cantik, hafidzoh, telaten, rajin, dan standar-standar yang luar biasa lainnya.

 

Banyak pula kasus seorang aktivis kehilangan idealismenya setelah menikah. Cita-citanya punya sekolah agama, ternyata hanya mampu jadi pekerja rutin biasa. Alasannya kadang-kadang sederhana, karena dia sekarang punya istri dan anak yang harus dihidupi, beda ketika dulu masih mahasiswa, masih bujangan.

 

Terlepas pernah atau tidak cita-cita itu diceritakannya kepada calon pasangannya ketika masa ta’aruf dulu, tapi terkadang cita-cita itu (baca : idealisme) barulah sampai dalam tahap khayalan yang dengan mudah terhapus dari benak..

 

 

3

 

Dengarlah kata-kata ketika Rasulullah saw ingat pada Siti Khadijah :

 

Ketahuilah Aisyah, tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan Khadijah di sisiku. Kalian ada bersamaku kala Allah sudah membukakan pintu-pintu kemenangan untukku. Sementara Khadijah menemaniku saat orang-orang mengasingkanku, dia mempercayaiku ketika orang lain mengingkariku, dia menguatkanku kala yang lain berusaha melemahkanku.”

 

Ada cita-cita Rasulullah saw yang dipahami Khadijah sebagai sebuah idealisme bersama yang harus diperjuangkan, sehingga beliau bersedia bersama kekasihnya yang mulia itu dalam keadaan apapun. Tidak meninggalkan karena harus berhadapan dengan kemiskinan, cacian dan berbagai terpaan ujian.

 

Dan orang-orang besar dalam catatan sejarah Islam bertemankan pasangan yang sedikit banyak memiliki kemampuan memahami layaknya Khadijah ini.

 

Setidaknya penulis menemukan ini dalam buku dan kisah : Kenang-kenangan hidup (HAMKA), Aa’ Gym Apa Adanya, Biografi singkat Ustadz. Mashadi, Wawancara dengan Ustadz Abu Ridho, beberapa kisah di buku Bukan di Negeri Dongeng, cerita perjalanan keluarga Ustadz Abu Syauqi dalam acara bedah buku “Biar Kuncupnya Mekar jadi Bunga” dan banyak lagi.

 

Bahkan banyak pula penulis temukan dalam kisah-kisah lain, Nathaniel Hawthorne (Penulis novel terkenal The Scarlet Letter), Le Van Vu (pendatang Vietnam yang datang ke Amerika kemudian berhasil memiliki bisnis yang sukses), Totto Chan, Stephen Covey dalam Seven Habits , Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence serta banyak lagi.

 

 

EPILOG

 

Kesetiaan dalam perjuangan inilah cinta termahal yang bisa diberikan seorang perempuan mulia. Cinta yang menguatkan, cinta yang menabahkan, cinta yang menenangkan. Cinta yang lahir dari jiwa yang cantik, yang mampu memberikan sebuah keindahan dalam kehidupan, harmoni indah dalam perjalanan menuju tujuan.

 

Penulis menyebutnya sebagai : Harmonisasi Kecantikan.

 

Allahu ‘Alam

 

Cimahi, 2 Syawal 1424 H

 

© 2003 FOSILRAM Group

Hosted by www.Geocities.ws

1