Harmonisasi Kecantikan

 

FORUM SILATURAHMI

REMAJA dan ANAK MUSLIM

KUMPULAN TULISAN REZA ERVANI

< Back     <<Home

A BEAUTI FUL MI ND

Published by :

Buletin Ulil Albab

SLTP Negeri 35 Bandung

 

 Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran : 190 – 191)

 Apakah cerdas itu ?

Apakah orang yang selalu memegang tampuk peringkat kelas sudah bisa dikatakan sebagai orang cerdas ? Apakah seorang yang telah memperoleh gelar Doktor atau Profesor bisa dikatakan sebagai orang yang cerdas ? Apakah pula kecerdasan hanyalah bisa dimiliki oleh orang – orang tertentu saja ?

Dalam Kitabullah Al Quraan Al Karim, Allah swt menyebut orang – orang cerdas ini dengan kalimat ‘Ulil Albab’. Tak kurang dari 16 kali Allah memakai kata ini dalam Kitab – Nya. Salah satunya adalah pada surat Ali Imran ayat 190 diatas.

 

Dahulu sekali, orang mendefinisikan kecerdasan dengan angka yang disebut IQ (Intelligent Quotient) sehingga dikenallah ada orang yang jenius, pintar, normal, bodoh bahkan idiot, bergantung nilai yang diperolehnya ketika menjalani tes IQ.

 

Tapi kemudian orangpun mulai bertanya – tanya, karena kenyataan kemudian membuktikan bahwa tidak semua orang yang memiliki IQ yang tinggi berhasil dalam kehidupannya.

 

Dalam bukunya Emotional Intelligence (EQ), Daniel Goldman bahkan menceritakan tentang seorang siswa yang tergolong jenius tega melukai gurunya hanya karena nilai yang diperolehnya dari guru tersebut menggagalkannya masuk ke Universitas impian.

 

Daniel Goldman juga memaparkan bahwa mereka yang menjadi pengusaha sukses sebagian besar hanyalah orang – orang dengan tingkat IQ yang biasa – biasa saja.

 

Daniel Goldman kemudian menyimpulkan bahwa selain kecerdasan otak, kecerdasan emosi (dalam artian kemampuan mengendalikan gejolak diri dalam mengambil keputusan – keputusan hidup, penyesuaian diri secara baik dengan lingkungan kehidupannya) juga merupakan bagian kecerdasan yang kalah penting.

 

Tapi kemudian, kembali timbul pertanyaan, apakah standar yang dipakai untuk menilai bahwa emosi itu baik. Apakah sebatas kepura – puraan demi keberhasilan pribadi, atau didasari ketulusan dari hati nurani terdalam.

 

Muncullah kemudian konsep Spiritual Intelligence (Kecerdasan Jiwa), yang intinya menyatakan bahwa kekuatan ruhani seseorang, hubungannya dengan sang Pencipta, ketenangan batin, memegang peran yang besar dalam keberhasilan hidup seseorang, kecerdasan dalam mengambil keputusan – keputusan penting dalam hidup.

 

Lama baru manusia yang lemah ini menyadari tentang ini. Padahal Rasulullah saw, adalah contoh orang yang tercerdas dan tersukses dalam peradaban manusia. Beliau berhasil mengubah suatu sistem kehidupan jahiliah ke kehidupan yang benar – benar indah dan berkebudayaan tinggi.

 

Inilah hikmah dari penggalan ayat di atas :

 

Dimulai dengan keinginan untuk memahami kebesaran Allah dengan seluruh potensi akal :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. 3 : 190)

 

Berujung kepada kesadaran bahwa ternyata ada kekuatan yang selalu mengawasi dan mengatur kehidupan seluruhnya, termasuk dirinya :

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.

(QS. 3 : 191)

Dan akhirnya berbuah kepada pengakuan kelemahan diri dan ketakutan terjerumus kepada perbuatan – perbuatan zholim, nista dan tercela yang akan mengantar ke neraka – Nya :

 Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS 3 : 191)

Kesadaran puncak inilah yang membuat seseorang akan senantiasa berhati – hati dengan setiap gerak – geriknya. Kesadaran inilah yang membuat seorang jauh dari keputusasaan, hilang harapan, karena dia senantiasa merasakan kehadiran pendamping setia, sumber kekuatan terutama, mata air pengetahuan terbesar di sisinya.

 Inilah kecerdasan hakiki ..........

 Allahu A’lam bisshowab,

 

 

© 2003 FOSILRAM Group

 

Hosted by www.Geocities.ws

1