|
FORUM SILATURAHMI REMAJA dan ANAK MUSLIM |
|||
|
|||
< Back
<<Home
Apakah cerdas itu ? Apakah
orang yang selalu memegang tampuk peringkat kelas sudah bisa dikatakan
sebagai orang cerdas ? Apakah seorang yang telah memperoleh gelar Doktor
atau Profesor bisa dikatakan sebagai orang yang cerdas ? Apakah pula
kecerdasan hanyalah bisa dimiliki oleh orang orang tertentu saja ? Dalam
Kitabullah Al Quraan Al Karim, Allah swt menyebut orang orang cerdas
ini dengan kalimat Ulil Albab. Tak kurang dari 16 kali Allah memakai
kata ini dalam Kitab Nya. Salah satunya adalah pada surat Ali Imran
ayat 190 diatas.
Dahulu
sekali, orang mendefinisikan kecerdasan dengan angka yang disebut IQ
(Intelligent Quotient) sehingga dikenallah ada orang yang jenius, pintar,
normal, bodoh bahkan idiot, bergantung nilai yang diperolehnya ketika
menjalani tes IQ.
Tapi
kemudian orangpun mulai bertanya tanya, karena kenyataan kemudian
membuktikan bahwa tidak semua orang yang memiliki IQ yang tinggi berhasil
dalam kehidupannya.
Dalam
bukunya Emotional Intelligence (EQ), Daniel Goldman bahkan menceritakan
tentang seorang siswa yang tergolong jenius tega melukai gurunya hanya
karena nilai yang diperolehnya dari guru tersebut menggagalkannya masuk ke
Universitas impian.
Daniel
Goldman juga memaparkan bahwa mereka yang menjadi pengusaha sukses
sebagian besar hanyalah orang orang dengan tingkat IQ yang biasa
biasa saja.
Daniel
Goldman kemudian menyimpulkan bahwa selain kecerdasan otak, kecerdasan
emosi (dalam artian kemampuan mengendalikan gejolak diri dalam mengambil
keputusan keputusan hidup, penyesuaian diri secara baik dengan
lingkungan kehidupannya) juga merupakan bagian kecerdasan yang kalah
penting.
Tapi
kemudian, kembali timbul pertanyaan, apakah standar yang dipakai untuk
menilai bahwa emosi itu baik. Apakah sebatas kepura puraan demi
keberhasilan pribadi, atau didasari ketulusan dari hati nurani terdalam.
Muncullah
kemudian konsep Spiritual Intelligence (Kecerdasan Jiwa), yang intinya
menyatakan bahwa kekuatan ruhani seseorang, hubungannya dengan sang
Pencipta, ketenangan batin, memegang peran yang besar dalam keberhasilan
hidup seseorang, kecerdasan dalam mengambil keputusan keputusan
penting dalam hidup.
Lama
baru manusia yang lemah ini menyadari tentang ini. Padahal Rasulullah saw,
adalah contoh orang yang tercerdas dan tersukses dalam peradaban manusia.
Beliau berhasil mengubah suatu sistem kehidupan jahiliah ke kehidupan yang
benar benar indah dan berkebudayaan tinggi.
Inilah
hikmah dari penggalan ayat di atas :
Dimulai dengan keinginan untuk memahami kebesaran Allah dengan seluruh potensi akal : Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS. 3 : 190)
Berujung
kepada kesadaran bahwa ternyata ada kekuatan yang selalu mengawasi dan
mengatur kehidupan seluruhnya, termasuk dirinya : (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia. (QS. 3 : 191) Dan akhirnya berbuah kepada pengakuan kelemahan diri dan ketakutan terjerumus kepada perbuatan perbuatan zholim, nista dan tercela yang akan mengantar ke neraka Nya : Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS 3 : 191) Kesadaran puncak inilah yang membuat seseorang akan senantiasa berhati hati dengan setiap gerak geriknya. Kesadaran inilah yang membuat seorang jauh dari keputusasaan, hilang harapan, karena dia senantiasa merasakan kehadiran pendamping setia, sumber kekuatan terutama, mata air pengetahuan terbesar di sisinya. Inilah
kecerdasan hakiki .......... Allahu
Alam bisshowab,
|
|||
|