|
|
|
|
|
|
|
MATERI
PENGAYAAN MENTORING UNTUK MENTOR DAN TUTOR 
|
|
| Kita dan Al
Qur'an |
Oleh:
Ustadz Syamsi Ali
New York, Amerika Serikat
Dalam berinteraksi dengan Al qur'an, umat Islam saat
ini berada di antara 4 situasi:
Pertama, tersebutlah dalam sebuah cerita bahwa
sepasang suami isteri dari sebuah desa berangkat ke
Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka tahu,
bahwa mutu emas di tanah Arab itu sangat tinggi
serta harganya pun relatif lebih murah. Untuk itu,
mereka pun sepakat untuk membeli kalung dan
seperangkat perhiasan lainnya. Sekembali ke
kampungnya, mereka menyimpang emas-emas tersebut
dalam sebuah laci yang indah dan dikunci rapat-rapat.
Mereka melakukannya karena menganggap bahwa emas
tersebut adalah sesuatu yang berharga, memiliki
nilai besar (value) sehingga perlu dijaga dengan
disimpan di tempat yang aman. Akhirnya, emas
tersebut tidak pernah dipakai atau dinikmati sebagai
perhiasan yang berharga karena kekhawatiran akan
menurunkan nilai atau value dari emas yang dilikinya.
Kedua, sepasang suami isteri dari kampung lain
melancong ke kota New York, kota metropolitan,
kotanya dunia. Setiba di New York, mereka mencari
tempat untuk menyewa mobil. Setelah deal selesai,
sang penyewa meminta sebuah "map" (peta)
kota New York. Mereka sadar, sebagai musafir yang
asing (stranger traveler) mereka memerlukan peta
agar tidak tersesat dalam perjalanan di kota yang
baru bagi mereka. Sayangnya, selama perjalanan peta
(map) tersebut hanya dipegang, minimal dilihat tapi
tidak difahami secara serius petunjuk-petunjuknya.
Akhirnya, mereka berjalan dan berjalan, namun tujuan
yang ingin dicapainya tidak pernah dicapainya.
Bahkan mereka berjalan ke arah yang sesat,
terperangkap dalam sebuah rimba yang penuh binatan
buas.
Ketiga, seorang pemuda kampung datang ke kota.
Setiba di kota, sang pemuda diajak ke pantai oleh
seorang temannya yang kebetulan penyelam. Sesampai
di pantai tersebut, sang pemuda pertama kali
menemukan kotoran-kotoran, sampah-sampah dan hanya
pasir-pasir dan batu-batuan. Terbetiklah dalam benak
pemuda kampung, betapa bodohnya pemuda kota yang
selalu menyelam di lautan yang hanya penuh kotoran
dan sampah tersebut. Sang pemuda kampung tidak sadar,
betapa dalam lautan tersembunyi mutiara dan berbagai
benda berharga lainnya. Sayangnya, sang pemuda hanya
mampu melihat pinggiran lautan yang tidak
terpelihara secara baik sehingga penuh dengan
kotoran dan sampah dan tidak mampu menangkap
berbagai rahasia keindahandi dalamnya.
Keempat, Seorang pensiunan hansip dari sebuah
kampung terpencil pergi melancong ke kota London.
Selama menjadi hansip, dia selalu taat dengan
aturan-aturan yang selama ini dihafalnya, termasuk
menghafal lafaz pancasila dan pembukaan uud 45-nya.
Sebagai law obedient person, dia sudah bertekad
untuk tidak melakukan lagi hal-hal lain yang di luar
hafalannya. Setiba di London, sang hansip
diperhadapkan kepada aturan-aturan baru yang selama
ini belum ada di pemikirannya. Maka, ia menolak
untuk mentaati kota London karena menurutnya,
aturan-aturan tersebut tidak sesuai dengannya yang
selama ini difahaminya.
Ikhwati,
Kira-kira begitulah sekarang ini. Kita dalam
berinteraksi dengan Al Qur'an berada pada posisi di
atas, atau minimal berada pada salah satu kelompok
manusia as sebagaimana digambarkan di atas:
Pertama, kita sadar bahwa Al Qur'an itu sangat
berharga, memiliki nilai yang sangat tinggi. Al
Qur'an itu kita hargai dan cintai. Namun
pernghargaan dan kecintaan kita terhadap Al Qur'an,
ibarat kecintaan dan penghargaan seorang haji
terhadap emasnya. Kita membeli Al Qur'an yang paling
fancy, yang paling mahal dan paling indah. Sayangnya,
Al Qur'an hanya dijadikan perhiasan yang tersimpan
di dalam laci, dikunci karena dianggap suci. Al
Qur'an justeru karena keyakinan kesuciannya, jarang
tersentuh. Paling tidak, hanya disentuh disaat akan
membaca Yaasiin, karena mungkin seseorang di antara
anggota keluarga ada yang sakit keras (sakarat) atau
mungkin karena seseorang meninggal dunia.
Kedua, kita sadar bahwa kita semua adalah musafir
menuju peristirahatan akhir. Kita berjalan menuju
alam kekal. Dan di dalam perjalanan ini, kita
membutuhkan peta (map), petunjuk jalan agar kita
tidak tersesat. Dengan peta, kita minimal akan mudah
menemukan jalan yang terefektif dan aman. Jika tidak,
maka mungkin saja, kita tersesat ke dalam hutan
rimba yang penuh srigala dan binatan buas lainnya.
Dunia ini adalah ganas. Dunia ini penuh dengan
perangkap dan tipu muslihat. Kalaulah dalam
perjalanan ini, kita tidak cermat mencari jalan aman,
sesuai dengan petunjuk jalan yang baku, maka kita
dapat terjatuh dalam perangkap dan tipu muslihat
duniawi. Sayangnya, peta atau petunjuk jalan
tersebut, hanya dipegang dan tidak dipelajari, atau
minimal dibaca tapi tidak difahami. Sehingga rasanya,
perjalanan kita serba semrawut tidak terarah, karena
peta yang kita miliki hanya justeru menjadi beban
dalam perjalanan.
Ketiga, kurangnya keimanan dan keilmuan kita,
menjadikan kita kadang tergesa-gesa mengambil sebuah
kesimpulan keliru terhadap Al Qur'an. Arogansi
manusia tidak jarang berkata, Al Qur;an itu hanya
penuh dengan beban-beban ajaran yang menghambat
kemajuan hidup atau kehidupan yang dinamis. Al
Qur'an menghambat kemajuan dunia. Al Qur'an telah
usang. Al Qur'an hanya akan semakin menghambat
kehidupan yang modern. Ibarat pemuda kampungan yang
diajakn jalan ke pinggir pantai pertama kali.
Padahal, Al Qur'an adalah lautan yang tak akan
pernah habis terselami. Di dalamnya tersimpan segala
sesuatu yang berharga. Di dalamnya ada emas, mutiara
dan berbagai barang mulia dengan valuenya yang
sangat tinggi. Sayang otak kampungan menganggapnya
justeru hanya “hambatan” kemajuan kehidupan yang
dianggap modern.
Keempat, pada semua negeri ada aturan. Aturan adalah
sebuah keniscayaan. Negeri tanpa aturan tak lebih
dari sebuah negeri dari kumpulan hewan-hewan.
Manusia yang hidup dalam sebuah negeri, tanpa ingin
diatur oleh sebuah aturan, mereka tak lebih dari
hewan-hewan yang berbentuk manusia. Kita hidup di
negerinya Allah. Kita menumpang mencari makan,
sedang melancong (musafir) dalam negeriNya. Maka,
akankah diterima sebagai sebuah kewajaran, di saat
kita mengatakan bahwa aturan Al Qur'an tak bisa
diterima karena "aku" sendiri sudah punya
aturan? Jika tetap berpendirian demikian, silahkan
cari negeri, silahkan cari dunia, di mana anda dapat
mengklaim sebagai dunia yang Tuhan tidak perlu
campur tangan. Ciptakanlah dunia baru anda, yang di
dalamnya Tuhan memang tidak perlu campur tangan.
Selama anda masih ada di planet sekarang, planet
yang anda merasa belum pernah menciptakannya sendiri,
jangan coba-coba berprilaku “kuno” menganggap
punya aturan-aturan sendiri. Karena di mana pun anda
pergi, setiap pemilik negeri akan membuat aturannya
sendiri. Dan dunia seluruhnya (al’aalamiin) adalah
negeriNya Allah. Untuk itu, adalah sangat tidak
masuk akal dan tidak realisits, jika anda menolak
aturan Allah SWT.
Ikhwati,
Lalu di manakah saya, anda dan kita semua? Masih
masih-masing kita melakukan introspeksi. Buka akal
dan hati, hancurkan keegoan yang selalu angkuh dan
bersikap “fir’aunis” ala Ramsis II. [Sya] |
|
|
|
|
|
|
RINCIAN
PROGRAM |
|
KURIKULUM |
|
PETUNJUK
TEKNIS |
|
PERSYARATAN
MENTOR |
|
STRATEGI
MENTORING
|
|
|
|
|
|
|
|
|