|
|

|
"Dan
kami wasiatkan kepada manusia supaya dengan kedua ibu bapaknya,
hendaklah berbuat baik" (QS. Al Ahqaff ayat 15)
Inilah
wasiat atau perintah utama kepada manusia, sesudah
perintah-perintah percaya kepada Allah sebagai dasar kehidupan.
Dengan percaya kepada Allah, kalau manusia hendak menegakkan
budi baik dalam dunia ini, maka perintah kedua setelah
perintah berbakti kepada Allah adalah perintah menghormati
kedua orang tua, ayah bunda, ibu bapak.
|
Sebab
pertalian darah, pertalian keturunan, terutama ayah dan bunda itu
adalah thabi'at murni manusia. Bahkan thabi'at murni binatangpun. Si
ayah dan si ibu menumpahkan kasih sayangnya, cintanya yang murni dan
tidak mengharapkan balasan daripada putera yang lahir dari hubungan
mereka. Keinginan beroleh putera adalah jadi idaman dari setiap
perempuan yang sehat caranya berfikir. Dalam ayat ini ditegaskan
bahwasanya seorang anak hendaklah berbuat kebajikan kepada kedua
orang tuanya. Manusia yang sehat mempunyai perasaan yang halus,
mempunyai perasaan kasih dan sayang juga cinta. "Telah
dikandung akan dia oleh ibunya dengan susah payah dan telah
melahirkannya dengan susah payah".
Ini
diperingatkan oleh Tuhan terlebih dahulu kepada insan berbudi;
diperingatkan kepadanya kesusah payahan ibu mengandung dan kesusah
payahan ibu melahirkan ! Semua kita melihat sendiri kesusahan itu.
Seorang ibu menderita karena mengandung, karena melahirkan, namun
kesusah payahan itu menambah erat cintanya.
Bahkan
bukan sedikit seorang ibu yang subur, melahirkan tahun ini
menyusukan tahun depan, melahirkan tahun yang satu lagi dan
menyusukan pula sesudah itu, sehingga tahun ini beranak, tahun depan
menyusukan. Kian lama anak kian banyak, namun badan kian lama kian
lemah dan kasih kepada anak tidak berkurang.
Kerap
kali orang mengambil perumpamaan burung "pelikan", yang
menghisap darahnya sendiri buat minuman anaknya dan sehabis darahnya
itu, diapun mati dan anaknya hidup, namun dia tidak menyesal. Kita
melihat banyak ibu yang demikian. Saya sendiri mengalami isteri saya,
ibu dari anak-anak saya, sepuluh banyaknya anak yang hidup, tujuh
laki-laki dan tiga perempuan, dan dua yang meninggal dan dua kali
keguguran sedang hamil, sehingga jumlahnya menjadi empat belas orang
anak semua. Akhirnya berhenti sendiri dan tidak beranak lagi tapi
badannya sudah sangat lemah dan berbagai penyakit tidak terderitakan
lagi. Beliau wafat dalam usia lima puluh tujuh tahun.
Sebab
itu manusia pun ada yang bernasib sebagai burung pelikan, menderma
baktikan darahnya, tenaganya dan nyawanya buat anak-anaknya, sesudah
itu dia pun mati.
Maka
banyak sekalilah wasiat Tuhan, perintah wajib dari Tuhan agar
manusia menghormati, berbuat kebajikan, berkhidmat kepada dua orang
ibu bapaknya. Dan tidaklah kita bertemu di dalam Al Quran atau di
dalam Hadits yang memerintahkan supaya seorang ayah atau seorang ibu
memelihara puteranya dengan baik. Sebab memelihara putera dengan
baik, walaupun tidak diperintahkan, akan pasti dikerjakan orang
karena didorong oleh kasih, didorong oleh sayang. Kadang-kadang
makanan yang telah ada dalam mulutnya dicabutnya kembali karena
diminta oleh anaknya, biar si ibu lapar. Bahkan diberi ingat oleh
Tuhan agar kasih kepada anak, buah hati pengarang jantung dibatasi
hendaknya. Karena kasih yang demikian bisa jadi fitnah. Dan memang
Allah memerintahkan putera menghormati dan berbuat kepada ibu-bapak,
sebab banyaklah anak yang telah lupa kepada ibu dan bapaknya, bila
dia merasa telah dewasa. Kalau dipandang dari segi yang lain, anak
tidak sempat membalas jasa kebaikan ibu dan bapak, sebab diapun akan
menumpahkan kasih dan sayang pula kepada anaknya sendiri. Sebab itu
maka seorang putra tidaklah dapat membalas budi ayah bundanya,
sebagaimana ayah bundanya memelihara dia waktu kecilnya. Semuanya
akan ditumpahkannya pula kepada puteranya sendiri di belakang hari
setelah dia berumah tangga pula.
|