|
Brown, Louise. 2005. Sex slaves: sindikat perdagangan perempuan di Asia. Jakarta: Obor.
Rahman, Anita. [2005]. Cerita bergambar kesehatan reproduksi perempuan: kisah pemberdayaan perempuan. Jakarta: Program Kajian Wanita, Program Pascasarjana-UI.
Imelda, Johanna D, Marthini, Titing dan Setyawati, Lugina. 2004. Utang selilit pinggang: sistem ijon dalam perdagangan anak perempuan (seri laporan no. 138). Yogyakarta: Ford Foundation dan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan-UGM.
Graddol, David dan Swann, Joan. 2003. Gender voices: telaah kritis relasi bahasa-jender. Pasuruan: Pedati.
Angier, Natalie. 1999. Woman: an intimate geography. New York: Anchor books.
Poerwandari, Kristi dan Habsjah, Atashendartini. 2006. Ngobrol soal tubuh dan seksualitas: cerita bergambar untuk remaja dan orang tua. Jakarta: Program Kajian Wanita Program Pascasarjana UI dan Ford Foundation.
Livoti, Carol dan Topp, Elizabeth. 2006. Menyingkap tabir yang selama ini tersembunyi tentang vagina. Terj. dr. Rani Maria dari Vaginas: An Owner Manual. Jakarta: Indeks.
Brown, Dee. 1970. Bury my heart at Wounded Knee: An Indian history of the American West. New York: Bantam books.
Wallace, Alfred R. 2000. The Malay archipelago. (Paperback edition). Singapura: Periplus.
----------------------------------
Sinopsis
Buku karya Ratna Saptari dan Brigitte Holzner mengenai teori feminis dalam pembangunan.
Bacaan kali ini sepertinya lebih membumi dan saya sudah membacanya sebelum saya masuk ke Kajian Wanita. Saya menyukai tema yang dibahas dan cara mereka menuliskannya. Buku ini membuka pikiran terhadap eksploitasi dan posisi ekonomi perempuan di negara berkembang. Apalagi negara Indonesia sering dibilang negara buruh murah sehingga hak-hak buruh sangat kurang diperhatikan. Perempuan dilihat sebagai warga yang sangat memerlukan pekerjaan dan kurang reaktif dalam menerima upah rendah karena dalam buku juga dijelaskan bahwa dalam sistem kapitalis pemegang modal lebih berkuasa daripada pemerintah.
Buku ini memberi perkenalan bagi saya pada konsep-konsep ekonomi dan studi pembangunan yang dipakai oleh negara maju dan berkembang. Dijelaskan pula bagaimana paradigma pembangunan dan modernisasi dibungkus dalam istilah yang positif sehingga menghasilkan perubahan sosial yang besar pengaruhnya bagi kehidupan perempuan.
Sebelumnya saya berpikir perempuan sudah cukup memiliki posisi dalam sistem kapitalis tetapi ternyata semua itu belum maksimal bahkan cenderung dirugikan. Sebenarnya pengalaman perempuan seperti menstruasi, hamil dan melahirkan beserta hak yang menyertainya masih kurang dipahami dan dihargai secara positif oleh dunia usaha. Pada tanggal 27 November kemarin, saya mendengar perbincangan antara dua perempuan di sebuah angkutan umum. Mereka menceritakan pengalaman dua orang teman perempuan mereka yang harus mengundurkan diri karena keduanya hamil dan kinerja / produktivitas mereka dianggap menurun selama masa awal kehamilan tersebut. Sebenarnya salah seorang perempuan tidak ingin mengundurkan diri tetapi merasa "tidak enak" karena dianggap mangkir dari pekerjaan selama beberapa hari. Teman tersebut merasa kasihan tetapi lalu bertanya, "Apa boleh buat?"
Sistem kapitalisme hanya mengejar keuntungan melalui produktivitas semata dan hal ini bukan hanya mengeksploitasi perempuan tetapi juga laki-laki yang posisi tawarnya sangat rendah. Studi perempuan sebagai kajian multidisiplin cukup baik untuk mau membuka mata masyarakat terutama kalangan akademik untuk mengkaji berbagai kebijakan dengan sangat hati-hati. Tetapi kejadian yang diperbincangkan dua perempuan tadi masih menjadi fenomena umum yang diterima dengan kepasrahan. Maka pertanyaan yang belum terjawab adalah: Apa yang dapat kita perbuat?

|