|
DUA PUISI
Berabad-abad yang lalu, di suatu jalan menuju
Athens, dua orang penyair bertemu. Mereka mengagumi satu sama lain.
Salah seorang penyair bertanya, "Apa yang kau ciptakan akhir-akhir ini, dan bagaimana dengan lirikmu?"
Penyair yang seorang lagi menjawab dengan bangga, "Aku tidak
melakukan hal lain selain menyelesaikan syairku yang paling indah,
kemungkinan merupakan syair yang paling hebat yang pernah ditulis di
Yunani. Isinya pujian tentang Zeus yang Mulia."
Lalu dia mengambil selembar kulit dari sebalik jubahnya dan berkata,
"Ke mari, lihatlah, syair ini kubawa, dan aku senang bila dapat membacakannya untukmu.
Ayuh, mari kita duduk berteduh di bawah pohon cypress putih itu."
Lalu penyair itu membacakan syairnya. Syair itu panjang sekali.
Setelah selesai, penyair yang satu berkata, "Itu syair yang indah
sekali. Syair itu akan dikenang berabad-abad dan akan membuat engkau
masyhur."
Penyair pertama berkata dengan tenang, "Dan apa yang telah kau ciptakan akhir-akhir ini?"
Penyair kedua menjawab, "Aku hanya menulis sedikit. Hanya lapan baris
untuk mengenang seorang anak yang bermain di kebun." Lalu ia membacakan
syairnya.
Penyair pertama berkata, "Boleh tahan, boleh tahan."
Kemudian
mereka berpisah.
Sekarang, setelah dua ribu tahun berlalu, syair lapan baris itu dibaca
di setiap lidah, diulang-ulang, dihargai dan selalu dikenang. Dan
walaupun syair yang satu lagi memang benar bertahan berabad-abad
lamanya dalam perpustakaan, di rak-rak buku, dan walaupun syair itu
dikenang, namun tidak ada yang tertarik untuk menyukainya atau
membacanya.
:+: Fendy :+:
KEKASIHKU LAYLA
Kemarilah, kekasihku.
Kemarilah Layla, dan jangan tinggalkan aku.
Kehidupan lebih lemah daripada kematian, tetapi kematian lebih lemah daripada cinta...
Engkau telah membebaskanku, Layla, dari siksaan gelak tawa dan pahitnya anggur itu.
Izinkan aku mencium tanganmu, tangan yang telah memutuskan rantai-rantaiku.
Ciumlah bibirku, ciumlah bibir yang telah mencuba untuk membohongi dan yang telah menyelimuti
rahsia-rahsia hatiku.
Tutuplah mataku yang meredup ini dengan jari-jemarimu yang berlumuran darah.
Ketika jiwaku melayang ke angkasa, taruhlah pisau itu di tangan kananku dan katakan pada mereka
bahawa aku telah bunuh diri kerana putus asa dan cemburu.
Aku hanya mencintaimu, Layla, dan bukan yang lain, aku berfikir bahwa
tadi lebih baik bagiku untuk mengorbankan hatiku, kebahagiaanku,
kehidupanku daripada melarikan diri bersamamu pada malam
pernikahanmu.
Ciumlah aku, kekasih jiwaku... sebelum orang-orang melihat tubuhku...
Ciumlah aku... ciumlah, Layla...
:+: Fendy :+:
KISAHKU
Dengarkan kisahku... .
Dengarkan, tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku: kerana belas
kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam
penderitaanku..
Jika kita mencintai, cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk
diri kita. Jika kita bergembira, kegembiraan kita bukan berada dalam
diri kita, tapi dalam Hidup itu sendiri. Jika kita menderita, kesakitan
kita tidak terletak pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam.
Jangan kau anggap bahawa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama
atau rayuan yang terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika
tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun
atau bahkan dari generasi ke generasi.
Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang terbuka namun
rahsia; ia hanya dapat difahami melalui cinta, hanya dapat disentuh dengan kebaikan; dan
ketika kita mencuba untuk menggambarkannya ia menghilang bagai segumpal
wap.
:+: Fendy :+:
CIUMAN PERTAMA
Itulah tegukan pertama dari cawan yang telah diisi oleh para dewa dari air
pancuran cinta.
Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan
kebahagiaan.
Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan , bab pertama dari suatu novel tentang manusia.
Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan.
Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian-nyanyiannya.
Itulah satu kata yang diucapkan oleh sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai
singgahsana, cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota.
Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jemari angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah
nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.
Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada
ilham dan impian-impian.
Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah
delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.
Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang ditaburkan para dewa
di ladang hati manusia, maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama
yang mekar pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.
:+: Fendy :+:
SUARA PENYAIR
Berkah amal soleh tumbuh subur dalam ladang hatiku.
Aku akan menuai gandum dan membahagikannya pada mereka yang lapar.
Jiwaku menyuburkan ladang anggur yang kuperas buahnya dan kuberikan sarinya pada mereka yang kehausan.
Syurga telah mengisi pelitaku dengan minyaknya dan akan kuletakkan di jendela.
Agar musafir berkelana di gelap malam menemui jalannya.
Kulakukan semua itu kerana mereka adalah diriku.
Andaikan nasib membelenggu tanganku dan aku tak bisa lagi menuruti hati
nuraniku, maka yang tertinggal dalam hasratku hanyalah : Mati!
Aku seorang penyair, apabila aku tak bisa memberi, akupun tak mau menerima apa-apa.
:+: Fendy :+:
|