|
Website Pemurtadan Berkedok Islam (2) |
|
|
Website milik penginjil yang berisi beberapa
tulisan tentang Isa sebagai anak Allah pada bagian yang lalu jelas mengarah
pada penggelinciran aqidah umat Islam dari tauhid. Beberapa judul tulisan
lainnya adalah: "ISA AL MASIH DI
DALAM AL QUR'AN"
(PembahasanMasalah.html), "Apakah
pandangan Al Qur�an mengenai penyaliban, kematian dan kebangkitan Isa?",
"ISA PENYELAMAT" (Penyelamat.html),
"PENGIKUT ISA AL MASIH",
Kisah Sejati (mimpi.htm), "Tritunggal." Setelah mengutak-atik puluhan ayat al-Qur'an, penginjil merasa yakin bahwa ia berhasil memperdaya para netter dengan doktrin bahwa Nabi Isa adalah tuhan dan juru selamat manusia. Panduan doa sesat pun dilakukan sebagai tanda untuk menerima kebenaran ajaran Kristen itu. Berikut kutipannya: |
|
|
|
|
Secanggih apapun penginjil itu mengemas ajaran Kristen dengan jubah retorika Islam, akhirnya ketahuan juga belangnya. Sebab antara aqidah Islam dengan doktrin Kristen itu terdapat pertentangan yang sangat tajam. Salah satu doktrin Kristen yang bertentangan itu adalah ajaran tentang dosa waris (dosa turunan). Islam menyatakan dengan tegas bahwa manusia tidak mewarisi dosa dari nenek moyangnya. Demikian pula sebaliknya, nenek moyang tidak akan kecipratan dosa yang dilakukan oleh anak cucunya. Dengan tegas al-Qur'an menyatakan: "Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain," (Surah al-An'am: 164) Sedang umat Kristen meyakini doktrin bahwa setiap manusia yang lahir sejak bayi sudah mewarisi dosa dari Adam yang tidak bisa dihapus dengan amal saleh dan ketaatan. Satu-satunya solusi untuk menghapus dosa waris (peccatum originale) tersebut, menurut ajaran Kristiani, maka Tuhan menjelma menjadi manusia Yesus yang kemudian mati disiksa di tiang salib dengan cara yang keji oleh manusia-manusia yang zalim. Darah Yesus (penjelmaan Tuhan) di tiang salib itulah yang menghapus dosa waris seluruh umat manusia. Teologi Kristen tentang Tuhan yang menjelma menjadi Yesus lalu mati disalib untuk menebus dosa manusia itu dikenal juga dengan istilah "Allah Yang Turut Menderita". Istilah ini dipopulerkan oleh Choan Seng Song, Direktur Komisi Iman dan Tata Gereja Dewan Gereja-gereja Sedunia (WCC) dalam bukunya "The Compassionate God" (Orbis Books, New York, 1982). Secara historis, doktrin tersebut bukanlah ajaran Nabi Isa, juga bukan ajaran para nabi Allah sebelumnya. Melainkan hasil rumusan gereja dalam Konsili Nicea tahun 325 M yang ditegaskan dalam Sahadat Nicaeano-Constantinopolitanum. Sesudah Sinode di Toledo pada tahun 589 M, rumusan doktrin tersebut dikenal dalam bentuk dua belas Pengakuan (Syahadat) Iman Rasuli dan dipakai digereja hingga saat ini (lkhtisar Dogmatika, Dr. R. Soedarmo 114-115). Dalam pandangan biblika, karena doktrin dosa waris dan penebusan dosa bukan ajaran Nabi Isa dan bukan pula ajaran para Nabi Allah sebelumnya, maka tidak heran jika doktrin tersebut bertentangan dengan Alkitab (Bibel) milik umat Kristen sendiri. "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, " dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya" (Yehezkiel 18:20) "31:29 Pada waktu
itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi
anak-anaknya menjadi ngilu, (Yeremia 31: 30) "Tetapi anak-anak mereka tidak dihukum mati olehnya, melainkan ia bertindak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat, yakni kitab Musa, di mana TUHAN telah memberi perintah: "Janganlah ayah mati karena anaknya, janganlah juga anak mati karena ayahnya, melainkan setiap orang harus mati karena dosanya sendiri"." (II Tawarikh 25: 4) Secara logika, sungguh tidak adil bila ada orang yang berbuat dosa, lalu anak cucu atau nenek moyangnya juga ikut menanggungnya. Lebih tidak bisa diterima lagi, jika manusia berbuat dosa melanggar aturan Tuhan, lalu Tuhan menyesal dan menebus dosa manusia dengan cara mati di tiang salib. Inilah jurang pemisah yang membedakan Islam dan Kristen. Kristen meyakini bahwa Tuhan ikut menderita akibat maksiat yang dilakukan oleh makhluk-Nya (The Compassionate God). Sedangkan dalam Islam, Allah itu Maha Suci (al-Quddus), Maha Mulia (aI-Karim), dan Maha Memuliakan (al-Mu'izzu).
Salah alamat dalam berdoa Salah alamat bila penginjil itu berdoa dan minta ampunan atas nama Isa Al Masih. Sebab, Nabi Isa as sendiri berdoa pada Allah sebagaimana digambarkan di dalam kitab suci al-Qur'an, "Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)," (Surah Ali Imran/3: 53) Disebutkan pula dalam Surah al-Maidah ayat 117, bahwa Nabi Isa 'alaihi`ssalam mengajarkan pada umatnya agar hanya menyembah Allah semata. Begitupun dalam pandangan Alkitab (Bibel), disebutkan bahwa Yesus tidak berhak mengampuni dosa manusia, bahkan beliau sendiri berdoa dan minta ampun kepada Tuhan. "6:11 Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya Sepanjang hayat, Nabi Isa berdoa dan minta ampun kepada Allah. Lalu sekarang ada umat yang berdoa, minta ampun, dan minta ditebus dosanya oleh Nabi Isa. Bukankah ini distorsi ajaran?
Sumber: Kolom Bimbingan Tauhid majalah Islam Sabili Edisi Khusus No. 01 Th. X 25 Juli 2002 / 14 Jumadil Awal 1423 h.92-93
|
|
|
| indeks topik | kajian teologis | pustaka deedat | pustaka dialog antar-agama |
Copyright � 2003 www.dialog-antar-agama.tk Editing terakhir: Selasa, 18 Maret 2003 13:23 |