|
Website Pemurtadan Berkedok Islam |
|
|
Untuk merusak aqidah umat Islam, ada pihak
Kristen yang menampilkan sebuah website pemurtadan berkedok Islam. Untuk menarik perhatian pengguna internet, website ini menampilkan pengantar: |
|
|
|
|
(index.htm) |
|
|
|
|
(Almasih.html)
Website tersebut memang berwajah Islam, dilengkapi dengan gambar ka'bah dan kaligrafi basmalah. Bahasa pengantar yang dipakai, seperti selayaknya bahasa aktivis harakah Islam, kadang berbahasa Arab, kadang mengutip ayat; tapi banyak yang keliru, misalnya: alkhamdulillah (BahasaArab.htm), ikhwat (KesaksianYahya.htm), AKHWAN, GHOFURURRAKHIIM, KHAYYUL QOYYUM, LAA KHAULA WA LAA KUWWATA ILLA BILLAHIL �ALIYYIL �ADZIIM, bikalimatiminhu (PembahasanMasalah.html), innii mutafiika, (Penyaliban.html). Hal ini menunjukkan perancangnya bukanlah dari pihak Islam, dan pengakuan bahwa website tersebut dirancang sepenuhnya oleh umat Islam (seperti dikutip di atas) adalah bohong belaka. Jelas, situs tersebut sengaja dirancang untuk mengecoh umat Islam. Karena, kutipan ayat-ayat al-Qur'an digunakan sedemikian rupa untuk menjustifikasi doktrin Kristen tentang Trinitas, ketuhanan Yesus, dosa waris, dan penebusan dosa.
Al-Qur'an mengatakan Isa Anak Allah? Dengan judul "Isa Anak Allah SWT", penginjil redaktur website tersebut mengutip lima ayat al-Qur'an. Kemudian disimpulkan, bahwa al-Qur'an menyataakan Nabi Isa alias Yesus adalah Anak Allah. Berikut kutipannya: |
|
|
|
|
Allah tak mempunyai anak Surah az-Zumar/39 ayat 4 tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah telah mengambil anak atau telah mengambil keturunan-Nya melalui Maryam sebagai anak sungguhan. Ayat tersebut diawali dengan kata 'sekiranya', sinomin kata 'kalau' atau 'seandainya'. Kalimat yang diawali dengan kata sekiranya, kalau, dan seandainya adalah kalimat negatif menunjukkan bahwa hal itu tidak terjadi. Bahkan kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang dengan kalimat yang diawali dengan kata sekiranya, kalau dan seandainya tersebut. Misalnya, seandainya D adalah pemuda yang baik dan jujur, pasti dia tidak memalsukan ijazah sarjana agama Islam. Kalimat ini berarti bahwa D memang pemuda culas yang berani memalsukan ijazah. Sekiranya J adalah seorang yang shalih, tentu dia tidak akan membohongi jemaat dan umat Islam. Pernyataan ini berarti bahwa J memang tidak baik dan bukan orang jujur. Oleh sebab itu, Surah az-Zumar/39 ayat 4 tersebut justru menunjukkan bahwa Allah tidak pernah mengambil anak dari ciptaan-Nya. Karena kata 'sekiranya' pada awal ayat tersebut adalah pengandaian. Yang jelas, penafsiran salah kaprah santri gadungan itu karena pengaruh ajaran Alkitab (Bibel). Sebab dalam Bibel jelas dikatakan bahwa Tuhan punya anak. Dan salah satu anak Tuhan itu adalah Yesus. Perhatikan ayat-ayat Bibel berikut ini: "Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah"." (Matius 27:54) Dalam ayat lain, dengan aneh diceritakan bahwa Tuhan punya banyak anak secara biologis. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
5:21 Setelah Henokh hidup enam puluh lima
tahun, ia memperanakkan Metusalah. (Kejadian 5:21-24) Konteks ayat tersebut jelas mengatakan bahwa Tuhan punya anak betulan dari hasil kumpul biologis dengan Henokh selama tiga ratus tahun. Metusalah adalah anak tiri Tuhan, sebab ketika Tuhan kumpul dengan Henokh, Henokh telah punya anak bernama Metusalah. Dan anak Metusalah itu diperolehnya ketika dia berumur enam puluh lima tahun. Ini berarti bahwa ketika Tuhan kumpul dengan Henokh, dia berstatus janda beranak satu, bukan? Mungkinkah? Perhatikan kelanjutan ayat berikut ini:
6:1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak
jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, (Kejadian 6:1-2) Dari ayat itu dipahami, bahwa anak Tuhan secara biologis itu adalah laki-laki, sebab mereka tertarik untuk mengawini anak-anak manusia yang cantik-cantik. Apakah mereka itu adalah anak-anak Tuhan hasil kumpulnya dengan Henokh??? Sebab pada ayat tersebut terdapat dua perbedaan, yaitu yang satu adalah anak Tuhan dan yang lain adalah anak manusia. Berarti, perkawinan itu terjadi antara anak keturunan Tuhan dengan anak keturunan manusia. Lucu! Tuhan berbesanan dengan manusia!
Sumber: Kolom Bimbingan Tauhid majalah Islam Sabili No. 27 Th. IX 11 Juli 2002 / 30 Rabiul Akhir 1423 h.50-51
|
|
|
| indeks topik | kajian teologis | pustaka deedat | pustaka dialog antar-agama |
Copyright � 2003 www.dialog-antar-agama.tk Editing terakhir: Rabu, 26 Maret 2003 09:02 |