![]() |
|||
| film sebagai bahan refleksi tentang apa saja | |||
Puisi Kegigihan ![]() >> My Left Foot (Jim Sheridan, 1989)
My Left Foot adalah puisi tentang kegigihan. Kisah semacam ini bisa terpapar perih menyayat dan sekadar mengharukan. Hebatnya, Jim Sheridan berhasil menyuntikkan kehangatan, humor, dan bahkan renjana yang keras kepala dalam membesutnya. Itu tentu tak lepas dari sosok Christy Brown sendiri, pribadi yang kisahnya dijadikan biopik apik ini. Lahir terserang cerebral palsy di sebuah keluarga besar miskin di kawasan kumuh Dublin, Irlandia, hidupnya seperti digariskan tanpa harapan. Seluruh anggota tubuhnya lumpuh, hanya satu yang bisa dikendalikan: kaki kiri. Namun, dengan modal satu kaki itulah, ia berjuang menepiskan kungkungan ketakberdayaan. Kelak ia mampu mengguratkan sejumlah buku bagus, beberapa lukisan indah, dan sebuah teladan kegigihan yang menggetarkan. Peran kaki kiri itu, mulai dari yang mengharukan sampai yang menggelikan, menjadi benang merah dalam adegan demi adegan. Kaki itu menuliskan kata pertama di lantai rumah, mencetak gol dalam permainan bola di halaman, membuat lukisan cinta monyet, digunakan untuk mencoba bunuh diri, memasang batu bata, sampai menjotos seorang pengunjung bar yang mulutnya asal njeplak. Di luar itu, kita melihat Christy di dalam gerobak kayu didorong-dorong keliling halaman oleh saudara dan kawan-kawannya; Christy membisiki saudaranya untuk menjarah batu bara; Christy yang mengamuk bagaikan banteng ketaton ketika patah hati; Christy yang sembunyi-sembunyi menyedot minuman keras dari botol yang disusupkan di balik jasnya. Bila dibandingkan dengan orang-orang bertubuh sehat yang gampang nglokro, berputus asa, hidup Christy betul-betul jauh lebih hidup. Sosok seperti ini bukan lagi mengharukan, namun malah menggedor kelunglaian mentalitas kita. Sosok Christy dibawakan dengan cemerlang baik oleh Hugh O'Conor (Christy muda) maupun oleh Daniel Day-Lewis (Christy dewasa). Betapa menyakitkan mereka harus memuntir-muntir otot seperti itu, mengubah gaya bicara, sambil tetap memancarkan sikap yang pantang menyerah. Oscar Aktor Terbaik sungguh layak dianugerahkan pada Daniel Day-Lewis. Oya, kalau ada pengulas yang mengacungkan dua jempol untuk Men of Honor, maka dia mesti repot jungkir-balik untuk mengacungkan empat jempol buat film ini! *** [denmas marto] 2006-07-28 06:18:12 GMT
|
|||

