Superman datang kembali! Dan ia mendapatkan sambutan tak terduga: beberapa kalangan secara khusus menyoroti sosoknya sebagai figur Kristen. Situs CNN menurunkan artikel Jesus Christ Superman. Richard Corliss dari Time menyajikan The Gospel of Superman. Jangan ditanya lagi ulasan dari media dan situs Kristen.
Sejak heboh The Passion of the Christ, film-film yang dikait-kaitkan dengan Kristus seolah-olah membawa mantra ajaib untuk menangguk box-office. Dalam hal ini, Superman Returns bukannya ikut-ikutan. Ia cuma menghidupkan kembali sebuah kisah lama.
Kaitan antara Superman dan Kristus sudah diperbincangkan sejak komiknya, dan kian mencolok dengan kehadiran Superman: The Movie pada 1978, yang menampilkan Superman sebagai anak tunggal yang diutus bapaknya, ilmuwan alien dari Planet Krypton, untuk membawa terang ke bumi (baca: Dari Gelandangan Sampai Alien). Film ini diikuti oleh Superman II yang tak kalah menawan. Namun, sekuel ketiga dan keempat memburuk. Tampaknya Superman Returns garapan Bryan Singer ini mencoba menebus dua sekuel gagal itu dengan menyajikan kisah berlatar waktu sesudah ending Superman II.
Superman (Brandon Routh) kembali setelah menghilang selama lima tahun untuk menjenguk sisa planet asalnya. Sementara itu Lois Lane (Kate Bosworth) sudah punya anak, Jason (Tristan Lake Leabu), dan sedang menjalani "pertunangan yang berkepanjangan" dengan Richard White (James Marsden). Sehari-hari Superman kembali menyaru sebagai Clark Kent, yang segera mendapatkan pekerjaan lamanya sebagai wartawan di Daily Planet. Musuh besar Superman, Lex Luthor (Kevin Spacey), telah bebas dari penjara dan kini menyusun muslihat untuk menguasai bumi.
"Dunia ini tidak memerlukan penyelamat," cetus Lois Lane. "Begitu juga aku." Cetusan getir ini sebenarnya menyiratkan kekecewaan mendalam Lois atas kepergian tanpa pamit si Manusia Baja. Dalam Superman II, getar asmara di antara mereka dipungkasi dengan ciuman pelupaan, namun toh perasaan cinta tak bisa ditepiskan begitu saja.
"Kau menulis bahwa dunia tidak memerlukan penyelamat," kata Superman, "namun setiap hari mereka berseru mengharapkan seorang penyelamat."
Yap, dan kita pun menyaksikan berbagai aksi penyelamatan, dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain, dari dasar laut sampai ke ruang angkasa. Namun, di luar jadwal yang padat itu, kita bertemu dengan sosok yang kaku. Baik sebagai Clark Kent maupun sebagai sang jagoan, ia tampak gagap dalam membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Paling parah, ia terus termangu-mangu dalam hubungannya dengan Lois, terlebih kini dengan hadirnya orang ketiga. Singkatnya, ia sosok yang teralienasi.
Dalam prekuelnya, Jor-El, ayah Superman, mengingatkan, kalau Superman terlalu banyak menolong manusia, mereka akan bergantung padanya, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa mereka lakukan. Dalam Superman Returns, kita melihat bagaimana Superman menggugah Lois dan tunangannya untuk melakukan tindakan heroik penuh pengorbanan.
Namun, akan susah bagi kita untuk meneladani Superman. Bagaimana mungkin kita mengikuti jejak sosok yang begitu super? Paling kita hanya akan berdiri dan menjadi penonton pasif seperti penduduk Metropolis.
Inilah bedanya dengan Sang Mesias dari Nazaret. Dalam misi-Nya sebagai Juruselamat, Ia memang sibuk, namun tidak sampai dibelenggu oleh kesibukan. Ia masih sempat menjamah ibu mertua Petrus, menyentuh orang yang dilayani-Nya, mengelus kepala anak-anak, bercengkerama dengan orang berdosa, dan pergi ke pesta dengan murid-murid-Nya. Ia Mesias yang gaul.
Yesus juga mengundang kita untuk mengikuti Dia. Dan oleh anugerah dan pertolongan Roh Kudus, kita dapat mengikuti teladan-Nya. Bukankah orang-orang percaya tengah dalam proses pembentukan karakter untuk menjadi serupa dengan Dia? Superman menyelamatkan dunia dengan menangkal petaka; Yesus menyelamatkan dunia dengan menebus dosa dan mengubah hati manusia.
Begitulah. Saat film berakhir, teman saya berkomentar, "Wah, kurang asyik, Supermannya kebanyakan pacaran!" Saya tergelak. Terbayang betapa repotnya kalau seorang juruselamat dunia, seorang dewa yang menitis, mencoba-coba menjalin hubungan asmara! (Dengar itu, Dan Brown?) *** [denmas marto]