![]() |
|||
| film sebagai bahan refleksi tentang apa saja | |||
Kode Relativisme ![]() The Da Vinci Code, film yang diangkat dari novel Dan Brown berjudul sama, gagal memuaskan para kritisi. Usai pemutaran perdana di Cannes, film ini mengundang berbagai cemooh. Di situs Rotten Tomatoes, 73% pengulas melemparinya dengan tomat busuk. Singkatnya, sebagai sebuah film, besutan Ron Howard ini dianggap jeblok.
Toh hal itu tidak menghentikan minat penonton untuk berduyun-duyun ke bioskop. Dalam tiga hari pertama pemutaran di seluruh dunia, film ini telah menangguk 224 juta dolar AS, rekor terbesar kedua setelah Star Wars III: The Revenge of the Sith ($253 juta). Kontroversi novel sumbernya, belum lagi merebaknya sejumlah protes dan pemboikotan, tak ayal malah kian memancing orang untuk menengok versi layar lebarnya. Kisahnya mungkin sudah tak asing bagi Anda. Sebuah pembunuhan di Louvre menyeret Robert Langdon (Tom Hank), profesor simbologi dari Harvard, ke dalam petualangan berbahaya untuk menyingkapkan "selubung dusta terbesar sepanjang sejarah umat manusia". Ia didampingi oleh perwira polisi Perancis, Sophie Neveu (Audrey Tautou), cucu korban. Menyadari kasus ini berkaitan dengan konspirasi di kalangan Gereja Katholik dan dengan misteri Cawan Suci, mereka pun meminta bantuan seorang pakar, Sir Leigh Teabing (Ian McKellen). Melalui dialog antara ketiga tokoh itulah, terlontar berbagai klaim yang mencengangkan, atau malah menggelikan, seputar Kekristenan. Tak perlu didaftarkan di sini karena, selain ruangnya tak cukup, sudah banyak buku dan artikel yang mengulasnya. Andaikan klaim itu benar. Alangkah konyolnya dunia kita: Gereja Katholik adalah lembaga yang begitu tangguh, namun sekaligus begitu tolol. Masakan selama 2000 tahun tak kunjung berhasil menggebuk habis Priory of Sion? Tak kalah ganjil, para grand master Priory of Sion cenderung mati-matian merahasiakan 'kebenaran' itu, bukannya mati-matian berusaha menyiarkannya. Memangnya, mana sih yang lebih berfaedah bagi kesejahteraan umat manusia? Leonardo da Vinci jadi lebih mirip seorang 'bocah' yang keranjingan petak umpet: ia cuma sibuk menyembunyikan berbagai kode dalam berbagai karyanya, sementara orang kebanyakan dibiarkan 'tetap buta' terhadap 'kebenaran sejarah'. Dan, setelah 2000 tahun berkembang biak, keturunan Yesus dan Maria Magdalena tinggal Sophie Neveu seorang? Lalu, kenapa banyak orang penasaran akan (atau malah mempercayai?) klaim konyol Dan Brown? Kenapa orang terpikat akan teori konspirasi, khususnya yang menghantam lembaga masif pemegang hegemoni (dalam kasus ini Gereja Katholik)? Penggalan kalimat Robert Langdon mungkin bisa dijadikan kode penyingkap. "Kita tak bisa memastikan siapa yang memulai kekejian itu," katanya mencoba 'meluruskan' Teabing, yang menyatakan bahwa pada abad-abad pertama itu justru orang Kristenlah yang menganiaya orang Romawi! Pernyataan Langdon tersebut bisa dibaca sebagai wakil roh zaman kita: relativisme, yang dilatari oleh memudarnya respek terhadap otoritas. Sejarah itu, konon, rekaan pihak yang menang. Kita tidak bisa memastikan apa yang benar dan apa yang salah. Kebenaran pun menjadi perkara yang subyektif, bukan lagi obyektif. Dalam suasana begini, klaim-klaim yang terkesan baru, dari perspektif yang bersimpati pada korban (walau kita tidak bisa memastikan siapa yang menjadi korban), dan tidak main mutlak-mutlakan, akan sangat menggoda. Dari sisi lain, Brown paling tidak 'berjasa' memperlihatkan kepincangan kita. Merebaknya relativisme bisa jadi hanyalah selubung dari kedangkalan wawasan kita dan keengganan kita untuk menyelidiki kebenaran. Kita cenderung puas dengan Kekristenan yang encer, Kekristenan yang trendy, dan malas untuk mencerna makanan keras. Lantas, kita kelimpungan saat fondasi iman kita diguncangkan. Jadi, menghadapi kontroversi The Da Vinci Code, kita bisa acuh tak acuh, misuh-misuh, atau malah tertantang untuk bertekun mempelajari Alkitab dan sejarah gereja. Yang terakhir itu bukan melulu tugas para pendeta atau teolog, lo. Kita masing-masing kudu mengenal kebenaran akan apa yang kita percayai, dari mana kita berasal, dan yang lebih penting lagi: Siapa yang kita percayai. *** [denmas marto] 2006-07-24 04:22:13 GMT
Comments (1 total)
Author:Anonymous
jadi bingung! semula tertARIK DENGAN Judul blognya... lalu? kok ternyata isinya blog untuk penonton foilm BERAGA KRISTEN YA? JSDI SUBJEKTIF BUANGET....
2006-07-27 20:27:07 GMT
|
|||

