Home | Renungan

Fantasi adalah Kanibalisme

Fantasi, bisa jadi, adalah jalan yang paling "mengasyikkan" untuk melarikan diri dari kenyataan. Fantasi disebarkan melalui film, televisi, iklan, buku, majalah -- dan menjadi lahan subur dan amat menguntungkan bagi industri dan bisnis. Selain itu, kalau Anda tidak mau susah-susah membeli fantasi, Anda tinggal duduk, melamun, dan berfantasi ....

Salah satu arti fantasi, menurut Webster's New World Dictionary (1986), sedikit banyak berkaitan dengan serangkaian citra atau gambaran, seperti yang muncul dalam lamunan, yang biasanya mengandung sejumlah hasrat yang tidak terpenuhi. Hal-hal yang muncul dalam fantasi tak ayal yang serba indah, serba cakap, serba kuat -- singkatnya: "ideal". Cuma satu yang menjad ganjalan: semuanya itu tidak realistis. Tidak sesuai dengan kenyataan, dan dengan demikian, seperti yang kita pelajari minggu lalu, menyangkali kebenaran.

Kesenangan berfantasi ini bisa dibandingkan dengan apa yang oleh Leanne Payne, seorang sarjana sastra dan konselor Kristen, sebagai "dorongan kanibal". Seorang misionaris pernah mengatakan, "Kaum kanibal hanya memakan orang-orang yang mereka kagumi, dan mereka memakan korbannya untuk mendapatkan sifat-sifat korban (yang mereka kagumi itu)." Dalam berfantasi, orang juga berusaha memenuhi hasrat yang tidak terpenuhi di dalam dirinya dengan citra yang serba ideal, namun tidak realistis. Akibatnya, ia akan berjalan di luar kebenaran. Sesuai dengan yang dikatakan Amsal, "Sebagaimana seseorang berpikir (berfantasi) di dalam hatinya, demikianlah keadaannya."

Menarik untuk diperhatikan apa yang dinyatakan Paulus dalam Roma 1, bahwa kalau manusia gagal memuliakan Allah, mereka akan menggantikan kemuliaan Allah itu dengan gambaran atau citra (images) yang mirip dengan ciptaan fana. Ketika pikiran tidak dipenuhi dengan kemuliaan Allah, melainkan dengan fantasi, firman Tuhan menyatakan, bahwa kita telah "menindas kebenaran dengan kelaliman (unrighteousness = ketidakbenaran)" (Rm. 1:18).

Di sisi lain, menarik pula untuk disimak, bahwa Tuhan Yesus menantang kita untuk memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya (Yoh. 6:55). Waktu mendengar pengajaran "kanibal" ini, banyak di antara murid-murid-Nya yang mengundurkan diri. Kalau kita mengikuti pola pikir kaum kanibal tadi, yang Yesus maksudkan adalah: Ia menginginkan, agar kita mengambil sifat-sifat dan pribadi-Nya, dan menjadi seperti Dia. Dia, yang adalah Kebenaran itu. Banyak orang yang menginginkan berkat Tuhan, namun mereka mengelak sewaktu ditantang dengan makanan keras ini.

Bagaimana kita memakan darah-Nya dan meminum darah-Nya? Ternyata mirip dengan berfantasi. Alih-alih memenuhi benak kita dengan citra-citra yang tidak realistis (menyangkali dan menindas kebenaran), Tuhan menghendaki, agar kita penuh dengan kebenaran. Ketika kita mengasihi Dia, bercermin kepada-Nya, memandang wajah dan kemuliaan-Nya, kita pun akan mendapatkan sifat-sifat dan pribadi-Nya, serta diubahkan menjadi serupa dengan gambar (citra)-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (lihat 2 Korintus 3:18). *** (11/05/1997)

© 2004 Denmas Marto

Hosted by www.Geocities.ws

1