Pengembangan Perspektif Positif pada Membaca

Depeloving a Positive Approach to Reading

Melalui bagian ini dan selanjutnya kita secara spesifik akan mempelajari teknik-teknik memahami dan mengingat apa yang telah dibaca. Bagaimanapun, tugas membaca jika tidak dilandasi dengan pendekatan yang positif dan kerangka berpikir yang realistis, ia akan selalu tampak sukar dan buang-buang waktu. Beberapa saran untuk mendekati membaca yang dapat membantu kita menjadi pembaca yang lebih efektif akan dibicarakan berikut.

Ketahuilah Membaca itu Perlu Waktu

Mungkin kita tidak pernah berpikir seperti, bahwa membaca merupakan satu cara tercepat dan bermakna untuk memperoleh fakta-fakta dan ide-ide. Dalam satu jam membaca sering kita dapat meng-cover banyak sekali informasi dibandingkan dengan satu jam mendengar, atau satu jam nonton film, video, atau bioskop. Meskipun membaca merupakan cara yang sangat efisien untuk pemerolehan informasi, ia masih memerlukan komitmen waktu. Untuk bisa membaca secara efektif kita perlu waktu. Kita harus siap membaca ulang materi yang sukar atau kompleks, meng-cross check ide-ide, atau bertanya kepada teman atau guru untuk mendapatkan penjelasan mengenai apa-apa yang tidak dimengerti. Juga perlu waktu di luar membaca untuk mempelajari peta, grafik, bagan, dan gambar secara baik untuk mendalami ide-ide penting, kata-kata yang tak dikenal, dan mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin dimaksudkan penulis.

Lamanya waktu yang diperlukan bergantung pada dua faktor, tujuan kita membaca dan tingkat kesukaran bacaan. Membaca buku untuk mendapatkan informasi umum perlu waktu lebih sedikit daripada untuk mengingat rincian. Membaca buku tipis untuk hiburan perlu waktu lebih sedikit daripada membaca bab sebuah buku teks yang harus kita siapkan untuk ujian akhir. Juga mungkin kita dapat membaca 2000 kata artikel surat kabar dengan waktu lebih sedikit daripada membaca teks kimia dengan jumlah kata yang sama. Pada umumnya artikel surat kabar merupakan tulisan yang lebih mudah dan mendiskusikan ide yang kurang kompleks dibandingkan dengan teks kimia.

Pikirkan Membaca Sebagai Komunikasi

Seorang penulis menulis untuk mengekspresikan suatu ide kepada pembacanya, sementara seorang pembaca membaca untuk memahami ide yang diekspresikan penulis. Melalui media cetak, seorang penulis dan seorang pembaca dapat berkomunikasi atau bertukar pesan. Sebagai seorang pembaca, tugas kita untuk mencoba memahami pesan secara tepat dan akurat.

Satu cara untuk mengetes apakah kita mengerti apa yang kita baca adalah meresum atau menyusun kembali ide dalam bacaan dengan kata-kata sendiri. Jika kita telah memahami suatu ide, kita harus dapat menjelaskannya tanpa menggunakan kata-kata penulis. Dalam beberapa kasus jika kita tidak dapat menyusun kembali sesuatu kita sebenarnya tidak menguasai konsep itu atau dalam istilah khusus itu bermakna pemahaman kita terhalang atau blocking your comperhension.

Sebagai kontrol, kemudian, bahwa kita mengerti benar apa yang dibaca, berhentilah me-review atau meresum apa yang baru saja dibaca. Yakinkan benar pernyataan ulang kita spesifik. Hal itu tidak cukup dengan mengatakan, misalnya, bahwa kitab sudah membaca paragraf iklan surat kabar, jika faktanya, paragraf itu menjelaskan tiga audien yang memohon iklan surat kabar.

Perhatikan Orang di Balik Cetakan

Ketika kita membaca sebuah buku teks atau bahan kuliah yang lain, yang gampang adalah kita tidak tertarik dan tidak mengaitkan suatu bahan cetakan pada orang tertentu . Tentu segala yang tercetak itu merupakan tulisan yang ditulis seseorang, dan itu sering membantu kita untuk mencoba melihat orang yang ada di balik barang cetakan itu. Penulis itu memiliki sikap, pendapat, dan bias, dalam berbagai cara mengekspresikan ide-ide. Kita harus waspada pada penulis yang miring akan hal-hal khusus. Saat kita mulai membaca, sediakan sedikit waktu untuk menyesuaikan dengan penulis atau gayanya. Apabila kita familiar dengan penulis sebagai orang dan dengan gayanya menulis, kita akan menemukan suatu bahan lebih mudah dibaca. Dalam buku teks, cara yang gampang supaya kita familiar dengan penulis adalah membaca kata pengantar. Di sana penulis akan menjelaskan sedikit tentang buku dan mengapa dia menulis.

Pertimbangkan Membaca sebagai Berpikir

Supaya mendapatkan yang paling baik dari apa yang kita baca, ada gunanya untuk mempertimbangkan bahwa membaca itu sebagai proses berpikir. Membaca itu lebih dari sekedar secara rutin mata kita bergerak-pindah melintasi baris-baris bacaan atau memahami makna kata serta kalimat. Dalam hal ini membaca perlu dilakukan dalam dua tahap proses komunikasi yang pertama memahami pesan yang disampaikan penulis dan kemudian bereaksi untuk mengevaluasi dan mengaplikasikan pesan itu. Ketika memahami makna penulis, kita harus memikirkan hal itu, menghubungkan ide-ide penulis dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, dan menggunakan informasi yang telah diperoleh.

Untuk mengembangkan kebiasaan memikirkan yang sedang dibaca, mulai dengan mengajukan pertanyaan terhadap yang kita baca. Tanyalah diri sendiri, seperti pertanyaan: Bagaimana informasi ini cocok dengan apa yang telah kita ketahui? Bagaimana atau kapan kita dapat menggunakan informasi ini? Apa informasi ini sesuai dengan sumber lain yang telah kita baca?

Perlakukan Membaca sebagai Langkah Awal Belajar

Tahap pertama dalam kegiatan belajar adalah mengidentifikasi informasi yang dipelajari. Pada sebagian besar college , membaca menjadi yang paling utama untuk mendapatkan informasi penting apa yang perlu dipelajari. Dengan membaca buku teks, bacaan pelengkap, dan membaca handouts , kita memiliki harapan lulus ujian. Keberhasilan kita belajar di PT sebagian besar bergantung pada kemampuan kita membaca bahan kuliah secara akurat dan tepat. Hanya jika memiliki bahan bacaan kita sesunguhnya siap belajar, me-review, dan mengorganisasi informasi untuk kita ingat di kemudian .

Return to KMyE

 

Hosted by www.Geocities.ws

1