|
Anda dapat menggunakan bab ini untuk memahami:
membaca sebagai proses perkembangan ketrampilan.
Telah dilukiskan secara cukup panjang lebar bahwa membaca itu merupakan
latihan yang sangat kompleks yang sangat tergantung pada bermacam-macam
faktor. Sifat proses perkembangan ketrampilan itu dapat dijelaskan sebagai
berikut:
-
Ketrampilan itu
objektif. Satu di anatara hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti
proses perkembangan ketrampilan membaca ialah bahwa perkembangan
ketrampilan membaca itu bersifat objektif. Hal tersebut dipandang objekif
karena dalam perkembanganya tidak tergantung pada materi, metode, ataupun
tingkatan-tingkatan akademis. Pandangan seperti itu tidak mempunyai arti
penolakan terhadap adanya ketrampilan membaca dalam proses yang sangat erat
kaitannya.
Satu bagian
terenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi ketrampilan yang
akan diajarkan. Jika ketrampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, satu
dari sejumlah metode yang demmikian banyak yang akan dipakai sudah dapat
digunakan untuk mengajar anak. Seorang anak mungkin akan dapat belajar melalui program visual; anak yang
lain akan merasakan kemudahan
belajar membaca itu melalui penglihatan; dan yang lain melalui
kinestik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, Anda
mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan
katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa.
Anda tahu bahwa
perkembangan ketrampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu
atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, ketrampilan itu adalah
ketrampilan. Kita tidak mengenal ketrampilan anak peringkat kata satu atau
anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, Anda sebagai
guru dituntut untuk menyadari seluruh ketrampilan. Supaya sampai pada
faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkat perorangan, Anda
harus mengetahui ketrampilan yang mana yang kan mendahului ketrampilan
yang sedang diajarkan itu dan ketrampilan mana yang mengikutinya.
-
Ketrampilan itu
mempunyai sifat berlanjut. Meskipun ketrampilan itu tidak terikat pada
tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa
Anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir,
tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk
mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri
setelah menguasi ketrampilan-ketrampilan prasyarat.
-
Ketrampilan itu
digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, ketrampilan itu
bersifat tergeneralisasikan. Ketampilan dasar dalam membaca dapat
digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai ketrampilan tersebut
dituntut untuk menerapkannya kapan saja dan di mana m saja jika situasinya
menghendaki penggeneralisasian itu. Jika anak telah menguasai cara memahami
kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata
itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di
dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna
kata merupakan ketrampilan yang sama dan tidak terikat pada pelajaran yang
mana pun.
Dalam perkembangan
ketrampilan dikenal tahapan-tahapan, atau tngkatan-tingkatan. Kata
tahapan dan tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan
ketrampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna.
Seorang anak tidak perlu berhenti berkembangan untuk ketrampilan tertentu
karena dia harus mulai mengembangkan ketrampilan lainnya.
-
Dasar proses
perkembangan ketampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut mulai
dengan penglaman anak yang mula-mula sekali yang terus berkembang seumur
hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama
juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu
merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat
menyimpan dan mengambil informasi secara terus-meneus. Dalam
pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga
pebendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubah-ubah.
Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar
belakang pengalamannya. Anak yang mmpunyai semacam lingkungan saja,
tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejnis, akan
tehambat perkmbangan kosakatanya. Anak mengenalmakna kata-kata itu mellui
pendengaran penggunaannya dan upaya menggunakannya sendiri.
-
Tahap perkembangan
yang kedua merupakan pengenalan danidentifikasi. Pada waktu anak membina
dasar-daar konsep yang pertama dia mulai pula menghubungkan
konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai
hal ini dalam keiatan membeca ilah pengenalan huruf dan kata. Dia belajar
menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu
dengankonsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia brhasil
mengkombinsikankeduanya itu, ialah stimulus dan konsep, maka dia pun
memperoleh makna dari pengalamannya itu.
-
Tahapankeiga
perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informaasi . Anda
tentutahubahwa anak sudah mulai dengankegiatan menginterpretasikan
informasi itu sejakawal proses, meskipun upayanya itu belum jelas., Dalam
hal kita perlu membedakan dua interpretawsi: yang literal dan yang
inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta keika faka
itu dihadapkan . Contoh interpretasi literal yang merupakan ketrampilan
pemahaman tampak pada kaliamat dan pertanyaa di bawah ini.
Colombus menemukan benua Amerika tangga 12 Oktober 1492.
(1) Siapakah yang menemukan benua Amerika?
(2) Kaankah Colombus menemukan Amerika?
(3) Negri apaka yang ditemukan Colombus?
Meski kkedua contoh
itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui
interpretasi literal. Anda melihat bahwa tuagas tersebut lebih dari
menyuruh mencocokkan fakta dan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan
melihatk kembali kalimat-kalimat stimulus, berarti kita telah memasukkan
unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan
sebagai dasar pertanyaan yang bersifat inferensial, seperti,
Menurut
pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Colombus saat melihat Amerika
pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan, oleh sebab
itu, mengubah pula penugasannya.
Perbedaan utama
antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada
harapan siswa itu sendiri. Sifak ekstrinsik seperti yang tampak pada
ketiga pertnyaan dan sifat intrinsik seperti tampak pada pertanyaan
terkahir merupakan hal perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara
inerpretasi literal dan interpretasi inferensial cobalah perhatikan
paragraf berikut ini dan pertanyaan-pertanyaan yang mengikutinya yang
bersifta inferensial.
Joko menaruh sepeda
barunya di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihat-lihat
sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepede baru seperti itu. Kepunyaanya
sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemeretak pun
terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal
sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.
Pertanyaan
(1) Bagaimana kamu
tahu bahwa Kino tidak punya seeda baru?
(2) Dimanakah ceita iotu terjadi?
a. di desa
b. di kota
c. di daerah perkebunan
(3) Menurut
pikianmu,apa sebababnya Joko mau supaya Kino melihat seepeda barunya itu?
Bagaiman pendapat anda
tentang pertanyaan-pertanyaan di atas itu? Memang benar, untuk menjawab
ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. Ada tiga macam
informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali
sepeda baru; (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi
catnya; dan Kino sangat miskin.
Untuk menjawab
pertanyaan kedua, hanya ada informasi yang bisa digunakan. Baik di desa
maupun di perkebunan tidak ada trotoar. Oleh sebab itu, dapatlah
dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota.
Terhadap pertanyaan
ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan . Kita tidak
mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Dalam hal ini setiap jawaban
yang logis haruslah dianggap benar. Jawaban kita mungkin mencerminkan
pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda
baru yang kita miliki.
Dengan demikian
inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman
apapun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan
kita. Pada suatu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi,
pengenalan, interpretasi, dan terjemahan atas suatu fakta. Pada waktu lain
lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi
pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang
mempunyai relevansi dengan harapan.
Tahap proses
perkembangan ketrampilan yan keempat ialah aplikasi dan generalisasi.
Meskipun akan sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan
menguasai ketrampilan-ketrampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau
pengenalan, identifikasi, dan interpretasi informasi, prosesnya belum
tentu lengkap. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan
dan menggeneralisasikan ketrampilan dan informasi yang diperolehnya itu.
Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki
kemampuan tersebut.
Kita dapat melihat
contoh-contoh penerapan dan generalisasi itu pada setiap tahapan proses
perkembangan. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan,
seperti pengenalan ciri-ciri melati, ros dan kenanga sebagai bunga, c
kecil, C kapital dan c tulisan tangan itu dibunyikan sama. Kemampuan anak
itu belum cukup jika berhenti pada pengenalan. Dia baru boleh dianggap
menguasai informasi itu jika sesudah mengenalnya mampu pula
mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya.
Return
to Content
|