10. Membaca sebagai Proses Perkembangan Ketrampilan


 

Anda dapat menggunakan bab ini untuk memahami:
 

membaca sebagai proses perkembangan ketrampilan.
 

Telah dilukiskan secara cukup panjang lebar bahwa membaca itu merupakan latihan yang sangat kompleks yang sangat tergantung pada bermacam-macam  faktor. Sifat proses perkembangan ketrampilan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Ketrampilan itu objektif. Satu di anatara hal yang mula-mula kita sadari waktu meneliti proses perkembangan ketrampilan membaca ialah bahwa perkembangan ketrampilan membaca itu bersifat objektif. Hal tersebut dipandang objekif karena dalam perkembanganya tidak tergantung pada materi, metode, ataupun tingkatan-tingkatan akademis. Pandangan seperti itu tidak mempunyai arti penolakan terhadap adanya ketrampilan membaca dalam proses yang sangat erat kaitannya.

    Satu bagian terenting dari proses perkembangan itu ialah identifikasi ketrampilan yang akan diajarkan. Jika ketrampilan tertentu sudah dapat diidentifikasi, satu dari sejumlah metode yang demmikian banyak yang akan dipakai sudah dapat digunakan untuk mengajar anak. Seorang anak mungkin akan dapat belajar melalui program visual; anak yang lain akan merasakan kemudahan belajar membaca itu melalui penglihatan; dan yang lain melalui kinestik. Meskipun buku bacaan permulaan menyajikan materi yang layak, Anda mungkin mempunyai keinginan untuk menggunakan surat kabar, majalah, dan katalog untuk mengajarkan membaca kepada pembaca dewasa.

    Anda tahu bahwa perkembangan ketrampilan itu tidak terikat pada materi dan metode tertentu atau pun pada tingkatan kelas. Pada hakikatnya, ketrampilan itu adalah ketrampilan. Kita tidak mengenal ketrampilan anak peringkat kata satu atau anak kelas enam atau kelas delapan. Berdasarkan hal tersebut, Anda sebagai guru dituntut untuk menyadari seluruh ketrampilan. Supaya sampai pada faktor-faktor yang diperlukan anak pada suatu tingkat perorangan, Anda harus mengetahui ketrampilan yang mana yang kan mendahului ketrampilan yang sedang diajarkan itu dan ketrampilan mana yang mengikutinya.
     

  • Ketrampilan itu mempunyai sifat berlanjut. Meskipun ketrampilan itu tidak terikat pada tingkatan kelas anak, namun kaitannya tetap tampak. Ini tidak berarti bahwa Anda harus mengajarkan konsonan awal sebelum mengajarkan konsonan akhir, tanda titik sebelum tanda tanya, atau membaca fakta sebelum membaca untuk mencari ide utama. Anak akan mampu mencari materi sumber secara mandiri setelah menguasi ketrampilan-ketrampilan prasyarat.
     

  • Ketrampilan itu digeneralisasikan. Di samping objektif dan bertahap, ketrampilan itu bersifat tergeneralisasikan. Ketampilan dasar dalam membaca dapat digeneralisasikan sehingga anak yang telah menguasai ketrampilan tersebut dituntut untuk menerapkannya kapan saja dan di mana m saja jika situasinya menghendaki penggeneralisasian itu. Jika anak telah menguasai cara memahami kata secara mandiri, baginya tidak akan merupakan masalah di mana pun kata itu berada, baik dalam teks matematika, buku latihan geografi, atau pun di dalam sebuah novel. Penggunaan konteks kalimat dalam upaya memahami makna kata merupakan ketrampilan yang sama dan tidak terikat pada pelajaran yang mana pun.

Dalam perkembangan ketrampilan  dikenal tahapan-tahapan, atau tngkatan-tingkatan. Kata tahapan dan tingkatan dalam pembicaraan tentang proses perkembangan ketrampilan tidak mempunyai arti tingkat-tingkat yang berlainan makna. Seorang anak tidak perlu berhenti berkembangan untuk ketrampilan tertentu karena dia harus mulai mengembangkan ketrampilan lainnya.

  • Dasar proses perkembangan ketampilan ialah perkembangan konsep. Hal tersebut mulai dengan penglaman anak yang mula-mula sekali yang terus berkembang seumur hidupnya. Perkembangan konsep itu merupakan prasyarat untuk membaca, sama juga halnya untuk menyimak dan berbicara. Pengembangan konsep itu merupakan bank pengetahuan yang bagi anak berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengambil informasi secara terus-meneus. Dalam pertumbuhannya itu anak-anak tumbuh dan berubah, demikian juga pebendaharaan konsepnya akan terus tumbuh dan berubah-ubah.

    Pertumbuhan dan perubahan konsep anak banyak bergantung pada latar belakang pengalamannya. Anak yang mmpunyai semacam lingkungan saja, tingkat komunikasi yang itu-itu juga, serta pengalaman yang sejnis, akan tehambat perkmbangan kosakatanya. Anak mengenalmakna kata-kata itu mellui pendengaran penggunaannya dan upaya menggunakannya sendiri.

  • Tahap perkembangan yang kedua merupakan pengenalan danidentifikasi. Pada waktu anak membina dasar-daar konsep yang pertama dia mulai pula menghubungkan konsep-konsepnya itu dengan stimuli tertentu. Contoh yang jelas mengenai hal ini dalam keiatan membeca ilah pengenalan huruf dan kata. Dia belajar menghubungkan huruf dan kata atau kombinasi huruf dan kombinasi kata itu dengankonsep-konsep yang bermakna baginya. Jika dia brhasil mengkombinsikankeduanya itu, ialah stimulus dan konsep, maka dia pun memperoleh makna dari pengalamannya itu.

  • Tahapankeiga perkembangan itu merupakan interpretasi mengenai informaasi . Anda tentutahubahwa anak sudah mulai dengankegiatan menginterpretasikan informasi itu sejakawal proses, meskipun upayanya itu belum jelas., Dalam hal kita perlu membedakan dua interpretawsi: yang literal dan yang inferensial. Interpretasi literal ialah interpretasi fakta keika faka  itu dihadapkan . Contoh interpretasi literal yang merupakan ketrampilan pemahaman tampak pada kaliamat dan pertanyaa di bawah ini.

    Colombus menemukan benua Amerika tangga 12 Oktober 1492.

    (1) Siapakah yang menemukan benua Amerika?
    (2) Kaankah Colombus menemukan Amerika?
    (3) Negri apaka yang ditemukan Colombus?

Meski kkedua contoh itu terlalu disederhanakan, bentuknya sama dengan tes untuk mengetahui interpretasi literal. Anda melihat bahwa tuagas tersebut lebih dari menyuruh mencocokkan fakta dan pertanyaan. Jika anak tidak diizinkan melihatk kembali kalimat-kalimat stimulus, berarti kita telah memasukkan unsur ingatan ke dalamnya. Pernyataan stimulus yang sama boleh digunakan sebagai dasar pertanyaan  yang bersifat inferensial, seperti, Menurut pikiranmu, bagaimana kira-kira perasaan Colombus saat melihat Amerika pertama kali? Pertanyaan yang terakhir ini mengubah isi harapan, oleh sebab itu, mengubah pula penugasannya.

Perbedaan utama antara interpretasi literal dan interpretasi inferensial terletak pada harapan siswa itu sendiri. Sifak ekstrinsik seperti yang tampak pada ketiga pertnyaan dan sifat intrinsik seperti tampak pada pertanyaan terkahir merupakan hal perlu dipahami. Untuk melukiskan perbedaan antara inerpretasi literal dan interpretasi inferensial cobalah perhatikan paragraf berikut ini dan pertanyaan-pertanyaan yang mengikutinya yang bersifta inferensial.

    Joko menaruh sepeda barunya  di trotoar persis di depan rumah Kino. Kino melihat-lihat sepeda itu. Dia ingin benar memiliki sepede baru seperti itu. Kepunyaanya sudah tidak keruan catnya, bunyi-bunyi berdenyit dan gemeretak pun terdengar jika Kino menaikinya. Akan tetapi, sepeda baru sangat mahal sekarang, sedangkan Kino sangat miskin.

    Pertanyaan

    (1) Bagaimana kamu tahu bahwa Kino tidak punya seeda baru?
    (2) Dimanakah ceita iotu terjadi?
          a. di desa
          b. di kota
          c. di daerah perkebunan

    (3) Menurut pikianmu,apa sebababnya Joko mau supaya Kino melihat seepeda barunya itu?

Bagaiman pendapat anda tentang pertanyaan-pertanyaan di atas itu? Memang benar, untuk menjawab ketiga pertanyaan itu diperlukan tiga macam informasi. Ada tiga macam informasi untuk menjawab pertanyaan yang pertama: (1) Kino ingin sekali sepeda baru; (2) Sepeda Kino sudah berbunyi-bunyi dan tidak keruan lagi catnya; dan Kino sangat miskin.

Untuk menjawab pertanyaan kedua, hanya ada informasi yang bisa digunakan. Baik di desa maupun di perkebunan tidak ada trotoar. Oleh sebab itu, dapatlah dipastikan bahwa kejadian itu berlangsung di kota.

Terhadap pertanyaan ketiga tidak ada jawaban yang benar yang bisa diberikan . Kita tidak mempunyai fakta sebagai dasar jawaban kita. Dalam hal ini setiap jawaban yang logis haruslah dianggap benar. Jawaban kita mungkin mencerminkan pengalaman yang mempunyai kesamaan dengan alasan untuk menunjukkan benda baru yang kita miliki.

Dengan demikian inferensi itu meliputi interpretasi dan kombinasi fakta dan pengalaman apapun yang kita miliki yang dapat kita gunakan untuk memenuhi harapan kita. Pada suatu waktu tertentu inferensi itu bisa meliputi analogi, pengenalan, interpretasi, dan terjemahan atas suatu fakta. Pada waktu lain lagi inferensi itu bisa menuntut kita untuk memintasi pengalaman pribadi pada waktu berupaya untuk mengidentifikasi secercah informasi yang mempunyai relevansi dengan harapan.

Tahap proses perkembangan ketrampilan yan keempat ialah aplikasi dan generalisasi. Meskipun akan sudah memiliki dasar konsep yang boleh dikatakan layak dan menguasai ketrampilan-ketrampilan yang terlibat ke dalam rekognisi atau pengenalan, identifikasi, dan interpretasi informasi, prosesnya belum tentu lengkap. Dia boleh jadi belum memiliki kemampuan untuk menerapkan dan menggeneralisasikan ketrampilan dan informasi yang diperolehnya itu. Dia tidak akan sampai pada taraf pembaca yang mandiri sebelum memiliki kemampuan tersebut.

Kita dapat melihat contoh-contoh penerapan dan generalisasi itu pada setiap tahapan proses perkembangan. Generalisasi dan interpretasi itu merentang dari pengenalan, seperti pengenalan ciri-ciri melati, ros dan kenanga sebagai bunga, c kecil, C kapital dan c tulisan tangan itu dibunyikan sama. Kemampuan anak itu belum cukup jika berhenti pada pengenalan. Dia baru boleh dianggap menguasai informasi itu jika sesudah mengenalnya mampu pula mengaplikasikannya dan menggeneralisasikannya.

Return to Content

 

Hosted by www.Geocities.ws

1