Sekapur Sirih
2/2
-
-
Dalam buku
al-Manhajus Salaf ‘indal Albani hal. 90, tentang penyebutan
pepatah Syam dikatakan, Anta musakkirun wa ana mubaththilun
(Jika kamu menutup pintu masjid maka aku tidak
sholat),
terjemahan al-Ustadz Firanda adalah tepat (lihat hal. 135 “Lerai
Pertikaian) dan al-Ustadz Abu Aminah yang menterjemahkan “You’re
Closed so I droped the prayer”, namun Ust. Abu Muqbil Ahmad
Yuswaji menterjemahkan dengan “kamu pemabuk dan aku pelaku
kebatilan” (lihat hal. 85 “Albani dan Manhaj Salaf”), dimana
mungkin ustadz membaca musakkir sebagai muskir, dan
maknanya adalah jauh.
-
Masih teringat
dengan jelas akan sikap sebagian orang yang satu “haluan” dengan
Ustadz Yuswaji, yang mengkritik bahkan mencela penerbit-penerbit
yang bukan berasal dari mereka. Penerbit-penerbit selain penerbit
mereka dikatakan sebagai ‘racun’ dan mereka juga mencela
ustadz-ustadz salafiyin yang bukunya diterbitkan oleh
penerbit semisal Pustaka Ibnu Katsir dan semisalnya. Padahal
penerbit ini (Ibnu Katsir) jauh lebih baik daripada penerbit Najla
Press yang bukunya masih ‘campur baur’.
Yang paling
“parah” lagi adalah al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf dari Bandung, beliau
menulis buku "Aku Melawan Teroris : Sebuah Kedustaan Atas Nama
Ulama Ahlussunnah”[4]
yang diterbitkan oleh CMM (Centre for
Moderate Muslim) tahun 2005[5].
Padahal CMM itu adalah penerbit yang berhaluan “liberal” yang
berusaha memerangi Islam “fundamentalis” menurut definisi mereka.
Lantas, maukah saudara-saudara kita yang senang menghujat dan
mencela dengan gegabah tanpa landasan syar’i ini mau kembali
dan ruju’ ke manhaj yang haq?!
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله
وصحبح وسلم
Semoga sholawat
dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada
keluarganya dan kepada sahabat-sahabatnya.
1.
Kenapa al-Ustadz hanya memberikan footnote peringatan
terhadap Syaikh Rasyid Ridha saja? Padahal di dalam bukunya, beliau
menyebutkan beberapa orang yang sebenarnya merupakan lawan dakwah,
namun beliau diamkan. Jika demikian, maka konsistensi al-Ustadz
perlu dipertanyakan. Seperti misalnya pada hal. 160, footnote
no. 92, al-Ustadz berkata : “Kitab az-Zuhd… tahqiq
Habiburrahman al-A’zhami…”, apakah al-Ustadz tidak tahu siapa
Habiburrahman al-A’zhami dan bagaimana permusuhannya terhadap ahlus
sunnah? Kami yakin al-Ustadz telah mengetahuinya. Bagi para pembaca
yang ingin mengetahui siapa Habiburrahman ini, bisa membaca
“Silsilah Bantahan Ilmiah Kedua Terhadap Tuduhan Dusta Hizbut
Tahrir” (dalam blog kami
http://dear.to/abusalma) dan buku ”Albani dihujat” karya al-Akh
al-Ustadz Abu ’Ubaidah Yusuf as-Sidawi.
2. Klaim
al-Ustadz di atas menyelisihi apa yang ditulis oleh para ulama yang
lebih ’alim dan lebih faham tentang Rasyid Ridha dibandingkan
al-Ustadz, berikut ini akan kami nukilkan beberapa saja, karena
apabila kami nukilkan semua, niscaya risalah ini akan menjadi
semakin panjang dan keluar dari konteks tujuan risalah ini
disebarkan.
-
Al-Allamah Al-Albani rahimahullahu
berkata tentang Sayyid Rasyid Ridha
rahimahullahu : ”Sayyid Rasyid Ridha rahimahullahu
mempunyai jasa yang besar terhadap dunia Islam secara umum dan
khususnya salafiyun. Semuanya ini kembali kepada eksistensinya
sebagai sebagai da’i yang langka yang telah menyebarkan manhaj
salaf di seluruh penjuru dunia melalui majalahnya al-Manar....
dst.” Kemudian beliau melanjutkan, ”Maka pada kesempatan yang
baik ini saya pun menulis kalimat ini agar dapat dibaca dan
diketahui oleh siapa saja yang sampai kepadanya tulisan ini,
bahwasanya berkat karunia Alloh, lalu beserta apa yang aku berada
di atasnya mulai dari aku berittijah (menuju) kepada
pemahaman salafiyah, hingga memisahkan hadits-hadits shahih
dan dha’if, semuanya ini, jasa dan keutamaannya yang
pertama, kembali kepada Sayyid Muhammad Rasyid Ridha rahimahullahu
melalui beberapa edisinya al-Manar...” (Hayatul
Albani, oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, hal.
400-4001).
-
Fadhilatus Syaikh Sholih al-’Abud hafizhahullahu
(mantan rektor Univ. Islam Madinah) berkata : ”Beliau (Rasyid
Ridha) memilki sifat-sifat terpuji, tulisan-tulisan yang
munshif (adil) dan penjelasan-penjelasan tentang kebenaran
al-Haq dalam majalahnya yang besar al-Manar yang terbit
selama bertahun-tahun. Dan beliau menyebarkan semua itu sebagai
suatu pembelaan yang mulia terhadap dakwah salaf sholih, dan
tidaklah beliau terdorong untuk membelanya melainkan lantaran
pengaruh aqidah salaf sholih...” (Áqidah Syaikh
Muhammad bin Abd Wahhab as-Salafiyyah wa atsaruha fil ’Alamil
Islami, Syaikh Sholih al-’Abud, hal. 683).
-
Syaikh
Ahmad bin Hajar Alu Buthami
rahimahullahu berkata : ”Benar-benar dakwah yang
diberkahi ini turut menyebar di Hadhramaut dan Jawa dengan
perantara Syaikh Rasyid Ridha dan didirikannya
Jum’iyyah Al-Irsyad di sana yang mengajak kepada Kitabullah dan
Sunnah Rasulullah, memberantas bid’ah dan khurofat yang selaras
dengan mabda’ Syaikh Muhammad bin ’Abd Wahhab” (Syaikh
Muhammad bin Abd Wahhab, Syaikh Ahmad Alu Buthami).
|