|
|
|||||||
| TULISAN BERIKUT => | SATU | DUA | TIGA | EMPAT | LIMA | STOP | |
|
|
|
Penyakit
adalah suatu rangkaian proses perubahan atau proses penyimpangan fisiologi
penggunaan energi yang mengakibatkan hilangnya koordinasi di dalam tubuh
inang, termasuk di dalamnya gangguan aktivitas seluler yang ditunjukkan
oleh perubahan morfologi inang (gejala, symptom). Ilmu
penyakit hutan merupakan ilmu yang mempelajari rangkaian proses perubahan
atau proses penyimpangan fisiologi tanaman-tanaman penyusun hutan yang
terdiri atas: 1.
Faktor-faktor (biotik & abiotik) yang menyebabkan
tanaman-tanaman menjadi sakit 2.
Mekanisme faktor-faktor sehingga menyebabkan penyakit 3.
Interaksi antara inang dengan faktor-faktor penyebab 4.
Metode pengelolaan untuk mencegah dan mengurangi kerugian akibat
penyakit Serangan patogen akan mengganggu
fungsi fisiologi tanaman, diantaranya mengganggu proses: 1.
Pembentukan
cadangan bahan dalam bentuk biji, akar, dan tunas 2.
Pembentukan
juvenil (keturunan, anakan) baik pada semai maupun perkembangan tunas 3.
Perpanjangan
akar dalam usaha mendapatkan air dan mineral 4.
Transportasi
air 5.
Fotosintesis 6.
Translokasi
fotosintat untuk dimanfaatkan oleh sel 7. Integrasi struktural |
|
Penyebab
penyakit Penyakit
tanaman hutan disebabkan oleh interaksi antara faktor penyebab dengan
tanaman hutan. Penyakit biotik akibat interaksi antara organisme penyebab
penyakit dengan tanaman inangnya. Organisme penyebab penyakit atau yang
disebut ‘patogen’ dapat berupa virus, bakteri, fungi, atau tumbuhan
tingkat tinggi. Penyakit abiotik akibat pengaruh faktor lingkungan (fisik,
kimia) tempat tumbuh tanaman. Tanaman-tanaman
di dalam hutan seringkali baru dapat diserang oleh patogen setelah menjadi
lemah pertumbuhannya karena kondisi lingkungan yang kurang optimal. Oleh
karena itu, penyimpangan kondisi lingkungan tempat tanaman tumbuh menjadi
berpeluang besar untuk menyebabkan penyakit pada tanaman-tanaman penyusun
hutan yang tumbuh dalam rentang waktu yang lama. Tanaman-tanaman
hutan yang sakit dapat diakibatkan oleh: 1.
Serangan patogen, misalnya fungi, bakteri, virus, nematoda, atau
tumbuhan parasit 2.
Kondisi lingkungan yang tidak mendukung kehidupan tanaman hutan 3.
Tidak adanya mikroorganisme simbiose mutualistik (misal: pembentuk
mikoriza, penambat nitrogen) Suatu mikroorganisme dikatakan
sebagai patogen jika memenuhi kriteria yang ditentukan dalam prosedur
pembuktian penyebab penyakit, yang disebut ‘postulat
koch’ yaitu: 1.
Membentuk
asosiasi yang tetap antara mikroorganisme dan tanaman 2.
Mikroorganisme
dapat dipisahkan (diisolasi) dan ditumbuhkan pada media buatan 3.
Mikroorganisme
hasil isolasi jika ditularkan (diinokulasikan) pada tanaman sehat akan
menjadi sakit dengan gejala yang sama dengan gejala pada asosiasi pertama 4.
Mikroorganisme
dapat dipisahkan kembali dari tanaman yang ditulari. Beberapa kelompok mikroorganisme (parasit obligat, virus) yang tak dapat ditumbuhkan pada medium kultur, prosedur ini tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya sehingga diperlukan modifikasi. |
|
Gejala
dan tanda Penyakit
tanaman hutan dapat dikenali dengan cara mengamati respon tanaman terhadap
serangan patogen. Respon tanaman terhadap serangan patogen berupa
perubahan-perubahan morfologi atau fisiologi yang ditunjukkan oleh tanaman
inang. Perubahan-perubahan morfologi atau fisiologi yang dapat kita lihat
ini disebut gejala (symptom) penyakit, sedangkan penyimpangan yang ditunjukkan
oleh struk tur yang dibentuk patogen (miselium, spora, tubuh buah, lendir)
pada permukaan tubuh tanaman atau pada bagian gejala itu sendiri, kita
sebut s tanda (sign) penyakit. Penyimpangan-penyimpangan
tersebut mengakibatkan terganggunya kemampuan tumbuhan untuk mengabsorbsi
dan mengirimkan hara dan air, sehingga tanaman mengalami penurunan
fotosintesis, penurunan kemampuan reproduksi, atau mengalami kerusakan
fisiologi lainnya. Gangguan-gangguan ini dapat mengakibatkan kerusakan
pertumbuhan, misalnya kegagalan tumbuh sehat (unthriftness), kerdil,
penurunan produksi, atau timbul gejala yang spesifik, misalnya bercak,
puru, kematian jaringan (nekrotis), perubahan warna (discoloration), dan
mosaik.
Gejala
Penyakit Gejala
penyakit dibedakan menurut beberapa cara dan terminologi yang digunakan.
Dari segi proses perubahan sel atau proses pembentukan gejala dapat
dibedakan menjadi tiga tipe gejala pokok, yakni 1.
Nekrotik, yaitu tipe gejala yang disebabkan oleh adanya kerusakan
fisik atau kematian pada sel atau bagian sel. Gejala-gejala yang termasuk
tipe nekrotik antara lain sebagai berikut: a.
Kanker (canker) atau mati kulit, yaitu kematian jaringan kulit
batang, cabang, atau akar dan pada bagian yang mati tersebut terbentuk
cekungan dan retakan. b.
Klorotik, yaitu kerusakan kloroplas yang mengakibatkan
bagian-bagian tumbuhan yang yang dalam keadaan normal berwarna hijau
menjadi menguning. Klorotik seringkali mendahului gejala nekrotik,
sehingga warnanya sampai coklat.
i.
Halo, yaitu klorosis yang mengelilingi nekrotik
ii.
Klorotik sistemik, yaitu klorotik yang terjadi pada seluruh bagian
daun c.
Lodoh (dumping-off), yaitu rebahnya tumbuhan yang masih muda (semai)
karena busuknya akar atau pangkal batang. Berdasarkan saat terjadinya
pembusukan dalam kaitannya dengan kemunculan semai ke atas permukaan tanah,
lodoh dibedakan menjadi dua, yaitu:
i.
Lodoh benih (pre-emergence damping-off), jika pembusukan terjadi
sebelum semai muncul ke atas permukaan tanah
ii.
Lodoh batang (post-emergence damping-off), jika pembusukan terjadi
setelah semai muncul ke atas permukaan tanah
iii.
Eksudasi (bleeding), yaitu keluarnya cairan dari bagian tumbuhan.
Berdasarkan cairan yang dikeluarkan, ada beberapa eksudasi, antara lain:
Gummosis, yaitu keluarnya gom (blendok), latexosis, yaitu keluarnya lateks
dan resinosis, yaitu keluarnya resin d.
Layu (wilting), yaitu kondisi daun atau tunas yang lemah karena
kehilangan turgor. Biasanya terjadi karena adanya gangguan di dalam berkas
pembuluh atau kerusakan akar sehingga proses penguapan menjadi tidak
seimbang dengan pengangkutan air. e.
Mati ujung (dieback), yaitu kematian ranting, cabang atau daun-daun
yang dimulai dari ujung meluas ke pangkal. 2.
Hipotropik
atau hipoplasia, yaitu tipe gejala yang disebabkan oleh adanya hambatan
pertumbuhan pada sel atau bagian sel. Gejala yang termasuk tipe atropik
antara lain sebagai berikut: a.
Kerdil (atrofik), yaitu gejala ukuran tumbuhan yang menjadi lebih
kecil karena adanya penghambatan pertumbuhan. b.
Roset, yaitu gejala terhambatnya pertumbuhan ruas-ruas batang dan
daun, sehingga susunan daun-daun berdesak-desakan membentuk susunan
seperti bunga mawar c.
Klorosis umum, yaitu gejala perubahan warna yang disebabkan karena
terhambatnya pembentukan klorofil. Perkembangan klorosis ini biasanya
tidak sampai berwarna coklat. 3.
Hipertropik
atau hiperplasia, yaitu tipe gejala yang disebabkan oleh adanya
pertumbuhan sel atau bagian sel yang melebihi pertumbuhan normal.
Gejala-gejala yang termasuk tipe hipertropik antara lain sebagai berikut: a.
Sapu setan (witches’broom),
yaitu perkembangan tunas-tunas ketiak (aksiler) yang biasanya dalam
keadaan tidur (laten) menjadi berkas ranting yang rapat. Gejala sapu
biasanya disertai oleh hambatan pertumbuhan ruas-ruas batang (internodia)
dan daun, sehingga ranting yang rapat mempunyai ruas-ruas yang pendek dan
daun-daun yang kecil. Gejala sapu dapat terjadi karena serangan virus,
mikoplasma, tungau (mites), kutu daun (aphis),
atau karena kelainan genetik. b.
Fasiasi, yaitu perubahan cabang atau batang yang seharusnya
silindris dan lurus menjadi pipih melebar dan membelok, misal fasiasi pada
Acasia fistula. c.
Puru, gall, yaitu pembesaran pada permukaan daun, batang, atau akar
yang disebabkan oleh serangga, nematoda, atau karat. d.
Sesidia, sesidia, nyali, yaitu pembengkakan setempat pada jaringan
tumbuhan. Ada dua macam sesidia, yakni fitosesidia yang disebabkan oleh
patogen, dan zoosesidia yang disebabkan oleh hama. Penggolongan lain seperti yang
disampaikan oleh Brown & Ogle (1997, dalam Plant pathogen and plat
diseases, University of New England, NSW, Australia) membagi gejala
menjadi, empat kategori besar, yaitu 1.
Kematian
dan kerusakan pada jaringan inang 2.
Kelayuan
dan tidak dapat tumbuh subur serta gejala yang mengikutinya 3.
Pertumbuhan
dan pembelahan sel yang tidak normal 4.
Perubahan
warna jaringan inang menjadi lebih muda
Tanda
Penyakit Beberapa
macam penyakit tumbuhan tertentu sering menunjukkan gejala yang sama,
sehingga dengan memperhatikan gejala saja kita tidak dapat menentukan
diagnosis dengan pasti. Oleh karena itu, dalam mendiagnosis penyakit,
mengamati tanda-tanda penyakit merupakan langkah yang memegang peranan
penting, bahkan sering lebih penting dari pada pengamatan gejala.
Timbulnya tanda yang terlihat mata umumnya terbatas pada penyakit yang
disebabkan oleh fungi dan bakteri. Beberapa tanda yang tampak di permukaan
tubuh tanaman dapat berupa sebagai berikut: 1.
Miselium,
yaitu bagian vegetatif fungi yang menyerupai benang-benang, seperti rumah
labah-labah atau seperti kapas dan lain-lain pada permukaan tubuh tanaman.
Miselium Corticium dan Marasmius
membentuk anyaman seperti sarang labah-labah berwarna putih kemudian
berubah menjadi pink, miselium jamur Sclerotium
membentuk lapisan seperti bulu atau kipas putih, jamur akar putih, akar
merah, akar coklat, akar hitam, akar ungu ditandakan karena warna miselium
pada permukaan akar, dan Rigidoporus
ditandakan oleh miselium yang membentuk rizomorf (anyaman miselium seperti
tali sepatu atau pita). 2.
Karat,
yaitu lapisan berbintik-bintik berwarna karat (coklat) yang berisi
uredospora (coklat tua) atau aesiospora (coklat kekuningan). Tanaman yang
terdapat tanda karat menandakan terserang jamur Uredinales (kelompok jamur
karat). 3.
Mildew
(tepung), yaitu lapisan putih seperti bulu bertepung yang terdiri dari
miselium dan spora jamur. Mildew menandakan serangan jamur kelompok
mildew, misalnya Oidium disebut
powdery mildew, Peronosporales
disebut downy mildew 4.
Jelaga,
yaitu lapisan hitam di atas permukaan daun atau batang. Jelaga menandakan
adanya serangan jamur Capnodium
dan sejenisnya atau serangan Meliolales. 5.
Badan
buah basidiokarp, yaitu badan buah seperti kipas tebal atau kuku kuda yang
tahan bertahun-tahun pada pangkal batang tumbuhan. Tanda ini antara lain
menunjukan adanya serangan Fomes,
Ganoderma, Rigidoporus, atau Poria. 6.
Sklerotia,
yaitu gumpalan miselium yang tahan terhadap faktor lingkungan yang tidak
menguntungkan. Adanya sklerotia menandakan adanya serangan jamur Sclerotium,
Rhizoctonia, atau Basidiomycetes
tertentu. Lendir, yaitu kumpulan sel-sel bakteri. Gejala yang mengeluarkan lendir menandakan adanya serangan bakteri. |
Ingin teks selengkapnya ? YA TIDAK