See who's visiting this page. View Page Stats
See who's visiting this page.Counter

Pusaka Pulau Es
                                                    BKS 17 - PART 6

By Khopingho0

�gNah, sekarang kita harus berpisah di sini, Keng Han.�h kata Souw Cu In.

�gSu-i, setelah aku menyebutmu bibi guru sungguh tidak masuk akal kalau aku tidak mengetahui namamu?�h

�gNamaku Souw Cu In. Sudahlah, aku harus pergi sekarang!�h

�gSu-i, sungguh berbahaya pergi se­karang. Hari sudah hampir gelap, tentu engkau akan kegelapan dalam perjalanan. Dan itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau kedua orang kakek iblis tadi masih berada di sekitar tempat ini?�h

Gadis itu nampak membelalakkan matanya dan memandang ke depan, lalu alisnya berkerut. �gLalu bagaimana baik?�h

�gYang paling baik adalah melewatkan malam di gua ini, Su-i. Di sini aman, tidak terganggu angin malam yang di­ngin dan kita dapat membuat api unggun. Selain itu, apakah Su-i tidak merasa lapar?�h

Souw Cu In termenung. Baru terasa olehnya betapa perutnya memang lapar sekali. �gBegitupun baik, akan tetapi di tempat seperti ini bagaimana kita bisa mendapatkan makanan?�h

�gJangan khawatir, Bibi Guru yang baik. Aku akan mencari binatang buruan untuk kita panggang dagingnya. Dan ten­tang minuman, sayang aku tidak punya �g

�gAku masih memiliki seguci arak, kata Souw Cu In sambil melepaskan bun­talan pakaiannya.

�gKalau begitu, sungguh beruntung kita. Nah, aku pergi sebentar untuk men­cari binatang buruan, Su-i!�h Setelah ber­kata demikian, Keng Han melompat pergi dengan cepat. Dia harus cepat mendapat­kan binatang buruan karena sebentar lagi malam tiba dan sukar baginya untuk memperoleh binatang buruan. Senja menjelang malam itu menjadi waktu bagi burung-burung untuk terbang kembali ke sarangnya dan inilah yang menarik per­hatian Keng Han. Dia pergi ke sebatang pohon besar di mana nampak banyak burung terbang berputaran. Dengan be­berapa buah batu dia menyambit dan berhasil mengenai empat ekor burung yang berjatuhan ke bawah. Dia girang sekali. Burung ini cukup besar sehingga seorang makan dua ekor saja tentu sudah kenyang.

Cepat dia berlari kembali ke gua tadi dan melihat betapa Cu In sudah mem­buat api unggun.

�gIni hasil buruanku, Su-i!�h katanya bangga memperlihatkan empat ekor bu­rung yang sudah mati itu. Dengan pedang bengkoknya dia membersihkan burung itu, membuang isi perut dan semua bulunya, lalu menusuknya dengan bambu dan siap memanggangnya di api unggun.�gBagaimana mungkin makan panggang burung tanpa dibumbui? Tentu tidak enak rasanya. Aku membawa bumbu untuk itu!�h kata Cu In dan ia mengeluarkan dari buntalan pakaiannya beberapa bung­kusan terisi bumbu seperti garam, mrica, bawang dan lain-lainnya. Keng Han me­rasa girang sekali dan mereka bekerja menaruh bumbu pada daging burung yang lalu dipanggangnya. Tercium bau sedap ketika daging burung itu terpanggang. Tentu saja yang membuat daging itu me­ngeluarkan bau sedap adalah bumbunya,terutama bawangnya. Sebentar saja em­pat ekor daging burung itu matang dan mereka lalu makan. Ketika Keng Han memandang untuk mencuri lihat wajah yang tertutup kedok itu, dia kecelik. Gadis itu makan daging burung tanpa memperlihatkan mulutnya. Tangannya yang membawa daging itu ke balik to­peng sutera dan yang kelihatan hanya kain itu bergerak-gerak ketika mulutnya makan. Keng Han merasa penasaran se­kali. Dia yakin bahwa gadis ini tentu berwajah cantik jelita luar biasa. Baru dilihat dari rambutnya yang hitam pan­jang dan ikal mayang, melihat sinom (anak rambut) yang melingkar-lingkar di dahi dan pelipisnya, dahi yang halus dan putih mulus alis yang seperti dilukis seorang pelukis pandai, melengkung dan kecil hitam, mata yang bagaikan sepasang bintang kejora, tulang pipi yang agak menonjol dan selalu kemerahan bukan oleh pemerah muka, itu saja sudah menunjukkan kecantikan yang luar biasa. Hidung dan mulutnya tidak nampak, juga dagunya, akan tetapi Keng Han berani bertaruh bahwa hidung dan mulut itu tentu indah sekali.

Setelah makan daging burung pang­gang, Cui In mengeluarkan seguci anggur. Ia lalu membawa mulut guci ke balik topengnya dan menengadah, minum ang­gur itu langsung dari mulut guci ke mulutnya. Kemudian ia menyerahkan guci itu kepada Keng Han. �gNah, kau minumlah. Anggur ini tidak keras, hanya se­bagai penyegar setelah makan.�h

Keng Han tertegun. �gTapi.... mana cawannya, Su-i?�h

�gCawan? Untuk apa? Aku tidak mem­punyai cawan.�h

�gUntuk minum tentu saja. Kalau tidak ada cawannya, bagaimana aku dapat minum?�h

�gBodoh! Minum saja dari mulut guci, apa sukarnya?�h

Jantung dalam dada Keng Han ber­debar. Mulut guci itu baru saja beradu dengan mulut nona itu, dan sekarang nona itu menyuruh dia minum dari mulut guci pula!

�gAkan tetapi, mana aku berani? Bukankah guci anggur ini milikmu, Su-i? Bagaimana aku berani mengotori dengan minum dari mulut guci?�h

Gadis tu memandang heran, matanya bersinar-sinar tertimpa cahaya api ung­gun. �gEngkau ini kenapa? Apakah mulut­mu mengandung penyakit? Apakah eng­kau sedang menderita sakit batuk yang parah?�h

�gTidak, Su-i.�h

�gNah, kalau begitu minumlah dari mulut guci!�h

Kalau gadis itu merasa heran melihat kesungkanan Keng Han yang agaknya terlalu sopan santun itu, sebaliknya Keng Han terheran-heran melihat keterbukaan nona itu yang wataknya begitu polos dan bersih! Maka dia lalu menenggak anggur, itu dari mulut guci dan memang rasanya segar sekali. Setelah merasa cukup dia mengembalikan guci kepada pemiliknya dan Cu In menutupkan kembali mulut guci, menyimpannya dalam buntalannya seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang janggal,

Kemudian Keng Han teringat. Bibi gurunya itu perlu beristirahat dan tempat itu demikian kotor. Dia segera mencari daun-daun kering untuk membersihkan dan menyapu lantai gua yang paling rata. Kemudan dia mempersilakan Cu In un­tuk duduk atau cebah di situ.

�gSilakan Bibi Guru mengaso di sini, tempat ini sudah bersih. Aku akan men­jaga di luar gua sambil menjaga agar api unggun tidak padam.

Cu In mengikuti pekerjaan Keng Han dengan penuh perhatian, kemudian ketika dipersilakan mengaso, ia mengangguk, bangkit dan melangkah ke dalam gua. Langkahnya! Demikian indah lenggang­nya, seperti seekor harimau betina me­langkah, demikian lemah gemulai akan tetapi juga demikian kokoh kuat! Cu In duduk di tempat yang sudah dibersihkan itu, lalu merebahkan diri miring berban­talkan buntalan pakaiannya. Sebentar saja gadis itu sudah pulas. Hal ini diketahui oleh Keng Han dari pernapasannya yang lembut dan teratur.

Keng Han merasa berbahagia sekali. Dia sendiri merasa heran. Pernah dia merasakan kebahagiaan seperti inii, yaitu ketika dia bertemu dengan Kwi Hong. Dia juga merasa tertarik dan suka se­kali kepada dara itu, akan tetapi semen­jak dia mengetahui bahwa Kwi Hong bermarga Tao, puteri Pangeran Mahkota, masih saudara sepupunya sendiri, hatinya terasa perih dan dia mencoba melupakan gadis itu. Kemudian dia melakukan per­jalanan bersama Bi-kiam Nio-cu. Harus diakuinya bahwa dia juga suka sekali kepada Nio-cu, akan tetapi rasa sukanya itu sekadar bersahahat, bahkan dia menjadi muridnya. Maka ketika Nio-cu bertanya tentang cinta, terus terang dia mengatakan bahwa dia tidak mencinta Nio-cu sebagai seorang pria mencinta wanita, melainkan sebagai murid men­cinta guru atau seorang sahabat men­cinta sahabatnya. Dan kini.... perasaan­nya lain lagi. Dia tertarik kepada Souw Cu In, tertarik oleh kepribadiannya dan dia merasa amat berbahagia dapat ber­sama dengan gadis itu walaupun hanya semalam!

Keng Han termenung memandangi api unggun dan menambah kayu pada api unggun. Dia sama sekali tidak tahu be­tapa Cu In juga kini membuka matanya memandang kepadanya dengan penuh per­hatian. Gadis ini merasa gelisah sekali ketika ia merasa bahwa hatinya tertarik kepada pemuda ini. Seorang pemuda yang lain sekali daripada pemuda lain. Kaum lelaki yang dijumpainya, selalu ingin membuka kedoknya, selalu memujinya cantik dan selalu mengeluarkan cumbu rayu seribu satu macam untuk menarik perhatiannya. Akan tetapi Keng Han sama sekali tidak! Bahkan ketika disuruh minum anggur dari mulut guci, jelas pemuda itu merasa rikuh sekali. Pemuda ini sungguh sopan dan pandai membawa diri. Di samping itu, juga pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Tadi sudah dibuktikannya ketika dia me­lawan Swat-hai Lo-kwi. Pemuda ini me­miliki tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya dan ilmu silatnya juga aneh se­kali. Namun, sikapnya demikian biasa, bahwa begitu rendah hati seolah dia seorang pemuda yang lemah dan bodoh sehingga mau mempelajari ilmu totok dari sucinya! Dan wajahnya! Sungguh tampan dan gagah.

Tiba-tiba Souw Cu In memejamkan matanya kuat-kuat untuk mengusir per­hatiannya terhadap pemuda itu.

Tidak! ia tidak ingin tertarik kepada pemuda itu. ia tidak ingin harus mem­bunuh pemuda itu. Dan ia menghela na­paspanjang. Ia dan sucinya sudah ber­sumpah  kepada subo mereka untuk tidak jatuh cinta, dan kalau ada pria yang jatuh cinta kepada mereka harus mereka bunuh! �gSemua lelaki jahat,�h demikian subo mereka selalu menekankan ke dalam hati mereka. �gSemua lelaki itu jahat dan palsu, bagaikan kumbang yang selalu mendekati kembang dengan suaranya yang merayu-rayu. Akan tetapi setelah dia memghisap madu kembang itu sampai habis, lalu ditinggalkannya kembang itu begitu saja!�h

Dan, kalau menurut keterangan guru­nya itu, tidak ada laki-laki yang baik. Berarti Keng Han juga bukan seorang yang baik. Mungkin sikapnya yang baik itu pun hanya merupakan akal untuk merayunya belaka! Tidak, ia tidak boleh tertarik kepadanya!

Lewat tengah malam, Souw Cu In terbangun daritidurnya. ia menggeliat karena tubuhnya terasa kaku tidur di lantai yang kasar itu, lalu menutupi mu­lut dari luar topeng untuk menahan lu­apnya, dan ia bangkit berdiri. Dihampiri­nya Keng Han dan ia berkata dengan suara yang kasar.

�gSekarang engkau boleh mengaso dan tidur, giliranku berjaga.�h katanya.

Keng Han merasa heran sekali men­dengar ucapan yang bernada ketus itu. Dia memandang dan berkata. �gTidak perlu, Su-i. Su-i mengaso dan tidurlah, biar aku berjaga di sini sampai malam lewat.

�gTidak!�h suara Cu In membentak ka­rena dalam perasaannya, sikap baik pe­muda ini hanya akal untuk merayunya saja. �gKaukira aku ini orang macam apa? Engkau sudah berjaga setengah malam, maka setengah malam yang lain menjadi bagianku untuk berjaga!�h

Melihat sikap gadis itu demikian ga­lak dan tegas, Keng Han merasa heran sekali. �gKalau bagitu, biarlah aku juga berjaga di sini saja. Aku tidak merasa mengantuk.

Cu In duduk di dekat api unggun berhadapan dengan pemuda itu terhalang api unggun. Mereka saling pandang dan Keng Han tak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya. Wajah yang biarpun hanya kelihatan bagian atasnya saja itu demikian indahnya tertimpa sinar api unggun, kemerahan dan begitu halusnya dahi itu. Ditambah lagi anak rambut yang berjuntai melingkar-lingkar itu. Begitu manisnya!

�gKau melihat apa?�h bentak gadis itu dan Keng Han baru menyadari bahwa terlalu lama dia menatap wajah itu.

�gTidak apa-apa, Su-i. Hanya aku he­ran mengapa Su-i tidak tidur saja me­ngaso. Malam sudah larut dan  biarkan aku yang berjaga di sini.

�gTidak, aku tidak mau tidur.�h

�gKalau begitu, kita berdua tidak ti­dur.�h kata Keng Han bersikeras.

�gEngkau bandel!�h

�gBukan cuma aku bandel.�h

Keduanya diam dan terasa amat he­ningnya malam itu. Yang terdengar ha­nya suara api makan kayu kering.

Keng Han maklum bahwa gadis ini berwatak aneh sekali. Bukankah Nio-cu pernah berkata betapa sumoinya ini.lebih kejam darinya? Akan tetapi dia tidak percaya. Seorang gadis dengan sinar ma­ta selembut itu tidak mungkin kejam.

�gEngkau berasal dari mana?�h tiba-­tiba gadis itu bertanya dan nada suara­nya sambil lalu saja, seolah pertanyaan itu hanya untuk mengisi kesepian.

Terhadap Souw Cu In, entah bagai­mana, Keng Han tidak ingin menyembu­nyikan rahasianya. �gAku berasal dari daerah Khitan.�h

�gEngkau orang Khitan?�h

�gPeranakan Khitan. Ibuku orang Khi­tan, ayahku orang Han.�h Dia masih be­lum berani mengakui ayahnya sebagai seorang pangeran Mancu.

�gPantas. Aku sudah menduga bahwa engkau seorang peranakan. Di mana orang tuamu sekarang?�h

�gIbuku masih di Khitan bersama ka­kekku akan tetapi ayahku....�h

�gBagaimana dengan ayahmu? Sudah matikah?�h

Keng Han menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang. �gAku belum pernah melihat ayahku. Semenjak aku dalam kandungan ibu, ayah telah pergi meninggalkan ibu dan sejak itu tidak pernah kembali.�h

Souw Cu In melempar sepotong kayu di api unggun sehingga bunta-bunga api membubung ke atas. �gHuh!�h katanya ge­mas. �gBenar juga kata subo. Lelaki ada­lah mahluk yang palsu dan kejam!�h

�gAkan tetapi aku memang sedang men­cari ayahku, Su-i. Dia harus menjelaskan mengapa dia tidak pernah pulang me­nengok ibu. Kalau memang benar dia telah melupakannya dan mengkhianatinya, aku sendiri yang akan menghajarnya!�h

�gHemmm, apalagi yang terjadi kalau bukan ayahmu bertemu dengan wanita lain yang lebih cantik lalu ayahmu me­ngawini wanita itu dan melupakan ibu­mu?�h

�gBelum tentu. Kurasa ayahku tidak sejahat itu! Akan tetapi, aku ingin mencarinya sampai dapat! Dan engkau sen­diri, Su-i. Maukah engkau bercerita ten­tang dirimu? Dari Nio-cu aku sudah tahu bahwa engkau juga murid Ang Hwa Nio­-cu, dan bawa engkau mempunyai pendirian yang sama dengan Bi-kiam Nio--­cu tentang pria. Selain itu, aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Maukah engkau bercerita?�h

�gHemmm, untuk apa bercerita ten­tang diriku  padamu?�h Sepasang mata itu menatap tajam penuh selidik.

Keng Han menghela napas panjang. �gBukan apa-apa, Su-i. Akan tetapi eng­kau adalah bibi guruku, dengan adanya hubungan ini, tidak pantaskah kalau aku  mengenalmu lebih baik lagi? Agar eng­kau tidak menjadi seperti orang asing lagi bagiku.�h

�gEngkau sudah mengetahui namaku.�h

�gYa, aku masih ingat. Nama Su-i ada­lah Souw Cu In, hanya itu yang kuke­tahui.�h

�gAku juga seperti engkau. Hidup ke­luargaku tidak berbahagia. Ayah ibuku telah meninggal dunia, terbunuh musuh. Ketika itu aku baru berusia lima tahun, lalu aku diambil murid oleh subo. Nah, hanya begitu saja riwayatku dan aku pun sedang mencari-cari seseorang untuk membalas kematian ayah ibuku.�h

�gMusuh besar yang membunuh ayah ibumu itu?�h

�gBenar. Ah, sudahlah. Kenapa aku menceritakan semua ini kepadamu?�h Ia seperti menegur diri sendiri. �gO ya, ke mana engkau hendak mencari ayahmu itu, Keng Han?�h

Mendengar gadis itu tiba-tiba mem­belokkan percakapan, tahulah Keng Han bahwa gadis itu tidak mau lagi bercerita tentang dirinya, dan dia pun menjawab sejujurnya, �gAku hendak mencari ayahku di kota raja.�h

�gAhhh....!�h

�gKenapa Su-i terkejut mendengar itu?�h

�gTujuan perjalananku juga ke kota raja!�h

Bukan main girangnya hati Keng Han mendengar ini. �gKalau begitu kebetulan sekali, Su-i. Kita dapat melakukan perjalanan bersama.�h

�gTidak! Besok pagi kita harus ber­pisah, melakukan perjalanan sendiri-­sendiri. Kalau subo mengetahui, baru malam ini saja kita berada di sini ber­dua, sudah cukup bagi subo untuk me­nuduh yang tidak-tidak dan membunuhku!�h

�gGurumu amat kejam terhadap laki-­laki, Su-i!�h Keng Han memrotes.�gTidak! Guruku sudah adil. Engkau tidak tahu betapa hatinya telah dihancur­kan, kehidupannya telah dilumatkan, oleh kaum pria! Ia hanya membalas dendam! Aku mencari musuh besarku itu, juga untuk mencari musuh besar yang telah menghancurkan kebahagiaan hidup guruku. Orangnya sama!�h

�gAhhh....!�h Keng Han bukan hanya terkejut mendengar ucapan itu, melain­kan juga terkejut mendengar suara lain, suara gerakan orang-orang di sekitar mereka! Akan tetapi karena malam itu gelap sekali dan api unggun itu tidak terlalu besar, dia tidak melihat apa-apa.

�gEngkau dengar tadi?�h Souw Cu In bertanya. Keng Han mengangguk dan keduanya waspada.

Tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan keras di sekitar mereka. Mereka terkejut dan meloncat berdiri, tidak tahu harus berbuat apa karena musuh tidak nampak dan ledakan-ledakan masih terjadi di sekeliling mereka. Agaknya musuh me­nyerang mereka dengan bahan ledakan yang mengeluarkan asap tebal. Kedua orang itu tidak berani sembarang ber­gerak karena khawatir kalau-kalau di­serang musuh yang tidak kelihatan. Akan tetapi tiba-tiba keduanya mencium bau keras sekali dan Souw Cu In berseru. �gTahan napas....!�h Akan tetapi sudah ter­lambat. Keduanya sudah menghisap asap terlalu banyak dan mereka terbatuk-­batuk roboh terkulai, pingsan. Kiranya bahan peledak itu mengandung racun pembius yang kuat sekali.

Tubuh Keng Han memang sudah kebal terhadap racun, berkat dia makan daging ular merah. Akan tetapi yang kebal ada­lah tubuhnya sehingga andaikata dia ter­kena makan racun atau dilukai oleh ra­cun, tentu hawa beracun dalam tubuh­nya menolak dan membuatnya kebal. Akan tetapi sekali ini dia terkena racun pembius berupa asap yang memasuki paru-parunya, maka dia pun tidak dapat bertahan dan roboh pingsan seperti Souw Cu In.

Beberapa bayangan orang yang me­makai kedok tebal berkelebatan memasuki tabir asap itu dan menghampiri kedua orang yang sudah pingsan itu. Akan te­tapi ketika empat orang itu menghampiri Keng Han dan Cu In, Cu In melompat dan dua orang roboh tewas seketika ter­kena pukulan Tok-ciang (Tangan Beracun). Kiranya Cu In belum pingsan seperti keadaan Keng Han. Ketika wanita ini tahu bahwa ada musuh menggunakan asap beracun, ia meneriaki Keng Han, akan tetapi Keng Han yang terlambat. Ia sen­diri baru sedikit menghisap asap beracun dan untuk menyelamatkan diri, ia men­jatuhkan diri agar tidak terpengaruh asap yang membubung ke atas. Setelah ada empat orang datang, Ia cepat menyerang dan setelah merobohkan dua orang, ia pun melompat jauh keluar dari tabir asap itu. Dua orang berkedok lain menggotong Keng Han membawanya pergi dari situ.

Souw Cu In merasa khawatir sekali, akan tetapi tidak dapat mencegah dengan adanya tabir asap pembius yang meng­halanginya. Setelah tabir asap menipis dan mulai menghilang, barulah ia me­lakukan pengejaran, akan tetapi dia tidak menemukan jejak mereka, apalagi malam itu gelap sekali dan api unggun yang mereka buat malam tadi sudah hampir padam. Terpaksa ia duduk kembali dekat api unggun dan menambahkan kayu bakar sehingga api unggun itu membesar kem­bali. Akan tetapi ia sudah tidak mungkin dapat tidur lagi dan sambil menanti lewatnya malam, ia duduk bersila, dekat api unggun dan memperhatikan sekeliling­nya dengan pendengarannya.

Hatinya gelisah bukan main memikir­kan Keng Han dan menduga-duga siapa yang menangkap pemuda itu dan apa alasannya. Juga ia mengingat-ingat siapa tokoh dunia kang-ouw yang suka mem­pergunakan alat peledak yang mengan­dung racun pembius itu. Ia lalu teringat kepada seorang datuk sesat dari selatan yang berjuluk Ban-tok Kwi-ong (Raja Iblis Selaksa Racun). Datuk inikah yang melakukannya? Akan tetapi rasanya tidak mungkin. Seorang datuk seperti dia itu biasanya memiliki ketinggian hati, tidak mungkin kalau hanya hendak menangkap seorang pemuda saja harus menggunakan peledak racun pembius. Siapapun yang menangkap pemuda itu, Keng Han berada dalam bahaya dan dia harus menolong pemuda itu.

Keng Han merasa seperti dalam mim­pi. Tahu-tahu setelah dia sadar kembali, dia sudah terbelenggu kaki tangannya, rebah di atas sebuah dipan dan tubuhnya dalam keadaan tertotok. Semua itu tidak merisaukan hatinya, akan tetapi yang membuat dia khawatir adalah kepalanya. Kepala itu pening sekali dan masih pe­ning sehingga sukar dia berpikir. Dia membuka sedikit matanya dan melihat bahwa dirinya berada dalam sebuah ka­mar, seperti kamar tahanan karena pin­tunya dari besi dan ada jeruji besi pula di atas pintu. Di luar kamar itu, dia dapat melihat beberapa orang melalui jeruji besi dan agaknya mereka melaku­kan penjagaan. Perlahan-lahan dia pun teringat. Dia sedang duduk menghadapi api unggun bersama Souw Cu In dan tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan dan asap mengepul tebal lalu dia tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu telah berada di tempat ini dalam keadaan terbelenggu dan tertotok. Dia merasa bahwa belenggu itu tidak sukar dipatahkan, juga totokan itu dapat dengan mudah dia punahkan. Akan tetapi kepeningan kepalanya masih terasa, maka dia pun diam saja rebah berbaring menanti perkembangan lebih lanjut sambil memberi waktu kepada kepalanya agar bebas dari kepeningan akibat asap racun pembius itu.

Tidak terlalu lama dia menanti. Dia mendengar daun pintu besi dibuka orang dan nampak tiga orang memasuki tempat tahanan itu. Seorang di antara mereka adalah seorang kakek yang segera di­kenalnya. Kakek Itu adalah Toat-beng Kiam-sian yang pernah bentrok dengan dia. Dia menegur kakek yang terlalu kejam menghukum tiga orang anak buah­nya dan karena itu kakek ini marah se­kali kepadanya. Dia diberi waktu untuk menghadapinya selama sepuluh jurus dan kalau selama itu dia tidak roboh, dia akan dibebaskan. Dan dia berhasil ber­tahan sampai sepuluh jurus. Ketika kakek itu merasa penasaran hendak mengguna­kan tongkat yang sekarang dipegangnya itu, Bi-kiam Nio-cu menegurnya dan mengingatkan akan janjinya dan kakek itu lalu pergi. Sekarang kakek itu agak­nya yang menyuruh anak buahnya me­nawannya. Entah apa yang hendak dilakukan atas dirinya. Dia pura-pura ma­sih pingsan akan tetapi memperhatikan mereka bertiga dengan telinganya.

�gNah, inilah pemuda itu. Bagaimana pendapatmu, Siu Lan?�h

Gadis yang datang bersamanya itu memandang wajah Keng Han penuh per­hatian. Gadis ini cukup cantik, dengan pakaiannya yang mewah.

�gDia kelihatan seperti seorang dusun, Ayah.�h kata gadis itu setelah mengamati Keng Han.

�gHa-ha-ha!�h Kakek itu tertawa. �gJa­ngan melihat pakaiannya, Siu Lan. Lihat­lah wajahnya. Bukankah dia tampan dan gagah? Dan tentang ilmu silat, sudah kukatakan bahwa dia lihai juga dan pan­tas untuk menjadi jodohmu.�h

�gSuhu, saya tidak percaya bahwa dia mampu melawan Sumoi�h kata pemuda yang datang bersama mereka. Pemuda ini bertubuh tinggi besar, berwajah gagah namun pandang matanya membayangkan kecongkakan hati. Jelas dia memandang rendah kepada Keng Han yang meng­geletak tidak berdaya di atas dipan itu. �gDia tidak pantas untuk melawan Sumoi. Biarlah dia melawan saya lebih dulu. Kalau dia mampu menandingi saya, baru Sumoi boleh mencobanya!�h

Toat-beng Kiam-sian tertawa dan mengangguk-angguk. �gHmmm, pikiran yang baik itu. Boleh engkau mencobanya dulu, Bu Tong.�h

�gBiar saya bebaskan dulu dia dari totokan dan belenggunya!�h kata pemuda itu yang bernama Gan Bu Tong.

Akan tetapi ketika dia menghampiri dipan, Keng Han mengerahkan tenaganya dan totokan itu pun sudah punah, lalu sekali dia menggerakkan kaki tangannya, ikatan itu pun putus semua! Keng Han lalu bangkit dan meloncat berdiri meng­hadapi tiga orang itu.

�gMengapa kalian menangkap aku? Aku tidak mempunyai permusuhan dengan kalian, mengapa kalian berbuat begini?�h tegurnya.

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit, puteri­nya yang bernama Lo Siu Lan dan mu­ridnya itu terkejut bukan main melihat betapa pemuda itu telah terbebas dari totokan dan dengan mudahnya mematah­kan semua belenggu.

Toat-beng Kiam-sian maju dan tertawa. �gHa-ha-ha, tempo hari engkau dapat menahan sepuluh jurus seranganku, maka hatiku tertarik untuk mengujimu, orang muda. Sekarang lawanlah muridku ini, hendak kulihat sampai di mana ke­lihaianmu!�h

�gAku tidak ingin bertanding dengan siapapun tanpa sebab. Di antara kita tidak ada urusan, mengapa kita harus bertanding?�h

�gHemmm, bocah sombong. Ada atau tidak ada urusan, aku akan menandingi­mu. Kalau engkau takut, engkau boleh berlutut dan mencium kaki, guru sambil meminta ampun, baru kami akan me­lepaskanmu.�h kata Bu Tong yang memandang rendah.

Keng Han mengerutkan alisnya. �gAku tidak bersalah apa pun, mengapa harus minta ampun? Aku tidak sudi melakukan­nya, jangan engkau menghinaku!�h

�gAku memang sengaja menghinamu, habis kau mau apa? Aku menantangmu untuk mengadu kepandaian, kalau engkau menolak berarti engkau takut?�h

Panas juga rasa hati Keng Han. Dia ditangkap tanpa sebab, kemudian ditan­tang dan dianggap pengecut kalau tidak berani. Tentu saja dia berani.

�gSiapa takut kepada kalian? Aku tidak bersalah apa pun, maka tentu saja aku tidak takut!�h

�gHa-ha-ha, bagus. Itu suara seorang laki-laki sejati. Orang muda, marilah kita ke lian-bu-thia dan di sana kita melihat sampai di mana kepandaianmu.�h kata Toat-beng Kiam-sian. Makin senang hati­nya menyaksikan kegagahan sikap Keng Han. Sebetulnya, pangcu dari Kwi-kiam­-pang ini sudah tertarik sekali kepada Keng Han ketika Keng Han mampu me­nahan sepuluh jurus serangannya, bahkan mampu menangkis Pukulan Halilintar darinya. Karena itu, ketika melihat Keng Han bersama Souw Cu In, dia lalu me­nyuruh para anggauta Kwi-kiam-pang menggunakan obat peledak dan pembius untuk menangkapnya. Dia bermaksud untuk menjodohkan pemuda ini dengan puterinya, Lo Siu Lan yang selalu me­nolak pinangan para pemuda karena di antara mereka tidak ada yang mampu menandinginya. Memang kepandaian Siu Lan sudah hebat sekali. Bahkan suheng­nya, Gan Bu Tong juga tidak dapat me­nandinginya!

Keng Han menjadi penasaran sekali. Karena ditantang, maka dia mengikuti mereka menuju ke sebuah ruangan yang luas dan ini merupakan tempat para anggauta Kwi-kiam-pang berlatih silat. Juga dia melihat bahwa anggauta perkumpulan itu banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang! Agaknya sulit baginya untuk meloloskan diri menggunakan kekerasan karena selain harus menghadapi tiga orang itu, juga harus menghadapi para anggauta Kwi-kiam-pang. Maka dia hen­dak menebus kebebasannya dalam per­tandingannya itu.

Setelah tiba di lian-bu-thia (tempat berlatih silat), Keng Han telah dihadapi oleh Bu Tong yang bersikap angkuh. �gNah, bersiaplah engkau untuk melawan aku!�h kata Bu Tong.

�gNanti dulu.�h kata Keng Han lalu menoleh kepada Toat-beng Kiam-sian. �gLocianpwe adalah seorang yang ber­kedudukan tinggi, apakah ucapannya da­pat dipercaya?�h

Lo Cit membelalakkan matanya, ka­kek yang kakinya timpang ini marah sekali mendengar pertanyaan itu. �gBocah sombong, tentu saja ucapanku dapat di­percaya!�h

�gHeh, nanti dulu. Kalau engkau mam­pu mengalahkan muridku, engkau harus dapat mengalahkan pula puteriku ini, dan selanjutnya harus mampu bertahan meng­hadapi aku sampai lima puluh jurus. Ka­lau sudah begitu barulah engkau tidak akan diganggu lagi bahkan akan kunikah­kan dengan puteriku ini. Ha-ha-ha-ha­ha!�h

�gNah, kalau begitu, setelah aku dapat mengalahkan pemuda muridmu ini, apa­kah aku akan dibebaskan dan dibiarkan pergi tanpa diganggu?�h

Bukan main kagetnya hati Keng Han mendengar ucapan itu. Dia hendak di­nikahkan dengan gadis cantik itu? Sung­guh keterlaluan sekali peraturan kakek itu. Dia sendiri tidak ditanya apakah dia suka atau tidak!

�gAku tidak ingin menikah dengan siapapun juga. Aku hanya minta agar aku dibebaskan dan tidak diganggu lagi.�gHa-ha-ha, kita lihat saja nanti. Hayo Bu Tong, mulailah dengan seranganmu!�h kata Lo Cit sambil tertawa senang.

Gan Bu Tong sudah mencabut pe­dangnya. �gSobat, sebutkan dulu namamu agar engkau jangan mati tanpa nama.�h

�gNamaku Si Keng Han dan aku tidak akan mati melawanmu.�h

�gNah, di sudut itu ada rak senjata. Boleh engkau pilih untuk menghadapi pedangku!�h

Hmmm, pemuda ini memiliki watak yang gagah juga dan tidak curang, pikir Keng Han. Agaknya mereka ini bukan orang-orang jahat, akan tetapi orang-­orang yang suka membawa dan memper­tahankan kehendak sendiri.

�gAku tidak membutuhkan senjata­-senjata itu. Bahkan aku sendiri juga me­miliki sebatang pedang, akan tetapi tidak akan kupergunakan untuk melawanmu.

Tangan kakiku sudah cukup untuk kupakai membela diri.�h katanya sambil memper­lihatkan pedang bengkoknya yang berada di pinggangnya.

�gSi Keng Han, engkau sombong, akan tetapi engkau sendiri yang menentukan. Jangan anggap aku keterlaluan melawan­mu dengan pedangku!�h kata Bu Tong penasaran dan marah karena dia meng­anggap pemuda itu memandang rendah kepadanya.

Tiba-tiba Lo Siu Lan mencabut pe­dangnya dan melemparkan pedang itu kepada Keng Han. �gSi Keng Han, pedang Suhengku merupakan senjata ampuh. Se­mua senjata di rak itu akan patah apa­bila bertemu dengan pedangnya, maka pakailah pedangku ini!�h

Melihat pedang itu melayang ke arah­nya, Keng Han menyambutnya, akan tetapi dia berkata kepada gadis itu. �gTe­rima kasih, Nona. Akan tetapi sungguh aku tidak membutuhkan pedang!�h Dan dia melemparkan kembali pedang itu kepada Siu Lan, lalu menghadapi Bu Tong sambil berseru. �gAku sudah siap menghadapi seranganmu!�h

Gan Bu Tong semakin marah. Per­buatan sumoinya tadi dianggapnya se­bagai pukulan baginya. Sumoinya agaknya berpihak kepada pemuda ini!

�gLihat serangan pedangku!�h bentaknya dan dia pun mulai manyerang dengan bacokan pedangnya. Akan tetapi dengan gesitnya Keng Han mengelak. Bacokan dan tusukan susul-menyusul menghujam ke arah tubuh Keng Han, namun dengan ilmu Hong-in Bun-hoat Keng Han selalu dapat mengelak dengan cepat sekali. Setelah belasan jurus mengeliak, barulah dia membalas serangan lawan dengan pukulan-pukulan tangannya yang ampuh. Ketika pedang lawan menyambar ke arah kepalanya, dia malah maju mendekat dan sekali jari tangannya menyentil pedang, pedang itu terlepas dari tangan Bu Tong, mengeluarkan suara nyaring berdenting ketika jatuh ke atas lantai. Kalau Keng Han menghendaki, saat yang baik itu tentu dapat dia pergunakan untuk me­robohkan lawan. Akan tetapi dia tidak mau berbuat demikian, melainkan dia mencokel pedang itu dengan kakinya dan pedang itu melayang ke arah pemiliknya. Bu Tong menangkap pedangnya dan de­ngan muka merah sekali dia mengundur­kan diri karena setelah pedangnya ter­lepas dia maklum bahwa dia tidak mam­pu menandingi Keng Han.

Lo Siu Lan gembira sekali melihat betapa Keng Han dapat mengalahkan su­hengnya. Sekali kakinya bergerak, tubuh­nya sudah melayang ke depan dan ia berhadapan dengan Keng Han. Sejenak gadis itu mengamati Keng Han dari atas sampai ke bawah seperti orang menaksir seekor kuda yang hendak dibelinya. Hal ini tentu saja membuat Keng Han tersipu dan dia cepat mengangkat tangan memberi hormat kepada gadis itu.

�gNona, di antara kita tidak ada per­musuhan, harap suka menghabiskan urus­an ini dan biarkan aku pergi dengan aman. Aku sama sekali tidak ingin ber­musuhan dengan kalian.

Lo Siu Lan menjawab dengan suaranya yang merdu, �gSiapa yang hendak ber­musuhan? Kami hanya ingin membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu dan ternyata engkau mampu mengalahkan suheng Gan Bu Tong. Maka, mari kita main-main sebentar. Akan tetapi, perkumpulan kami disebut Kwi-kiam-pang (Perkumpulan Pedang Setan), maka aku pun hanya bisa memainkan pedang. Kalau engkau tetap bertangan kosong, sungguh amat tidak enak bagiku.�h

Kembali diam-diam Keng Han memuji. Gadis ini pun selain tidak curang, juga tidak tinggi hati seperti suhengnya. �gNo­na, sudah kukatakan tadi bahwa kalau tidak terpaksa sekali aku tidak pernah menggunakan pedangku, cukup dengan tangan kakiku saja. Maka kalau Nona memaksaku untuk bertanding pergunakan­lah pedangmu, aku akan membela diri dengan kedua kaki tanganku saja.�h

�gBagus, engkau memang seorang pe­muda yang berani. Nah, sambutlah pe­dangku ini, Sobat!�h Lu Siu Lan sudah mencabut pedangnya dan nampak sinar menyambar. Begitu ia melakukan pe­nyerangan terdengar bunyi pedang ber­desing dan sinar kilat menusuk ke arah dada Keng Han. Baru gebrakan pertama saja tahulah Keng Han bahwa gadis ini memang lebih lihai dibandingkan suheng­nya. Akan tetapi gerakan yang cepat itu tidak membuat Keng Han bingung karena baginya kecepatan gerakan gadis itu masih belum hebat. Dengan mudahnya dia mengelak dari sambaran pedang. Gadis itu mendesak terus dan pedangnya berkelebatan, kadang menyerang leher, kadang dada dan ada kalanya menyabet ke arah kedua kaki Keng Han. Pemuda ini memperlihatkan kegesitannya. Sampai sepuluh jurus dia mengelak terus, baru pada jurus ke sebelas dia membalas.

Ketika itu pedang di tangan Siu Lan menyembar ke arah dada dengan tusukan kilat. Keng Han miringkan tubuhnya dan menggunakan dua jari tangan kirinya untuk menjepit pedang itu. Siu Lan ter­kejut bukan main karena pedangnya se­perti dijepit jepitan baja saja. Biarpun ia berusaha untuk menariknya, namun pe­dang itu tidak dapat terlepas dari dua jari tangan Keng Han. Gadis itu menjadi penasarap dan tangan kirinya sudah me­luncur untuk menghantam dada lawan.

Keng Han juga menggerakkan tangan kanannya. Dia maklum bahwa gadis ini menggunakan pukulan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat, maka dia pun mengerahkan sinkangnya sehingga dari tangan kanannya itu keluar hawa yang sangat panas. Demikian pula pukulan tangan kiri Siu Lan mengandung hawa panas karena gadis ihi telah menyerang dengan pukulan Halilintar.

�gDesssss....!�h Dua telapak tangan bertemu dan tubuh Siu Lan terhuyung ke  belakang karena pada saat itu juga Keng Han melepaskan jepitan jari tangannya dari pedang lawan. Siu Lah cepat meng­ambil napas panjang untuk menjaga agar dalam dadanya tidak terluka. Akan tetapi ia tahu bahwa dirinya kalah maka ia pun cepat bersembunyi di balik tubuh ayah­nya dan mukanya menjadi merah tersipu dan mulutnya tersenyum malu-malu.

Melihat tingkah puterinya, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit tertawa bergelak. �gHa­ha-ha, sekarang engkau baru percaya kepada omongan ayahmu? Si Keng Han, engkau telah mengalahkan anakku Siu Lan, maka mulai sekarang engkau harus menjadi suaminya!�h

Keng Han terkejut sekali dan meman­dang kepada kakek timpang itu dengan alis berkerut. �gApa maksud Locianpwe? Saya tidak akan menikah dengan siapapun juga!�h

�gHemmm, dengarlah Si Keng Han. Anakku menolak semua lamaran orang karena ia sudah bersumpah untuk me­nikah dengan pria yang dapat mengalah­kannya dan engkaulah yang sekarang mengalahkannya.�h

�gAkan tetapi sejak semula aku tidak menghendaki pertandingan ini. Aku di­paksa. Aku sama sekali bukan bertanding untuk memperoleh kemenangan dan untuk memperoleh jodoh. Maaf, Locian-pwe, aku tidak dapat menerimanya. Dan sekarang, harap kalian suka membiarkan aku pergi dari sini!�h

�gHo-ho-ho, tidak demikian mudah, orang muda! Kalau engkau menolak ber­jodoh dengan puteriku, hal itu berarti engkau telah menghinaku! Dan siapa menghinaku harus mampus! Akan tetapi karena aku menyukaimu, engkau tidak akan kubunuh. Bersiaplah untuk menahan seranganku sampai lima puluh jurus. Ka­lau selama lima puluh jurus engkau mam­pu menahan pedang tongkatku, barulah engkau boleh pergi dari tempat ini!�h

Tiba-tiba terdengar bentakan, halus. �gToat-beng Kiam-sian Lo Cit sungguh tidak tahu malu dan mau menghina yang muda!�h

Semua orang terkejut dan menengok. Ternyata, tanpa dapat diketahui para anak buah Kwi-kiam-pang, Souw Cu In telah muncul di situ. Toat-beng Kiam-­sian, puterinya dan para muridnya tentu saja terkejut dan terheran. Hanya Keng Han yang menjadi girang bukan main.

�gBibi guru telah datang! Kalian tidak akan memaksaku untuk kawin!�h katanya dan dia menghampiri Cu In. Toat-beng Kiam-sian Lo Cit memandang penuh perhatian dan semakin heran mendengar Keng Han menyebut bibi guru, kepada seorang gadis yang berpakaian putih dan mukanya bagian bawah tertutup sutera putih! Teringatlah dia kepada Bi-kiam Nio-cu yang dahulu disebut subo oleh pemuda ini. Tahulah dia bahwa gadis bercadar putih ini pun merupakan se­orang murid dari Ang Hwa Nio-nio atau sumoi dari Bi-kiam Nio-cu.

�gNona, apakah engkau murid Ang Hwa Nio-nio?�h tanyanya.

�gTidak salah, Pangcu. Aku adalah murid subo Ang Hwa Nio-nio dan Si Keng Han ini adalah murid suci-ku, jadi dia masih murid keponakanku sendiri. Sungguh tidak pantas sekali kalau Pangcu (ketua) hendak memaksanya menikah dengan puterimu. Mana ada paksaan ke­pada seorang pria untuk menikah? Dan engkau telah menantangnya untuk ber­tanding selama lima puluh jurus. Bukan­-kah ini namanya menghina yang muda? Apakah engkau tidak akan malu kalau hal ini terdengar oleh dunia kang-ouw?�h

Wajah Lo Cit menjadi merah sekali. Tak disangkanya bahwa wanita bercadar itu telah mengetahui dan agaknya telah mendengar semua percakapan tadi. Hal ini saja menunjukkan kehebatan ilmu sinkangnya sehingga tak seorang pun tahu akan kehadirannya.

�gBocah bermulut lancang! Siapakah namamu, yang berani bicara seperti Itu kepadaku?�h Lo Cit mencoba mengangkat namanya.

�gNamaku Souw Cu In, dan memang aku orang biasa saja. Akan tetapi apa yang kau lakukan ini memang memalukan sekali, Pangcu. Pertama, engkau meng­gunakan bahan peledak yang mengandung racun pembius untuk menangkap Si Keng Han. Kemudian engkau memaksanya menikah dengan puterimu dan yang terakhir engkau baru mau membebaskannya kalau sudah bertanding denganmu selama lima puluh jurus! Sungguh memalukan!�h

�gMemang sungguh memalukan!�h Keng Han ikut-ikutan bicara. �gMana aku mam­pu menahan serangannya sampai lima puluh jurus? Ini sama saja dengan me­maksaku tinggal di sini dan mengawini puterinya yang tidak kucinta. Mana ada aturan begitu, ya, Bibi Guru?�h

�gMemang tidak ada aturan seperti itu di dunia kang-ouw, kecuali dunianya orang-orang sesat. Tentu Kwi-kiam Pang­cu tidak akan suka disebut orang sesat!�h kata lagi Souw Cu In.

Lo Siu Lan menjadi marah sekali. Ia marah karena melihat hubungan yang akrab antara Keng Han dan Cu In. Biar­pun mereka mengaku sebagai bibi guru dan murid keponakan, akan tetapi kedua­nya masih muda dan wanita bercadar itu nampak cantik jelita dan tubuhnya begitu ramping seperti batang pohon liu. Ia merasa cemburu sekali!

�gPerempuan hina! Buka cadarmu dan perlihatkan mukamu! Engkau telah berani mencampuri urusan kami!�h Berkata demi­kian, Lo Siu Lan telah mencabut pedang­nya.

Souw Cu In mendengus seperti orang mengejek. �gDan engkau, sungguh tidak malu hendak memaksa seseorang menjadi suamimu!�h

�gKeparat!�h Lo Siu Lan menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi bagaikan bayangan saja, tubuh Souw Cu In telah meloncat ke samping dan tiba-tiba ada sinar putih mencuat dan tahu-tahu pedang di tangan Siu Lan terlibat dan te­rampas! Siu Lan terkejut dan melompat mundur. Cu In mengambil pedang itu dan melemparkannya kembali kepada Siu Lan.

�gSiapa yang keparat masih patut di­selidiki!�h kata Cu In. Biarpun marah sekali, Siu Lan tidak berani sembarangan lagi bergerak. Dalam segebrakan saja pedangnya telah terampas!

Lo Cit juga kaget melihat hal ini. Gadis bercadar itu lihai bukan main.

�gSiapa yang sudah masuk ke sini tidak boleh sembarangan keluar. Kalau Si Keng Han ingin membebaskan diri, dia harus melalui pertandingan denganku. Tidak usah sampai lima puluh jurus, melihat dia masih muda biarlah kuberi waktu....�h

�gSepuluh jurus!�h kata Keng Han. �gSe­puluh jurus sudah merupakan waktu yang lama, melihat aku yang masih begini muda harus melawan Pangcu yang tua dan berpengalaman!�h

Toat-beng Kiam-sian tertegun. Dulu pernah dia menyerang pemuda ini sampai sepuluh jurus dan ternyata dia tidak dapat merobohkan. Akan tetapi ketika itu dia tidak menggunakan pedang tong­katnya. Kalau dia menggunakan pedang tongkatnya, mungkin dalam satu atau dua jurus saja dia sudah mampu mengalahkan pemuda itu.

�gKeng Han, sepuluh jurus pun sudah terlalu lama. Engkau tidak akan dapat bertahan menghadapi pedangnya walau hanya lima jurus saja!�h Ucapan ini ber­nada sungguh-sungguh penuh kekhawatir­an, padahal sebenarnya merupakan pan­cingan yang amat cerdik dari Souw Cu In. Gadis ini sudah melihat kelihaian Keng Han yang dapat menandingi seorang datuk besar seperti Swat-hai Lo-kwi. Kalau pemuda itu mampu menandingi Swat-hai Lo-kwi, maka menghadapi Toat­-beng Kiam-sian dalam sepuluh jurus saja tidak mungkin dia dikalahkan, apalagi dalam lima jurus. Bahkan mungkin sam­pai puluhan jurus akan mampu bertahan.

Mendengar ucapan dan melihat sikap Souw Cu In, Toat-beng Kiam-sian mem­bentak, �gBaiklah, sepuluh jurus! Kalau pedangku selama sepuluh jurus belum mampu mengalahkanmu, engkau boleh pergi dari sini tanpa diganggu!�h

�gKeng Han, berhati-hatilah. Pedang tongkat itu amat lihai sekali!�h Kembali Souw Cu In berseru.

�gHayo, orang muda. Kau boleh meng­gunakan senjata apa pun, boleh kau pilih dari rak senjata itu untuk menghadapi pedangku!�h kata kakek itu sambil meng­angkat tongkat di tangannya yang dalam­nya terisi pedang.

�gLo-pangcu! Keng Han tidak pernah menggunakan senjata, maka kalau kau menggunakan pedang, itu licik sekali namanya!�h

�gDia boleh memilih senjata yang di­sukainya! Aku tidak peduli, dia mau ber­senjata atau tidak!�h          '

�gJangan khawatir, Bibi Guru. Aku memiliki pedangku ini!�h Keng Han men­cabut pedang bengkoknya yang selama ini belum pernah dia pakai untuk berkelahi. Akan tetapi, mendengar nasihat Souw Cu In, dia tahu bahwa tentu ilmu pedang kakek timpang itu hebat dan dahsyat, maka kini dia menggunakan pedang pem­berian ibunya atau pedang peninggalan ayah kandungnya.

Melihat pemuda itu memegang se­batang pedang bengkok, Gan Bu Tong tertawa. �gHa-ha-ha, dia memegang se­batang pisau pemotong ayam!�h Dia mengejek.

�gDiam, Suheng! Engkau sudah dikalah­kannya dengan mudah!�h kata Lo Siu Lan ketus.

Akan tetapi Toat-beng Kiam-sian memandang rendah pedang bengkok itu. �gOrang muda, bersiaplah menghadapi seranganku!�h bentaknya dan pedangnya sudah menyambar bagaikan kilat cepat­nya.

�gSinggggg....!�h Keng Han terkejut bukan main. Dahsyat sekali pedang itu menyambar, beberapa kali lipat lebih cepat dan kuat daripada pedang yang dimainkan Lo Siu Lan tadi. Akan tetapi dia sudah siap, dengan gerakan tangkas dia mengelak sambil memutar pedang bengkoknya menangkis.

�gTranggg....!�h Nampak bunga api ber­percikan dan keduanya merasa betapa tangan yang memegang pedang menjadi panas den tergetar.

�gJurus pertama....!�h Souw Cu In meng­hitung dengan suara nyaring sekali.

Lo Cit merasa penasaran dan mulai­lah dia mengayun pedangnya dan me­nyerang dari segala jurusan dan dengan kecepatan kilat. Memang tidak kosong saja julukannya Dewa Pedang karena memang hebat sekali ilmu pedangnya. Namun, Keng Han juga memiliki ilmu Hong-in Bun-hoat yang sakti. Dengan berloncatan ke sana-sini dan pedang beng­koknya mencorat-coret menuliskan huruf­-huruf, dia dapat menghindarkan diri dari semua serangan kakek itu.

�gJurus ke dua.... ke tiga....          ke em­pat....!�h Souw Cu In menghitung terus jurus-jurus yang dimainkan oleh kakek itu.

Pada jurus ke enam, Keng Han sama sekali belum tersentuh pedang lawan, bahkan kini dia mampu membalas dengan gerakan corat-coretnya yang membingung­kan lawan.

�gJurus ke delapan....!�h

Toat-beng Kiam-sian menjadi marah bukan main. Sudah delapan jurus lewat dan lawannya masih mampu menandingi­nya, bahkan mampu membalas serangan­nya. Dan dia sendiri tidak mengenal ilmu silat pedang lawan yang seperti corat­-coret menuliskan huruf itu. Dia memben­tak keras sambil berjongkok dan me­nyabetkan pedangnya untuk membabat kedua kaki lawan.

�gHyaaaaattttt....!�h

Keng Han meloncat ke atas dengan gerakan ringan seperti seekor buruhg terbang sehingga babatan itu hanya lewat di bawah kedua kakinya.

�gJurus ke sembilan....!�h Cu In berseru girang, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat dan ia memandang, dengan hati cemas ketika melihat serangan jurus ke sepuluh. Kini Lo Cit menggerakkan pedangnya ke atas, menyambut tubuh Keng Han yang melompat turun dan bukan pedangnya saja yang menyerang, akan tetapi juga tangan kirinya meng­hantam dengan ilmu pukulan Halilintar! Bukan main hebatnya pukulan dan tusuk­an pedang ini dan tubuh Keng Han masih berada di udara.          

Sementara itu, melihat serangan lawan yang nekat dan berbahaya, Keng Han menggerakkan pedang bengkoknya untuk menangkis dan tangan kirinya juga dihantamkan ke depan menyambut pukul­an Halilintar lawan.

�gTranggg.... desss....!�h Hebat bukan main pertemuan kedua pedang itu, akan tetapi lebih dahsyat lagi pertemuan ke­dua telapak tangan. Akibatnya, tubuh Lo Cit terdorong sehingga dia terhuyung ke belakang, sedangkan Keng Han turun ke bawah dengan selamat.

Jurus ke sepuluh!�h bentak Cu In.

Akan tetapi agaknya Lo Cit tidak mempedulikan teriakan itu dan kini bah­kan menyerang lagi dengan lebih dahsyat ke arah Keng Han. Dan bersama dengan majunya Lo Cit, kini beberapa orang murid, di antaranya Gan Bu Tong juga hendak melakukan pengeroyokan. Melihat gelagat yang tidak baik ini, Cu In sudah meluncurkan sabuk suteranya yang ber­ubah menjadi sinar putih menyerang kearah Lo Siu Lan. Siu Lan terkejut akan tetapi tidak sempat mengelak dan tahu-­tahu pinggangnya telah terlibat ujung sabuk dan sekali Cu In menarik, tubuh Siu Lan terdorong ke arahnya dan ia sudah menangkap gadis itu dan menodong­kan jari-jari tangan kirinya ke atas ubun-­ubun kepala Siu Lan.

�gTahan semua senjata atau aku akan membunuh Siu Lan!�h teriak Cu In dengan suara nyaring. Toat-beng Kiam-­sian Lo Cit menengok dan wajahnya berubah ketika dia melihat puterinya telah berada dalam ancaman tangan Cu In. Dia maklum bahwa sekali menggerak­kan tangan itu ke arah ubun-ubun kepala anaknya, gadis itu tentu akan tewas!

�gTahan semua senjata dan mundur!�h bentaknya kepada para muridnya. Semua mundur dan memandang ke arah Cu In yang masih mengancam Siu Lan.

�gKeng Han, mari kita pergi dari sini. Awas, jangan ada yang mengikuti kami kalau ingin gadis ini selamat!�h kembali Cu In membentak dan ia mendorong Siu Lan berjalan di depan sedangkan ia dan Keng Han berjalan di belakangnya. De­ngan cara ini mereka dapat keluar dari sarang Kwi-kiam-pang tanpa ada yang berani menghalangi.

Setelah tiba di luar, Cu In menotok Siu Lan sehingga gadis ini menjadi lemas dan roboh tak berdaya, kemudian mereka berdua berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Belasan li mereka berlari meninggal­kan tempat itu sampai mereka memasuki sebuah hutan di lereng bukit. Mereka berhenti melepas lelah dan Keng Han berkata dengan nada suara menegur, �gSu­i, kenapa menggunakan cara yang curang itu untuk menyelamatkan diri?�h

�gCurang katamu? Bagaimana dengan Toat-beng Kiam-sian itu? Sudah sepuluh jurus engkau bertahan terhadap serangan­nya, ehhh, dia malah menyerang lagi dan maju mengeroyok. Mereka demikian ba­nyak, bagaimana mungkin kita dapat melawan mereka? Kalau aku tidak meng­gunakan akal itu, apa kaukira kita bisa keluar dengan selamat.

Keng Han menundukkan mukanya, harus mengaku kebenaran ucapan gadis itu. �gAh, mengapa di dunia ini banyak orang yang tidak sungkan berlaku curang seperti ketua Kwi-kiam-pang tadi?�h

�gItulah! Merupakan pelajaran pertama bagimu kalau engkau memasuki dunia kang-ouw, yaitu, jangan mudah percaya kepada siapapun juga atau engkau akan tertipu. Lebih banyak orang yang curang daripada yang jujur, lebih banyak yang jahat daripada yang baik. Nah, sekarang tiba saatnya kita harus berpisah mengambil jalan masing-masing.

�gSu-i,�h kata Keng Han dengan suara sungguh-sungguh. �gKalau perjalanan kita sama, menuju ke satu jurusan, yaitu kota raja, kenapa kita tidak melakukan per­jalanan bersama saja?�h

�gTidak pantas seorang pemuda me­lakukan perjalanan bersama seorang ga­dis!�h

�gAih, Su-i, bukankah engkau ini bibi guruku? Kenapa tidak pantas? Yang pen­ting kita tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Pula, agaknya memang sudah semestinya kita melakukan per­jalanan bersama sehingga dapat saling melindungi. Bayangkan saja, kalau kita tidak melakukan perjalanan bersama, engkau sudah celaka di tangan Tung­hai Lo-mo dan aku sudah celaka di ta­ngan Toat-beng Kiam-sian! Dengan ber­dua, kita dapat mengatasi semua bahaya itu.�h

Souw Cu In termenung, agaknya me­lihat kebenaran dalam ucapan pemuda itu dan ia mempertimbangkan. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan bertanya. �gKeng Han, apakah engkau murid keluarga Pulau Es?�h

�gBukan, Su-i. Bahkan aku selama hi­dup belum pernah bertemu dengan me­reka.�h�gAkan tetapi ilmu silatmu itu.... aku pernah mendengar subo bercerita ten­tang ilmu-ilmu keluarga itu. Katanya ada ilmu yang sifatnya seperti mencorat­-coret dengan tangan atau pedang, yang disebut Hong-in Bun-hoat, dan tadi eng­kau menggunakan ilmu itu, bukan?�h

Terhadap gadis ini Keng Han tidak ingin  berbohong. �gMemang sesungguhnya aku tadi memainkan ilmu Hong-in Bun­-hoat.�h

�gDan kau bilang bukan murid Pulau Es?�h

�gBukan, Su-i. Aku tidak berbohong. Kudapatkan ilmu ini di sebuah gua di Pulau Hantu, bersama ilmu-ilmu lain.�h

�gIlmu apa saja? Ah, kau tidak perlu mengaku kalau hendak merahasiakannya.�h

�gKepadamu aku tidak ingin menyem­bunyikan apa-apa, Su-i. Selain Hong-in Bun-hoat, aku juga menemukan pelajaran ilmu silat Toat-beng Bian-kun, ilmu te­naga sakti Hwi-yang Sin-kang dan Swat­im Sin-kang.�h

Gadis itu terbelalak dan Keng Han terpesona. Sepasang mata itu demikian indahnya ketika terbelalak, seperti bin­tang kembar yang bercahaya terang. �gTapi semua itu adalah ilmu-ilmu keluar­ga Pulau Es!�h

�gEntahlah, Su-i. Aku hanya menemu­kannya di Pulau Hantu dan telah kupela­jari semua itu selama lima tahun.�h

�gPantas saja engkau mampu menan­dingi Swat-hai Lo-kwi dan Toat-beng Kiam-sian. Dan suci telah mengangkatmu sebagai murid! Betapa lucunya. Padahal suci sendiri tak mungkin mampu menan­dingimu. Bahkan subo sendiri belum tentu mampu. Engkau telah menguasai ilmu­-ilmu langka yang sakti, Keng Han.�h

Keng Han tersipu. �gAih, Bibi Guru terlalu memuji. Aku hanya seperti seekor burung yang baru belajar terbang dan baru saja meninggalkan sarangnya. Aku tidak mempunyai pengalaman apa-apa, maka kalau Su-i sudi melakukan per­jalanan bersamaku, aku dapat belajar banyak.�h

�gTidak bisa! Kalau subo mengetahui aku melakukan perjalanan dengan seorang pemuda, tentu ia akan marah sekali dan aku harus membunuhmu! Nah, pergilah!�h

�gAkan tetapi, Su-i.... Suara Keng Han penuh permohonan dan penuh ke­kecewaan.

�gTidak ada tapi-tapian, Keng Han. Kita harus berpisah. Pergilah, atau aku akan marah kepadamu!�h

�gSu-i....!�h kata Keng Han, akan tetapi melihat sinar mata itu mencorong marah, dia lalu memberi hormat dan berkata, �gBaiklah, Su-i, aku tidak berani membantah. Harap Su-i berhati-hati di jalan dan jagalah dirimu baik-baik, Su-i.�h Dengan wajah sedih sekali Keng Han lalu me­mutar tubuhnya dan pergi meninggalkan gadis itu. Dia merasa tubuhnya menjadi lemas dan segala sesuatu nampak buruk baginya. Dia merasa kesepian, merasa ditinggalkan oleh sesuatu yang amat ber­harga baginya. Kalau tadinya, segala hal nampak menyenangkan, kini menjadi me­nyedihkan. Dia menengok dan tidak melihat lagi bayangan Cu In. Kesedihan dan kesepian melanda dirinya sehingga Keng Han tidak mampu melangkah lagi. Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas batu dan termenung. Hidupnya terasa hampa. Kerinduan kepada Cu In begitu menceng­keram hatinya. Membayangkan bahwa dia tidak akan dapat bertemu lagi dengan gadis itu, membuat matanya menjadi basah dan hampir saja dia menangis seperti anak kecil kalau tidak ditahan­-tahannya.

Tiba-tiba dia, menyadari keadaannya dan menepuk kepalanya sendiri. �gHuh! Kenapa engkau menjadi cengeng seperti itu?�h Dia merasa malu kepada diri sen­diri, malu kepada Souw Cu In. Kalau bibi gurunya itu melihat keadaannya, tentu ia akan menegurnya.

�gTolol! Cengeng!�h Keng Han memaki diri sendiri sambil bangkit berdiri dan dengan langkah tegap dia melanjutkan perjalanannya menuju ke timur, ke kota raja! Dia masih memiliki tugas yang ter­amat penting. Mencari ayah kandungnya.

 

Souw Cu In sendiri merasa kesepian dan hatinya terasa berat harus berpisah dari Keng Han. Gadis ini merasa heran sekali. Belum pernah ia merasa kehilang­an seperti ini! Apalagi kehilangan se­orang sahabat, seorang pria. Tekanan yang diberikan subonya sejak ia masih kecil membuat ia menganggap setiap orang pria itu palsu dan jahat. Apalagi setelah ia melihat sendiri betapa kaum pria selalu bersikap menjemukan kalau bertemu dengannya di manapun. Pria semua mata keranjang dan ingin meng­goda kalau bertemu dengannya. Akan tetapi kini ia bertemu Keng Han yang sama sekali berlainan dengan pria yang seringkali ia bayangkan dan yang pernah ia temukan. Keng Han sama sekali tidak kurang ajar, bahkan amat sopan dan bersikap baik sekali kepadanya. Maka, begitu Keng Han meninggalkannya de­ngan sikap demikian kecewa dan sedih, ia merasa kasihan sekali dan ikut pula berduka dan kehilangan. Baru sekarang ia merasa kesepian melanda hatinya.

Akan tetapi gadis yang dididik men­jadi keras hati ini dapat menekan pe­rasaannya dan ia pun melakukan perjalanan seorang diri dengan cepat sekali. Pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun yang cukup besar dan ramai. Bah­kan ia menemukan sebuah kedai makan di dusun itu. Karena perutnya sudah lapar Souw Cu In memasuki kedai itu dan memesan makanan dan minuman teh. Kedai teh itu sudah banyak tamu yang sedang makan. Seperti biasa dialami Cu In, begitu ia memasuki kedai makan itu, banyak mata memandang dan banyak kepala menengok lalu terdengar suara berbisik-bisik dan tawa yang dibuat-buat. Namun ia tidak mempedulikan,itu semua dan  memesan makanannya kepada pela­yan yang menghampirinya.

Tiga orang pria yang duduk di meja sebelahnya, menghentikan makan mereka ketika melihat Cu In. Mereka itu terdiri dari orang-orang yang berpakaian, gagah, berusia antara tiga puluh dan empat puluh tahun. Seorang di antara mereka, yang berusia tiga puluh tahun, agaknya menjadi pemimpin mereka.

�gSayang ia bercadar sehingga kita tidak dapat melihat. mukanya,�h kata se­orang di antara mereka yang berusia hampir empat puluhan tahun.

�gAku yakin ia cantik seperti bida­dari,�h kata orang kedua yang usianya empat puluhan tahun.

�gSudahlah, lanjutkan makan kalian dan jangan pedulikan orang lain.�h kata pemuda yang berusia tiga puluhan tahun. Dia itu bertubuh tinggi besar dan nam­pak gagah dan tampan, mukanya bundar dan sepasang matanya lebar sehingga wajah itu nampak asing.

�gAkan tetapi, Kongcu, yang ini ber­beda dengan wanita biasa. Kami berani bertaruh bahwa ia seorang yang luar biasa sekali, penuh rahasia karena muka itu bercadar.�h kata orang pertama.

Orang yang disebut kongcu itu mencela, �gKalau orang menutupi mukanya, apalagi kalau ia wanita, tentu itu cacat. Sudahlah, mari kita cepat selesaikan makan, kita harus melanjutkan perjalan­an!�h

Mereka melanjutkan makan minum dan karena Cu In makan cepat dan tidak banyak, gadis ini lebih dulu selesai dan segera membayar makanan dan pergi meninggalkan kedai makanan itu tanpa mempedulikan orang lain. Tiga orang itu juga sudah selesai makan dan mereka juga cepat-cepat meninggalkan kedai.

Ketika Cu In berjalan keluar dari dusun itu, ia pun tahu bahwa tiga orang itu membayanginya. Ia pura-pura tidak tahu dan melangkah terus. Akan tetapi setelah tiba di jalan yang sepi, tiga orang ini berlari cepat menyusulnya.

�gTahan dulu, Nona!�h terdengar suara pria pertama yang berkumis dan berjeng­got seperti kambing.

Cu In berhenti dan menghadapi tiga orang itu. Ia melihat bahwa dua, diantara mereka memandangnya dengan mulut menyeringai, akan tetapi pemuda berusia tiga puluhan tahun yang berwajah tam­pan dan gagah itu bersikap acuh tak acuh.

�gNona, tadi kita melihatmu di rumah makan.�h kata orang kedua yang hidungnya pesek.

�gLalu, mengapa kalian mengejarku?�h tanya Cu In dengan ketus.

�gBegini, Nona. Aku dan temanku ini bertaruh. Aku yakin bahwa wajahmu cantik seperti bidadari, sebaliknya dia yakin bahwa wajahmu cacat dan buruk. Nah, karena itu kami harap Nona suka membuka cadar Nona itu sebentar saja agar kami dapat melihatnya dan menen­tukan siapa yang menang bertaruh.�h

�gAku tidak peduli kalian bertaruh atau tidak, akan tetapi aku tidak akan membuka cadarku!�h kata Cu In dengan suara ketus dan marah.

�gAih, Nona. Mengap Nona begitu pelit? Memperlihatkan muka sebentar saja, apa keberatan. Nah, kalau begitu biarlah aku yang membuka dan menying­kap cadar itu!�h kata si jenggot kambing dan tangannya meraih ke arah cadar di muka Cu In. Gadis ini mengelak mundur dan sambaran tangan itu luput.

�gSiapa berani membuka cadarku dia akan mati!�h kata Cu In dengan suara membentak.

Akan tetapi agaknya si jenggot kam­bing dan si hidung pesek menganggap kosong gertakan Cu In ini. Bahkan si hidung pesek tertawa, �gHa-ha-ha, Thian­ko. Mari kita bertaruh lagi, siapa di antara kita yang lebih dulu dapat mem­buka cadar Nona ini!�h

Si jenggot kambing tertawa. �gHa-ha­ha, baik sekali! Jadi taruhan kita ada dua, mengenai muka gadis ini dan siapa yang lebih dulu menyingkap cadar!�h Ke­duanya lalu menerjang maju dan tangan mereka meraih untuk menyambar cadar putih yang menutupi muka Cu In. Laki-­laki ketiga yang berwajah tampan itu masih memandang dengan tidak peduli.

Marah sekali hati Cu In. Cepat ia mengelak sambil berloncatan dari serang­an kedua orang yang hendak merenggut cadarnya dan ia pun menampar dengan pukulan Tangan Beracun. Akan tetapi kagetlah ia melihat betapa dua orang itu pun mampu mengelak dengan cepat. Kini keadaannya berubah. Dua orang itu bukan berebutan membuka cadar  melainkan mengeroyok gadis itu. Terjadilah perke­lahian yang seru.

Akan tetapi, dua orang itu kecelik karena kini mereka bertemu batunya. Ternyata gadis bercadar itu lihai bukan main dan mereka terdesak hebat oleh pukulan dan tendangan Cu In. Padahal, kedua orang itu mengira bahwa mereka adalah orang-orang lihai yang jarang bertemu tanding! Melihat ini, sepasang mata lebar dari pemuda tampan itu bersinar-sinar. �gKali­an mundurlah!�h bentaknya, dan kini dia sendiri yang maju melawan Cu In. Dua orang kawannya menaati perintahnya dan mundur menjadi penonton.

Cu In terkejut setengah mati. Pemuda itu ternyata lihai bukan main, berani menangkis Tangan Beracunnya dan setiap kali tertangkis ia merasa lengannya ter­getar hebat. Pemuda itu memiliki ilmu silat yang aneh dan juga memiliki tenaga sinkang amat kuatnya.

Cu In yang maklum bahwa kawannya tangguh, segera melolos sabuk suteranya yang menjadi senjatanya yang ampuh, dan mulai menyerang dengan sabuk su­teranya. Akan tetapi pemuda itu dapat mengelak atau menangkis sambil men­coba untuk menangkap ujung sabuk su­tera putih itu. Akan tetapi usahanya selalu gagal. Sabuk sutera itu seolah hidup di tangan Cu In, bergerak seperti seekor ular dan setiap kali ditangkap dapat melesat cepat menghindar lalu menyerang lagi dengan patukan yang mengarah jalan darah karena sesungguh­nya senjata lemas itu dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah.

Selagi ramai-ramainya kedua orang ini bertanding, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan terdengar suara Keng Han, �gBibi guru harap minggir bisa aku yang menghadapinya?�h

Bagaimana Keng Han dapat tiba di situ! Perjalanannya dengan Cui In me­mang searah, sama-sama ke timur se­hingga tidak aneh kalau dia juga lewat di situ. Ketika dari jauh melihat per­kelahian itu, jantungnya berdebar penuh kegembiraan dan ketegangan karena seorang wanita yang berpakaian putih ber­senjata sabuk sutera putih itu siapa lagi kalau bukan Souw Cu In? Melihat orang yang dirindukannya ini hatinya merasa girang sekali, akan tetapi juga tegang melihat betapa lawan bibi gurunya itu amat tangguh. Apalagi setelah dekat dia .mengenal pemuda itu sebagai Gulam Sang yang pernah ditandinginya! Gulam Sang, putera mendiang gurunya! Bahkan guru­nya sebelum meninggal dunia berpesan agar dia bekerja sama dengan puteranya itu. Maka cepat dia meloncat datang dan menyuruh bibi gurunya minggir.

Gulam Sang juga mengenal Keng Han sebagai pemuda tangguh yang pernah dilawannya. Dia menjadi penasaran ka­rena tadi belum sempat mengalahkan Cu In yang sudah didesaknya.

�gSiapakah engkau yang mencampuri urusan kami?�h bentaknya dan dia meman­dang kepada Keng Han dengan mata yang lebar itu mencorong.

�gBukankah namamu Gulam Sang dan engkau adalah putera dari Gosang Lama?�h tanya Keng Han sambil membalas pan­dang mata mencorong itu.

Gulam Sang nampak terkejut dan melangkah mundur setindak mendengar pertanyaan itu. �gsiapa engkau? Apa hu­bunganmu dengan Gosang Lama?�h Keng Han melihat betapa kekejutan pemuda tinggi besar itu dibuat-buat karena suara­nya Masih biasa saja, hanya tadi seolah sengaja melangkah mundur.

�gAku adalah muridnya. Sebelum suhu Gosang Lama meninggal dunia, dia ber­pesan kepadaku agar dapat bekerja sama denganmu. Akan, tetapi kenapa engkau bertempur melawan bibi guruku ini? Ia adalah bibi guruku dan mustahil ia me­lakukan kesalahan sehingga engkau turun tangan bertempur dengannya.�h

Wajah Gulam Sang berubah kemerahan dan dia menoleh kepada dua orang ka­wannya. �gKawan-kawanku ini yang usil maka terjadi perkelahian. Mereka hendak menyingkap tabir yang menutupi wajah Nona ini.�h

Keng Han mengerti mengapa mereka berkelahi. Tentu saja bibi gurunya tidak sudi dibuka cadarnya dan masih ber­untung mereka berdua itu tidak sampai dipukul mati.

�gKalian sudah bertindak lancang. Mengingat engkau putera suhu Gosang Lama, biarlah aku mintakan ampun kepada bibi guruku.�h kata Keng Han sambil menoleh. Akan tetapi ternyata Cui In sudah tidak nampak, sudah pergi dari tempat itu tanpa pamit. Ketika tadi Keng Han muncul, Cu In juga merasa berbahagia sekali. Akan tetapi ketika mendengar bahwa pemuda tinggi besar itu putera guru Keng Han, Cu In menjadi marah dan pergi tanpa pamit.

�gEh, ke mana bibi guru?�h

Si jenggot kambing yang menjawab. �gIa sudah pergi sejak tadi.�h

Keng Han memandang kepada si jeng­got kambing dan si hidung pesek dengan marah. �gKalian berdua telah melakukan kesalahan, hayo cepat minta maaf ke­padaku dan aku akan memaafkan atas nama bibi guruku!�h

Kedua orang itu memandang kepada Golam Sang yang mengangguk. Keduanya lalu mengangkat kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Keng Han, �gHarap sampaikan maaf kami kepada nona tadi.�h

�gSaudara yang baik, siapakah namamu dan sejak kapan engkau menjadi murid ayahku?�h

�gNamaku Si Keng dan sejak berusia sepuluh tahun aku menjadi murid Gosang Lama selama lima tahun.�h

�gKalau begitu engkau masih saudara­ku sendiri walaupun aku sendiri sejak kecil tidak pernah bertemu dengan men­diang ayahku. Apa saja yang dipesankan ayah kepadamu sebelum dia meninggal?�h

�gDia berpesan agar aku bekerja sama denganmu, saling bantu.�h

�gBagus sekali! Mari kita kembali ke dusun dan mencari penginapan agar kita leluasa bicara.�h

Keng Han tidak menolak, karena per­cuma saja andaikata dia akan mengejar Cu In yang pergi tanpa pamit . Dan dia pun ingin mengenal lebih baik putera suhunya ini yang berkepandaian tinggi dan yang menurut Dalai Lama pernah menjadi murid Dalai lama yang sakti. Mereka kembali ke dusun dan menyewa kamar, kemudian bercakap-cakap berdua saja di kamar yang disewa Keng Han.

�gNah, sekarang katakan apa yang hendak kaubicarakan, Gulam Sang. Kerja sama yang bagaimana yang dapat kita bersama lakukan.�h

�gNanti dulu, Keng Han. Aku ingin tahu siapakah orang tuamu dan sekarang ini engkau hendak ke mana? Kita harus terbuka dan menceritakan keadaan ma­sing-masing, baru kita dapat bekerja sama, bukan?�h

Keng Han mengangguk-angguk. Dia belum percaya kepada pemuda tinggi besar ini, akan tetapi bagaimanapun juga, pemuda ini adalah putera Gosang Lama yang pernah menjadi gurunya yang baik. �gTerus terang saja, saudara Golam Sang. Ibuku adalah seorang wanita Khitan, puteri seorang kepada suku di sana dan ayahku....�h Ia berhenti dan meragu. Ha­rus dikatakankah rahasia tentang ayah­nya?

�gDan ayahmu tentu bukan orang Khi­tan!�h kala Golam Sang.

�gEngkau benar. Ayahku adalah seorang pangeran kerajaan Ceng.�h

�gAhhh....!�h Gulam Sang nampak ter­kejut. �gSiapa nama ayahmu yang pange­ran itu?�h

�gNama ayahku adalah Tao Seng, jadi aku she Tao Keng Han.�h

�gAhhh....!�h kembali Golam Sang ter­kejut. �gApakah Pangeran Tao Seng yang dihukum buang itu?�h

�gAgaknya engkau mengetahui banyak hal tentang ayahku, saudara Golam Sang.�h

�gAku hanya mendengar saja bahwa ada dua orang pangeran yang dihukum buang.�h

�gDan tahukah engkau di mana ayahku itu sekarang?�h

�gAku tidak tahu, mungkin di kota raja, mungkin masih di tempat pembuang­annya, di Barat. Akan tetapi engkau tentu dapat mencari keterangan di kota raja. Kebetulan aku mengenal seorang pensiunan pejabat tinggi yang dahulu berhubungan erat dengan ayahmu. Kau carilah dia di kota raja dan dia pasti akan dapat memberitahu di mana ayah­mu. Namanya Ji Soan dan dikenal de­ngan sebutan Ji-wangwe (hartawan Ji) karena sekarang dia telah menjadi se­orang saudagar yang kaya raya. Kau tanyakan kepada siapa saja di mana ru­mahnya Ji-wangwe dan tentu engkau akan dapat menemukannya.�h

�gAh, terima kasih, Gulam Sang. Ke­teranganmu ini penting sekali bagiku. Besok pagi-pagi aku akan langsung me­nuju ke kota raja untuk mencari Ji-­wangwe itu.�h

�gKabarnya, ayahmu itu difitnah dan dia dihukum dalam keadaan penasaran sekali.�h

�gDifitnah?�h tanya Keng Han, ingin sekali tahu.

�gYa, kabarnya yang melakukan fitnah adalah seorang pangeran lain yang kini menjadi Pangeran Mahkota.�h

�gAku mendengar dari ibuku bahwa ayahku itu adalah Pangeran Mahkota.�h

�gMungkin benar demikian. Mungkin karena dia seorang Pangeran Mahkota, ada pangeran lain yang iri hati dan me­lakukan fitnah sehingga dia dihukum buang.�h

�gSiapakah pangeran jahat itu?�h

�gDia adalah Pangeran Mahkota Tao Kuang. Akan tetapi urusan itu aku pun tidak tahu banyak. Yang lebih mengeta­hui adalah Hartawan Ji itulah. Bagai­manapun juga, Pangeran Tao Kuang dan Kaisar Cia Cing itu adalah musuh be­sarmu karena merekalah yang mencelaka­kan dan menghukum ayahmu.�h

�gKalau benar ayah terhukum dengan penasaran, aku akan membalas dendam!�h kata Keng Han dengan hati panas.

�gBagus! Dalam hal ini, kita dapat bekerja sama. Kita sama-sama berjuang menggulingkan pemerintahan Ceng yang dipegang oleh Cia Cing dan kelak di­pegang oleh Pangeran Tao Kuang itu!. Kita bekerja sama dengan teman-teman seperjuangan.�h

�gHemmm, kau maksudkan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang dulu kaubantu mengeroyok kami itu? Mereka itu bukan orang-orang baik. Aku sudah mendengar sepak terjang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai itu. Mereka adalah orang­-orang jahat yang berkedok perjuangan. Bagaimana kita dapat bekerja sama de­ngan mereka?�h

�gNah, di sini letaknya kesalah-paham­an itu. Engkau berpikiran seperti ketua Thian-li-pang itu. Kalau kita benar-benar hendak berjuang menentang pemerintah­an, kita harus mempersatukan semua tenaga dari pihak manapun. Kita harus bersatu padu tanpa mempedulikan watak masing-masing, untuk bersama-sama mengadapi pasukan pemerintah yang kuat. Aku lebih condong menyetujui pen­dapat ketua Bu-tong-pai!�h

�gAh, engkau juga hadir ketika ada rapat besar itu?�h

�gTentu saja. Aku hadir sebagai pen­dengar saja. Nah, bagaimana pendapat­mu?�h

Keng Han meragu. �gAgaknya engkau benar. Aku harus membalas dendam atas kematian ayahku kalau benar dia sudah mati secara penasaran dan difitnah. Aku suka bekerja sama denganmu, Gulam Sang.�h

Gulam Sang menjabat tangan Keng Han. �gBagus, kita  akan bekerja sama kelak. Kau tunggu saja di rumah Hartawan Ji, karena dia pun telah menjadi sekutu kami untuk melakukan pemberon­takan. Pergilah engkau ke sana, cari keterangan tentang ayahmu dan katakan kepada Ji-wangwe bahwa engkau adalah sahabat dan sekutuku yang suka untuk bekerja sama.�h

Demikianlah, Keng Han yang masih hijau dalam pengalamannya itu percaya sepenuhnya kepada Gulam Sang karena orang ini adalah putera gurunya yang sudah meninggalkan pesan agar dia be­kerja sama dengan Gulam Sang.


***

Yo Han dan Tan Sian Li tidak dapat membantah atau melarang lagi ketika Yo Han Li menyatakan pendapatnya bahwa ia ingin merantau untuk mencari penga­laman.

�gBukankah Ibu dahulu ketika masih muda juga suka merantau mencari pe­ngalaman di dunia kang-ouw sehingga Ibu dijuluki Si Bangau Merah di dunia kang­-ouw? Juga Ayah mendapat julukan Pen­dekar Tangan Sakti karena perantauannya di dunia kang-ouw. Saya hanya ingin merantau dan meluaskan pengalaman saja. Saya tidak ingin mendapatkan nama julukan dan saya akan selalu berhati­-hati agar jangan terpancing dalam per­musuhan.�h Demikian ucapan Yo Han Li yang membuat ayah ibunya tidak dapat membantah lagi dan terpaksa memberi ijin kepada puterinya untuk merantau. Siapa tahu dalam perantauannya itu pu­teri mereka akan bertemu dengan jodoh­nya. Mereka tidak perlu khawatir karena sekarang Han Li sudah memiliki tingkat kepandaian yang sebanding dengan ting­kat ibunya, sudah cukup kuat untuk men­jaga diri.

�gBaiklah, kami mengijinkan engkau untuk pergi merantau meluaskan pengala­man. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan pergi lebih lama dari setahun. Dalam waktu setahun engkau harus sudah pulang.�h kata Yo Han. �gDi dunia kang­-ouw sedang kacau karena partai besar seperti Bu-tong-pai hendak memberontak dan mengajak partai-partai sesat untuk bekerja sama. Engkau jangan terpikat oleh mereka itu. Perjuangan kita lain sifatnya. Kita pantang bekerja sama dengan penjahat dan kita bergerak me­lihat suasana.�h

�gAku berjanji, Ayah.�h kata Han Li.

�gHati-hatilah, anakku,�h kata Tan Sian Li. �gJangan engkau mencari permusuhan dengan siapapun. Biarpun engkau harus membela kebenaran dan keadilan, mem­bela yang tertindas dan menentang yang jahat, namun kalau tidak terpaksa sekali jangan engkau membunuh orang. Dan yang harus kau ingat benar, jangan se­kali-kali percaya begitu saja kepada mu­lut manis seseorang, karena di dunia kang-ouw banyak sekali penjahat yang bermuka dan bermulut manis. Engkau harus pandai menjaga harga dirimu, wa­laupun tidak perlu tinggi hati. Kalau sekiranya ada bahaya mengancam, sebut nama julukan ayahmu dan nama julukan­ku, mungkin dapat menolongmu.�h

�gBaik, Ibu. Aku akan selalu ingat akan nasihat Ayah dan Ibu.�h

Tiga hari kemudian, Yo Han Li be­rangkat meninggalkan Thian-li-pang yang berpusat di Bukit Naga itu dan turun gunung untuk memulai dengan perantau­annya. Ia membawa sebuah buntalan pakaian dan sekantung uang. Tidak lupa ia membawa pula sebatang pedang pem­berian ayahnya yang selalu dipakainya untuk berlatih silat pedang.

Ayah dan ibunya mengantar puteri mereka sampai keluar pintu gerbang. Bagaimanapun juga, kedua orang tua ini mengkhawatirkan puteri mereka yang merupakan anak tunggal. Mereka tahu bahwa justeru kecantikan gadis itu yang akan banyak mendatangkan gangguan pada puteri mereka.

Yo Han Li yang berusia delapan belas tahun itu memang cantik. Wajahnya mi­rip dengan ibunya. Mukanya bulat telur kulitnya putih mulus, mata agak lebar dan hidungnya mancung, mulutnya selalu tersenyum agak menengejek dan dihias lesung pipit di pipi kiri. Tubuhnya sedang dan ramping. Ia berpakaian sederhana, dari sutera berwarna biru dan kuning, sepatunya dari kulit berwarna hitam. Ia membawa pedang di pinggangnya dan buntalan pakaiannya berada di punggung­nya.Apa yang dikhawatirkan ayah ibu gadis itu ternyata terbukti, bahkan baru sehari setelah gadis itu meninggalkan rumahnya. Sore itu tibalah ia di sebuah bukit yang masih bertetangga dengan Bukit Naga. Dari bukit itu, kalau ia menoleh, ia akan melihat Bukit Naga yang dari situ nampak memanjang dan berlekuk-lekuk, seperti tubuh seekor naga dan karena bentuknya itulah maka bukit itu disebut Bukit Naga.

Ketika Han Li sedang melangkah maju dengan cepat untuk mencari dusun di mana ia boleh melewatkan malam, tiba-tiba muncul dua belas orang laki-­laki yang kelihatan kasar. Pakaian mere­ka tidak karuan dan sikap mereka kasar sekali, mata mereka liar dan bengis, dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar yang muka codet, yaitu terdapat cacat bekas goresan senjata pada pipi kirinya. Melihat seorang gadis berjalan seorang diri, dua belas orang itu tertawa senang dan si muka codet itu tertawa bergelak.

�gHa-ha-ha, sungguh tidak kusangka di tempat sesunyi ini terdapat seorang nona yang cantiknya seperti bidadari! Eh, Ma­nis, engkau siapakah dan hendak pergi ke mana?�h

Han Li belum pernah bertemu dengan orang-orang macam itu, akan tetapi ia sudah mendengar banyak cerita tentang orang-orang kasar yang biasanya menjadi perampok dari ibu dan ayahnya. Maka kini ia pun dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan segerombolan perampok.

�gAku seorang gadis perantau yang hendak mencari dusun di depan sana. Harap kalian tidak menghalangiku pergi.�h

�gHa-ha-ha, untuk apa mencari dusun? Kalau hanya hendak melewatkan malam, ikutilah bersama kami dan kita ber­senang-senang. Kami mempunyai banyak arak dan kami telah menangkap beberapa ekor lembu dari dusun yang kami lewati. Kita berpesta pora. Mari, Nona!�h katanya dan tangan si codet itu sudah dijulurkan ke depan untuk merangkul pinggang yang ramping itu. Dengan cepat Han Li sudah menangkah mundur. Pandang matanya men­corong ketika ia berkata, suaranya masih lembut namun mengandung ancaman.

�gSudah kukatakan, harap jangan ha­langi dan ganggu aku atau kalian akan menyesal nanti!�h

�gEhhh? Engkau mengancam kami? Ho-ho-ho-ha-ha, agaknya karena engkau membawa pedang engkau dapat mengan­cam kami? Menyerahlah, Nona, dan aku akan bersikap manis padamu. Kalau eng­kau berkeras, terpaksa aku akan meng­gunakan kekerasan menangkapmu!�h

�gHemmm, sombongnya! Boleh kaucoba kalau engkau mampu menangkap aku!�h kata Han Li dan seluruh urat syaraf di tubuhnya siap untuk menghadapi penye­rangan lawan.

�gHeiii, kalian dengar, kawan-kawan? Ia menantangku, ha-ha-ha!�h

Semua anak buah juga tertawa. �gJa­ngan sampai ia terluka, sayang kalau sampai terluka, Toako!�h

�gJangan sampai kulit yang putih mu­lus itu lecet!�h

�gHa-ha-ha, sekali ringkus saja ia pun akan berada dalam pelukanku. Kalian lihat saja!�h

Tiba-tiba si codet menubruk dengan amat cepatnya, kedua lengan yang pan­jang dikembangkan dan jari-jari kedua tangannya menyambar ke depan untuk menerkam Han Li. Namun dengan lincah dan mudah saja Han Li menyelinap dan mengelak dari terkaman itu. Ia melihat bahwa lawannya itu hanya seorang yang mengandalkan kekuatan otot saja dan gerakannya terlalu lamban baginya. Be­gitu mengelak, ia sudah menyelinap ke belakang si codet dan sekali kaki kirinya bergerak, sepatu hitamnya sudah menen­dang pantat si codet sehingga tubuh tinggi besar itu jatuh tersungkur!

Semua anak buah kaget bukan main melihat betapa pimpinan mereka terten­dang roboh oleh gadis itu hanya dalam se­gebrakan saja. Akan tetapi si codet menjadi penasaran dan marah sekali karena malu. Dia merangkak bangun kemudian menghadapi  Han Li dengan muka bengis dan kemerahan, kedua tangannya dibuka seperti cakar harimau dan tanpa banyak cakap lagi kini dia menyerang dengan pukulan dan tamparan. Sepak terjangnya ganas dan liar seperti seekor harimau. Namun bagi Han Li gerakan itu terasa amat lambat sehingga amat mudah bagi­nya untuk mengelak ke kanan kiri dan setelah mendapatkan kesempatan, tangan kirinya menampar, kini mengenai leher si codet yang kembali terpelanting roboh dan sekali ini agak lambat dapat ban­tuan. Kepalanya terasa pening dan leher­nya terasa seperti patah!

Akan tetapi hajaran kedua kali itu agaknya tidak membuat kepala gerombol­an perampok itu jera. Dia bahkan men­cabut golok besarnya dari pinggang dan memutar-mutar golok itu di atas kepala dengan sikap mengancam. Dia tidak lagi menyayang gadis cantik itu dan kalau perlu akan disembelihnya untuk mereda­kan kemarahannya.

Melihat cara orang mencabut golok dan memutar-mutar di atas kepalanya, tahulah Han Li bahwa orang ini hanya memiliki ilmu silat biasa saja, maka ia pun tidak mau mencabut pedangnya. Ia siap menghadapi serbuan orang bergolok itu dengan tangan kosong saja.

�gBocah setan, mampuslah kau seka­rang!�h bentak si codet dan dia sudah menyerang dengan ganasnya. Goloknya berayun dari kanan ke kiri membabat ke arah leher Han Li. Dengan menunduk­kan kepala Han Li sudah mengelak. Go­lok lewat menyambar di atas kepalanya, lalu membalik menyambar dari kiri ke kanan membabat pinggangnya! Dengan geseran kaki ke belakang kembali Han Li membiarkan golok itu lewat.

Setelah dua kali tacokannya dapat dielakkan lawan, si codet menjadi se­makin penasaran. �gHyaaaaattt....!�h Dia berteriak nyaring dan kini goloknya me­nusuk ke arah perut gadis itu. Han Li menggeser kaki ke kiri dan ketika golok itu lewat dekat perutnya, ia melangkah maju dan secepat kilat tangannya me­nampar, kini dengan tenaga lebih dan tamparan tangannya menghantam bawah leher kepala perampok itu.

�gPlakkk.... ughhhhh....!�h Tubuh itu terbanting keras dan tidak dapat bangun kembali. Tamparan tadi amat hebatnya dan membuat kepalanya seperti remuk, bumi berputar dan matanya menjadi ju­ling.

Sebelas orang anak buahnya melihat betapa pimpinan mereka roboh segera mencabut golok masing-masing dan de­ngan teriakan-teriak dahsyat mereka menyerbu dan mengeroyok Han Li yang bertangan kosong dari berbagai jurusan. Akan tetapi mereka terkejut bukan main. Gadis yang tadi berada di tengah-tengah mereka tiba-tiba. melayang ke atas dan sudah berada di belakang mereka. Mereka membalik, akan tetapi dua kali kaki Han Li melayang dan dua orang di an­tara mereka roboh. Han Li mengamuk di antara pengeroyokan gerombolan itu dan membagi-bagi tendangan dan tamparan tangannya yang ampuh. Dalam waktu beberapa menit saja dua belas orang itu sudah jatuh bangun dan akhirnya, dipim­pin oleh si codet, mereka melarikan diri seperti sekawanan monyet melihat singa betina mengamuk.

Han Li tersenyum geli dan mengibas­-ngibaskan kedua tangannya, mengebutkan pakaiannya agar bebas dari kotoran debu, kemudian ia pun melanjutkan perjalanan seperti tak pernah terjadi sesuatu. Ia sudah mendapatkan pengalaman yang menarik dan ia sudah memenuhi pesan ayah ibunya, yaitu menentang kejahatan dan tidak sembarangan membunuh orang. Kalau ia menghendaki, kiranya tidak sukar baginya untuk membunuh semua lawan tadi.

Han Li melanjutkan perjalanannya. Yang dituju adalah ke kota raja. Ia sudah mendapat keterangan dari ayah ibunya di manakah adanya kota raja, dan ia ingin sekali melihat kota yang besar dan indah itu. Sudah banyak ia mende­ngar tentang keindahan kota raja, namun belum pernah ia melihatnya. Dengan cepat ia menuruni lereng bukit itu me­nuju ke sebuah dusun yang dilihatnya dari lereng bukit tadi dan mencari tempat untuk bermalam di dusun itu. Sepasang suami isteri petani yang sederhana de­ngan senang hati memberikan kamar mereka untuk Han Li yang menyewanya. 

NEXT BKS 17 - Part 7

Hosted by www.Geocities.ws

1