See who's visiting this page. View Page Stats
See who's visiting this page.Counter

Pusaka Pulau Es
                                                    BKS 17 - PART 7

By Khopingho0

�g Beberapa pekan telah lewat tanpa ada halangan sesuatu yang mengganggu perjalanan Yo Han Li. Pada suatu pagi tibalah ia di tepi Sungai Kuning di daerah Propinsi Shansi. Niatnya akan pergi ke kota Tai-goan dan dari sana terus ke kota Peking. Ia berjalan menyusuri sungai besar itu untuk mencari tumpangan perahu yang akan dapat menyeberangkannya. Akan tetapi tepi di mana ia tiba itu sunyi, tidak ada dusun nelayan di situ. dan perahu-perahu yang sedang berlayar itu berada di tengah sungai sehingga ia tidak dapat menghubungi mereka.

Tiba-tiba ia melihat seorang kakek sedang memancing ikan. Kakek itu duduk di atas sebongkah batu di tepi sungai dan memegangi tangkai pancing dari batang bambu kecil, matanya penuh perhatian memandang joran pancingnya. Memang itulah nikmatnya seorang pemancing ikan. Memperhatikan joran pancingnya dengan penuh harapan dan begitu joran pancingnya bergerak, begitu tangan yang memegang tangkai pancing itu merasakan sentakan, itu tandanya umpan disambar ikan dan pada saat yang tepat menggerakkan tangkai pancingnya ke atas agar pancing dapat menusuk mulut ikan!

Han Li tidak mengerti tentang seni memancing ikan. Kalau pemancing ikan sedang mencurahkan segenap perhatian kepada joran pancingnya, dia sama sekali tidak boleh ditegur atau diganggu. Karena tidak tahu, Han Li menghampiri kakek itu dari belakang dan bertanya, �gKakek yang baik, tahukah engkau di mana aku bisa menyewa perahu untuk menyeberangkan aku?�h

Kakek yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada joran pancingnya dan melupakan segala yang berada di sekelilingnya itu terkejut dan marah.

�gApakah engkau tidak melihat bahwa aku sedang memancing?�h bentaknya tanpa menoleh.

Han Li terkejut. �gMaafkan kalau aku mengganggu. Kalau engkau dapat memberi keterangan padaku di mana aku dapat menyewa perahu, biarlah aku beri sedikit uang agar engkau dapat membeli ikan, daripada susah payah memancing.�h

Tapi kakek itu menjadi lebih marah lagi. �gAku butuh ikannya! Aku membutuhkan ketenangan memancingnya. Kalau aku ingin ikan, tidak usah beli dan menangkap ikan apa sih sukarnya? Kaulihat!�h Tiba-tiba kakek itu menggerakkan ujung tangkai pancingnya ke dalam air seperti orang menusuk dengan tombak dan ketika dia mengangkat tangkai pancing itu.... di ujung tangkai dari bambu itu sudah tertusuk seekor ikan besar yang menggelepar-gelepar.

Han Li terkejut sekali. Ia maklum bahwa kakek ini seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia memberi hormat dan berkata, �gHarap Locianpwe suka memaafkan kalau aku sudah mengganggu ketenangan Locianpwe.�h

�gEnak saja mengganggu ketenangan, engkau bahkan sudah menghilangkan seleraku mancing!�h Kakek itu melemparkan ikan dan tangkai pancingnya ke air lalu membalikkan tubuhnya sambil melompat berdiri. Ternyata kakek itu gemuk dan pendek sekali masih kalah tinggi dibandingkan Han Li. Wajahnya seperti kanak-kanak, telinganya lebar dan matanya kemerahan. Wajah itu mendatangkan rasa ngeri dalam hati Han Li.

Ketika kakek itu melihat Han Li, matanya terbelalak dan mulutnya menyeringai. �gAha, kiranya yang menggangguku adalah seorang gadis yang cantik jelita. Nona, engkau ini manusia ataukah penunggu sungai ini?�h

Dalam ucapan dan pandang mata itu terkandung keceriwisan seorang yang mata keranjang, maka Han Li lalu memutar tubuhnya hendak pergi dari situ tanpa menjawab pertanyaan tadi. Akan tetapi ketika ia memutar tubuh dan melangkah, tiba-tiba ada bayangan orang melewatinya dan tahu-tahu kakek itu telah berdiri di depannya.�h

�gHo-ho-ho, nanti dulu, Nona. Engkau sudah menggangguku dan hendak pergi begitu saja. Tidak bisa, tidak boleh! Engkau harus dihukum untuk gangguanmu tadi.�h

�gLocianpwe, atas kesalahan itu aku telah minta maaf dan bersedia mengganti kerugianmu. Harap Locianpwe tidak menghalangiku dan biarkan aku melanjutkan perjalananku.�h

�gHa-ha-ha, enak saja! Orang yang sudah menggangguku selagi memancing, seharusnya dihukum mati. Akan tetapi melihat engkau begini cantik, biarlah hukuman itu kuubah. Engkau tidak akan kuhukum mati, melainkan harus menjadi pelayanku selama satu minggu!�h

�gEngkau keterlaluan, Locianpwe. Aku tidak mau menjadi pelayanmu walau hanya sehari, apalagi seminggu.�h

�gHemmm, keputusan hukumanmu tidak dapat diubah lagi. Mau atau tidak engkau harus menjadi pelayanku selama semingu.�h

�gAku tidak sudi dan harap jangan halangi aku pergi!�h kata Han Li dengan marah dan ia lalu membalikkan tubuh lagi untuk meninggalkan kakek pendek gemuk itu. Akan tetapi kembali ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu telah berada di depannya lagi, mengembangkan kedua tengannya sambil menyeringai.

�gEngkau tidak boleh pergi sebelum aku membebaskanmu!�h katanya.

Han Li menjadi marah sekali. Dengan tangan kirinya ia mendorong pundak kakek itu sambil mengerahkan tenaga sinkangnya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tangannya bertemu dengan pundak yang sekokoh baja dan tubuh itu sama sekali tidak tergoyangkan dorongannya!

�gHa-ha-ha, mana bisa engkau menyuruhku pergi!�h Kakek itu mengejek.

Dalam kemerahannya, Han Li lalu menggunakan tangan kanannya untuk menampar dada kakek itu. Tamparannya ini kuat sekali karena ia mengerahkan, tenaga sin-kang.

�gWuuuuuttt....plakkk!�h Untuk kedua kalinya ia terkejut dan merasa heran. Tamparannya tadi sedemikian kuatnya sehingga akan mampu menghancurkan sebongkah batu. Akan tetapi ketika mengenai dada kakek itu, pukulannya tidak berarti sama sekali, tenaga sinkangnya seperti tenggelam dan hilang sendiri. Ini hebat! Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek sakti yang agaknya berniat jahat terhadap dirinya, Han Li lalu menyerang dengan ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah) yang dipelajari dari ibunya!

Kakek itu pun mengeluarkan seruan heran dan tubuhnya demikian cepatnya mengelak ke sana sini, lalu dia berseru sambil meloncat ke belakang. �gHei, bukankah ini Ang-ho Sin-kun? Apa hubunganmu dengan Si Bangau Merah?�h

Han Li merasa bangga bahwa kakek ini mengenal ilmu silat ibunya. �gBeliau adalah ibu kandungku!�h

�gHo-ho-ho, kebetulan sekali, tidak dapat menghajar ibunya, anaknya pun boleh mewakilinya. Nah, sekarang hukumanmu ditambah lagi. Engkau harus menjadi pelayanku selama satu bulan penuh. Tidak boleh ditawar-tawar lagi dan kelak engkau boleh bercerita kepada Si Bangau Merah bahwa engkau pernah menjadi pelayanku selama satu bulan! Ha-ha-ha!�h �gKakek yang sesat! Kalau ayahku mengetahui hal ini, engkau tentu akan dihajar sampai setengah mampus! Ayah kandungku adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han!�h

�gHa-ha-ha, aku sudah tahu karena aku mendengar bahwa Si Bangau Merah telah menikah dengan Si Tangan Sakti. Karena itu, sampai hari ini perasaan penasaran di hatiku kupendam saja. Dan sekarang engkau muncul tanpa kusangka-sangka.

Biarlah rasa penasaran ini kutumpahkan kepadamu!�h

�gApa kesalahan ibuku sehingga engkau hendak membalas dendam melalui penghinaan atas diriku?�h�gDulu, di waktu mudanya, Si Bangau Merah pernah mencampuri urusanku dan membikin malu sehingga belasan tahun aku tidak ada muka untuk muncul di dunia kang-ouw. Akan tetapi sekarang, ha-ha-ha, biar ia dibantu suaminya, aku tidak akan merasa gentar. Nah, hayo cepat berlutut dan beri hormat kepada majikanmu!�h

�gAku tidak sudi!�h jawab Han Li.

�gKalau begitu aku akan memaksamu berlutut!�h Kakek itu lalu menggerakkan tangan kirinya ke arah pundak Han Li. Han Li cepat mengelak, akan tetapi tetap saja merasa pundaknya dilanda angin yang mengandung hawa panas. Ia meloncat ke belakang dan cepat mencabut pedangnya. �gKalau engkau tidak menghentikan perbuatanmu, terpaksa pedangku ikut bicara!�h

�gHa-ha-ha, pedang mainan kanak-kanak itu kaupakai untuk menakut-nakuti aku? Ha-ha-ha-ho-ho!�h

Han Li maklum bahwa kakek ini sudah nekat, maka ia lalu memainkan ilmu silat Koai-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang ia pelajari dari ibunya pula. ilmu pedang ini hebat bukan main, ketika ia menggerakkan pedangnya, pedang itu mengaum-aum seperti seekor singa marah. Pedangnya berkelebatan dan membentuk gulungan sinar pedang yang dahsyat. Ilmu pedang ini berasal dari Lembah Naga Siluman yang dikuasai oleh Kam Hong. Kam Hong mengajarkan kepada puterinya, Kam Bi Eng dan Kam Bi Eng menurunkan kepada Tan Sian Li Si Bangau Merah. Kini Tan Sian Li menurunkan kepada puterinya, Yo Han Li.

Sebetulnya, ilmu pedang ini merupakan gabungan ilmu pedang dan ilmu silat suling dan biasanya Tan Sian Li memainkannya dengan sebatang suling berselaput emas. Akan tetapi Yo Han Li tidak suka menggunakan suling maka oleh ibunya lalu diganti pedang. Biarpun dengan pe dang ilmu itu menjadi Ilmu Pedang Naga Siluman namun unsur-unsur ilmu Suling Emas masih terkandung di dalamnya, maka kehebatannya luar biasa.

Kakek itu berilmu tinggi karena sesungguhnya dia adalah seorang tokoh datuk selatan yang berjuluk Lam-hai Koai-jin (Orang Aneh Laut Selatan). Biarpun usianya sudah enam puluh tahun namun wajahnya seperti kanak-kanak dan wataknya keras, bahkan dia mempunyai watak mata keranjang pula. Melihat Han Li yang demikian cantiknya, timbul nafsunya dan ingin dia mempermainkan gadis itu. Apalagi ketika mendengar bahwa gadis itu puteri Si Bangau Merah, nafsunya makin menjadi. Dahulu, dua puluhan tahun yang lalu, ketika dia masih bertualang di selatan, pernah dia bertemu dengan Si Bangau Merah dan hendak mempermainkannya, akan tetapi dia dikalahkan oleh pendekar wanita itu. Maka, kini dia hendak membalas dendamnya kepada puteri musuh besarnya itu.

Namun, menghadapi permainan pedang Han Li, kakek itu menjadi sibuk dan kewalahan juga. Setelah berloncatan mundur dan ke kanan kiri untuk mengelak, akhirnya dia menyambar tangkai pancingnya dan dengan senjata istimewa ini dia melakukan perlawanan. Tangkai pancing dari bambu itu bersiutan menyambar-nyambar dan dapat dipergunakan untuk menangkis pedang lawan tanpa khawatir patah atau putus. Juga tangkai pancing itu lebih panjang dari pedang sehingga kakek itu lebih leluasa menyerang Han Li.

Gadis ini terkejut bukan main. Ia memang sudah menduga bahwa kakek itu lihai sekali, akan tetapi sama sekali tidak mengira, bahwa dengan tangkai pancing bambu seperti itu kakek itu mampu melawan bahkan mendesaknya! Ujung tangkai itu kini menyerang dengan totokan-totokan ke arah jalan darahnya. Selain itu, juga tangkai pancing itu berputar-putar seperti dayung lebar dan ujungnya seperti seekor lebah yang mengancam kepala dan lehernya.

Pada saat yang amat gawat bagi Han Li, tiba-tiba terdengar suara tawa terkekeh-kekeh, �gHeh-heh-heh, datuk Lam-hai Koai-jin sekarang telah menjadi seorang pengecut yang menyerang seorang gadis yang pantas menjadi cucunya!�h

Mendengar suara tawa ini, kakek itu menahan gerakan tangkai pancingnya dan kesempatan ini dipergunakan oleh Han Li yang sudah terdesak itu untuk melompat ke belakang. Ternyata yang datang dan tertawa itu adalah seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun, tubuhnya tinggi kurus seperti orang kurang makan, pakaiannya juga penuh tambalan walaupun bersih dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu. Dari pakaiannya saja sudah dapat diduga bahwa kakek ini seorang pengemis. Rambutnya sudah putih semua dibiarkan tergantung di sekeliling pundak dan lehernya.

Melihat pengemis tua ini, Lam-hai Koai-jin terkejut. dan segera mengenalnya. �gLu Tong Ki, gembel tua bangka busuk, mau apa engkau mencampuri urusanku? Gadis ini telah mengganggu aku yang sedang enak-enak memancing ikan,maka perlu kuberi hukuman. Bukankah itu sudah adil?�h�gMemang adil, heh-heh-heh. Akan tetapi bagaimana caranya gadis ini mengganggumu dan hukuman apa yang hendak kauberikan kepadanya?�h

�gIa mengganggu ketenanganku memancing ikan.�h

�gDia bohong, Kek!�h Han Li cepat berkata. �gAku hanya menghampiri dia dan bertanya di mana aku bisa mendapatkan tukang perahu untuk menyeberangkan aku ke seberang sana. Tahu-tahu dia marah dan menyerangku!�h

�gHeh-heh-heh, dan hukuman apa yang akan kauberikan kepada Nona ini, Koai-jin?�h

�gAku hanya minta agar ia menjadi pelayanku selama beberapa hari....�h

�gTidak begitu, Kek. Dia minta aku berlutut di depannya sebagai majikanku dan dia hendak menjadikan aku pelayannya selama satu bulan!�h kata pula Han Li dengan suara nyaring.

�gWah-wah-wah, ini sudah keterlaluan sekali namanya. Tidak malukah engkau, Koai-jin, menghina dan mengganggu seorang gadis muda seperti itu?�h

�gKai-ong (Raja Pengemis), jangan engkau usil dan mencampuri urusanku atau terpaksa aku harus menghajarmu pula!�h

Kakek yang bernama Lu Tong Ki yang berjuluk Kai-ong itu tertawa panjang. �gHeh-heh-heh-heh-heh! Engkau hendak menghajarku? Sejak kapan engkau berani mengeluarkan kesombongan seperti itu? Dan bagaimana engkau hendak menghajarku? Dengan apa?�h

�gDengan ini!�h Lam-hai Koai-jin berteriak marah sambil menggerakkan tangkai pancingnya. Kalau tadi ketika melawan Han Li dia menggenggam pancingnya sehingga pancing itu tidak akan melukai Han Li, sekarang dia melepaskan pancingnya sehingga ketika dia menyerang, pancing berupa kaitan besi kecil menyambar dahsyat ke arah muka Kai-ong. Akan tetapi Lu Tong Ki bersikap tenang sekali. Begitu pancing itu menyambar dekat, tongkat bambu di tangannya bergerak.

Trakkk!�h Pancing itu terpental ketika tertangkis tongkat bambu itu dan selanjutnya kedua kakek itu saling menyerang dan tubuh mereka berkelebatan dengan cepat sekali. Bagi orang biasa yang melihatnya, tentu tidak akan mampu mengikuti gerakan, mereka karena dua orang itu seperti berubah menjadi bayang-bayang saja. Akan tetapi Han Li sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silat maka ia dapat mengikuti gerakan mereka dan ia merasa kagum bukan main. Kedua orang kakek itu mempergunakan kecepatan gerakan mereka untuk memperoleh kemenangan dan agaknya dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) keduanya seimbang. Sinar tongkat bergumul dengan sinar tangkai pancing sedangkan pancingnya sendiri sudah sejak tadi putus talinya. Karena tidak mampu menang dalam hal kecepatan gerakan, Lam-hai Koai-jin lalu memperlambat gerakannya dan kini dia menggerakkan tangkai pancingnya dan juga menggerakkan tangan kirinya yang terisi penuh tenaga sin-kang. Melihat ini, Lu Tong Ki juga mengimbangi lawan dan dia pun mengerahkan tenaga sin-kang untuk menandingi pukulan Koai-jin. Mereka ini saling pukul dan suara pukulan mereka menderu-deru, membuat pohon-pohon di sekeliling mereka bergoyang dan daunnya runtuh berguguran. Dengan penasaran sekali Koai-jin melempar tangkai pancingnya dan kini tubuhnya berjongkok. Tubuh yang pendek itu berjongkok sampai pantatnya hampir menyentuh tanah dan dalam keadaan berjongkok itu dia memukulkan kedua tangannya yang terbuka ke depan, dan dari dalam mulutnya terdengar suara �gkok-kok-kok!�h nyaring sekali. Han Li merasa geli karena sikap dan suara Koai-jin seperti seekor katak besar yang menggembung perutnya.

Akan tetapi agaknya Kai-ong tidak memandang rendah serangan seperti katak besar ini. Dia pun menancapkan tongkatnya ke atas tanah, menekuk kedua lututnya dan dia juga mendorongkan kedua tangannya untuk menyambut serangan lawan.

Jarak di antara mereka ada dua meter, akan tetapi ketika dua tenaga dahsyat itu bertemu, Han Li merasa ada getaran hebat melanda dirinya sehingga ia cepat duduk bersila dan mengarahkan sin-kang agar jangan sampai terluka. Ia melihat betapa kedua orang kakek itu tergetar, akan tetapi tubuh Koai-jin terpental dan bergulingan ke belakang sedangkan tubuh Kai-ong hanya bergoyanggoyang saja.

Lam-hai Koai-jin terpental masuk ke dalam sungai. Terdengar suara berjebur dan tubuhnya lenyap ditelah air. Han Li cepat berlari ke tepi sungai dan melihat. Ternyata tubuh itu tidak tersembul kembali.

�gAh, dia mati Kek....?�h tanyanya kepada Kai-ong yang juga sudah berdiri di dekatnya memandang ke air sungai yang dalam itu.

�gHeh-heh-heh, dia mati? Hemmm, agaknya engkau belum mengenal siapa Lam-hai Koai-jin. Dia datuk besar Laut Selatan, bagaimana bisa mati tercebur ke dalam sungai? Tidak, saat ini dia pasti sudah muncul jauh dari sini, entah berapa jauhnya karena ketika tercebur tadi, dia menyelam. Dia memang seekor katak buduk besar yang lihai!�h

�gAhhh....!�h Gadis itu berseru kagum. �gAkan tetapi engkau telah dapat mengalahkannya, Locianpwe!�h Han Li menyebut locianpwe untuk menghormati kakek pengemis yang ternyata amat sakti itu. �gHeh-heh-heh, jangan sebut aku Locianpwe atau aku tidak akan sudi bicara denganmu. Namaku Lu Tong Ki, sebut saja aku kakek atau Kai-ong karena memang itu julukanku jelek-jelek aku ini raja lho, walaupun hanya raja pengemis, heh-heh-heh!�h

�gBaiklah, aku akan menyebutmu Kakek atau Kai-ong. Aku berterima kasih sekali kepadamu, Kakek, karena kalau engkau tidak datang mengusir Katak Buduk itu, entah apa jadinya dengan diriku.�h

Kai-ong menggeleng-geleng kepalanya dan mulutnya mengeluarkan suara �gtak, tak, tak, engkau tentu akan celaka sekali! Katak Buduk itu memang jahat, orang yang paling jahat di selatan dan sampai tua tetap saja dia mata keranjang dan jahat sekali. Akan tetapi aku melihat ilmu pedangmu hebat sekali, dan ilmu pedang seperti itu setahuku hanyalah Koai-liong-kiam-sut. Benarkah demikian?�h

�gPandanganmu tajam sekali, Kek. Memang benar aku tadi memainkan Koai-liong Kiam-sut.�h

�gAha! Kalau begitu, apa hubungannya dengan Lembah Naga Siluman? Bukankah ilmu itu milik Pendekar Suling Emas dan Naga Siluman, Locianpwe Kam Hong?�h

�gBeliau adalah kakek buyutku, Kek.�h

Raja Pengemis itu nampak girang bukan main. �gKalau begitu engkau tentu puteri Si Bangau Merah dan Pendekar Tangan Sakti, bukan?�h

�gBenar sekali.�h

�gHeh-heh-heh, pantas saja Katak Buduk tadi hendak menghinamu karena aku mendengar dia pernah dikalahkan ibumu.�h

�gDia juga mengatakan demikian tadi, Kek.�h�gEngkau hendak ke manakah dan siapa pula namamu?�h

�gNamaku Yo Han Li, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke kota raja. Aku tadi mencari tukang perahu untuk menyewa perahunya menyeberangi sungai ini.�h

�gWah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku pun hendak ke kota raja, sudah terlalu lama aku tidak menikmati masakan di dapur istana. Dan aku mempunyai sebuah perahu kecil. Tuh di sana perahuku. Han Li, maukah engkau menyeberang bersamaku dan melakukan perjalanan bersamaku ke kota raja?�h

�gTentu saja aku mau, Kek. Akan tetapi....�h Ia memandang pakaian kakek itu. Aku tidak mau kalau kau ajak mengemis. Aku membawa bekal uang cukup banyak.�h

"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Biarpun pengemis, aku ini rajanya, tahu? Mana ada seorang raja mengemis!�h

�gAkan tetapi pakaianmu itu, Kek. Penuh tambalan. Biar nanti kubelikan pakaian yang lebih pantas untukmu.�h

�gOho, kau kira yang kupakai ini pakaian apa? Ini adalah pakaian kebesaranku sebagai Raja Pengemis, tahukah engkau? Biar ditukar dengan pakaian kaisar sekalipun, aku tidak akan mau. Dan di dalam buntalan ini masih ada beberapa stel pakaian kebesaran. Jangan khawatir, aku setiap hari mandi dan bertukar pakaian. Biar pengemis, aku bukan pengemis busuk, heh-heh-heh!�h Wajah Han Li berubah kemerahan. �gAku pun tidak mengatakan engkau demikian, Kek. Akan tetapi, orang melakukan perjalanan harus ada hubungannya. Sedangkan aku tidak mempunyai hubungan apa pun denganmu. Bagaimana kalau aku menyebut suhu dan menjadi muridmu? Sebagai suhu dan muridnya, tentu tidak aneh melakukan perjalanan bersama.�h

Kakek itu tertawa dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Li. �gGadis cerdik, engkau ingin aku mengajarkan ilmu silat kepadamu? Bagaimana kalau kelak Pendekar Tangan Sakti dan Si Bangau Merah mengetahui? Tentu mereka akan menjadi marah kepadaku.�h

�gTidak, aku jamin. Kalau orang tuaku bertanya, aku akan mengaku bahwa akulah yang ingin menjadi muridmu, bukan engkau yang minta aku menjadi muridmu.�h

�gHeh-heh-heh, engkau memang cerdik sekali.�h

Melihat kakek itu tidak membantah lagi, Yo Han Li lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek iti sambil menyebut �gsuhu�h. Lu Tong Ki segera membangunkan Han Li.

�gSudahlah, tidak perlu banyak memakai peradatan. Aku memang suka menerimamu menjadi murid. Engkau puteri sepasang pendekar besar dan engkau berbakat sekali. Akan tetapi, yang dapat menandingi ilmu-ilmumu hanya sebuah saja padaku, yaitu Ta-kwi-tung (Tongkat Pemukul Iblis). Itulah yang akan kuajarkan kepadamu sambil melakukan perjalanan ke kota raja.�h

"Terima kasih, Suhu.�h

�gNah, sekarang mari kita seberangi sungai ini, Han Li.�h kata kakek itu sambil meloncat ke dalam sebuah perahu kecil yang berada di pantai. Kiranya kakek itu tadi datang berperahu. Han Li juga menyusul Lu Tong Ki meloncat kedalam perahu. Kalau tadi ketika kakek itu meloncat, perahu sama sekali tidak bergoyang seolah yang hinggap di perahu itu hanya seekor burung. Akan tetapi ketika Han Li meloncat, perahu itu bergoyang sedikit. Ini saja menunjukkan bahwa dalam hal gin-kang, kakek itu telah memiliki ilmu yang tinggi sekali. Karena perahu itu hanya mempunyai sebuah dayung, Han Li lalu meminta dayung itu dari gurunya dan sebagai seorang murid yang baik, ialah yang mendayung perahu itu menyeberang ke pantai timur. Lu Tong Ki tidak membantah dan membiarkan muridnya mendayung perahu itu. Perahu meluncur dengan cepatnya karena Han Li mengerahkan sin-kang untuk mendayung perahu itu.





Ketika perahu itu tiba di seberang sungai, dari perahu mereka dapat melihat seorang wanita berpakaian putih sedang dikeroyok oleh belasan orang yang memegang pedang. Wanita itu bersenjatakan sabuk sutera putih dan gerakannya ringan seperti seekor burung bangau putih. Namun, belasan orang pengeroyoknya itu membentuk barisan pedang yang lihai sekali sehingga wanita itu agaknya berada dalam keadaah berbahaya dan ke manapun ia bergerak, selalu ia bertemu dengan pedang para pengeroyok yang sudah mengepungnya dengan barisan yang teratur rapi.

Kai-ong Lu Tong Ki berkata kepada Han Li. �gHan Li, kalau melihat perkelahian itu, apa yang akan kulakukan? Kau hendak membantu pihak yang mana?�h

Han Li berdiri di perahu dan memandang sejenak. �gAku akan melerai dan menegur belasan orang yang mengeroyok seorang wanita itu, Suhu. Kalau mereka tidak mau menurut, tentu aku akan membantu wanita itu. Ia amat lihai, akan tetapi para pengeroyoknya menggunakan barisan yang amat kuat.�h

�gEngkau benar dan lakukanlah!�h kata kakek pengemis itu sambil tersenyum. Mendengar ucapan gurunya, Han Li segera melompat ke darat dan lari menghampiri mereka yang sedang bertanding. Han Li telah mencabut pedangnya dan menerjang para pengeroyok sambil berseru, �gTahan senjata!�h Dua orang pengeroyok yang pedangnya bertemu dengan Han Li terkejut karena pedang mereka terpental, hampir terlepas dari pegangan. Yang lain lalu berhenti mengeroyok gadis berpakaian putih yang bukan lain adalah Souw Cu In itu �gBerhenti dulu!�h kata Han Li sambil memandang kepada Cu In. �gKalian ini belasan orang laki-laki mengapa mengeroyok seorang wanita? Itu curang namanya!�h

�gSiapa kau berani mencampuri urusan kami?�h

�gTidak peduli aku siapa akan tetapi kalau melihat kecurangan aku tidak akan tinggal diam. Kalau kalian ini bertanding satu lawan satu aku tentu tidak akan campur tangan.�h

�gPerempuan ini lancang. Hajar saja!�h terdengar teriakan mereka dan kembali mereka bergerak dengan teratur dan menggerakkan pedang untuk menyerang, sekali ini bukan hanya Cu In yang dikeroyok, akan tetapi juga Han Li.

Han Li menggerakkan pedangnya dan Cu In menggerakkan sabuk suteranya. Gerakan kedua orang gadis ini begitu hebatnya sehingga barisan pedang itu mulai menjadi kacau.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan semua pengeroyok mengundurkan diri mendengar bentakan ini dan di situ telah muncul seorang kakek berusia enam puluhan tahun yang memegang sebatang tongkat dan mendatangi tempat itu dengan terpincangpincang. Ternyata kaki kiri kakek ini timpang sehingga jalannya terpincang-pincang. Melihat kakek itu, Cu In terkejut karena dia mengenal kakek itu sebagai Toat-beng Kiam-sian Lo Cit yang amat lihai itu. Baru-baru ini dia dan Keng Han dapat meloloskan diri dari pengeroyokan kakek ini bersama anak buahnya. Tadi ketika dia menyeberangi sungai dan di daratan timur bertemu dengan belasan orang itu yang mengeroyoknya dengan pedang, dia sudah menduga bahwa mereka tentulah anak buah Kwi-kiam-pang. Agaknya di antara mereka ada yang mengenal ia yang pernah bermusuhan dengan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit.

�gHa-ha-ha, kiranya engkau!�h Kakek itu menuding ke arah Cu In. �gSekarang jangan harap engkau akan dapat lolos dari tanganku!�h

Berkata demikian kakek itu lalu menggerakkan tongkat pedangnya menyerang Cu In. Gadis ini mengelak dan Han Li membantu, akan tetapi para anak buah Kwi-kiam-pang sudah maju pula mengeroyoknya. Serangan Lo Cit terhadap Cu In amat hebatnya sehingga dalam waktu pendek saja Cu In sudah terdesak hebat. Juga Han Li yang dikeroyok anak buah Kwi-kiam-pang yang mernbentuk barisan telah terdesak.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa. �gHa-ha-ha, Pangcu dari Kwi-kiam-pang ternyata hanyalah seorang pengecut yang mengeroyok dua orang gadis muda!�h

Mendengar ucapan itu, Toat-beng Kiam-sian Lo Cit meloncat mundur untuk melihat. Ketika melihat seorang kakek berpakaian tambal-tambalan, dia mengerutkan alisnya. Dia menudingkan tongkat pedangnya ke arah muka pengemis itu dan membentak, �gBukankah engkau Lu Tong Ki yang di juluki Kai-ong? Mau apa engkau mencampuri urusan pribadiku!�h

�gHeh-heh-heh, tentu saja aku mencampuri karena yang dikeroyok itu adalah muridku. Bebaskan kedua orang gadis itu dan aku tidak akan mencampuri urusanmu lagi.�h

Lo Cit sebetulnya merasa jerih terhadap kakek yang namanya terkenal sekali di antara para datuk itu, akan tetapi dia berbesar hati karena di situ terdapat belasan orang murid-murid utamanya yang sudah pandai membentuk barisan pedang yang amat lihai.

�gKalahkan dulu kami kalau engkau ingin bebas!�h tantangnya dan dia sudah menggerakkan pedang yang tersembunyi dalam tongkatnya itu untuk menyerang Kai-ong. Melihat pimpinan mereka sudah menyerang kakek pengemis yang baru tiba itu, anak buah Kwi-kiam-pang kembali menyerbu ke arah Cu In dan Han Li. Dua orang gadis itu menggerakkan senjata mereka dan bekerja sama melakukan perlawanan.

Pertempuran antara Lo Cit melawan Kai-ong amat ramai dan hebatnya. Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang, hanya Kai-ong memiliki kecepatan yang lebih dari lawannya sehingga serangan tongkatnya membuat Li Cit agak kewalahan. Biarpun ilmu pedang Lo Cit amat dahsyat, akan tetapi karena gerakannya kalah cepat, dialah yang terdesak.

Sementara itu, setelah kini dibantu Han Li, Cu In mengamuk dan dapat mendesak para pengeroyoknya. Anak buah Kwi-kiam-pang yang membentuk kiamtin (barisan pedang) mulai kacau dan kocar-kacir diamuk dua orang gadis perkasa itu.

Namun Kai-ong agaknya maklum bahwa kalau datang lebih banyak anak buah Kwi-kiam-pang, tentu keadaan mereka menjadi berbahaya sekali. Juga dia maklum bahwa Dewa Pedang itu mempunyai anak perempuan dan murid yang lihai. Kalau mereka datang mengeroyok, kekuatan mereka bertambah dan tentu dia bersama dua orang gadis itu menjadi repot, dia memutar tongkatnya dengan cepat membuat Lo Cit terkejut dan mundur.

�gLo Cit, biarlah lain kali saja kita lanjutkan perkelahian ini, aku masih mempunyai banyak urusan. Han Li dan engkau Nona, mari kita pergi!�h

Sebetulnya Han Li dan Cu In merasa heran mengapa orang tua itu mengajak mereka pergi, padahal keadaan mereka tidak kalah, bahkan sedang mendesak lawan. Akan tetapi Han Li tidak berani membantah perintah gurunya.

�gEnci, mari kita pergi!�h ajaknya kepada Cu In. Cu In sendiri maklum bahwa tanpa bantuan gadis dan gurunya itu, tentu ia akan celaka di tangan musuh, maka ia pun melompat keluar dari gelanggang perkelahian dan mengikuti Han Li yang sudah melarikan diri bersama gurunya.

Melihat tiga orang itu melarikan diri, Lo Cit yang tahu diri tidak mengejar. Keadaannya tadi sudah terdesak, jelas kekuatan musuh lebih besar. Mengejar berarti mencari penyakit, maka dia pun tidak mau mengejar, dan mengajak anak buahnya untuk kembali ke bukit Kwi-san.

Setelah yakin bahwa mereka tidak dikejar, Kai-ong berhenti berlari dan dua orang gadis itu pun berhenti. Kai-ong tertawa-tawa, �gHeh-heh-heh, baru sekali ini aku berlari-larian seperti orang dikejar anjing!�h

�gAkan tetapi, Suhu. Kita sama sekali tidak kalah, malah kita mendesak lawan, kenapa Suhu mengajak kami melarikan diri?�h

�gBenar, Locianpwe, orang-orang Kwi-kiam-pang adalah orang-orang jahat yang perlu dihajar. Kenapa Locianpwe mengajak kami melarikan diri?�h tanya pula Cu In dengan hati penasaran.

�gHeh-heh-heh, kalian tahu. Kalau aku mengajak kalian melarikan diri itu adalah untuk keselamatan kalian! Aku mengenal Kwi-kiam-pang. Selain mereka itu lihai, juga mereka licik dan curang sekali, suka mempergunakan alat-alat rahasia dan jumlah mereka banyak. Kalau yang lain-lain berdatangan, bagaimana aku akan mampu menyelamatkan kalian. Lebih baik pergi selagi mereka terdesak sehingga mereka tidak berani mengejar, heh-heh-heh!�h

�gSudah lama aku mendengar kecerdikan Kai-ong, dan ternyata memang Locianpwe cerdik sekali!�h puji Cu In. �gEh? Engkau mengenal nama julukanku?�h

�gSudah lama aku mengenalnya, Locianpwe dan hari ini aku beruntung mendapat pertolongan Locianpwe dan Adik ini.�h

�gEnci, tidak ada kata tolong-menolong. Sudah menjadi kewajiban kami untuk turun tangan menentang yang jahat. Enci, namaku Yo Han Li, dan bolehkah kami tahu siapa nama Enci?�h

�gHemmm, melihat ilmu pedangmu tadi engkau tentu puteri dari Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan Si Bangau Merah, bukan?�h

�gAh, Enci ternyata berpandangan luas dan memiliki banyak pengalaman sehingga mengenal pula ilmu pedangku. Siapakah engkau, Enci yang baik?�h

�gNamaku Souw Cu In dari Beng-san.�h

�gHe-he-heh, engkau dari Beng-san? Melihat sepak terjangmu yang hebat dengan sabuk suteramu, tentu engkau ini murid Ang Hwa Nio-nio. Benurkah?�h

Cu In memberi hormat. �gLocianpwe berpandangan luas dan tentu mengenal Subo.�h

Kai-ong mengerutkan alisnya. �gHemm, siapa tidak mengenal Ang Hwa Nio-nio dan muridnya Bi-kiam Nio-cu yang tanpa berkedip suka membunuhi orang? Nama mereka terkenal sekali!�hMendengar ini, Cu In juga mengerutkan alisnya. Ia sendiri harus mengakui bahwa subonya dan sucinya amat kejam terhadap kaum pria. Salah sedikit saja tentu akan mereka bunuh! Ia sendiri tidak demikian dan selalu menentang perbuatan yang kejam itu. dan karena ini pula ia selalu menyembunyikan mukanya agar tidak dilihat pria dan tidak ada pria yang tertarik kepadanya, agar dia tidak usah menyakiti atau membunuh pria itu.

�gSubo dan suci memang tersohor, aku lebih suka tidak dikenal orang. �g katanya perlahan dan suaranya mengandung penyesalan besar. �gSekarang aku harus pergi, dan sekali lagi terima kasih atas pertolongan Ji-wi (Kalian)!�h Setelah berkata demikian, gadis berpakaian putih itu lalu berkelebat lenyap dari situ. Han Li menghela napas panjang. �gSayang sekali ia pergi. Aku ingin berkenalan lebih lanjut dan ingin melihat wajahnya, Suhu.�h

�gAh, sudahlah. Lebih baik ia lekas pergi dan tidak bersama kita agar kita tidak berurusan dengannya. Ia menyembunyikan mukanya tentu bukan tanpa sebab, apalagi kalau mengingat watak suci dan subonya.�h

�gKenapa suci dan subonya, Suhu?�h

�gMereka adalah pembunuh-pembunuh kejam. Kalau ada laki-laki berani menegur atau memuji atau bahkan memandang mereka terlalu lama laki-laki itu tentu akan dibunuhnya! Mereka itu pembenci kaum pria yang sudah hampir gila barangkali!�h �gAhhh....! Akan tetapi aku melihat enci Souw Cu In tadi begitu lemah lembut dan aku yakin dia pasti memiliki wajah yang cantik sekali.�h

�gHemmm, siapa tahu? Menurut pengalamanku, wanita yang memiliki wajah cantik tentu selalu ingin memamerkan kecantikannya itu, bukan malah disembunyikan di balik cadar. Aku ragu apakah ia memiliki wajah cantik, seperti yang kauduga!�h

�gAkan tetapi, wajahnya bagian atas demikian indahnya, terutama sepasang matanya. Tidak mungkin kalau dari hidung ke bawah tidak sempurna.�h

�gSudahlah, bagaimanapun juga, ia hendak menyembunyikan diri di balik cadar. Itu adalah haknya. Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan kita.�h

Guru dan murid ini melanjutkan perjalanan dan makin lama Han Li semakin sayang kepada gurunya. Gurunya bersikap manis budi, lemah lembut dan mengajarkan ilmu tongkat dengan sungguh-sungguh. Ia merasa seolah melakukan perjalanan bersama kakeknya sendiri.



Para pendekar dan ketua perkumpulan persilatan besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai dan yang lain-lain merasa heran sekali melihat sikap Thian It Tosu ketua Bu-tong-pai yang secara tiba-tiba begitu bersemangat untuk memberontak terhadap kerajaan Ceng. Dan yang lebih mengherankan mereka lagi adalah betapa ketua ini sekarang tidak segan untuk bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Bahkan banyak tokoh Bu-tong-pai sendiri merasa heran akan sikap ketua mereka ini. Akan tetapi karena Thian It Tosu mempunyai alasan yang kuat, yaitu untuk berjuang harus menyatukan segala kekuatan, mereka pun tidak berani membantah.

Pada suatu hari Thian It Tosu memanggil para sute dan muridnya dalam suatu rapat. Ketua Bu-tong-pai ini masih merasa tidak enak dan tidak sehat badannya sehingga suaranya juga masih parau. "Pinto merasa tidak sehat dan untuk memulihkan kesehatan, pinto harus beristirahat dan bersamadhi. Selama pinto bersamadhi, tidak seorang pun boleh mengganggu pinto.�h

Para sute dan murid menyatakan setuju dan tidak akan melanggar perintah ketua itu. Thian It Tosu yang bertubuh tinggi besar itu menghela napas lega.

�gMasih ada satu pesanan lagi. Kalau dalam beberapa hari ini datang seorang pemuda bernama Gulam Sang, harap kalian menerimanya sebagai seorang tamu kehormatan dan melayaninya sebaik-baiknya. Dia adalah seorang tokoh Lama Jubah Kuning yang berilmu tinggi dan dia sudah menjanjikan kerja sama dengan pinto. Para Lama Jubah Kuning akan menjadi sekutu kita dalam perjuangan.�h

Kembali semua orang menyatakan taat akan pesan itu. Dan sejak hari itu Thian It Tosu mengurung diri di dalam sebuah ruangan tertutup untuk bersamadhi.

Pesan Thian It Tosu benar terjadi. Tiga hari kemudian muncullah seorang pemuda gagah dan tampan, bermuka bundar dengan mata lebar, di Bu-tong-pai dan mengaku bernama Gulam Sang.

�gAku bernama Gulam Sang berasal dari Tibet. Aku sudah menerima pesan dari Thian It Tosu untuk bergabung di sini. Dapatkah aku bertemu dengan Thian It Tosu?�h�gKetua kami sedang bersamadhi dan sama sekali tidak boleh diganggu, akan tetapi beliau sudah memesan kepada kami agar menerima Kongcu (Tuan Muda) sebagai tamu terhormat. Silakan Kongcu menanti di sini sampai suhu keluar dari tempat pertapaannya sehingga dapat bertemu dan bicara.�h

�gAh, tidak mengapa kalau begitu. Memang tidak baik mengganggu pangcu (ketua) yang sedang bersamadhi. Baiklah, aku akan tinggal di sini menunggu sampai beliau keluar dan aku dapat melewatkan waktuku dengan berjalan-jalan menikmati keindahan Pegunungan Bu-tong-pai. Para tosu dan murid Bu-tong-pai diam-diam merasa heran dan tidak senang karena Gulam Sang yang dikatakan seorang tokoh Lama Jubah Kuning itu ternyata minum arak dan makan daging.

Ketika Gulam Sang melihat keheranan mereka, dia tertawa dan memberi alasan. �gDahulu aku memang seorang pendeta Lama yang tentu saja pantang minum arak dan makan daging. Akan tetapi karena sekarang aku menjadi orang biasa, bukan pendeta lagi, maka pantangan itu pun aku tinggalkan.�h

Dan setiap hari Gulam Sang meninggalkan Bu-tong-pai, setelah hari mulai gelap baru kembali. Tak seorang pun mengetahui apa saja yang dikerjakan orang aneh ini.

Tiga hari kemudian, Thian It Tosu keluar dari ruangan samadhinya. Selama tiga hari itu, hanya seorang saja diperbolehkan memasuki ruangan samadhi, yaitu Thian Tan Tosu, seorang sutenya, untuk mengirim makanan. Tentu saja begitu keluar dari ruangan samadhinya,

�gKetua kami sedang bersamadhi dan sama sekali tidak boleh diganggu, akan tetapi beliau sudah memesan kepada kami agar menerima Kongcu (Tuan Muda) sebagai tamu terhormat. Silakan Kongcu menanti di sini sampai suhu keluar dari tempat pertapaannya sehingga dapat bertemu dan bicara.�h

�gAh, tidak mengapa kalau begitu. Memang tidak baik mengganggu pangcu (ketua) yang sedang bersamadhi. Baiklah, aku akan tinggal di sini menunggu sampai beliau keluar dan aku dapat melewatkan waktuku dengan berjalan-jalan menikmati keindahan Pegunungan Bu-tong-pai. Para tosu dan murid Bu-tong-pai diam-diam merasa heran dan tidak senang karena Gulam Sang yang dikatakan seorang tokoh Lama Jubah Kuning itu ternyata minum arak dan makan daging.

Ketika Gulam Sang melihat keheranan mereka, dia tertawa dan memberi alasan. �gDahulu aku memang seorang pendeta Lama yang tentu saja pantang minum arak dan makan daging. Akan tetapi karena sekarang aku menjadi orang biasa, bukan pendeta lagi, maka pantangan itu pun aku tinggalkan.�h

Dan setiap hari Gulam Sang meninggalkan Bu-tong-pai, setelah hari mulai gelap baru kembali. Tak seorang pun mengetahui apa saja yang dikerjakan orang aneh ini. Tiga hari kemudian, Thian It Tosu keluar dari ruangan samadhinya. Selama tiga hari itu, hanya seorang saja diperbolehkan memasuki ruangan samadhi, yaitu Thian Tan Tosu, seorang sutenya, untuk mengirim makanan. Tentu saja begitu keluar dari ruangan samadhinya,

Thian It Tosu menerima pelaporan tentang kunjungan Gulam Sang.

�gBiarkanlah kalau dia pergi setiap hari, karena tentu dia ada hubungannya dengan usaha perjuangan kita. Kalau dia pulang, suruh Thian Tan Tosu mengantarnya memasuki kamar samadhiku. Pinto akan menemuinya di sana.�h Tidak lama Thian It Tosu keluar, setelah menerima laporan-laporan, dia pun masuk lagi ke dalam kamar itu. Dan sore harinya, Gulam Sang pulang ke Bu-tong-pai. Para tosu memberitahu kepadanya bahwa Thian It Tosu tadi memesan agar dia diajak masuk ke ruangan samadhi. Gulam Sang menjadi gembira dan diantar oleh Thian Tan Tosu, dia pun masuk ke dalam ruangan samadhi itu.

Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang mereka bicarakan. Bahkan Thian Tan Tosu juga tidak tahu karena setelah membawa Gulam Sang masuk, dia pun disuruh keluar lagi. Sampai jauh malam barulah Gulam Sang keluar dari ruangan itu lalu memasuki kamarnya sendiri.

Pada keesokan harinya, Gulam Sang berpamit dari para tosu karena dia hendak pergi ke kota raja untuk mengadakan kontak hubungan dengan sekutunya di sana.

�gMalam tadi hal itu sudah kubicarakan dengan Thian It Tosu dan kau sudah berpamit kepadanya. Kalau beliau keluar, katakan saja bahwa aku sudah berangkat ke kota raja.�h demikian pesannya kepada para tosu Bu-tong-pai.�h

Dan setelah Gulam Sang berangkat pergi, pada keesokan harinya Thian It Tosu sudah keluar dari kamar samadhinya dan memimpin Bu-tong-pai seperti biasa. Akan tetapi banyak terjadi hal yang membingungkan para tosu yang lain. Thian It Tosu seringkali menerima kunjungan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan bahkan tokoh-tokoh dari dunia sesat! Mereka tidak diijinkan hadir dalam pertemuan itu sehingga tidak tahu apa yang dibicarakan oleh ketua mereka dengan tokoh-tokoh sesat itu. Dan para tosu Bu-tong-pai hanya dapat merasa heran dan khawatir.

Pada suatu hari, terjadilah hal yang menggemparkan para tokoh dan murid Bu-tong-pai. Hari itu kembali Thian It Tosu menerima beberapa orang Pek-lian-pai. Menjelang sidang, terdengar suara gaduh dan para tosu yang berlari menuju ke ruangan sidang yang tertutup itu, melihat tubuh seorang tosu terlempar keluar dan ketika mereka semua melihat, ternyata tubuh itu adalah Beng An Tosu yang telah tewas!

Selagi mereka ramai membicarakan hal itu, Thian It Tosu muncul dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan, �gItulah jadinya kalau ada yang lancang berani mengintai dan mendengarkan percakapan kami. Pinto kira yang mengintai itu tentu mata-mata musuh, maka pinto menyerangnya sehingga dia tewas. Kiranya dia adalah sute (adik seperguruan) Beng An Tosu sendiri! Biarlah hal ini menjadi peringatan bagi kalian agar jangan ada yang berani lancang mendengarkan atau mengintai kami!�h

Semua anggauta Bu-tong-pai benar-benar merasa heran bukan main. Beng An Tosu merupakan seorang tosu yang jujur dan setia, bahkan biasanya amat dipercaya oleh Thian It Tosu. Dan sekarang Beng An Tosu tewas di tangan ketua mereka sendiri! Mulailah para tosu Bu-tong-pai merasa tidak puas dan menduga bahwa ketua mereka agaknya sudah dipengaruhi oleh para tokoh sesat itu. Akan tetapi apa yang dapat mereka lakukan?

Pada suatu hari, banyak tamu berdatangan dan berkunjung ke Bu-tongpai. Mereka disambut oleh Thian It Tosu sendiri. Kepada para anggauta Bu-tong-pai yang terheran-heran melihat hadirnya para tokoh dan datuk sesat, Thiat It Tosu memperingatkan mereka bahwa untuk berhasilnya perjuangan, dia tidak mempedulikan golongan dari mana yang akan membantunya. Memang istimewa para tamu yang berdatangan di waktu itu. Thian-yang-cu dari Bu-tong-pai yang merupakan murid utama dari Thian It Tosu, dan juga Thian Tan Tosu, dipercaya untuk membantu ketua Bu-tong-pai itu menyambut para tamu. Selain dua orang tosu ini, tidak ada orang lain boleh mencampuri dan hanya menjadi penonton dari jauh saja.

Tokoh-tokoh besar dari dunia persilatan golongan sesat berdatangan. Koai Tosu tokoh Pat-kwa-pai bersama beberapa orang temannya anggauta Pat-kwa-pai datang lebih dulu. Kemudian Thian-yang-ji tokoh Pek-lian-pai juga bersama belasan orang kawannya. Kemudian muncul pula Swat-hai Lo-kwi yang sudah tua dan rambutnya sudah putih semua itu! Swat-hai Lo-kwi datang bersama Tung-hai Lo-mo yang tidak pernah ketinggalan membawa dayung bajanya. Bahkan Ban-tok Kwi-ong, datuk sesat dari selatan itu juga muncul. Mereka semua dipersilakan masuk ke dalam ruangan besar tertutup, mengadakan rapat yang penuh rahasia sehingga anak buah Bu-tong-pai sendiri tidak ada yang boleh mendengarkan. Thian It Tosu yang memimpin rapat itu nampak bersemangat dan gembira sekali. Dengan berapi-api dia berkata, �gSaudara sekalian, kita tidak perlu mempedulikan para pejuang yang tidak mau bekerja dengan kita. Setidaknya mereka itu pasti tidak akan membantu pemerintah Mancu.�h

�gPangcu kapan kita bergerak? Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat hancurnya kerajaan Ceng!�h kata Swathai Lo-kwi.

�gBenar, aku pun sudah siap dengan sedikitnya lima puluh orang teman untuk mulai bergerak menyerang musuh!�h kata Tung-hai Lo-mo.

�gHarap saudara sekalian bersabar. Kita harus sabar dan memakai perhitungan yang masak, �gkata Thian It Tosu. �gKalian masih ingat ketika pertemuan dahulu itu? Gadis yang memperingatkan kita agar jangan memberontak itu telah kami selidiki dan ternyata dara itu adalah puteri dari Putera Mahkota!�h

�gAhhh....!!�h Semua orang berseru kaget.

�gJangan panik! Karena itu, kita harus berhati-hati karena tentu gadis itu akan bercerita kepada ayahnya dan tentu keadaan kita telah diamati dari jauh dan mungkin pemerintah telah menyebar mata-mata. Kalau kita bergerak, baru mengumpulkan banyak orang saja sudah akan ketahuan dan sebelum kita bergerak, tentu kita akan dipukul lebih dulu, dan kita harus ingat bahwa kekuatan pasukan pemerintah amat besar.�hLalu bagaimana kita akan bergerak dan mulai perjuang?�h tanya Ban-tok Kwiong.

�gSabar! Kita harus menggunakan siasat. Kami perhitungkan, kalau beberapa orang di antara kita yang berilmu tinggi, seperti Swat-hai. Lo-kwi, Tung-hai Lomo, Ban-tok Kwi-ong dan beberapa orang lagi pergi ke kota raja dan berhasil menyusup ke dalam istana, akan mudah bagi kita untuk membunuh kaisar dan Putera Mahkota! Kalau hal itu terjadi, tentu akan terjadi kekacauan di istana dan kita akan berusah ajar yang menjadi pengganti kaisar orang yang berpihak kepada kita. Semua itu akan diatur oleh sekutu kita yang kini juga sedang berada di kota raja, yaitu Gulam Sang.�h�gAh, Lama Jubah Kuning itu?�h terdengar beberapa orang bertanya.

�gBenar, akan tetapi sekarang dia bukanlah pendeta Lama lagi. Dia sudah menghubungi beberapa orang hartawan yang akan membiayai semua rencana kita, juga dia akan berhubungan dengan para pangeran di istana. Kalau pangeran pilihan kita yang menggantikan menjadi kaisar, tentu segalanya akan mudah diatut selanjutnya.�h

�gAkan tetapi, tidak mudah menyusup ke dalam istana. Pekerjaan itu berbahaya dan nyawa taruhannya.�h kata Swat-hai Lo-kwi.

�gHarap Lo-kwi jangan khawatir. Hal itu pun serahkan saja kepada Gulam Sang Kongcu. Dia yang akan mengatur sehingga kalian semua akan menyusup ke dalam istana tanpa dicurigai. Misalnya menjadi guru silat seorang pangeran, atau ahli pengobatan dari pangeran lain, atau juga pembantu baru. Pendeknya, kalian akan dapat masuk ke istana dengan berterang, tentu saja dengan menyamar. Semua itu telah direncanakan oleh Gulam Sang Kongcu. Kalian tinggal menanti berita selanjutnya dari kami.�h

Telah lama kita tinggalkan Tao Seng dan Tao San, dua orang pangeran yang telah dijatuhi hukuman buang oleh kaisar karena usaha mereka untuk membunuh Putera Mahkota Tao Kuang, akan tetapi mengalami kegagalan karena Pangeran Tao Kuang ditolong oleh Liang Cun yang berjuluk Sin-tung Koai-jin dan puterinya, yaitu Liang Siok Cu. Seperti telah diceritakah di bagian depan, Liang Siok Cu kemudian menjadi selir Pangeran Tao Kuang yang kemudian melahirkan Tao Kwi Hong.

Bagaimana dengan dua orang pangeran yang dibuang itu? Mereka dijatuhi hukuman buang selama dua puluh tahun dan telah dilupakan orang. Akan tetapi, mereka tidaklah lenyap begitu saja. Juga mereka tidak mati dalam pembuangan mereka, walaupun mereka hidup sengsara. Tidak, mereka masih hidup dan pada suatu hari mereka bahkan kembali ke kota raja karena hukuman mereka telah habis. Keluarga kaisar bersikap tak acuh kepada mereka yang dianggap telah melakukan kejahatan yang memalukan.

Tao Seng dan adik tirinya, Tao San, kini telah menjadi dua orang laki-laki setengah tua. Tao Seng kini berusia empat puluh lima tahun dan Tao San berusia empat puluh empat tahun. Mereka mengumpulkan harta kekayaan mereka dan menjadi pedagang yang berhasil. Mereka menjadi kaya raya dan untuk membuang riwayat yang memalukan di waktu yang lalu. Tao Seng kini memakai nama Ji dan terkenal dengan sebutan Ji Wan-gwe (Hartawan Ji), sedangkan Tao San menggunakan nama San Wan-gwe (Hartawan San). Hanya keluarga kaisar saja yang tahu bahwa Ji Wan-gwe dan San Wan-gwe adalah bekas Pangeran Tao Seng dan Tao San. Karena ketika mereka dihukum buang masih muda, maka setelah lewat dua puluh tahun, mereka sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Setelah menjadi hartawan, keduanya lalu mengambil isteri dan membentuk keluarga baru. Keliru kalau ada yang menganggap bahwa kedua orang pangeran itu telah menjadi jera atau sadar akan kesalahan mereka. Sama sekali tidak dan sebaliknya malah. Peristiwa hukuman bagi mereka itu mendatangkan dendam kesumat yang membuat mereka tidak segan untuk mencari jalan membalas dendam mereka.

Di dalam pembuangan mereka di barat, pada suatu hari Pangeran Tao Seng bertemu dengan seorang pemuda yang menarik hatinya. Ketika itu dia berusia empat puluh tahun dan pemuda itu berusia dua puluh lima tahun. Pemuda itu menarik perhatiannya karena pemuda itu memiliki ilmu silat yang tinggi bahkan pandai pula dalam ilmu sihir. Pemuda itu adalah Gulam Sang! Gulam Sang sendiri adalah seorang pelarian dari Tibet. Dia adalah murid para pendeta Lama termasuk Dalai Lama, akan tetapi akhirnya dia berkhianat dan memihak Pendeta Lama Jubah Kuning untuk memberontak. Maka dia dikejar-kejar dan melarikan diri ke timur sampai bertemu dengan Pangeran Tao Seng. Mungkin karena nasib sama, mereka segera menjadi akrab, dan akhirnya Pangeran Tao Seng melihat bahwa pemuda itu kelak akan amat berguna baginya, maka dia lalu mengangkat Gulam Sang sebagai puteranya! Mula-mula Gulam Sang merasa ragu untuk menerimanya, karena walaupun Tao Seng adalah seorang pangeran akan tetapi pangeran buangan! Akan tetapi Pangeran Tao Seng lalu menceritakan ambisinya. Dia hendak membalas dendam dan merebut kekuasaan kaisar! Kalau dia berhasil menjadi kaisar, maka dia akan mengangkat Gulam Sang menjadi Pangeran Mahkota yang kelak akan menggantikan dia menjadi kaisar. Janji muluk inilah yang menarik hati Gulam Sang dan akhirnya dia menerima menjadi putera Pangeran Tao Seng.

Demikianlah, setelah hukuman mereka habis dan Pangeran Tao Seng bersama Pangeran Tao San kembali ke timur, Gulam Sang juga ikut pergi ke kota raja Peking, di mana dia dikenal sebagai putera Tao Seng yang. bernama Tai Lam Sang.

�gKita mempunyai cita-cita besar,�h demikian Tao Seng bicara kepada Tao San dan Gulam Sang. �gAkan tetapi jangan dikira mudah saja .untuk membuat cita-cita kita menjadi kenyataan. Selama lima tahun ini engkau banyak belajar dariku, Lam Sang. Engkau mempelajari sastra dan budaya sehingga tahu bagaimana untuk menjadi seorang pribumi. Akan tetapi untuk dapat berhasil, engkau harus pergi menghubungi orang-orang di dunia kang-ouw. Terutama sekali hubungilah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, dan dalam hubungan itu sebaiknya kalau engkau menggunakan namamu sendiri dan mengaku saja dari Lama Jubah Kuning. Kita harus menyusun kekuatan dan untuk itu, engkaulah yang harus bertugas mengadakan hubungan-hubungan dengan mereka. Kalau saatnya sudah tiba, baru kita turun tangan.�h

Tao Seng mengajak Tao San dan Gulam Sang bercakap-cakap tentang rencananya.

Semua rencana diatur oleh Tao Seng dan pelaksananya adalah Gulam Sang yang memiliki kecerdikan dan kepandaian luar biasa. Dengan mudahnya, melalui ilmu silatnya yang tinggi dan ilmu sihirnya, dia dapat mempengaruhi Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Didatanginya para pimpinan kedua perkumpulan, itu dan di depan mereka dia membuktikan kehebatan kepandaiannya. Setelah mendengar bahwa Gulam Sang adalah seorang Tibet dan dari Lama Jubah Kuning, mereka semua percaya dan menariknya sebagai sekutu dan sahabat. Tercapailah rencana pertama dari Tao Seng, yaitu mencari sekutu yang memiliki banyak anak buah dan yang memusuhi pemerintah.

�gLam Sang, aku tahu benar bahwa orang pribumi bangsa Han pada umumnya tidak suka akan pemerintah Mancu yang mereka anggap sebagai penjajah. Mereka itu mendendam dan mereka belum ada yang sungguh-sungguh bergerak karena merasa kekuatan mereka belum ada. Akan tetapi, begitu kekuatan mereka dianggap cukup, tentu mereka bergerak menyerang pemerintah. Karena itu, tugasmu ke dua adalah membujuk partai-partai bersih, para pendekar, terutama dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, dan lain-lain. Mereka itu kalau dipersatukan, merupakan kekuatan yang amat besar karena mereka memiliki pendekar-pendekar yang sakti. Nah, engkau harus mencari akal bagaimana untuk dapat mempengaruhi mereka sehingga mereka mau diajak bersekutu dan memberontak.�h

Kembali Tao Seng membuat rencana yang amat cerdik. Ditambah dengan kecerdikan nya sendiri, Gulam Sang lalu mulai bergerak. Dia melakukan penyelidikan terhadap perkumpulan-peckumpulan silat besar itu dan mencari kelemahankelemahan mereka. Akan tetapi sukar sekali menemukan kelemahan mereka, sampai akhirnya dia mendengar betapa ketua Bu-tong-pai yang bernama Thian It Tosu berada dalam keadaan yang tidak sehat. Akan tetapi kekuasaan tosu itu besar sekali. Setiap katanya merupakan hukum bagi para anak murid Bu-tong-pai dan lebih dari itu, Bu-tong-pai terkenal di antara semua partai dan dihormati. Kalau saja dia dapat menguasai Bu-tong-pai! Dengan pikiran ini dia lalu mulai mempelajari keadaan Thian It Tosu, kebiasaan-kebiasaannya, tingkah lakunya. Ketua yang berusia enam puluh tahun itu bertubuh tinggi besar, mirip dengan tubuhnya. Ini merupakan modal utama baginya.

Setelah mempelajari dengan baik, mulailah dia bertindak. Mula-mula dia menguji diri sendiri. Dengan ilmunya menyamar, dia menggunakan topeng tipis terbuat dari karet yang menutupi mukanya sehingga mukanya berubah menjadi muka Thian It Tosu, lengkap dengan jenggot dan kumisnya yang panjang. Topeng itu demikian sempurna sehingga kalau tidak dikupas dari mukanya, tidak akan ada yang tahu bahwa dia memakai topeng. Pakaiannya pun persis dengan pakaian jubah tosu dan pada suatu senja, alam cuaca remang-remang, dia pun berjalan dekat Bu-tong-san dan sengaja berjalan berpapasan dengan lima orang murid Bu-tong-pai. Melihat dia sertamerta lima orang murid itu memberi hormat dan menyebutnya suhu.

Dia menirukan suara Thiat It Tosu. �gHemmm, sudah larut senja begini baru pulang. Kalian dari mana?�h

�gKami pergi berburu dan sekalian mencari kayu bakar, Suhu.�h jawab kelima orang murid itu. Gulam Sang merasa gembira sekali karena ujiannya terhadap dirinya sendiri yang menyamar sebagai Thian It Tosu berhasil baik. Pada lain harinya, dia sengaja muncul di siang hari menemui murid-murid yang sedang bekerja di luar dan tidak ada seorang pun murid yang meragukan bahwa dia adalah Thian It Tosu.

Setelah yakin benar baru dia melanjutkan rencananya. Dia melakukan pengintaian dan pada suatu hari dia melihat Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu pergi berdua turun gunung. Dia sudah menyelidiki dengan jelas siapa adanya dua orang tosu ini. Thian-tan Tosu adalah sute dari Thian It Tosu sedangkan Thian-yang-cu adalah seorang murid utama, dari Thian It Tosu. Dia juga sudah mempelajari keadaan dua orang tosu ini dan maklum bahwa dia mampu menalukkannya, baik dengan ilmu silat maupun dengan ilmu sihirnya. Dengan menyamar sebagai Thian It Tosu, di tempat yang sunyi di lereng bukit dia muncul menghadang dua orang yang sedang melakukan perjalanan itu.

Begitu bertemu dengan Thian It Tosu palsu ini, Thian-tan Tosu dan Thian-yangcu segera memberi hormat.

�gSuheng....!�h

�gSuhu....!�h

�gHemmm, Sute dan Thian-yang-cu, kalian hendak pergi ke mana?�h tanya Gulam Sang atau Thian It Tosu palsu itu.

Kedua orang itu memandang heran. �gApakah Suheng sudah lupa lagi? Baru tadi Suheng yang minta kami untuk mencari sumbangan ke kota, untuk membeli bahan pakaian kita semua.�h

�gOh, benar juga, Sute, sudah lama pinto tidak melihat kemajuan ilmu silatmu. Juga engkau Thian-yang-cu. Sebagai murid utama engkau harus memiliki ilmu silat yang tinggi.�h�gSaya mohon petunjuk, Suheng�h kata Thian-tan Tosu.

�gTeecu (murid) mohon petunjuk Suhu,�h kata Thian-yang-cu.

�gBaik, sekarang kalian berdua coba untuk bertanding dengan pinto agar pinto dapat melihat di mana letak kekurangan-kekuranganmu. Maju dan seranglah!�h

�gTeecu tidak berani, Suhu.�h

�gBerani atau tidak, engkau harus melawanku bertanding. Kalau tidak, bagaimana pinto mengetahui kelemahanmu dan memberi petunjuk?�h

�gSuheng, akhir-akhir ini kesehatan Suheng terganggu, sungguh tidak baik mengeluarkan banyak tenaga untuk berlatih.�h Thian-tan Tosu juga mencegah.

�gSute, engkau tidak memperoleh banyak kemajuan, untuk melawanmu bertanding, pinto tidak perlu menggunakan banyak tenaga. Kalau kalian sungkan menyerang lebih dulu, baiklah pinto yang menyerang lebih dulu. Lihat pukulan!�h Dengan cepat Thian It Tosu menyerang dengan pukulan kedua tangannya ke arah dua orang itu.

Akan tetapi Thian-yang-cu dan Thiantan Tosu dapat mengelak dengan sigapnya dan kedua orang ini tidak dapat menolak lagi. Mereka harus mengeluarkan kepandaiannya agar dinilai oleh sang ketua. Akan tetapi serangan mereka dapat dielakkan oleh tosu yang selama ini nampak kurang sehat itu. Gerakannya demikian cepatnya sehingga serangan dua orang tokoh Bu-tong-pai itu mengenai angin saja. Kemudian, terdengar Thian It Tosu membentak, kedua kakinya ditekuk rendah, kedua tangan didorongkan ke depan dan akibatnya, Thian-tan Tosu terhuyung ke belakang dan Thian-yang-cu terpental beberapa meter jauhnya!

Kedua orang itu terkejut bukan main. Mereka tidak mengenal pukulan sang ketua, pukulan aneh dengan kaki ditekuk itu, akan tetapi daya pukulan itu sungguh dahsyat bukan main. Thian-yang-cu yang ilmu silatnya sudah cukup tinggi merasa sesak dadanya, sedangkan Thian-tan Tosu merasa kepalanya pening. Thian-yang-cu segera memberi hormat dan berkata dengan malu-malu. �gTeecu memang bodoh dan lemah.�h Dia merasa malu sekali bahwa menghadapi gurunya, mengeroyok pula dengan paman gurunya, mereka berdua dikalahkan dalam beberapa gebrakan saja! Itu pun suhunya menahan tenaganya. Kalau tenaga sinkang yang dahsyat itu dikeluarkan semua, mungkin mereka berdua tidak mampu bangkit lagi.

�gWah, suheng agaknya telah menciptakan jurus pukulan baru yang amat hebat!�h kata pula Thian-tan Tosu dengan kagum.

�gHemmm, kalian yang bodoh, kalian yang lemah, tidak ada kemajuan sama sekali. Sungguh menyebalkan dan menyedihkan sekali!�h

�gSuhu....!�h

�gSuheng....!�h

�gDiam! Kalian membuatku kecewa. Kalau kepandaian kalian hanya sebegitu saja, padahal kalian adalah dua orang terpenting sesudah pinto, apa jadinya nanti dengan Bu-tong-pai? Akan menjadi bahan tertawaan saja. Dengar baik-baik, aku melarang kalian membicarakan lagi tentang latihan kita tadi! Mengerti?�h

�gBaik, Suheng.�h

�gBaik, Suhu.�h

Thian It Tosu sudah tidak mempedulikan keduanya lagi dan membalikkan tubuhnya lalu berkelebat cepat lenyap dari situ. Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu saling pandang dengan heran. Mengapa ketua mereka yang biasanya ramah dan halus lembut tutur sapanya itu mendadak menjadi begitu galak? Akan tetapi larangan tadi amat berkesan di dalam hati mereka dan suara ketua itu seolah masih berdengung berulang-ulang di telinga mereka.

�gThian-yang-cu, kaupikir bagaimana baiknya sekarang?�h

�gSusiok (Paman Guru), sebaiknya kita kembali dan menghadap Suhu, mohon agar diajari ilmu pukulan baru yang dahsyat tadi.�h

�gKalau dia marah?�h

�gBiar kita tanggung berdua. Pelajaran itu penting sekali untuk memperkuat Bu-tong-pai, Susiok. Dan memang sudah sepatutnya kalau suhu mengajarkan kepada kita.�h

�gAkan tetapi karena dia sudah melarang kita membicarkkan hal itu, tentu berarti dia tidak suka terdengar oleh orang lain. Maka, kita harus mencari saat yang tepat selagi suheng berada seorang diri untuk menghadapi dan mohon diberi pelajaran itu.�h

Kedua orang itu lalu kembali ke Bu-tong-pai. Dan pada sore harinya, ketika Thian It Tosu sedang berjalan-jalan di taman bunga perkumpulan itu seorang diri dan di sekitar tempat itu sunyi tidak nampak seorang pun murid Bu-tong-pai, muncullah Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu, segera berlutut di depan Thian It Tosu sedangkan Thian-tan Tosu memberi hormat dengan membungkuk dan mengangkat kedua tangan di depan dada.

Thian It Tosu adalah seorang tosu yang ramah dan lembut, akan tetapi dia pun keras memegang disiplin dan semua peraturan Bu-tong-pai harus ditaati. Merasa terganggu ketika berjalan-jalah itu, dia mengerutkan alisnya dan bertanya kepada mereka dengan singkat, �gApa maksudnya ini? Kalian mau apa?�h

Dua orang itu menjadi gentar mendengar pertanyaan singkat itu. Mereka mengira bahwa Thian It Tosu marah, dan sebelum mereka sempat menjawab tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang mereka.

�gSiancai-siancai-siancai....! Dari mana datangnya orang yang berani menyamar sebagai pinto?�h Ketika dua orang menoleh, mereka terpengaruh melihat ada seorang Thian It Tosu yang lain berada di situ. Semuanya sama, bentuk tubuhnya, wajahnya, suaranya. Hanya bedanya, yang baru muncul ini bersuara lembut, sedangkan yang pertama tadi nampak marah. Dengan sendirinya kedua orang itu berpihak kepada yang baru datang. Yang pertama itulah yang palsu. Mereka berani memastikan hal itu. Bukankah yang pertama bersikap aneh dan keras terhadap mereka bahkan merobohkan mereka dengan pukulan aneh dan ampuh? �gSuheng, orang itu adalah orang yang memalsukan dan menyamar sebagai Suheng!�h kata Thian-tan Tosu kepada tosu yang baru muncul.

�gBenar, Suhu! Harap Suhu memberi hajaran kepadanya. Akan tetapi dia lihai sekali, Suhu.�h kata pula Thian-yang-cu dan keduanya sudah meloncat ke belakang tosu yang baru muncul.

Thian It Tosu yang pertama tercengang. �gEh, lelucon macam apa ini? Pinto Thian It Tosu. Saudara siapakah dan mengapa menyamar sebagai pinto?�h ? �gSiancai....! Ini yang dinamakan maling teriak maling. Sute dan kau Thian-yang-cu, karena kesehatanku masih terganggu, bantulah pinto menangkap maling ini!�h

Biarpun gentar menghadapi ketua palsu yang amat lihai itu, namun karena sekarang Thian It Tosu berada dengan mereka, kedua orang itu menjadi berani dan cepat mereka menyerang Thian It Tosu yang pertama. Kakek itu mengelak dan menangkis, lalu berseru, �gSute! Thian-yang-cu, ini adalah pinto, Thian It Tosu! Kalian tertipu!�h

�gHemmm, manusia jahat. Engkaulah yang menipu. Sejak dahulu Thian It Tosu adalah pinto!�h bentak tosu kedua dan dia pun segera menyerang dan mengeroyok Thian It Tosu pertama.

Tosu itu mencoba untuk melawan, akan tetapi sebuah tamparan tosu kedua mengenai pundaknya. Agaknya tosu pertama itu memang sedang terganggu kesehatannya sehingga gerakannya. Tidaklah setangkas tosu kedua. Dia terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan oleh tosu kedua untuk mengirim pukulan tamparan yang amat kuat ke dadanya.

�gBukkk....!!�h Tosu itu terpelanting, muntah darah dan pingsan.

�gBiarkan pinto yang menangani, mungkin dia masih berbahaya. Kita bawa ke tempat tahanan bawah tanah. Pinto ingin mengetahui siapa saja kawan-kawannya dan apa maksudnya menyelundup masuk menyamar sebagai pinto.�h Tosu kedua dengan ringan sekali memanggul tubuh tosu pertama yang pingsan.

Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu mendahului Thian It Tosu pergi ke tempat tanahan bawah tanah yang kebetulan kosong. Tidak ada seorang pun murid Bu-tong-pai yang melihat semua peristiwa ini.

Setelah tiba di dalam kamar tahanan bawah tanah yang berpintu dan berjeruji besi itu, Thian It Tosu menurunkan tawanannya ke atas lantai.

�gBiar kita periksa dia dan membuka kedoknya!�h kata Thian-tan Tosu. Thian-yang-cu juga ingin sekali melihat siapa adanya orang yang menyamar sebagai Thian It Tosu, maka bersama susioknya dia sudah berjongkok dan keduanya lalu mulai menarik-narik kumis dan jenggot Thian, It Tosu yang palsu. Akan tetapi betapapun mereka menarik-narik, jenggot dan kumis itu tidak dapat terlepas dan ketika mereka meraba-raba muka tosu itu, juga kulit muka itu aseli dan tidak memakai kedok apa pun. Kedua orang itu saling pandang dan terkejut, lalu meloncat dan membalikkan tubuh menghadapi tosu kedua.

�gDia aseli!�h kata Thian-tan Tosu dengan muka berubah pucat. Kalau begitu engkau yang palsu!�h

Thian It Tosui palsu yang sebetulnya bukan lain adalah Gulam Sang itu tertawa dan berdiri menghadang di pintu kamar tahanan. �gHa-ha-ha! Memang aku bukan Thian It Tosu. Aku membutuhkan pribadinya hanya untuk beberapa bulan saja. Kalau urusanku sudah selesai, akan kukembalikan kepada Thian It Tosu. Sementara ini dia harus tinggal di sini sebagai tawananku!�h

�gJahanam! Siapa engkau yang begini jahat?�h bentak Thian-yang-cu marah.

�gSiapa aku kau tidak perlu tahu. Yang jelas, kalian harus menurut semua kehendakku atau kakek ini akan mati di sini, baru kemudian kalian menyusulnya.�h

Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu mendahului Thian It Tosu pergi ke tempat tanahan bawah tanah yang kebetulan kosong. Tidak ada seorang pun murid Bu-tong-pai yang melihat semua peristiwa ini. Setelah tiba di dalam kamar tahanan bawah tanah yang berpintu dan berjeruji besi itu, Thian It Tosu menurunkan tawanannya ke atas lantai.

�gBiar kita periksa dia dan membuka kedoknya!�h kata Thian-tan Tosu. Thian-yang-cu juga ingin sekali melihat siapa adanya orang yang menyamar sebagai Thian It Tosu, maka bersama susioknya dia sudah berjongkok dan keduanya lalu mulai menarik-narik kumis dan jenggot Thian, It Tosu yang palsu. Akan tetapi betapapun mereka menarik-narik, jenggot dan kumis itu tidak dapat terlepas dan ketika mereka meraba-raba muka tosu itu, juga kulit muka itu aseli dan tidak memakai kedok apa pun. Kedua orang itu saling pandang dan terkejut, lalu meloncat dan membalikkan tubuh menghadapi tosu kedua.

�gDia aseli!�h kata Thian-tan Tosu dengan muka berubah pucat. Kalau begitu engkau yang palsu!�h

Thian It Tosui palsu yang sebetulnya bukan lain adalah Gulam Sang itu tertawa dan berdiri menghadang di pintu kamar tahanan. �gHa-ha-ha! Memang aku bukan Thian It Tosu. Aku membutuhkan pribadinya hanya untuk beberapa bulan saja. Kalau urusanku sudah selesai, akan kukembalikan kepada Thian It Tosu. Sementara ini dia harus tinggal di sini sebagai tawananku!�h

�gJahanam! Siapa engkau yang begini jahat?�hbentak Thian-yang-cu marah.

�gSiapa aku kau tidak perlu tahu. Yang jelas, kalian harus menurut semua kehendakku atau kakek ini akan mati di sini, baru kemudian kalian menyusulnya.�h

�gKami akan mengadu nyawa denganmu!�h Thian-tan Tosu membentak marah dan dia sudah menyerang ke arah ketua palsu itu. Akan tetapi tangan Gulam Sang menampar dan tubuh Thian-tan Tosu terlempar dan roboh. Thian-yang-cu juga menyerang, akan tetapi sama saja, dalam segebrakan saja dia pun roboh. Dan sebelum kedua orang itu bangkit lagi, secepat kilat Gulam Sang menggerakkan jari tangannya menotok dan dua orang itu tidak mampu bergerak lagi, rebah telentang di samping tubuh Thian It Tosu yang masih pingsan.

Gulam Sang kini berjongkok di dekat mereka dan suaranya terdengar penuh wibawa. Kiranya dia menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi dua orang yang telah ditotoknya itu,

�gDengar baik-baik, Thian-tan Tosu dan Thian-yang-cu! Nyawa ketua kalian telah berada di tanganku. Dia telah kupukul dengan pukulan beracun dan hanya aku yang memegang obat penawarnya. Kalau tidak kuberi obat, dalam waktu sebulan dia akan mati dengan tubuh hancur. Kalau kuberi obat penawar, dia hanya akan menderita sakit, akan tetapi dalam waktu tiga bulan dia akan sembuh sama sekali. Kalian berdua juga berada di tanganku, akan tetapi aku akan membebaskan kalian dan memberi obat penawar kepada ketua kalian kalau kalian berjanji akan taat kepadaku. Kalau tidak taat, kalian bertiga dan semua murid Bu-tong-pai akan kubunuh!�h

Biarpun berada di bawah pengaruh sihir, Thian-tan Tosu masih dapat membantah, �gKalau kami harus menaatimu untuk melakukan kejahatan, lebih baik engkau bunuh kami sekarang juga!�h

�gHa-ha-ha, siapa yang akan berbuat jahat? Aku bukan penjahat, melainkan pejuang. Aku hanya hendak meminjam Bu-tonng-pai untuk mempersatukan semua tenaga dan menggerakkan mereka untuk memberontak, terhadap penjajah. Bagaimana, maukah kalian berdua berjanji?�hThian-tan Tosu berpikir sejenak. Kalau memang tidak diharuskan melakukan kejahatan, melainkan untuk perjuangan, lebih baik dia taat agar Thian It Tosu tidak terbunuh. Orang ini amat licik dan lihai bukan main, sedangkan Thian It Tosu berada dalam keadaan tidak sehat dan lemah sehingga sukar dicari lawan yang dapat mengimbangi orang aneh ini.

�gAku berjanji akan taat asal bukan untuk kejahatan!�h katanya dan mendengar ucapan susioknya, Thian-yang-cu juga mengikutinya dan mengucapkan janjinya pula.

Gulam Sang tertawa senang, lalu dia membuka jubah Thian It Tosu, memperlihatkan dada tosu itu kepada dua orang tokoh Bu-tong-pai. Ternyata di dada itu terdapat tanda telapak jari lima buah yang menghitam. Orang ini bukan hanya menggertak. Pukulannya memang beracun dan nyawa Thiat It Tosu berada di tangannya.

Gulam Sang lalu memulihkan kedua orang tokoh Bu-tong-pai itu dari totokannya. Dia tidak khawatir kalau mereka itu akan memberontak, karena selain mereka sudah berjanji, juga mereka telah dipengaruhi kekuatan sihirnya sehingga dia mampu mengendalikan pikiran mereka.

�gGosokkan minyak ini pada telapak tangan hitam di dadanya dan minumkan pil ini padanya. Racun itu perlahan-lahan akan meninggalkanya dan setelah lewat tiga bulan dia akan sembuh sama sekali.�h Gulam Sang mengeluarkan obat-obat itu dan Thian-tan Tosu lalu mengobati suhengnya. Ketika siuman Thian It Tosu mencoba untuk bangkit duduk, segera ditopang oleh murid dan sutenya. Dia memandang ke arah Gulam Sang. �gApa artinya semua ini? Siapakah engkau?�h

�gThian It Tosu, aku tidak berniat buruk. Aku hanya ingin meminjam namamu dan Bu-tong-pai untuk menggerakkan semua tenaga para pejuang untuk mulai dengan pemberontakan terhadap pemerintah penjajah. Kalau niatku sudah terlaksana dan tercapai, akan kukembalikan Bu-tong-pai kepadamu. Akan tetapi kalau engkau mencoba untuk menghalangiku engkau, akan mati bersama seluruh muridmu. Bu-tong-pai akan kuhancurkan!�h

�gSiancai....! Melakukan pemberontakan sekarang merupakan kebodohan. Engkau tidak akan berhasil....�h kata Thian It Tosu lemah.

�gHa-ha-ha, kita sama-sama melihatnya nanti!�h Tiba-tiba Gulam Sang bersuit dan muncullah lima orang yang gerakannya ringan dan cekatan. Mereka adalah tokoh-tokoh Pek-lian-pai yang sudah bersekutu dengan Gulam Sang. Kiranya mereka sejak tadi melakukan pengintaian dan ketika Thian It Tosu dibawa masuk kamar tahanan bawah tanah, mereka juga membayangi.

�gApa yang harus kita lakukan, Kongcu?�h tanya seorang di antara lima orang itu. �gKalian berjaga di sini dan begitu ada gerakan untuk memberontak dari orang-orang Bu-tong-pai, kalian lebih dulu bunuh kakek ini!�h

�gBaik, Kongcu.�h

�gNah, Thian Tan Tosu. Engkau setiap hari dua kali harus membawakan makanan dan minuman untuk Thian It Tosu dan lima orang penjaganya. Tidak boleh ada orang lain kecuali kalian berdua yang mengetahui bahwa Thian It Tosu ditawan di sini dan bahwa yang menjadi Thian It Tosu adalah aku.�h

Thian It Tosu palsu itu lalu mengajak dua orang yang diaku sebagai sutenya dan muridnya itu untuk keluar dari tempat tahanan tanpa terlihat orang lain, meninggalkan Thian It Tosu bersama lima orang penjaganya.

Demikianlah, mulai hari itu yang memimpin Bu-tong-pai adalah Thian It Tosu yang palsu. Dengan pandainya Gulam Sang sebagai Thiat It Tosu menggunakan alasan bahwa badannya tidak sehat untuk beristirahat dan bersamadhi dalam kamarnya. Kalau sudah berada di kamar samadhinya, dengan mudah dia mengubah dirinya menjadi Gulam Sang yang diterima sebagai �gtamu terhormat�h dari Bu-tong-pai. Dan dengan penyamaran itu pula dia mengundang semua partai besar dan tokoh persilatan, menghasut mereka untuk bekerja, sama melakukan pemberontakan. Tentu saja dia juga bersekutu dengan Pek-lian-pai, Pak-kwa-pai dan para tokoh dari datuk sesat, sesuai seperti yang direncanakan Pangeran Tao Seng! Semua itu adalah siasat Pangeran Tao Seng yang dilaksahakan oleh Gulam Sang.

Akan tetapi tempat seperti yang diramalkan Thiat It tosu, pertemuan itu gagal karena penolakan Yo Han ketua Thiar-li-pang. Apalagi dengan munculnya Tao Kwi Hong yang mengancam mereka dan sepak terjang Keng Han yang mencari tahu sebab permusuhan gurunya, Gosang Lama dengan Bu-tong-pai. Ketika Thian It Tosu palsu ditanya tentang permusuhan dengan Gosang Lama, dia terkejut sekali. Akan tetapi dasar orang cerdik, Gulam Sang pandai mencari alasan tentang sebab permusuhan itu dan menjatuhkan kesalahannya di pundak Gosang Lama, atau ayah kandungnya sendiri! Ketika sebagai Gulam Sang dia bertemu, Keng Han yang dianggapnya sebagai teman karena dia adalah putera gurunya, Gulam Sang berhasil pula mengajak pemuda itu untuk bekerja sama, bahkan memberi alamat Ji Wan-gwe di kota raja yang banyak mengetahui tentang keadaan Pangeran Tao Seng. Tentu saja secepatnya dia mengirim utusan dengan pemberitahuan kepada Pangeran Tao Seng atau ayah angkatnya itu bahwa akan datang seorang pemuda bernama Keng Han yang mencari tahu tentang Pangeran Tao Seng yang diakui sebagai ayah kandungnya. Juga dia memberi tahu bahwa Keng Han memiliki ilmu silat yang amat lihai sehingga kalau perlu pemuda itu dapat dimanfaatkan.

Yang merasa tersiksa hatinya adalah Thian-yang-cu dan Thian-tan Tosu. Mereka merasa tidak berdaya karena takut akan ancaman. Gulam Sang untuk membunuh Thian It Tosu yang selalu dijaga oleh lima orang jagoan dari Pek-lian-pai itu. Juga mereka tahu benar akan kelihaian Gulam Sang yang mungkin akan melaksanakan ancamannya yaitu membasmi Bu-tong-pai kalau rahasianya terbongkar.





Keng Han merasa kagum dan terpesona ketika dia tiba di kota raja. Belum pernah dia melihat bangunan-bangunan sebesar dan seindah itu. Dia benar-benar seperti seorang dusun yang baru pertama kali memasuki sebuah kota besar.

Tidak sukar baginya mencari rumah Hartawan Ji karena nama itu sudah terkenal di kota raja. Dan dia pun mengunjungi rumah itu, sebuah gedung besar yang mempunyai pintu gerbang besar dan tebal, dijaga pula oleh orang-orang yang nampaknya seperti tukang-tukang pukul atau ahli-ahli silat.

Kepada para penjaga pintu ini dia mengaku bernama Si Keng Han dan ingin menghadap Hartawan Ji karena urusan penting. Dia disuruh menanti sebentar sementara seorang penjaga melaporkan ke dalam tak lama kemudian dipersilakan memasuki kamar tamu yang besar dan mewah. Keng Han memandangi semua keindahan itu. Gambar-gambar, sajak-sajak, hiasan-hiasan dan bahkan meja kursi di situ berukir indah. Oleh pengawal yang mengantarnya dia dipersilakan duduk menanti dan pengawal itu sendiri lalu keluar lagi.

Bunyi langkah kaki membuat jantung Keng Han berdebar tegang. Benarkah cerita Gulam Sang bahwa dia akan mendapat keterangan yang lebih jelas tentang ayahnya? Begitu tuan rumah muncul, dia cepat bangkit berdiri dan memberi hormat sambil mengamati wajah orang itu. Dia melihat seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang masih gagah dan tampan, berpakaian sutera sebagaimana pakaian seorang hartawan. Sebaliknya, tuan rumah itu yang bukan lain adalah Pangeran Tao Seng sendiri juga mengamati pemuda yang kini memberi hormat didepannya. Diam-diam dia merasa kagum dan bangga. Puteranya! Akan tetapi tidak terasa ada keharuan dalam hati yang sudah mengeras itu, melainkan perasaan girang karena mungkin dia akan mendapatkan seorang pembantu yang amat berguna.

�gMaafkan, Tuan....�h

�gJangan sebut aku tuan, panggil saja paman.�h kata Pangeran Tao Seng atau Hatawan Ji ramah.

�gMaafkan kalau kedatangan saya ini mengganggu kesibukan Paman.�h

�gAh, tidak mengapa. Silakan duduk dan, perkenalkanlah siapa dirimu dan ada kepentingan apa ingin bertemu denganku.�hKeng Han mengambil tempat duduk. Bantalan kursinya lunak sekali, enak diduduki, �gNama saya Si Keng Han, Paman, dan nama Paman diperkenalkan kepada saya oleh seorang sahabat yang bernama Gulam Sang.�h

�gAha, begitukah? Gulam Sang itu adalah putera angkatku sendiri.�h

Baru sekarang Keng Han mengetahui dan dia pun terkejut. Kiranya putera gurunya itu telah diambil anak oleh hartawan ini. �gKalau begitu semua keterangannya tentang Paman tentu benar semua.�h

�gKeterangan apakah tentang diriku?�h

�gBahwa Paman pernah mengenal ayah kandung saya dan mengetahui tentang semua peristiwa yang menimpa diri ayah kandung saya.�h

�gSiapakah ayah kandungmu?�h

�gDahulu ayah kandung saya adalah seorang pangeran, namanya Pangeran Tao Seng.�h

�gAkan tetapi bukankah namamu Si Keng Han nama margamu Si?�h

�gItu hanya untuk penyamaran saja, Paman. Tidak baik kiranya kalau saya menggunakan nama keluarga istana, hanya akan menarik perhatian orang saja.�h

Tao Seng mengangguk-angguk, menyatakan bahwa dia mengerti. Lalu apa yang hendak kautanyakan tentang Pangeran Tao Seng? Siapa pula ibumu dan di mana ia sekarang ,berada?�h

�hSaya hendak mencari ayah kandung saya akan tetapi saya mendengar bahwa ayah saya difitnah orang sehingga dihukum buang. Ibu saya adalah seorang wanita Khitan, puteri kepala suku. Ibu yang mengutus saya pergi mencari ayah kandung saya karena setelah meninggalkan ibu selama dua puluh tahun, dia tidak pernah memberi kabar sedikit pun.�h

Ji Wan-gwe kini merasa yakin bahwa yang berhadapan dengan dia adalah putera kandungnya, putera Silani. Bahkan dia yang dahulu memesan kepada Silani. bahwa kalau isterinya itu melahirkan seorang anak laki-laki agar diberi nama Tao Keng Han! Akan tetapi kalau ada sedikit getaran pada jantungnya karena terharu bertemu putera kandungnya, ingatannya akan cita-citanya lebih besar dan lebih kuat sehingga dia dapat menekan perasaannya. Dia menghela napas besar seperti orang bersedih, padahal napas panjang itu untuk menekan rasa harunya.

�gMenyedihkan sekali nasib ayahmu itu, Kongcu. Ketahuilah bahwa saya dahulu menjadi pengawal dari ayah kandungmu. Bahkan ketika Pangeran Tao Seng dibuang ke barat, saya tetap mengikutinya untuk menemani dan melayaninya. Dia memang terkena fitnah, Kongcu.�h

�gDemikian kata Gulam Sang. Bukankah ayah seorang pangeran mahkota? Bagaimana dia bisa terkena fitnah dan siapa. pula yang memfitnahnya?�h

�gSemua itu terjadi karena iri hati. Salah seorang pangeran lain yang bernama Tao Kuang merasa iri hati karena ayahmu yang terpilih sebagai pangeran mahkota. Maka dia lalu melakukan fitnah menuduh ayahmu hendak memberontak dan membunuh kaisar. Memang ada bukti-bukti karena bukti itu memang sudah disediakan lebih dulu oleh Pangeran Tao Kuang. Ayahmu dituduh hendak membunuh kaisar dan membunuh Pangeran Tao Kuang, maka dia dihukum buang selama dua puluh tahun. Saya mengikutinya sampai di tempat pembuangannya.�h�gAh, kasihan sekali ayah kandungku! Dan sekarang dia berada di mana, Paman Ji?�h

Hartawan Ji menghela napas lagi. �gAgaknya Pangeran Tao Kuang tidak puas karena ayahmu hanya dihukum buang. Dia menghendaki kematian ayahmu maka dia menyuruh orang untuk menyusul ke barat, dan di sana orang-orangnya berhasil meracuni ayahmu sehingga meninggal dunia!�h

�gAhhh....!!�h Keng Han menundukkan mukanya karena tidak ingin kelihatan menangis atau berduka. Sampai lama keduanya diam, kemudian terdengar Hartawan Ji berkata dengan suara yang mengandung kemarahan.

�gAkan tetapi kita tidak tinggal diam Kongcu! Dendam sedalam lautan ini harus ditebus dengan kematian Pangeran Tao Kuang dan kaisar!�h

Akan tetapi bagaimana mungkin, Paman? Kita hanyalah orang-orang biasa, bagaimana mungkin dapat menentang kekuasaan yang memiliki ratusan ribu pasukan?�h

�gKita tidak bergerak sendiri, Kongcu. Dengarlah. Dengan bantuan anakku Gulam Sang kita telah menghimpun persekutuan yang cukup kuat. Banyak partai persilatan besar, para tokoh kang-ouw yang sakti, sudah siap membantu. Kalau engkau suka membantu, kiranya tidak akan sukar untuk membunuh Pangeran Tao Kuang atau bahkan kaisar sekalipun.�h�gTentu saja saya suka membantu. Di mana jenazah ayahku dimakamkan, Pamain Ji?�h

�gAtas permintaannya sendiri sebelum dia meninggal, jenazahnya diperabukan, akan tetapi sampai sekarang abunya belum dapat kukubur atau kubuang ke laut. Aku masih takut kalau-kalau ada yang tahu dan mengenalku sebagai pengawal ayahmu, bisa celaka aku. Abu jenazah itu masih kusimpan di rumah ini, kubuatkani sebuah meja abu. Kalau Kongcu hendak bersembahyang di depan meja abu, silakan, Kongcu.�h

Keng Han berterima kasih sekali dan dia lalu mengikuti tuan rumah memasuki ruangan dalam yang hiasannya lebih indah dan mereka tiba di sebuah kamar di mana terdapat sebuah meja dan abu itu tersimpan didalam sebuah bejana dari perak. Tidak ada tulisan apa pun di situ dan hal ini dapat dimengerti Keng Han karena hartawan itu tidak ingin ketahuan bahwa dia bekas pengawal Pangeran Tao Seng. Keng Han lalu bersembahyang dan berlutut di depan meja abu itu. Dia terkenang kepada ibunya dan, hatinya seperti diremas. Lima tahun lebih dia meninggalkan ibunya dengan harapan akan dapat bertemu ayahnya. Siapa kira sekarang dia hanya dapat bersembahyang di depan abunya.

Ayah, saya bersumpah untuk membalas dendam kematian ayah!" katanya kuat-kuat dan Hartawan Ji yang berdiri di belakangnya tersenyum penuh arti. Setelah bersembahyang mereka bercakap-cakap lagi berdua saja, di ruangan lain. "Untuk membunuh kaisar memang merupakan hal yang sulit karena kaisar selalu terkurung rapat oleh para pengawalnya. Akan tetapi membunuh Pangeran Tao Kuang yang kini menjadi Putera Mahkota itu tentu lebih mudah. Dia tidak terjaga begitu ketat. Hanya saja, Pangeran Tao Kuang mempunyai seorang selir yang pandai ilmu silat. Tadinya ayah mertuanya juga berada di sana, akan tetapi setelah ayah mertuanya meninggal, yang perlu diperhitungkan adalah selirnya itu. Apakah engkau berani menyerbu ke sana dan melawan selirnya yang lihai itu?"

"Untuk membalas dendam, saya berani melakukan apa saya, Paman Ji!"

"Bagus! Kalau begitu engkau tinggallah disini beberapa waktu lamanya untuk mempelajari keadaan dalam Istana Pangeran Mahkota. Setelah hafal akan keadaan di sana barulah engkau bergerak. Apakah engkau membutuhkan bantuan, Tao-kongcu?"

"Tidak dalam hal ini jangan sampai Paman tersangkut. Untuk membalaskan dendam ayah, biar aku sendiri yang bertanggung jawab."

"Baiklah, kalau begitu akan kuusahakan menemukan denah istana pangeran mahkota itu sehingga engkau akan lebih mudah bergerak kalau sudah berhasil masuk ke sana."

Keng Han mengucapkan terima kasih dan merasa gembira sekali. Biarpun dia tidak dapat bertemu dengan ayahnya, kalau dia dapat membalaskan sakit hatinya, dia sudah merasa puas. Tentu hal ini juga merupakan hiburan bagi ibunya mendengar tentang kematian ayah kandungnya.





Yo Han Li dan Kai-ong Lu Tong Ki memasuki kota raja. Sejak kecil Han Li tinggal di Bukit Naga dan biarpun dia pernah melihat kota besar, akan tetapi baru sekali ini dara ini melihat kota raja, maka banyak hal yang membuatnya menjadi bengong! Banyaknya toko, rumah penginapan dan rumah makan yang serba besar, taman-taman yang besar dan indah, banyaknya orang berlalu lalang, pagoda-pagoda yang nampak dari jauh di lereng bukit, semua itu membuatnya berulang kali memuji.

"Uh, apa sih bagusnya semua itu? Hanya dapat dipandang akan tetapi tidak dapat dirasakan! Lihat nanti kalau kita bisa mendapatkan hidangan kaisar atau pangeran, baru engkau akan benar-benar kagum! Hidangan-hidangan itu bukan hanya dapat dipandang dan dicium sedapnya, akan tetapi juga dapat dirasakan dengan lidah! Wahhh, mulutku menjadi basah mengingat semua itu."

Han Li tersenyum geli. Gurunya ini yang diingat hanya makanan saja. Selama ini, hampir setiap hari ia harus memasak makanan untuk gurunya yang mengatakan bahwa ia pandai memasak dan bahwa masakannya sedap sekali.

"Engkau berbakat seni memasak, Han Li!" pujinya berulang-ulang. "Tahukah engkau bahwa memasak itu merupakan seni yang tinggi nilainya? Cara mengerat daging atau memotong sayurnya, cara membesarkan atau mengecilkan apinya berapa lamanya memasak, semua itu mengandung seni tersendiri. Bumbu-bumbu sederhana saja di tangan seorang ahli akan mendatangkan kelezatan pada masakan. Apa saja yang dimasak oleh seorang yang berbakat seni memasak, tentu enak!"

Gurunya memang tukang makan. Kalau perlu dia akan mencuri makanan! Pernah ketika mereka lewat sebuah rumah makan yang memamerkan bebek panggang, Kai-ong berjalan dekat rumah makan itu dan ketika dia keluar dari situ, di bawah baju rombengnya sudah tersembunyi seekor bebek panggang utuh. Dilahapnya bebek panggang itu di sepanjang jalan sambil memberi komentar tentang rasa bebek panggang itu. Jarang ada makanan yang dipuji kakek ini, ada saja kekurangannya, kurang asin atau terlalu manis, terlalu kering dan sebagainya. Kalau sekarang sebelum merasakan hidangan istana dia sudah memuji setinggi langit, Han Li percaya bahwa hidangan itu tentu benar-benar istimewa.

Ketika mereka berjalan lewat depan sebuah gedung seperti istana, Kai-ong berhenti. "Ahhh, itu rumah Pangeran Mahkota. Aku yakin hidangan masakan di sini tidak kalah lezat daripada yang berada di istana kaisar. Kaisar sudah terlalu tua tentu giginya sudah banyak yang ompong dan masakannya tentu yang lunak-lunak saja. Berbeda dengan masakan di istana Pangeran Mahkota, tentu lengkap dengan yang agak keras. Han Li, kitamakan di dapur Pangeran Mahkota saja!"

Han Li memandang dengan khawatir. Di depan istana itu saja sudah terdapat perajurit pengawal yang berjaga. Tentu istana itu di jaga ketat. Bagaimana mereka dapat makan di dapur istana ini? Han Li merasa ngeri kalau sampai ketahuan dan dikeroyok lalu ditangkap. Alangkah malunya. Ditangkap sebagai pencuri makanan!

"Akan tetapi gedung itu tentu dijaga ketat, Suhu." "Heh-heh-heh, tentu saja. Akan tetapi apa artinya segelintir penjaga itu untuk kita. Mari ikuti aku!" Kai-ong lalu mengambil jalan memutar dan tibalah mereka di luar tembok pagar yang mengelilingi gedung itu bagian belakang. Setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang, Kai-ong mengajak muridnya untuk meloncati pagar tembok yang tinggi itu. Mula-mula Kai-ong yang lebih dulu melompat dan dia sudah mendekam di atas pagar tembok. Han Li menyusul. Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung ia melayang naik ke atas pagar tembok dan mendekam di sebelah gurunya. Ternyata di sebelah dalam pagar tembok itu terdapat sebuah taman yang amat indah.

"Nah, sudah kuduga. Tentu dalamnya sebuah taman atau kebun. Mari kita loncat ke dalam dan kau bersembunyi di belakang rumpun bambu di sana itu!" Kai-ong memberi petunjuk dan keduanya lalu berlompatan masuk. Han Li segera lari ke belakang rumpun bambu seperti yang dikehendaki Kai-ong, sementara kakek itu sendiri berindap-indap menghampiri bangunan itu dari belakang.

Han Li memandang dengan khawatir. Di depan istana itu saja sudah terdapat perajurit pengawal yang berjaga. Tentu istana itu di jaga ketat. Bagaimana mereka dapat makan di dapur istana ini? Han Li merasa ngeri kalau sampai ketahuan dan dikeroyok lalu ditangkap. Alangkah malunya. Ditangkap sebagai pencuri makanan! "Akan tetapi gedung itu tentu dijaga ketat, Suhu."

"Heh-heh-heh, tentu saja. Akan tetapi apa artinya segelintir penjaga itu untuk kita. Mari ikuti aku!" Kai-ong lalu mengambil jalan memutar dan tibalah mereka di luar tembok pagar yang mengelilingi gedung itu bagian belakang. Setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang, Kai-ong mengajak muridnya untuk meloncati pagar tembok yang tinggi itu. Mula-mula Kai-ong yang lebih dulu melompat dan dia sudah mendekam di atas pagar tembok. Han Li menyusul. Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung ia melayang naik ke atas pagar tembok dan mendekam di sebelah gurunya. Ternyata di sebelah dalam pagar tembok itu terdapat sebuah taman yang amat indah. "Nah, sudah kuduga. Tentu dalamnya sebuah taman atau kebun. Mari kita loncat ke dalam dan kau bersembunyi di belakang rumpun bambu di sana itu!" Kai-ong memberi petunjuk dan keduanya lalu berlompatan masuk. Han Li segera lari ke belakang rumpun bambu seperti yang dikehendaki Kai-ong, sementara kakek itu sendiri berindap-indap menghampiri bangunan itu dari belakang.

Bagaikan sebuah bayangan, Kai-ong menyelinap masuk. Han Li yang disuruh bersembunyi hanya menanti. Jantungnya berdebar tegang. Bagaimana kalau mereka ketahuan? Ia tidak takut akan ancaman pengeroyokan, hanya merasa malu kalau sampai ketahuan masuk ke rumah orang untuk mencuri makanan!

Tak lama kemudian, Kai-ong muncul lagi dan memberi isyarat dengan tangan kepada Han Li untuk mengikutinya. Kiranya kakek tadi lebih dahulu menyelidiki di mana adanya dapur istana itu. Han Li berlari menghampirinya dan keduanya lalu menyelinap masuk melalui pintu belakang. Tiba-tiba Kai-ong menarik tangan Han Li untuk bersembunyi. Baru saja Han Li bersembunyi di balik tembok, ia melihat tiga orang pengawal yang membawa tombak lewat di dekat mereka. Untung mereka sudah bersembunyi. Terlambat sebentar saja mereka tentu sudah ketahuan!

Setelah tiga orang pengawal itu lewat, kembali Kai-ong mengajak Han Li melanjutkan perjalanan memasuki bagian yang lebih dalam di istana itu. Setibanya di dapur, Han Li melihat ada kesibukan di dalam dapur. Kai-ong memberi isyarat untuk mengikutinya dan kakek itu lalu melayang naik ke atas dapur. Han Li mencontoh perbuatan gurunya dan kini mereka mendekam di atas atap dapur mengintai ke bawah.

Sebelum dapat melihat apa-apa, lebih dulu hidung Han Li disambut bau masakan yang amat sedap. Cepat ia mengintai dan melihat lima orang koki sedang membuat masakan. Bermacam-macam masakan itu.

"Hemmm, udang besar saus tomat itu nampak menggapai-gapai kepadaku," bisik Kai-ong dan dia menjilat bibirnya sendiri. Han Li merasa geli dan juga heran ketika gurunya mengeluarkan segulung tali yang di ujungnya dipasangi besi kaitan seperti sebuah pancing! Ia baru mengerti setelah gurunya menurunkan pancing itu ke bawah dan menanti sampai para koki itu lengah, barulah dia mengayun pancingnya dan besi kaitan itu dengan tepat sekali mengait seekor udang goreng saus tomat yang segera ditariknya ke atas. Segera ditangkapnya udang yang masih panas itu dan dimakannya dengan lahap sekali.

"Wah, enaknya bukan main!" Dia memuji dan di lain saat dia sudah mengait seekor lagi yang lalu diberikan kepada Han Li. Sebetulnya Han Li tidak berselera makan masakan curian itu, akan tetapi ia tidak mau mengecewakan gurunya, maka dimakannya udang itu. Ternyata memang lezat sekali. Setelah menghabiskan lima ekor udang besar, dan selagi matanya mencari-cari masakan lain, di bawah terjadi keributan. Si tukang masak udang goreng saus tomat itu yang membuat ribut. "Heiii!! Udangku, ke mana? A Sam, jangan main-main kau!" tegurnya kepada temannya yang sedang memasak masakan ayam tanpa tulang. "Tentu engkau yang makan udang-udangku. Tinggal setengahnya!"

"Ngawur! Siapa makan udang-udangmu? Sejak tadi aku mempersiapkan masakanku sendiri, mana ada waktu untuk memperhatiakn udangmu, apalagi mencurinya dan memakannya."

"Akan tetapi udang besar itu tadinya berjumlah belasan ekor, sekarang tinggal delapan ekor lagi! Yang berada di dekatku hanya engkau. Siapa lagi yang mencurinya kalau bukan engkau!"

"Aku tidak mencuri udangmu. Jangan main tuduh sembarangan kau!"

Teman-teman yang lain melerai. "Sudahlah, mungkin dimakan kucing."

"Tidak ada kucing masuk ke sini." bantah koki udang yang merasa kehilangan. Sementara itu, di dalam keributan itu selagi para koki bicara dan lengah, seekor ayam tanpa tulang telah melayang naik ke atas. Kai-ong membaginya dengan Han Li dan mereka makan masakan istimewa. Ayam itu masih utuh, akan tetapi ketika digigit, sama sekali tidak ada tulangnya dan ayam itu diisi cacahan daging dengan bumbunya yang sedap.

"Heiii....! Mana ayamku?" tiba-tiba Asam yang tadi dituduh mencuri udang, berteriak.

"Ayam apa lagi!" tanya teman-temannya.

"Tadi masih di sini, baru saja kuangkat dari tempat masak. Semua ada lima ekor, akan tetapi lihat, hanya tingga empat ekor. Yang seekor lagi terbang ke mana?"

"Mana ada ayam tanpa tulang itu dapat terbang?"

"Tentu ada yang mencuri dan menyembunyikan. A-cui, engkau tadi menuduh aku mencuri udang-udangmu, agaknya engkau hendak membalas dan engkau yang menyembunyikan ayamku!"

"Kau gila! Aku tidak mencuri ayammu!" A-cui membentak. Dua orang itu sudah saling mengacungkan pisau dapur yang tajam, akan tetapi dilerai temantemannya. Akhirnya keributan itu mereda dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka.

Sementara itu, seekor ayam cabut tulang tadi telah habis memasuki perut Kai-ong dan Han Li. Kai-ong menjilati jari-jari tangannya yang berlepotan minyak dan menggumam, "Wah, enak.... lezat....!"

"Suhu, aku sudah kenyang. Mari kita pergi dari sini." bisik Han Li. . 

NEXT BKS 17 - Part 8

Hosted by www.Geocities.ws

1