See who's visiting this page. View Page Stats
See who's visiting this page.Counter

Pusaka Pulau Es
                                                    BKS 17 - PART 5

By Khopingho0

Tung-hai Lo-mo agaknya maklum akan hebatnya serangan jarak jauh ini. Dia menancapkan tongkatnya di atas tanah lalu dia pun mengerahkan tenaga sinkangnya dan dalam keadaan setengah berjongkok dia menyambut pukulan jarak jauh itu.

�gWuuuttttt.... desss....!!�h Keduanya terdorong ke belakang dan Tung-hai Lo­mo agak menggigil kedinginan, akan te­tapi dia segera dapat mengusir hawa itu dengan pengerahan sinkangnya.

�gHebat! Pukulanmu itu hebat sekali. Orang lain mana akan mampu menahan­nya? Aku kagum sekali kepadamu, Lo­kwi!�h kata Lo-mo yang merasa kalah kuat dalam adu tenaga ini.

Lo-kwi juga tertawa. �gHa-ha-ha, eng­kau juga telah memperoleh kemajuan pesat, Lo-mo. Nah, engkau memang pan­tas berunding denganku, lekas katakan apa yang menjadi keperluanmu datang berkunjung ini.�h

�gHa-ha-ha, bicara sih mudah, akan tetapi perut lapar ini perlu diisi. Kulihat panggang daging kijang itu sudah ma­tang.�h

Mereka lalu makin daging panggang di dekat api unggun dan tidak bicara apa-­apa. Lo-mo mengeluarkan sebuah guri arak dan menenggaknya, lalu menyerah­kan kepada Lo-kwi.

�gIni arak pilihan dari Hang-ciu. Eng­kau pantas minum bersamaku, Lo-kwi!�h katanya.

Swat-hai Lo-kwi tanpa sungkan-sung­kan lagi menerima guci itu lalu menuang­kan isinya ke dalam mulutnya sampai terdengar bunyi menggelegak. Setelah itu barulah keduanya bicara.

�gNah, sekarang bicaralah!�h kata Swat­hai Lo-kwi.

�gBegini, Lo-kwi. Orang dengan ilmu kepandaian seperti kita ini, apakah cukup harus begini saja? Tinggal di tempat su­nyi, tidak dipandang orang? Padahal, orang-orang macam kita ini sudah se­patutnya kalau memegang kedudukan tinggi, dihormati dan dipandang orang, hidup penuh kemuliaan dan kemewahan.�h

Swat-hai Lo-kwi mengerutkan alisnya dan memandang kepada Tung-hai Lo­-mo dengan alis berkerut. �gLo-mo, kalau engkau mengharap agar aku suka meng­hambakan diri kepada penjajah Mancu untuk memperoleh kedudukan tinggi, engkau mimpi!�h

�gSiapa yang hendak mengabdikan diri kepada bangsa Mancu? Aku pun tidak sudi. Akan tetapi persoalannya lain sama sekali. Kita bahkan membantu untuk menjatuhkan Kaisar Mancu yang sekarang ini.�h

Mendengar ucapan itu, Lo-kwi mulai tertarik. �gAku pun tidak mau membantu perkumpulan-perkumpulan pemberontak seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai, Thian­-li-pang dan sebagainya dan menjadi antek mereka.�h

�gAh, tidak sama sekali. Dengar dulu baik-baik, Lo-kwi. Di kota raja terdapat dua orang pangeran yang pernah dihukum buang oleh kaisar karena mereka hendak membunuh pangeran mahkota. Sekarang kedua orang pangeran itu telah bebas dan kembali ke kota raja. Nah, mereka­lah yang menghubungi aku dan minta agar aku juga minta bantuanmu. Mereka­lah yang ingin memberontak, menjatuh­kan kaisar yang sekarang bertahta.�h�gHemmm, sama saja. Kalau mereka berhasil, tentu mereka yang menjadi penguasa dan berarti kita harus meng­abdi kepada bangsa Mancu. Apa beda­nya?�h

�gEngkau belum mengerti maksudku. Kita membonceng saja, dan kalau pem­berontakan ini berhasil dan kaisar dapat dibunuh kita rebut kedudukan kaisar itu dari tangan mereka! Kita mempunyai harapan menjadi kaisar atau setidaknya menjadi Koksu atau Menteri!�h

Lo-kwi semakin tertarik. �gAkan tetapi, apa artinya tenaga kita berdua?�h

�gKita berdua menjadi pembantu utama, dan kedua orang pangeran itu sudah mu­lai menyusun kekuatan. Kita dapat mem­bujuk partai-partai lain untuk bekerja sama. Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai sudah terbujuk. Juga Bu-tong-pai! Dan Bu-tong-­pai bahkan hendak mengadakan pertemu­an dengan seluruh perkumpulan dan per­orangan yang berjiwa patriot untuk be­kerja sama. Dan juga kita harus meng­hubungi para Pendeta Lama Jubah Ku­ning yang tentu siap membantu. Pen­deknya, gerakan ini harus berhasil baik. Dan kita berdua yang menjadi pembantu utama kedua orang pangeran itu tentu dapat mengatur bagaimana sebaiknya untuk kita berdua. Coba pikir, daripada engkau hidup seperti ini, makan daging kijang panggang, hidup seperti orang liar, bukankah lebih baik mempergunakan ke­pandaianmu untuk mencari kedudukan setinggi mungkin?�h

Swat-hai Lo-kwi mulai terbujuk. Dia menyatakan kesanggupannya untuk beker­ja sama dengan Lo-mo membantu gerak­an Pangeran Tao San dan Pangeran Tao Seng.

Seperti kita ketahui, kedua orang pangeran ini dihukum buang selama dua puluh tahun dan kini mereka telah bebas.

Mereka kembali ke kota raja dan nam­paknya mereka sudah bertaubat. Akan tetapi diam-diam mereka menyusun ke­kuatan untuk memberontak.

 

Di Pegunungan Bu-tong-san.Pegunung­an ini menjadi pusat dari perguruan silat Bu-tong-pai yang amat terkenal. Sejak dahulu Bu-tong-pai memiliku pendekar­pendekar yang amat tangguh sehingga namanya menjadi terkenal dan dihormati semua perguruan lain dan juga para pen­dekar.

Biasanya, Bu-tong-san nampak sunyi saja karena memang para penduduknya hanya orang-orang dusun yang bersahaja. Akan tetapi pada hari itu, Pegunungan Bu-tong-san menjadi ramai dengan kun­jungan banyak orang dari bermacam-­macam golongan. Ada yang berpakaian seperti hwesio, ada pula tosu, ada yang berpakaian seperti pengemis dan ada pula yang seperti orang hartawan. Ada yang lemah lembut seperti kaum sastrawan, akan tetapi ada pula yang berpakaian ringkas dan sikapnya gagah perkasa se­perti kaum persilatan.

Undangan yang, dilakukan oleh Bu­tong-pai ternyata mendapat banyak sam­butan. Siapa tidak mengenal Bu-tong­pai? Kalau Bu-tong-pai mengundang se­mua tokoh kang-ouw, berarti tentu ada keperluan yang amat penting. Bahkan mereka yang tidak diundang sekalipun, hanya mendengar saja bahwa Bu-tong-­pai mengundang orang-orang kang-ouw, banyak pula yang memerlukan datang untuk melihat perkembangan, menonton dan menambah pengalaman. Mereka ini dapat menduga bahwa yang diundang oleh Bu-tong-pai tentulah jagoan-jagoan yang berilmu tinggi dan yang hanya mereka dengar namanya saja.Pada waktu itu, yang menjadi ketua Bu-tong-pai adalah Thian It Tosu, se­orang tosu berusia enam puluh tahun yang bertubuh sedang, berjenggot dan berkumis panjang. Adapun pembantunya adalah dua orang murid utamanya, yaitu Thian-yang-cu dan Bhok-Im-cu yang per­nah berkunjung ke rumah Pendekar Ta­ngan Sakti Yo Han untuk menyampaikan surat dan undangan.

Di antara para tamu itu terdapat pula Yo Han. Isterinya dan puterinya tidak ikut. Yo Han datang ke Bu-tong­pai dengan hati diliputi perasaan pena­saran dan juga keheranan. Dia tidak mengerti akan sikap Thian It Tosu. Ke­napa mendadak tosu itu hendak mengo­barkan pemberontakan? Karena khawatir bahwa pertemuan itu akan mendatangkan keributan, maka dia melarang isteri dan puterinya untuk ikut serta. Kalau terjadi keributan, biar dia sendiri yang akan menghadapinya.

Seperti para tamu lain, Yo Han juga disambut oleh kedua orang murid utama itu. Para tamu dipersilakan duduk di sebuah ruangan yang luas sekali dan mereka mendapatkan tempat duduk yang diatur menurut kedudukan masing-masing. Ada tempat bagi para ketua perguruan dan para tokoh tingkatan tua, dan ada tempat bagi yang muda-muda. Yo Han sebagai seorang pendekar yang amat terkenal mendapat tempat kehormatan di antara para ketua perguruan yang ter­kenal. Tentu saja Yo Han bertemu de­ngan muka-muka lama yang sudah di­kenalnya dan terjadilah pertemuan yang cukup menggembirakan di antara mereka.

Anehnya, Thian It Tosu sendiri belum kelihatan menyambut. Ketika ada yang menanyakan kepada Thian-yang-cu, atau Bhok-im-cu, kedua orang tosu ini men­jawab bahwa suhu mereka sedang sama­dhi dan nanti kalau sudah tiba saatnya tentu akan keluar menyambut para tamu.

Setelah para tamu datang memenuhi ruangan itu, barulah Thian It Tosu mun­cul, Yo Han yang sudah mengenal baik tosu itu melihat betapa wajah tosu itu agak pucat, seperti orang yang sedang menderita sakit. Thian It Tosu meng­angkat kedua tangan depan dada mem­beri hormat kepada para tamu dan ber­kata dengan suara parau, �gHarap Cu­wi maafkan, saya sedang sakit batuk dan serak.�h Lalu dia mempersilakan semua orang duduk dan dia sendiri duduk di kursi ketua yang sudah dipersiapkan.

Thian-yang-cu lalu berdiri dan mem­beri hormat kepada semua orang yang hadir, �gHarap Cu-wi semua suka me­maafkan. Agaknya Suhu menderita sakit mendadak, batuk dan suaranya hampir hilang. Karena itu, pinto yang ditunjuk sebagai wakil pembicara.�h

Semua orang mengangguk-angguk dan maklum. Betapapun lihainya seseorang, apalagi kalau sudah tua, dapat saja ter­serang penyakit, dan penyakit yang di­derita Thian It Tosu itu biarpun tidak berat, namun membuat dia tidak mampu mengeluarkan suara sehingga sudah se­pantasnya kalau diwakili oleh murid uta­manya.�gSeperti Cu-wi semua ketahui dari undangan Suhu, Cu-wi diminta berkum­pul untuk menyatakan persetujuan atas usul Suhu, yaltu memperslapkan dari un­tuk menyerang kota raja dan menggullng­kan kedudukan kalsar Mancu. Sudah tiba saatnya bangsa kita dibebaskan dari be­lenggu penjajah bangsa Mancu. Kita se­mua yang berkumpul di sini adalah kaum patriot yang mencinta tanah air dan bangsa. Melihat bangsa kita dijajah pen­jajah Mancu, apakah kita harus berpang­ku tangan saja? Kita harus bergerak, dan sekaranglah saatnya, selagi kaisar yang memegang tampuk pemerintahan seorang yang lemah. Kalau kita bersatu dan me­nyerbu kota raja, tentu kita akan me­nang dan dapat merampas istana, meng­akhiri penjajahan!�h

Ketika Thian-yang-cu berhenti bicara, suasana menjadi gaduh sekali karena masing-masing saling bicara sendiri. Thian It Tosu membiarkan mereka berunding sendiri, lalu memberi isyarat dengan ta­ngannya kepada Thian-yang-cu, membisik­kan sesuatu. Thian-yang-cu lalu bangkit berdiri lagi dan mengangkat kedua ta­ngan ke atas.

�gMohon tenang, saudara sekalian. Kami percaya bahwa Cu-wi (Saudara sekalian) yang berwatak patriot tentu menyetujui pendapat dan usul ketua ka­mi. Yang setuju, tinggal mempersiapkan diri saja, kalau waktunya telah tiba ten­tu akan diberitahu. Terutama sekali para ketua perkumpulan, harap mempersiapkan anak buahnya untuk sewaktu-waktu me­nerima panggilan dan bergabung dengan kami. Kalau ada yang hendak menyata­kan pendapatnya, silakan, akan tetapi satu-satu saja, agar mudah didengar.�h

Mendadak terdengar suara lembut. �gOmitohud....!�h Semua orang memandang dan ternyata yang bicara itu adalah se­orang hwesio tinggi besar yang mewakili Siauw-lim-pai. �gKami dari Siauw-lim-­pai tidak begitu setuju dengan usul Bu­-tong-pangcu. Memang benar kami semua berjiwa patriot dan ingin melihat bangsa kita terbebas dari belenggu penjajahan. Akan tetapi apa yang dapat kita perbuat dalam keadaan seperti sekarang ini? Biarpun kita semua hendak berjuang, akan tetapi harus diketahui dengan siapa kita berjuang dan bagaimana pula keada­an kekuatan kita. Pinceng melihat di sini banyak pula perkumpulan yang hanya berkedok pejuang akan tetapi tidak segan melakukan kejahatan terhadap rakyat, Bekerja sama dengan mereka itu merupakan pantangan bagi kami. Bu-tong-pangcu tentu mengerti siapa-siapa yang kami maksudkan itu dan sebaiknya kalau me­reka itu tidak diajak berunding tentang perjuangan.�h Setelah berkata demikian hwesio itu duduk kembali dan seperti tadi, mereka semua saling bicara sendiri de­ngan gaduhnya.

Pada saat itu, Yo Han yang sejak tadi merasa penasaran sekali melihat hadirnya perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan, lain-lain, juga sudah bangkit berdiri dan suaranya terdengar lembut namun lantang sehingga mengatasi semua suara dan semua orang terdiam mendengarkan.

�gKami dari Thian-li-pang ingin bi­cara!�h

Thian It Tosu sendiri berdiri dan mem­beri isyarat dengan tangan mempersila­kannya bicara. �gThian It Totiang, Totiang bukanlah kenalan baru dari kami dan kami sudah mengenal bahwa Bu-tong­-pai adalah sebuah perkumpulan yang berjiwa patriot di samping berwatak pen­dekar. Oleh karena itu, saya tidak menganggap aneh kalau Bu-tong-pai mengajak untuk bangkit melawan penjajah walaupun sekarang belum tiba saatnya melihat kekuatan musuh dan kekuatan kita sen­diri yang masih terpecah belah. Akan tetapi melihat betapa Bu-tong-pai juga mengundang perkumpulan-perkumpulan sesat, sungguh ini tidak sesuai dengan kependekaran Bu-tong-pai. Kami setuju dengan pendapat Losuhu dari Siauw-lim-­pai tadi bahwa banyak perkumpulan yang berkedok pejuang namun sesungguhnya hanya merupakan perkumpulan sesat yang suka mengganggu rakyat. Selama mereka itu masih mencampuri urusan kami, maka tentu akan timbul kekacauan. Kami mo­hon Thian It Tosu mempertimbangkan kembali dan mengusir golongan sesat dari pertemuan ini, barulah kita bicara ten­tang perjuangan. Selama mereka itu ha­dir, kami tidak suka ikut dalam pertemu­an ini!�h

Thian It Tosu kembali berbisik kepada Thian-yang-cu dan wakilnya ini lalu ber­diri dan bicara, �gYo-pangcu dari Thian-li-pang, harus suka bicara terus terang.

Siapakah di antara kita ini yang disebut golongan sesat? Justeru dalam perjuang­an, semua kekuatan harus dipersatukan. Harap jelaskan siapa yang dianggap go­longan sesat agar persoalan menjadi te­rang.�hKarena ditantang untuk berterus te­rang, Yo Han tanpa ragu-ragu lalu berseru dengan suara gagah, �gPerlukah itu disebutkan lagi? Semua orang gagah di sini mengetahui siapa-siapa tokoh sesat yang ikut hadir di sini. Dan tentang per­kumpulan golongan sesat, siapa tidak tahu bahwa Pek-lian-pai dan Pat-kwa-­pang merupakan perkumpulan sesat? Mengapa mereka menerima undangan pula? Kami, bagaimanapun juga, tidak dapat bekerja sama dengan mereka itu!�h

Kini Thian It Tosu bangkit berdiri dan dengan suaranya yang parau dia berkata, �gYo-pangcu bicara tidak adil! Bukankah tadi Yo-pangcu sendiri mengatakan bah­wa pihak musuh terlalu kuat sedangkan fihak kita masih terpecah belah. Meng­apa tidak mengajak dua perkumpulan itu? Dalam keadaan begini kita harus bersatu padu, menghilangkan kepentingan sendiri demi perjuangan!�h

�gTidak mungkin! Perjuangan kita akan diselewengkan oleh mereka yang me­mang sesat itu dan selain perjuangan akan gagal, juga nama baik kita sebagai pendekar akan menjadi rusak. Disangka­nya kita juga melakukan perampokan dan pencurian terhadap rakyat seperti me­reka!�h kata Yo Han dengan lantang pula.

Dari pihak Pek-lian-pai muncullah Thian-yang-ji, seorang tosu tokoh Pek­lian-kauw yang berusia lima puluh tahun lebih dan dia sudah memegang pedang telanjang di tangan kanannya. Telunjuk kirinya menuding ke arah Yo Han sambil berteriak, �gYo-pangcu dari Thian-li-pang sungguh terlalu menghina kami dari Pek­-lian-pai. Sudah lama pinto mendengar akan kehebatan ilmu dari ketua Thian-­li-pang, kalau sekarang engkau menghina kami berarti menantang kami. Mari kita selesaikan urusan ini di ujung pedang.�h

�gBenar, Yo-pangcu juga menghina Pat-kwa-pai, kami juga menantang Yo-­pangcu untuk menyelesaikan urusan di ujung pedang!�h terdengar seruan dan se­orang laki-laki berusia empat puluh tahun tokoh Pat-kwa-pai juga berdiri sambil menghunus pedang.

Yo Han tersenyum mengejek. �gKita adalah tamu-tamu. Aku tidak mau meng­hina tuan rumah dengan bertindak sen­diri. Kecuali kalau tuan rumah mengijin­kan, aku akan menerima tantangan kalian dan kalian berdua boleh maju bersama!�h

Akan tetapi Thian It Tosu segera bangkit berdiri dan berseru dengan suara­nya yang parau, �gHarap Sam-wi suka melihat muka pinto dan tidak mengada­kan keributan dan perkelahian di sini! Yo-pangcu, kami sungguh tidak  dapat menyetujui pendapat Pangcu itu. Pada saat seperti sekarang ini, kami mem­butuhkan sebanyak mungkin tenaga untuk menentang pemerintah, baik dari golong­an manapun juga, tidak pandang bulu. Kecuali mereka yang tidak mau bekerja sama dengan kami, terpaksa kami tolak kehadirannya di sini. Yang mau mem­bantu dan bekerja sama untuk berjuang, kami anggap tamu kehormatan kami.�h

Pada saat itu Keng Han juga berada di antara para tamu golongan muda. Dia datang ke Bu-tong-san untuk menuntut ketua Bu-tong-pao tentang permusuhannya dengan mendiang gurunya, Gosang Lama seperti yang dipesan oleh gurunya itu. Ketika dia sedang mendengarkan perban­tahan tadi, tiba-tiba lengannya disentuh orang. Ketika dia menoleh, dia terbelalak heran dan juga kaget dan senang karena yang menyentuh lengannya itu bukan lain adalah Kwi Hong, gadis yang pernah dia jumpai di kota Tung-san ketika gadis itu menghajar para murid Pek-houw Bu-koan yang bersikap kurang ajar kepadanya.

�gHong-moi, kau di sini?�h

�gHan-ko, engkau juga di sini, mau apakah. Apakah engkau juga hendak mem­berontak?�h

�gAh, tidak. Aku mempunyai urusan pribadi dengan ketua Bu-tong-pai.�h

�gHemmm, tentu karena pesan gurumu itu, bukan? Berbahaya sekali, Han-ko.

Dia lihai bukan main dan kaulihat sendiri, di sini banyak temannya yang juga terdiri dari orang-orang tua angkatan tinggi yang lihai bukan main.�h

�gAku tidak takut. Bahkan banyak orang ini biar menjadi saksi akan ke­jahatan Bu-tong-pai yang memusuhi guru­ku yang tidak berdosa.�h�gJangan, Han-ko. Biarlah aku mem­bubarkan dulu mereka ini, baru engkau bicara dengan ketua Bu-tong-pai.�h Se­telah berkata demikian, gadis itu berdiri dan dengan lantang berkata, ditujukan kepada ketua Bu-tong-pai yang baru saja menjawab ucapan Yo Han tadi.

�gHeiii, apa yang kudengar ini? Bu­-tong-pai hendak memberontak terhadap pemerintah dan membujuk semua orang untuk memberontak? Apakah tidak takut akan balatentara kerajaan yang tentu hendak membasmi kalian semua? Jangan­lah bertindak begitu bodoh!�h

Semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Kwi Hong sendiri agaknya lupa bahwa ia sedang menyamar, bukan sebagai puteri Pangeran Mahkota, melainkan sebagai gadis kang-ouw biasa! Beberapa orang murid Bu-tong-pai sudah mengepung tempat itu dan siap untuk turun tangan.

Melihat ini, Yo Han yang mengkha­watirkan keadaan gadis itu segera ber­seru, �gTahan dulu! Gadis itu hanya mem­beri peringatan dan ucapannya memang benar. Kita ini bukan apa-apa kalau ber­hadapan dengan pasukan pemerintah. Apa artinya beberapa ribu anggauta kita se­mua yang dikumpulkan melawan ratusan ribu pasukan pemerintah? Hanya akan mati konyol dan bunuh diri belaka. Sudah kukatakan bahwa sekarang belum waktu­nya bergerak, bukan berarti bahwa aku tidak suka berjuang membebaskan rakyat dari penjajahan!�h

�gNah, itu baru kata-kata, yang bijak­sana. Yo-pangcu memang benar sekali. Kalau kita ketahuan pemerintah, kita tentu akan terbasmi habis. Karena itu sebaiknya kita sekarang bubaran saja se­belum ada pasukan pemerintah yang da­tang!�h kata pula Kwi Hong dengan suara­nya yang lantang.

Ucapan Kwi Hong dan terutama Yo Han itu berpengaruh sekali. Mereka yang diam-diam merasa tidak setuju dengan tindakan Bu-tong-pai yang tergesa-gesa, segera meninggalkan tempat itu! Dan akhirnya hanya tinggal Pek-lian-pai, Pat­-kwa-pai dan beberapa rombongan kaum sesat saja yang tinggal. Perkumpulan para pendekar seperti Siauw-lim-pai dan lain-lain sudah meninggalkan tempat itu, menganggap bahwa Bu-tong-pai lancang dan tidak mengenal keadaan. Hal ini membuat Thian It Tosu marah, sekali dan dia memandang ke arah Kwi Hong de­ngan mata melotot. Akan tetapi pada saat itu, Keng Han sudah melangkah maju menghadapi ketua Bu-tong-pai itu dan berkata dengan suara nyaring, �gBu­tong Pangcu, saya bernama Si Keng Han dan saya datang bukan untuk urusan pemberontakan, melainkan untuk bertanya kepada Bu-tong-pai mengapa Bu-tong­-pai memusuhi guruku yang tidak ber­salah.�h

Thian It Tosu mengelus jenggotnya. �gSiancai, siapakah gurumu?�h tanyanya dengan suara yang parau.

�gGuruku bernama Gosang Lama!�h

�gGosang Lama, Pendeta Lama Jubah Kuning itu? Akan tetapi kami tidak  memusuhinya!�h jawab Thian It Tosu, ke­lihatan bingung.

Thian-yang-cu yang maju dan me­lanjutkan keterangan ketuanya. �gGosang Lama tidak ada sangkut pautnya dengan kami, akan tetapi dia berani melukai beberapa orang murid kami. Karena itu­lah kami melawannya dan berhasil me­ngusirnya dari sini. Jadi benar ucapan Pangcu tadi, bukan kami yang memusuhi, melainkan Gosang Lama sendiri, dan karena engkau muridnya, tentu engkau akan membalaskan kekalahan gurumu itu!�h Thian-yang-cu melompat ke depan diikuti Bhok-im-cu dan kedua orang tosu ini berdiri di depan Keng Han dengan sikap menantang.�gKalian mundurlah!�h kata Thian It Tosu kepada dua orang murid utamanya, kemudian dia berdiri dan menghadapi Keng Han. �gGosang Lama yang memusuhi kami dan kami yang bertanggung jawab atas kekalahannya dari kami, karena itu kalau engkau hendak membalas atas ke­kalahannya itu, pinto yang akan menghadapimu, orang muda!�h

Keng Han merasa tidak enak kalau berdiam diri. Bagaimanapun juga, dia harus menghormati pesan terakhir dari gurunya. Dia sudah gagal melaksanakan pesan gurunya untuk membunuh Dalai Lama, apakah sekarang dia juga harus gagal memenuhi pesan yang kedua? Se­tidaknya, dia harus memperlihatkan sikap­nya yang memusuhi Bu-tong-pai seperti diharapkan gurunya.

�gBagus! Hendak kulihat sampai di mana kelihaian Bu-tong-pai yang telah mengalahkan guruku!�h katanya sambil memasang kuda-kuda untuk menghadapi Thian It Tosu.

�gHa-ha-ha, siancai....! Biarpun badan­ku sedang sakit, akan tetapi engkau ti­dak akan mampu mengalahkan aku, orang muda. Sebaiknya engkau menyadari ke­salahan gurumu dan tidak menuntut balas agar engkau tidak sampai tewas atau terluka.�h

Yo Han memandang heran. Kenapa Thian It Tosu sekarang bersikap seperti itu? Kata-katanya bernada angkuh, pada­hal biasanya Thian It Tosu orangnya penyabar dan tentu tidak mau melayani tantangan seorang pemuda seperti itu. Dia mulai merasa tidak senang. Thian It Tosu kini sudah berubah. Agaknya dia telah terbujuk oleh orang-orang Pek-lian-­pai dan Pat-kwa-pai sehingga kini bukan saja, berniat untuk memberontak, akan tetapi juga sikapnya mulai keras. Di samping itu, dia juga merasa sayang kalau sampai pemuda itu tewas di Bu-­tong-pai, hanya untuk membela seorang guru yang berada di pihak yang bersalah.

Dia pun sudah mendengar tentang pem­berontakan Lama Jubah Kuning di Tibet, maka kalau guru pemuda ini seorang Lama Jubah Kuning, mungkin Lama itu­lah yang berada di pihak yang bersalah.

Akan tetapi dia sudah terlambat ka­rena Keng Han sudah menyerang dengan cepat kepada tosu itu. Namun serangan­nya dapat dielakkan oleh Thian It Tosu. Pemuda itu menyerang lagi dan begitu dia memainkan ilmu silatnya, Yo Han hampir berseru saking kagetnya. Dia sendiri tidak mempelajari ilmu silat itu, akan tetapi dia mengenal ilmu silat itu, karena isterinya juga menguasainya. Itu­lah Hong-in Bun-hoat, ilmu silat yang mencorat-coret di udara seperti orang menuliskan huruf dengan gerakan silat­nya! Itulah ilmu keturunan keluarga Pu­lau Es.

Keng Han yang maklum akan kelihai­an ketua Bu-tong-pai, segera melakukan pukulan jarak jauh dengan tenaga sin­kangnya. Kakek itu menahan dengan ke­dua tangan pula dan akibatnya, keduanya terpental ke bolakang.

Yo Han makin terkejut. Dia mak­lum akan kelihaian ketua Bu-tong-pai itu, akan tetapi pemuda itu mampu membuat ketua itu terdorong ke belakang walau­pun dia sendiri pun terdorong ke bela­kang. Sementara itu, Thian It Tosu juga terkejut bukan main dan menjadi pena­saran. Dia sudah meloncat maju lagi dan kini dia mencabut sebatang pedang yang berkliauan sinarnya, dan itulah pedang pusaka Pek-coa-kiam (Pedang Ular Putih). Yo Han maklum benar betapa bahayanya kalau Thian It Tosu sudah mencabut pedang, karena selain pedang itu merupa­kan pusaka yang ampuh, juga ketua itu memang memiliki keahlian dalam per­mainan pedang. Maka, tanpa ragu lagi dia lalu melompat dan berdiri di antara mereka yang hendak berkelahi.

�gHarap tahan dulu!�h serunya lantang.

Thian It Tosu sudah marah itu me­negur, �gYo-pangcu, apakah engkau hen­dak mencampuri urusan Bu-tong-pai?�h�gTidak sama sekali, Totiang. Aku hanya ingin memperingatkan bahwa tidak semestinya Totiang melayani pemuda ini. Gurunya boleh jadi bersalah terhadap Bu­tong-pai, akan tetapi pemuda ini tidak bersalah apa-apa. Dia hanya ingin mem­balaskan kekalahan gurunya dan tidak perlu sampai Totiang mencabut pedang dan membunuhnya! Bukankah sudah se­wajarnya kalau yang tua dan yang lebih tinggi tingkatnya mengalah dan meng­gunakan kesabaran?�h

Thian It Tosu mengerutkan alisnya. �gSiancai, kata-katamu memang masuk akal, Pangcu. Akan tetapi engkau tadi tentu melihat dan mendengar sendiri betapa bocah ini yang menantang, bukan kami yang memulai.

�gMungkin karena dia tidak mengerti dan biarlah saya yang mencoba menyadar­kannya, Totiang.�h Setelah berkata demi­kian, Yo Han lalu menghadapi pemuda itu dan sejenak dia memandang penuh perhatian. Dari sinar mata pemuda itu dia dapat menduga bahwa pemuda itu bukan orang jahat melainkan seorang yang pemberani dan keras hati.

�gOrang muda, dengarlah nasihatku baik-baik. Apa yang kaulakukan ini sama sekali keliru dan menyimpang dari ke­benaran.�h

Keng Han mengerutkan alisnya me­mandang. Dia tadi sudah merasa suka kepada Yo Han yang menentang kehen­dak Bu-tong-pai yang mengajak mem­berontak terhadap pemerintah. Kalau ayah kandungnya sekarang sudah menjadi kaisar, bukankah berarti pemberontakan itu ditujukan kepada ayahnya? Atau se­tidaknya pemberontakan ini ditujukan kepada keluarganya karena ayahnya ada­lah Pangeran Mahkota. Tentu saja niat memberontak Bu-tong-pai itu sudah membuat hatinya tidak senang dan dia condong menyetujui pendapat Yo Han yang menentang niat itu.

�gPaman, harap Paman tidak mencam­puri urusan kami. Bagaimana Paman dapat mengatakan perbuatanku keliru dan menyimpang dari kebenaran? Bukankah sudah selayaknya kalau seorang murid membela gurunya yang sudah mati? Se­belum meninggal dunia, guru saya memesan agar saya membalaskan permusuh­annya dengan Bu-tong-pai.�h

�gMembalas dendam itu sendiri me­rupakan perbuatan yang tidak benar, ha­nya menurutkan nafsu kebencian dan amarah. Setelah engkau mendapat ke­terangan bahwa gurumu berada di pihak yang bersalah, apakah engkau akan me­lanjutkan balas dendammu itu? Bukankah kalau begitu berarti engkau akan me­nambah beban dosa gurumu? Sepatutnya engkau menebus kesalahan gurumu de­ngan perbuatan yang benar, bukan mem­perbesar dosa itu dengan perbuatan yang tidak benar. Engkau masih muda dan perlu banyak belajar dari kehidupan, ja­ngan menurutkan nafsu. Apa yang dapat kaulakukan terhadap perkumpulan Bu-­tong-pai yang besar? Dan ketahuilah, aku sendiri menjadi saksi bahwa perkumpulan Bu-tong-pai terdiri dari pendekar-pendekar yang berilmu tinggi dan tidak biasa me­lakukan kejahatan.�h

Keng Han merasa terpukul sekali. Nasihat itu hampir sama dengan nasihat yang diterimanya dari Dalai Lama.

Pada saat itu, Kwi Hong sudah ber­ada di sampingnya. Apa yang diucapkan Paman ini semua benar, Han-ko. Marilah kita pergi dari tempat ini. Arwah suhu­mu tentu akan mengampunimu kalau dia menginsafi kesalahaannya.�h

Kwi Hong menarik tangannya dan Keng Han tidak membantah lagi ketika ditarik pergi oleh Kwi Hong. Adapun Yo Han merasa senang sekali melihat pe­muda itu sudah mau meninggalkan tem­pat itu. Dia sendiri lalu memberi hormat kepada Thian It Tosu dan berkata, �gTeri­ma kasih atas undangan Totiang, dan saya mohon diri karena merasa tidak pada tempatnya kalau saya menghadiri pertemuan ini.�h Melihat dua orang tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang tadi menantangnya, dia menambahkan sambil menoleh ke arah mereka. �gKalau masih ada yang merasa penasaran dengan pen­dapatku tadi dan hendak menyelesaikan urusan dengan kekerasan, saya dapat melayaninya di kaki gunung, di luar wi­layah Bu-tong-pai.�h

Setelah berkata demikian, Yo Han pergi dan setelah dia pergi, lebih banyak lagi orang yang meninggalkan tempat itu. Terpaksa Thiat It Tosu melanjutkan pe­rundingannya dengan orang-orang yang sebagian besar dari golongan sesat.

�gOrang muda, perlahan dulu!�h

Keng Han yang sedang berjalan ber­sama Kwi Hong itu terkejut dan me­nahan langkahnya, lalu memutar tubuh­nya. Kiranya yang menegurnya adalah ketua Yo Han yang tadi telah menasihati­nya.

�gAda keperluan apakah Paman me­nyusul per jalananku?�h tanya Keng Han dengan sikap hormat.

�gAku sengaja mengejar karena ada sesuatu yang ingin sekali kubicarakan denganmu. Bukankah namamu tadi Si Keng Han? Dan Nona ini siapakah?�h

�gNamaku Kwi Hong, Paman.�h kata Kwi Hong ramah. �gPaman tadi berani sekali menentang para pemberontak itu, untung tidak terjadi perkelahian.

�gEngkau lebih berani, Nona. Engkau mengancam mereka semua sehingga me­nyadarkan banyak orang.�h

�gAku hanya bicara sebenarnya. Di waktu yang aman ini, kenapa orang bica­ra tentang pemberontakan? Kalau ke­tahuan pemerintah, bukankah itu mencari penyakit namanya?�h

�gPaman,�h kata Keng Han. �gUrusan apakah yang hendak Paman bicarakan dengan aku?�h

�gBegini Keng Han. Benarkah gurumu itu Gosang Lama?�h

�gBenar sekali.�h

�gAkan tetapi aku melihat gerakan ilmu silatmu tadi sama sekali tidak asing bagiku. Bukankah engkau tadi mengguna­kan ilmu silat Hong-in Bun-hoat, ilmu dari keluarga Pulau Es? Apakah engkau masih keluarga atau murid keluarga Pu­lau Es?�h

�gSama sekali bukan, Paman. Terus terang saja, aku mempelajari ilmu itu dari Pulau Hantu, melalui coretan-coret­an di dinding gua di sana.�h

�gAhhh, engkau telah mewarisi ilmu yang menjadi pusaka Pulau Es!�h

Akan tetapi tiba-tiba mereka meng­hentikan bicara mereka karena mereka mendengar gerakan orang. Dan tak lama kemudian tempat itu sudah penuh dengan orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa­-pai, jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang, dipimpin oleh Thian-­yang-ji, tokoh Pek-lian-kauw itu dan seorang tosu bernama Koai Tosu tokoh Pat-kwa-pai. Di dekat mereka masih ter­dapat seorang pemuda yang amat gagah perkasa, tinggi besar dan berwajah tam­pan, matanya lebar sekali menambah ketampanan wajahnya yang bundar.

�gYo-pangcu, engkau tadi menantang kami. Nah, sekarang kami datang untuk mencoba kepandaian ketua Thian-li-pang!�h kata Thian-yang-ji dengan marah.

�gKetua Thian-li-pang ternyata hanya seorang penakut yang berpura-pura men­jadi patriot, tidak berani diajak berjuang melawan penjajah!�h kata pula Koai Tosu.

Yo Han memandang dengan senyum mengejek. Sikapnya yang tenang mem­buat Keng Han dan Kwi Hong kagum sekali. Dikepung lima puluh orang lebih masih demikian tenangnya. Benar-benar seorang gagah perkasa ketua Thian-li­-pang ini. Diam-diam Keng Han meng­ambil keputusan untuk membela ketua Thian-li-pang ini sekuat tenaga.

�gMenggunakan banyak orang untuk menggertak, apakah ini yang dinamakan gagah perkasa? Mengandalkan pengeroyok­an untuk mencapat kemenangan, anak kecil pun bisa dan terutama orang-orang yang curang sekali!�h kata Kwi Hong de­ngan lantang.

�gGadis lancang mulut! Tadi pun di sana engkau bicara seolah engkau mem­bela kerajaan Mancu, apakah engkau menjadi antek atau mata-mata Mancu? Untuk melawanmu, tidak perlu keroyokan, pinto sendiri saja pun cukup untuk me­lawanmu!�h kata Koai Tosu menantang gadis itu.�gBagus! Siapa takut kepada segala macam tosu bau? Jubahmu saja seperti tosu dan pertapa, akan tetapi siapa tidak tahu dalamnya? Engkau seperti buaya berkulit ikan emas, di luarnya bagus di dalamnya busuk. Aku tidak takut ke­padamu!�h Kata Kwi Hong sambil men­cabut pedangnya. Gadis yang pakaiannya serba biru ini membusungkan dada dan memandang dengan mata bersinar-sinar.

�gTo-yu, hati-hatilah. Melihat hiasan rambut gadis itu, agaknya ia yang di­sebut orang Si Bangau Emas!�h kata Thian­-yang-ji memperingatkan kawannya.

�gWah, kebetulan sekali kalau begitu. Benarkah engkau Si Bangau Emas, Nona?�h tanya Koai Tosu.

�gKalau benar, mau apa? Lekas engkau minggat dari sini kalau takut!�h

�gHa-ha-ha, masih muda namun mu­lutnya tajam sekali dan lagaknya seperti seekor naga. Bagus, mari kita main-main sebentar, Nona!�h Koai Tosu juga men­cabut pedangnya dan Kwi Hong segera menyerang dengan hebatnya. Demikian ganas serangannya sehingga lawannya terkejut dan tidak berani memandang ringan. Apalagi ketika Kwi Hong me­mainkan Ngo-heng Sinkiam, tosu itu se­gera terdesak dan terpaksa harus me­mutar pedangnya untuk melindungi tubuh­nya dari serangan yang dahsyat sekali itu.

Sementara itu, Thian-yang-ji berkata kepada Yo Han, �gYo-pangcu, mari kita selesaikan urusan di antara kita dengan senjata!�h kata-kata ini dilanjutkan dengan pencabutan pedangnya.

�gMajulah, Totiang. Senjataku hanyalah kaki tanganku yang diberikan Tuhan kepadaku!�h jawab Yo Han dan memang ketua Thian-li-pang ini tidak pernah menggunakan senjata. Selain dia meng­andalkan kaki tangannya, juga ilmu kepandaiannya sudah sedemikian tingginya sehingga apa pun yang dipegangnya dapat di jadikan senjata!

�gBagus, engkau sendiri yang mengata­kan jangan bilang bahwa pinto curang! kata tosu itu sambil menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi dengan mudahnya Yo Han mengelak sambil membalas se­rangan tosu yang cukup lihai itu.

Keng Han melihat betapa lihainya lawan Kwi Hong sehingga dia merasa khawatir akan keselamatan nona ini. �gHong-moi, biarkan aku saja melawan tosu itu!�h katanya.

Akan tetapi pemuda tinggi besar dan gagah itu sudah maju menghadapinya. �gSobat, engkau adalah lawanku. Mari majulah kalau engkau memang memiliki kegagahan!�h

Sebetulnya Keng Han enggan ber­kelahi dengan orang itu tanpa alasan apa pun. Maka dia ragu-ragu dan tidak men­jawab, hanya memperhatikan Kwi Hong yang sesungguhnya bertemu lawan yang tangguh. Biarpun gadis ini memiliki ilmu pedang Ngo-keng Sin-kiam yang ampuh, namun ia kalah pengalaman sehingga setelah tosu itu mulai mengenal gerakan­nya, gadis itu berbalik terdesak mundur.

Pemuda itu karena tidak ditanggapi oleh Keng Han, juga memperhatikan jalannya perkelahian. antara Yo Han dan Thian-yang-ji. Alisnya berkerut melihat betapa Yo Han mempermainkan Thian­-yang-ji. Biarpun ketua Thian-li-pang itu hanya bertangan kosong saja dan Thian-­yang-ji bersenjata pedang, namun jelas nampak betapa dalam belasan jurus saja Thian-yang-ji mulai terdesak hebat. Me­lihat ini, pemuda itu mengeluarkan te­riakan mengguntur dan melompat dekat lalu menyerang Yo Han dengan pukulan jarak jauh yang mendatangkan angin besar.

Yo Han tekejut dan menangkis. Tang­kiasan itu membuat dia mundur dua lang­kah, akan tetapi pemuda itu pun ter­huyung mundur. Melihat pemuda itu me­lakukan pengeroyokan, Keng Han menjadi penasaran.�gJangan curang!�h Keng Han berseru dan dia lalu menyerang pemuda itu. Pemuda itu menangkis dan kembali dua te­naga yang dahsyat bertemu. Akibatnya Keng Han terdorong mundur, akan tetapi pemuda itu pun terhuyung. Keduanya sama-sama terkejutnya dan maklum bah­wa lawan memiliki tenaga yang kuat sekali.

Kini pertandingan menjadi tiga pa­sang. Kwi Hong masih terdesak oleh Koai Tosu yang lihai sekali ilmu pedang­nya. Untung Kwi Hong telah menguasai Ngo-heng Sin-kiam sehingga la masih mampu melindungi dirinya sehingga pe­dang lawan tidak pernah dapat menembus pertahanannya. Kalau tidak tentu sudah sejak tadi ia roboh, perkelahian antara Yo Han melawan Thian-yang-ji sebalik­nya membuat tosu itu terdesak. Walau­pun dia berpedang dan Yo Han tidak, namun dia hampir tidak kuat lagi meng­hadapi ilmu Bu-tek Hoat-keng dari Yo Han yang amat hebat. Akan tetapi yang paling ramai dan dahsyat adalah per­tandingan antara Keng Han dan pemuda itu. Mereka ternyata memiliki tenaga yang seimbang. Keng Han memainkan ilmu-ilmu yang didapatinya di Pulau Han­tu, yaitu Hong-In Bun-hoat dan Toat-­beng Bian-kun, bahkan mengerahkan te­naga panas dan dingin yang berada di tubuhnya. Namun, pemuda itu masih dapat mengimbanginya dengan ilmu silat yang aneh dan bentakan-bentakan yang mengandung kekuatan sihir. Kalau saja Keng Han tidak memiliki sin-kang kuat sekali berkat latihan Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang, tentu dia terpenga­ruh oleh bentakan-bentakan yang me­ngandung kekuatan sihir itu.

Tiba-tiba Thian-yang-ji yang terdesak itu berseru dan anak buahnya maju me­ngeroyok, demikian pula dengan anak buah Koai Tosu. Lima puluh orang maju mengeroyok tiga pendekar itu. Tentu saja Yo Han, Kwi Hong dan Keng Han harus mengerahkan seluruh kepandaian dan te­naganya menghadapi pengeroyokan itu. Mereka sudah merobohkan beberapa orang pengeroyok, akan tetapi karena lawan mereka tangguh sekali, pengeroyokan itu membuat mereka sibuk juga. Terutama Kwi Hong. Menghadapi Koai Tosu se­orang saja ia sudah repot, apalagi di­keroyok belasan orang. Ia mulai mundur dan lelah karena harus menangkis sekian banyak senjata yang menyerangnya. Ke­adaan gadis itu mulai gawat, sedangkan Yo Han dan Keng Han tidak berdaya menolongnya karena mereka sendiri repot. dengan pengeroyokan itu.

Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda yang banyak sekali, dan tak lama kemudian muncul pasukan pemerintah yang tidak kurang dari seratus orang banyaknya. Seorang perwira yang memimpin pasukan itu ber­seru, �gTuan puteri dalam bahaya! Cepat selamatkan beliau!�h Dan dia sendiri sudah menyerbu dengan pedangnya membantu Kwi Hong yang dikeroyok banyak orang. Para anak buah pasukan itu pun menyer­bu dan kini anak buah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai berbalik menjadi kalang kabut dan terdesak oleh pasukan yang dua kali lipat banyaknya itu.

Melihat ini, Thian-yang-ji terkejut bukan main. Dia memutar pedangnya, melompat mundur dan melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, dia ber­teriak, �gGulam Sang, cepat melarikan diri!�h

Pemuda tinggi besar yang masih me­lawan Keng Han mendengar seruan ini lalu melompat ke belakang, sementara Keng Han sendiri tertegun mendengar suara Thian-yang-ji tadi sehingga dia tidak mengejar. Gulam Sang? Dia teringat akan pesan mendiang gurunya, Gosang Lama agar kelak bekerja sama dengan putera suhunya itu yang bernama Gulam Sang! Jadi pemuda tinggi besar itu putera gu­runya! Menurut Dalai Lama, putera guru­nya itu telah menjadi murid Dalai Lama. Tidak mengherankan kalau dia memiliki ilmu yang tinggi sehingga dalam per­tandingan tadi dia tidak mudah mengalah­kannya.

Koai Tosu juga melarikan diri ber­sama Thian-yang-ji, diikuti teman-teman­nya yang belum roboh.�gJangan kejar!�h teriak Kwi Hong kepada komandan pasukan itu,

Perwira itu, menghampiri Kwi Hong dan memberi hormat. �gTuan Puteri tidak apa-apakah? Tidak terluka?�h

�gSama sekali tidak. Untung kalian muncul membantu, kalau tidak tentu kami akan celaka. Bhok-ciangkun, bagai­mana engkau dapat muncul bersama pa­sukanmu di sini?�h

�gKami mendapat tugas dari Yang Mulia Pangeran Mahkota untuk mencari Tuan Puteri. Sudah sebulan lebih kami mencari dan kebetulan saja kami men­dapatkan Paduka di sini. Kami pikir, bahwa mungkin sekali Paduka pergi ke Bu-tong-san.�h

Sementara itu, Yo Han dan Keng Han mendengar semua percakapan itu. Wajah Keng Han berubah saking kagetnya men­dengar ucapan panglima itu terhadap Kwi Hong. Tuan puteri? Pangeran Mahkota? Apa artinya ini? Jadi Kwi Hong adalah seorang puteri istana dan masih ada hu­bungannya dengan Pangeran Mahkota?

Yo Han juga tercengang dan dia lalu memberi hormat kepada Kwi Hong. �gKira­nya Nona adalah Tuan Puteri dari istana. Maafkan kalau saya bersikap kurang hor­mat.�h

�gAh, Paman Yo. Puteri atau bukan aku tetap saja sama, dan aku yang ber­terima kasih. Kalau tidak ada Paman tadi, tentu aku sudah celaka di tangan mereka.�h

Keng Han memandang gadis itu dan Kwi Hong juga memandangnya. Dua pa­sang mata bertemu pandang dan melihat pemuda itu diam saja tidak mengeluarkan suara, Kwi Hong tersenyum dan berkata, �gHan-ko, mengapa engkau diam saja?�h

�gEngkau.... engkau adalah puteri istana.... dan aku....�h Keng Han tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia tadinya hendak berkata bahwa dia pun putera Pangeran Mahkota. Untung dia masih ingat dan menyimpan rahasia­nya. Sebelum dia bertemu dengan ayah­nya, dia tidak akan membuka rahasianya.

�gBenar, aku memang puteri Pangeran Mahkota dan namaku Tao Kwi Hong, lalu mengapa, Han-ko? Aku masih Kwi Hong yang biasa itu bagimu.�h

�gAkan tetapi, Tuan Puteri....�h

�gAih, sebut aku Hong-moi seperti biasa, Han-ko. Kita masih tetap sahabat, bukan?�h

�gBenar, Hong-moi, kita tetap ber­sahabat.�h

Pada saat itu, Bhong-ciangkun mem­beri hormat kepada Kwi Hong dan ber­kata, �gSudah berbulan Paduka meninggal­kan istana. Yang Mulia Pangeran amat gelisah, maka harap Paduka segera meng­ikuti kami untuk pulang ke kota raja.�h

�gItu benar sekali, Tuan Puteri. Se­baiknya Tuan Puteri segera mengikuti pasukan ini pulang ke kota ra a.�h kata Yo Han yang ikut merasa tidak enak sekali. Tanpa disengaja, dia malah melindungi puteri pangeran penjajah!

Keng Han merasa tidak enak kalau diam saja. �gMemang itu yang paling te­pat, Hong-moi. Orang tuamu tentu cemas memikirkan keselamatanmu.�h

�gEngkau ikutlah dengan kami ke kota raja, Han-ko. Bukankah dahulu engkau mempunyai niat melihat-lihat kota raja?�h

�gTidak sekarang, Hong-moi. Lain kali kalau aku ke kota raja, aku tentu akan mencarimu.�h

�gBenarkah, Han-ko? Datang saja ke istana ayahku. Ayahku adalah Pangeran Mahkota dan semua orang tahu di mana istananya.�h

Keng Han merasa terharu. Jangan-­jangan gadis ini adalah saudaranya se­ayah! �gBaik, Hong-moi.�h

Kwi Hong lalu diberi seekor kuda yang bagus dan berangkatlah ia dikawal pasukan itu meninggalkan kaki Pegunung­an Bu-tong-san. Setelah gadis itu pergi dan derap kaki kuda tidak terdengar lagi, bayangannya tidak nampak lagi, Keng Han terharu dan menghela napas panjang,Yo Han agaknya mengerti akan isi hati pemuda itu dan dia pun menghibur, �gAda waktunya berpisah dan ada waktu­nya bertemu, Sobat Muda. Aku melihat gadis itu baik sekali padamu sehingga kelak kalian tentu akan dapat saling ber­jumpa kembali.

Tiba-tiba timbul keinginan di hati Keng Han untuk minta keterangan dari Yo Han ini. Sebagai ketua Thian-li-pang dan seorang pendekar kenamaan, tentu Yo Han mengetahui banyak tentang ke­luarga kaisar.

�gPaman Yo, kalau boleh aku bertanya, siapakah nama Pangeran Mahkota itu?�h

Pertanyaan yang diajukan sambil lalu ini tidak menarik kecurigaan Yo Han dan dianggap pertanyaan biasa seorang yang ingin tahu karena Pangeran Mahkota itu ayah dari gadis yang menjadi sahabat pemuda itu.

�gNamanya Pangeran Mahkota Tao Kuang.�h

Keng Han menyimpan keheranannya. Tadinya dia menduga namanya Tao Seng. Ataukah ayahnya itu kini telah menjadi kaisar? Dan siapakah nama kaisar, se­karang, Paman?�h

�gAh, engkau belum tahu? Agaknya engkau belum banyak merantau di dunia ramai, Keng Han. Nama kaisar adalah Kaisar Cia Cing.�h

Kembali Keng Han termenung. Kalau kaisar dan putera mahkotanya bukan ayahnya, lalu di mana adanya ayahnya dan apa pula kedudukannya? Dengan hati-hati agar jangan sampai kentara bahwa dia menaruh perhatian, dia lalu bertanya, �gMemang saya belum banyak merantau di dunia ramai sehingga tidak tahu apa-apa, Paman. Akan tetapi saya pernah mendengar tentang seorang pa­ngeran  bernama Pangeran Tao Seng. Adakah nama pangeran yang demikian itu?�h

�gPangeran Tao Seng?�h Yo Han me­ngerutkan alisnya, mengingat-ingat. �gKa­lau tidak salah dua puluh tahun yang lalu Pangeran  Tao Seng itu bersama Pangeran Tao San telah menerima hukuman buang. Mereka dihukum karena berselisih dengan Pangeran Mahkota Tao Kuang.�h

�gAh, dibuang? Ke manakah?�h

�gMana aku tahu? Mungkin juga dia sudah meninggal dunia sekarang. Orang yang dihukum amat berat, apalagi di­hukum buang di tempat terasing, jarang yang kuat bertahan. Hampir saja Keng Han meloncat saking kaget dan sedihnya mendengar ini. Ayahnya yang disangka menjadi pangeran atau bahkan kaisar itu, telah meninggal dalam pembuangan!

�gKenapa, Keng Han? Kenapa engkau menanyakan pangeran itu?�h

�gAh, tidak apa-apa, Paman. Hanya aku pernah bertemu seorang yang dahulu pernah ditolong oleh Pangeran Tao Seng, dan minta kepadaku untuk menyampaikan hormatnya kalau aku kebetulan bertemu dengannya.�h

�gO, begitukah? Keng Han, aku ter­tarik sekali melihat engkau ketika ber­kelahi tadi melawan pemuda tinggi besar yang lihai sekali itu. Engkau mampu menahan pukulannya dan engkau meng­gunakan ilmu-ilmu Pulau Es. Agaknya aku melihat pula engkau mempergunakan ilmu Toat-beng Bian-kun. Benarkah?�h

Keng Han juga kagum sekali. Orang ini dapat mengenal ilmu pukulannya, padahal dia sendiri dikeroyok banyak orang. �gBenar, Paman. Memang di Pulau Hantu itu aku menemukan dua ilmu silat itu yang kupelajari dengan tekun.�h

�gDan tenagamu itu! Coba kau terima pukulanku ini, Keng Han!�h Yo Han lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah Keng Han. Serangkum angin yang dahsyat menyambar dan Keng Han terkejut se­kali, cepat dia menerima dengan kedua tangannya dan secara otomatis dua hawa yang berlawanan dalam tubuhnya bekerja.

�gWuuuttttt....      dessss....!!�h       Keduanya terdorong ke belakang dan Yo Han ber­seru kaget.

�gAh, bukankah kedua tanganmu itu menggunakan tenaga Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang?�h

Karena sudah ketahuan, terpaksa Keng Han membenarkan. �gMemang aku juga mempelajari sin-kang itu dari coretan di dinding gua.�h

�gBukan main! Kalau begitu engkau benar-benar telah mewarisi pusaka Pulau Es, Keng Han! Berhati-hatilah engkau dan pergunakan ilmu-ilmu itu untuk ke­baikan. Ketahuilah bahwa keluarga para pendekar Pulau Es adalah para pendekar yang gagah perkasa. Kalau engkau keliru menggunakan ilmu-ilmu itu ke arah ke­jahatan, pasti mereka semua akan men­carimu dan membinasakanmu. Ilmu-ilmu pusaka Pulau Es tidak boleh diperguna­kan untuk kejahatan.�h

�gSemoga Tuhan menghindarkan aku dari perbuatan jahat, Paman!�h kata Keng Han penuh semangat. Dia adalah putera bangsawan. Ayahnya seorang pangeran Mancu dan ibunya adalah puteri kepala suku Khitan, bagaimana mungkin dia menjadi seorang penjahat!

Mereka lalu berpisah. Yo Han kembali ke Thian-li-pang di Bukit Naga dan Keng Han melanjutkan per jalanannya. Akan tetapi .dia menjadi bingung. Bagaimana kalau ayahnya benar-benar telah tewas seperti diduga oleh Yo Han tadi? Bagai­manapun juga, dia harus menyelidiki ke kota raja dan kalau benar ayahnya telah mati, dia harus membalas kematlin ayah­nya itu! Pantas selama ini ayahnya tidak pernah menengok ibunya. Kiranya dia dihukum buang. Dua puluh tahun yang lalu, jadi tidak lama setelah ayahnya meninggalkan ibunya.

Keng Han berjalan dengan wajah mu­ram. Dia teringat kepada Kwi Hong. Harus diakuinya bahwa dia tertarik sekali kepada Kwi Hong yang bersikap amat baik kepadanya. Hampir dia men­duga bahwa dia telah jatuh hati kepada gadis itu. Akan tetapi kenyataannya mem­buat dia muram dan berduka. Kwi Hong adalah Tao Kwi Hong, masih saudara sepupunya! Mereka bermarga Tao yang sama, maka sudah tentu tidak mungkin mereka saling jatuh cinta dan berjodoh. Makin dikenang semakin sedih hatinya.

Selagi dia berjalan perlahan-lahan tidak peduli ke mana dia pergi asal ke timur, tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar langkah kaki orang. Cepat dia menyelinap dan bersembunyi di balik semak belukar. Tak lama kemudian dia melihat dua orang kakek berjalan dengan langkah panjang. Seorang di an­tara mereka segera dikenalnya sebagai kakek yang dahulu pernah memukulnya ketika mereka bertemu di Pulau Hantu. Kakek raksasa berambut putih itu tidak akan pernah dilupakan. Adapun kakek kedua adalah seorang berusia enam puluh­an tahun, bertubuh tinggi kurus, tangan kanan memegang sebatang dayung baja dan lengan kirinya memanggul tubuh seorang wanita yang pakaiannya serba pu­tih dan mukanya tertutup topeng sutera putih pula. Jantung Keng Han berdebar tegang! Itulah gadis berpakaian putih yang menjadi sumoi dari Bi-kiam Nio-­cu! Jelas bahwa gadis itu telah tertotok. Tubuhnya lemas ketika dipanggul kakek tinggi kurus itu.

Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu memang benar adalah Swat-hai Lo-kwi, kakek yang dulu ber­temu dengan Keng Han di Pulau Hantu. Adapun kakek kedua yang menawan Souw Cu In, gadis berpakaian putih itu adalah Tung-hai Lo-mo. Kedua orang kakek ini sedang berjalan seiring menuju ke Bu-­tong-san.

Bagaimana gadis berpakaian putih itu sampai jatuh ke tangan Tung-hai Lo­mo? Gadis itu adalah murid Ang Hwa Nio-nio, murid ke dua akan tetapi karena ia lebih berbakat dan lebih disayang oleh Ang Hwa Nio-nio maka dalam hal ilmu silat, ia leblh lihai dari sucinya, Siang Bi Kiok atau Bi-kiam Nio-cu. Akan tetapi ia yang begitu lihai bagaimana sampai dapat ditawan dua orang kakek datuk sesat itu?

Terjadinya tadi pagi. Ketika itu Souw Cun In sedang berjalan seorang diri. Ia melewati sebuah dusun dan di dusun itu sedang diadakan keramaian karena ada pesta pernikahan di rumah kepala dusun, tentu saja semua penghuni dusun itu ber­datangan dan suasananya ramai dan me­riah sekali. Selagi orang ramai meraya­kan pesta itu, datanglah dua orang kakek memasuki tempat pesta. Mereka berdua disambut sebagai tamu walaupun tidak ada yang mengenalnya, dan memang demikianlah kebiasaan di dusun itu. Se­tiap ada pesta, siapapun yang datang di­anggap tamu dan disuguhi hidangan.

Dua orang kakek itu bukan lain ada­lah Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-­mo. Dasar dua orang datuk sesat, mere­ka tidak merasa puas hanya dilayani sebagai tamu biasa.

�gHai, tidak tahukah kalian siapa yang datang? Kami adalah dua orang datuk dan kami minta pelayanan istimewa. Hayo keluarkan arak pengantin yang ter­baik dan hidangan yang paling lezat, ke­mudian sepasang pengantin harus melayani kami makan minum!�h Demikian kata Tung-hai Lo-mo yang berwatak mata keranjang itu. Swat-hai Lo-kwi hanya tertawa saja melihat ulah kawannya.

Tentu saja suasana menjadi gempar. Tuan rumah, si kepala dusun, datang menemui mereka dan berusaha untuk membujuk mereka agar jangan membuat kacau pesta pernikahan. Mereka akan dilayani sebagai tamu terhormat seperti yang lain.�gTidak, pengantin wanita harus me­layani kami makan minum!�h Tung-hai Lo­mo membentak.

Kepala dusun itu menjadi marah. Ber­sama beberapa orang pemuda dia meng­hampiri dua orang tua itu dan berkata dengan suara tegas. �gKami tidak bisa menuruti kehendak kalian yang tidak pantas itu. Kalau mau menerima pela­yanan kami atau pergi dari sini dan ja­ngan menimbulkan kekacauan!�h

Lo-mo menoleh kepada Lo-kwi. �gMe­reka belum mengenal kami maka berani sembarangan. Mereka harus dihajar agar mengenal siapa kami!�h Kedua orang ka­kek itu lalu menerjang maju dan kepala dusun bersama enam orang pemuda itu sudah terlempar ke sana sini!

Orang-orang muda di dusun itu men­jadi marah. Mereka lalu maju mengero­yok, akan tetapi hasilnya mereka sendiri yang terlempar malang melintang terkena tamparan dan tendangan kakek itu.

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring lembut, �gDari mana datangnya dua orang kakek yang begini jahat?�h Dan muncullah seorang gadis berpakaian putih yang wajah bagian bawahnya tertutup kain putih pula. Demikian cepat gerakan­nya sehingga tidak ada orang yang me­lihatnya datang.

Lo-kwi dan Lo-mo juga menengok dan menghadapi gadis itu. Mereka tertawa dan Lo-mo berkata, �gHa, kenapa gadis secantik kamu menutupi mukamu dengan kain? Engkau pun harus melayani kami makan minum bersama mempelai wanita,jadi ada dua orang pelayan untuk kami berdua.�h

�gJi-wi (kalian berdua) tentulah se­orang datuk yang tingkatnya sudah tinggi dalam ilmu silat. Mengapa masih tidak malu mengganggu orang dusun? Harap Ji­wi menghentikan perbuatan yang akan mencemarkan nama besar Ji-wi sendiri.�h Gadis itu berkata lagi. Sepasang matanya yang tidak ditutupi itu nampak bening dan bersinar tajam menyapu kedua orang datuk sesat itu.

�gNona, siapakah engkau? Apalagi baru seorang gadis muda sepertimu, bahkan kalau gurumu sendiri datang ke sini, kami tidak akan gentar menghadapinya!�h

�gGuruku adalah seorang pendeta wa­nita bernama Ang Hwa Nio-nio, kalau melihat perbuatan kalian, kalian tentu tidak akan diberi ampun!�h

Dua orang kakek itu bangkit berdiri. �gAha, kiranya murid Ang Hwa Nio-nio?�h seru Lo-kwi. �gBagus, kini aku mendapat kesempatan untuk membalas penghinaan yang pernah kuterima dari Ang Hwa Nio-­nio!�h

�gDan Nona ini tentu cantik luar biasa, sayang kalau dilewatkan begitu saja!�h kata Lo-mo sambil menyeringai.

�gKiranya kalian adalah orang-orang yang sesat dan memang patut diberi hajaran!�h kata gadis itu yang bukan lain adalah Souw Cu In yang kebetulan le­wat di dusun itu.

�gLo-kwi, biar aku yang menangkap gadis ini!�h kata pula Lo-mo yang sudah tergiur hatinya melihat bentuk tubuh dan, juga muka bagian atas dari Souw Cu In. Lo-kwi hanya tersenyum dan menenggak arak dari guci yang berada di atas meja.

Tung-hai Lo-mo memandang rendah gadis berkedok itu, maka dia tidak menggunakan dayungnya yang dia sandarkan meja. Dia lalu menerjang dengan kedua tangannya yang panjang itu menerkam dari kanan kiri. Agaknya dengan tubruk dia hendak menangkap gadis itu. Akan tetapi dia kecelik sama hanya menerkam angin belak Souw Cu In sudah dapat mengelak dengan amat mudahnya, dan dengan geseran kakinya sudah berada belakang lawan. Lo-mo membalik dengan cepat dan kini menyerang lagi dengan pukulan yang dilanjutkan cengkeraman tangannya.

Souw Cu In menangkis dengan cepat dan tangkisan itu membuat tangan yang mencengkeram itu terpental dan gadis itu membalas dengan tamparan yang kuat ke arah muka kakek tinggi kurus itu.

Lo-mo menjadi terkejut sekali. Tam­paran itu keras dan mendatangkan angin, maka dia lalu meloncat ke belakang untuk menghindarkan dirinya. Tiba-tiba ada sinar kecil putih meluncur ke arah mukanya. Lo-mo terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi ujung sabuk sutera putih yang panjang itu masih mengenai pundaknya.

�gPrattt....!�h Dan dia terhuyung ke belakang. Baju di pundaknya robek dan kulit pundaknya terasa perih. Bukan main marahnya. Disambarnya dayung baja yang disandarkan pada meja tadi dan kini dia menyerang dengan ganasnya kepada gadis berpakaian putih itu.

Para tamu menjadi geger. Medan pesta menjadi medan perkelahian! Kepala dusun dan para orang muda yang tadi sudah berkenalan dengan kelihaian Lo-­mo hanya bisa menonton sambil berdoa semoga gadis berpakaian putih itu men­dapatkan kemenangan.

Perkelahian berlangsung seru dan se­imbang. Lo-mo memainkan dayungnya yang menyambar-nyambar. Akan tetapi gadis itu lincah sekali gerakannya se­hingga setiap sambaran dayungnya selalu dapat dihindarkan. Bahkan lecutan sabuk suteranya yang meledak-ledak itu kadang mengacam kepalanya yang mengirim totokan ke arah jalan-jalan darah di tubuhnya. Biarpun pertandingan berjalan seimbang, namun karena Lo-mo kalah dalam hal kecepatan bergerak, dia lebih banyak menerima serangan dan kelihatan terdesak.

Melihat temannya tidak mampu me­ngalahkan gadis itu, Lo-kwi tidak tinggal diam. Dia mendendam kepada Ang Hwa Nio-nio yang pernah mengalahkannya dalam pertandingan. Maka kini dia hen­dak melampiaskan dendamnya kepada murid Ang Hwa Nio-nio. Dia segera maju dan melancarkan pukulannya yang mengandung sinkang dingin.

Merasa ada hawa dingin menghantam­nya dari samping, Souw Cu In terkejut dan maklum bahwa kakek ke dua mem­bantu temannya. Dia mengelak dengan loncatan ke kiri sambil memutar sabuk suteranya yang melingkar dan membalik menyerang Lo-kwi. Akan tetapi Lo-kwi menangkisnya dengan pukulannya yang ampuh sehingga ujung cambuk itu ter­pental.

Pada saat itu, dayung di tangan Lo­mo sudah menyambar lagi. Souw Cu In mengelak akan tetapi pukulan Lo-kwi kembali menyambar dengan dahsyatnya. Kembali Cu In melompat ke belakang untuk menghindarkan diri.

Sebetulnya, tingkat kepandaian Souw Cu In sudah tinggi dan kalau dibanding­kan dengan Lo-kwi atau Lo-mo, tingkat­nya seimbang. Akan tetapi karena kedua iblis tua itu maju bersama mengeroyok­nya, tentu saja ia menjadi kewalahan! Akhirnya, sebuah pukulan dari Lo-kwi menyerempet pundaknya, membuat ia terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lo-mo untuk menotoknya se­hingga ia menjadi lemas dan tak mampu bergerak lagi.

Lo-mo tertawa puas dan memanggul tubuh yang ramping itu, lalu mengambil sabuk sutera putih itu dan menggunakan­nya untuk mengikat kedua tangan Cu In.

�gMari kita pergi dari sini!�h katanya kepada Lo-kwi. Karena merasa tidak enak bahwa semua orang dusun memusuhi mereka, Lo-kwi menyambar seguci arak dan pergi mengikuti teman­nya yang sudah lebih dulu melangkah pergi sambil memanggul tubuh Cu In.

�gHei, tunggu dulu!�h kata Lo-kwi se­telah mereka meninggalkan dusun itu. �gUntuk apa engkau menawannya?�h

�gHeh-heh-heh, untuk apa? Tentu un­tuk bersenang-senang. Gadis ini cantik sekali!�h

�gBodoh. Apakah kau tidak lihat dulu mukanya yang ditutupi itu? Bukan tidak ada sebabnya ia selalu menutupi muka­nya!�h kata Lo-kwi. Mendengar ini, Lo­-mo lalu menurunkan tubuh Souw Cu In ke atas tanah dan tangannya menyingkap kedok putih itu. Dia terbelalak dan Lo-kwi tertawa mengejeknya.

�gKalau begitu, kita bikin mampus saja bocah setan ini. Untuk apa dibawa­-bawa?�h kata Lo-mo dengan marah.

�gNanti dulu. Aku pernah diperhina oleh Ang Hwa Nio-nio, pernah dikalah­kannya walaupun selisihnya sedikit saja. Aku ingin membawa muridnya kepadanya untuk menghinanya.�h

�gKalau ia marah dan menyerangmu?�h

�gHa-ha-ha, sudah kukatakan bahwa aku hanya kalah sedikit saja olehnya. Kalau ada engkau yang membantuku, tentu kita berdua akan mampu mem­bunuhnya dengan mudah!�h

�gEngkau hendak membawa aku ber­musuhan pula dengannya?�h Lo-mo mem­bantah.

�gEh, Kawan. Bukankah kita sudah bersekutu untuk membantu Bu-tong-pai? Kita ini sekutu, dalam segala hal harus­lah bersatu, bukan?�h

Lo-mo menarik napas panjang. �gBaik­lah, mari kita pergi.�h

Dia lalu mengambil lagi tubuh Cu ln dan memanggulnya, tidak lagi lembut dari mesra seperti tadi, melainkan dengan kasar dia memanggul tubuh itu dan ke­duanya lalu melanjutkan perjalanan, hen­dak menuju ke tempdt tinggal Ang Hwa Nio-nio dan Lo-kwi yang menjadi pe­nunjuk jalan.

Demikianlah mereka tidak tahu bahwa mereka telah diintai oleh Keng Han yang kemudian membayangi mereka dari bela­kang. Setelah hari menjadi sore, kedua orang datuk itu beristirahat di dalam sebuah gua dan mereka menaruh tubuh Cu In di atas tanah, di ujung gua itu. Kemudian mereka mengeluarkan bekal roti kering dan minum anggur yang tadi dibawa oleh Lo-kwi dari rumah pengantin.

Keng Han mendekati mereka. Setelah tiba di balik semak dekat gua, dia lalu mengambil beberapa buah batu kerikil. Dia membidik dan menyambitkan batu-­batu kerikil itu ke arah tubuh Cu In yang menggeletak di sudut gua. Bidikan­nya tepat dan dengan mudah dia sudah membebaskan Cu In dari totokannya.Gadis ini terkejut dan juga girang. Ia tahu bahwa ada orang yang menolongnya, membebaskan totokannya dengan sambitan batu kerikil. Akan tetapi kare­na kedua tangannya masih terbelenggu sabuknya sendiri, ia pura-pura tidak ber­gerak. Diam-diam ia mengerahkan sin­kangnya dan perlahan-lahan ia dapat meloloskan tangannya dari ikatan sabuk­nya. Setelah itu, ia pun meloncat ba­ngun, sabuk sutera yang menjadi senjata ampuhnya itu telah berada di tangannya. Mendengar gerakan ini, dua orang kakek itu menengok dan alangkah kaget hati mereka melihat gadis itu telah bebas dan telah siap menyerang dengan sabuknya! Mereka meloncat berdiri dan siap pula. Lo-rno sudah menyambar dayung bajanya. Akan tetapi, pada saat itu ada bayangan orang melayang dan berada di depan gua. Keng Han segera mengenal Swat-hai Lo-­kwi, kakek raksasa rambut putih yang dulu pernah memukulnya ketika mereka bertemu di Pulau Hantu. Maka dia se­gera menghadapinya.

�gKakek tua, sebetulnya seorang yang sudah tua sepertimu ini mencari jalan terang dengan perbuatan yang baik agar kelak mendapat pengampunan dari Tuhan, bukan malah memupuk kejahatan!�h kata Keng Han.

Lo-kwi tidak mengenal Keng Han. Ketika mereka bertemu dahulu, Keng Han baru berusia lima belas tahun, masih remaja dan kini pemuda remaja itu telah menjadi seorang pemuda dewasa. Akan tetapi Souw Cu In mengenal Keng Han yang pernah hendak dibunuh sucinya. Ia tahu bahwa pemuda itu yang menolong­nya, akan tetapi ia pun khawatir akan keselamatan pemuda itu. Kalau pemuda itu melawan sucinya saja kalah, bahkan diakui murid oleh sucinya, bagaimana mungkin dia akan menandingi Swat-hai Lo-kwi? Maka, untuk menolong pemuda itu, ia sudah cepat menyerang dengan sabuk suteranya ke arah Lo-mo sambil berseru, �gSobat, kau cepat lari dari sini!�h

Akan tetapi Keng Han tidak lari bah­kan dia pun lalu menyerang Lo-kwi! Se­rangannya mendatangkan angin yang kuat sehingga Lo-kwi terkejut dan mengelak, kemudian membalas dengan pukulannya yang dingin.

Menghadapi pukulan dingin ini, Keng Han menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan hawa panas dari Hwi-yang Sin-kang.

�gWuuuttttt.... desssss....!�h Akibatnya, tubuh kakek raksasa itu terpental ke belakang. Bukan main kagetnya Swat-­hai Lo-kwi karena ketika tangannya tertangkis tadi, ada hawa yang panas me­nyusup ke tubuhnya melalui lengannya sehingga membuyarkan tenaga dingin yang tadi dikerahkannya. Dia lalu me­nerjang lagi dengan ilmu silatnya yang aneh dan Keng Han melayaninya dengan Hong-in Bun-hoat sehingga terjadilah perkelahian yang seru di antara mereka.

Sementara itu, Cu In juga sudah menyerang Lo-mo kalang-kabut karena ke­marahannya kepada kakek tinggi kurus ini. Sabuk sutera putihnya menyambar-­nyambar dan meledak-ledak di atas ke­pala lawan dengan totokan-totokan yang berbahaya. Ang Hwa Nio-nio memang seorang ahli totok yang lihai sekali, dan ia sudah menurunkan ilmu totoknya itu kepada kedua orang muridnya. Hanya bedanya, kalau Siang Bi Kiok atau Bi­-kiam Nio-cu diajar menotok dengan jari tangan, Souw Cu In melakukan totokan­-totokan dengan ujung sabuk suteranya! Karena kini tidak lagi dibantu Lo-kwi yang sibuk sendiri melawan pemuda itu, Lo-mo menjadi kewalahan dan segera terdesak oleh gadis berpakaian putih itu.

Keng Han juga tidak mau memberi kesempatan kepada lawannya. Ketika lawannya lengah, sebuah hantaman de­ngan tangan kirinya mengenai pundak lawan. Tangan kirinya mengandung Swat-­im Sin-kang dan kakek yang ahli ilmu tenaga sin-kang dingin itu kini meng­gigil kedinginan. Dia menjadi jerih dan berteriak kepada kawannya.

�gLo-mo, mari kita pergi!�h

Teriakan itu sudah dimengerti oleh Lo-mo bahwa kawannya itu tidak mampu menandingi lawan, maka dia memutar dayungnya dengan cepat, dahsyat. Meng­hadapi serangan dahsyat ini, terpaksa Cu In mundur dan kesempatan ini diperguna­kan oleh Lo-mo untuk meloncat dan melarikan diri bersama kawannya.

Cu In yang marah sekali kepada ka­kek itu hendak mengejar, akan tetapi Keng Han berkata, �gTidak menguntungkan mengejar lawan yang sudah kalah. Apa­lagi mereka berdua!�h

Mendengar ini, Cu In tidak melanjut­kan pengejarannya dan ta berdiri meman­dang pemuda itu dengan sinar mata yang tajam sambil menggulung kembali sabuk suteranya dan menyelipkan di pinggang­nya.

�gKenapa engkau membantuku?�h Per­tanyaan itu pendek akan tetapi seperti suara orang yang menuntut.

Keng Han menjadi bingung. �gKenapa? Kenapa, ya? Barangkali melihat seorang wanita ditawan oleh dua orang datuk sesat, atau barangkali karena engkau pernah menyelamatkan nyawaku ketika akan dibunuh oleh Bi-kiam Nio-cu.�h

�gAku tidak menyelamatkanmu, me­lainkan menghindarkan suci dari perbuat­an yang keliru. Aku tidak menghutangkan budi apa pun padamu. Lalu kenapa eng­kau menolongku? Jawab yang jelas!�h Wanita itu kembali bertanya dengan suara sungguh-sungguh.

�gJawabannya mudah saja. Melihat seorang wanita ditawan orang jahat, tentu saja aku menolongnya.�h

�gBagaimana kalau wanita itu bukan aku?�h

�gAku tetap akan menolongnya, tidak peduli orang itu engkau atau siapapun juga. Sudah menjadi tugas kewajibanku untuk menolong orang yang tertindas dan menentang orang yang jahat. Nah, puas­kah engkau dengan jawaban itu?�h

Souw Cu In menghela napas panjang. �gCukup puas. Jadi itu berarti bahwa engkau menolong tanpa pamrih, bukan menolong aku pribadi, melainkan aku se­bagai wanita yang terancam bahaya.�h

�gTentu saja. Pula, andaikata aku me­nolong karena engkau, itu pun tidak aneh, bukan? Engkau pernah menyelamatkan aku, sudah semestinya kalau sekarang aku membalas budi itu.�h

�gTidak! Jangan lakukan itu. Tidak ada budi di antara kita. Aku adalah wanita biasa bagimu, bukan? Engkau tidak ter­tarik kepadaku karena aku pernah menolongmu, atau karena keadaan diriku?�h

Keng Han merasa betapa anehnya pertanyaan wanita ini. Kemudian dia teriIngat akan keterangan Bi-kiam Nio-cu. Guru kedua orang gadis itu nenek yang amat kejam itu, melarang kedua orang muridnya berhubungan akrab dengan pria. Mereka dilarang jatuh cinta atau dicinta seorang laki-laki. Kalau ada laki-laki yang jatuh cinta kepada mereka, mereka harus membunuh pria itu! Karena itulah agaknya wanita berkedok ini bertanya kepadanya untuk melihat apakah dia menaruh perhatian atau jatuh cinta kepadanya. Diam-diam dia bergidik! Kalau dia mengaku tertarik, mungkin wanita ini akan membunuhnya!

�gEngkau aneh sekali, Nona. Aku me­nolongmu tanpa pamrih apa pun!�h

Mendengar jawaban yang tegas itu, baru Souw Cu In kelihatan tenang. Mata­nya berseri dan sinarnya tidak setajam tadi, melainkan lembut.

�gSiapakah namamu?�h

�gNamaku Si Keng Han.

�gJadi engkau telah menjadi murid suciku?�h

�gBenar, subo mengajarkan ilmu me­notok kepadaku.�h

�gKalau begitu aku ini su-i-mu (bibi gurumu) maka sudah semestinya engkau menyebut bibi guru kepadaku.�h

�gAkan tetapi engkau masih begini muda, tidak pantas aku menyebut bibi guru!�h

�gKeng Han, engkau murid suciku, bukan? Apakah suciku sudah begitu tua sehingga ia menjadi gurumu?�h

Keng Han teringat dan dia pun mem­beri hormat sambil berkata, �gBaiklah, Su­i!�h

�gBagaimana engkau tadi dapat me­lihat aku dibawa dua orang datuk itu? Engkau hendak pergi ke manakah?�h

�gAku sedang melakukan perjalanan ke timur, ke kota raja, dan tadi aku me­lihat dua orang datuk itu lewat. Melihat mereka menawanmu, aku lalu membayang mereka dan setelah mereka tiba di sini, aku turun tangan menolongmu.�h

�gPantas engkau pandai membebaskan totokan pada tubuhku, kiranya sudah belajar dari suci. Akan tetapi, kulihat kepandaianmu tidak di sebelah bawah tingkat suci, kenapa engkau menjadi muridnya. Benarkah engkau tidak mem­punyai perasaan suka dan cinta terhadap suci?�h

�gTidak sama sekali, Su-i. Aku suka menjadi muridnya mempelajari ilmu to­tokan, karena selain aku memang suka mempelajari segala macam ilmu, juga subo telah memperlihatkan kemahirannya dengan mengalahkan aku, yaitu dengan totokan itu.�h

�gUntung engkau tidak mencintanya, kalau engkau mencintanya berarti engkau harus mati di tangannya. Jangan sekali­-kali engkau jatuh cinta kepada orang-orang seperti kami, karena itu merupa­kan keputusan hukuman mati bagimu.�h

�gAku.... aku tidak beran....!�h kata Keng Han ngeri akan tetapi dia tidak dapat membohongi dirinya bahwa berbeda dengan perasaan hatinya terhadap Nio-­cu, terhadap nona berpakaian putih ini lain lagi. Hatinya amat tertarik dan dia ingin mengenalnya lebih dekat lagi.

NEXT BKS 17 - Part 6

Hosted by www.Geocities.ws

1