See who's visiting this page. View Page Stats
See who's visiting this page.Counter

Pusaka Pulau Es
                                                    BKS 17 - PART 4

By Khopingho0

Kakek timpang ini adalah Toat-beng Kiam-sian (Dewa Pedang Pencabut Nyawa) Lo Cit, seorang di antara para datuk persilatan yang terkenal kehebatan ilmu silatnya. Dan sekarang, ada seorang pemuda berani menegurnya seperti se­orang tua menegur seorang anak nakal saja! Demikian heran kakek itu sampai dia tidak mampu menbeluarkan kata­-kata, hanya memandang dengan bengong kepada Keng Han. Akhirnya setelah dia merasa yakin bahwa dia tidak sedang mimpi, dia membentak dengan bengis, �gBocah setan, apa engkau sudah bosan hidup?�h

Bi-kiam Nio-cu terkejut setengah mati melihat ulah Keng Han. Ia merasa jerih melihat kakek timpang ini. Ketika tadi ia melihat seorang pria timpang berjalan dengan tongkatnya, ia segera mengenal siapa dia dan ia merasa jerih. Lebih baik tidak bertemu dengan datuk ini, pikirnya. Bagaimana ia tidak akan merasa jerih? Gurunya sendiri, Ang Hwa Nio-nio, pernah bertanding melawan da­tuk timpang ini dan berakhir seri, tidak ada yang menang!

Kini melihat Keng Han melompat keluar dan menegur kakek itu, hatinya tentu saja khawatir bukan main. Di luar kesadarannya sendiri Bi-kiam Nio-cu merasa amat sayang kepada Keng Han dan khawatir kalau pemuda itu celaka, maka ia melupakan rasa takutnya sendiri dan meloncat pula keluar dari balik se­mak-semak. Ia cepat memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di de­pan dada sambil berkata dengan nada menghormat.

�gHarap Lo-pangcu sudi memberi maaf kepada muridku yang kurang sopan ini. Karena dia tidak mengenal Locian-­pwe, maka telah bersikap kurang hormat. Dengan memandang mukaku, dan muka guruku, harap Lo-pangcu sudi memaaf­kan.�h

Kakek itu menoleh kepada Nio-cu dan memandang tajam penuh perhatian. �gHemmm, ini muridmu? Dan siapa guru­mu?�h

�gGuru saya adalah Ang Hwa Nio-nio!�h

Kakek itu mengangguk-angguk dan kembali memandang kepada Keng Han. �gHemmm, jadi anak setan ini adalah cucu murid Ang Hwa Nio-nio? Nenek gurunya saja tidak mampu mengalahkan aku, sekarang cucu muridnya berani me­negur aku. Dia harus dapat menahan sepuluh jurus pukulanku, baru aku dapat memaafkan dia!�h

Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok terkejut bukan main, ia tahu bahwa kakek itu lihai bukan main. Bukan saja terkenal sebagai ahli pedang sehingga dia disebut. Dewa Pedang dan pedang itu disembunyi­kan di dalam tongkatnya itu, akan tetapi juga dia ahli mempergunakan ilmu pukul­an yang disebut Pukulan Halilintar yang ampuhnya menggila! Mana mungkin Keng Han dapat bertahan sampai sepuluh ju­rus? Lima jurus saja sudah cukup untuk membunuh Keng Han. Ia sendiri belum tentu dapat bertahan sampai sepuluh jurus.

�gSaya hanya mohonkan ampun bagi nyawa murid saya. Harap Lo-pangcu tidak membunuhnya karena kalau Pangcu melakukan itu, tentu akan membuat kumi semua, juga guru saya, merasa tidak enak sekali.�h

�gHa-ha-ha, jangan khawatir. Aku tidak perlu membunuhnya, cukup membuat kaki tangannya lumpuh untuk selamanya agar dia tidak berani lagi bersikap kurang ajar!�h

Sementara itu, Keng Han sudah berkata, �gSubo, jangan minta-minta seperti itu.  Kakek ini memang kejam bukan main.�h

�gKeng Han, cepat minta ampun ke­pada Lo-pangcu!�h kata Nio-cu.

�gTidak, dia yang harus minta ampun kepada Tuhan atas dosanya! Aku akan menerima tantangannya menghadapinya sampai sepuluh jurus. Harap Subo tidak khawatir. Aku mampu menjaga diri!�h

�gBagus, bocah sombong. Nah, terima­lah jurus pertama ini!�h Kakek timpang itu berseru dan tangan kirinya sudah menyambar dengan hebat sekali ke arah kepala Keng Han. Memang bukan main cepatnya serangan itu, cepat dan kuat sekali sehingga mendatangkan angin pu­kulan yang dahsyat. Akan tetapi Keng Han sudah bergerak cepat dan berhasil mengelak dari jurus pertama itu. Dia mengelak dengan gerakan dari Hong In Bun-hoat. Melihat serangan pertamanya gagal, kakek timpang itu menjadi pena­saran sekali dan kini dia memukul lagi dengan tenaga sepenuhnya. Terdengar angin berdesir dan debu mengepul ketika kakek itu memukul dengan tangan kirinya lagi ke arah dada.          

Keng Han mengubah gerakan silatnya dan kini dia memakai ilmu silat Toat­-beng Bian-kun, ilmu silat yang dipelajari­nya dari Pulau Hantu. Ilmu silat ini ber­sifat lemas, namun di balik kelemasan itu terkandung tenaga dahsyat sekali sehingga ketika dia menangkis, pukulan kakek itu seperti masuk ke dalam air saja. Kakek itu terkejut bukan main dan dia segera mengamuk, mengirim pukulan beruntun dengan hebatnya.

Sementara itu, Bi-kiam Nio-cu hanya menonton dengan hati tidak karuan rasa­nya. Ia yakin bahwa muridnya yang ter­sayang itu akan terpukul mati atau se­tidaknya akan lumpuh seperti ancaman kakek itu dan ia tidak berani turun ta­ngan membantu.

Akan tetapi segera ia memandang dengan terheran-heran. Muridnya itu bukan saja mampu menghindarkan diri, bahkan berani menangkis pukulan datuk itu.

Karena merasa penasaran bukan main setelah lewat sembilan jurus dia belum mampu mengalahkan bocah itu, Toat-­beng Kiam-sian lalu merendahkan tubuh­nya dan menyalurkan tenaga sinkang ke dalam kedua tangannya, kemudian me­mukul ke depan seperti mendorong. Ini­lah Pukulan Halilintar yang telah menga­lahkan banyak sekali ahli silat di dunia kang-ouw. Nio-cu mengandang dengan muka pucat sekali karena sekali ini mu­ridnya pasti celaka.

Melihat pukulan yang luar biasa kuat­nya itu, yang mendatangkan angin se­olah timbul badai, Keng Han juga me­rendahkan tubuhnya dan dia menyambut pukulan itu dengan kedua tangannya pula. Diam-diam dia mengerahkan dua hawa sakti yang berlawanan dalam tubuhnya dan dua macam tenaga sakti meluncur melalui kedua tangannya, yang kanan mengandung hawa panas dan yang kiri mengandung hawa dingin!

�gWuuuuuttttt.... desssss....!!!�h Dua tenaga yang amat hebat bertubrukan di udara dan akibatnya, tubuh kakek itu terpental ke belakang sampai dia ter­huyung beberapa langkah, sedangkan tu­buh Keng Han hanya bergoyang-goyang saja!

Nio-cu terbelalak, hampir tidak per­caya kepada pandang matanya sendiri. Juga kakek timpang itu terkejut setengah mati. Tak disangkanya bahwa pemuda itu bukan saja mampu menahan Pukulan Ha­lilintarnya, bahkan mengatasinya dan membuatnya terhuyung! Dia lalu meng­angkat tongkatnya yang menyembunyikan pedang dan hendak menyerang lagi menggunakan pedangnya.

Akan tetapi Nio-cu cepat meloncat ke depan dan berkata, �gLo-pangcu telah menyerang sebanyak sepuluh jurus dan telah mengalah, memberi pelajaran ke­pada murid saya. Saya sebagai gurunya menghaturkan terima kasih atas kebaikan ini!�hWajah Toat-beng Kiam-sian berubah merah. Akan tetapi dia juga meragu dan agak jerih. Kalau muridnya sudah demi­kian hebatnya, apalagi gurunya! Agaknya murid Ang Hwa Nio-nio ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Juga dia teringat akan janjinya bahwa dia akan mengampuni pemuda itu kalau mam­pu menahan sepuluh jurus serangannya, maka sambil mendengus marah dia mem­balikkan tubuhnya dan sekali melompat dia sudah hilang di balik semak belukar. Gerakannya demikian cepat sehingga mengagumkan hati Keng Han.

Setelah bertemu dengan Nio-cu, baru dia tahu bahwa di dunia ini terdapat banyak sekali orang yang amat lihai, akan tetapi juga amat kejam.

Nio-cu menghampiri Keng Han dan meraba-raba pundaknya. �gEngkau tidak apa-apa?�h

�gTidak, Subo. Kenapa Subo melerai? Biarlah dia mengeluarkan seluruh ke­pandaiannya, teecu tidak takut!�h kata Keng Han penasaran.

�gSudahlah, Keng Han. Engkau dapat keluar dengan selamat saja sudah me­rupakan keajaiban. Keng Han, sebetulnya engkau memiliki ilmu apakah? Bagaimana engkau dapat menahan ilmu Pukulan Halilintar tadi?�h

Keng Han tersenyum. �gAku adalah murid Subo, mengapa Subo bertanya? Se­mua ilmuku tentu kudapatkan dari guru­ku, bukan?�h Dia mengejek. Nio-cu ter­belalak dan wajahnya berubah merah. Memang selama ini ia belum mengajar­kan apa-apa, juga ilmu totok itu belum ia ajarkan.

�gMarilah aku mengajarkannya kepada­mu. Akan tetapi engkau harus sungguh-­sungguh melawanku, seperti kau melawan kakek tadi!�h

�gBaik, Subo.�h kata Keng Han dengan girang. Dia memang ingin mempelajari ilmu totokan yang disebut Tok-ciang itu, walaupun bukan itu benar yang membuat dia betah melakukan perjalanan bersama gurunya ini. Entah bagaimana, dia pun suka sekali kepada Nio-cu dan tidak ingin berpisah darinya, ingin agar di temani ke Tibet. Bukan hanya pribadi Nio-cu yang menyenangkan hatinya, akan tetapi juga pengalamannya akan amat berguna baginya dalam perjalanan me­nemui Dalai Lama itu.

Keng Han sudah melepaskan bungkusan pakaian dari pundaknya, dan siap meng­hadapi serangan gurunya. Nio-cu juga melepaskan buntalan pakaiannya dan pedangnya, kemudian ia memasang kuda­-kuda.

�gLihat seranganku!�h katanya tiba-tiba, dan ia pun menyerang dengan cepat. Se­rangannya cepat dan kuat dan ia telah mempergunakan Tok-ciang, yaitu ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun. Keng Han tidak berpura-pura lagi. Dia pun menyambutnya dengan Toat-beng Bian-kun. Dan seka!i ini benar-benar Nio-cu dibuat terheran-heran. Ilmu silat mu­ridnya itu demikian aneh dan asing ge­rakannya, akan tetapi semua pukulannya meleset dan tidak pernah mengenai sa­saran.

Kemudian ia mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dan menyerang dengan hebatnya, menggunakan kedua telapak tangannya. Keng Han menyambut dengan kedua tangannya pula.

�gWuuuttttt....      desss....!�h Dan tubuh Nio-cu terjengkang seperti ditolak oleh tenaga yang amat dahsyat dan ia merasa betapa tangan kanannya bertemu hawa dingin sekali sedangkan tangan kirinya bertemu hawa panas luar biasa.

�gAhhh.... Subo, engkau tidak ter­luka....?�h Keng Han cepat menghapiri gurunya dan membungkuk, untuk mem­bantunya berdiri. Akan tetapi secepat kilat tangan Nio-cu sudah menotok pun­daknya dan seketika Keng Han tidak mampu menggerakkan kedua tanganya.�gSubo, kenapa....?�h tanyanya heran.

Nio-cu bangkit berdiri wajahnya agak pucat, akan tetapi pandang matanya penuh keheranan. Dalam pertandingan ilmu silat tadi, jelas bahwa ia kalah kuat dan bahwa muridnya ini memiliki ilmu silat yang hebat bukan main dan me­miliki tenaga sinkang yang berlawanan, tangan kirinya dingin dan tangan kanan­nya panas. Akan tetapi menghadapi ilmu totokannya, muridnya ini agaknya tidak berdaya.   

�gKeng Han, apakah gurumu Gosang Lama itu seorang anggauta keluarga Pulau Es?�h tanyanya.

�gBukan, Subo. Akan tetapi tolong bebaskan dulu totokan ini.�h

Nio-cu membebaskan totokannya dan Keng Han dapat bergerak kembali. �gDia­kah yang mengajarkanmu menggunakan tenaga tadi? Dan ilmu silatmu itu, apa­kah dia pula yang mengajarkannya?�h

Terpaksa Keng Han berterus terang. �gSesungguhnya bukan dia yang mengajarkannya, Subo, melainkan aku belajar sendiri dari dalam sebuah gua di Pulau Hantu.�h

�gPulau Hantu....?�h

Keng Han lalu meceritakan tentang munculnya sebuah pulau baru di per­mukaan laut itu yang oleh para nelayan disebut Pulau Hantu dan diceritakannya pula penemuannya di gua, yaitu tulisan di dinding batu berikut gambar-gambar­nya tentang ilmu silat yang dipelajari­nya. Mendengar ini Nio-cu kagum bukan main. �gTidak salah lagi! Pulau itu tentu­lah Pulau Es yang dikabarkan sudah teng­gelam di lautan itu dan engkau telah mewarisi peninggalan Keluarga Pulau Es!�h

�gAkan tetapi pulau itu tidak ada es­nya, sama sekali bukan Pulau Es, me­lainkan Pulau Hantu, Nio-cu.�h Keng Han kadang-kadang menyebut subo (ibu guru) kepada Bi-kiam Nio-cu, akan tetapi ka­dang-kadang dia terlupa dan menyebut Nio-cu begitu saja. Akan tetapi agaknya wanita itu tidak keberatan disebut Nio­cu.

�gSudahlah, mungkin karena engkau tidak langsung dilatih orang dan hanya belajar sendiri, maka gerakanmu masih kaku sehingga engkau mudah terserang ilmu totokku. Sebetulnya engkau telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi daripada ilmu silatku, Keng Han. Karena itu, tidak perlu lagi engkau mempelajari ilmu menotok itu, hanya akan kuajar­kan bagaimana cara untuk menghindarkan diri dari totokanku.�h

Demikianlah, mulai saat itu, setiap kali berhenti mengaso, Nio-cu mengajar­kan cara menghindari ilmu totokannya sehingga Keng Han kini selalu dapat mengelak dan menangkis, tidak sampai tertotok. Ilmu totok itu memang me­miliki gerakan yang amat aneh maka kalau tidak mempelajarinya, tentu dia akan mudah tertotok dan dibuat tidak berdaya. Setelah mempelajari rahasianya, Keng Han bahkan dapat menggunakan sinkangnya untuk menolak totokan-totok­an itu, sehingga tubuhnya kini menjadi kebal dari totokan itu seperti dari totok­an lain.

Pada suatu hari perjalanan kedua orang ini sudah sampai di daerah Pro­pinsi Secuan sebelah utara, yaitu di Pe­gunungan Beng-san. Selama berbulan-­bulan melakukan perjalanan dengan Keng Han, Bi-kiam Nio-cu nampak semakin akrab. Juga Keng Han merasa betapa gurunya itu ternyata baik sekali kepada­nya dan kini tidak lagi membentak atau bersikap keras kepadanya. Bahkan kalau dia berburu binatang dan memasaknya, wanita itu membantu dan bahkan mem­buatkan masakan-masakan yang lezat untuknya. Maka pemuda ini juga merasa senang sekali dan hubungannya dengan gurunya menjadi semakin akrab. Juga dia sudah mempelajari rahasia ilmu totok gurunya yang aneh sekali itu sehingga kini dia dapat menghindarkan diri dari serangan totokan seperti itu.

Ketika mereka sedang menuruni le­reng sebuah bukit dari Pegunungan Beng­-san, mereka melihat dari jauh seorang wanita berjalan cepat sekali mendaki lereng itu. Mendadak Bi-kiam Nio-cu mendorong punggung Keng Han dan ber­kata, �gEngkau jalan duluan, cepat!�h

Keng Han tidak tahu persoalannya akan tetapi dia tidak membantah dan berjalan cepat meninggalkan gurunya. Tak lama kemudian dia berpapasan de­ngan seorang wanita yang aneh. Wanita itu memakai sehelai saputangan sutera putih menutupi mukanya dari hidung ke bawah. Akan tetapi bagian atas dari muka itu, dari hidung ke atas yang nam­pak saja sudah membuat Keng Han ter­pesona! Hidung mancung lurus, sepasang mata yang bersinar-sinar seperti mata burung Hong dan memiliki sinar lembut, dihiasi sepasang alis mata yang kecil melengkung hitam, anak rambut yang melingkar di dahi dan pelipis, rambut yang hitam panjang dan disanggul dan diberi pita putih, semua itu sudah cukup membuat Keng Han mengakui dalam hati bahwa dia belum pernah melihat yang seindah itu! Tubuhnya tertutup pakaian yang serba putih dari sutera halus, dan hanya sepatunya saja yang hitam. Dari muka dan tangan yang nampak dapat diketahui bahwa gadis itu memiliki kulit yang putih mulus kemerahan. Ketika berpapasan, Keng Han memandang dan wanita itu pun mengerling kepadanya. Kerlingan yang hanya sebentar itu tidak akan pernah dilupakan Keng Han selama­nya, karena kerlingan itu demikian ma­nisnya. Akan tetapi bukan wataknya un­tuk menoleh dan memandangi orang se­cara kurang ajar, maka dia melangkah terus, hanya kini langkahnya lambat se­kali karena dia ingin tahu apa yang ter­jadi kalau wanita itu berpapasan dengan Bi-kiam Nio-cu yang berjalan di bela­kangnya.

Apa yang diharapkan Keng Han ter­capai. Dia mendengar percakapan me­reka.

�gSuci....!�h

�gSumoi....! Engkau dari manakah?�h

�gAku baru pulang mencari rumput merah atas perintah subo. Dan engkau sendiri hendak ke mana, Suci?�h

�gAku, mempunyai urusan di barat. Sampaikan saja hormatku kepada. subo dan setelah selesai urusanku di barat, tentu aku akan pulang.�h

�gBaiklah, akan tetapi berhati-hati­lah, Suci. Aku mendengar di daerah Ti­bet terjadi pergolakan. Ada bentrokan antara para pendeta Lama.�h

�gAku akan berhati-hati, Sumoi.�h

Keng Han yang mendengarkan merasa hatinya semakin tertarik. Jelas bahwa yang disebut sumoi oleh gurunya itu adalah nona berpakaian serba putih yang mukanya ditutupi saputangan putih itu. Suaranya! Belum pernah dia mendengar ada wanita bersuara semerdu dan se­lembut itu! Hanya ibunya yang dapat bersuara seperti itu, pikirnya. Jadi nona itu adalah sumoi dari gurunya. Mengapa pakaiannya serba putih dan mengapa pula wajahnya bagian bawah ditutupi sutera putih? Wajah itu pasti cantik jelita luar biasa. Melihat hidung ke atas saja dia sudah dapat membayangkan bahwa wani­ta itu pasti cantik seperti bidadari! Bulu matanya lentik dan yang takkan pernah dapat dilupakan adalah sinar matanya ketika mengerling kepadanya. Dia belum pernah melihat burung Hong, hanya me­lihat gambarnya saja. Akan tetapi se­perti itulah mata burung Hong. Cemer­lang indah penuh pesona dengan sinar yang tajam lembut.

Tak lama kemudian subonya sudah menyusulnya. Dia melihat wajah subonya diliputi ketegangan. �gSubo, mengapa Subo menyuruh saya berjalan lebih dulu? Ada urusan apakah?�h

�gAku baru saja bertemu dengan su­moiku!�h

�gKenapa saya disuruh pergi dulu, ti­dak diperkenalkan kepadanya? Bukankah ia bibi guruku?�h

�gTidak! Celakalah kalau ia menge­tahui bahwa engkau adalah muridku. Ka­lau subo sampai mengetahuinya, tentu aku disuruh membunuhmu sekarang juga!�h�gEh, mengapa begitu, Nio-cu?�h

�gMurid-murid subo harus bersumpah dulu bahwa selama hidupnya tidak akan mencinta dan dicinta seorang pria. Kalau hal itu terjadi, ia harus membunuh pria yang mencintanya dan dicintanya itu.�h

�gAhhh....!�h Keng Han berseru kaget sekali, bukan hanya kaget mendengar sumpah yang aneh itu, melainkan kaget sekali terutama karena tanpa langsung gurunya itu telah menyatakan cinta ke­padanya!

�gKalau kita jalan bersama dan di­ketahui sumoi, ia tentu akan bertanya padaku siapa engkau dan apa hubungan di antara kita, dan itu berarti bahaya maut bagiku dan bagimu. Kalau subo menge­tahui, bersembunyi di manapun kita akan dapat ditemukan dan dibunuh.�h

�gAkan tetapi bibi guru tadi, mengapa ia menutupi mukanya dengan saputangan putih?�h

�gItulah usahanya agar tidak dapat nampak wajahnya oleh pria dan agar tidak ada pria yang jatuh cinta kepada­nya. Sudahlah, kita jangan lama-lama di sini. Ini masih merupakan wilayah ke­kuasaan subo.�h

Keduanya melanjutkan perjalanan se­cepatnya menuju ke barat. Akan tetapi sejak saat itu, bayangan wanita pakaian putih yang tertutup sebelah, bawah muka­nya itu seringkali muncul dalam pikiran Keng Han. Dia tidak dapat melupakan kerling itu!

Berkat kepandaian mereka yang ting­gi, Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu tiba di wilayah Tibet tanpa ada halangan apa pun. Dalam perjalanan itu, seringkali mereka melihat serombongan kafilah yang juga menuju ke Tibet. Rombongan yang membawa kuda dan onta itu mem­bawa pula pasukan pengawal yang kuat sehingga mengherankan hati Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu. Ketika mereka ber­tanya, mereka mendengar keterangan bahwa perjalanan ke barat sekarang tidak aman karena adanya perang saudara an­tara para pendeta Lama Jubah Kuning yang memberontak terhadap golongan Lama Jubah Merah. Seringkali terjadi pertempuran dan mereka juga mendapat gangguan dari para pendeta Jubah Ku­ning yang tidak segan merampok mereka untuk merampas senjata dan harta benda karena mereka membutuhkan biaya untuk pemberontakan mereka.

Mendengar ini, Bi-kiam Nio-cu me­nerangkan. �gLama  Jubah Merah adalah para pengikut Dalai Lama. Dan men­dengar ceritamu dulu bahwa mendiang gurumu adalah seorang pendeta Lama Jubah Kuning, sangat boleh jadi dia ma­sih sekawan dengan para pemberontak itu. Sekarang tidak aneh kalau sampai gurumu dibunuh oleh Pendeta Lama Ju­bah Merah.�h

�gAku tidak peduli akan perang di an­tara mereka. Aku hanya ingin bertanya kepada Dalai Lama mengapa dia me­nyuruh bunuh guruku!�h jawab Keng Han bersikeras.

Bi-kiam Nio-cu menarik napas pan­jang. �gWah, kita mencari penyakit.�h

�gKenapa kita, Subo? Akulah yang akan menemui Dalai Lama.�h

�gDan aku akan mengantarmu sampai dapat berjumpa dengan Dalai Lama, bu­kan? Jadi, kita berdua yang mencari pe­nyakit.�h

�gAku tidak takut!�h

�gAku pun tidak takut. Mari kita me­lanjutkan perjalanan secepatnya.�h

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi mereka melihat dua orang pendeta Lama Baju Merah sedang bertanding melawan delapan orang pendeta Lama Jubah Kuning. Melihat pertandingan yang tidak seimbang ini, Keng Han segera mengajak gurunya untuk membantu dua orang Lama Jubah Merah itu.

�gEh, kenapa membantu mereka? Bu­kankah gurumu juga Lama Jubah Kuning dan mungkin mereka itu teman-teman gurumu?�h

�gSubo, aku tidak peduli. Mereka ber­laku curang mengandalkan banyak orang mengeroyok yang sedikit. Pertama, aku selalu menentang yang curang dan kedua, dengan membantu Lama Jubah Merah itu siapa tahu aku lebih mudah bertemu dengan Dalai Lama!�h

�gAh, engkau ternyata cerdik juga. Keng Han. Marilah kita bantu dua orang Lama Jubah Merah itu!�h

Delapan orang pengeroyok itu semua mempergunakan tongkat pendeta yang panjang sedangkan dua Lama Jubah Me­rah menggunakan senjata kebutan. Me­lihat gerakan mereka, andaikata mereka itu dua lawan dua saja, tentu Lama Ju­bah Kuning akan kalah. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan delapan orang, dua orang Lama Jubah Merah itu men­jadi kewalahan juga dan beberapa kali mereka telah menerima gebukan dan kini hanya main mundur.

Ketika Keng Han dan Bi-kiam Nio­-cu muncul dan membantu mereka, ke­adaannya menjadi berubah. Biarpun hanya menggunakan kaki tangan saja, namun guru dan murid ini dapat membuat dela­pan orang pengeroyok itu menjadi kalang kabut. Keng Han merobohkan dua orang dengan tamparan tangannya yang me­ngandung hawa panas sekali, sedangkan dengan tendangannya, Bi-kiam Nio-cu juga sudah merobohkan dua orang pe­ngerok. Melihat datangnya bala bantu­an di pihak musuh yang demikian kuat­nya, delapan orang Lama Jubah Kuning itu segera melarikan diri cerai berai.

Dua orang Lama Jubah Merah yang sudah kelelahan itu tidak mengejar dan mereka mengangkat tangan memberi hormat kepada Keng Han dan Nio-cu.

�gJi-wi (Kalian berdua) menjadi bintang penyelamat kami. Kalau tidak ada Ji­wi, tentu kami berdua sudah mati di tangan para pemberontak itu.�h kata se­orang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.

�gAh, tidak mengapa, Losuhu.�h kata Bi-kiam Nio-cu. �gSudah menjadi kewajib­an kami untuk membantu yang tertindas, apalagi kami sudah mendengar bahwa mereka itu adalah kaum pemberontak. Dan sekarang, kami berbalik mengharap­kan bantuan Ji-wi Lo-suhu untuk mem­bantu kami.�h

�gTentu saja, kami berdua akan suka sekali membantu Ji-wi, akan tetapi ban­tuan apakah yang dapat kami berikan untuk Ji-wi, yang lihai?�h

�gKami ingin sekali menghadap dan bertemu dengan Dalai Lama di Lha-sa.�h

Dua orang pendeta Lama Jubah Me­rah itu terkejut bukan main mendengar permintaan ini. �gAhhh, Nona dan Sicu, bagaimana mungkin itu dilaksanakan?. Sang Dalai Lama tidak dapat sembarang­an saja dikunjungi orang, kecuali kalau ada tujuan yang teramat penting. Bahkan wakil dari Kaisar Ceng sekalipun, kalau menghadap cukup diterima oleh wakil atau pembantu beliau. Kami tidak dapat membantu, harap Nona berdua memaaf­kan kami.�h

Bi-kiam Nio-cu mengerutkan alisnya. �gHemmm, begini sajakah watak dua orang pendeta Lama Jubah Merah? Pantas ka­lau begitu ada yang memberontak. Kami bermaksud baik, akan tetapi kalian me­nolak mentah-mentah. Kalau kalian hatur­kan kepada Dalai Lama bahwa yang min­ta menghadap adalah Bi-kiam Nio-cu, murid Ang Hwa Nio-nio, apakah Dalai Lama berani memandang rendah? Dan kunjungan ini amat penting, untuk mem­bicarakan tentang seorang pendeta Lama Jubah Kuning yang bernama Gosang La­ma.�h

Kembali dua orang Lama Jubah Me­rah itu menjadi terkejut. Agaknya nama Bi-kiam Nio-cu terutama nama Ang Hwa Nio-nio sudah mereka kenal dan tentu saja nama Gosang Lama juga amat ter­kenal, bahkan dialah yang menjadi biang keladi pemberontakan Lama Jubah Ku­ning!

�gAh, kiranya Nona adalah murid Ang Hwa Nio-nio? Kalau begitu baiklah, mari ikut kami ke Lha-sa, akan kami usaha­kan untuk dapat diterima oleh Sang Da­lai Lama. Akan tetapi kalau gagal harap Ji-wi jangan menyesal dan mempersalah­kan kami, karena untuk dapat menghadap dan berwawancara dengan Sang Dalai Lama bukan perkara yang mudah.�hBukan main girangnya hati Keng Han. Untung ada Nio-cu, kalau tidak ada wa­nita itu, agaknya tidak mungkin kedua orang pendeta Lama itu mau membawa mereka ke Lha-sa.

Ibu kota Lha-sa amat besar dan ter­utama sekali bangunan kuno yang megah di bukit itu nampak amat megah dan hebat. Keng Han yang sejak kecil berada di daerah Khitan yang amat sederhana, kemudian berada di Pulau Es sampai lima tahun lamanya, belum pernah se­lama hidupnya menyaksikan kemegahan dan keindahan seperti itu. Dia merasa takjub dan merasa dirinya kecil. Apalagi melihat penjagaan di depan tempat ting­gal Dalai Lama. Dia bergidik. Tidak mungkin dia memasuki tempat itu dengan kekerasan. Beratus-ratus pendeta Lama yang nampaknya berkepandaian menjaga di situ, dengan tongkat atau pun kebutan di tangan. Untuk dapat memasuki istana Dalai Lama dia harus mengalahkan ratusan orang pendeta Lama!

Dua orang pendeta Lama itu menemui pendeta penghubung dan menceritakan betapa mereka berdua nyaris tewas di tangan para Lama Jubah Kuning yang memberontak namun diselamatkan oleh dua orang muda itu. Kemudian mereka minta kepada pendeta penghubung untuk mengajukan permohonan kepada Dalai Lama agar kedua orang itu, seorang di antaranya adalah Bi-kiam Nio-cu murid Ang Hwa Nio-nio, diperkenankan menghadap karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan. Keng Han dan Bi­-kiam Nio-cu memperkenalkan nama ma­sing-masing kepada para pendeta peng­hubung.

Pendeta-pendeta penghubung lalu me­laporkan ke dalam. Tak lama kemudian mereka keluar lagi dan berkata dengan suara lantang dan jelas. �gTuan muda Si Keng Han dan Nona Siang Bi Kiok diper­silakan masuk menghadap Yang Mulia Dalai Lama!�h

Mereka diantar atau dikawal oleh dua orang pendeta Lama, dan ketika me­masuki bangunan itu, Keng Han meng­amati semua bagian dalam ruangan-­ruangan yang luas dan terukir indah itu dengan penuh kagum sehingga Bi-kiam Nio-cu merasa geli melihat tingkah laku Keng Han seperti seorang dusun me­masuki sebuah istana.

Akan tetapi yang menyolok sekali, kalau di bagian luar dijaga ketat sekali, di sebelah dalam bahkan sunyi tidak nampak penjaga atau pengawal. Bahkan ketika mereka memasuki ruangan di ma­na Dalai Lama duduk, di situ tidak nam­pak penjaga sama sekali, hanya ada dua orang pendeta cilik yang agaknya men­jadi pelayan Sang Dalai Lama!

�gSi Keng Han kongcu dan Siang Bi Kiok siocia telah datang menghadap!�h Pendeta pengantar itu melaporkan.

Sang Dalai Lama lalu memberi isyarat agar mereka berdua mundur, bahkan lalu memberi isyarat pula kepada dua orang pendeta cilik untuk mengambilkan mi­numan.

Si Keng Han merasa dirinya kecil ketika berhadapan dengan pendeta yang sederhana itu. Pendeta Lama itu duduk di atas pembaringan yang bentuknya seperti teratai dari perak, dengan jubah kuning kemerahan yang sederhana sekali. Kepalanya gundul kelimis dan sepasang matanya yang penuh wibawa itu meman­dang dengan sinar lembut, mulutnya ter­senyum ramah. Bersama Bi-kiam Nio­cu, Keng Han lalu memberi hormat, mengangkat kedua tangan depan dada dan membungkuk.

�gKongcu dan Siocia silakan duduk!�h kata Dalai Lama dengan ramah. Kemudi­an dua orang pendeta cilik itu menyuguh­kan secangkir air teh harum. Setelah menyuguhkan air teh, mereka pun meng­undurkan diri sehingga yang berada di ruangan itu tinggal mereka berdua ber­sama Sang Dalai Lama. Kalau dia hendak membalaskan kematian gurunya, alangkah mudahnya dan ini merupakan kesempatan yang baik. Akan tetapi dia teringat akan ucapan Kwi Hong dan juga Bi-kiam Nio­-cu bahwa Dalai Lama adalah seorang pendeta yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Apalagi di luar. Andaikata dia mampu membunuh Dalai Lama, dia pun tidak akan dapat meloloskan diri dari tempat yang terjaga oleh ratusan orang pendeta Lama itu.

�gTerima kasih, Lo-suhu.�h kata Bi-kiam Nio-cu dan Keng Han juga mencontoh wanita itu mengucapkan terima kasih, kemudian mereka duduk berhadapan de­ngan pendeta itu. Wibawa yang amat kuat menyinar dari pendeta itu, pandang matanya yang lembut, mulutnya yang penuh senyum, kesabaran yang terbayang di seluruh wajahnya, semuanya itu mem­buat Keng Han merasa semakin tidak enak hatinya. Dia seolah merasa berdosa mendendam kepada seorang pendeta se­perti ini.

�gNah, orang-orang muda yang baik, ceritakan apa maksud kalian menemui pinceng (saya),�h kata Dalai Lama dengan suara ramah.

�gSaya hanya mengantar sobat ini menghadap, Lo-suhu. Saya sendiri tidak mempunyai urusan apa pun.�h jawab Nio-­cu yang agaknya juga merasa tidak enak berhadapan dengan pendeta itu.

Dalai Lama memandang kepada Keng Han sejenak, lalu bertanya, �gOrang muda, keperluan apakah yang membawamu da­tang ke tempat ini dan bertemu dengan pinceng? Katakanlah sejujurnya, pinceng siap mendengarkan.�h

Keng Han menelan ludah sendiri se­belum menjawab dan suaranya terdengar agak gemetar, �gLosuhu, saya datang, ini untuk menghadap Losuhu dan bertanya mengapa Losuhu mengutus tiga orang pendeta Lama Jubah Merah untuk mem­bunuh suhuku?�h

�gOmitohud....! Siapakah suhumu itu, Kongcu?�h

�gSuhu bernama Gosang Lama, seorang pendeta Lama Jubah Kuning. Suhu hidup tenteram di daerah utara, kenapa suhu dicari dan kemudian dibunuh dengan ke­jamnya? Saya menuntut keadilan, Lo­-Suhu.�h

�gOmitohud....! Gosang Lama itu suhu­mu? Ahhh, engkau tentu tidak tahu siapa Gosang Lama yang kau angkat menjadi guru itu, Kongcu. Dia tidak dibunuh, melainkan menerima hukuman dari semua kejahatannya.�h

�gDihukum? Jahat? Akan tetapi suhu tidak melakukan sesuatu yang jahat!�h

�gMungkin tidak selama menjadi guru­mu. Akan tetapi sebelum itu, apakah engkau tahu apa saja yang telah dilaku­kan Gosang Lama?�h

Keng Han menggeleng kepalanya dan tidak dapat menjawab.

�gOrang muda, berhati-hatilah dengan akal pikiran dan hatimu sendiri, terutama sekali waspadalah terhadap perasaan dendam. Dendam itu merupakan racun yang akan meracuni dan merusak hati sendiri, menimbulkan perbuatan yang kejam dan tanpa perhitungan lagi. Den­dam bagaikan api yang membakar hati dan mendatangkan kebencian yang mendalam. Akan tetapi ketahuilah, segala sesuatu yang telah terjadi itu ada kaitannya dengan karma, ada kaitannya de­ngan perbuatannya sendiri. Perbuatannya sendiri itulah yang akan menimbulkan akibat yang menimpa diri sendiri. Engkau mendendam karena kematian gurumu, akan tetapi tidak tahu mengapa gurumu dihukum mati. Kalau engkau menuruti nafsu  dendam itu, bukankah berarti eng­kau bertindak semau sendiri tanpa per­timbangan lagi? Dan mungkin karena dendam itu engkau melakukan pembunuh­an-pembunuhan kepada orang-orang yang tidak bersalah. Jangan mencari sebab dan kesalahan keluar, orang muda, melainkan carilah di dalam diri sendiri, karena sebab dan kesalahan itu berada di dalam dirinya sendiri.�h

Keng Han tertegun. Dia merasa be­tapa tepat dan besarnya ucapan itu. Dia mendendam atas kematian gurunya. Akan tetapi dia tidak tahu mengapa gurunya dibunuh. Bagaimana kalau gurunya yang bersalah? Bukankah berarti dia membela orang yang bersalah?

�gLosuhu, mohon Losuhu ceritakan apa saja yang telah diperbuat oleh suhu Go­sang Lama sehingga dia dihukum mati.�h

�gGosang Lama telah melakukan pe­langgaran-pelanggaran di waktu mudanya. Dia melakukan perbuatan yang keji, me­rampas dan memperkosa wanita, me­rampok harta milik, penduduk, bahkan dia mengobarkan pemberontakan di kalangan para pendeta Lama Jubah Kuning. Dosa­nya besar sekali dan karena dia mem­bahayakan kehidupan semua orang, maka majelis lalu menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Dia melarikan diri dan men­jadi buronan sampai akhirnya petugas­-petugas menemukan dia dan melaksana­kan hukuman mati itu. Nah, apakah eng­kau masih hendak membela kematian seorang yang telah melakukan demikian banyak dosa orang muda yang baik?'

Keng Han tertegun dan tidak mampu menjawab, akan tetapi kemudian dia mengeraskan hatinya dan menjawab, �gLo­suhu, bagaimanapun juga suhu Gosang Lama tidak melakukan pembunuhan....�h

�gOmitohud! Apakah pinceng harus menceritakan semuanya? Dia telah mem­bunuh banyak orang, bahkan utusan per­tama yang kami tugaskan untuk menang­kapnya, sebanyak tiga orang telah di­bunuhnya. Dan sekali lagi, dia menipu kami dengan memasukkan seorang anak laki-laki yang dia katakan berbakat baik dan katanya merupakan anak yatim piatu. Kami percaya dan kami sendiri menurun­kan ilmu-ilmu kepada anak itu. Akan tetapi setelah Gosang Lama melarikan diri, baru ketahuan bahwa anak itu ada­lah anaknya sendiri yang didapat dari wanita yang dipaksanya menjadi isteri­nya. Nah, masih kurangkah apa yang kau dengar ini?�h

Keng Han merasa terpukul sekali. �gApakah puteranya itu yang bernama Gulam Sang, Losuhu?�h

�gBenar sekali. Apakah engkau sudah bertemu dan berkenalan dengan dia?�h

�gTidak, akan tetapi mendiang suhu yang meninggalkan pesan tentang putera­nya itu.�h

�gHemmm, dan engkau tidak merasa heran bahwa seorang pendeta Lama da­pat mempunyai anak?�h

Keng Han merasa terpukul lagi dan dia menundukkan mukanya. Pikirannya menjadi ruwet. Jauh-jauh dia datang untuk membalaskan dendam kematian gurunya, dan kini dia hanya mendengar segala kejahatan gurunya dibeberkan! Apa yang harus dia lakukan?

�gAkan tetapi saya adalah muridnya, Losuhu. Bukankah tugas seorang murid untuk berbakti kepada gurunya, seperti berbakti kepada ayah ibu sendiri? Me­lihat suhu binasa di tangan orang, bagai­mana mungkin saya harus berdiam diri saja? Berarti saya akan menjadi seorang murid yang durhaka!�h

�gOmitohud! Orang bijaksana selalu meneliti perbuatan sendiri, selalu men­cari kekurangan dan kesalahan pada diri sendiri. Perbuatan orang tua dan guru juga harus diteliti, untuk dicontoh mana yang baik dan dihindarkan mana yang buruk. Akan tetapi, agar engkau tidak menjadi penasaran, orang muda, engkau boleh melaksanakan balas dendam itu. Pinceng yang menyuruh hukum Gosang Lama, maka pinceng memberi kesempat­an kepadamu untuk menyerang pinceng.

Engkau boleh menyerang, sesukamu dan pinceng tidak akan membalas.�h Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh Dalai Lama itu melayang dalam keadaan masih duduk bersila, melayang dan turun ke lantai, masih bersila dan kedua tangan di atas lutut sambil tersenyum ramah.

�gNah, engkau boleh menyerang pin­ceng sesukamu, orang muda.�h

Keng Han merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Kalau dia dapat mem­bunuh Dalai Lama, tentu roh suhunya akan tenang. Akan tetapi kemudian dia teringat akan penjagaan ketat di tempat itu. Kalau dia membunuh Dalai Lama, tentu dia akhirnya akan tewas di tangan ratusan pendeta Lama itu.

�gLosuhu, kalau saya menyerang Lo­suhu dan berhasil menewaskan Losuhu, tetap saja saya akan dikeroyok oleh ba­nyak pendeta dan tidak akan dapat lolos dari tempat ini.�h

�gHa-ha-ha, jangan khawatir, orang muda. Pinceng tidaklah securang itu. Kalau engkau mampu membunuh pinceng, itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa, dan engkau akan dapat pergi dengan aman.�h

Keng Han masih meragu dan menoleh kepada Bi-kiam Nio-cu, bertanya, �gBagai­mana, Niocu? Apa yang harus kulaku­kan?�h

Bi-kiam Nio-cu tersenyum dan ber­kata, �gLosuhu Dalai Lama telah meng­ijinkan engkau untuk menyerangnya. Nah untuk menghilangkan rasa penasaran di hatimu, mengapa tidak kaulakukan itu?�h

�gBaik!�h Akhirnya Keng Han meng­ambil keputusan. �gAkan tetapi kalau saya menyerang Losuhu, hal ini hanya terjadi karena Losuhu yang menyuruhku!�h

�gTentu saja dan pinceng sudah siap, orang muda. Seranglah dan engkau boleh mengeluarkan semua ilmu dan tenagamu.�h Dalai Lama masih duduk bersila dengan senyumnya yang lembut.

Keng Han lalu mengerahkan tenaga dari pusarnya. Dua tenaga panas dan dingin naik ke kedua lengannya, yang panas menyusup ke lengan kanan, yang dingin menyusup ke lengan kiri, kemudian dia berseru, �gMaafkan saya, Losuhu!�h dan dia pun memukul dengan dorongan kedua tangan sambil mengerahkan seluruh te­naganya karena dia sudah mendengar bahwa Dalai Lama ini seorang manusia sakti.

Dua macam hawa yang berlawanan menyambur ke arah Dalai Lama. Kakek ini dengan tenang mengangkat kedua tangan pula untuk menyambut dan ketika tangan-tangan itu bertemu, Keng Han merasa betapa kedua tangannya bertemu dengan benda yang lunak dan halus, yang seolah menyerap semua tenaga yang keluar dari lengannya. Kemudian, sebuah tenaga yang hebat sekali mendorongnya sehingga dia terhuyung ke belakang, na­pasnya terengah akan tetapi dia tidak terluka. Dalai Lama masih duduk seperti tadi dan sinar mata yang lembut itu memandang penuh keheranan.

�gOrang muda, engkau bilang bahwa engkau murid Gosang Lama, akan tetapi bagaimana engkau menguasai Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang dari Pu­lau Es?�h

Keng Han terkejut sekali. Tak di­sangkanya bahwa pendeta agung itu bah­kan mengenal dua macam ilmu rahasia ­yang dipelajarinya di Pulau Hantu!

�gBukan suhu Gosang Lama yang meng­ajarkan ilmu itu, Losuhu.�h

�gKalau begitu engkau murid Pulau Es?�h

�gJuga bukan. Saya mempelajarinya dari Pulau Hantu.�h

�gHemmm, suatu kebetulan yang aneh. Jodoh yang mengherankan. Nah, sekarang bagaimana, apakah engkau masih hendak menyerangku lagi?�h

�gTidak, Losuhu. Mataku telah terbuka dan saya melihat betapa saya bodoh sekali. Bodoh dalam pemikiran juga bo­doh dalam ilmu silat. Saya tidak akan menang melawan Losuhu, dan hati saya penuh penyesalan atas segala perbuatan mendiang suhu yang tidak benar. Harap Losuhu memaafkan kebodohan saya.�h

�gOrang yang melihat kesalahan sen­diri sama sekali bukan orang bodoh, Kongcu. Pinceng gembira sekali bahwa engkau telah menyadari kekeliruanmu.�h

Keng Han dan Nio-cu segera ber­pamit kepada Dalai Lama dan pendeta itu mengucapkan selamat jalan. Setelah meninggalkan Lha-sa, Keng Han merasa girang dan hatinya ringan sekali, tidak lagi dibebani tugas yang tadinya selalu memberatkan hatinya.

�gTernyata engkau benar,Nio-cu. Pendeta itu adalah seorang yang sakti lagi bijaksana sekali. Betapapun juga, aku telah melaksanakan tugasku terhadap mendiang suhu. Sekarang hanya tinggal satu lagi tugas itu, yaitu menyelidiki keadaan Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar suhu.�h

Bi-kiam Nio-cu tersenyum lebar. �gSa­ma saja, Keng Han. Engkau akan kecelik besar sekali kalau pergi ke Bu-tong-pai. Ketua Bu-tong-pai dan para murid di sana semua adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, pembela-pembela kebenaran dan keadilan. Kalau suhumu memusuhi Bu-tong-pai, maka aku hampir berani memastikan bahwa kesalahan ten­tu berada di pihak gurumu itu.�h

�gBagaimanapun juga aku harus   pergi menyelidiki lebih dulu Nio-cu.kalau ternyata suhu memang benar melakukan kesalahan terhadap Bu-tong pai, biarlah aku yang memintakan maaf dari mereka.�h

�gEngkau keras kepala!�h Nio-cu berkata sambil tersenyum.

Perjalanan meninggalkan Tibet itu kembali melalui Beng-san. Seperti ketika berangkatnya, Nio-cu kembali nampak gelisah ketika harus melewati daerah tempat tinggal subonya itu.

Pada suatu pagi, selagi mereka men­daki sebuah bukit, tiba-tiba saja entah dari mana munculnya, seorang wanita telah berdiri di depan mereka. Wanita ini usianya sekitar lima puluh tahun, masih nampak bekas kecantikan pada wajahnya dan tubuhnya masih nampak ramping seperti tubuh seorang wanita muda. Wa­jahnya yang anggun membayangkan ke­tinggian hati dan bibirnya membayangkan kekerasan. Matanya tajam sekali dan ketika itu, ia berdiri seperti patung me­mandang kepada Keng Han dan Nio-cu. Tangan kirinya memegang sebatang ke­butan dan di punggungnya nampak se­batang pedang.

Begitu melihat wanita ini tiba-tiba muncul di depanya, Bi-kiam Nio-cu men­jadi terkejut setengah mati. Wajahnya mendadak menjadi pucat dan ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan wa­nita itu.

�gSubo....!�h katanya lemah dan suara­nya tergetar penuh rasa gentar. Tahulah Keng Han bahwa wanita itu adalah guru Bi-kiam Nio-cu yang pernah disebut oleh Nio-cu dan bernama Ang Hwa Nio-nio itu.

Wanita itu memang benar Ang Hwa Nio-nio. Ia seorang pendeta wanita yang mengasingkan diri di Pegunungan Beng­san itu, seorang Tokouw (Pendeta To) berjuluk Ang Hwa Nio-nio (Nyonya Bu­nga Merah) karena disanggul rambutnya yang masih hitam itu selalu terhias se­tangkai bunga merah. Ang Hwa Nio-nio mempunyai dua orang murid wanita, yang pertama adalah Siang Bi Kiok yang ber­juluk Bi-kiam Nio-cu itu dan yang kedua bernama Souw Cu In yang pernah dilihat Keng Han bertemu dengan Bi-kiam Nio­cu, yaitu gadis yang berpakaian putih dan wajah bagian bawahnya tertutup saputangan putih pula.

Kini, melihat Bi-kiam Nio-cu melaku­kan perjalanan bersama seorang pemuda tampan, Ang Hwa Nio-nio marah bukan main sehingga ia tidak mampu menge­luarkan suara, hanya sepasang matanya saja yang memandang kepada murid per­tamanya itu seperti api yang membakar. Ang Hwa Nio-nio keras sekali dalam mendidik dua orang muridnya, terutama mengenai diri kaum pria. Ia malah mem­buat dua orang muridnya itu berjanji bahwa setiap kali bertemu dengan pria yang mencintai mereka, mereka harus cepat membunuh pria itu! Pendeknya ia mencegah jangan sampai ada hubungan antara murid-muridnya dengan kaum pria yang dianggapnya busuk dan jahat semua, tanpa terkecuali. Inilah sebabnya meng­apa dalam pertemuan pertama, Bi-kiam Nio-cu juga hendak membunuh Keng Han.

�gSiang Bi Kiok, apa yang telah kau­lakukan ini?�h Akhirnya Ang Hwa Nio-­nio menegur muridnya.

Dengan gugup Bi-kiam Nio-cu men­jawab, �gApa...apa yang Subo maksud­kan?�h

�gHemmm, engkau melakukan perjalan­an dengan seorang pemuda dan engkau masih pura-pura bertanya apa yang aku maksudkan?�h kata wanita itu bengis.

�gAh, itukah, Subo? Dia ini hanya kebetulan saja bertemu dengan teecu dan karena sejalan, maka kami berjalan ber­sama. Tidak ada apa-apa antara dia, dan teecu....�h Bi-kiam Nio-cu membela diri, akan tetapi suaranya gemetar.

�gBagus! Engkau sudah pandai ber­bohong juga, ya? Engkau sudah pergi bersamanya sampai ke Tibet, menghadap Dalai Lama bersama, dan sekarang me­ngatakan hanya kebetulan bertemu?�h

Bukan main kagetnya hati Bi-kiam Nio-cu mendengar itu. Juga Keng Han merasa heran bagaimana wanita itu dapat mengetahuinya. Kiranya Dalai Lama sudah menyuruh orangnya untuk meneliti ke­benaran keterangan Bi-kiam Nio-cu apa­kah benar murid Ang Hwa Nio-nio itu yang datang menghadap Dalai Lama!

�gAmpun, Subo. Kami....  kami sungguh tidak ada hubungan apa pun, hanya me­lakukan perjalanan bersama saja.�h

�gDiam! Kalau engkau tidak cepat membunuhnya, maka aku sendiri yang akan membunuh pemuda ini, dan engkau juga! Setelah berkata demikian, wanita itu menggerakkan kakinya dan sekali berkelebat ia telah lenyap dari situ. Keng Han terkejut bukan main, maklum betapa lihainya wanita itu yang memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian rupa sehingga seolah-olah ia dapat meng­hilang!

Wajah Bi-kiam Nio-cu menjadi pucat sekali. Sampai lama ia masih berlutut di situ tak bergerak. Keng Han lalu berkata. �gSudahlah, Nio-cu. Kalau kita tidak boleh melakukan perjalanan bersama, sekarang juga aku akan meninggalkanmu, akan me­lanjutkan perjalananku.�h Setelah berkata demikian, Keng Han membalikkan tubuh­nya dan melanjutkan perjalanannya, me­ninggalkan tempat itu.

Akan tetapi belum jauh dia pergi, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Bi-kiam Nio-cu telah berdiri di depan­nya. Wajahnya masih pucat sekali dan matanya bersinar aneh, juga ia telah memegang sebatang pedang telanjang di tangan kanannya.

�gBerhenti!�h bentaknya. �gKeng Han, engkau tidak boleh pergi dan terpaksa aku harus membunuhmu! Kalau tidak, aku sendiri akan dibunuh oleh guruku!�h

Keng Han memandang dengan mata terbelalak. Selama ini, sikap wanita itu amat baik dan akrab dengannya dan se­karang, tiba-tiba saja ia hendak mem­bunuhnya.

�gAkan tetapi, mengapa, Nio-cu? Meng­a engkau hendak membunuhku?�h Dia menuntut. �gBukankah selama ini hubungan antara kita baik sekali? Aku tidak per­nah berbuat jahat kepadamu, Nio-cu.�h

Pedang di tangan itu gemetar dan kedua mata itu kini menjadi basah. �gKeng Han, kita harus melarikan diri dari sini dan engkau harus menikah de­nganku. Itulah satu-satunya jalan. Kita saling mencinta, dan tidak ada apa pun yang dapat menghalangi kita hidup ber­sama.

Keng Han semakin kaget mendengar ucapan itu. �gSiapa yang saling mencinta, Subo? Aku.... aku suka kepadamu karena engkau baik kepadaku dan engkau men­jadi guruku, bahkan engkau membantuku menemui Dalai Lama. Akan tetapi bukan berarti bahwa aku cinta padamu dan suka menjadi suamimu. Tidak, Nio-cu tidak bisa kita menikah.�h

Sepasang mata wanita itu terbelalak lebar dan mukanya menjadi merah sekali. �gApa? Engkau tidak mencinta padaku? Dan subo sudah menganggap kita saling mencinta, maka aku harus membunuhmu. Jadi, selama ini aku salah sangka, eng­kau tidak cinta padaku.�h

Keng Han menggeleng kepalanya. �gMungkin cinta kita hanya cinta antara sahabat, atau antara guru dan murid, bukan cinta yang membuat kita harus berjodoh. Tidak, Nio-cu, sekali lagi tidak, aku tidak cinta padamu seperti itu.�h

�gBagus! Kalau begitu tidak berat lagi hatiku untuk membunuhmu! Mampuslah engkau!�h Dan wanita itu segera menye­rang Keng Han membabi buta mengayun pedangnya bagaikan kilat menyambar-­nyambar, semua merupakan serangan maut yang ditujukan untuk membunuh. Keng Han cepat mengelak sambil mundur.�gNio-cu, ingat, kita bukan musuh!�h Beberapa kali Keng Han memperingatkan. Akan tetapi Bi-kiam Nio-cu yang sudah marah sekali itu tidak peduli dan hanya berteriak. �gMampuslah!�h Pedangnya me­nyambar ganas sekali dan Keng Han dipaksa untuk membela diri. Karena dia tidak memiliki senjata lain kecuali pe­dang bengkok pemberian ibunya, maka dia mencabut pedang bengkoknya dan melawan, bahkan membalas karena kalau tidak dia tentu akan terancam bahaya maut.

Ilmu silat Hong-in Bun-hoat adalah ilmu silat sakti yang dimainkan dengan tangan kosong atau menggunakan senjata pedang. Begitu Keng Han memainkan Hong-in Bun-hoat dengan pedang beng­koknya, Bi-kiam Nio-cu segera terdesak hebat. Bantuan tangan kirinya yang meng­gunakan ilmu totoknya tidak ada artinya lagi bagi Keng Han yang sudah menguasai ilmu itu. Bahkan tangan kirinya beberapa kali mendorong sehingga serangkum hawa yang amat dingin dari Swat-im Sin-kang menyambar dan membuat Bi-kiam Nio­cu terhuyung dan menggigil.

Baru lewat tiga puluh jurus saja Bi­-kiam Nio-cu sudah terdesak hebat. Akan tetapi sama sekali tidak timbul niat di dalam hati Keng Han untuk membunuh wanita itu, maka dia hanya mendesak saja.

Pada saat itu nampak bayangan putih berkelebat amat cepatnya dan sinar putih panjang menyambar ke arah Keng Han. Pemuda ini terkejut sekali, mengira bah­wa Ang Hwa Nio-nio yang menyerangnya. Dia lalu menangkis dengan pedang pen­deknya, akan tetapi alangkah kagetnya ketika pedangnya tahu-tahu terlibat su­tera putih yang panjang dan juga tubuh­nya terlibat dan tahu-tahu dia telah di­buat tidak berdaya, terbalut kain sutera putih yang dilepas orang yang baru da­tang.

Melihat keadaan Keng Han, Bi-kiam Nio-cu, berseru, �gMampuslah kau seka­rang!�h Dan dengan cepat ia sudah me­nyerang dengan pedangnya, ditusukkan ke arah dada Keng Han yang sudah tidak berdaya karena kedua lengannya sudah terbelenggu dengan tubuhnya. Keng Han hanya dapat membelalakkan matanya, ingin menghadapi kematian dengan mata terbuka.

�gSinggg.... tranggggg....!!�h           Bunga-­bunga api menyilaukan mata Keng Han ketika ada pedang lain menangkis pedang yang ditusukkan Bi-kiam Nio-cu kepada­nya itu. Dan ketika Keng Han menoleh, ternyata yang menangkis itu adalah nona berpakaian putih dan berkedok putih itu. Dan nona itu pula yang memegang ujung sabuk sutera putih yang melibat tubuhnya!

�gSumoi, mengapa kau menangkis?�h

�gSuci, engkau tidak berhak membunuh­nya!�h kata gadis itu dan suaranya sung­guh merdu dalam pedengaran Keng Han..

�gSinggg... tranggggg...!!�h Bunga-bunga api menyilaukan mata Keng Han ketika ada pedang lain menangkis pedang yang ditusukkan Bi-kiam Nio-cu kepadanya itu.

�gSubo sudah menyuruh aku membunuh­nya, Sumoi!�h bantah Bi-kiam Nio-cu.

�gSubo mengira bahwa dia mencintamu, Suci. Subo menyuruh bunuh kalau ada laki-laki yang mencinta kita. Akan tetapi engkau hendak membunuhnya karena engkau marah mendengar bahwa dia ti­dak mencintamu. Aku sudah mendengar semua percakapan kalian. Apakah engkau ingin aku melapor kepada subo betapa engkau membujuknya untuk minggat dan menikah denganmu?�h

�gSumoi....!! Tadi engkau membantuku menangkapnya dan sekarang....�h

�gTadi aku membantumu karena me­lihat engkau tidak dapat mengalahkan­nya. Dan aku melarang engkau mem­bunuh karena memang engkau tidak ber­hak membunuhnya. Sudahlah, Suci. Kita bebaskan pemuda yang tidak berdosa ini. Nanti aku yang memberi penjelasan ke­pada subo bahwa pemuda itu tidak men­cintamu dan bahwa engkau pun hanya bersahabat saja dengan dia tidak mem­punyai hubungan apa pun. Subo pasti akan dapat mengampunimu.�h

Dengan uring-uringan Bi-kiam Nio­cu diam saja dan gadis berpakaian putih itu lalu menarik kembali sabuknya yang lepas dari tubuh Keng Han. Pemuda itu telah bebas dan dia tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi mengingat ban­tuan Bi-kiam Nio-cu kepadanya dia lalu memberi hormat kepada wanita itu dan berkata, �gNio-cu, banyak terima kasih kuucapkan atas bantuanmu selama ini. Dan Nona, terima kasih bahwa engkau telah menyelamatkan nyawaku!�h katanya pula kepada gadis berpakaian putih itu sambil memberi hormat. Karena kedua orang gadis itu tidak menjawab, Keng Han lalu melangkah pergi dan tidak me­nengok kembali.

Bukit Menjangan berada di Pegunung­an Cin-ling-san. Disebut demikian karena di bukit itu banyak terdapat binatang kijang dan menjangan. Tadinya banyak pemburu yang mencari binatang itu di Bukit Menjangan sehingga jumlah bina­tang itu makin lama semakin berkurang. Akan tetapi pada suatu hari datanglah seorang datuk yang memilih tempat itu sebagai tempat tinggalnya dan semenjak dia tinggal di situ, tidak ada lagi pem­buru berani naik ke Bukit Menjangan. Tadinya memang ada yang naik, akan tetapi setiap kali ada pemburu berani naik ke bukit itu, dia turun lagi dengan digotong karena terluka parah. Karena penyerangnya tidak nampak, hanya ba­yangannya saja dan pemburu yang terluka itu menggigil kedinginan, maka tersiarlah berita bahwa penyerangnya tentu siluman dan sejak itu tidak ada lagi yang berani berburu binatang di Bukit Menjangan. Pegunungan Cin-ling-san amat luasnya dan terdapat puluhan bukit sehingga me­reka mengalihkan ladang perburuan me­reka ke bukit lain.

Sebetulnya siapakah datuk yang kini bertempat tinggal di Bukit Menjangan itu? Kalau saja ada yang berani dan mampu naik menyelidiki, dia akan me­lihat sebuah pondok bambu berada di puncak bukit dan yang tinggal di situ adalah seorang laki-laki raksasa yang rambutnya sudah putih semua dan usia­nya sudah tujuh puluh lima tahun lebih. Dia itu bukan lain, adalah Swat-hai Lo­kwi yang pernah menyerang Keng Han ketika pemuda itu pertama kali datang ke Pulau Hantu. Sebagai seorang datuk besar, Swat-hai Lo-kwi juga tertarik dengan munculnya Pulau Hantu dan dia telah melakukan penyelidikan ke sana dan telah berkelahi melawan tiga puluh orang pimpinan Harimau Hitam yang kemudian dibunuhnya satu demi satu. Bahkan dia pun telah melukai Keng Han dengan pukulannya yang mengandung racun berhawa dingin. Akan tetapi ke­mudian dia merasa jerih menyaksikan betapa pulau itu dihuni ular-ular merah yang amat berbahaya. Dan melihat pulau itu kosong tidak ada apa-apanya yang berharga, dia lalu pergi meninggalkan Pulau Hantu dan akhirnya dia tertarik oleh pemandangan di Bukit Menjangan itu dan memilihnya sebagai tempat tinggal­nya. Dan sejak dia tinggal di situ, dia tidak memperkenankan siapapun juga naik ke bukit. Yang berani naik tentu dipukul­nya dengan pukulannya yang membuat orang menggigil kedinginan sehingga akhirnya tempat itu tidak ada yang be­rani mengunjungi dan dia tidak lagi me­rasa terganggu.

Swat-hai Lo-kwi mencari tempat peng­asingan yang tidak terganggu orang lain bukan karena ingin bertapa, melainkan karena dia sedang melatih diri dengan semacam ilmu silat yang amat hebat dan dia tidak ingin orang lain melihatnya. Swat-hai Lo-kwi memang memiliki sin­kang yang berhawa dingin sekali, dan kini dia melatih diri untuk menyempurna­kan sin-kangnya itu sehingga kalau dia menyerang orang, dia dapat membuat lawannya itu menjadi beku darahnya dan tewas seketika! Kurang lebih setahun lamanya dia melatih ilmu itu dan kini dia telah berhasil, yang menjadi kelinci percobaan ilmunya itu adalah binatang-­binatang kijang dan menjangan yang ber­ada di bukit itu. Sekarang, dari jarak yang kurang lebih sepuluh meter, dia dapat memukul binatang itu dengan pu­kulan jarak jauhnya dan binatang itu ro­boh dan tewas dalam keadaan darahnya beku! Bukan main hebatnya ilmu ini dan Swat-hai Lo-kwi merasa dirinya yang paling jagoan di antara para ahli silat manapun.

Pada suatu pagi yang amat dingin, Swat-hai Lo-kwi menghangatkan diri dengan membuat api unggun dan me­manggang daging kijang untuk sarapan pagi. Mendadak dia menjadi waspada dan matanya mengerling ke kiri karena dari arah itu dia mendengar suara langkah orang. Langkah itu demikian ringan se­hingga dia merasa heran sekali. Orang yang datang ini pasti seorang yang ber­ilmu tinggi, pikirnya. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan masih saja memanggang paha kijang itu dengan te­kun sambil menghangatkan tubuh dari serangan hawa dingin pagi itu.

�gHa-ha-ha, sudah kuduga bahwa tentu engkau Iblis Lautan Es yang berada di tempat ini karena orang-orang yang ter­pukul itu mati kedinginan!�h Tiba-tiba terdengar suara dan ketika Swat-hai Lo­kwi menoleh, dia melihat seorang kakek tinggi kurus yang memegang sebatang dayung baja berdiri di situ sambil ber­tolak pinggang dengan tangan kirinya dan bersandar pada dayungnya.

Melihat kakek itu, Swat-hai Lo-kwi juga tertawa bergelak. �gHa-ha-ha, kira­nya Setan Lautan Timur yang datang. Setan tua, mau apa engkau mengganggu ketenteraman hidupku di tempat ini?�h Kata-katanya terakhir itu mengandung tantangan.

�gWah, sejak kapan Swat-hai Lo-kwi menerima kedatangan seorang sahabat seperti ini? Aku, Tung-hai Lo-mo (Se­tan Tua Lautan Timur) tidak pernah datang ke suatu tempat tanpa urusan penting. Aku sengaja mengunjungimu untuk urusan penting sekali, penting bagi kita berdua.�h

�gNanti dulu, aku kini tidak mau sem­barangan bicara dengan orang yang be­lum kuketahui sampai mana tingkat kepandaiannya. Mari kita main-main se­bentar, hendak kulihat apakah selama ini engkau maju atau bahkan mundur dalam ilmumu, Lo-mo!�h tantang Swat-hai Lo­kwi sambil bangkit berdiri.

�gBagus, bagus! Engkau masih saja belum berubah, Lo-kwi. Selalu tinggi hati dan menganggap diri sendiri terpandai. Baiklah, majulah dan coba rasakan hebat­nya dayung bajaku!�h

�gAwas seranganku!�h Lo-kwi berseru dan dia sudah menyerang dengan tangan kirinya. Serangkum hawa yang amat di­ngin menyambar. Akan tetapi Lo-mo adalah datuk dari timur yang ilmu ke­pandaiannya juga amat tinggi. Dia meng­hindar dan dayungnya meluncur menyapu ke arah pinggang Lo-kwi. Lo-kwi meng­gunakan tangannya menangkis lalu me­nyerang lagi lebih hebat dari tadi. Akan tetapi, Lo-mo juga dapat menangkis se­rangannya dan tidak terpengaruh hawa dingin yang menyambar itu. Keduanya sudah bertanding dengan seru sekali dan sebentar saja lima puluh jurus telah le­wat. Merasa betapa lawannya benar-­benar tangguh, Lo-kwi lalu menyerang dengan pukulan jarak jauhnya, yang se­lama setahun ini dilatihnya di bukit itu.

�gHyaaaaattt.... ahhhhh!�h Dia berseru dengan suara melengking dan dari kedua telapak tangannya nampak sinar putih kebiruan menyambar ke arah lawan.

NEXT BKS 17 - Part 5

Hosted by www.Geocities.ws

1