See who's visiting this page. View Page Stats
See who's visiting this page.Counter

Pusaka Pulau Es
                                                    BKS 17 - PART 3

By Khopingho0

�gSama sekali bukan. Aku seorang perantau yang kebetulan lewat dan melihat pertempuran tadi aku lalu me­nonton dari atas pohon.�h

Agaknya wanita itu dapat membeda­kan pemuda yang gerak-geriknya lembut ini dengan para anggauta gerombolan yang kasar dan buas, maka pandang ma­tanya menjadi lembut.

�gHemmm, engkau tidak terbanting jatuh, agaknya engkau memiliki kepandai­an ilmu silat yang boleh juga.�h

�gAh, tidak, aku hanya belajar satu dua jurus untuk membela diri dari ta­ngan orang-orang kejam.�h

�gApa? Kau berani mengatakan aku orang kejam?�h Wanita itu membentak marah.

�gTidak, hanya memang kenyataannya engkau kejam sekali, Nona. Orang demi­kian banyaknya kaubunuh tanpa berkedip mata, apalagi namanya itu kalau tidak kejam?�h

�gEngkau melihat bagaimana mereka, perampok-perampok itu melakukan ter­hadap penduduk dusun? Mereka menperkosa, menyakiti, membunuh dan meram­pok! Sudah sepatutnya mereka kubunuh! Dan kau berani bilang aku kejam?�h

�gYa, memang engkau kejam sekali.�h kata Keng Han bersikeras karena sudah tidak dapat mundur lagi.

�gSetan cilik! Tanyakan kepada pen­duduk dusun ini! Heiii, warga dusun! Adakah di antara kalian yang menganggap aku kejam karena membunuhi para pe­rampok ini?�h

Serentak mereka semua menjawab. �gTidaaak! Yang kejam adalah para pe­rampok itu!�h

�gNah, kau dengar itu, bocah kepala batu?�h

�gAku tidak mau ikut-ikutan dengan mereka. Aku tadi melihat betapa kau membunuhi orang-orang yang tidak mampu melawanmu dan itu sungguh kejam sekali!�h

�gBagus, kalau begitu hanya ada dua pilihan untukmu. Pertama, kauambil se­batang golok mereka dan membunuh diri di depanku atau, engkau boleh membela diri dari seranganku, aku yang akan mem­bunuhmu!�h

�gNah, inilah bukti baru dari kekejam­anmu, Nona. Aku yang tidak bersalah apa pun hendak kaubunuh. Bukankah itu kejam sekali namanya!�h

�gTidak peduli! Engkau memanaskan perutku, engkau berani memaki aku ke­jam. Hayo kaupungut golok di sana itu dan membunuh diri di depanku.�h

�gAku mendengar bahwa bunuh diri adalah perbuatan seorang pengecut, dan aku bukan pengecut. Aku berani hidup dan tidak takut mati demi membela ke­benaran.�h

�gAha!�h Wanita itu mencibir, �gkiranya engkau seorang pendekar pembela ke­benaran?�h

�gBukan hanya pendekar yang harus membela kebenaran. Biar orang awam seperti aku pun berkewajiban untuk mem­bela kebenaran!�h

�gJadi engkau tidak mau membunuh diri mentaati perintahku?�h tanya wanita itu, , nadanya mengancam.

Keng Han menggeleng kepalanya. �gTidak mau!�h jawabnya tegas.

�gKalau begitu, engkau harus membela dirimu dari seranganku. Aku akan me­nyerangmu, kalau sampai sepuluh jurus aku tidak mampu membunuhmu, biarlah aku mengampuni nyawamu. Akan tetapi kalau sebelum sepuluh jurus kau mati, jangan arwahmu menyalahkan aku!�h

�gEngkau memang wanita kejam!�h Keng Han memaki marah dan memandang de­ngan mata melotot. Dia tidak mengang­gap wanita itu jahat, karena wanita itu telah. membantu para penduduk dusun dari gangguan gerombolan perampok, akan tetapi wanita itu terlalu kejam, terlalu mudah membunuh orang.

�gLihat serangan!�h Wanita itu berseru dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak cepat sekali menampar ke arah pelipis kanan Keng Han.

Namun dengan mudah saja Keng Han menarik kepalanya ke belakang sehingga tamparan tangan kiri itu lewat dii depan hidungnya dan dia mencium bau harum ke luar dari lengan baju itu.

Agaknya wanita itu pun terkejut me­lihat betapa tamparannya dengan mudah dielakkan oleh pemuda itu, maka, ia pun menyusulkan serangan yang lebih hebat lagi, menotok ke arah dada Keng Han. Kembali pemuda ini bergerak, miringkan tubuhnya dari totokan itu pun luput!

Ketika wanita itu mendesak terus dengan pukulan ketiga yang amat ganas, Keng Han menggerakkan tangan menang­kis pukulan yang mengarah mukanya itu.

�gDukkk!�h Pertemuan dua tenaga sin­kang itu membuat wanita itu terdorong mundur dua langkah. Tentu saja ia ter­kejut bukan main dan merasa penasaran sekali. Pemuda itu ternyata bukan hanya mampu mengelak, bahkan tangkisannya demikian kuat membuat ia terdorong mundur! Dengan kemarahan berkobar wanita itu menyerang terus secara ber­tubi-tubi, namun sampai jurus ke sem­bilan, serangannya selalu gagal. Keng Han juga harus mengeluarkan kepandaian­nya karena dia mendapat kenyataan be­tapa dahsyat dan hebatnya serangan­-serangan itu. Hanya dengan ilmu silat sakti Hong-in Bun-hoat dia berhasil lolos dari serangkaian serangan itu.

Tiba-tiba ada sinar hitam menyambar. Keng Han terkejut bukan main karena sinar hitam itu adalah rambut wanita itu yang bergerak secara luar biasa sekali dan tahu-tahu telah melibat muka dan lehernya! Bau harum menusuk hidungnya dan selagi dia tertegun, tidak tahu harus berbuat apa karena untuk merenggut rambut itu dia merasa tidak tega, sebuah totokan mengenai kedua pundak secara beruntun dan dia pun tidak mampu ber­gerak lagi!

�gHi-hi-hik!�h Wanita itu tertawa puas. �gTernyata pada jurus ke sepuluh engkau tidak berdaya, orang muda keras kepala! Sekarang bersiaplah untuk mampus!�h

�gHemmm, aku sudah dapat menduga bahwa engkau hanyalah seorang wanita yang suka menjilat ludah sendiri dan melanggar janji sendiri!�h kata Keng Han yang maklum bahwa keselamatan nyawa­nya terancam.

�gKeparat!�h bentak wanita itu. �gEngkau masih berani memaki aku sebagai pen­jilat ludah sendiri? Kapan aku melakukan pelanggaran janji itu?�h

�gMemang belum akan tetapi hampir. Tadi engkau berjanji bahwa kalau sampai sepuluh jurus engkau tidak mampu mem­bunuhku, engkau akan mengampuni nya­waku.  Sekarang, sudah lewat sepuluh jurus engkau tidak mampu membunuhku, namun engkau akan membunuh aku juga! Bukankah itu berarti menjilat ludah sen­diri? Cih, tak tahu malu!�h

Keng Han sengaja mengejek karena dia sudah sedikit mengenal watak wanita ini, yaitu angkuh dan tidak mau dianggap rendah budi.

�gBaik, aku tidak membunuhmu, akan tetapi aku tidak berjanji akan membebas­kanmu. Engkau akan menjadi tawananku dan kalau kelakuanmu baik, kelak barang­kali aku akan membebaskanmu!�h Setelah berkata demikian, ia menangkap lengan kanan Keng Han yang tidak dapat di­gerakkan itu dan menarik Keng Han pergi dari situ. Keng Han terseret akan, tetapi wanita itu tetap menariknya dan berlari dengan cepat sekali meninggalkan dusun itu. Para penduduk dusun hanya, menonton saja dan menganggap bahwa pemuda itu tentu mempunyai kesalahan maka pendekar wanita yang telah me­nolong mereka menjadi marah.

Wanita cantik itu kini mencengkeram baju di  punggung Keng Han dan mem­bawa lari Keng Han sampai mengangkat­nya seperti menenteng seekor ayam saja. Keng Han membiarkan dirinya dibawa pergi. Dia sama sekali tidak merasa khawatir karena dia merasa yakin bahwa dengan hawa sakti yang terkandung di tubuhnya, dengan menyalurkan hawa itu dia akan mampu membebaskan dirinya sendiri dari pengaruh totokan.

Ketika wanita itu  sudah menuruni bukit dan masuk sebuah hutan, Keng Han mulai menyalurkan tenaga dari tan-tian untuk membebaskan dirinya dari pengaruh totokan. Akan tetapi, alangkah terkejut­nya ketika dia mendapat kenyataan bah­wa jalan darahnya yang pokok tetap saja tidak, dapat ditembus. Dia hanya mampu menggerakkan kedua kaki dan lengannya dengan perlahan saja dan belum dapat menggerakkan jari-jarinya! Dia mencoba dan mencoba, akan tetapi hasilnya sama saja. Barulah dia merasa khawatir karena kini dia merasa bahwa dia benar-benar berada dalam cengkeraman wanita kejam ini.

Tiba-tiba wanita itu berhenti. Di depannya sudah berdiri dua orang tosu. Mereka itu bukan lain adalah Thian-yang­-cu yang tinggi kurus dan Bhok-im-cu yang tinggi besar. Bhok-im-cu ini biarpun sudah menjadi seorang tosu, akan tetapi dia masih, tidak dapat meninggalkan wa­taknya di waktu muda, yaitu mata ke­ranjang. Kini pun dia memandang Wanita itu dengan mata liar seolah matanya menggerayangi seluruh bagian tubuh wa­nita cantik itu dan mulutnya berliur seperti seekor srigala kelaparan melihat seekor kelinci gemuk. Akan tetapi, suhengnya, sudah menegur wanita itu de­ngan suara yang lantang. �gNona, siapakah Nona dan mengapa Nona menawan se­orang muda ini?�h

�gApa urusanmu, tanya-tanya? Pergi­lah, jangan menghadang di jalan atau aku akan marah!�h kata gadis itu dengan suara ketus.

�gAih, Nona. Engkau begini cantik mengapa bersikap begini kasar? Sayang kecantikanmu kalau begitu!�h kata Bhok-­im-cu mencela.

Gadis itu melotot. �gApa engkau ingin mampus? Pergilah, atau aku terpaksa akan menghajar kalian!�h Gadis itu kini membentak marah. Ia mendorong Keng Han ke belakang dan pemuda itu ter­huyung lalu roboh terguling karena tu­buhnya masih terasa lemas walaupun sebetulnya dia sudah mampu menggerak­kan kaki tangannya dengan kaku, belum sempurna benar.

�gSiancai....!�h Thian-yang-cu berseru.

�gEngkau tentu seorang wanita jahat,Nona. Dan kami dari Bu-tong-pai tidak mungkin tinggal diam saja melihat orang berbuat jahat. Bebaskan pemuda ini atau jelaskan mengapa engkau menawannya, kalau engkau tidak ingin kami terpaksa turun tangan mencampuri urusanmu!�h

�gTosu bau! Kalian kira aku takut ke­pada kalian?�hGadis itu membentak ma­rah dan ia pun sudah menggerakkan kaki tangannya, menyerang ke arah kedua orang tosu itu.

Thian-yang-cu dan Bhok-im-cu adalah dua orang tosu murid utama, tentu saja sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Mereka dapat menghindarkan diri dan Thian-yang-cu membalas dengan serangan tendangannya. Gadis itu mengelak cepat dan kembali tangannya meluncur untuk melakukan totokan ke arah dada lawan. Bhok-im-cu juga menyerang dan dia me­rangkul dari belakang untuk meringkus nona itu. Serangannya ini membuat gadis itu bertambah marah karena mengira bahwa tosu itu hendak berkurang ajar. Ia mengelak sambil membalik dan sebuah tendangan kilat menyambar ke arah pe­rut Bhok-im-cu. Hanya dengan melempar tubuh ke samping dan bergulingan saja Bhok-im-cu dapat meloloskan diri dari tendangan yang dahsyat itu. Akan tetapi dia terkejut sekali dan bersikap hati­-hati, maklum bahwa nona itu memang lihai bukan main.

Thian-yang-cu adalah seorang murid pertama Bu-tong-pai, tentu saja dia tidak mau bertindak sembrono terhadap gadis yang belum diketahui kesalahannya itu. Dia hanya mencurigai gadis yang me­nawan seorang pemuda, belum ada bukti bahwa gadis itu seorang jahat. Oleh ka­rena itu, dia pun tidak menyerang de­ngan sungguh-sungguh. Akan tetapi se­telah beberapa gebrakan, dia terkejut bukan main karena gadis itu ternyata memiliki kepandaian yang amat tinggi. Terpaksa dia menambah tenaga pada tangannya dan dia sudah menyerang ce­pat, memukul ke arah pundak gadis itu. Akan tetapi agaknya gadis itu sudah tahu bahwa si tosu tidak mempergunakan se­luruh tenaganya maka ia miringkan sedikit pundaknya sehingga pukulan itu mengenai pangkal lengan dan berbareng pada saat itu ia sudah meluncurkan jari tangannya menotok dada Thian-yang-cu sehingga tosu ini terpelanting roboh dan tidak mampu bangkit kembali. Melihat ini, Bhok-im-cu terkejut dan marah. Le­nyaplah sifatnya yang main-main melihat gadis cantik. Dia menubruk dengan ma­rah, akan tetapi dengan gerakan me­mutar yang indah, gadis itu dapat meng­elak dan mengirim tendangan yang me­ngenai perutnya dan Bhok-im-cu juga terpelanting roboh. Sebetulnya kedua orang tosu ini tidak akan demikian mu­dah dirobohkan kalau saja mereka tidak memandang ringan lawannya.

�gHemmm, tosu-tosu bau dari Bu-tong­pai hanya memiliki sedikit kepandaian sudah berani mencampuri urusan orang? Kalian yang lancang tidak pantas dibiar­kan hidup!�h Gadis itu lalu melangkah maju, siap untuk membunuh. Akan tetapi pada saat itu Keng Han yang belum dapat menggerakkan kaki tangannya de­ngan baik, sudah me lompat dan mener­kam seperti seekor singa menerkam kam­bing, tahu-tahu tubuhnya sudah menimpa punggung gadis itu, kedua lengannya mendekap dan kedua kakinya juga me­ngait.Gadis itu terkejut sekali, ia me­ronta untuk melepaskan diri, akan tetapi tidak mampu karena dekapan Keng Han kuat bukan main.

�gHei, bocah gila! Lepaskan aku, le­paskan....!�h Gadis itu berteriak-teriak.

�gTidak, engkau tidak boleh membunuh orang!�h kata Keng Han. Dengan gemas ia meronta pula, mencoba melepaskan dekapan itu, bahkan menampar dan me­nyikut. Akan tetapi tamparan dan siku­nya menghantam tubuh yang keras dan kenyal seperti karet sehingga tamparan itu membalik. Ia terkejut bukan main.

�gAnak setan! Tidak tahu malu kau! Hayo lepaskan....!�h Gadis itu menjerit­-jerit. Entah mengapa, merasa betapa tubuhnya didekap lengan dan tubuh yang tegap dari seorang pemuda, mendadak saja ia merasa seluruh tubuhnya lemas, jantungnya berdebar keras dan keringat dingin membasahi lehernya. Ia tidak pe­duli lagi melihat kedua tosu itu merang­kak dan pergi dengan cepat dari situ.

�gBerjanji dulu bahwa engkau tidak akan membunuh orang,  baru aku mau melepaskanmu.�h Keng Han yang kini juga menyadari bahwa perbuatannya itu sung­guh tidak pantas, mendekap tubuh se­orang gadis seperti itu. Baru sekarang terasa olehnya betapa hangat dan lunak tubuh itu berada dalam dekapannya!

�gAku berjanji....!�h kata gadis itu ham­pir menangis.

Keng Han melepaskannya dan begitu dilepaskan, sebuah tamparan mengenai pipi Keng Han, membuat dia terpelanting roboh. Akan tetapi dia bangkit kembali dan berdiri memandang gadis itu sambil meraba pipinya dan tersenyum.

�gEngkau.... engkau sudah mampu bergerak? Bagaimana mungkin ini?�h

�gMelihat engkau hendak membunuh orang, agaknya mendatangkan tenaga bagiku untuk menggerakkan tubuh. Nona, mengapa engkau begitu kejam? Sedikit-sedikit membunuh orang, menganggap nyawa orang seperti nyawa nyamuk saja!�h

�gHuh, kau tahu apa? Orang-orang jahat itu, kalau tidak dibunuh merekalah yang akan menyusahkan atau membunuh kita. Dari pada dibunuh orang, lebih baik membunuh lebih dulu, bukan?�h Gadis itu lalu mendekati Keng Han dan memeriksa tangannya. Jari-jari tangan Keng Han dengan kaku terlihat jelas bahwa dia masih belum dapat bergerak leluasa.

�gJalan darahmu baru setengahnya terbuka.�h kata gadis itu. �gBiarlah aku membukanya sama sekali!�h Gadis itu lalu menggerakkan jari-jari tangannya dan kini terbebaslah seluruh jalan darah di tubuh Keng Han. Akan tetapi di luar dugaan Keng Han, tiba-tiba telapak ta­ngan kiri gadis itu menghantam dadanya. �gPlakkk....!�h Tidak terlalu nyeri, akan tetapi dia merasa betapa ada hawa panas memasuki dadanya.

Gadis itu tertawa. �gHemmm, kenapa engkau memukul dadaku lalu tertawa?�h tanya Keng Han penasaran, tidak marah karena tamparan tadi tidak mengandung tenaga sakti sehingga seperti main-main saja.

�gJangan kira bahwa setelah aku membebaskan  totokanmu, engkau akan dapat pergi dan bebas dariku. Engkau mau atau tidak mau harus menemani aku.�h

�gHemmm, kenapa begitu? Kalau aku tidak mau dan pergi, engkau mau apa?�h

�gTidak mau apa-apa, hanya melihat engkau mati dalam waktu sebulan dan tidak ada obat di dunia ini yang mampu menyembuhkanmu. Aku telah membebas­kan totokanmu, akan tetapi aku telah memukulmu dengan tok-ciang (tangan beracun). Kalau tidak percaya, lihatlah dadamu!�h

Keng Han penasaran dan membuka bajunya. Di sana, di dadanya sebelah kiri, nampak ada tanda lima telapak jari merah, jelas sekali. Diam-diam Keng Han mentertawakan gadis itu. Pukulan be­racun tidak akan mencelakainya, dan sekali mengerahkan tenaga dia akan mam­pu melenyapkan tanda jari merah itu. Tubuhnya sudah kebal racun berkat ma­kan daging ular merah dan gigitan bina­tang itu. Akan tetapi dia diam saja dan memakai kembali bajunya.

�gNona, kenapa engkau hendak memak­saku mengikutimu?�h Tanyanya.

�gEngkau sudah berani memaki, me­ngatakan aku kejam, bahkan tadi engkau berani merangkulku. Hemmm....           untuk itu saja sudah cukup alasan bagiku untuk membunuhmu. Akan tetapi tidak, aku tidak akan membunuhmu. Terlampau enak un­tukmu. Engkau harus ikut aku, menyaksi­kan, kekejamanku seperti yang kaukatakan itu, dan engkau akan mati perlahan-lahan. Racun di tubuhmu itu sebulan lagi baru akan bekerja. Dan melihat engkau masih muda, biar aku melihat kelakuanmu se­lama sebulan ini. Kalau kelakuanmu se­lama ini baik saja, aku akan mengobati­mu, kalau sebaliknya, engkau akan mati tersiksa.�h       .

Kejamnya! Maki Keng Han dalam hatinya. Dia tahu gadis ini seorang yang berilmu tinggi, dan tidak jahat, hanya kejam dan tangannya ringan sekali mem­bunuh orang, biarpun orang yang dibunuh­nya itu jahat atau bersalah kepadanya. Dua orang tosu Bu-tong-pai itu pun ten­tu sudah dibunuhnya hanya karena men­campuri urusannya dan hendak membebas­kannya. Dan dia merasa sayang sekali. Gadis ini cantik jelita, dan tidak jahat. Mungkin kalau melakukan perjalanan bersamanya selama sebulan, dia akan dapat membujuknya dan memberinya nasihat sehingga tidak kejam lagi.

�gAkan tetapi aku mempunyai urusan penting sekali. Aku harus pergi ke Ti­bet!�h kata Keng Han.

�gHemmm, ke Tibet atau ke neraka, apa bedanya bagiku? Aku tidak mem­punyai tujuan tertentu, dan tidak meng­apa bagiku kalau harus pergi ke Tibet sekalipun. Akan tetapi mau apa engkau pergi ke Tibet? Apakah ingin menjadi hwesio dan mempelajari agama?�h

�gAku hendak mencari dan bertemu dengan Dalai Lama!�h

Gadis itu tertegun dan memandang kepadanya dengan sinar matariya yang tajam. Mata yang indah itu mengamati­nya penuh selidik. Agaknya banyak ke­anehan terdapat pada diri pemuda ini. Ilmu silatnya cukup baik, dapat meng­hindarkan diri dari sembilan jurus serang­annya, bahkan dapat hampir membebas­kan diri dari totokannya. Dan kini hen­dak Mencari dan bertemu dengan Dalai Lama?�h tanyanya dengan hati tertarik.         

�gMau apa? Dia seorang yang sewenang-­wenang.  Aku akan menuntutnya, ber­tanya mengapa dia mengutus orang-orang untuk membunuh guruku!�h

 

Tiba-tiba gadis itu tertawa. Tawanya lepas bebas, tidak ditutup-tutup! seperti gadis lain akan tetapi ketika ia tertawa bebas itu, wajahnya nampak lucu dan cerah, nampak semakin manis seperti wajah seorang kanak-kanak. Lenyaplah garis-garis kekerasan dan sifat dingin dari wajahnya yang menjadi anggun dan menyenangkan sekali, sehingga Keng Hong terpesona. Gadis ini sesungguhnya canttk bukan main kalau saja mau me­lenyapkan kekerasan hatinya.

�gSeharusnya engkau lebih sering ter­tawa, Enci!�h katanya tiba-tiba, menyebut enci karena setelah gadis itu tertawa, dia merasa hubungannya dekat dengannya.

�gEhhh?�h Gadis itu dua kali terkejut. Oleh ucapan itu sendiri dan oleh sebutan enci. �gMengapa?�h

�g Kalau tertawa, wajahmu indah se­kali!�h

Tiba-tiba wajah itu menjadi dingin kembali, tangan itu sudah diangkat hen­dak menampar, akan tetapi ditahannya. �gApa kau ingin ditampar?�h

�gKenapa ditampar? Apa salahku?�h

�gKau bilang wajahku indah sekali.�h

�gHabis, harus bilang apa? Apakah aku harus mengatakan bahwa wajahmu buruk sekali, padahal kenyataannya memang indah kalau engkau tertawa?�h

Gadisitu menghela napas panjang, agaknya merasa kewalahan untuk ber­bantah dengan Keng Han. �gSiapa sih namamu?�h

�gNamaku Keng Han, Si Keng Han.�h jawabnya, menyembunyikan nama marga­nya yang dia tahu hanya akan, menimbul­kan persoalan baru. �gDan engkau siapa?�h

Kembali helaan napas panjang. �gOrang menyebut aku Bi-kiam Nio-cu. Aku hampir lupa akan nama sendiri, kalau tidak salah Siang Bi Kiok. Akan tetapi engkau pun harus menyebut Bi-kiam Nio-cu ke­padaku. Berapa usiamu?�h

�gUsiaku dua puluh tahun.�h

�gBiarpun engkau lebih muda dariku, jangan menyebut enci padaku. Sebut saja Bi-kiam Nio-cu. Eh, gurumu yang dibunuh oleh utusan Dalai Lama itu, siapa nama­nya?�h

�gDia pun seorang bekas Lama, nama­nya Gosang Lama.�h

�gAku tidak pernah mendengar nama itu. Akan tetapi, sungguh keinginanmu untuk menuntut Dalai Lama ini sangat aneh. Orang dengan kepandaian seperti engkau ini akan menuntut Dalai Lama? Engkau mencari mati!�h

�gAku tidak takut. Budi seorang guru amat besar, pantas dibela dengan taruh­an nyawa.�h

�gHemmm, engkau seorang pemuda yang aneh sekali. Mungkln karena inilah aku tidak membunuhmu. Nah, sekarang carilah binatang buruan untukku. Perutku terasa lapar sekali, Keng Han.�h

�gEngkau tidak takut kalau aku melari­kan diri, Niocu?�h

�gMengapa takut? Engkau tidak akan melarikan diri, kalau engkau tidak ingiin mati keracunan sebulan kemudian. Obat penawarnya berada padaku. Nyawamu berada di tanganku.�h

�gHemmm, baiklah, Niocu. Aku pun ingin melakukan per jalanan bersamamu. Siapa tahu dalam sebulan ini aku dapat membujukmu agar jangan bertindak ke­jam lagi. Setelah berkata demikian, Keng Han lalu memasuki hutan itu dan men­cari binatang buruan. Setelah berada seorang diri, dia mengerahkan tenaga dari dalam tan-tian menuju ke dadanya dan dalam waktu sebentar saja dia sudah mengusir racun itu dari tubuhnya. Ketika dia membuka bajunya, ternyata tanda telapak jari merah itu telah lenyap. Dia tersenyum dan merasa heran kepada diri sendiri. Kenapa dia tidak lari saja me­ninggalkan gadis itu? Atau melawannya? Kalau dia berhati-hati, belum tentu dia kalah. Wanita itu hanya memiliki ke­lebihan dalam ilmu totok yang memang hebat. Bahkan tenaga sinkangnya tidak mampu menahan totokan wanita itu! Juga dia merasa heran mengapa wanita itu mau saja mengikutinya pergi ke Ti­bet!

Tiba-tiba dia melihat seekor kijang muda muncul dari semak belukar. Cepat dia menunduk dan bersembunyi di balik semak-semak, untung baginya bahwa angin datang dari arah kijang itu. Kalau sebaliknya, tentu kijang itu tahu bahwa ada manusia di dekatnya dan kalau ia sudah melarikan diri, bagaimana mungkin dapat mengejarnya? Sambil bertiarap itu, tangannya mengambil sebuah batu se­besar kepalan tangannya dan setelah mengintai dan membidik dengan tepat, tiba-tiba dia bangkit dan melontarkan batu itu ke arah kepala kijang.

�gWuuuttttt....      dakkk!�h Tepat sekali batu itu menghantam kepala bagian bela­kang kijang itu. Binatang itu berkuik satu kali lalu roboh dan mati dengan kepala retak. Dengan girang Keng Han lalu mengambil bangkai binatang itu dan di­panggulnya, dibawa kembali ke tempat dimana tadi Bi-kiam Nio-cu menunggu.

Sementara itu, Bi-kiam Nio-cu me­nanti kembalinya Keng Han. Sambil du­duk di bawah sebatang pohon, di atas sebuah batu datar. Hawa udara amat panas, akan tetapi  di bawah pohon itu teduh dan angin yang semilir membuat­nya mengantuk.

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara berdetak di belakangnya. Ketika ia me­nengok, beberapa helai jala menyambar ke arah tubuhnya dari atas. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi terlalu ba­nyak jala yang menyerangnya sehingga tanpa dapat dielakkannya lagi, tubuhnya telah terbungkus dua helai jala hitam. Ia meronta dan mencoba untuk mencabut pedangnya, akan tetapi hal ini sukar dilakukan karena tali jala-jala itu ditarik dan kedua tangannya terbalut dan seperti teringkus jala. Dan jala itu agaknya ter­buat dari tali yang amat kuat. Ia sudah diringkus dan ketika ia memandang, dari celah-celah jala, ia melihat belasan orang laki-laki berada di situ. Beberapa orang memegang jala yang meringkusnya dan ketika mereka itu maju mengikatnya bersama jala, ia pun tidak berdaya.

�gJahanam pengecut.Lepaskan aku dan mari kita bertanding kalau memang kali­an gagah!�h Ia mendamprat akan tetapi sia-sia belaka karena orang-orang itu hanya tertawa. Seorang yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan yang memegang tongkat besar, agaknya men­jadi pemimpin mereka, memberi aba-­aba dan mereka semua berloncatan pergi sambil menggotong Bi-kiam Nio-cu se­perti mengotong seekor binatang buruan yang terjerat. Wanita itu memaki-maki, menantang-nantang akan tetapi tidak ada yang mempedulikan dan ternyata mereka itu rata-rata dapat berlari cepat, dida­hului oleh si rakasasa pemegang tongkat besar itu.

Orang-orang itu berpakaian sederhana sekali, dari kulit binatang dan melihat wajah  mereka yang brewokan mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang biasa hidup di dalam hutan. Mereka membawa Bi-kiam Nio-cu ke se­buah bukit yang penuh dengan gua-gua batu yang besar. Setelah tiba di depan gua-gua itu, sang pemimpin lalu mem­bawa tawanan itu dengan sebelah tangan, ditentengnya memasuki sebuah di antara gua-gua terbesar. Bi-kiam Nio-cu kini diam saja. Ia tidak takut, melainkan mengumpulkan tenaga, siap untuk mem­berontak dan menyerang kalau dirinya dibebaskan dari ikatan tali dan jala itu. Akan tetapi, raksasa yang membawanya itu melemparkannya di atas sebuah dipan kayu yang kasar, kemudian dia meng­ambil guci dan cawan dan tak lama ke­mudian dia sudah minum arak seorang diri. sambil terkekeh-kekeh senang.

Ketika tiba di tempat tadi, Keng Han tidak melihat Bi-kiam Nio-cu. �gNiocu....!Dia memanggil beberapa kali akan tetapi. tidak ada jawabah. Dia lalu memeriksa tempat itu dan melihat bekas tapak kaki banyak orang di situ. Agaknya Nio-cu didatangi banyak orang dan terjadi per­gulatan, pikirnya, melihat banyak semak dan pohon kecil yang rusak. Celaka, jangan-jangan Nio-cu ditangkap gerombol­an penjahat, pikirnya. Biarpun pikiran ini agak aneh mengingat bahwa Nio-cu se­orang wanita yang tidak mudah ditangkap begitu saja, namun Keng Han merasa khawatir. Dia lalu mencari dan mengikuti jejak belasan pasang kaki itu yang me­nuju ke bukit di luar hutan. Dia terus menelusuri jejak-jejak kaki itu dan men­daki bukit.

�gHeh-heh-heh, engkau sungguh cantik. Pantas menjadi isteriku dan menemani aku di sini.�h Akhirnya raksasa muka hi­tam itu . berkata sambil menghentikan minumnya dan menghampiri Bi-kiam Nio­cu yang masih meringkus terikat di atas dipan. Wanita ini dapat berusaha untuk membalik dan telentang sehingga ia da­pat melihat keadaan di kamar itu. Se­buah kamar gua yang lebar. Terdapat tiga buah bangku sebuah meja dan sebuah dipan kayu itu. Sederhana sekali. Ketika laki-laki tinggi besar itu menghampi mau tidak mau ia merinding juga. Akan tetapi ia tetap tenang. Kalau saja ia membuka ikatan dan jala ini, pikirnya.

Akan tetapi raksasa itu mengangkat­nya, masih dalam buntalan jala dan me­mangkunya. Meraba-raba lehernya yang putih mulus, meraba-raba pipinya.

�gCuh....!!�h Bi-kiam Nio-cu yang tidak dapat menahan kemarahannya meludahi muka pria itu. Raksasa muka hitam itu tidak marah bahkan tertawa bergelak. �gHa-ha-ha, engkau kuda betina yang liah! Bagus! Aku senang dengan yang liar!�h

Kini tangannya merogoh di antara celah-celah jala dan mengambil pedang dari pinggang Bi-klam Nio-cu! Dia me­mandang pedang itu, mengangguk-angguk. �gPedang yang baik, tidak pantas seorang wanita secantik engkau bermain-main dengan senjata tajam seperti ini!�h Dia melontarkan pedang itu dan �gceppp!!�h pedang menancap di atas meja. Gagang­nya bergoyang-goyang ketika pedang itu menancap sampai setengahnya. Diam-­diam Bi-kiam Nio-cu memperhatikan dan mengertilah ia bahwa laki-laki kasar ini memiliki kepandaian, setidaknya memiliki tenaga yang kuat. Maka ia menjadi se­makin waspada. Biarlah pedangnya di­ambil, ia tidak takut. Masih ada tangan­nya, kakinya, bahkan rambutnya untuk membela diri.

�gEngkau cantik, engkau liar, engkau menarik!�h Raksasa itu mulai menimang­nya dan aneh cara menimangnya. Dia melempar-lemparkan tubuh Bi-kiam Nio­cu yang masih terikat itu ke atas, di­terimanya dan dilontarkannya kembali. Dia mempermainkan tubuh wanita itu seperti sebuah bola saja. Demikian ringan dia melempar-lemparkan tubuh itu. Bi-­kiam Nio-cu bergidik ngeri. Laki-laki ini berbahaya, pikirnya, dan celakalah aku kalau sampai tidak dapat lolos dari ta­ngannya.

Pada saat itu terdengar teriakan-te­riakan di luar gua. Ada orang-orang ber­kelahi di luar gua itu. Kepala gerombol­an itu lalu melempar tubuh Nio-cu ke atas pembaringan pula dan dia bergegas keluar, membawa tongkatnya yang besar.

Setelah ditinggal seorang diri, Nio­-cu kembali berusaha untuk membebaskan dirinya dan sekali ini ia berhasil. Ter­nyata ketika raksasa tadi melambung-lambungkannya ke atas, tali pengikat tubuhnya mengendur sehingga ia mampu membebaskan kedua lengannya. Ia men­coba untuk membikin putus tali jala itu, akan tetapi usahanya gagal. Maka ia lalu berlompatan sambil masih diselubungi jala, mendekati jala di mana pedangnya diletakkan oleh raksasa tadi. Dan dengan pedang di tangannya, ia mampu mem­bebaskan diri dan membikin putus tali-­tali jala. Sebentar saja ia sudah bebas! Dengan kemarahan meluap-luap, ia lalu menerjang keluar dan melihat betapa di luar, Keng Han sedang bertanding me­lawan kepala gerombolan itu dan di­keroyok banyak anak buahnya. Melihat ini, hatinya merasa girang bukan main. Keng Han berusaha menolongnya dan mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri melawan raksasa yang tangguh itu!

�gKeng Han, serahkan anjing besar itu kepadaku!�h bentaknya dengan suara me­lengking dan ia sudah menerjang ke de­pan memutar pedangnya menyerang rak­sasa yang memegang tongkat itu. Keng Han girang melihat Bi-kiam Nio-cu sela­mat dan dia meloncat mundur sambil berseru, �gNio-cu, mari kita lari saja!�h

�gTidak, aku harus membunuh anjing ini dan semua pengikutnya!�h Bi-kiam Nio­cu membantah dan menyerang terus. Serangannya amatlah hebatnya sehingga si tinggi besar itu terdesak mundur. Ke­pala gerombolan itu terkejut bukan main melihat gadis tawanannya bebas, maka dia berteriak, �gPergunakan jala! Tangkap merekal!�h

�gAwas jala mereka amat lihai, Keng Han!�h seru Bi-kiam Nio-cu sambil me­mutar pedangnya lebih cepat lagi, men­desak si kepala gerombolan dengan amat hebatnya sehingga raksasa itu terpaksa harus memutar tongkatnya melindungi diri. Sementara itu, beberapa orang anak buahnyaa sudah mencoba membantu ketua mereka dengan menggunakan jala. Akan tetapi sekali ini, Bi-kiam Nio-cu sudah siap dengan pedangnya. Begitu jala me­nyambar, ia melompat dan menggerakkan pedangnya ke belakang dan terdengar jerit mengerikan dan si pemegang jala roboh mandi darah. Dalam waktu se­bentar saja, tiga orang pemegang jala sudah tewas di tangan Bi-kiam Nio-cu!

Sementara itu, Keng Han juga di­keroyok banyak orang. Dia bergerak de­ngan cepat, merobohkan para pengeroyok­nya hanya, dengan dorongan kedua ta­ngannya, dan ketika dirinya tertutup jala, dengan mengerahkan tenaga jala itu pe­cah dan talinya putus-putus! Gegerlah anak buah gerombolan itu dan mereka seperti puluhan ekor semut mengeroyok dua ekor jangkerik.

Gerakan Bi-kiam Nio-cu amatlah ber­bahaya. Sebetulnya tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi daripada ke­pandaian si raksasa muka hitam. Tadi ia tertangkap karena tidak menyangka dan tidak bersiap sehingga dapat tertangkap­ jala musuh. Sekarang, dengan pedang di tangan mana mungkin ia tertangkap jala? Bahkan para pemegang jala itu semua tewas di tangannya dan kini wanita itu mendesak lawannya dengan hebat. Si tinggi besar muka hitam menjadi jerih. Melihat anak buahnya banyak yang tewas dan menghadapi permainan pedang yaog demikian tangguh, apalagi melihat betapa pemuda itu pun tidak dapat ditangkap anak buahnya, nyalinya sudah terbang melayang dan dia menyerang hebat untuk mencari kesempatan melarikan diri.

�gMampuslah!�h Bentaknya dan tongkat­nya meluncur dengan cepat ke arah dada Bi-kiam Nio-cu. Ketika gadis ini meng­elak ke kiri, tongkat itu menghantam dari kanan ke kiri dengan kecepatan kilat. Karena serangan itu berbahaya sekali untuk ditangkis mengingat tenaga rakasa itu besar sekali, Bi-kiam Nio­cu melompat ke belakang dengan sigap­nya. Kesempatan inilah yang dinantikan kepala gerombolan itu. Begitu lawannya melompat ke belakang, dia lalu mem­balikkan tubuhnya dan melarikan diri tunggang-langgang!

�gJahanam hendak lari ke mana kau?�h Bi-kiam Nio-cu mengejar dan melontar­kan pedangnya. inilah satu di antara kepandaiannya yang hebat. Ia dapat me­lontarkan pedang itu dengan cepat dan pedangnya meluncur bagaikan anak panah saja menuju sasarannya, yaitu punggung lebar kepala gerombolan itu.

�gSinggggg.... cappp!�h Pedang itu tepat mengenai punggung dan menembus ke dada. Kepala gerombolan itu terbelalak, mengeluh panjang lalu roboh menelungkup, tewas seketika. Bi-kiam Nio-cu sudah berada di dekatnya dan mencabut pedang itu, lalu membersihkannya pada pakaian si raksasa muka hitam. Kemudian ia pun mulai mengamuk! Anak buah gerombolan yang sedang mengeroyok Keng Han itu diamuknya dan pedangnya merobohkan beberapa orang lagi. Sisa anak buah ge­rombolan cepat melarikan diri melihat ketua mereka telah tewas. Bi-kiam Nio­cu hendak mengejar akan tetapi ditahan oleh Keng Han.

�gMusuh yang sudah lari tidak perlu dikejar lagi, Nio-cu!�h katanya.

Bi-kiam Nio-cu menyimpan pedangnya dan dengan puas ia memandang kepada belasan orang yang sudah menggeletak tanpa nyawa itu. �gHemmm, sayang masih ada yang mampu meloloskan diri. Se­harusnya mereka itu dibasmi habis!�h

�gSudahlah, Nio-cu. Kalau mereka se­mua tewas, tentu kita juga yang repot, harus mengubur mereka. Biarlah yang masih hidup nanti mengubur mayat ka­wan-kawannya. Sesungguhnya, apa yang telah terjadl Nio-cu?�h

�gMereka bertindak curang dan berhasil menangkap aku dengan jala, lalu mereka membawaku ke sini. Ketika tadi engkau menyerang mereka di luar gua, kepala perampok itu meninggalkan aku dan aku sempat meloloskan diri lalu mengamuk. Dan engkau bagaimana engkau bisa menyusul aku ke sini?�h

�gAku sudah mendapatkan binatang buruan, seekor kijang yang muda, dan ketika aku kembali ke tempat kita tadi, engkau sudah tidak ada. Aku melihat tapak-tapak kaki yang banyak sekali, lalu aku mengikuti tapak kaki itu ke sini. Ketika mereka melihatku, mereka lalu mengepung dan mengeroyokku sehingga terjadi perkelahian. Mari Nio-cu, kita kembali ke sana. Bukankah perutmu su­dah lapar? Akan tetapi, sebaiknya kalau aku kubur dulu mayat-mayat mereka                                         �gBodoh! Untuk apa mengubur mereka? Biar teman-teman mereka yang mengurus mayat mereka. Mari kita pergi!�h Bi-kiam Nio-cu mendengus marah dan Keng Han mengikutinya. Dia pun percaya bahwa sisa anak buah gerombolan tentu akan kembali ke situ untuk mengubur teman-­teman mereka yang tewas. Mereka lalu cepat pergi meninggalkan bukit itu dan memasuki hutan tadi. Keng Han meng­ambil bangkai kijang dan dia simpan di atas sebatang pohon besar dan mulai mengambil dagingnya untuk dipanggang.        

Bi-kiam Nio-cu memandang dengan sinar mata termenung kepada Keng Han yang sedang membakar daging kijang. Ia sudah menaruh bumbu pada daging itu.

Kalau melakukan perjalanan, wanita ini selalu membawa bekal bumbu, seperti garam, merica dan lain-lain untuk pe­nyedap makanan.

Ia merasa heran sekali. Mengapa hati­nya begini tertarik kepada Keng Han dan ia tidak menghendaki pemuda itu jauh darinya? Selama ini, sampai usianya dua puluh dua tahun, ia selalu merasa tidak suka kepada laki-laki. Sejak ia belajar ilmu silat dari gurunya, seorang pendeta wanita yang hidup mengasingkan diri, gurunya selalu menekankan betapa jahat­nya kaum pria. Karena ini, sejak kecil sudah tumbuh semacam perasaan tidak suka kepada pria. Apalagi setelah ia mulai remaja ia melihat betapa mata laki-laki seperti mata elang saja me­natapnya, seperti mata elang melihat anak ayam, ingin menerkam. Semakin tidak suka hatinya terhadap pria, makin dewasa ia makin muak. Entah berapa banyaknya pria yang sudah dibunuhnya, hanya karena berani memandangnya ter­lalu lama, menegurnya secara kurang ajar atau hendak menggodanya. Akan tetapi kini ia merasa heran sekali. Meng­apa ia begini tertarik kepada Keng Han yang bahkan lebih muda darinya? Apalagi kalau ia membayangkan ketika pemuda itu mendekapnya untuk menghalanginya melakukan pembunuhan. Seolah masih terasa dekapan yang kuat dan hangat itu! Dan jantungnya berdebar aneh.

Daging kijang panggang itu sudah matang dan mereka lalu makan daging yang, lunak dan sedap itu. Bi-kiam Nio-­cu mengeluarkan seguci arak dan mereka makan minum dengan lahapnya karena memang perut mereka terasa lapar. Akan tetapi diam-diam harus diakui oleh Nio­cu bahwa belum pernah ia makan da­ging panggang selezat ini!

Setelah selesai makan, Bi-kiam Nio­cu berkata, �gSelama perjalanan kita ke Tibet, engkau harus selalu mentaati omonganku, Keng Han. Aku. jauh lebih berpengalaman darimu, kalau engkau tidak mendengar omonganku, bisa-bisa engkau akan celaka.�h

�gTidak, Nio-cu. Aku tidak akan ne­lakukan perjalanan bersamamu. Aku sekarang juga akan memisahkan diri dari­mu dan aku akan melakukan perjalanan ke Tibet seorang diri saja �g`

�gEhhh, kenapa begitu?�h

�gKarena engkau kejam sekali. Kem­bali engkau membunuhi banyak orang dan aku merasa tidak senang sekali melihat engkau begitu kejam.�h

�gEngkau tidak boleh meninggalkan aku. Kalau engkau meninggalkan aku, dalam beberapa hari engkau akan mati keracunan. Ingat, tubuhmu sudah kupukul dengan Tok-ciang, dan hanya aku yang dapat memberi obat pemunahnya.�h

�gBiarlah! Lebih baik mati keracunan daripada menjadi saksi kekejamanmu.�h

�gDemiklan besarkah perasaan bencimu kepadaku, Keng Han?�h Dalam ucapannya itu terkandung kesedihan yang meng­herankan hati Nio-cu sendiri.

�gAku tidak membencimu, Nio-cu. Kalau tadinya aku suka melakukan per­jalanan denganmu, tadinya aku meng­harap akan dapat menasihatimu agar tidak terlalu kejam. Akan tetapi engkau tetap kejam sekali, maka aku tidak ta­han lagi untuk melakukan perjalanan denganmu. Nah sekarang aku harus me­ninggalkanmu, Niocu. Selamat tinggal!�h Keng Han mengemasi buntalan pakaian­nya sendiri, memanggulnya lalu melang­kah pergi dari situ. Melihat kenekatan pemuda itu, Nio-cu cepat bangkit berdiri dan berseru.

�gNanti dulu, Keng Han! Engkau akan mati dalam beberapa hari lagi. Biarlah kusembuhkan dulu lukamu karena pukulan­ku yang beracun itu!�h

Nio-cu menghampiri Keng Han dan menyuruhnya membuka bajunya. Ketika melihat ke arah dada kiri pemuda itu, ia terbelalak dan ternganga keheranan. Ku­lit dada itu putih bersih, sama sekali tidak ada tanda telapak tangan merah seperti yang seharusnya ada.

�gAih....  aneh sekali....!�h Keng Han pura-pura' bertanya.

�gTanda tapak tangan merah itu telah lenyap! ini tidak mungkin!�h

�gKenapa tidak mungkin? Kenyataannya telah lenyap dan berarti aku telah sem­buh. Tidak perlu lagi engkau mengobatiku.�h kata Keng Han sambil menutupkan kembali bajunya.

�gHemmm, kau mempermainkan aku! Sambutlah serangan ini!�h Wanita, itu  lalu menyerang dengan hebatnya!

�gEhhh, apa yang kaulakukan ini?�h Keng Han melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan itu. Akan tetapi wanita itu mengejarnya dan terus menyerang kalang-kabut dengan gencar sekali.

Keng Han terpaksa mainkan ilmu silat Hong-In Bun-hoat untuk menghindarkan diri. Ternyata ilmu silatnya ini hebat sekali. Dia seolah tidak bersilat, hanya menuliskan huruf-huruf di udara dan semua serangan Bi-kiam Nio-cu dapat dielakkan atau ditangkis!

Tentu saja wanita itu menjadi penasaran sekali. Ia mengeluarkan ilmu totok­annya yang ampuh, yaitu Tok-ciang. Ilmu ini bukan hanya menotok, akan tetapi juga menampar dan kedua tangan itu berubah merah! Dan biarpun Keng Han mampu mengelak sampai puluhan jurus, suatu ketika dia tidak dapat menghindar­kan diri dan sebuah totokan mengenai pundaknya membuat tubuhnya  lemas dan tidak berdaya! Bi-kiam Nio-cu menambahkan beberapa totokan pada kedua pundak dan dadanya sehingga tubuh Keng Han benar-benar tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa kalau dia mengerahkan tenaga dari pusar­nya, totokan itu pasti akan dapat di­punahkannya dalam waktu tidak terlalu lama. Dia hanya memandang dengan mata melotot kepada wanita itu.

�gWanita kejam! Apakah engkau juga hendak membunuhku? Lakukanlah, aku tidak takut mati!�h.

�gKeng Han, mengapa engkau begini keras kepala? Apakah tidak ada manusia di dunia ini yang kautaati?�h

�gTentu saja ada. Yang kutaati hanya­lah ayah bundaku dan juga guruku. Kalau orang lain, hanya yang benar yang akan kutaati, yang tidak benar tidak!�h

Wanita itu tersenyum. �gKeng Han, aku melihat ilmu silatmu hebat sekali. Akan tetapi buktinya engkau masih kalah olehku. Maukah engkau menjadi muridku?�h

�gHemmm, untuk apa menjadi murid­mu? Untuk belajar membunuh? Ilmu silat­ku sudah cukup untuk menjaga diri.�h

�gAkan tetapi engkau tidak berdaya menghadapi ilmu totokanku. Bagaimana kalau engkau mempelajari Ilmu menotok dariku? Ilmuku menotok itu disebut Tok-­ciang Tiam-hiat-hoat. Kalau engkau me­miliki ilmu ini tentu tidak mudah engkau dikalahkan orang.�h

Keng Han tertarik sekali. Harus di­akui bahwa ilmu totokan dari wanita itu lihai bukan main. Dua kali sudah dia roboh karena totokan itu. Dan kalau totokan lain dapat ditolak dengan sin­kangnya, ternyata totokan ini tidak. Baru setelah lama mengerahkan tenaga sin­kang, dia mampu membebaskan diri. Padahal totokan lain dapat ditolak oleh kekebalan tubuhnya karena sinkang dalam tubuhnya.

�gKalau engkau suka mengajarkan ilmu totokan itu kepadaku, tentu saja aku suka mempelajarinya.�h Akhirnya setelah berpikir-pikir sejenak, dia menjawab.

�gBagus, aku suka mengajarkannya untukmu. Engkau tadi telah berusaha menolongku, sudah sepatutnya kalau aku membalas budimu. Akan tetapi untuk mengajarkan ilmu itu, engkau harus meng­angkatku sebagai guru. Ini peraturan perguruanku, dan aku tidak mau melang­gar peraturan. Nah, kubebaskan totokan pada tubuhmu agar engkau dapat melaku­kan upacara pengangkatan guru.�h

Secepat kilat tangan wanita itu ber­gerak menotok beberapa kali ke tubuh Keng Han dan segera pemuda itu merasa betapa tubuhnya dapat bergerak kembali seperti biasa. Karena dia memang ingin sekali mempelajari ilmu itu, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bi-kiam Nio-cu dan memberi hormat sambil menyebut �gsubo�h (ibu guru).

Bi-kiam Nio-cu tertawa terkekeh, girang bukan main. �gBangkitlah Keng Han. Mulai saat ini, engkau adalah murid­ku dan aku adalah gurumu, bukan?�h

�gBenar, Subo. Dan apakah Subo akan mengajarkan Tok-cian Tiam-hiat-hoat itu kepada teecu (murid)?�h

�gJangan tergesa-gesa, Keng Han. Mu­lai sekarang engkau harus mentaati se­gala perintahku, mengerti?�h

�gAkan tetapi....�h

�gAkan tetapi apa? Ingat, aku adalah gurumu dan bukankah engkau sudah me­ngatakan bahwa engkau hanya taat ke­pada orang tua dan gurumu?�h

�gAhhhk....? Jadi Subo hanya meng­gunakan akal agar aku selalu taat....?�h

�gBukan hanya itu, aku memang ingin engkau menjadi muridku, akan tetapi murid yang taat. Nah, sekarang ceritakan kepadaku tentang suhumu yang katanya terbunuh oleh utusan Dalai Lama. Ingat, aku akan membantumu bertemu Dalai Lama dan hanya aku yang dapat me­nolongmu.�h

Keng Han lalu menceritakan dengan singkat tentang tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang telah membunuh Go­sang Lama, Oh tentang pesan terakhir Gosang Lama agar dia membunuh Dalai Lama yang mengutus tiga grang Lama Jubah Merah itu, dan juga membunuh ketua Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar gurunya itu.

Setelah Keng Han selesai bercerita, Bi-kiam Nio-cu menarik napas panjang dan berkata, �g Gurumu itu agaknya se­orang yang benar-benar kejam. Aku mem­bunuhi orang jahat kaukatakan kejam, akan tetapi gurumu itu seperti hendak membunuh engkau sendiri! Engkau mimpi untuk dapat membunuh Dalai Lama dan ketua Bu-tong-pai, sukarnya seperti naik ke langit! Aku sendiri, terus terang saja, tidak berani mencoba untuk melakukan dua hal itu, akan tetapi aku dapat mem­bantumu bertemu dengan Dalai Lama dan juga dengan ketua Bu-tong-pai.�h

Keng Han merasa girang sekali. �gBan­tuan itu saja sudah cukup bagi teecu, Subo. Kalau sudah bertemu dengan me­reka, aku akan menuntut mereka dan minta keterangan mengapa mereka me­musuhi suhu Gosang Lama. Selanjutnya biarlah aku sendiri yang akan menghadapi mereka.�h

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat. Kini Keng Han merasa lebih senang karena ternyata gurunya yang baru ini mengenal jalan ke Tibet sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi seperti ketika dia melakukan perjalanan seorang diri. Dia percaya bahwa gurunya ini, biarpun masih muda, namun berilmu tinggi dan sudah memiliki banyak pe­ngalaman. Ingin dia menanyakan riwayat subonya yang  tentu menarik. Apakah subonya sudah memiliki suami? Ataukah masih memiliki keluarga lain, dan kalau ada di mana tempat tinggalnya? Namun, dia khawatir kalau dibentak karena subo­nya kadang bersikap galak kepadanya, maka sampai lama dia tidak pernah mengajukan pertanyaan ini.                                 

 

***

 

Malam itu gelap sekali, Keng Han dan Bi-kiam Nio-cu terpaksa melewatkan malam di sebuah gua. Menurut Nio-cu, dusun yang terdekat dari situ masih lima puluh li lebih sehingga mereka akan ke­malaman di tengah jalan kalau melanjut­kan perjalanan. Lebih baik melewatkan malam di gua itu, agak terlindung dari angin dan hawa dingin. Keng Han me­ngumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun di depan gua. Dia pun mencari rumput kering untuk alas lantai gua se­hingga gurunya akan dapat mengaso.

Akan tetapi Nio-cu duduk saja dekat api unggun dan termenung mengamati api, yang bernyala. Keng Han duduk di de­pannya, terhalang api unggun.

�gKeng Han, ke sinilah. Duduk di de­katku sini, aku  ingin bercakap-cakap denganmu.�h

Keng Han pindah duduk di sebelah gurunya, diam, saja. Setelah agak lama mereka berdiam diri, Nio-cu menghela napas panjang dan berkata, �gKeng Han, apakah engkau berbahagia?�h

Pemuda, itu heran mendengar per­tanyaan ini. �gBahagia? Apakah artinya bahagia itu, Subo? Kita sudah makan tadi, perutku kenyang, badan yang letuh kini dapat beristirahat, dekat api unggun yang hangat sehingga tubuh ini terasa enak. Hatiku juga merasa senang karena kita tidak mendapat gangguan. Ya, boleh jadi aku berbahagia saat ini, Subo.�h

�gAih, betapa rinduku akan kebahagia­an. Aku tidak pernah merasa berbahagia. Senang, memang. Akan tetapi itu lain. lagi. Senang hanya sebentar saja lewat dan berlalu. Aku ingin bahagia! Ah, be­tapa aku ingin bahagia, akan tetapi ba­gairriana caranya? Di manakah kebahagia­an itu? Aku ingin mencarinya, Keng Han. Dapatkah engkau membantuku?�h .

�gBagaimana caranya membantumu, Subo? Aku sendiri merasa berbahagia, lalu bagaimana aku dapat menularkan kebahagiaan ini kepadamu? Kebahagiaan adalah suatu perasaan, suatu keadaan hati, dan hati orang tidaklah sama. Aku sendiri, saat ini merasa senang, tidak ada apa pun yang mengganggu, maka aku tidak butuh bahagia itu! Barangkali Subo merasa tidak berbahagia, bagaimana bisa mencari kebahagiaan? Hilangkanlah ke­tidakbahagiaan itu, Subo!�h

�gAku merasa kesepian, merasa tidak berbahagia, bagaimana dapat, menghilang­kan ketidak-bahagiaan ini?�h

�gAh, aku juga tidak tahu, Subo.�h Keduanya melamun sambil memandang ke dalam api yang bernyala di depan me­reka.

Setiap orang mendambakan kebahagia­an, bahkan ada yang mencari kebahagia­an itu dengan cara apa pun, ada yang menyiksa diri, ada yang bertapa dan sebagainya lagi. Ada pula yang mengejar­nya dengan belajar ilmu ini  dan itu, se­olah kebahagiaan itu adalah sesuatu yang bisa dicari dan didapatkan. Setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak bahagia ini adalah suatu perasaan yang timbul apabila terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya. Dalam ke­adaan yang tidak berbahagia ini, bagai­mana mungkin orang mencari dan men­dapatkan kebahagiaan? Orang yang se­dang berjalan-jalan di pegunungan, me­lihat matahari tenggelam amat indahnya pikirannya tidak melayang-layang tidak karuan, dia tentu akan mengalami ke­bahagiaan itu dan kalau sudah begitu, tentu dia tidak mencari kebahagiaan! Dari pada mencari-cari kebahagiaan, bukankah lebih tepat kalau mempelajari mengapa dia tidak bahagia, apa yang menyebabkan dia tidak berbahagia. Kalau yang menjadi penyebab ketidak-bahagiaan itu sudah tidak ada lagi, apakah dia membutuhkan kebahagiaan? Tidak lagi, karena dia sudah berbahagia! Jadi, ke­bahagiaan itu sesungguhnya tidak pernah meninggalkan kita, seperti Tuhan tidak pernah sedetik pun meninggalkan kita dengan kasih sayangNya. Kitalah yang meninggalkan kebahagiaan, kitalah yang meninggalkan Tuhan! Kita meninggalkan kebahagiaan melalui akal pikiran kita yang bergelimang nafsu sehingga kita tidak pernah merasa puas dengan keada­an, kita penuh harap, penuh keceaa, penuh iri, penuh amarah, penuh kebenci­an. Semua itu membuat kebahagiaan tidak nampak lagi dan membuat kita merasa tidak berbahagia!

Seperti halnya kesehatan. Kita sudah sehat setiap saat, akan tetapi kita tidak dapat merasakan itu, tidak dapat me­nikmati itu. Kalau kita sakit saja barulah kita dapat membayangkan betapa akan nikmatnya kalau kita sembuh dan sehat!

Kebahagiaan sudah ada setiap saat. Kalau ada gangguan sehingga kebahagiaan tidak terasa, itu adalah kesalahan kita sendiri. Karena itu, setiap saat kita wa­jib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Kalau menghadapi malapetaka, di samping berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan diri, juga kita harus me­nyerah dan pasrah sepenuhnya kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang ber­kuasa mengatur segalanya. Juga meng­atur. kehidupan kita. Makin kita men­dekatkan diri kepada Tuhan, makin kuat iman kita kepada Tuhan, makin dekat pula kebahagiaan dengan kita, makin dapat terasakan.

�gKeng Han, di manakah orang tua­mu?�h

Ditanya tentang orang tuanya, Keng ,Han terkejut. Dia tidak ingin diketahui orang bahwa dia putera pangeran mah­kota dari kerajaan Ceng.

�gAku hanya tinggal mempunyai se­orang ibu, Subo. Ayah telah mieninggalkan ibu sebelum teecu lahir.�h

�gAh, keparat!�h Dan tiba-tiba tangan wanita itu sudah bergerak cepat dan menotoknya pula sehingga Keng Han menjadi lumpuh seketika.

�gSubo  mengapa....        mengapa Subo berbuat begini?�h

�gJahanam, sama saja. Semua laki-­laki memang keparat. Benar kata-kata subo. Karena itu aku benci kepada laki-laki. Ayahmu meninggalkan ibumu ketika ibumu sedang hamil. Hemmm, dan eng­kau ini. sebagai puteranya tentu sama saja, sama jahatnya!�h

�gAku.... aku selama hidupku belum pernah melihat ayah kandungku, Subo. Aku juga sudah bersumpah mencari ayah, dan kalau dia tidak mempunyai alasan kuat meninggalkan dan menyia-nyiakan ibuku, aku akan menghajarnya!�h

�gBagus! Kalau begitu engkau tidak sama dengan ayahmu!�h Kini Nio-cu kem­bali menotok Keng Han sehingga ter­bebas dari totokan. Keng Han mengelus­-elus pundaknya yang tadi ditotok dan meringis karena pundaknya terasa agak nyeri.

�gKenapa Subo begitu kejam, dengan mudah saja menotokku tanpa sebab?�h

�gAku paling benci kalau mendengar ulah laki-laki yang mempermainkan wa­nita. Karena ayahmu berlaku keji ter­hadap ibumu, maka aku menjadi marah dan karena engkau puteranya, aku men­jadi marah kepadamu. Akan tetapi se­karang tidak lagi karena engkau me­nyatakan tidak setuju dengan tingkah laku ayahmu itu.�h

�gSubo sudah mengetahui banyak ten­tang diriku, akan tetapi sebaliknya aku tidak tahu apa-apa tentang Subo. Bagai­mana kalau kelak orang bertanya tentang guruku, apakah harus kujawab bahwa aku tidak mengenal guruku sendiri?�h

Bi-kiam Nio-cu menghela napas pan­jang. �gRiwayatku tidak menarik. Aku yatim piatu. Yang terdekat denganku hanya seorang guru dan seorang adik seperguruan. Guruku pembenci pria dan entah sudah berapa banyak pria yang telah dibunuhnya. Ia mengajarkan kami untuk membenci pria pula, terutama pria mata keranjang dan pria yang suka mem­permainkan wanita. Engkau masih beruntung bertemu dengan aku. Kalau eng­kau bertemu dengan guruku atau sumoi­ku, tentu kepalamu sudah dipenggal!�h

Keng Han bergidik. Nona ini saja sudah begitu kejam terhadap laki-laki, apalagi sumoinya dan subonya itu. Hemm, mengerikan!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi se­kali Keng Han sudah terbangun dari ti­durnya. Ketika bangun, dia melihat Bi­kiam Nio-cu sudah berdiri di depan gua dan melihat jauh ke depan, ke arah ba­wah karena gua itu terletak di lereng bukit. Tiba-tiba ia membalik dan dengan kakinya ia memadamkan api unggun, bah­kan mencerai-beraikan kayu-kayu bakar sehingga tidak ada yang membara lagi dan tidak mengeluarkan asap. Kemudian ia berkata kepada Keng Han, sikapnya seperti orang ketakutan.

�gKeng Han, cepat kemasi barang-­barangmu. Kita pergi dari sini!�h

�gKenapa Subo?�h

�gTidak usah bertanya, cepat lakukan perintahku!�h kata wanita itu bengis.

Keng Han cepat mengemasi buntalan­nya dan tak lama kemudian keduanya sudah menuruni bukit itu. Ketika tiba di kaki bukit, tiba-tiba wanita itu manarik tangan Keng Han, diajak bersembunyi di balik semak belukar.

Keng Han menurut saja dan ikut mengintai dari balik semak, dan dari jauh dia melihat seorang laki-laki berusia enam puluhan tahun yang berjalan ter­pincang-pincang menggunakan sebatang tongkat. Sungguh aneh sekali. Gurunya yang demikian lihai nampak ketakutan bertemu dengan seorang tua yang tim­pang kakinya! Akan tetapi dia tidak be­rani bertanya.

�gJangan bergerak dan jangan ber­suara, bisikan halus itu dekat sekali dengan telinganya .Dan dia mencium bau harum rambut gurunya.

Keng Han semakin heran dan meng­intai terus. Setelah tiba tak jauh dari semak belukar itu, si timpang itu ber­henti melangkah dan kepalanya dimiring­kan seolah-olah dia menggunakan ke­tajaman pendengarannya untuk mendengar­kan sesuatu. Keng Han tidak beran bergerak, bahkan menahan napas.

�gKalian tidak lekas keluar menghadap aku, masih tunggu apalagi?�h

Keng Han kaget setengah mati. Kira­nya si timpang itu dapat mengetahui kehadiran mereka di situ! Akan tetapi ketika dia hendak bergerak sebuah ta­ngan menahan pundaknya dan dia tetap tidak bergerak. Namun dia siap siaga kalau-kalau diserang oleh kakek timpang itu.

Tiba-tiba dari balik semak-semak di seberang bermunculan tiga orang yang segera keluar dan menjatuhkan diri ber­lutut di depan si kakek timpang.

�gPangcu, mohon maaf sebesar-besar­nya!�h kata mereka sambil mengangguk-­anggukkan kepalanya.

�gTidak perlu cerewet. Cepat katakan apakah kalian sudah berhasil merampas kuda itu?�h

�gAmpunkan kami, Pangcu. Penunggang kuda itu ternyata lihai sekali dan kami bahkan menerima hajaran darinya. Kami tidak berhasil merampas kuda itu, bahkan nyaris tewas kalau kami tidak melarikan diri.

Kakek timpang itu mengerutkan alis­nya dan matanya mencorong marah. �gKalian orang-orang yang tidak berguna! Ca­but pedang kalian!�h

Tiga orang itu tidak berani mem­bantah dan mencabut pedang masing­-masing dari punggung mereka.

�gCepat buntungi telinga kiri kalian sebagai hukuman!�h

Kini tiga orang itu diam saja, agak­nya merasa ngeri harus membuntungi daun telinganya sendiri. Melihat ini,, Keng Han yang masih mengintai merasa penasaran sekali. Alangkah kejamnya pangcu itu! Dia. membuat sedikit gerakan, akan te­tapi tangan Niocu cepat menekannya agar dia tidak bergerak. Kenapa gurunya begitu takut terhadap kakek timpang yang kejam itu?

�gKau tidak cepat melaksanakan perin­tahku? Baik, akulah yang akan meng­hukum kalian!�h Gerakannya demikian cepat dan begitu dia. menggerakkan ta­ngan, tahu-tahu dia telah merampas se­batang pedang dari tangan anggauta yang terdekat dan nampak sinar pedang ber­kelebat tiga kali.

�gSing-sing-sing....! Crat-crat-crattt...!�h Nampak darah muncrat dan tiga orang itu sudah kehilangan telinga kirinya! Kakek timpang itu membuang pedang rampasannya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. �gPergunakan bubuk obat ini agar darahnya berhenti mengalir dan cepat sembuh. Hati-hati, kalau lain kali kalian gagal melaksanakan perintahku, bukan hanya telingamu yang kubuntungi, melainkan leher kalian! Hayo cepat per­gi!�h

Tiga orang itu menghaturkan terima kasih dan setelah menerima obat mereka lalu pergi dengan cepat, menahan rasa nyeri pada telinga kiri yang daunnya telah buntung itu.

Kini Keng Han tidak lagi dapat me­nahan kesabaran hatinya. Tanpa mem­pedulikan tangan gurunya yang mencoba untuk menahannya, dia sudah meloncat keluar menghadapi kakek itu sambil membusungkan dadanya.

�gOrang tua, engkau sungguh kejam bukan main! Terhadap anak buah sendiri yang gagal melaksanakan tugas, engkau bersikap begitu, kejam membuntungi daun telinga kiri mereka. Apalagi terhadap orang lain!�h


NEXT BKS 17 - Part 4

Hosted by www.Geocities.ws

1