See who's visiting this page. View Page Stats
See who's visiting this page.Counter

BKS 17 - Pusaka Pulau Es
                                                    BKS 17 - PART 2

By Khopingho0

Keng Han sudah bersumpah dalam hatinya akan mempelajari semua ilmu itu dengan sungguh-sungguh, sampai sem­purna dan dia tidak akan meninggalkan pulau itu sebelum mampu menguasai semua ilmu itu dengan baik. Pula, bagai­mana dia dapat meninggalkan pulau itu kalau tidak ada perahu di situ?

Demikianlah, mulai hari itu Keng Han menjadi penghuni tunggal pulau kosong itu, setiap hari mempelajari ilmu dengan amat tekunnya. Setiap hari dia makan jamur laut, ikan dan daging ular serta daun-daun muda dan buah yang tumbuh di pulau itu dan yang dapat dimakannya. Tanpa disadarinya sendiri, makanan itu, terutama jamur laut dan daging ular merah, mendatangkan kekuatan yang se­makin hebat dalam tubuhnya. Kini tubuh­nya telah terbiasa menerima racun, se­hingga dia tidak perlu takut lagi akan segala macam racun, betapapun hebatnya racun itu. Tubuhnya telah menjadi kebal racun!

Untuk berganti pakaian, dia juga ti­dak kekurangan karena para perampok itu membawa bahan kain yang serba mahal, hasil perampokan mereka. Dia membuat pakaian dari kain, sejadi-jadinya asal dapat membungkus tubuhnya dan tidak menjadi telanjang.

Bertahun-tahun Keng Han tekun be­lajar. Ternyata ilmu-ilmu itu amatlah sukarnya sehingga semacam ilmu harus dipelajari dan dilatihnya sedikitnya satu tahun!

Kita tinggalkan dulu Keng Hong yang terkurung di dalam pulau kosong mem­pelajari ilmu-ilmu Pusaka Pulau Es yang kebetulan ditemukannya dan kita me­nengok bagian lain dari kisah ini.

Seperti telah diceritakan di bagian depan Pangeran Mahkota Tao Kuang selamat dari pengkhianatan saudara-sau­daranya sendiri, yaitu kedua kakaknya, Tao Seng dan Tao San. Dia telah di­selamatkan oleh seorang datuk yang ber­juluk Sin-tung Koai-jin bernama Liang Cun bersama puterinya yang bernama Liang Siok Cu. Kemudian, Liang Siok Cu yang memang cantik manis itu menjadi selir Pangeran Tao Kuang yang tercinta. Setahun kemudian selir ini melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Tao Kwi Hong. Dan sebagai puteri pangeran mahkota, tentu saja sejak kecli Kwi Hong amat dimanja ayah ibunya. Terutama sekali kakeknya, Sin-tung Koai­jin Liang Cun amat memanjakan cucunya. Sejak anak itu masih kecil, Sin-tung Koal-jin menggemblengnya dengan dasar­dasar ilmu silat. Ayahnya juga tidak melupakan pendidikan ilmu surat kepada puterinya sehingga Kwi Hong menjadi seorang anak perempuan yang cerdik dan juga gagah.

Semenjak lancar membaca, Kwi Hong yang baru berusia lima belas tahun itu gemar sekali membaca dan perpustakaan istana menjadi langganannya. Perpustaka­an istana itu lengkap sekali, bahkan ba­nyak terdapat kitab-kitab kuno yang sudah sukar dimengerti oleh para pem­baca sekarang. Hanya sedikit saja ahli-­ahli sastra kuno yang akan mampu mem­bacanya. Dan anehnya, gadis remaja ini bahkan paling suka memeriksa kitab­-kitab kuno ini. Kebanyakan adalah kitab­-kitab agama dan filsafat, juga catatan­-catatan sejarah oleh para sastrawan ja­man dahulu.

Pada suatu hari, Puteri Tao Kwi Hong menemukan sebuah kitab kuno yang su­dah berdebu dan ia tertarik sekali karena pada sampulnya terdapat gambar segi lima dengan gambar Im-yang. Didalamnya dan ada sepasang pedang bersilang di atasnya. Gambar pedang itulah yang menarik perhatiannya dan ketika ia mem­bukanya, ternyata itu merupakan sebuah kitab kuno ilmu pedang! Akan tetapi bahasanya kuno dan banyak sekali huruf yang tidak dikenalnya. Ia lalu mengata­kan kepada penjaga perpustakaan bahwa ia hendak meminjam kitab itu untuk di­bacanya. Penjaga perpustakaan tidak berani menolak permintaan puteri dari Pangeran Mahkota, hanya berpesan agar setelah selesai dibaca, kitab itu harus dikembalikan dan mencatatnya dalam buku catatannya.

Kwi Hong membawa pulang kitab itu dan memperlihatkannya kepada kakeknya. �gAh, aku pernah mendengar tentang ada­nya ilmu pedang Ngo-heng Sin-kiam yang telah hilang dari peredaran dan tidak ada lagi yang mampu memainkannya. Agak­nya inilah kitabnya! Ah, engkau beruntung sekali dapat menemukan kitab ini, Kwi Hong!�h

�gAkan tetapi isinya sukar dimengerti, Kong-kong. Banyak huruf yang tidak ku­kenal. Bagaimana dapat mempelajarinya kalau banyak huruf tidak dapat diketahui artinya?�h

Sin-tung Koai-jin sendiri bukan se­orang ahli sastra yang pandai. Ketika dia membuka-buka kitab itu, alisnya ber­kerut dan harus dia akui bahwa dia bah­kan hampir tidak dapat membaca kitab itu. �gKita tidak boleh memperlihatkan kitab ini kepada sembarang orang, Kwi Hong. Akan tetapi untuk dapat membaca ini, engkau harus menanyakan kepada ahli-ahli sastra kuno yang banyak ter­dapat di kota raja. Lalu bagaimana baik­nya?�h

Kwi Hong adalah seorang gadis yang amat cerdik. Setelah berpikir sejenak, sepasang matanya bersinar-sinar dan wa­jahnya berseri.

�gAku mempunyai akal, Kong-kong. Aku akan menuliskan semua huruf yang tidak aku kenal dan huruf-huruf itulah yang akan kutanyakan artinya kepada ahli sastra kuno. Dengan demikian dia tidak akan dapat membaca kitab ini, ha­nya beberapa huruf kuno saja.�h

�gBagus! Akalmu itu sungguh cemer­lang. Aku akan mencari ahli sastra kuno dan engkau boleh mulai menuliskan hu­ruf-huruf yang tidak kaukenal itu!�h

Demikianlah, dengan akal itu, akhir­nya Kwi Hong dapat membaca semua isi kitab itu dan dapat mempelajari ilmu pedang pasangan yang amat hebat. Da­lam melatih gerakannya yang kadang terasa sukar, dia diberi petunjuk oleh kakeknya dan akhirnya, dalam waktu dua tahun, dara ini berhasil menguasai Ngo­heng Sin-kiam dengan baik. Dengan me­nguasai ilmu pedang pasangan itu, kakek­nya sendiri akan kewalahan menandingi­nya! Demikian hebatnya ilmu pedang itu dan untuk mengimbangi ilmu pedang itu, kakeknya membuatkan sepasang pedang yang indah dan baik.

Kwi Hong memang manja dan sifat­nya agak bengal. Seringkali, setelah me­nguasai ilmu silat yang cukup mendalam, ia minggat dari istana untuk merantau di dalam bahkan luar kota raja, jauh dari jangkauan para pengawal karena ia me­rasa tidak leluasa dan tidak senang kalau harus keluar selalu diikuti pengawal yang menjaga keselamatannya! Tentu saja sebagai seorang gadis yang cantik jelita, ketika keluar seorang diri, banyak pula yang tidak tahu bahwa ia puteri pange­ran, berani kurang ajar dan menggoda­nya. Akan tetapi Kwi  Hong merobohkan mereka satu demi satu sehingga nama­nya menjadi terkenal di kota raja dan daerahnya. Karena ia selalu memakai hi­asan burung bangau dari emas di sanggul rambutnya, Ia mendapat julukan �gSi Nona Bangau Emas!�h

Setelah Kwi Hong berusia tujuh belas tahun dan ia telah menguasai Ngo-heng Sin-kiam, ia mulai minggat lagi dari istana dan kini ia merantau sampai jauh dari kota raja. Bukan saja namanya yang terkenal membuat pria yang hendak mengganggunya menjadi jerih, akan te­tapi kini ke manapun ia pergi ada se­pasang pedang bersilang di punggungnya, membuat laki-laki yang hendak kurang ajar kepadanya menjadi lebih gentar lagi.

Agaknya cerita yang sering didengar dari kakeknya sebagai seorang pendekar, menumbuhkan jiwa pendekar dalam diri gadis ini. Biarpun ia seorang gadis bang­sawan yang seharusnya berada di istana, dihormati dan dilayani, gerak-geriknya lembut dan halus, namun jiwa pendekar bergejolak dalam dirinya dan ia suka pergi tanpa pamit sampai berpekan-pekan, dan selama berada di luaran ia selalu bertindak sebagai pendekar wanita, me­nentang para penjahat dan membela yang lemah!

Pada suatu hari, Kwi Hong memasuki kota Tung-san, yaitu sebuah kota kecil di aebelah, selatan kota raja. Karena merasa perutnya lapar, gadis ini lalu memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar.Pada siang hari itu, rumah makan telah dipenuhi para tamu dan hampir semua orang menengok memandang kepada gadis yang baru masuk itu, terutama para tamu pria. Siapa yang tidak akan menoleh dan terpesona memandang gadis itu. Dalam usianya yang tujuh belas ta­hun, Kwi Hong memang merupakan se­orang dara yang cantik jelita dan manis sekali. Rambutnya hitam sekali, panjang dan halus lebat. Rambut itu digelung ke atas tinggi dan dihias burung bangau emas, di bagian belakang diikat dengan pita merah. Di atas dahinya yang halus mulus itu terdapat anak rambut yang melingkar-lingkar, terutama di depan kedua telinganya. Alisnya seperti dilukis, hitam melengkung, kecil panjang. Anggun sekali. Sepasang matanya dihias bulu mata yang lentik, dan mata itu sendiri bersinar tajam dan jeli dan jernih, de­ngan ujung kedua mata itu agak sipit menjungkat ke atas sehingga kalau ia mengerling nampak manis bukan main. Hidungnya kecil mancung, setimpal sekali dengan mulutnya. Mulut itu memang mempesonakan. Mulut yang kecil dengan sepasang bibir yang selalu kemerahan, merah basah dan berkulit tipis penuh. Di kanan kiri mulutnya terdapat lesung pipit yang membuat mulut itu makin menarik. Sukar dikatakan mana yang lebih mem­pesonakan. Matanya ataukah mulutnya. Di kedua anggauta muka itulah letak inti daya tarik Kwi Hong. Dagunya runcing dan lehernya panjang putih mulus. Se­pasang pipinya yang selalu kemerahan seperti buah tomat walaupun tidak me­makai pemerah pipi. Wajah cantik itu hanya dipolesi bedak tipis-tipis saja karena Kwi Hong bukan seorang gadis pe­solek. Pakaiannya juga tidak terlalu me­wah bagi seorang puteri istana, walaupun cukup indah. Celana sutera biru tua dan bajunya biru muda, dengan sabuk kuning emas, sepatunya hitam mengkilap. Se­orang gadis yang amat menarik hati, akan tetapi juga gagah karena terdapat sepasang pedang melintang di punggung­nya. Pedang itulah yang membuat semua mata pria yang memandang tidak me­mandang langsung, melainkan melirik karena mereka agak gentar melihat pe­dang di punggung itu. Jelas bahwa gadis jelita itu adalah seorang gadis yang pan­dai ilmu silat.

Seorang pelayan rumah makan ter­gopoh menyambut. Hatinya gembira bu­kan main mendapat kesempatan menyam­but tamu yang demikian cantiknya se­hingga semua tamu yang lain menaruh perhatian. Dia membungkuk sebagai tan­da menghormat dan berkata dengan suara hormat pula.

�gSelamat siang, Nona. Silakan, di sudut sana masih ada meja kosong.�h

Kwi Hong mengangguk dan tanpa mempedulikan lirikan mata begitu ba­nyak orang ia pun melangkah mengikuti pelayan itu menuju ke meja kosong ,di sudut kiri rumah makan itu. Selama ia melakukan perjalanan merantau keluar dari istana, sudah terlalu sering ia me­lihat pandang mata laki-laki seperti itu. Memang tadinya hal ini amat meng­ganggu dan membuat ia marah, akan tetapi akhirnya ia mengetahui bahwa hampir semua laki-laki adalah mata ke­ ranjang dan tidak dapat melewatkan seorang gadis cantik. Asalkan tidak ada yang mengganggunya dengan ucapan atau perbuatan kurang ajar, kalau hanya pan­dang mata saja, dara ini tidak lagi meng­ambil peduli dan pura-pura tidak me­lihatnya.  Bahkan sedikit banyak ada pe­rasaan bangga di hatinya karena diperha­tikan banyak pria itu berarti bahwa diri­nya memang cantik jelita dan menarik! Hanya bangga akan diri sendiri, sama sekali bukan senang karena ia tahu bah­wa sebagian besar dari mereka itu pan­dang matanya penuh gairah dan nafsu.

�gNona hendak memesan makanan apa?�h

�gBeri aku nasi dan panggang ayam, juga masak Sayur jamur dan lidah bebek.�h

�gMinumnya, Nona? Arak?�h

�gTidak, cukup air teh saja.�h

�gBaik, Nona.�h Pelayan itu lalu pergi untuk memenuhi pesanan Kwi Hong.

Tiba-tiba dari meja sebelah terdengar orang berbisik-bisik. Ketika Kwi Hong melirik, dia melihat tiga orang laki-laki berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun saling berbisik dan tersenyum­-senyum. Jangan-jangan mereka akan ber­sikap kurang ajar, pikir Kwi Hong. Akan tetapi ia bersikap tenang saja dan ber­pura-pura tidak melihatnya.

Akhirnya, benar seperti yang ia duga, seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus, bangkit berdiri dan meng­hampiri, berdiri di depannya dan berkata sambil sedikit membungkuk, �gNona, ma­kan seorang diri sungguh tidak menye­nangkan. Bagaimana kalau Nona kami undang makan bersama kami? Kebetulan kami hanya bertiga, dan meja kami ma­sih dapat menerima seorang lagi. Silakah, Nona. Pesanan Nona biar diantar ke meja kami.�h

Kwi Hong mengerutkan alisnya. Se­orang pria yang tidak dikenal menegur seorang gadis, apalagi mengundang ma­kan, sudah merupakan hal yang tidak wajar. Akan tetapi karena laki-laki jang­kung kurus ini bersikap sopan, ia pun menahan kemarahannya.

�gTidak, terima kasih. Aku ingin ma­kan sendirian saja dan harap jangan mengganggu aku.�h

Mendengar jawaban ini, laki-laki tinggi kurus itu hanya senyum-senyum agak malu karena penolakan itu didengar oleh para tamu lain. Akan tetapi seorang di antara kawan-kawannya, yang bertubuh gendut dan bermuka merah karena ter­lalu banyak minum arak, berkata dengan suara mengejek, �gAih, nona manis, harap jangan menjual mahal! Kami adalah pe­muda-pemuda hartawan yang mampu membayar pesanan makanan apa saja yang Nona sukai!�h

Mendengar ucapan kurang ajar ini, sekali melompat Kwi Hong sudah berada di dekat si gendut itu. �gApa yang kau­katakan?�h bentaknya.

Laki-laki gendut itu agaknya tidak tahu diri atau dia sudah terlalu mabuk. �gHa-ha-ha, aku bilang jangan jual mahal, nona manis, aku....�h

Tiba-tiba tangan kiri Kwi Hong ber­gerak menjambak rambut kepala pria itu dan membenamkan mukanya pada panci terisi kuah panas di depannya.

�gHaepp....haeppppp....!�h Laki-laki itu gelagapan dan setelah Kwi Hong melepaskan  jambakannya, laki-laki itu melonjak-lonjak kepanasan karena muka­nya seperti dibakar, matanya tidak dapat dibuka.

Kwi Hong sudah duduk kembali ke depan mejanya. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa dua orang Laki-laki teman si gendut menjadi marah melihat teman mereka diperbuat seperti itu oleh Kwi Hong.

Mula-mula dua orang itu menolong si gendut, mencuci dan membersihkan muka­nya yang menjadi semakin merah seperti udang direbus dan ketika dia sudah mam­pu membuka matanya, kedua matanya menjadi sipit dan kemerahan. Kemudian dua orang itu meloncat ke depan meja Kwi Hong dengan sikap marah.

�gNona, engkau kejam sekali! Berani engkau menghina kami? Kami adalah murid-murid dari Pek-houw Bu-koan (Per­guruan Silat Harimau Putih)!�h

Melihat kedua orang itu kini nampak­nya marah kepadanya, Kwi Hong ter­senyum mengejek. �gTidak peduli kalian dari perguruan Harimau Putih atau Harimau Belang, siapa berani menghinaku pasti akan kuhajar! Masih untung aku tidak menghancurkan mulutnya!�h

�gEngkau sombong!�h kata orang yang tubuhnya pendek besar dan dia sudah mengayun tangannya untuk menampar muka Kwi Hong. Akan tetapi Kwi Hong sudah mengelak sambil duduk dan sekali kakinya menendang, orang itu pun ter­jengkang dan mengaduh karena perutnya tiba-tiba menjadi mulas terkena tendang­an ujung kaki yang bersepatu hitam itu.

Si tinggi kurus kini menerjang maju dengan kedua tangannya, agaknya hendak menangkap Kwi Hong. Akan tetapi Kwi Hong tetap duduk di atas kursihya dan ketika kedua tangan itu datang ia sudah menggerakkan kedua tangannya menotok ke arah pergelangan tangan, lalu kembali kakinya menendang ke depan. Si tinggi kurus merasa betapa kedua tangannya tiba-tiba menjadi kaku dan sebelum dia sempat mengelak, tahu-tahu kaki gadis itu sudah menendangnya dan dia pun ter­jengkang ke belakang seperti si pendek besar.

Kini si gendut sudah dapat bangkit. Dia menghunus sebatang pedang dari atas meja, akan tetapi sebelum dia sempat bergerak, Kwi Hong sudah menyambar sebatang sumpit dan sekali sambit, pe­muda gendut itu mengaduh-aduh dan pedangnya jatuh ke lantai. Ternyata le­ngan kanannya sudah ditembusi sumpit itu!

Dua orang kawannya terkejut, akan tetapi sebelum mereka mencabut pedang, Kwi Hong menggertak, �gKalau kalian nekat, sumpit-sumpit ini akan menembus jantung kalian!�h Berkata demikian, dia melemparkan sumpit ke arah tembok dan dua batang sumpit itu menancap sampai, setengah lebih ke dalam tembok! Melihat ini, dua orang itu terbelalak dan tidak jadi mencabut pedang mereka, lalu me­narik kawan si gendut yang terluka dan larl dari rumah makan itu. Terdengar teriakan si gendut.

�gNona kejam, kalau engkau memang gagah, tunggu pembalasanku!�h

Akan tetapi Kwi Hong duduk kembali seolah tidak ada terjadi sesuatu dan ketika hidangan yang dipesannya tiba, ia segera makan dengan sikap tenang sekali. Para tamu lain yang menyaksikan peris­tiwa itu, segera bicara sendiri mem­bicarakan gadis yang mereka anggap hebat luar biasa itu. Semua orang di Tung-san mengenal siapa murid-murid perguruan Harimau Putih yang suka ber­sikap ugal-ugalan mengandalkan perguru­an mereka yang memiliki banyak murid dan guru mereka yang terkenal dengan julukan Pek-houw-eng (Pendekar Harimau Putih)? Tidak ada yang berani menentang mereka. Para murid itu bukan orang-­orang jahat dan tidak pernah melakukan kejahatan, hanya sikap mereka ingin menang sendiri saja dan tidak mau di­tentang, seolah mereka yang menguasai kota Tung-san.

Tidak jauh dari situ, di tengah-tengah itu, sejak tadi seorang pemuda memper­hatikan peristiwa itu dan melihat betapa gadis itu menghajar tiga orang tadi, dia tersenyum-senyum puas. Pemuda itu se­orang pemuda yang berusia antara dua puluh atau dua puluh satu tahun. Pakaiannya sederhana, akan tetapi wajahnya tampan dan gagah. Tubuhnya sedang saja, matanya lebar, hidung mancung dan mu­lutnya ramah selalu dihias senyum. Dagu­nya agak berlekuk sehingga menambah kejantanannya. Siapakah pemuda gagah tampan sederhana ini? Dia bukan lain adalah Tao Keng Han.

Seperti kita ketahui, Keng Han ter­jebak di pulau kosong, tidak dapat me­ninggalkan pulau karena tidak ada pe­rahu. Akan tetapi dia pun tidak ingin meninggalkan pulau itu sebelum dia menguasai ilmu-ilmu Pusaka Pulau Es yang dia temukan tergores pada dinding se­buah ruangan bawah tanah. Dia melatih diri dengan Hui-yang Sin-kang dan Swat­im Sin-kang, dua tenaga sakti yang si­fatnya panas dan dingin, dan dia dapat menguasai ilmu ini karena dalam tubuh­nya sudah terdapat kekuatan dahsyat yang sifatnya dingin dan panas itu. De­ngan menguasai dua ilmu sinkang itu, dia kini dapat mengendalikan dua tenaga sakti dalam tubuhnya. Hampir tiga tahun dia hanya melatih diri dengan dua ilmu pengerahan tenaga sakti ini. Setelah dia berhasil baik,  barulah dia melatih dua ilmu silat yang terdapat di dinding itu, yaitu ilmu silat Toat-beng Bian-kun yang sifatnya lemas namun mengandung ke­kuatan dahsyat sekali dan kedua adalah Hong In Bun-hoat yang halus dan nampak indah seperti orang menari sambil me­nuliskan huruf, akan tetapi mengandung daya serangan yang luar biasa hebatnya. Dua tahun dia menghabiskan waktu untuk melatih ilmu ini dengan baik sehingga tanpa terasa lagi dia sudah lima tahun tinggal di Pulau Hantu itu.

Setelah dia menguasai semua ilmu itu, dia lalu menggunakan, sebatang go­lok untuk merusak dinding itu sehingga coretan huruf-huruf itu lenyap dan rusak. Dia tidak ingin ilmu itu kelak dipelajari orang lain, apalagi dipelajari orang jahat. Ilmu itu terlalu hebat dan kalau terjatuh ke tangan orang jahat tentu akan mem­bahayakan dunia. Selama lima tahun, dia hanya makan jamur laut, Ikan laut, dan daging ular serta sayur-sayuran aneh dan buah-buahan aneh pula. Tanpa disadarinya sendiri, makanan yang dimakannya se­lama  lima tahun itu memberinya ke­kuatan yang hebat pula. Dia tidak me­nyadari bahwa dia kini telah menjadi seorang pemuda yang memiliki kekuatan yang amat dahsyat!

Kini, setelah semua ilmu habis dipela­jari timbul keinginannya untuk mening­galkan pulau itu. Dia lalu menggunakan golok menebang pohon yang cukup besar, dan membuat perahu sedapatnya sehingga jadilah sebuah perahu kecil yang seder­hana sekali. Untuk layarnya, dia meng­gunakan kain-kain sutera yang dulu di­kumpulkan dari milik para perampok. Juga dia membuat dayung dari kayu. Setelah perahu itu jadi, Keng Han lalu membawa pakaian yang dibuatnya sendiri, dan mulailah dia berlayar meninggalkan pulau itu. Ketika dia mendorong perahu itu ke air, beberapa ekor ular merah menyerangnya, akan tetapi sambil ter­tawa dia menggunakan tangannya me­nyampok ular-ular itu yang baginya kini sama sekali tidak berbahaya lagi. Bahkan biasanya ular-ular itu dia tangkapi untuk dimasak dagingnya!

Demikianlah, setelah berhasil men­darat di pantai, meninggalkan pulau itu dengan selamat, mulailah Keng Han me­lakukan perjalanan, menuju ke kota raja. Dia hendak mencari ayahnya!

Dan dalam perjalanan inilah  dia tiba di kota Tung-san. Ketika dia mendarat, dia segera membuat pakaian yang biasa, membeli dari toko dan untuk itu dia memiliki banyak emas dan perak. Segera dia berganti pakaian dan membuang pa­kaian buatan sendiri yang amat seder­hana seperti jubah pendeta itu. Selama dalam per jalanan, dia tidak pernah meng­alami gangguan karena penampilannya sebagai pemuda biasa dan sederhana.

Ketika dia lapar dan memasuki rumah makan di Tung-san itu, dia menyaksikan peristiwa yang terjadi di antara gadis cantik jelita itu yang menghajar tiga orang pemuda berandalan dan dia ter­senyum kagum. Jarang ada gadis yang demikian pemberani dan lihai pula, apa­lagi gadis itu agaknya puteri seorang bangsawan atau hartawan, melihat dari pakaiannya. Keng Han menjadi kagum, akan tetapi tidak seperti para pria lain, dia menyembunyikan kekagumanya dan dengan hati geli mendengar betapa orang­-orang di beberapa meja itu saling beri bisik memuji-muji kelihaian dan kecantik­an gadis itu.

Akan tetapi pemilik rumah makan merasa khawatir sekali, bukan saja kha­watir akan keselamatan gadis itu, juga terutama sekali khawatir kalau-kalau rumah makannya akan menjadi medan pertempuran sehingga akan merugikan isi rumah makan dan membikin takut para langganannya. Dia tidak ingin terjadi pertempuran besar di situ, apalagi sam­pai pembunuhan. Maka dia segera meng­hampiri Kwi Hong yang sedang makan dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya ke depan dada.

�gMaafkan kalau saya mengganggu Nona yang sedang makan.�h katanya de­ngan jerih.

Kwi Hong yang sedang makan itu mengerutkan alisnya dan menoleh sedikit ke arah orang itu. �gEngkau mau apa?�h tanyanya tak senang.

�gMaafkan, Nona. Akan tetapi Nona agaknya tidak tahu. Pek-houw Bu-koan itu adalah sebuah perkumpulan atau per­guruan silat yang besar dan berpengaruh sekali di kota ini. Nona telah memukul tiga orang murid mereka. Tentu mereka itu akan datang membalas dendam ke­padamu, oleh karena itu saya anjurkan Nona segera meninggalkan tempat ini dan pergi sebelum terlambat.�h

�gAku tidak takut! Biar mereka semua datang, kalau, berani menggangguku, akan kuberi hajaran satu demi satu!�h kata Kwi Hong.

 �gAkan tetapi, Nona. Kalau terjadi perkelahian di sini bagaimana dengan rumah makanku ini? Tentu akan hancur berantakan dan para langgananku akan berlarian meninggalkan rumah makanku. Aku akan menderita kerugian besar....�h Pemilik rumah makan itu hampir me­nangis. Baginya, yang terpenting adalah keselamatan rumah makannya.�h

�gHemmm, Jadi engkau pemilik rumah makan ini? Jangan khawatir, kalau ter­jadi kerusakan, aku akan memaksa me­reka untuk mengganti semua kerugianmu, atau aku sendiri yang akan mengganti­nya. Sekarang, pergilah dan jangan gang­gu aku yang sedang makan!�h Kwi Hong melanjutkan makannya dan pemilik rumah makan itu tidak berani bicara lagi me­lainkan pergi dengan muka pucat dan wajah penuh kekhawatiran. Kembali Keng Hah yang mendengarkan semua itu, ter­senyum kagum. Gadis yang tabah luar biasa dan juga bertanggung jawab. Sung­guh seorang gadis yang memiliki kepriba­dian yang kuat dan berwibawa. Ingin dia melihat kelanjutan peristiwa itu dan kalau memang diperlukan, dia siap mem­bantu gadis itu.

Kwi Hong makan dengan tenang saja, padahal tentu saja, ia tahu bahwa ucap­an pemilik rumah makan itu bukan hanya kosong belaka dan memang besar sekali kemungkinan tiga orang tadi akan meng­undang kawan-kawan mereka bahkan guru mereka. Akan tetapi sedikit pun ia tidak merasa gentar, bahkan ia mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada Pek-houw Bu-koan kalau benar mereka itu hendak membela tiga orang muda yang kurang ajar tadi.

Kekhawatiran pemilik rumah itu ter­nyata terbukti benar. Serombongan orang terdiri dari tiga puluh orang lebih men­datangi rumah makan itu, dipimpin oleh seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang mengenakan pakaian serba putih. Itulah guru silat Pek-houw Bu­koan yang berjuluk Pendekar Harimau Putih!

Melihat ini, pemilik rumah makan lalu berlari keluar dan berlutut di depan ka­ki orang berpakaian putih itu. �gTeng  kauwsu (Guru Silat Teng), mohon di kasihani, harap jangan berkelahi di dalam rumah makan kami dan menghancurkan segalanya. Kami sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa tadi dan kami sama sekali tidak bersalah....�h

Guru silat yang berjuluk Pek-houw-eng dan menjadi kepala dari Pek-houw Bu-koan itu. mendengus. �gHemmm, mana perempuan yang telah menghina murid-murid kami itu?�h

�gIa masih makan di dalam, Teng­kauwsu. Akan tetapi harap Kauwsu suka bersabar dan menanti sampai ia keluar. Kasihanilah tamu-tamu lain yang tidak bersalah dan jangan merusak rumah ma­kan kami.�h

�gHemmm, baiklah. Hei, kalian jaga di empat sudut, jangan biarkan perempuan itu meloloskan diri!�h perintahnya kepada anak buahnya dan dia sendiri men jaga di depan pintu pekarangan rumah makan itu.

Para tamu lain yang melihat kedatang­an rombongan itu, menjadi ketakutan. Mereka segera membayar harga makanan dan bergegas meninggalkan tempat itu, takut, terlibat. Kwi Hong melihat hal ini, akan tetapi ia tetap tenang. dan melan­jutkan makannya. Ia melihat semua tamu telah pergi, kecuali seorang pemuda ber­pakaian sederhana yang duduk di meja tengah ruangan itu. Ia tidak peduli. Se­telah selesai makan, Ia menyeka mulut­nya dan memanggil pelayan. Dengan sikap seenaknya ia membayar harga ma­kanan, barulah ia melenggang keluar dari rumah makan itu. Keng Han mengikuti­nya dengan pandang mata dan akhirnya dia membayar pula harga makanan dan menyelinap keluar.

Karena memang sudah dinanti, begitu keluar dari rumah makan yang sudah sunyi itu, Kwi Hong telah datang di­hadang oleh Pek-houw-eng Teng Coan bersama tiga puluh orang muridnya! Guru silat itu tercengang juga. Tak disangka­nya bahwa perempuan yang telah meng­hina dan menghajar tiga orang muridnya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita dan masih remaja! Paling banyak tujuh belas tahun usianya! Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia harus tetap menjaga nama dan kehormatan Pek-houw Bu-koan!

�gNona, berhenti dulu!�h Bentak Teng Coan ketika melihat Kwi Hong melang­kah terus tanpa mempedulikan dia dan para muridnya, dan sengaja dia meng­hadang di depan gadis itu.

Kwi Hong mengangkat muka meman­dang seolah baru sekarang ia melihat ada orang menghadangnya. �gHemmm, siapakah engkau dan mau apa engkau menahan perjalananku?�h tanyanya dengan sikap acuh tak acuh.

�gNona, benarkah engkau yang tadi telah menghina dan memukuli tiga orang murid kami?�h

�gHemmm, kalau memang betul, meng­apa?�h

�gNona, engkau terlalu kejam. Tanpa alasan yang kuat engkau melukai murid­-murid kami, akan tetapi melihat bahwa engkau hanya seorang gadis remaja, ma­ka biarlah aku akan habiskan urusan itu kalau saja engkau suka mohon maaf sam­bil berlutut di depan kakiku!�h Guru silat itu merasa tidak enak sendiri kalau harus berkelahi dengan seorang gadis remaja, maka dia hendak menghapus penghinaan itu dengan balas menghina dara itu. Ka­lau dara itu mau berlutut dan minta maaf, dia pun sudah akan puas dan se­mua orang tentu akan melihat dan mem­bicarakannya.

Akan tetapi Kwi Hong mengerutkan alisnya. �gApa katamu? Aku berlutut minta maaf kepadamu? Jadi engkau guru mereka? Sepatutnya engkau yang minta­kan maaf bagi mereka kepadaku. Tahu­kah engkau apa sebabnya aku menghajar tiga orang muridmu? Semua orang me­lihatnya betapa mereka bertiga itu ber­sikap kurang ajar kepadaku, maka aku mewakilimu untuk menghajarnya! Se­patutnya engkau menghaturkan terima kasih dan mohon maaf, kepadaku!�h

Keng Han yang menonton pertemuan itu hampir tertawa bergelak mendengar ucapan itu. Gadis itu benar-benar hebat. Selain tabah dan berani, ternyata juga amat pandai bicara dan bicaranya tidak ngawur! Akan tetapi kepala perguruan silat itu menjadi merah mukanya dan dia menggertak, �gNona, engkau masih tidak mau minta maaf? Lihatlah, tiga puluh orang muridku siap untuk membalaskan dendam saudara mereka. Apakah engkau tidak takut? Cepatlah minta maaf agar urusan ini segera beres dan habis.�h

�gKalau engkau dan mereka itu datang untuk membela orang-orang yang ber­salah, aku sama sekali tidak takut, bah­kan kalian semua ini patut dihajar kare­na membela yang salah!�h Kwi Hong ma­rah.

�gBagus, engkau ternyata keras kepala dan sombong, sudah sepatutnya aku meng­hajarmu!�h teriak guru silat itu agar semua orang mendengar bahwa dia ter­paksa melawan seorang gadis remaja karena gadis itu sombong dan tidak mau minta maaf. Setelah berkata demikian dengan gerakan sembarangan saja tangan­nya menampar ke arah pundak gadis itu. Bagaimanapun juga, Teng Coan bukan penjahat, bahkan julukannya adalah Pendekar Harimau Putih, maka dia meng­anggap dirinya seorang pendekar sejati. Dia tidak menyerang dengan sungguh­sungguh, maksudnya cukup asal menjatuh­kan gadis itu saja untuk menghukumnya.

Akan tetapi dia kecelik kalau mengira dengan satu tamparan dapat mengalahkan Kwi Hong. Dengan amat mudahnya Kwi Hong menarik pundaknya ke belakang sehingga tamparan itu mengenai angin kosong saja. Melihat tamparannya dapat dielakkan dengan mudah, Teng Coan menjadi penasaran dan kembali tangan kirinya menampar, kini lebih cepat dan kuat ditujukan ke arah muka gadis itu.

�gWuuuttttt....!�h Kembali tamparan­nya mengenai tempat kosong karena de­ngan mudah dielakkan oleh Kwi Hong yang menggeser kakinya ke kiri lalu tangannya bergerak cepat membalas se­rangan lawan dengan tonjokan ke arah dada guru silat itu. Kwi Hong tidak me­mandang rendah lawan, maka tonjokannya tidak dilakukan dengan setengah tenaga melainkan dengan cepat dan amat kuat. Melihat ini. Teng Coan cepat menarik tangannya dan sambil miring ke kiri dia menggunakan tangan kanan untuk me­nangkis pukulan Kwi Hong. Dia mengerah­kan seluruh tenaganya dengan maksud membuat pukulan itu bukan hanya ter­tangkis, akan tetapi agar gadis itu ter­dorong dan lengannya terasa sakit ber­temu dengan lengannya sendiri.

�gDukkkkk....!�h Dua buah lengan ta­ngan bertemu, lengan tangan yang ber­tulang  besar dan berotot kekar melawan lengan tangan yang bertulang kecil dan berkulit putih halus seolah tidak berotot. Akan tetapi akibatnya sungguh amat mengherankan. Tubuh guru silat itu ter­huyung ke belakang sedangkan Kwi Hong tetap berdiri tegak sambil tersenyum!

Kini anak buah atau murid-murid Teng Coan sudah tidak sabar lagi. De­ngan senjata golok dan pedang di tangan, mereka maju mengeroyok.

Melihat ini, Teng Coan tidak melerai bahkan dia pun menghunus pedangnya. Karena menghadapi banyak orang yang memegang senjata tajam, Kwi Hong me­lompat jauh ke belakang sambil me­ngerahkan kedua tangannya ke punggung dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang sepasang pedang yang ber­kilauan saking tajamnya. Para  penonton menjadi panik melihat mereka semua sudah memegang senjata tajam. Banyak yang menjauhkan diri dan memandang dengan ngeri dan khawatir akan kesela­matan gadis cantik itu. Akan tetapi, begitu Kwi Hong menggerakkan sepasang pedangnya menyambut serbuan para mu­rid Pek-houw-bukoan, terdengar jerit-jerit kesakitan dan tiga orang sudah roboh dan terluka. Ada yang pundaknya, ada yang pangkal lengannya, ada pula yang pahanya terserempet pedang di tangan Kwi Hong yang amat lihai itu.

Keng Han yang melihat itu, tidak mengkhawatirkan Kwi Hong. Melihat gerakan sepasang pedang itu, maklumlah dia bahwa gadis itu memang lihai bukan main dan tidak akan kalah biarpun di­keroyok banyak orang. Akan tetapi ka­rena pengeroyoknya terlampau banyak, mungkin saja gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan dan inilah yang di­khawatirkannya.

�gNona, jangan membunuh orang!�h te­riaknya dan Keng Han melompat maju. Kaki tangannya bergerak dan para pe­ngeroyok itu berpelantingan seperti di­amuk badai. Mereka hanya merasa ada hawa yang mendatangkan angin demikian kuatnya sehingga mereka semua ter­dorong ke belakang dan terjengkang ber­gulingan!

Sementara itu, Kwi Hong sudah ber­tanding melawan guru silat Teng Coan.

Akan tetapi baru sekarang Pek-houweng Teng Coan menyadari betapa lihai­nya gadis itu. Sepasang pedang itu me­nutup semua lubang dan sebaliknya dapat menyerang dari arah manapun sehingga dia yang menjadi repot harus melindungi dirinya dari serangan sepasang pedang yang baginya seolah-olah telah berubah menjadi lima buah banyaknya itu! Dan bayangan pedang-pedang yang menyerang­nya itu saling mendukung, susul menyusul datangnya seperti rangkaian yang tidak pernah putus! Belum sampai dua puluh jurus, setelah dengan susah payah dia melindungi tubuhnya, akhirnya pedang kiri Kwi Hong mengenai pundak kanannya sehingga tangan kanannya menjadi lum­puh dan pedangnya terlepas dari pegang­an.

�gSinggg....!�h Tahu-tahu sepasang pe­dang di tangan Kwi Hong telah menyilang di lehernya sehingga dia tidak mampu bergerak karena bergerak berarti leher­nya akan terluka.

�gNah, perintahkan semua muridmu untuk mundur!�h bentak Kwi Hong kepada Teng Coan. Guru silat ini dengan muka sebentar pucat sebentar merah saking malunya, melirik dan melihat betapa para muridnya itu sedang diamuk seorang pemuda dengan tamparan dan tendangan.

�gSemua murid, hentikan serangan!�h bentaknya dan para murid Pek-houw­-bukoan segera berlompatan ke belakang. Mereka memang sudah jerih melihat se­pak terjang pemuda yang tiba-tiba mun­cul membantu Kwi Hong itu. Dan kini mereka melihat betapa guru mereka sudah dikalahkan gadis itu, maka semangat mereka hilang.

Keng Han menghampiri guru silat itu dan berkata dengan suara halus namun mengandung teguran, �gEngkau adalah pe­mimpin perguruan, sepatutnya engkau dapat mengajarkan kesusilaan dan sopan santun kepada para muridmu di samping ilmu silat. Ilmu silat bukan untuk main ugal-ugalan dan menang-menangan sen­diri. Tiga orang muridmu itu tadi ber­sikap kurang ajar terhadap Nona ini dan akulah seorang di antara para saksi yang berada di dalam rumah makan. Engkau baru dapat disebut orang gagah kalau mau mengakul kesalahanmu, maka suruh­lah murid-muridmu tadi minta ampun kepada Nona ini!�h

Pek-houw-eng Teng Coan menyadari kesalahannya. Dia terburu nafsu men­dengarkan laporan tiga orang muridnya. Sekarang baru dia bertemu batunya, menghadapi gadis remaja saja dia kalah.

�gHayo kalian bertiga cepat maju ke sini!�h bentaknya kepada para muridnya.

Tiga orang murid yang tadi mem­buat kekacauan di rumah makan maju dengan sikap takut. Kwi Hong sendiri sudah menyimpan pedang dan ia meman­dang kepada pemuda sederhana itu de­ngan heran dan kagum. Ia juga dapat melihat betapa pemuda itu dengan ta­ngan kosong telah merobohkan belasan orang murid tanpa melukai mereka. Ten­tu pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Setelah tiga orang murid itu men­dekat, Teng Coan lalu menggerakkan tangannya, tiga kali menampar dan tiga orang muridnya itu terpelanting.

�gHayo cepat berlutut dan minta maaf kepada Nona ini!�h kata Teng Coan, kini kemarahannya sepenuhnya ditujukan ke­pada tiga orang murid itu yang menim­bulkan gara-gara sehingga dia mendapat malu di depan banyak orang. Kalau bu­kan karena ulah tiga orang murid itu tentu dia tidak sampai terlihat orang-­orang dikalahkan oleh seorang gadis re­maja!

Tiga orang murid itu merangkak ke depan kaki Kwi Hong dan memberi hor­mat sambil berlutut. �gNona, kami mohon maaf atas kesalahan kami!�h kata mereka.

Kwi Hong tersenyum. �gSudah, bangkit­lah. Aku tahu bahwa kebanyakan orang muda memang ugal-ugalan. Akan tetapi kalian jangan sekali-kali menggoda wa­nita. Sepatutnya orang-orang yang bela­jar silat seperti kalian malah menjadi pelindung dan pembela wanita dari gang­guan orang jahat. Apakah kalian ingin menjadi orang jahat yang suka meng­ganggu wanita?�h           '

�gTidak, tidak...., Nona.�h kata mereka serempak.

�gBagus, kalian harus menjadi pendekar-­pendekar yang sejati, yang menghormati wanita dan membela mereka sebagaimana patutnya seorang pendekar yang menen­tang si jahat dan melindungi si lemah. Nah, sudahlah, kuhabiskan urusan sampai di sini!�h

Terima kasih, Nona.�h tiga orang itu bangkit berdiri dan mundur ke tempat kawan-kawannya.

Pek-houw-eng Teng Coan juga mem­beri hormat kepada Kwi Hong dan Keng Han. �gHari ini aku Teng Coan menerima  pelajaran dari Ji-wi, untuk itu kami menghaturkan terima kasih dan mulai hari ini, aku akan meneliti kelakuan murid-murid perguruan dan kami bertin­dak sesuai dengan nasihat Ji-wi (Kalian berdua).�h

Setelah berkata demikian, dengan sikap bengis dia membentak para murid­nya untuk kembali ke perguruan dan tempat itu kembali sepi. Para penonton juga bubaran dan tentu saja Kwi Hong menjadi bahan pembicaraan mereka. Se­telah melihat tindakan Kwi Hong yang gagah, beberapa orang di antara mereka teringat akan pendekar wanita yang ber­juluk Si Bangau Emas. Bukankah gadis itu memakai perhiasan bangau emas di rambutnya.

�gSi Bangau Emas, ia tentu Si Bangau Emas yang terkenal gagah dan pemberantas kejahatan!�h demikian segera tersiar berita itu dan nama Si Bangau Emas, semakin dikagumi orang.

Sementara itu, Kwi Hong memandang kepada Keng Han. Seorang pemuda  yang tampan dan gagah, pikirnya, dan amat sederhana. Kebetulan Keng Han juga se­dang memandang kepadanya. Dua pasang mata yang bersinar tajam saling bertemu dan bertaut sejenak, lalu Kwi Hong mem­bungkuk dan berkata, �gTerima kasih atas bantuanmu, Sobat!�h

�gTidak perlu berterima kasih, Nona. Aku tahu bahwa tanpa dibantu sekalipun Nona akan mampu menghajar mereka semua, akan tetapi melihat demikian ba­nyaknya orang pria mengeroyok seorang gadis, bagaimana aku dapat tinggal di­am? Terpaksa aku mencampuri, Nona.�h

�gAh, tidak mengapa. Aku melihat ilmu silatmu amat hebat, Sobat. Boleh­kah aku mengetahui siapa namamu dan dari perguruan silat manakah engkau?�h

Keng Han tidak ingin memperkenal­kan diri sebagai seorang she Tao, putera pangeran mahkota!. Dia akan merahasia­kan keadaan dirinya itu sampai dia dapat bertemu ayahnya. �gAku bernama Keng Han...., Si Keng Han, dan guruku adalah seorang hwesio perantauan dari Tibet. Dan engkau sendiri, bolehkah aku menge­tahui siapa namamu, Nona? Dan siapa pula gurumu? ilmu sepasang pedang yang kau mainkan itu demikian hebat, tentu suhumu seorang yang amat terkenal pula.�h

Seperti juga Keng Han, Kwi Hong tidak ingin orang mengenalnya sebagai puteri Pangeran Mahkota Tao Kuang. Ia tidak ingin menarik perhatian orang. Ke­betulan namanya Kwi Hong nama Kwi itu boleh dipakai sebagai nama marga. �gNamaku Kwi Hong, dan guruku adalah kakekku sendiri. Ilmu silatku biasa saja, tidak dapat dibandingkan dengan kepan­daiamu, Saudara Keng Han. Atau boleh­kah aku menyebutmu Han-koko saja. Bukankah kita telah menjadi kenalan dan sahabat sekarang?�h

Girang sekali hati Keng Han. Gadis ini selain tabah, lihai ilmu silatnya, lihai pula bicaranya, juga wataknya amat po­los! Sungguh watak yang menyenangkan sekali.

�gTentu Saja dan aku pun tentu boleh menyebutmu Moi-moi saja, karena aku yakin bahwa engkau jauh lebih muda dari padaku.�h

�gHik-hik-hik, Han-ko. Engkau bicara seolah engkau ini telah menjadi kakek-­kakek saja. Memang aku lebih muda darimu, akan tetapi kuyakin selisihnya tidak seberapa banyaknya. Berapa usiamu sekarang?�h

�gSudah hampir dua puluh satu tahun, Nona....      eh, Hong-moi.�h

�gNah, dan aku sudah hampir delapan belas tahun! Selisihnya hanya sedikit saja, tiga tahun. Eh, Han-ko, sebetulnya engkau hendak ke manakah dan datang dari mana?�h

Pertanyaan ini lebih lagi tidak dapat dijawab sejujurnya oleh Keng Han. Tidak mungkin dia menceritakan bahwa dia datang dari Pulau Hantu dan kini hendak pergi mencari ayahnya. Pangeran Mah­kota.

�gAku adalah seorang perantau, Hong­-moi. Aku sedang  menuju ke kota raja untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Aku belum pernah ke sana dan aku mendengar hahwa kota raja amat besar dan indah.�h

�gAh, kebetulan sekali, aku pun hendak pergi ke kota raja. Kita dapat melakukan perjalanan bersama, Han-ko.�h

�gAih, apakah engkau.... tidak me­rasa....janggal, Hong-moi? Melakukan perjalanan bersama Seorang pemuda se­perti aku yang sama sekali asing bagi­mu? Apa akan kata orang nanti?�h

�gPeduli amat dengan pendapat orang, Han-ko. Kalau aku terlalu mempedulikan pendapat orang lain, tidak mungkin aku dapat berkelana seperti ini seorang diri. Aku selalu meneliti langkah sendiri, ka­lau aku tidak melakukan sesuatu yang tidak besar, habis perkara. Orang lain boleh menilai bagaimanapun sesuka perut mereka, aku tidak peduli. Kita telah berkenalan, kita telah menjadi sahabat, sama-sama menghadapi orang-orang yang sesat jalan. Nah, bukankah kita tidak asing lagi satu sama lain? Atau.... eng­kau yang tidak suka melakukan perjalan­an bersamaku, Han-ko?�h

Keng Han menghela napas panjang. Tepat dugaannya, gadis ini seorang yang polos dan keras hati. Tentu gadis ini minggat dari rumahnya karena kalau terang-terangan, tentu orang tuanya ti­dak akan mengijinkannya merantau se­orang diri seperti itu! �gHong-moi, bagai­mana aku dapat tidak suka melakukan perjalanan bersamamu? Tentu saja aku suka sekali, apalagi engkau dapat men­jadi penunjuk jalan. Aku tadi ragu hanya karena mengingat akan dirimu, jangan sampai engkau menjadi celaan orang.�h

�gBiarkan saja orang mencelaku, asal tidak di depanku. Kalau ada yang berani mencela di depanku, tentu akan kutam­par mulutnya sampai semua giginya co­pot. Han-ko, yang penting adalah kita sendiri, bukan? Kalau kita berdua me­lakukan perjalanan dengan sewajarnya, sebagai dua orang sahabat yang saling menghormati dan saling menghargai, tidak melakukan sesuatu yang melanggar susila, siapa yang akan berani mencela?�h

Bukan main kagumnya hati Keng Han, seorang gadis yang masih begini muda, akan tetapi pengetahuannya tentang ke­hidupan dan tentang kemanusiaan demi­kian mendalam. Tentu seorang gadis yang amat terpelajar, di samping ahli silat yang pandai.

�gEngkau benar, Hong-moi. Mendengar pendapatmu, aku menjadi tidak ragu lagi, dan bahkan besar dan bangga hatiku mendapatkan seorang sahabat yang masih muda akan tetapi demikian bijaksana sepertimu. Nah, mari kita berangkat, Hong-moi. Mana jalan yang menuju ke kota raja?�h

�gKita keluar dari pintu gerbang utara dan terus menuju ke utara, tentu akan sampai ke kota raja, Han-ko. Mari kita berangkat.�h

Mereka lalu berangkat meninggalkan Tung-san melalui pintu gerbang utara.

Ternyata perjalanan itu melalui daerah pegunungan yang sunyi. Baru kurang le­bih sepuluh li mereka berjalan, tiba-tiba dari depan datang seorang petani berlari­-lari dan nampak ketakutan. Keng Han menghadang dan bertanya.

�gPaman, ada apakah Paman berlari-­lari seperti orang ketakutan?�h

�gAh, orang muda, jangan pergi ke sana. Aku melihat perkelahian antara orang-orang yang berkepala gundul dan berjubah merah. Tiga orang mengeroyok seorang dan agaknya mereka hendak membunuhnya. Aku menjadi ketakutan  ah, jangan-jangan mereka akan mengejar­ku pula....!�h Orang itu berlari lagi ke­takutan.Mendengar ini, Keng Han menjadi tidak enak hati. Tiga orang gundul ber­jubah merah mengingatkan dia akan tiga orang pendeta Lama yang pernah men­cari gurunya, Gosang Lama, yang ber­kepandaian amat tinggi sehingga ketika dia memukulnya, tangannya sendiri me­rasa kesakitan dan sekali dorong saja seorang di antara mereka merobohkannya! Jangan-jangan yang dimaksudkan petani tadi adalah tiga orang pendeta Lama itu dan yang dikeroyok adalah gurunya!

�gMari kita ke sana!�h katanya dan dia pun berlari cepat, dikejar oleh Kwi Hong.

�gTunggu aku, Han-ko!�h teriak gadis itu yang mengejar dengan secepatnyd sehingga ia dapat menyusul Keng Han.

Tak lama kemudian mereka melihat tiga orang berpakaian pendeta berjubah merah sedang mengeroyok seorang kakek yang berpakaian biasa seperti seorang petani yang kepalanya botak hampir gundul. Ketika mereka tiba di situ kakek yang dikeroyok itu agaknya sudah terluka parah dan sempoyongan hampir roboh. Melihat ini Kwi Hong yang penasaran melihat seorang dikeroyok tiga, sudah menerjang maju dan membentak.

�gPengecut-pengecut tidak tahu malu! Mengeroyok seorang tua!�h Dan ia me­nyerang pendeta terdekat. Pendeta itu menangkis serangannya.                 Dukkk....!�h Dan tubuh Kwi Hong terhuyung ke belakang. Ia merasa terdorong oleh tenaga yang kuat sekali ketika lengannya tertangkis tadi. Mak­lum bahwa ia berhadapan dengan orang pandai, Kwi Hong lalu mencabut sepa­sang pedangnya dan menyerang pendeta itu dengan ilmu Ngo-heng-kiam. Pendeta itu terkejut melihat kehebatan serangan sepasang pedang dan menggunakan lengan bajunya yang lebar untuk menangkis sam­bil mundur.

Sementara itu, Keng Han melihat bahwa kakek yang terluka parah itu ada­lah Gosang Lama. Dia cepat menyambar tubuh yang hampir roboh itu.

�gSuhu....!�h Teriaknya.

�gKeng Han...., pergilah.... mereka lihai sekali. Larilah!�h kata Gosang Lama ketika melihat muridnya. Akan tetapi Keng Han segera merebahkan gurunya dan meloncat berdiri. Ketika memutar tubuhnya, dia melihat betapa Kwi Hong sudah bertanding melawan seorang pen­deta jubah merah kotak-kotak, sedangkan dua pendeta lain hanya menonton. Dia menjadi marah sekali dan meloncat ke depan dua orang pendeta yang menonton pertandingan itu.

�gPendeta-pendeta keparat dan kejam!�h bentaknya dan karena dia maklum bahwa mereka adalah orang-orang yang tangguh sekali maka dia lalu menyerang dengan pukulan yang dilatihnya di Pulau Hantu. Tangan kanannya memukul dengan kan­dungan hawa yang amat panas sedangkan tangan kirinya memukul dengan kandung­an hawa yang amat dingin. Melihat pe­muda itu memukul dan ada angin me­nyambar dahsyat, dua orang pendeta itu terkejut dan cepat menangkis dengan tangan mereka.

�gWuuuuuttt.... desssss....!�h Pertemu­an tenaga itu hebat sekali dan akibat­nya dua orang pendeta itu terjengkang dan terbanting. Yang seorang merasa seluruh tubuhnya dilanda hawa panas sekali dan yang kedua merasa seluruh tubuhnya dilanda hawa yang amat dingin. Mereka tidak terluka parah akan tetapi terkejut bukan main. Seorang pemuda dapat menggunakan pukulan berlawanan dalam satu saat sungguh luar biasa se­kali! Dan mereka pernah dengar bahwa ilmu-ilmu tangguh seperti itu hanya di­miliki oleh pendekar keluarga Pulau Es! Mereka menjadi jerih dan dalam bahasa Tibet mereka memanggil teman yang bertanding melawan Kwi Hong untuk melarikan diri. Pemuda itu terlalu tang­guh, apalagi di situ masih terdapat Kwi Hong yang memiliki ilmu sepasang pe­dang yang hebat. Mereka lalu melarikan diri  dengan cepat, jubah mereka berkibar di belakang mereka.

Keng Han hendak mengejar, akan tetapi dia mendengar suara gurunya me­ngeluh, �gKeng Han, jangan....!�h

Mendengar suara gurunya ini, Keng Han tidak jadi mengejar dan berlutut di samping tubuh gurunya. Ternyata Gosang Lama telah terluka parah sekali, napas­nya terengah-engah. Melihat keadaan gurunya ini Keng Han mencoba untuk membantunya dengan menempelkan kedua tangan di dada gurunya dan mengerahkan sinkangnya. Akan tetapi tiba-tiba mata Gosang Lama mendelik dan napasnya makin ngos-ngosan! Keng Han terkejut dan segera menghentikan pengerahan te­naganya. Bagaimana napas Gosang Lama tidak akan menjadi terengah-engah kalau ada dua hawa yang berlawanan memasuki tubuhnya yang sudah terluka parah.

�gAh, Suhu. Bagaimana keadaanmu?�h Dia mengguncang pundak kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun itu. Gosang Lama hanya menggeleng kepala­nya dan mulutnya hanya dapat menge­luarkan suara berbisik. Keng Han men­dekatkan telinganya dan mengerahkan pendengarannya untuk menangkap pesan terakhir itu. �gSemua ini.... gara-gara.... Dalai Lama...., Keng Han, kau bunuh Dalai Lama untuk membalas dendamku.... kemudian kau hancurkan Bu-tong-pai.... itu juga musuh besarku.... ada puteraku....Gulam Sang temui dia, ajak kerjasama.... aku.... aku....�h Kepala itu ter­kulai dan Gosang Lama telah menghem­buskan napas terakhir, membawa semua rahasia hidupnya bersamanya.

�gSuhu....!�h Keng Han menangis sambil memeluk tubuh yang masih hangat itu.

Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya. �gHan-ko, yang sudah mati tidak ada gunanya ditangisi lagi. Suhumu sudah meninggal, sebaiknya diurus jena­zahnya.�h

Ucapan ini menyadarkannya. Tadi dia menangis karena terharu. Selama lima tahun dia digembleng oleh kakek ini dengan penuh kesungguhan hati dan ka­kek inilah satu-satunya gurunya. Teringat akan kebaikan kakek itu maka dia tadi terharu dan menangis. Ucapan Kwi Hong menyadarkannya dan dia berhenti me­nanis.

Dia menghapus air matanya, menoleh kepada Kwi Hong dan berkata, suaranya sudah tenang lagi. �gEngkau benar, Hong­-moi. Aku terlalu lemah tadi.�h

Dengan dibantu oleh Kwi Hong, Keng Han menggali lubang dan mengubur je­nazah Gosang Lama dengan sederhana dan khidmat. Setelah itu dia berlutut di depan makam gurunya sambil berjanji, �gSuhu, teecu akan melaksanakan semua perintah Suhu.�h

Kwi Hong mengerutkan alisnya men­dengar ucapan Keng Han ini. �gHan-ko, pesan terakhir suhumu itu sungguh luar biasa sekali.�h

Keng Han menoleh kepada gadis itu. �gLuar biasa? Apanya yang luar biasa? Suhu menyuruh aku membasmi musuh-­musuh besarnya yang telah berlaku jahat kepadanya.�h

�gPertama, agaknya suhumu itu juga seorang pendeta. Seorang pendeta me­mesan kepada muridnya untuk membalas dendam! Sungguh luar biasa dan aneh sekali. Biasanya seorang pendeta bahkan melarang muridnya mengandung dendam di hati. Dan kedua kalinya, pesan itu sungguh amat tidak mungkin kaulakukan, Han-ko.�h

�gTidak mungkin?�h Keng Han mengerut­kan alisnya. �gKenapa tidak mungkin, Hong-moi?�h Dia merasa penasaran sekali walaupun alasan pertama tadi juga men­jadi bahan pemikirannya. Dia pun sudah banyak membaca kitab agama yang me­larang adanya dendam di hati, akan te­tapi mengapa suhunya malah menyuruh dia membalas dendam? Akan tetapi tidak mungkin dia mengingkari janjinya kepada suhunya sendiri!

�gTidak mungkin karena permintaan suhumu itu luar biasa beratnya. Kau tahu siapa itu Dalai Lama?�h

Keng Han menggeleng kepalanya. Memang dia belum pernah membaca atau mendengar tentang Dalai Lama.

�gBelum pernah. Siapa sih dia?�h

�gDalai Lama adalah pendeta kepala dari para pendeta Lama di Tibet. Ke­kuasaannya besar sekali, bahkan melebihi kekuasaan raja. Dan di Tibet terdapat banyak sekali pendeta berilmu tinggi yang tentu akan melindungi Dalai Lama. Kurasa engkau tidak akan dapat menyen­tuh  sehelai rambut pun dari Dalai Lama. Beliau sendiri merupakan seorang yang amat tinggi ilmunya. Bagaimana mungkin engkau melaksanakan tugas yang amat berbahaya itu?�h

�gBagaimana besar pun bahayanya, tugas yang diberikan oleh suhu harus kulaksanakan, Hong-moi. Aku tidak ta­kut!�h kata Keng Han dengan suara tegas.

�gHemmm, dan tugas kedua lebih aneh lagi.�h

�gMembasmi Bu-tong-pai yang menjadi musuh besar suhu? Apa anehnya? Kalau mereka itu musuh besar suhu memang harus dibasmi!�h

�gTahukah engkau siapa Bu-tong-pai itu, Han-ko?�h

�gYang pernah kudengar, Bu-tong-pai adalah satu di antara perguruan-perguru­an silat yang terkenal.�h

�gBukan hanya terkenal karena ilmu silatnya, melainkan lebih terkenal lagi bahwa murid-murid Bu-tong-pai merupa­kan pendekar-pendekar yang gagah per­kasa dan pembela kebenaran dan keadilan. Bu-tong-pai adalah perkumpulan para pendekar. Bagaimana engkau disuruh untuk membasminya? Sungguh heran se­kali aku. Kalau gurumu itu musuh besar Bu-tong-pai, maka....�h Kwi Hong tidak mau melanjutkan kata-katanya karena dia tidak ingin menyinggung perasaan hati Keng Han.

�gMaka bagaimana, Hong-moi? Engkau hendak bilang bahwa guruku yang berada di pihak yang salah?�h

�gMungkin saja, karena Bu-tong-pai selalu menentang kejahatan dan tidak pernah murid mereka melakukan kejahat­an.�h

�gApapun alasannya, kalau mereka itu musuh besar suhu, harus kulaksanakan janjiku kepada suhu untuk membasmi mereka!�h kata Keng Han berkeras.

�gJangan, Han-ko. Engkau memper­taruhkan nyawamu!�h

�gTidak sudah sepatutnyakah budi ke­baikan guru dibalas dengan taruhan nya­wa?�h

�gHan-ko....�h Kwi Hong merasa bi­ngung sekali. Dara ini mengkhawatirkan Keng Han, pemuda yang menarik per­hatiannya dan yang mendatangkan suatu perasaan aneh di dalam hatinya. Ia me­rasa sayang sekali kalau sampai Keng Han menderita celaka dalam tugasnya itu, apalagi memusuhi Bu-tong-pai! Pe­muda itu dapat dianggap sebagai seorang penjahat! �gHan-ko, urungkan niatmu itu! Marilah engkau pergi bersamaku ke kota raja....!�h

�gTidak, Hong-moi. Aku mengubah tujuan perjalananku. Aku sekarang juga harus pergi mencari Dalai Lama di Ti­bet!�h

�gAkan tetapi perjalanan itu jauh se­kali, Han-ko.�h

�gAku tidak peduli.�h Dia bangkit ber­diri, �gSelamat tinggal, Hong-moi. Aku berangkat sekarang, juga.�h Dia lalu me­lompat pergi.

�gHan-ko....         tunggu....!�h Teriakan ini membuat Keng Han menahan larinya dan dia berhenti. Gadis itu mengejar dan menyusulnya.

�gAda apa, Hong-moi?�h

�gHan-ko, aku ikut denganmu!�h kata­nya dengan tegas, lupa sama sekali bah­wa ia adalah puteri Pangeran Mahkota! �gAku akan ikut ke Tibet!�h Benar-benar Kwi Hong sudah lupa diri dan lupa ke­adaan. Hasrat hatinya hanya ingin ber­sama pemuda itu, tidak ingin berpisah.

Akan tetapi Keng Han masih memiliki kesadaran. Tidak mungkin dia membawa seorang gadis yang baru dikenalnya me­lakukan perjalanan sejauh itu. Apa akan kata orang tua gadis itu? Juga ini di luar kepantasan.

�gTidak, Hong-moi. Ini adalah urusan pribadiku yang harus kuselesaikan sen­diri. Aku tidak ingin engkau terbawa-­bawa. Kalau sudah selesai tugasku, mungkin kita dapat bertemu kembali. Nah, selamat tinggal!�h Dia menggunakan ilmu­nya berlari cepat sekali sehingga seben­tar saja sudah lenyap dari pandang mata gadis itu. Dan tanpa disadarinya, kedua mata Kwi Hong menjadi basah! Ia merasa menyesal sekali. Pemuda sehebat itu menerima tugas seberat dan seaneh itu. Ia menoleh dan memandang kepada makam Gosang Lama.

�gHemmm, aku sangsi apakah dia se­orang baik-baik.�h gumamnya, kemudian ia pun meninggalkan tempat itu menuju ke kota raja.

 

***

 

Kita tinggalkan dulu Kwi Hong yang kembali ke kota raja dan Keng Han yang pergi ke Tibet dan mari kita menengok keadaan perkumpulan Thian-li-pang.

Thian-li-pang terkenal sebagai sebuah perkumpulan para pendekar dan patriot yang diam-diam menghendaki kemerdeka­an bagi nusa dan bangsanya, terbebas dari penjajahan bangsa Mancu. Perkum­pulan Thian-li-pang tadinya dibawa me­nyeleweng oleh seorang sesat, akan te­tapi kemudian setelah dipegang oleh ketuanya yang sekarang, kembali ke jalan benar. Biarpun sama-sama menentang kekuasaan Mancu, Thian-li-pang tidak sudi bekerja sama dengan dua perkumpul­an lain yang dianggap sesat, yaitu Pek­lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Setelah dipegang oleh ketuanya yang sekarang, yaitu Yo Han, seorang pen­dekar yang terkenal dengan julukan Pen­dekar Tangan Sakti, perkumpulan itu menjadi makin besar dan maju, pusat perkumpulan ini berada di puncak Bukit Naga. Para murid Thian-li-pang me­megang keras peraturan yaitu tidak bo­leh sembarangan membunuh, biar yang dibunuh pejabat pemerintah kerajaan Mancu sekalipun. Sasaran mereka bukan para pembesar yang baik, akan tetapi para pembesar yang melakukan penindas­an terhadap rakyat jelata. Yo Han me­ngerti betul bahwa belum tiba saatnya untuk memberontak terhadap pernerintah Mancu. Keadaan pemerintah Mancu masih terlampau kuat. Bahkan banyak bangsa Han yang mendukungnya, termasuk per­kumpulan-perkumpulan besar dan pen­dekar-pendekar sakti. Yo Han hanya memimpin para murid untuk bertindak sebagai pendekar-pendekar yang me­negakkan kebenaran dan keadilan, me­nentang yang jahat dan melindungi yang lemah tertindas. Karena itu, pemerintah pun tidak melakukan usaha untuk mem­basminya sebagai pemberontak, karena tindakan para muridnya seperti para pendekar, bukan seperti pemberontak.

Ketua Thian-li-pang yang bernama Yo Han adalah seorang pendekar besar yang namanya amat terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar sak­ti berjuluk Pendekar Tangan Sakti. Se­lain terkenal amat lihai, juga dia bijak­sana sekali. Pendekar yang satu ini pan­tang membunuh lawan, bahkan para pen­jahat yang ditundukkannya selalu diberi nasihat agar kembali ke jalan benar dan tidak dibunuh. Oleh karena itu, banyak sekali penjahat besar yang berhutang budi kepadanya, telah kembali ke jalan benar karena sikap pendekar ini.

Yo Han telah berusia hampir lima puluh tahun, akan tetapi dia masih nam­pak tampan dengan matanya yang ber­sinar tajam dan cerdik. Wajahnya ber­bentuk lonjong dengan dagu runcing ber­lekuk, kini ditumbuhi jenggot sedang yang sebagian sudah berwarna putih. Rambutnya yang panjang juga bercampur sedikit uban. Akan tetapi alisnya yang menghias dahinya yang lebar masih te­tap hitam tebal. Hidungnya mancung dan mulutnya ramah sekali, selalu dihias senyum. Tubuhnya sedang saja, namun tegap berisi. Inilah ,pendekar sakti Yo Han yang menjadi ketua Thian-li-pang di Bukit Naga.

Isterinya juga bukan orang sembarang­an. Isterinya yang bernama Tan Sian Li, dahulunya . ketika masih menjadi gadis sudah terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang berjuluk Si Bangau Merah. Julukan ini karena pakaiannya yang se­lalu berwarna kemerahan dan juga ka­rena ilmu silatnya yang khas, yaitu Ang­ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah). Biarpun tingkat ilmu kepandaiannya tidak sehebat suaminya, namun Tan Sian Li merupakan seorang wanita yang sukar dicari tandingnya. Wanita ini adalah cam­puran keturunan dari para Pendekar Gu­run Pasir dan Pendekar Pulau Es bahkan juga pernah mempelajari ilmu pedang Liong-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Naga) dan menggunakan sebatang suling yang berselaput emas. Akan tetapi ilmu­nya yang paling diandalkan adalah Ang­ho Sin-kun yang ia pelajari dari ayah­nya karena ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih yang namanya juga amat terkenal di dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu. Kini usia Tan Sian L i sudah empat puluh tahun, tujuh tahun lebih muda dari suaminya. Dalam usianya yang empat puluh tahun, ia masih nampak cantik jelita. Wajahnya bulat telur dan kulitnya putih mulus. Matanya lebar,hidungnya mancung dan mulutnya selalu senyum mengejek dengan dihias lesung pipit di kanan kiri. Wataknya keras dan agak galak. Selain pandai ilmu silat, Tan Sian Li ini juga pernah mempelajari ilmu pengobatan tusuk jarum dari mendiang Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat).

Suami isteri ini hanya mempunyai seorang anak perempuan yang kini telah berusia delapan belas tahun. Puteri me­reka ini diberi nama Yo Han Li, yaitu gabungan dari nama Yo Han dan Tan Sian Li. Dengan ayah dan ibu seperti itu, tentu saja Han Li amat cantik manis dan juga sejak kecil ia telah digembleng ilmu silat sehingga setelah berusia delapan belas tahun ilmu kepandaiannya sudah setingkat dengan ibunya! Namun, Han Li yang cantik ini berwatak pendiam dan anggun, tidak seperti ibunya yang dahulu lincah dan galak.

Yo Han dan isterinya memimpin Thian-li-pang dengan bijaksana dan keras memegang peraturan sehingga para murid semua patuh dan tunduk. Tidak ada diantara mereka yang berani melanggar pantangan perkumpulan. Mereka tidak boleh mencari perkara, tidak boleh meng­ganggu rakyat, tidak boleh bermain judi, dan kalau bertemu lawan, tidak boleh membunuh.�gKita memang membenci kaum pen­jajah dan sudah menjadi cita-cita kita bersama untuk membebaskan rakyat kita dari cengkeraman penjajah. Akan tetapi kini belum saatnya. Kekuatan kita tidak ada artinya dibandingkan kekuatan ke­rajaan Mancu. Kalau saatnya sudah tiba dan dalam pertempuran dengan bangsa Mancu, larangan membunuh dengan sen­dirinya dihapus. Demi membela bangsa dan memerdekakan tanah air dari ceng­keraman penjajah,  kita harus berjuang mati-matian, dibunuh atau membunuh.�h demikian antara lagi Yo Han memberi peringatan kepada para murid atau ang­gauta Thian-li-pang.

Perguruan-perguruan lain amat meng­hormati Thian-li-pang dan terjalin hu­bungan baik antara Thian-li-pang dengan partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan lain-lain. Sudah beberapa kali Pek-­lian-pai dan Pat-kwa-pai mencoba untuk menghubungi Thian-li-pang untuk bekerja sama memberontak, akan tetapi Thian­li-pang selalu mengelak dan tidak ber­sedia bekerja sama dengan mereka. Yo Han mengenal benar mereka yang me­mimpin kedua partai ini. Mereka adalah orang-orang golongan sesat yang meng­gunakan kedok perjuangan untuk keuntung­an mereka sendiri.

Untuk membiayai perkumpulan me­reka, Yo Han menyuruh para muridnya bekerja. Mereka membuka piauw-kiok (pengawal barang kiriman) dan juga men­jadi penjaga-penjaga keamanan. Karena barang kiriman yang dikawal Thian-li­pang selalu aman dan tidak pernah di­ganggu penjahat, maka usaha mereka itu maju sekali dan hasilnya dapat untuk biaya perkumpulan mereka. Di samping itu, ada pula para murid yang bekerja sendiri, ada yang berdagang, ada yang menjadi karyawan, ada pula yang ber­tani. Yo Han sendiri membuka sebuah toko rempah-rempah dan isterinya suka menolong orang sakit dengan pengobatan tusuk jarum.

Pada suatu hari, sebuah kereta yang mewah berhenti di depan rumah ketua Thian-li-pang ini. Para murid Thian-li-­pang merasa heran karena kereta se­perti itu tentu milik seorang bangsawan tinggi. Segera mereka melapor kepada ketua mereka dan mendengar ada kereta bangsawan datang Yo Han bersama isteri­nya segera keluar menyambut karena mereka sudah dapat menduga siapa yang datang berkunjung.

Dari kereta itu turun seorang laki­-laki bertubuh tegap, berusia empat puluh tiga tahun, bermuka bundar berkulit pu­tih dengan mata  tajam dan hidungnya agak besar, alisnya tebal dan mulutnya tersenyum-senyum. Di sampingnya turun pula seorang wanita yang usianya sebaya, anggun dan cantik, tubuhnya masih ram­ping, juga wajahnya nampak berseri ke­tika melihat Yo Han dan Tan Sian Li keluar menyambut. Rambutnya digelung tinggi dan dihias dengan hiasan rambut dari emas permata. Wajahnya yang can­tik dan anggun itu agak dingin, akan tetapi senyumnya demikian manis sehing­ga dapat mengusir kesan dingin itu. Pa­ling akhir keluar seorang pemuda bangsa­wan yang gagah dan tampan.

Siapakah mereka ini yang menjadi tamu-tamu Thian-li-pang? Mereka memang keluarga bangsawan tinggi karena pria setengah tua itu bukan lain adalah Pangeran Cia Sun, seorang pangeran yang tidak penting kedudukannya di kota raja, karena ayahnya yaitu Pangeran Cia Yan hanya menjadi �ganak angkat�h mendiang Kaisar Kiang Liong. Pangeran Cia Sun ini juga agaknya tidak terlalu membang­gakan kedudukannya sebagai pangeran, bahkan di waktu mudanya dia suka pergi berkelana di dunia kang-ouw. Dia me­mang pandai ilmu silat dan dia mengenal banyak pendekar dan tokoh kang-ouw. Bahkan dia pernah bersahabat baik dan mengangkat saudara dengan Yo Han. Pernah dia rnelakukan perjalanan pe­tualangan di waktu mudanya dengan Yo Han sehingga hubungan mereka akrab  sekali, pernah mengalami suka duka ber­sama dan menghadapi ancaman maut bersama!

Wanita cantik anggun dingin itu ada­lah isterinya yang bernama Sim Hui Eng. Wanita ini juga bukan wanita sembarang­an. Ketika masih muda, ia pernah men­jadi puteri angkat ketua Lembah Ban­kwi-kok, yaitu ketua Pouw-beng-pai, juga sebuah perkumpulan sesat yang berkedok perjuangan melawan penjajah. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa Sim Hui Eng ini adalah puteri dari Sim Houw dan Can Bi Lan, sepasang suami isteri pendekar sakti yang hilang diculik orang ketika berusia tiga tahun. Baru setelah gadis, ia bertemu kembali dengan ayah bundanya dan sekarang ia menjadi isteri Pangeran Cia Sun, hidup berbahagia dengan suami­nya tercinta di kota raja.Pemuda itu adalah putera mereka, anak tunggal yang diberi nama Cia Kun. Sebagai putera ayah ibu yang pandai, tentu saja dia tidak asing dengan ilmu silat. Selain mempelajari sastra seperti layaknya pemuda keluarga bangsawan tinggi, Cia Kun juga digembleng ilmu silat oleh ayah dan ibunya sendiri. Bah­kan oleh ibunya dia telah diajar ilmu yang amat tangguh dari ibunya, yaitu Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi)! Dan sebagai anak tunggal, watak Cia Kun agak manja dan tinggi hati, walaupun watak itu agak tertutup oleh ketampanan wajahnya yang menimbulkan rasa suka di hati orang yang bertemu dengannya.

Yo-twako....!�h Cia Sun lari meng­hampiri Yo Han dan merangkulnya.

�gCia-te....!�h Yo Han juga memeluknya dengan terharu. Mereka memang seperti kakak adik saja, dan setelah bertahun-­tahun tidak saling jumpa, mereka merasa saling rindu, Sim Hui Eng juga segera saling memberi hormat dengan Tan Sian Li.

Ketika melihat Han Li, Sim Hui Eng memandang dan tersenyum manis. �gIni tentu puterimu Han Li itu! Aih, sudah begini besar, sudah dewasa dan cantik jelita seperti ibunya!�h

�gAih, engkau terlalu memuji. Han Li  ini bodoh seperti ibunya. Hayo, Han Li, beri hormat kepada Paman Cia Sun dan Bibi Sim Hui Eng!�h kata Tan Sian Li kepada puterinya yang berada di bela­kangnya.

Han Li cepat memberi hormat kepada suami isteri itu akan tetapi ia hanya memandang saja sejenak kepada Cia Kun.

�gDan ini tentu putera kalian, bukan? Siapa namanya? Cia Kun, bukan? Ah, sudah lama tidak berjumpa, sekarang telah menjadi seorang perjaka dewasa yang gagah dan tampan seperti ayahnya!�h kata Yo Han memuji.

�gCia Kun, hayo cepat memberi hor­mat kepada pamanmu Yo Han yang se­ring kuceritakan padamu itu, dan kepada bibimu Tan Sian Li.�h

Cia Kun mengangkat  kedua tangan­nya memberi hormat kepada suami isteri itu.

�gAihhh, kenapa kalian berdua hanya saling pandang saja?�h tiba-tiba Sim Hui Eng menegur puteranya dan juga Han Li. �gCia Kun, gadis ini adalah Yo Han Li, puteri paman dan bibimu, engkau   harus menyebutnya adik. Dan Han Li, jangan malu-malu terhadap Cia Kun, ini adalah putera kami atau kakakmu!�h

Mendapat teguran itu, Han Li segera mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat yang segera disambut oleh Cia Kun dengan hormat pula.

�gMari silakan masuk!�h Tan Sian Li mempersilakan tarnu-tamunya masuk dan duduk di ruangan dalam. Sebuah pesta kecil segera diadakan oleh tuan rumah untuk menjamu para tamu yang mereka sayang dan hormati itu. Para anak buah Thian-li-pang hanya saling pandang dan saling berbisik saja, melihat ketua me­reka menyambut tamu keluarga bangsa­wan dari istana demikian akrabnya. Namun, tak seorang pun di antara mere­ka berani menyatakan ketidak-senangan hati mereka dan hanya memendam di dalam hati saja.

Tengah makan minum, Yo Han ber­kata, �gCia-te kunjunganmu, sekeluarga ini menggembirakan hati kami sekeluarga. Akan tetapi di balik itu juga mengheran­kan. Adakah suatu keperluan penting yang kalian bawa dengan kunjungan ini?�h

Cia Sun saling pandang dengan isteri­nya, lalu tersenyum dan menjawab. �gMe­mang ada, Yo-toako. Akan tetapi sebaik­nya urusan itu kita bicarakan setelah selesai makan agar lebih santai dan le­luasa.�h

Demikianlah, setelah makan, mereka pindah duduk di ruangan tamu di samping yang lebih luas dan setelah semua pela­yah meninggalkan ruangan, baru Cia Sun bicara.

�gSebetulnya, Yo-toako, kunjungan kami ini selain karena merasa rindu ke­pada kalian, juga kami membawa niat yang amat baik untuk mempererat tali kekeluargaan di antara kita. Melihat ke­nyataan bahwa anak-anak kita telah dewasa dan kebetulan anakmu wanita dan anak kami pria, maka kami mengusul­kan agar diantara mereka diikat tali perjodohan. Bagaimana pendapatmu de­ngan usul kami itu, Toako dan Toa-so?�h

Mendengar ucapan itu, Yo Han Li bangkit dari tempat duduknya dan me­ninggalkan ruangan itu dengan muka ke­merahan. Melihat ini keempat orang tua itu hanya tersenyum, maklum bahwa sudah wajar kalau seorang gadis merasa malu mendengar dirinya dibicarakan un­tuk urusan perjodohan! Sementara itu, Cia Kun juga merasa tidak enak dan melihat ini, Yo Han berkata kepadanya.

�gCia Kun, kalau engkau ingin me­nemani adikmu, pergi ke taman bunga di sebelah. Biar kami orang-orang tua bi­cara dengan leluasa.�h

Cia Kun berterima kasih sekali dan cepat dia pun bangkit lalu melangkah ke taman bunga yang berada di pinggir ba­ngunan itu.

�gYo-toako, tentu saja kami tidak minta keputusan yang tergesa-gesa dan kalau engkau hendak membicarakan dulu dengan Toaso (Kakak ipar), silakan. Kami akan sabar menunggu.�h

�gTidak perlu, Cia-te. Apa yang akan menjadi keputusan kami adalah sama dan dapat kami jawab sekarang juga. Sebelum­nya kami mengharapkan maaf kalau kami hendak bicara terus terang dan sejujur­nya.�h

�gKenapa minta maaf? Bicara terus terang dan sejujurnya bahkan yang kami harapkan. Nah, utarakan pendapatmu itu, Yo-toako.�h

�gBegini, Cia-te berdua. Andaikata Cia-te bukan seorang Pangeran Mancu, tentu pinangan itu akan kami terima dengan kedua tangan dan hati terbuka. Akan tetapi sungguh sayang, Cia-te ada­lah. seorang Pangeran Mancu. Sedangkan kami, Cia-te tentu maklum sendiri bahwa kami adalah orang-orang yang berjuang dan bercita-cita memerdekakan bangsa dari tangan kaum penjajah. Kami berjiwa patriot yang mendambakan kemerdekaan bangsa. Bagaimana mungkin kami ber­besan dengan Pangeran Mancu? Nah, Cia-te tentu dapat memaklumi alasan kami yang berkeberatan untuk menerima usul itu.�h

�gAkan tetapi, Yo-toako!�h Sim Hui Eng membantah. �gSuamiku bukan seorang yang berjiwa penjajah. Hal ini aku yakin Toako telah mengetahui sendiri!�h

�gAku tahu. Cia-te adalah seorang yang berjiwa pendekar gagah perkasa. Akan tetapi aku juga yakin dia bukan seorang pengkhianat keluarga dan bang­sanya. Kita berdua berdiri di seberang yang berlawanan. Kalau kelak terjadi perang antara para pejuang dan para pen­jajah, lalu bagaimana anak-anak kita akan bersikap? Aku tentu tidak suka kalau melihat mantuku membantu pen­jajah memerangi pejuang, sebaliknya aku pun tidak suka melihat mantuku menjadi seorang  pengkhianat bagi keluarga dan bangsanya sendiri. Tidak, Cia-te berdua. Ikatan perjodohan ini tidak mungkin kita lakukan. Biarlah mereka berdua menjadi sahabat saja seperti halnya kita.�h

�gAhhh, Yo-toako, engkau membuat semua harapanku terbanting hancur be­rantakan. Semula aku datang dengan penuh harapan untuk mengekalkan per­saudaraan kita, siapa kira engkau me­nolaknya dengan keras.�h kata Cia Sun menyesal sekali.

�gMaafkan kami, Cia-te. Ada suatu saat di mana kita harus mengambil sikap tegas agar di kelak kemudian hari tidak akan menderita karena keputusan yang diambil tergesa-gesa.�h

�gAku mengerti maksudmu, Toako. Dan aku tidak menyalahkan engkau. Aku men­dengar bahwa Thian-li-pang, di bawah pimpinanmu, menunjukkan sikap sebagai para pendekar, bukan pemberontak, ka­rena itu aku datang penuh harapan. Siapa tahu....�h

�gKami memang bukan pemberontak, Cia-te. Akan tetapi cita-cita kami untuk kemerdekaan bangsa tidak pernah padam. Kalau sudah tiba saatnya, tentu kami akan bergerak dengan rakyat jelata me­nuntut kemerdekaan kami.�h

�gSudahlah, dasar nasib kami tidak baik. Kalau begitu, kami mohon pamit, Yo-toako. Harap suruh orang memanggil putera kami.�h

Dengan sikap tenang walaupun hatinya merasa tidak enak sekali Yo Han meng­utus seorang pelayan untuk memanggil Cia Kongcu yang berada di taman bunga. Ketika itu, Cia Kun sudah dapat bertemu dengan Han Li di taman. Ketika pemuda itu memasuki taman bunga, dia melihat gadis itu sedang duduk di antara banyak  bunga sedang berkembang dengan indah­nya. Bermacam bunga ditanam di taman itu dan kebetulan sekali waktu itu musim bunga sedang berkembang. Keharuman bunga semerbak di mana-mana dan pe­mandangan di taman itu sungguh indah. Tentu saja kalau dibandingkan dengan taman bunga di istana, taman bunga di Thian-li-pang itu bukan apa-apanya, bah­kan tidak ada artinya.

�gLi-moi, engkau di sini?�h tegur pe­muda itu setelah menghampiri Han Li.

Han Li membalikkan tubuhnya, memandang kepada pemuda itu dengan ke­dua pipi kemerahan. Ia merasa tersipu karena baru saja orang tua mereka mem­bicarakan tentang perjodohan mereka dan ia merasa heran akan keberanian pemuda itu menyusulnya ke taman bunga.

�gAh, kiranya engkau, Kun-ko. Aku di sini sedang menikmati bunga-bunga yang sedang mekar. Indah sekali bunga-bunga di taman ini, bukan?�h

Cia Kun memiliki watak yang tinggi hati. Mendengar ucapan itu, dia meman­dang ke sekeliling, lalu katanya, �gAh, tidak artinya apabila dibandingkan dengan taman bunga kami di istana, Li-moi. Datanglah ke taman bunga kami dan engkau akan takjub melihat keindahan bunga-bunga yang ratusan macam di sana!�h

Han Li mengerutkan alisnya. Tentu saja hatinya tidak senang mendengar ini. Pemuda itu meremehkan keindahan ta­man bunganya!

�gHemmm, tentu saja di istana segala­nya serba lebih besar dan lebih indah. Akan tetapi aku tidak ingin melihatnya!�h katanya agak ketus karena hatinya ter­singgung.

Agaknya Cia Kun menyadari kesalah­annya dan dia segera berkata, �gAkan tetapi di sini ada setangkai bunga yang tidak ada duanya, bahkan di istana juga tidak ada, Li-moi. Bunga itu amat can­tik jelita, membuat hatiku terkagum-­kagum, Li-moi.�h

�gAh, benarkah?�h Han Li kelihatan girang dan memandang ke sekelilingnya. �gBunga mana yang  kau  maksudkan itu, Toako?�h

�gBunga itu adalah engkau, Li-moi. Dirimu yang amat mengagumkan hatiku! Dan orang tua kita sedang membicarakan urusan perjodohan kita, Li-moi. Tidakkah hatimu senang sekali, seperti juga pe­rasaan hatiku?�h

Han Li mengerutkan alisnya dan me­mandang pemuda itu dengan tajam. Kun­ko aku tidak suka mendengar omonganmu ini! Pergilah dan jangan ganggu aku lebih lama lagi!�h

Cia Kun hendak membantah akan tetapi pada saat itu datang pelayan ber­larian yang melapor bahwa Cia Kongcu dipanggil oleh orang tuanya, karena hendak diajak pulang.

Cia Kun merasa heran, akan tetapi dia segera memberi hormat kepada Han Li sambil berkata, �gMaafkan aku, Li­moi. Kita berpisah dulu, sampai bertemu kembali.�h

Han Li hanya mengangguk dan tidak pedulikan lagi pemuda itu yang mening­galkan taman. Cara pemuda itu mem­bandingkan taman bunganya dengan ta­man istana, kemudian cara pemuda itu menyatakan perasaan hatinya, sungguh mendatangkan kesan tidak menyenangkan di dalam hatinya. Ia akan membantah ayah bundanya kalau sampai ia dijodoh­kan dengan pemuda itu.

Akan tetapi hatinya merasa lega ka­rena ayah bundanya tidak pernah me­nyinggung-nyinggung soal perjodohan itu dalam percakapan mereka.

 

***

 

Tiga hari kemudian, datang dua orang tosu dari Bu-tong-pai berkunjung ke Thian­-li-pang. Karena Thian-li-pang di bawah bimbingan Yo Han memang mempunyai hubungan baik dengan semua partai dan perguruan silat besar termasuk Bu-tong­-pai, maka Yo Han sendiri yang menyam­but kunjungan kedua orang tosu utusan Bu-tong-pai itu dan mempersilakan mere­ka berdua memasuki ruangan tamu.

Yo Han menyambut dua orang tamu itu bersama isterinya dan ketika mem­persilakan mereka duduk, dia mengamati kedua orang itu. Dua orang tosu yang nampak gagah dan bertubuh tegap. Yang seorang berusia kurang lebih lima puluh tahun, yang kedua lebih muda beberapa tahun. Yang pertama bertubuh tinggi kurus dengan sepasang mata sipit se­kali, sedangkan yang lebih muda bertubuh tinggi besar dan memiliki mata yang tajam dan agak liar. Terutama sekali mata itu seperti hendak menelan bulat-­bulat nyonya rumah yang cantik jelita itu. Diam-diam Yo Han merasa tidak senang dengan sikap tosu yang lebih muda itu.

�gYo-pangcu (ketua Yo),�h kata yang lebih tua sambil mengangkat kedua ta­ngan depan dada, �gpinto (saya)  bernama Thian-yang-cu dan ini adalah sute pinto bernama Bhok-im-cu. Pinto berdua men­dapat perintah dari suhu Thian It Tosu untuk datang berkunjung ke sini dan menyampaikan salam suhu kepada Yo­pangcu sekeluarga.�h

Yo Han tersenyum dan membalas penghormatan itu. �gTotiang berdua, teri­ma kasih atas kunjungan Ji-wi To-tiang (totiang berdua) dan salam dari Thian It Tosu telah kami terima dengan baik. Sampaikan juga salam hormat kami ke­pada beliau kalau Ji-wi pulang nanti. Dan selain menyampaikan salam, ada kepentingan lain apa pula yang membawa Ji-wi datang berkunjung ini?�h

�gMemang ada keperluan lain, Pangcu. Kami membawa sepucuk surat dari guru kami untuk disampaikan kepada Pangcu.�h kata Thian-yang-cu sambil mengeluarkan sesampul surat yang dia berikan kepada Yo Han. Sementara itu, Tan Sian Li mengerutkan alisnya karena beberapa kali dia memergoki Bhok-im-cu memandang kepadanya dengan mata lahap sekali. Ia merasakan benar betapa mata tosu itu mengaguminya dan hal ini dianggapnya sama sekali tidak pantas, apalagi tamu itu seorang tosu.

Setelah, menerima surat itu, Yo Han membacanya. Alisnya berkerut dan pan­dang matanya mengandung keheranan ketika dia menyerahkan surat itu kepada isterinya untuk dibaca. Juga Tan Sian Li merasa heran setelah membaca surat itu. Di dalam surat yang ditulis sendiri oleh Thian It Tosu, dinyatakan bahwa Bu-tong-­pai�h mengajak Thian-li-pang untuk mem­berontak dan bergerak. Waktunya sudah tiba dan untuk apa menunda dan me­nanti lagi, demikian isi surat itu. Nada­nya keras dan penuh kebencian kepada pemerintah Mancu. Yang membuat suami isteri itu heran adalah bahwa biasanya Thian It Tosu bersikap lunak dan biarpun berjiwa patriot seperti mereka, namun tosu tua itu tidak pernah menyatakan keinginannya untuk memberontak seka­rang. Kekuatan pihak pemerintah masih terlampau besar sedangkan para pejuang belum bersatu, bahkan banyak golongan pendekar masih mendukung pemerintah Mancu. Bergerak dan memberontak se­karang sukar diharapkan hasilnya dan sama dengan bunuh diri. Itulah sebabnya mereka terheran-heran membaca surat yang keras itu, yang mengajak mereka untuk memberontak dan bergerak seka­rang juga.

Setelah isterinya selesai membaca surat dan mengembalikannya kepadanya, Yo Han menyimpan surat itu dan me­mandang kepada kedua orang utusan itu.

�gApakah Ji-wi Totiang telah diberi­tahu akan isi surat ini?�h

�gTentu saja sudah, Pangcu!�h kata Bhok-im-cu  dengan suara lantang dan mulutnya tersenyum, matanya kembali mengerling genit ke arah nyonya rumah. �gKami berdua adalah murid-murid utama yang dipercaya oleh suhu, maka selain mengirimkan surat, kami juga diberi we­wenang untuk membicarakan urusan da­lam surat itu dengan Pangcu.�h

�gHemmm, begitukah? Nah, kalau be­gitu, ingin kami bertanya, dengan alasan apakah Bu-tong-pai hendak mengajak kami untuk bergerak sekarang?�h

Kini Thian-yang-cu yang menjawab. �gMenurut suhu, alasannya adalah bahwa sekarang tiba saatnya yang amat baik. Kaisar Cia Cing yang sekarang ini tidak dapat disamakan dengan mendiang Kaisar Kiang Liong. Kedudukannya lemah, apa­lagi di mana-mana terjadi pemberontakan dan perlawanan dari suku-suku bangsa liar maupun dari bajak laut. Kalau se­karang kita menyerbu dan dapat mem­bunuh kaisar, maka pemberontakan kita akan berhasil baik.�h

Yo Han menggeleng kepalanya. �gAku sangsikan benar akan keberhasilan itu. Kalau hanya dengan menyerbu istana dan membunuh kaisar saja lalu berarti dapat memenangkan perang dan menggulingkan pemerintah Mancu, ah, hal itu hanya merupakan lamunan kosong belaka. Kita harus ingat akan ratusan ribu bala ten­tara pemerintah yang berada di luar istana. Mereka itu dapat menyerbu dan menghancurkan kita, kemudian dalam sehari saja mereka dapat mengangkat seorang kaisar baru. Lalu apa artinya pengorbanan kita? Tidak semudah itu, Totiang!�h

Bhok-im-cu mengerutkan alisnya yang tebal dan dia bangkit berdiri. �gApakah itu berarti bahwa Pangcu tidak menyetu­jui niat guru kami yang berjiwa patriot? Demi kemerdekaan bangsa, kami rela mempertaruhkan nyawa. Kalau Pangcu merasa takut, Pangcu boleh membantu di belakang saja dan biarkan kami yang maju di depan!�h

Biarpun ucapan itu memanaskan hati, Yo Han tetap tersenyum dan bersikap tenang. �gTotiang, ingatlah bahwa per­juangan kita ini bukan sekadar hendak menjatuhkan seorang kaisar untuk di­ganti kaisar baru, melainkan mengusir penjajah dari tanah air. Untuk itu, kita harus mampu menggerakkan seluruh ke­kuatan para pejuang dan bukan hanya membunuh kaisarnya, melainkan mengalah­kan semua kekuatan mereka dan mengusir mereka dari tanah air. Dan untuk itu, kami rasa waktunya belum tepat. Kita masih belum bersatu, dan di belakang kita rakyat belum siap.�h

�gKalau menanti seperti yang Pangcu katakan itu, sampai mati pun kita tidak akan pernah bergerak. Membunuh kaisar berarti mengacaukan keadaan mereka. Sekali lagi, kalau Pangcu takut....�h

�gBhok-im-cu Totiang�h bentak Yo Han memotong kata-kata orang itu. �gMengapa aku mesti takut? Kalau Totiang tidak takut, aku pun tidak takut. Apa yang dapat Totiang lakukan, aku pun tentu dapat! Aku bukan takut, hanya meng­gunakan perhitungan akal, bukan hanya ingin mati konyol seperti seorang laki­-laki yang tolol!�h

Bhok-im-cu menjadi merah mukanya. �gBagus! Sudah lama pinto mendengar akan kehebatan Pendekar Tangan Sakti Yo Han. Pinto hanya memiliki sedikit saja kepandaiah, akan tetapi kalau Yo-­pangcu dapat menyamainya, biarlah pinto mengaku kalah!�h Bhok-im-cu sudah men­cabut sebatang golok. Melihat ini, Thian-­yang-cu terkejut dan hendak mencegah sutenya.

�gSute, jangan bersikap kasar!�h cela­nya.

�gSuheng, aku hanya ingin minta pe­tunjuk Yo-pangcu saja. Jangan khawatir!�h jawab Bhok-im-cu. Di sudut ruangan itu, terpisah sedikitnya dua puluh meter dari situ, terdapat sebuah orang-orangan dari kayu. Patung ini gunanya untuk belajar ilmu totok bagi murid-murid Thian-li-­pang dan sekali Bhok-im-cu menggerak­kan tangannya, goloknya sudah meluncur  dengan cepat sekali dan tahu-tahu golok itu sudah menancap di ulu hati patung itu, menancap sampai setengahnya!

Melihat ini, Yo Han tersenyum. Harus diakui bahwa tosu itu selain pandai se­kali menyambit dengan golok, semacam ilmu yang disebut hui-to (golok terbang), juga memiliki tenaga yang cukup hebat sehingga dalam jarak sejauh itu goloknya mampu menancap sampai setengahnya pada patung kayu yang keras itu.

�gPinjam pedangmu!�h kata Yo Han kepada isterinya. Tan Sian Li yang ber­juluk Si Bangau Merah ini memang selalu membawa dua batang suling yang ber­selaput emas. Ia mencabut dan menyerah­kan pedangnya kepada suaminya. Yo Han menerima pedang itu dan tanpa mem­bidik pula dia sudah menggerakkan ta­ngan, melontarkan pedang itu ke arah patung. Pedang meluncur bagaikan se­batang anak panah, mengeluarkan suara berdesing panjang.

�gSing.... cringgg....!�h Pedang itu de­ngan tepat mengenai gagang golok se­hingga gagang golok terbelah dua, akan tetapi pedang masih meluncur dan tepat menancap pada patung itu, dekat sekali dengan golok dan pedang itu menembus sampai ke gagangnya!

�gMaaf, Totiang, kalau aku tanpa se­ngaja merusak gagang golokmu. Nah, ambillah golokmu itu!�h

Dengan muka merah Bhok-im-cu meng­hampiri patung itu dan mencabut golok­nya yang sudah pecah gagangnya itu, kemudian menghampiri tuan rumah dan memberi hormat.

�gKepandaian Yo-pangcu memang bu­kan berita kosong belaka. Pinto kagum sekali.�h

Sementara itu, Thian-yang-cu yang mendongkol melihat sikap sutenya, sudah memberi hormat dan berkata, �gYo-pangcu, sekarang kami mohon dlri dan maafkan­lah kelakuan kami yang tidak sepatut­nya.�h

�gSelamat jalan, Ji-wi Totiang dan sampaikan  pesanku kepada Thian It Tosu bahwa pada saatnya nanti kami akan menerima undangannya dan menghadiri pertemuan itu.�h

Dua orang tosu itu lalu meninggalkan Thian-li-pang. Setelah mereka pergi, Tan Sian Li mendengus. �gHemmm, kenapa para tosu Bu-tong-pai sekarang menjadi begitu pongah? Sikap tosu tadi tidak mencerminkan pimpinan yang baik. Meng­apa engkau berjanji mau datang me­menuhi undangan Thian It Tosu?�h

Suaminya menghela napas panjang. �gBiarpun sikap tosu tadi tidak patut, akan tetapi aku tetap menghormat Thian It Tosu sebagai seorang tokoh yang lebih tua. Dalam suratnya dia menyatakan untuk mengundang semua perkumpulan yang berjiwa patriot untuk hadir. Dan aku akan menghadirinya, biarpun hanya untuk mencegah terjadinya penyerbuan ke istana yang tergesa-gesa, tidak ada man­faatnya bahkan hanya akan membuat kita semua menjadi buruan pemerintah saja.�h

Baru setelah dua orang tosu itu pergi, muncul Han Li. Gadis ini memandang kepada ayah ibunya, dan bertanya, �gAyah dan Ibu, siapakah dua orang tosu tadi dan apa keperluan mereka?�h

�gMereka adalah murid-murid Bu-tong­-pai dan mereka mengundang kami untuk menghadiri pertemuan rapat yang hendak diadakan ketua Bu-tong-pai.�h jawab Yo Han sambil menghampiri patung dan mencabut pedang isterinya dari situ.

�gEh, kenapa pedang Ibu menancap di patung itu? Apa yang terjadi, Ibu? Eng­kau kelihatan seperti tidak senang hati!�h Han Li kembali bertanya, kini ditujukan kepada ibunya.

�gHemmm, seorang di antara dua tosu Bu-tong-pai tadi memper-lihatkan ilmu golok terbangnya menantang ayahmu sehingga terpaksa ayahmu melayaninya. �gTosu sombong itu menjemukan!�h kata Tan Sian Li, masih mendongkol karena Bhok-im-cu tadi memandangnya dengan sinar mata kurang ajar.

�gSudahlah, urusan itu dihabiskan sam­pai di sini saja!�h kata Yo Han dan me­reka bertiga meninggalkan ruangan tamu itu.

 

***

 

Keng Han melakukan perjalanan cepat menuju ke barat. Dia masih membayang­kan wajah Kwi Hong dan merasa kagum sekali kepada gadis itu. Seorang gadis yang hebat, pikirnya. Kalau saja dia tidak ingat akan kepantasan dan juga akan keselamatan gadis itu, tentu dengan senang hati dia menerima tawaran Kwi Hong yang menyatakan hendak ikut dan membantunya menuntut Dalai Lama yang telah menyuruh orang membunuh guru­nya!

Pada suatu hari, tibalah dia di sebuah dusun di daerah pegunungan. Ketika dia mendaki bukit itu, dari jauh dia sudah mendengar suara ribut-ribut di depan dan melihat orang-orang dusun berkumpul di luar dusun. Dia mempercepat jalannya dan berlari mendaki lereng. Setelah tiba di sana dia tertegun. Mula-mula jantung­nya berdebar karena mengira bahwa Kwi Hong yang mengamuk itu, akan tetapi ternyata bukan, melainkan seorang gadis lain yang sama cantiknya dengan Kwi Hong. Bahkan gadis ini agaknya memiliki gerakan ilmu pedang yang lebih hebat daripada ilmu pedang yang dikuasai Kwi Hong juga jauh lebih ganas. Gadis itu dikeroyok oleh sedikitnya tiga puluh orang, akan tetapi berbeda dengan ketika Kwi Hong dikeroyok para murid Pek-­houw Bu-koan dan yang membuat dia terpaksa turun tangan membantu, gadis ini agaknya sama sekali tidak perlu di­bantu! Setiap kelebatan pedangnya me­robohkan seorang pengeroyok, bukan ha­nya melukai ringan, melainkan meroboh­kan dan menewaskannya seketika!Melihat orang-orang dusun yang me­nonton bersorak setiap kali ada pengero­yok yang roboh, Keng Han mengambil kesimpulan bahwa gadis itu tentulah orang yang dianggap baik oleh penduduk dusun dan mungkin sekali pembela me­reka. Dan melihat para pengeroyok itu rata-rata orang yang kasar dan buas, dia lalu mengambil keputusan untuk menjadi penonton saja. Karena di situ terdapat banyak penduduk dusun, agar tidak me­narik perhatian, diam-diam dia melompat ke atas pohon besar yang berada dekat dengan tempat pertempuran itu.

Dari atas pohon Keng Han dapat melihat lebih jelas lagi dan kini nampak olehnya betapa hebatnya gerakan gadis itu. Gadis itu lebih tua dari Kwi Hong, lebih matang dan dewasa. Kwi Hong masih dapat dikatakan seorang gadis re­maja. Dan gerakan pedangnya yang amat hebat itu diimbangi pula dengan gerakan tangan kirinya yang menyambar-nyambar. Sekali tangan kiri menyambar dan me­ngenai tubuhlawan, maka pengeroyok itu tentu terpelanting dan tidak mampu bang­kit kembali! Dan agaknya gadis itu ber­kelahi dengan gembira. Mulutnya yang amat manis itu tersenyum-senyum, se­nyum mengejek dan sepasang matanya yang bersinar-sinar seperti bintang ke­jora itu berseri.

Sudah dua puluh orang lebih yang ma­lang melintang menjadi korban amukan gadis itu. Sisanya tinggal sepuluh orang anak buah dan dua orang pimpinan mere­ka. Dua orang pemimpin ini adalah dua orang pria setengah tua yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya menakutkan, bengis dan kasar. Mereka menggunakan golok besar sebagai senjata.

Melihat anak buahnya banyak yang menjadi korban amukan gadis itu, dua orang itu lalu melompat ke belakang dan memberi aba-aba kepada anak buahnya, �gPergunakan paku-paku beracun!�h

Mendengar ini, agaknya para anak buah baru menyadari dan ingat akan senjata rahasiaa mereka yang ampuh. Me­reka juga berlompatan ke belakang, dan serentak mereka mengeluarkan senjata rahasia itu dan menghujankan ke arah gadis itu. Gadis itu sama sekali tidak menjadi gugup. Pedangnya diputar dan paku-paku itu rontok, dan ketika tangan kirinya bergerak, ia sudah menangkap beberapa batang paku beracun itu dan begitu ia menggerakkan tangan menyam­bitkan paku-paku itu ke arah penyerang­nya, empat orang terjungkal roboh oleh senjata mereka sendiri. Agaknya gadis itu marah diserang dengan cara curang. Tubuhnya tiba-tiba melayang bagaikan seekor burung ke arah dua orang pimpin­an itu. Mereka terkejut dan mengangkat golok untuk menangkis. Namun, pedang itu bergerak cepat sekali dan tahu-tahu dua orang pimpinan itu telah roboh de­ngan dada tertusuk pedang. Bukan main hebatnya gerakan itu. Menyerang dengan tubuh masih di udara, sekaligus meroboh­kan dua orang pemimpin para pengeroyok yang melihat gerakan golok mereka juga bukan orang-orang lemah.

Keng Han bergidik. Gadis itu lihai bukan main, akan tetapi juga kejam tak mengenal ampun. Sisa para pengeroyok kini melarikan diri cerai berai dan gadis itu tidak mengejar mereka.

Orang-orang dusun yang tadi menjadi telah roboh dengan dada tertusuk pedang. Bukan main hebatnya  gerakan itu.

Penonton, kini serentak menjatuhkan diri berlutut ke arah gadis itu, dipimpin oleh seorang tua yang agaknya menjadi kepala dusun.

�gKami semua menghaturkan terima kasih atas pertolongan Lihiap dengan membasmi gerombolan penjahat yang se­lalu mengganggu kehidupan kami. Akan tetapi, bagaimana kalau kawan-kawan mereka datang henpak membalas dendam, Lihiap?�h           

Gadis itu mencibirkan bibirnya, mem­bersihkan pedangnya pada pakaian para  korbannya lalu menyimpan kembali pe­dangnya di pinggang, baru ia berkata,

Hemmm, kalian ini memang pengecut-­pengecut besar! Kalian mempunyai ba­nyak laki-laki mengapa membiarkan diri ditekan dan diganggu gerombolan peram­pok itu? Kalau kalian bersatu, jumlah kalian ratusan orang, tentu akan mampu melakukan perlawanan! Mulai sekarang bersatulah dan kalau ada gerombolan perampok datang mengganggu, lawanlah. Kalau ada yang hendak membalas den­dam katakan saja bahwa yang membunuh mereka adalah aku, Bi Kiam Niocu (Nona Pedang Cantik). Nah, sekarang urus dan kuburlah mereka semua ini, aku harus pergi!�h

Gadis itu melangkah pergi dan ke­betulan lewat di bawah pohon di mana Keng Han bersembunyi. Tiba-tiba ia ber­henti dan tersenyum-senyum.. �gEngkau yang di atas pohon, tidak lekas turun?�h

Keng Han terkejut akan, tetapi diam saja, pura-pura tidak mendengar. Dia merasa malu telah ketahuan persembunyi­annya, juga dia khawatir akan terjadi  kesalah-pahaman kalau dia turun. Maka dia diam saja.

�gNonamu bilang turun, engkau tidak cepat turun?�h Gadis itu kembali berseru. Para penduduk yang mendengar ini sudah cepat memandang ke atas pohon dan kini mereka melihat seorang pemuda duduk nongkrong di atas cabang pohon, mereka memandang dengan hati tegang, tidak tahu siapa pemuda itu, kawan dari para penjahat tadi ataukah bukan.

Keng Han sudah terlanjur diam saja. Dia merasa malu untuk melompat turun dan tiba-tiba tubuh gadis itu melayang ke atas. Tidak nampak kapan ia men­cabut pedang akan tetapi tiba-tiba ada sinar terang menyambar ke arah cabang pohon.

�gKrakkk....?�h Cabang pohon itu ter­potong dan jatuh ke bawah. Tentu saja tubuh Keng Han ikut melayang ke ba­wah. Akan tetapi tubuh pemuda itu tidak terbanting karena Keng Han sudah dapat menguasai dirinya dan hinggap di atas tanah dengan ringan.

Gadis itu kini sudah berada di depan­nya. Pedangnya sudah disarungkannya kembali dan sepasang matanya meman­dang dengan liar dan penuh ancaman.

�gEngkau anak buah mereka?�h tanyanya dan sikapnya siap untuk menyerang se­hingga diam-diam Keng Han juga bersiap siaga untuk membela diri.


NEXT BKS 17 - Part 3

Hosted by www.Geocities.ws

1