| |
Kotak Band
Jakarta Tak sia-sia perjuangan 'Kotak'
bertarung nasib di kompetisi band 'The Dreamband'. Band asal Jakarta ini
berhasil menyisihkan ketujuh pesaingnya yang berasal dari empat kota berbeda.
Rasanya bukan cuma olah vokal dan olah musik yang membuat band ini terpilih
sebanyak 40 persen dari seluruh sms yang masuk pada eliminasi
terakhir 'The Dreamband'. Formasi mereka pun cukup unik, dua cewek: Pare (vokalis)
dan Ichez (bas), serta dua cowok: Cella (gitar) dan Posan Tobing (drum).

Walau mengusung modern rock, ternyata keempat
personel band ini menyukai aliran musik berbeda. Pare menjiwai sekali musik
R&B, tapi dia
mengidolakan Avril Lavigne dan Amy Lee. Ichez yang tergila-gila musik Funk
merupakan fans dari Sting dan John Mayer. Cella di posisi gitaris ternyata
sangat menyukai musik Blues. Idolanya, tak jauh-jauh dari BB King, Steve Vai,
Mark Tremonti dan Steve Ray Vaughn. Sementara sang penggebuk drum, Posang
Tobing, mengidolakan Dave Weckl, Travis, dan guru drumnya yang tergabung di
Pas Band, Sandy Andarusman.
Memberi ciri khas atas Kotak, mereka berpenampilan cukup nyentrik dan
misterius. Dengan kostum ala gothic, mereka cukup berhasil memukau penonton
dalam setiap aksi panggungnya.
Single 'Sendiri' yang tergabung dalam album kompilasi 'The Dreamband Delapan'
ternyata mendapat sambutan yang hangat anak muda yang saat ini memang sedang
tergila-gila pada band. Tentu saja ini awal yang sangat diharapkan oleh
mereka. Pujianpun mengalir dari musisi-musisi yang sudah tak diragukan lagi
kemampuan bermusiknya.
Misalnya saja Erwin Gutawa. Musisi yang sudah banyak menghasilkan musik ini
memuji Kotak sebagai band yang unik dan kemampuan merata antar
personel. Lain lagi komentar lady rocker Nicky Astria. Ia memuji permainan
bass Ichez yang dianggap sangat akurat. "Jarang ada basis cewek yang bagus
sekarang ini," pujinya.
Kini yang perlu dipertahankan oleh Kotak hanyalah mempertahankan predikat
juara. Juara sebagai band pemenang 'Dreamband' serta menjadi 'juara' dalam
menarik hati pecinta musik di Indonesia.
sumber : detikhot.com
-------------------------- end
-----------------------------
Hijau Daun
Inilah band pendatang baru dari kota Lampung
yang membawa segudang potensi. HIJAU DAUN, namanya, yang terdiri dari Dide (vokal,
gitar akustik), Arya (Gitar Akustik), Richan (Bass), Array (gitar), Deny
(drum).

Sebelum merilis album solo, sepak terjang
mereka di ranah musik kampung halamannya sendiri sudah sangat diperhitungkan.
Terbentuk sejak 8 tahun lalu, band ini sudah merilis dua single yang masuk
dalam dua album kompilasi dimana sukses menjadi hit di Lampung dan
sekitarnya. Mereka juga kerap sepanggung dengan band ibukota yang manggung
di kotanya.
Album solonya yang berjudul IKUTI CAHAYA, mengangkat 10 lagu besutan musik
pop progresif. Simak lagu Suara (Ku Berharap), yang isinya harapan bahwa
ceweknya masih mengganggap sebagai kekasihnya. Atau nikmati alunan ala brit
pop seperti dalam lagu De Javu dan Lihatlah, yang lebih nge beat. Tak melulu
cinta-cintaan, Dide dkk juga mengangkat tema tentang spiritualitas, seperti
dalam lagu Ikuti Cahaya, sebagai permintaan petunjuk kepada Yang Diatas.
Dengan menyajikan musik yang mudah diterima tetapi tetap dengan kualitas
prima, 5 anak muda ini siap meramaikan blantika musik Indonesia.
sumber : musikji.net
-------------------------- end
-----------------------------
D'Masiv
BICARA skill, band Jakarta bernama D’Masiv ini
sebenarnya sudah khatam. Mereka termasuk band festival di Jakarta yang
memilih progresif rock sebagai pijakan bermusik. Semua personilnya --dulu--
kerap pamer skill individu untuk menarik perhatian penonton. "Memang, dulu
kita ikut sering festival yang biasanya rock progresif," kata Rian, vokalis,
ketika ngobrol dengan beberapa waktu lalu.

Personil lainnya, seperti Kiki [gitar], Rama [gitar], Ray [bass] dan Wahyu
[drum], termasuk musisi yang awalnya juga kerap mengumbar skill. "Dulu kita
memang terpengaruh band-band keras dan mengandalkan skill, seperti Dream
Theatre. Jadi bawaannya mau main skill saja," aku Rian jujur. Malah ketika
mereka merilis album perdana berjudul ’Menuju Nirwana’ lewat jalur indie,
nyaris semua lagunya bermain di area progresif. "Album itu memang kita garap
waktu kita masih SMA dan tanpa music director. Jadi memang kencang terus,"
kenang Rian soal album yang rilis tahun 2004 silam.
Seiring waktu, D’Masiv ternyata menyadari ada kelemahan dari apa yang mereka
tonjolkan waktu itu. "Orang tidak bisa menikmati musik kita," tambah Rian.
Lama-lama mereka memilih berkiprah di pop-rock dengan lirik dan lagu-lagu
yang lebih bisa didengar dengan enak. "Bukan berubah, tapi proses
pendewasaan musikalitas kita juga," tambah Rian.
Pilihan band yang terbentuk tahun 2003 ini pun berujung sukses. Mereka
terpilih sebagai juara pada helatan salah satu ajang musik nasional. Sebagai
kampiun, D’Masiv memang punya skill dan performance yang apik. Secara
fashion juga tampaknya sudah dipersiapkan dengan matang.
Sebagai juara, mereka berhak atas album utuh dan tur selama setahun bareng
sponsor. Diawali dengan album kompilasi yang juga menjagokan single mereka.
"Ya kita sih berharap lagu-lagu yang kita buat ini bisa diterima dengan
lebih baik," tegas Rian lag
sumber : rileks.com
-------------------------- end
-----------------------------
|
|