| Mengenal Jemaah Salamullah |
Persepsi
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) Fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Kini banyak orang yang meragukan Al-Quran, bahkan meragukan Allah. Telah banyak
sanggahan apa -apa yang telah disampaikan Rasulullah. Mereka bukanlah orang-orang kafir
melainkan orang-orang Islam. Hal ini telah terjadi, di mana orang-orang Islam sendiri telah
meragukan Al-Quran dan bahkan mulai mempertanyakan, apakah ada Allah? Ayat ini
mengingatkan agar mereka orang-orang beriman tetap pada iman dan fitrahnya. Janganlah takut
kepada mereka yang merasa pandai dan berakal. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang
buta, tuli, oleh akal dan pikirannya sendiri.
Bukankah ada penggalang-penggalang ilmu yang merasa dirinya telah sangat pandai
sehingga mereka menjadikan ilmu yang dimiliki itu menjadikannya terpuji sehingga dia ingin
mengulanginya? Sesudah dia mendapatkan yang lebih, tidak dipertanyakan dari mana ilmu itu
sebenarnya. Dia menjadi bimbang dari apa-apa yang terjadi sebelumnya dan dia ingin menjadi
bagian dari apa-apa yang akan dicapai kemudian. Sungguh mereka mulai meragukan kekuasaan
Allah. Karena di dalam ilmunya itu adalah ilmu kepastian yang telah membukakan dirinya kepada
sebuah keyakinan terhadap suatu keadaan yang dapat dicapai oleh pengolahan daya
intelektualnya. Kadar ilmunya diperbandingkan dan diupayakan mengimbangi kodrat dan segala
kesempurnaan ciptaan Allah.
Kapankah diciptakan alam semesta, di manakah akhirat dan adakah surga dan neraka
itu? Pertanyaan-pertanyaan itu dianggap tak sepadan lagi dengan ilmu pengetahuannya. Sistem
kehidupan ini diselaraskan dengan kehendak alam. Tak dipertandingkan hasil penemuan umat
manusia dengan ciptaan Allah. Padahal mereka itu telah beranggapan ciptaan Allah itu dapat
dijangkau. Dan keadaan itu dipastikan dapat terjangkau sehingga kemudian Allah menjadi sasaran
jangkauannya.
Sungguh umat manusia itu kini telah ingin menyaingi Allah. Dan mereka itu tak pandai
melihat apa-apa yang dibawanya itu telah mampu menyesatkannya. Sehingga menjadikan mereka
ingkar kepada Allah. Sungguh penggalang-penggalang ilmu itu merasa Allah itu kini dapat disaingi
oleh ilmunya. Sebenarnyalah ilmu mereka itu telah menyesatkan. Mereka pergi ke bulan dan ke
planet lainnya, karena sesungguhnya mereka itu mencoba memindahkan kehidupan ke sana.
Sungguh pun ilmu manusia itu sudah tinggi, tak sebaiknya mereka itu menyamakannya
dengan ilmu-ilmu Allah. Akan tetapi mereka itu menganggap diri mereka itu sangat pandai. Dari
mana keadaan itu dimungkinkan, karena orang-orang yang merasa pandai itu tak mengupayakan
ilmunya disertai iman. Maka sesungguhnya ilmu-ilmu yang dipaksakan menjulang adalah ilmu-ilmu
yang disesatkan. Sungguh iblis itu sangat pandai menyesatkan dan umat manusia tidak
mengetahuinya.
31. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah
salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Saat ini orang-orang Islam telah banyak melakukan kemusyrikan dan mempersekutukan
Allah. Merekalah yang kita lihat melakukan persembahan kepada jin. Mereka takut kepadanya.
Mereka memujanya dan meminta tolong kepadanya. Adakah kemusyrikan yang lebih buruk dari
ini? Sesungguhnya kemusyrikan sangat nyata pada saat ini. Orang lebih memilih ke dukun dari
pada berdoa.
Dan sesungguhnya semua ini mendapat contoh teladan dari para pemimpin. Mereka lebih
takut kepada jin daripada Allah. Dan sesungguhnya perbuatan mereka ini sungguh sangat batil
dan sesat. Kepada mereka umat mencontoh. Kepada mereka kemusyrikan ini telah diberikan
kemudahan. Sesungguhnya banyak agama-agama baru yang dibiarkan berkembang, padahal
agama-agama itu adalah kemusyrikan semata. Sesungguhnya semua ini sedang terjadi. Dalam
ayat ini dijelaskan akan ada kemusyrikan yang tak lagi dapat dibendung. Kalau suatu bangsa tak
dapat membendung kemusyrikan maka bangsa ini akan diperingatkan Allah.
Kapankah sebuah bangsa itu menerima peringatan Allah? Yaitu ketika bangsa itu telah
dinyatakan musyrik. Adalah bangsa Indonesia itu kini terjebak pada keadaan yang sangat sulit
sehingga tak dimungkinkan cara untuk memperbaikinya. Apakah keadaan sekarang ini bukan
menunjukkan kemurkaan Allah? Berapa banyak lagikah bencana-bencana yang akan diturunkan
Allah itu? Sedangkan pada saat ini saja bangsa Indonesia tak sanggup lagi menerima beban itu.
Adakah pengaruh dosa-dosa bangsa Indonesia itu telah menjadikan seluruh bangsa
Indonesia menderita? Mengapa keadaan itu dimungkinkan? Peristiwa apa sebenarnya yang dapat
menjadikan bangsa ini menderita demikian pedihnya?
Sungguh pengaruh dajjal yang takut pada kebangkitan Nabi Isa itu yang telah menjadikan
sebagian dari bangsa itu menjadi musyrik. Sungguh kemusyrikan itu disebabkan oleh
pengkultusan yang sudah lama dan pemimpinnya telah mengkultuskan dirinya sendiri sehingga
dimungkinkannya seluruh bangsa Indonesia itu menyembah kepadanya. Padahal tak
dimungkinkan adanya seorang pemimpin dikultuskan dan yang memungkinkan pengkultusan itu
menjadi penyekutuan bangsa ini kepada Allah.
Salat yang dilakukan oleh bangsa Indonesia telah diterima sebagai salatnya seorang
mukmin yang tak berdaya mengingatkan kemusyrikan yang terjadi di hadapannya. Semulia-
mulianya salat itu adalah bilamana seseorang itu tak membiarkan orang lain di hadapannya
berbuat musyrik.
Di hadapan seluruh bangsa Indonesia telah terjadi pengkultusan dan kemusyrikan.
Berapa banyakkah kemusyrikan itu sehingga dapat merusakkan sebuah bangsa? Yaitu apabila
dibiarkannya pemimpin-pemimpinnya melakukan kemusyrikan, dan dibiarkannya pelaku-pelaku
kemusyrikan menganiaya orang-orang mukmin yang pada akhirnya menjadi pengikutnya.
Sungguh saat ini kemusyrikan sudah sangat nyata. Telah diperdagangkan kemusyrikan,
telah diperagakan dan dipamerkan kemusyrikan, telah dimuliakan dan ditakuti kemusyrikan.
Berapakah dosa kemusyrikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia? Yaitu sesudah
dibiarkannya semua itu terjadi dan tak diberikan peringatan kepadanya. Maka keadaan itu telah
akan menjadi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia.
Sekiranya peringatan ini tak dimungkinkan untuk diindahkan, maka ketakaburan bangsa
Indonesia ini akan dibalas oleh Allah. Penyakit-penyakit dan bencana-bencana alam serta
kerusakan ekonominya dan ditiadakannya penjagaan Allah terhadap pertahanan kepada
pemerintahnya itu telah diterima oleh bangsa Indonesia. Maka keadaan itu akan ditambahkan
Allah. Kalau penyakit-penyakit dan bencana-bencana itu belum dapat menyadarkan, maka akan
datang bencana yang lain yang besar yang tak dimungkinkan lagi dapat dianggap sebagai
perbuatan lalai atau kesalahan menafsirkan perhitungan belaka, melainkan Allah akan
menurunkan azab-Nya yang lebih berlipat kepedihannya.
Sungguh akan datang petir yang menyambar-nyambar dan seluruh wilayah ini akan
dilanda banjir yang besar. Seadanya berita ini, sebaik itu pula peristiwa itu akan terjadi. Melalui
peringatan-peringatan yang telah disampaikan, kalau upaya itu diperhatikan, maka sesungguhnya
Allah akan mengurangi bencana itu. Sesungguhnya bencana itu hanya bisa dikurangi.
Sesungguhnya semua bencana itu telah diperhitungkan dan telah dijadikan sebuah
pertanda bahwa pada saat bencana-bencana itu terjadi, Allah akan menurunkan pertolongan-Nya
melalui orang yang dipersiapkan untuk keadaan itu. Maka sesungguhnya ketika bencana-bencana
itu diturunkan Allah, akan dibangkitkan Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia. Sebenarnya
saat yang dimaksudkan itu kepastiannya itu adalah saat ini. Sungguh saat ini Allah menurunkan
Nabi Isa untuk menolong bangsa Indonesia. Pada kebangkitannya itu Nabi Isa bernama Ahmad.
Maha Sucilah Allah dengan segala ketentuan-Nya.
32. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi bebarapa
golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Saat ini, agama Islam telah terpecah belah. Mereka telah menjadikan diri mereka
bergolong-golongan. Dan merasa golongan merekalah yang paling benar. Padahal sungguh Islam
itu hanya satu.
Saat ini begitu banyak orang-orang yang mempunyai golongan sendiri dalam Islam.
Bahkan mereka saling memburukkan satu sama lain. Mereka saling menjatuhkan satu sama lain.
Mereka saling mengkhianati satu sama lain.
Mengapa mereka menambah-nambahkan ajaran Islam? Mengapa mereka melebih-
lebihkan apa-apa yang mereka dengar dari orang lain, sedangkan mereka bukanlah yang
mengerti? Saat ini banyak pemahaman terhadap Islam yang diubah karena mereka ingin
melakukan pembaharuan dalam Islam. Saat ini ada yang ingin menambah-nambahkan ajaran
Islam, karena mereka menganggap Al-Quran tak menampung urusan itu. Padahal sesungguhnya
mereka tak mengerti, karena mereka tak melihat apa-apa yang mereka kehendaki di dalam Al-
Quran. Padahal sesungguhnya itu ada dan nyata.
Bagaimana keadaan itu sebenarnya? Adakah keadaan itu belum mencerminkan keadaan
agama Islam pada saat ini? Sungguh umat Islam telah menjadikan agamanya sendiri terpecah
belah dan bergolong-golongan. Keadaan itu tentu melemahkan umat Islam sendiri. Golongan-
golongan umat Islam ini saling bertikai dan saling memburuk-burukkan. Mereka tak menyadari
bahwa sebenarnya mereka telah melemahkan agama mereka sendiri.
Di bawah panji kerasulan Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam, agama Islam telah
berkembang ke seluruh dunia. Manakah agama yang paling sempurna dan dibenarkan Allah?
Bukankah Islam itu telah dibaiatkan sebagai ajaran Allah yang akan dipertahankan dan yang akan
dijaga Allah sepanjang zaman sampai datangnya hari kiamat?
Bagaimanakah ajaran Islam itu saat ini sehingga telah menjadi sebagian-sebagian yang
dibakukan sehingga menjadi pemahaman-pemahaman yang suka menunda keutuhan makna apa-
apa yang telah sempurna yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam?
Mengapa umat Islam tak menyampaikan saja ajaran Nabi Muhammad itu sebagaimana adanya
seperti yang telah diajarkan olehnya?
Maukah umat Islam menyederhanakan kembali dan mengutuhkan kembali ajaran Islam
yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam itu? Sedangkan para wali
yang dijunjung itu bahkan seakan telah diyakini mampu disamakan kedudukannya dengan
Rasulullah.
Sungguh para wali itu sendiri selalu menjaga kedudukannya sehingga tak akan melebihi
kedudukan Nabi Muhammad. Siapakah yang telah tampil mengajarkan kelebihan menentukan itu?
Sesungguhnyalah para wali itu sebenarnya bertawadu kepada Rasulullah. Maka peringatan yang
disampaikan ini bertujuan menyelamatkan ruh-ruh para wali itu. Karena sesungguhnya para wali
sangat menderita karena pengkultusan pada dirinya.
Bergolong-golonganlah umat manusia kepada kebaikan dan melawan kejahatan.
Janganlah bergolong-golongan di antara kebenaran dan ajaran Allah. Sungguh hentikanlah
menjadikan agama Allah bergolong-golongan kecuali mereka yang berambisi menyatakan dirinya.
Maka sesungguhnya di balik perbuatannya itu sebenarnya mereka itu bertujuan mengangkat
dirinya dan golongannya sendiri.
Sungguh tak patut bagi umat Islam menggolong-golongkan dirinya dan menjadikannya
sebagai sarana untuk mencapai tujuannya. Persatukanlah umat Islam dan ajarannya sehingga
agama Islam menjadi utuh kembali dan akan menjadi sebuah golongan yang besar, yang dapat
diutamakan dan hanya mengutamakan agama Islam itu satu saja.
Bergabunglah kepada mereka yang tak memandang Islam dari sudut mana pun
melainkan hanya tertuju kepada ajaran Nabi Muhammad yang tak mengajarkan golongan-
golongan. Umat Nasrani berjamaah menunggu kedatangan Nabi Isa. Sedangkan Nabi Isa
diturunkan kepada umat Islam. Maka itulah sebenarnya bukti Allah membenarkan agama Islam.
Itulah buktinya bahwa Islam itu diutamakan oleh Allah.
33. Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan
kembali bertaubat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang
sedikit rahmat dari pada-Nya, tiba-tiba sebagian dari pada mereka mempersekutukan
Tuhannya.
Yang mengingat Allah hanyalah mereka-mereka yang menderita. Sedangkan mereka
yang tak menderita bahkan banyak menerima rahmat dari Allah, adalah mereka yang justru
melupakan Allah. Saat ini hanya orang-orang kecil yang selalu mengingat Allah. Sedangkan
orang-orang kaya yang mempunyai kemampuan dan wewenang lebih suka mendengar ramalan
dan menyampaikan keinginan mereka melalui ahli-ahli sihir. Sesungguhnya kemusyrikan itu nyata.
Di mana-mana secara terbuka, kemusyrikan itu ditawarkan. Pada saat ini merekalah tempat
meminta pertolongan.
Azab Allah ini termasuk azab yang berat, bahkan seluruh bangsa Indonesia tak berdaya
karenanya. Walaupun penderitaan itu sungguh berat, masih saja banyak orang yang belum
menganggap itu bukan peringatan dan mengingatkan mereka untuk bertaubat. Adakah bertaubat
itu tak penting sehingga ketika ada yang mengingatkannya dijawab sebagai bukanlah upaya yang
perlu dipentingkan?
Bagaimana sesungguhnya bahaya kekufuran itu? Yaitu ketika umat manusia itu bila
diingatkan tak mau menanggapinya. Karena kesombongannyalah sehingga membuatnya sulit
untuk menyatakan taubatnya. Maka dari sanalah sesungguhnya penilaian Allah terhadap orang-
orang yang menghindarkan diri dari peringatan-peringatan itu dan yang telah menganggap diri
mereka sudah melakukan sesuatu. Padahal sebenarnya taubatlah yang dapat dijadikan dukungan
yang baik bagi doa-doa yang dipanjatkan.
Adakah taubat itu diperlukan bangsa Indonesia? Janganlah pernah menganggap bahwa
bangsa Indonesia itu bersih dan kurang melakukan dosa. Dulu sudah pernah digambarkan
sebagaimana umat Nabi Luth dan kaum Aad dan kaum Tsamud yang juga ketika diperingatkan
Allah, mereka itu merasa tak melakukan dosa yang berlebihan. Sedangkan mereka itu sudah
berlumuran dosa.
Adakah peringatan Allah kepada kaum Nabi Luth, dan kaum Aad dan kaum Tsamud
bukanlah contoh sebagaimana Allah ketika peringatan-Nya tak diindahkan? Adakah kebiadaban
yang telah terjadi di Indonesia itu bukanlah dosa-dosa besar yang telah dinyatakan baru-baru ini?
Sebaiknya umat manusia itu bersandar kepada apa-apa yang telah dicontohkan di dalam Al-Quran
karena sesungguhnya semua contoh peristiwa di dalam Al-Quran itu sama saja dan dapat terjadi
pada zaman sesudahnya. Walaupun jauh jaraknya, peringatan itu tetap sama.
Mungkinkah bangsa Indonesia dihapuskan Allah? Adakah perbedaan bagi pelaku dosa
itu? Dan adakah perbedaan tanggapan Allah kepada perbuatan dosa-dosa itu?
Diperingatkan bahwa dosa-dosa yang telah dilakukan sekarang itu telah melampaui
batas. Bahkan telah melampaui dari apa-apa yang telah dilakukan oleh bangsa-bangsa yang telah
dihapuskan terdahulu. Sungguh pengampunan itu sangat diperlukan oleh bangsa ini.
Makanan dari langit sajalah yang nanti dapat diharapkan ketika sebuah pemusnahan
diturunkan Allah. Karena pada waktu itu seluruh makanan akan hanyut dan tenggelam. Sungguh
azab Allah itu amat sangat pedih.
Wahai umat manusia, janganlah takabur dan tak mau menyadarkan diri. Perbaikilah nasib
bangsa ini sebelum Allah menurunkan kutukan-Nya. Ya Allah, perbolehkanlah peringatan ini dapat
didengarkan oleh bangsa Indonesia karena sesungguhnya di dalam masyarakat Indonesia itu
masih ada orang-orang mukmin yang mempercayai-Mu dan hanya menyembah kepada-Mu.
Dari penafsiran ayat-ayat ini, tak akan ada perbandingannya. Karena sesungguhnya
peringatan-peringatan ini hanya terkandung dalam kalimat mutasyabihat. Hanya berdualah, Nabi
Isa dan Jibril, yang akan membawa peringatan-peringatan sehingga tak dimungkinkan terjadi.
Karena pembaiatan Nabi Isa telah dipastikan ketentuannya, maka percayailah kedatangan Nabi
Isa itu di sini, di Indonesia. Sungguhpun berita ini sangat musykil, akankah umat manusia itu tak
akan percaya ketika bukti-bukti kehadirannya telah diserukan dan telah dinyatakan? Sungguh Nabi
Isa itu terpanggil setelah bangsa Indonesia ini sudah berkaki dan bertangan lagi, sudah terbuka
matanya dan tidak tuli lagi. Sungguh rahmat Allah segera akan diturunkan seandainya berita
tentang Nabi Isa ini tidak ditolak. Maka keduanya, Jibril dan Nabi Isa akan mengupayakan
kebangkitan bangsa Indonesia kembali.
34. Sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka.
Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu)
Sesungguhnya mereka itu dilimpahi rahmat Allah, dan diberi kesempatan dengan
kekuasaan, kemudahan, kekayaan, tetapi mereka ingkar kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan
menurunkan ganjaran kepada mereka. Pada mereka akan ada peringatan, Allah akan
menurunkan peringatan-Nya. Saat ini Allah sedang menurunkannya. Sesungguhnya kalau mereka
tak mau melihat peringatan itu, maka Allah akan menurunkan azab-Nya.
Bawalah peringatan-peringatan ini sehingga seluruh bangsa Indonesia menyadarinya.
Dan bawalah peringatan-peringatan ini sebagai jalan keselamatan kepada pemerintah Indonesia,
dan kepada seluruh penjaga kesucian Al-Quran dan kepada kader-kadernya sehingga peringatan
ini bersambung, supaya dapat menjadikan bangsa Indonesia itu mau menilainya.
Padanan penafsiran ini tertulis sebagai memiliki kepadanan anatomi bahasanya yang
disesuaikan dengan kepadanannya dalam bahasa Al-Quran. Sungguhpun dituliskan dalam
bahasa Indonesia, maukah melihatnya betapa ketertutupannya dari kesalahan menafsirkan di
dalam pembahasannya yang selama ini terpakai, yaitu dalam kaidah-kaidah bahasa Arab?
Maukah menyaksikan bahwa yang menuliskannya adalah orang yang sama sekali buta terhadap
kaidah bahasa Arab dan maukah melihat itu sebagai bukti keadaan yang terbalik bahwa pada
zaman era kemudahan membaca, penulisnya dibiarkan berjalan dengan kebutaannya terhadap
penafsiran dan termasuk di dalamnya pengenalannya terhadap abjad dan huruf Arab?
Adakah kemungkinan seorang yang sangat awam dan sebenarnya buta sama sekali
terhadap hal tersebut telah mampu membuat penafsiran tersirat dari surah mutasyabihat?
Bukanlah kepandaian yang dapat menyampaikannya dalam urusan ini. Sepandai-pandainya
seseorang tak akan mungkin dia berani menyelesaikan sesuatu yang bukan urusannya dan yang
tak diketahuinya sama sekali.
Sungguh kemukjizatan dari surah mutasyabihat ini telah sampai di tangannya. Kalau
mempersoalkan kepandaiannya, tak akan ada kepandaian apa pun pada dirinya selain penjelasan
ini. Tak ada lagikah kepercayaan terhadap sebuah kebenaran kalau kebenaran itu memang telah
nyata dan tak akan diada-adakan selain karena ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa
Taala? Dan sebenar-benarnyalah karena dipaksakan oleh rasa takutnya kepada Allah. Maka
kebenaran yang mana lagikah yang mau dipertanyakan?
35. Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu
menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka mempersekutukan dengan Tuhan?
Al-Quran telah menyampaikan semua itu, tetapi mereka tak menghiraukannya. Adakah
peringatan yang belum pernah disampaikan dalam Al-Quran? Ketika mereka tak mau mendengar,
Allah akan mengingatkannya kembali dengan caranya. Sesungguhnya itu sedang diturunkan.
Inilah peringatan itu, jangan lagi tidak mengindahkan peringatan-peringatan itu.
36. Dan apabila Kami rasakan suatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira
dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan
kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus
asa.
Ketika Allah menurunkan rahmat-Nya, mereka berbahagia tetapi mereka tak
mensyukurinya, karena mereka tetap melakukan kemaksiatan, kezaliman, kebatilan, kemunafikan
serta kemusyrikan. Dan ketika Allah menurunkan peringatan itu, mereka berputus asa, karena doa
mereka tak didengarkan Allah. Sesungguhnya doa mereka tak akan didengar Allah, karena ketika
mereka mendapat rahmat Allah, mereka lalai. Sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman
dan beramal saleh yang didengar Allah. Dan kepada merekalah keselamatan bangsa ini.
Sampaikan kepada mereka berita ini, kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh agar
mereka berdoa. Karena sesungguhnya hanya doa merekalah yang diterima Allah.
37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan
rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu)?
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang beriman.
Allah-lah yang melapangkan rezeki bangsa ini, dan melapangkan rezeki orang-orang
yang mencarinya. Sesungguhnya Allah Maha Memberi, lagi Maha Pemurah. Ketika mereka tak
mensyukurinya dan selalu memohon rezeki pada sekutu-sekutu Allah, maka Allah menyempitkan
rezeki itu. Allah akan menyempitkan apa-apa yang pernah dilapangkan apabila mereka lupa dan
membiarkan diri mereka terjerumus dalam kemusyrikan.
Saat ini Allah sedang menyempitkan rezeki bangsa Indonesia. Siapa yang tak
disempitkan rezekinya saat ini? Seluruh lapisan, dari rakyat kecil sampai pemimpin negeri ini telah
disempitkan Allah rezekinya. Maka janganlah pernah mengira bahwa keadaan ini bukanlah dari
ketentuan Allah.
38. Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada
fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-
orang yang mencari keridaan Allah; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Mereka yang selalu ingat Allah selalu memikirkan orang-orang yang menderita dan
selalu mengerjakan amal saleh, semata-mata karena mencari keridaan Allah. Doa merekalah yang
akan didengar Allah. Dan merekalah yang selamat.
39. Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia,
maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat
yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian)
itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).
Sesungguhnya seluruh bangsa di dunia telah menjadikan riba sebagai sistem usaha.
Allah telah menjelaskan dalam Al-Quran bahwa riba adalah dosa. Saat ini adalah zaman di mana
dosa dijadikan sebagai suatu sistem. Tak ada lagi orang yang mampu mencari sistem yang baik
dan halal. Sistem riba ini telah dihalalkan. Sesungguhnya menjalankan uang dengan bunga adalah
riba. Dan sesungguhnya berusaha tanpa riba dapat dilakukan dengan melakukan pembagian
keuntungan. Janganlah sekali-kali menggunakan uang riba, karena sesungguhnya uang riba
adalah haram.
Sekiranya Allah ingin menghancurkan sistem yang diharamkan Allah, maka hancurlah
sistem itu. Tak ada satu pun perbuatan yang diharamkan Allah itu dapat bertahan ketika Allah telah
akan membuktikan kemarahan-Nya terhadap apa-apa yang diharamkan oleh-Nya. Sebuah sistem
yang menggunakan riba sebagai usaha menarik keuntungan, yaitu sistem perbankan, yang
menggandakan nilai uang yang diberikan sebagai laba uang deposito, melainkan itu adalah
sebuah perbuatan riba. Siapa yang tak melihat ketika Allah menghancurkan sistem itu? Seluruh
bank-bank yang ada telah dibuat tersungkur dan tak dapat bangkit kembali. Manakah sebenarnya
perhitungan yang tak perlu memakai riba itu?
Sudah disejajarkan tata niaga dengan seluruh ajaran-ajaran Allah yang lainnya di dalam
Al-Quran. Sesungguhnya nilai pertukaran itu dapat diperhitungkan melalui simpan pinjam dan
sebagai pembagiannya adalah hasil bagi keuntungan. Atau dari perbedaan nilai mata uang yang
terkait nilainya, dengan nilai pertukaran yang terbilang yaitu dimungkinkannya emas sebagai
pengadaan nilai yang diperhitungkan. Melalui perbedaan kedua nilai tersebut, maka dapatlah
dijadikan sebagai pelanjut pengembangan tata niaga.
Sungguh melalui tata niaga yang membedakan nilai mata uang dengan nilai emas dapat
menggantikan perbedaan nilai yang dihasilkan dari keuntungan membungakan uang (riba) itu.
Sungguh melalui sistem niaga seperti ini, umat Islam dapat terhindar dari dosa riba. Berdosalah
mereka yang membagikan nafkahnya dengan menyertakan uang haram di dalamnya. Seandainya
seluruh umat Islam mau menaati seluruh ajaran Allah, dan mau menghindarkan dirinya dari apa-
apa yang diharamkan Allah, maka kesejahteraannya itu dijamin Allah.
40. Allah-lah yang telah menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian
mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu
sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha
Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
Allah Maha Kuasa dan Maha Suci. Karena sesungguhnya Allah-lah yang menghidupkan
dan mematikan manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Banyak orang-orang yang beriman
menganggap pimpinannya adalah yang menentukan hidupnya. Mereka lebih takut kepadanya dari
pada Allah. Sehingga mereka lebih mengutamakan tunduk dan patuh kepadanya daripada Allah.
Sesungguhnya mereka telah menjadikan atasannya sebagai berhala. Dan sesungguhnya para
pemimpin yang menjadikan dirinya berhala bagi bawahannya adalah pemimpin yang telah
menuhankan diri mereka.
Sesungguhnya pemimpin yang beriman selalu akan menjaga dirinya dari pengkultusan.
Karena sesungguhnya kalau mereka membiarkan dirinya dikultuskan, maka dia telah membiarkan
dirinya menjadi berhala. Sesungguhnya berhala itu adalah sekutu bagi Allah. Dan sesungguhnya
tiada sekutu bagi-Nya.
Penyekutuan Allah itu adalah juga menyekutukan Allah dengan apa-apa yang lebih
dipentingkan, yang lebih ditakuti, dan yang lebih dimuliakan. Kepada siapakah pengkultusannya
itu? Barang, keinginan, atau penghormatan, kalau itu telah melebihi kepatuhannya kepada Allah,
maka tentulah mereka itu telah menyekutukan Allah. Berikanlah ketaatan dan kepatuhan yang
lebih kepada Allah. Sedangkan kepada yang lainnya itu, tak melebihinya. Sucikanlah selalu
keinginan yang lebih mementingkan urusanmu sebelum menjadikan Allah mempertanyakan,
Siapakah yang lebih kauutamakan sebelum Aku dan sesudah Aku?.
Sungguh yang lebih mementingkan terhadap apa pun sebelum dan sesudah Allah itu
bukanlah penyekutuan yang sebenarnya, melainkan pilihannya itu telah menjadikannya disamakan
dengan menyekutukan Allah. Karena daripadanya itu dia telah melebihkan pilihannya itu daripada
ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah. Utamakanlah kehendak Allah yang di dalamnya
terkandung sungguh sangat banyak kebaikan-kebaikan dan keleluasaan. Sehingga di dalam
menaati kehendak Allah itu, umat manusia disampaikan kepadanya karunia dan rahmat-Nya.
Sembahlah Allah karena sesungguhnya menyembah Allah itu akan menjauhkan umat manusia
dari kemungkinan menyekutukan-Nya, dan daripadanya itulah Allah menuangkan pahala-pahala
dan janji-janji akan rahmat-Nya.
Armansyah.,