| Mengenal Jemaah Salamullah |
Suatu hari kami diajak melihat langit di Kemayoran. Lapangan luas di Kemayoran memungkinkan kami melihat langit seluas-luasnya. Di sana kami melihat hanya ada satu bintang. Disebutkannya sebagai bintang Syira. Bintang Syira itu besar dan kilauannya cemerlang. Bintang itu bergerak naik turun bahkan meliuk seakan-akan menari. Kami tertawa-tawa dan berbahagia memandangi bintang yang sedang menari itu. Jibril Alaihissalam mengomentari bahwa keadaan itu bertolak belakang dengan kesan dan tanggapan kami. Katanya, sebenarnya kami tentu akan bersedih apabila mengetahui keadaan yang sebenarnya. Malam itu tak dijelaskan mengapa kami harus bersedih.
Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Dikatakan Malaikat Jibril bahwa dialah penjaga bintang Syira. Sedangkan katanya, bintang yang sedang kita saksikan itu adalah bintang Syira. Ketika bintang Syira itu naik turun dan meliuk seperti menari, kami bergembira melihatnya, sebab menurutnya dia sedang berada di sana, sedang menyapa kami. Kami melambai-lambai dan ingin menggapainya. Sambil bersalawat kami berbahagia melihatnya.
Saat itu dia terharu melihat keluguan kami. Kami dikatakannya, kalau sesunguhnya mengetahui hal yang sebenarnya, kita tentu tak lagi berbahagia seperti halnya malam itu. Hari inilah penjelasannya. Bintang yang indah karena besar dan mencorong kilauannya itu dikatakannya adalah planet Merkurius yang sedang terdesak menguasai dirinya, mencoba menemukan lahan kitarannya. Sebenarnyalah malam itu kami sedang menyaksikan planet Merkurius yang sedang malang nasibnya.
Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Abdul Rachman, Feri A. Latief, Siti Zainab Luxfiati, Sri Murdiningsih Irawan, Titing Sulistami, Meike Roosame, Ani Sutiyawati, Dandy Satria Iswara.
8. Kesaksian di Sentul, Selasa, 11 Nopember 1997, Pk. 14.30
Sebenarnya banyak pengalaman kami yang hampir terlupa untuk dituliskan. Pengalaman di Sentul ini nyaris kami lupakan, hampir tak tertulis dalam buku ini. Hari itu kami sedang merasa tertekan karena penjelasan kami tak dihiraukan. Kami ini sedang menapak dan berusaha menyusuri kebenaran sedangkan penjelasan-penjelasan kami tak ingin dihiraukan. Beberapa pembawa amanah Rasulullah telah bersedia mempertanyakan kedatangan Jibril pada kami. Sayangnya pada kesempatan itu tak memungkinkan kami menguraikan lebih jelas. Alangkah kami mendambakan pengayoman dan bimbingan mereka.
Penerimaan yang kami terima itu mungkin sebuah ujian Allah kepada kami. Berapakah kemampuanku membela diri, tak ada ilmu pada diriku. Tak ada bukti yang dapat kuajukan. Penjelasan yang dapat kuberikan pun bagaikan penjelasan orang yang sedang bermimpi. Ketakutan telah membuatku tak berdaya sehingga suara kalbuku sulit kudengarkan. Namun pentingkah memberikan penjelasan bilamana penjelasan itu selalu dianggap tak benar?
Malaikat Jibril membiarkan aku membela diriku sendiri. Namun ketika kami pulang, ia ingin menyelesaikan kepedihan kami itu dengan mengajak kami ke luar kota. Kemudian kami memilih ke Sentul. Di sana aku dan rombongan Salamullah, duduk di bangku Stadion. Tiba-tiba angin berhembus membawa bau yang sangat harum dan menyegarkan.
Awan mendung yang sangat tebal mengelilingi tempat itu. Dan tak lama kemudian dari seluruh penjuru tercurah hujan yang sangat deras, kecuali di tempat kami duduk dan di depan kami tak terkena hujan. Kami melihat jalan beraspal, racing track, di hadapan kami kering. Tetapi racing track sebelum dan sesudah tempat duduk kami basah oleh hujan yang sangat deras. Kejadian ini sangat membuat kami tertegun, melihat sebuah keajaiban. Kami pun lupa pada kesedihan kami di hari itu.
Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Dari manakah keajaiban semacam itu? Kekuatan apakah yang dapat membuat kejaiaban seperti itu? Allah telah berjanji selalu akan memperlihatkan dukungannya pada Takdir ini. Itulah dukungan Allah pada kami.
Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Abdul Rachman, Titing Sulistami, Hendrawati Umar, Umar Iskandar, Feri. A. Latief, Meike Roosame, Hutama Agustaman, Prama Hanindia, Siti Zainab Luxfiati, Sri Kurniati, Rahima Lukman, Sarnen, Martini, Sri Murdiningsih Irawan, Suparno, Tri Sudiati.
9. Kesaksian Dibukakannya Mutasyabihat Kaaf Haa Yaa Ain Shaad, Jalan Mahoni, 25 Mei 1998, Pk. 12.25.
Telah disebutkan Malaikat Jibril bukanlah bapak Nabi Isa. Suatu malam dinyatakan kepadaku bahwa sesungguhnya di dalam tubuhku ini ada tiga ruh, yaitu ruh Jibril Alaihissalam, ruh Siti Maryam, dan ruhku sendiri. Dikatakannya ketiga ruh itulah penyambung Takdir Nabi Isa yang dulu dan yang sekarang. Hari itu seluruh badanku sakit. Sepertinya seluruh saraf dan kulitku meregang. Kemudian aku kembali merasa akan terjadi hubungan gaib lagi pada diriku, dan selanjutnya aku diberitahukan bahwa sudah saatnya dinyatakan bahwa dalam Takdir ini Siti Maryam pun kembali menjalankan tugasnya.
Kemudian aku dan teman-teman diminta untuk mengucapkan "Kaaf Haa Yaa Ain Shaad". Badanku masih lemah ketika itu, dan setelah berkali-kali membaca Kaaf Haa Yaa Ain Shaad aku merasa telah kuat kembali. Sementara teman-temanku tiba-tiba terkejut, bahkan banyak di antaranya menangis. Wajah Siti Maryam terbayang pada diriku. Lebih muda, tinggi, dan semampai, berwajah tirus, kulitnya putih, cantik, dan sekali-kali menampakkan sinar di sekitar kepala dan di tangan. Dan aku berbicara dan mengungkapkan bahwa yang sedang berbicara itu adalah Siti Maryam.
Kemudian aku pun diberitahu, mutasyabihat Kaaf Haa Yaa Ain Shaad artinya adalah: Kaaf adalah air mata, Haa adalah ruh, Yaa adalah nyata, Ain adalah sumber, Shaad adalah kabar. Disebutkan itulah tugas Siti Maryam. Makna keseluruhannya adalah banyak air mata pada waktu ruhnya kembali bangkit dan nyata. Dan ia menjadi sumber yang menyampaikan berita. Penjelasan itu dinyatakan bahwa hari itu Allah membuka mutasyabihat Kaaf Haa Yaa Ain Shaad. Bila Maryam sedang bertugas, kami diminta untuk membaca Kaaf Haa Yaa Ain Shaad. Pada saat-saat tertentu, bila diizinkan Allah, dengan membaca Kaaf Haa Yaa Ain Shaad wajah Siti Maryam akan terbayang pada diriku.
Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Air mata, ruh, nyata, sumber, dan kabar. Itulah makna Kaaf Haa Yaa Ain Shaad. Dari kalimat ini terkandung mukjizat untuk Siti Maryam. Dengan membacakan Kaaf Haa Yaa Ain Shaad, Allah memberikan kemukjizatan-Nya untuk menampilkan sosok Siti Maryam pada diriku. Penampilan Siti Maryam ini hanya dimungkinkan untuk trik kamera dalam film, bukan dalam suatu kenyataan.
Mimpikah aku? Di depanku banyak teman-teman jamaah Salamullah menyertai peristiwa itu. Di dalam Takdir ini, sungguh aku merasakan banyak sekali keanehan dan keajaiban. Aku tak merasa ada perubahan dalam diriku, tetapi orang yang menyaksikan diriku melihat sesuatu yang tak dimungkinkan, sekiranya Allah tak mengizinkannya. Bayangkan, di balik diriku ini bisa terbayang sosok yang lain yang sama sekali berbeda dengan diriku. Jibril dan Siti Maryam sosoknya dapat membayang pada diriku. Dan semua ini adalah kenyataan. Menurut Malaikat Jibril, penampakan Jibril dan Siti Maryam ini sebagai bukti Allah berkenan memberikanku tiga ruh.
Maka itulah sebabnya setiap pengejawantahan Jibril atau Siti Maryam tak terjadi penyempitan kesadaran pada diriku. Sejenak aku hanya merasa melayang dan aku kembali seperti tak terjadi apa-apa pada diriku. Padahal saat itu yang tampil bukanlah diriku. Aku sepenuhnya merasa sadar. Sesungguhnya peristiwa semacam ini tak dimungkinkan oleh seseorang yang sedang mengalami trance itu menyadari kejadiannya. Karena sesungguhnya ruh yang menggantikannya itu menguasai dirinya. Siapakah yang memungkinkan hal ini terjadi? Aku dapat berganti menjadi tiga sosok, Jibril, Siti Maryam, dan diriku sendiri. Mengapa kesadaranku tetap ada. Hal itu dimungkinkan karena aku memiliki tiga ruh.
Jibril menamakan ini sesungguhnya Allah menciptakan trinitas ruh pada diriku. Secara berkala, trinitas ruhku ini semakin ditambahkan dan semakin diperjelas. Saat ini kedua ruhku yang lain masing-masing menempati sepertiga dari diriku. Pantas saja ketika aku tertidur nyenyak seringkali ada orang yang menyatakan pernah kutemui di rumah mereka masing-masing. Ungkapan semacam ini telah berkali-kali kudengar dari orang-orang yang berbeda bahkan di antaranya tak kukenal. Bagaimana hal itu bisa terjadi tak kupahami. Adakah salah satu di antara ruhku ini yang datang kepadanya? Tetapi demi Allah, pernyataan mereka ini telah berkali-kali kuterima. Aku sendiri tak pernah bisa membayangkan, karena dari pernyataan yang mereka kemukakan, mereka sempat berbicara denganku, bahkan mengobati mereka.
Adakah pernyataanku ini akan dipertentangkan? Diberitahukan kepadaku bahwa betapapun pertentangan itu, Allah akan mempersaksikan keadaanku ini secara nyata. Jamaah Salamullah telah terbiasa melihat penampilan kedua ruhku yang lain ini. Keduanya menampakkan diri dan bisa berdialog dan aku ikut menjadi pendengar kala mereka berbicara. Tempatku memang di dua dunia yang tak mungkin dapat dipertimbangkan dengan logika. Anda bertanya kepadaku dan yang menjawab bisa Lia, bisa Siti Maryam, dan bisa Jibril. Itulah kenyataan diriku.
Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Abdul Rachman, R.A. Suad Arifin Alabbassy, Ratnawati Haris, Landung Wahana, Marike Sukayanti, Siti Zainab Luxfiati.
Saksi Peristiwa beberapa kali Penampakan Jibril Alaihissalam dan Siti Maryam:
Seluruh jamaah Salamullah, antara lain Syaefudin Simon, Yuli Aryanti, Danarto, Sumardiono, Agus Rachmat, Agus Widiyanto, Alvita Adiana, Eddy W. Utoyo, Atty Utoyo, Bambang Priyatna, Tri Sudiati, Mia Laksmi Handayani, Poppy Purnama Mamora, Carl Mamora, Dony Prattiwa, Henilda Loza, Irsa Bastian, Iwan Satyoprodjo, Lilik Haryani, Marike Sukayanti, Martini (B), Muhammad Iqbal, Triana Putri Asih, Meike Roosame, Nona Iriana, Sutimah, Nur Rahayu Harahap, Sylvia Suryawati, Zoelkarnaen Yusuf, R. A. Zaitun, R. M. Fariz, R.A. Suad Arifin Alabbassy, Sri Kusmiati, Wowiek Prasantyo, Rinta Prasantyo, dan lain lain.
10. Kesaksian Dibukakannya Mutasyabihat Haa Miim, Semarang, 30 Mei 1998
Dalam perjalanan Takdir ini bersamanya, seringkali kami diminta melakukan tugas-tugas maupun melaksanakan penyempurnaan materi pendalaman spiritual yang diajarkan olehnya. Di antaranya adalah upaya-upaya spiritual untuk membantu bangsa kita melampaui masa-masa sulitnya. Penempatan kami di masyarakat dikatakannya sebagai komunitas percontohan yang diinginkannya. Diberlakukannya kepada kami seluruh ajaran Islam secara konsekuen. Tak dibiarkannya kami menjamah seluruh larangan Allah.
Kenikmatan mengikuti ajaran-ajarannya menjadikan kami selalu bersemangat. Demikian pula ketika kami dilibatkan pada persoalan-persoalan bangsa. Dia mengusulkan kami menyantuni bangsa kita ini dengan doa. Katanya, doa yang dapat diperhitungkan adalah doa yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dan yang disertai pensucian diri. Maka kami pun dianjurkan berdoa sambil berpuasa selama 7 minggu, sejak 10 April sampai 30 Mei l998. Setiap akhir minggu kami dianjurkan terjun ke masyarakat melalui kegiatan sosial, di antaranya kami disuruhnya menerbitkan buku "Pancasila Meniti Zaman", yang dituntunkan olehnya dan membuat acara "Tinggalkan Pertentangan, Mari Bersatu", pada 20 Mei 1998.
Acara tersebut dilakukan di Jakarta Design Center. Menjelang acara tersebut, pada 19 Mei malam harinya, kami dikumpulkan untuk berdoa agar Allah tetap mempersatukan bangsa Indonesia dan melindungi kita dari perpecahan. Tak satu pun di antara kami yang pernah memperhitungkan bahwa pada tanggal yang ditetapkan itu akan terjadi peristiwa yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Selanjutnya mengakhiri puasa keprihatinan ini, kami dianjurkan ke Jawa Tengah untuk menyalami saudara-saudara kita yang beragama Nasrani, di Yayasan Soegijapranata di Keuskupan Agung Semarang dan ke Sendang Sono. Kami diminta ke sana agar dapat berdoa bersama-sama dengan saudara-saudara kita umat Nasrani demi mengantisipasi pertentangan masalah SARA.
Menurutnya, adalah lebih berkenan menjaga terjadinya perpecahan, apabila doa itu dipanjatkan oleh kedua belah pihak yang dimungkinkan bertentangan. Selain itu kami pun sempat sejenak bertandang ke Rumah Tahanan di Demak untuk menyalami tahanan dan napi di sana dan berkunjung ke masjid-masjid para wali di Jawa Tengah. Kunjungan itu dijadwalkan sebagai penutupan puasa kami.
Sesungguhnya perjalanan kami itu ternyata adalah perjalanan kepada penentuan sebuah Takdir. Malam terakhir kami di Semarang, kami diminta tidur di halaman penginapan kami. Kami menggelar tikar dan kasur. Ternyata malam itu, tepat di atas kami, berhamburan sungguh sangat banyak bintang-bintang. Beberapa di antaranya beterbangan berpindah tempat.
Dengan membaca surah ArRuum kami melewati malam itu dengan pesona bintang-bintang. Keesokan harinya, setelah salat Subuh, kembali kami menyaksikan sajian langit, bertahap tiga lapis awan di langit, membentuk panorama yang berbeda. Langit yang paling atas merupakan latar belakang berwarna biru dan sedikit awan putih menyertainya. Di lapisan ke dua, bergerombol-gerombol awan bersinar merah keemasan, bergerak agak cepat, dari arah kanan kami menuju ke arah kiri. Sedangkan di lapisan terakhir, yang paling bawah, beberapa berkas garis lurus awan putih menyerupai kipas.
Persilangan gerakan awan merah di tengah melintasi awan-awan bergaris itu menyebabkan kehadiran mereka itu serasa seluruh langit bergerak. Ketahanan kami memandangi peristiwa tersebut menjadikan kami terbuai sepertinya kami sedang berada di awang-awang. Sejenak kami terpana memandangi kejanggalan alam. Pesona metafisis kali ini tak lagi kami berani mengganggapnya sebagai pengalaman pengenalan alam kegaiban. Karena pada saat itu dikatakan kami sedang menerima syafaat mutasyabihat Haa Miim dari surah Az Zukhruf sebagai pertanda penentuan masa kebangkitan Nabi Isa. Selanjutnya kemudian pada 12 Juni 1998- lah dicanangkan ketentuan itu.
Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Benarkah bahwa sebuah ketentuan Allah itu ikut diserukan oleh alam semesta, wahai Allah seru sekalian alam? Kedamaian dan ketentraman umat manusia, alam semesta yang subur dan sejuk, nyaman, adalah surga kehidupan. Bencana, kesengsaraan, dan penderitaan, adalah neraka dunia.
Sungguh banyak orang yang beriman dan menyembah Allah, tapi jumlah itu tak sebanding dengan mereka yang ingkar dan musyrik. Ketakwaanlah yang dapat menentramkan kehidupan. Iblis saat ini bermuka dua. Iblis yang berwajah buruk dan iblis yang suka tersenyum. Kehadiran sebuah Takdir hanya dimungkinkan diberikan Allah ketika kehidupan ini kusut dan menegangkan. Kelabilan dalam segala hal telah mengganggu ketentraman kehidupan umat manusia. Malaikat Jibril bersama Nabi Isa, keduanya membawa amanah-amanah Allah. Amanah-amanah Allah itu disertai perangkat dan sarananya. Perangkatnya adalah ayat-ayat Allah, yaitu kalimat-kalimat mutasyabihat.
Pagi itu Allah membuka kemutasyabihatan Haa Miim. Ketika diturunkan, seluruh alam dan para malaikat ikut menyertainya. Dikatakannya langit bergerak membawa Haa Miim.
Haa Miim dibukakan Allah untuk Nabi Isa. Para malaikat diperintahkan Allah untuk memperhatikan siapa-siapa yang membaca Haa Miim. Mengapa dibacakannya, dan dalam keadaan apa dia membacanya? Beberapa nama malaikat disebutkan Allah untuk menjaga kalimat Allah Haa Miim ini. Begitulah cara Allah apabila ingin menurunkan kemukjizatannya.
Makna Haa Miim adalah kesedihan Malaikat. Dijelaskan bahwa ketika Haa Miim diturunkan Allah, para malaikat sedang bersedih karena telah akan datang hari kiamat. Dan itulah saat umat manusia bergelimangan dosa. Haa Miim adalah perisai diri bagi Nabi Isa. Demikianlah makna Haa Miim yang disampaikan. Sesungguhnya kemukjizatan Allah yang diberikan kepada Nabi Isa adalah Haa Miim. Siapa-siapa yang tersentuh keberkahan Haa Miim, merekalah yang merasakan kemukjizatan Haa Miim. Sungguh kejadian itu adalah rahmat, adalah karunia, dan adalah kun fayakun Allah.
Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Ahmad Mukti, Titing Sulistami, Abdul Rachman, Umar Iskandar, Landung Wahana, Tri Sudiati, Mira Julia, Sri Murdiningsih Irawan, Marike Sukayanti, Sylvia Suryawati, Agus Widiyanto, Yanthi Sulistiono, Ratnawati Haris, Ratri Handayani, Nona Iriana, Suparno, Yuli Aryanti, Irsa Bastian, Rinta Prasantyo, Bambang Priyatna, Carl Mamora, Kuriyati, Muhammad Iqbal.
11. Kesaksian Melihat Tulisan-tulisan di Langit
Ketakutan dihujat membuatku selalu mengganggu Jibril Alaihissalam dengan rengekanku. Aku tak pernah berani dan bersedia menyampaikan berita Takdir ini. Kebesaran Takdir ini telah membuatku kehilangan nyali sementara Jibril terus mengarahkanku dan semakin menjerumuskanku ke dalam Takdir ini. Sehingga pada akhirnya dia menjelaskan untuk meyakinkanku bahwa kalau aku tak percaya, suatu kali nanti aku akan menyaksikan tulisan-tulisan di langit, yang menandakan kebenaran Takdir ini.
Ternyata memang benar, berkali-kali aku dan teman-teman sempat menyaksikan tulisan-tulisan di langit, antara lain, tulisan Allah dan Isa, Alif Laam Miim, Salamullah, dan lain-lain. Yang paling sering terlihat oleh kami adalah tulisan Allah.
Minggu, 28 Juni 1998.
Seorang jamaah Salamullah, Titing Sulistami (putri Bung Tomo), telah berkali-kali melihat tulisan di atas langit. Rumahnya di jalan Besuki, Menteng, mempunyai anjungan di atas atap rumahnya. Dia sering sekali salat di anjungan rumahnya tersebut karena dia gemar melihat suasana langit, terlebih-lebih ketika dia telah mengenal Jibril Alaihissalam.
Malam itu dia tertidur di anjungan itu selepas salat Isya dan tahajud. Ketika dia bangun untuk salat Subuh, dia sangat terkejut melihat bahwa di sekeliling anjungan itu, termasuk tanam-tanaman di sekitarnya telah basah oleh air hujan, namun tempat yang ditidurinya beserta sajadahnya kering. Dia baru sadar bahwa semalam itu dia sangat nyenyak tidurnya sehingga tidak merasakan turunnya hujan. Bahkan Allah telah menjaganya sehingga hujan itu tak menimpa dia. Subhanallah.
Kamis, 2 Juli 1998.
Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Ratri Handayani, Wowiek Prasantyo, dan Rinta Prasantyo ke Cisarua mencari rumah untuk tempat kami mengungsi pada saat banjir nanti. Wowiek merasa terpanggil untuk melihat langit, ternyata mereka menyaksikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Pertama, melihat awan yang turun secara bergradasi dan terlihat tulisan Allah.
Sinar mataharinya mengeluarkan bayangan cincin yang berwarna pelangi. Saat itu pukul 12.15 tetapi matahari dan sinarnya dapat terlihat secara langsung. Selanjutnya cincin-cincin itu membentuk seperti cerobong dan terlihat ada bola-bola emas di sekitarnya. bola-bola emas itu turun dan menyebar di angkasa. Kemudian bola-bola emas itu membiaskan cahaya, sehingga setiap yang menyaksikan itu tubuh mereka seperti terlapisi emas. Peristiwa itu dirasakan selama lebih kurang setengah jam.
Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Ketika Jibril Alaihissalam telah menyampaikan berita Takdir ini, dia meyakinkan kepadaku bahwa sesungguhnya berita yang disampaikan ini benar-benar datangnya dari Allah. Akan ada dukungan pernyataan itu melalui tulisan-tulisan di langit. Setiap kali ada tulisan itu, kami dipersiapkan menantinya. Atau seringkali pula tiba-tiba digerakkannya hati kami menengok ke atas langit sehingga terpandang tulisan-tulisan itu. Tulisan-tulisan itu dilukiskan oleh awan.
Telah berkali-kali kami menikmati pemandangan itu. Telah pernah tertulis nama Allah, Isa, Alif Laam Miim, Haa Miim, Salamullah. Seringkali tulisan itu tertera dengan tulisan Arab, tapi adakalanya dengan tulisan latin biasa. Dikatakan olehnya, berapa jauhkah ketinggian ilmu yang dapat menghadirkan tulisan-tulisan di langit?
Janji Allah menyatakan kebenaran Takdir ini telah berkali-kali kami saksikan. Sungguh, karenanya tak ada lagi keraguan menyatakannya. Beberapa kali Jibril Alaihissalam menyampaikan kepada kami bahwa siapa-siapa yang ikhlas menyertai Takdir ini, mereka itu akan menerima pula syafaat dari Allah. Seperti halnya kejadian yang dialami Titing, dia telah merasakan kemakrifatan syafaat Allah. Dalam keadaan tertidur, Allah menjaganya. Sungguh kejadian ini tak diada-adakan oleh siapa pun, bahkan yang mengalaminya sendiri tak yakin pengalamannya itu sebagai suatu kenyataan. Sungguh kejadian kegaiban di Salamullah itu telah sering dialami.
Sesungguhnya banyak di antara jamaah Salamullah, baik mereka sendiri maupun bersama-sama dengan temannya tanpa bersama denganku, mereka pun dapat menyaksikan keajaiban-keajaiban alam seperti yang disaksikan oleh jamaah Salamullah yang pergi ke Cisarua. Dikatakannya bahwa mereka itu telah ikut membawa Takdir.
Pengaruh Takdir ini pun melibatkan mereka. Pengaruh itu telah dirasakan oleh jamaah Salamullah, secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama mereka telah diberikan penyaksian sehingga mereka dapat meyakini kebenaran Takdir ini. Mereka bersama-sama telah diperlihatkan pernyataan Allah yang di dalamnya ada janji Allah bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia ini akan kaya oleh emas.
Merekalah yang diperlihatkan oleh Allah bahwa sesungguhnya kalau Allah menghendakinya, Allah dapat menjadikan emas itu. Allah telah memperlihatkan betapa mereka terbungkus oleh emas. Maka sesungguhnya, apabila Allah menghendaki, Allah pun akan memperlihatkan dan memberikan emas itu kepada bangsa kita. Sungguh bilamana Allah menghendaki, apa pun dapat terjadi, sekali pun menerbitkan matahari dari Barat. Sesungguhnya menghadirkan emas untuk kita sangatlah mudah bagi Allah.
Panggillah nama Allah, takzimlah kepada-Nya, taubatlah kepada Allah, sujudlah kepada-Nya sehingga Allah mau mencurahkan kasih-Nya kepada kita. Blantika Allah, blantika kun fayakun.
Saksi Peristiwa:
Sebagian Besar Jamaah Salamullah.
Khusus peristiwa di Cisarua: Wowiek Prasantyo, Rinta Prasantyo, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Ratri Handayani.
12. Kesaksian di Pantai Labuhan, 13 Juli 1996, Pk. 5.00 - 6.00
Suatu hari aku sekeluarga berlibur di Pantai Labuhan. Dalam perjalanan ke sana, aku diberitahu agar pada Subuh keesokan hari, aku dan keluarga diminta pergi ke pinggir pantai. Permintaan itu kami laksanakan.
Di pantai itu aku disuruh memohon maaf pada suami dan memohon keikhlasan suami dan anak-anak agar mau mengikhlaskan aku untuk tugas-tugas yang akan kuterima. Selanjutnya aku disuruh sujud dan bersumpah kepada Allah untuk bersungguh-sungguh menjalankan amanah-amanah Allah dan hanya takut kepada Allah.
Selanjutnya aku diminta untuk menyalami anak-anakku dan suamiku satu persatu. Dan kepada salah satu anakku, meminta kesediaan dan keikhlasannya untuk juga menjalankan amanah-amanah Allah. Kemudian aku diberitahu, dengan menunjuk ke suatu tempat, bahwa di situ akan terbit cahaya. Pemahamanku ketika itu, kami sedang ditunjukkan titik kemunculan fajar menyingsing. Kemudian kami disuruh mengamati tempat yang ditunjukkan.
Anakku yang sulung mengingatkan, mana mungkin dari sana akan timbul matahari, karena arah yang kutunjukkan adalah sebelah Barat. Ketika matahari dari sebelah Timur mulai mengeluarkan sinar, aku tersentak. Ternyata aku memang salah menunjukkan arah. Tapi ketika aku berbalik melihat arah yang ditunjukkan, ternyata dari sana pun muncul satu pusat sinar. Dari titik pusat sinar itu muncul garis-garis awan hitam yang memusat dari sinar itu dan mengembang menyerupai kipas, menutup seluruh langit di atas kami dan letaknya sangat rendah. Bahkan seolah-olah dapat digapai oleh tangan. Keadaan ini sungguh sangat mengejutkan kami pada saat itu. Tuntunan Jibril Alaihissalam telah melibatkan kami pada peristiwa-peristiwa Al Khalik.
Subhanallah. Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Dari manakah sebenarnya matahari terbit itu? Tentu dari Timur. Adakah dimungkinkan pembiasan sinar dari dua tempat pada saat yang sama? Kalau kukatakan ini tak dimungkinkan tapi mengapa kami sempat menyaksikan hal tersebut? Dua pusat sinar yang berlawanan arah, kumintakan penjelasan Jibril Alaihissalam tentang hal itu. Katanya kualitas Takdir ini sungguh sangat besar.
Takdir ini adalah penyangga ajaran-ajaran Allah di akhir zaman. Ketika Allah menentukan sebuah Takdir-Nya, ketentuan itu telah bersama seluruh ketentuan-ketentuan Takdir Allah yang lainnya. Ketentuan Allah terhadap kiamat, dan ketentuan Allah terhadap segenap alam semestanya. Bayi yang baru lahir, disertai takdirnya. Takdir yang baru turun disertai kelayakan sarananya.
Setelah itu Allah menyatakan janji-Nya. Berapa kedalaman ketentuan Takdir ini ketika menapak? Telah diperlihatkan hal-hal yang dahsyat, karena sesungguhnya Takdir ini terbingkai dengan ayat-ayat Allah. Penyatuan dua agama Allah dan perbaikan kerusakan-kerusakan demi kelangsungan hidup umat manusia yang terkait dengan amanah-amanah yang terkandung dalam Takdir-Nya akan disingkapkan melalui kenyataan peristiwa-peristiwa yang dahsyat.
Allah telah menghadirkan kejanggalan alam. Menurut Jibril Alaihissalam, apa yang telah kami saksikan di pantai Labuhan itu adalah sebuah multi tragedi. Lapisan ozon saat itu sedang menguak. Gelombang sinar matahari menyeruak melalui tempat kebocoran itu. Sehingga kumpulan awan-awan gelap di sekitar itu berserakan.
Gelombang cahaya yang berkekuatan besar itu menekan awan sehingga terasa langit sangat rendah. Semburan cahaya menyebabkan awan-awan gelap itu bersebaran mengikuti arah cahaya. Sehingga penyebaran itu telah membuat garis-garis awan gelap yang berawal dari satu titik, yaitu titik pusat kebocoran dan menyebar. Keadaan itulah yang menjadikan garis awan-awan hitam dan biasan cahaya itu membentuk seperti kipas yang terentang dan langit menjadi sangat rendah.
Percobaan nuklir oleh Perancis di Lautan Pasifik, telah menyebabkan terjadinya getaran yang keras, mengakibatkan bumi bergoncang sehingga terjadi perubahan gerakan rotasi bumi. Bulan menyesuaikan dirinya dengan perubahan rotasi bumi itu. Perubahan rotasi bumi dan bulan itu pun diikuti planet-planet yang lain. Penempatan yang telah berubah itu mengakibatkan perubahan tata letak planet secara keseluruhan sehingga terjadi penyempitan jarak matahari dan bumi.
Dari semua penjelasan itu maka layak disimpulkan bahwa seluruh perubahan itu mau tak mau terkait dengan percobaan nuklir yang dilakukan Perancis di Lautan Pasifik. Dan Allah telah menjadikan kami sebagai saksi atas kebocoran lapisan ozon itu.
Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Aminuddin Day, Ahmad Mukti, Fathun Nur.
13. Kesaksian akan Dibukakannya Mutasyabihat Yaa Siin, Jl. Mahoni 30.
Hari ini, 3 Juli 1998, ketika aku mengalami hubungan transendental, diberitahukan kepadaku bahwa akan segera dibukakan Allah mutasyabihat Yaa Siin. Disebutkan maknanya adalah kabut siang. Keterangan selanjutnya belum diberitahukan dan kapan Yaa Siin itu akan dibukakan Allah. Wallahu alam bissawab.
Penjelasan Jibril Alaihissalam:
Telah tiga mutasyabihaat yang telah diturunkan dan dibukakan maknanya oleh Allah. Ketiganya telah kami rasakan kelapangan jangkauan kemanfaatannya, baik bagi kami, bagi Salamullah maupun kepada umat. Kehadiran kalimat-kalimat mutasyabihat ini selamanya tak pernah kami sadari. Di luar jangkauan pandangan dan harapan kami, tak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran dan keinginan kami, sehingga jangankan berharap, tak terlintas setitik pun di dalam pikiran kami akan terlibat dengan kalimat-kalimat mutasyabihat Allah.
Jibril Alaihissalam menjelaskan bahwa aku telah menerima biasan kalimat mutasyabihat Yaa Siin. Dikatakannya bahwa Yaa Siin akan dibukakan Allah tak lama lagi. Akan tetapi aku telah menerima makna dari Yaa Siin itu yaitu kabut siang. Penjelasan ini telah disampaikan kepadaku pada hari ini supaya aku sebutkan dalam buku ini. Karena sesungguhnya Yaa Siin itu akan dibuka pada saat jejak Takdir ini telah dikenal. Kini aku hanya diminta untuk menggaungkannya.
Tandanya ketika Yaa Siin dibuka Allah, tulisan Yaa Siin akan terlihat di langit bersama kabut pada siang hari. Keadaan itu mudah-mudahan dapat dipersaksikan oleh banyak orang. Dapatkah semua orang menyaksikannya?
Sungguh kejadian itu sangat kuharapkan dapat dilihat oleh sebanyak-banyaknya orang. Adakah keadaan itu dapat diketahui kapan akan terjadinya? Maka disebutkan kepadaku bahwa setelah Takdir ini dikabarkan, ketika bulan melangkah lebih awal, sesungguhnya hanya itulah penjelasannya kepadaku.
Hari ini, 14 Juli 1998, sesaat sebelum mengakhiri penulisan buku ini Jibril Alaihissalam menambahkan penjelasannya tentang peristiwa kabut siang dan latar belakang peristiwa itu. Dikatakannya bahwa Yaa Siin diturunkan menyertai tanda-tanda kiamat. Dikatakannya bahwa akibat berkurangnya daya rotasi poros bumi yang diakibatkan kerusakan di sekitar garis rusuk bumi dan bekurangnya kekuatan penahan pada dua titik kutub (pencairan gletser) mengurangi daya penahan bumi.
Pemberkahan Allah kepada bumi ini telah berkurang. Kedua kutub itu adalah tajuk bumi, Ketika kedua tajuk bumi itu berkurang daya cengkeramannya, kekuatan poros bumi pun akan berkurang. Ketika daya rotasi bumi berkurang, penguapan air yang sangat ditentukan oleh daya rotasi itu menyebabkan uap-uap air bumi itu tak segera menghilang, melambung ke angkasa.
Keadaan itu menyebabkan akan terjadinya kabut pada siang hari, pada saat itulah dikatakannya sebagai tanda diturunkannya mutasyabihat Yaa Siin. Begitulah keterangan Jibril Alaihissalam tentang kemaslahatan umat di antara keberkahan Allah yang telah berkurang dan pertolongan Allah yang dijanjikan-Nya. Bumi tak lagi seperti dulu. Itulah yang ingin dikemukakan Allah melalui malaikat-Nya, Jibril Alaihissalam.
Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Landung Wahana, Abdul Rachman, Kuriyati, Siti Zainab Luxfiati, Muhammad Iqbal, Sri Kurniati, R.A. Suad Arifin Alabbassy, Marike Sukayanti.
Itulah sejumlah penyaksian kami sampai dengan penulisan buku ini. Dari 28 Juni 1998 sampai hari ini 3 Juli 1998 di Sunter rumahku, Jibril Alaihissalam baru menjelaskan secara rinci seluruh latar belakang kesaksian-kesaksian kami diatas. Semoga penyaksian-penyaksian kami dalam buku ini dapat dijadikan perangkat pemahaman awal kepada tulisan kami berikutnya yaitu Hikmah Mutasyabihat Surah Ar-Ruum. Semoga Allah melapangkan hati para pembaca untuk menerima penjelasan kami ini.
Jakarta, 3 Juli 1998
Armansyah.,