Mengenal Jemaah Salamullah

Sebuah Takdir Menjelang Kiamat
Oleh : Lia Aminuddin
Fenomena Alam Semesta

Kesaksian-kesaksian perubahan alam semesta
Pertanda menjelang kiamat

Selanjutnya aku ingin mengisahkan perjalanan-perjalanan kami di sekitar peristiwa-peristiwa yang dikatakan sebagai awal perubahan kehidupan dan pertanda kiamat. Di dalam penjelasannya tentang hikmah yang terkandung pada mutasyabihat surah Ar Ruum, dikatakannya akan berjenjang peristiwa-peristiwa visualisasi pembuktian hikmah mutasyabihat surah Ar Ruum tersebut.

Terkadang Malaikat Jibril Alaihissalam tak membahaskan tentang apa-apa yang sedang terjadi sehingga kami seringkali memahami keadaan itu seadanya saja. Seperti halnya peristiwa-peristiwa kesaksian kami berikut ini. Tak dijelaskan apa-apa kepada kami, selain diperintahkannya untuk mengamati peristiwa itu dan kemudian mencatatnya. Penjelasan latar belakang peristiwa- peristiwa itu baru diberitahukannya kepadaku ketika saya mulai menulis buku ini, yaitu pada 28 Juni 1998. Maka inilah catatan kami:

1. Kesaksian di Desa Persawahan, Linggarjati, Gunung Ciremai, Kuningan, 13 September 1997, Pk. 14.30 WIB

Setiap ada kemalangan, kami selalu diajak ke tempat tersebut dan berdoa. Tepat di atas bekas kebakaran hutan, sejenak setelah kami berdoa, dihantarkannya kami melihat keadaan langit. Pada saat itu, di antara pukul 14.00-15.00 WIB, terpandang oleh kami matahari dan bulan berada pada saat yang sama. Sesuai anjurannya kami hanya mengamatinya dan mencatatnya.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Di Gunung Ciremai, siang itu sekitar pukul 14.00 dan 15.00, Allah telah mengizinkan kami menyaksikan bulan dan matahari muncul bersama-sama. Dikatakan bahwa hal itu merupakan penyaksian kami pada peristiwa awal perubahan waktu. Hari itu adalah saat penyempitan terendah nominal waktu.

Malaikat Jibril menerangkan bahwa oleh kekuasaan Allah, garis peredaran bulan mengelilingi matahari dan bumi telah mendekatkan jarak dan waktu. Karena pendekatan jarak itu dimungkinkan oleh perubahan penempatan planet Merkurius. Kemunculan bulan di siang hari menandakan perjalanan rotasi planet bumi tak lagi di tempatnya semula, melainkan condong ke arah kiri, mendekati planet Venus dan menjadi dekat dengan matahari.

Telah terjadi perubahan tata letak gugus galaksi bima sakti. Planet Venus beredar menempati hak edar planet Merkurius. Dengan demikian telah terjadi pergantian hak edar keseluruhan planet, menjadikan sistem penentu jarak waktu ikut berubah.

Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Siti Zainab Luxfiati, Titing Sulistami, Hendrawati Umar, Rahima Lukman, Sri Kurniati, Fathun Nur, Suparno, Umar Iskandar, Abdul Rachman, Kuriyati, Sri Murdiningsih Irawan.

2. Kesaksian di Wisma Nasio Cipanas, Puncak, 17 September 1997, Pk. 24.00 WIB

Berikutnya kami disuruh menyaksikan gerhana bulan total di kawasan Puncak. Pada malam itu kami dipersiapkan di suatu tempat. Kami diminta mempersiapkan diri untuk berdoa di tempat itu pada jam 01.00 dini hari. Dianjurkannya kepada kami untuk berdoa agar Allah menempatkan planet bumi ini dalam garis persilangan seimbang dari pada perubahan yang akan terjadi pada alam semesta pada saat nanti.

Tepat jam 01.00 kami melihat bulan di atas kami sedang bersinar penuh. Dan anehnya di dalam pandangan kami dari bulan itu menjulur ke bawah, menuju tepat di atas kami sebuah cerobong sinar. Cerobong sinar itu seakan melindungi dan melapisi sinar bulan itu sehingga awan hitam tebal yang silih berganti bergerak melintasi bulan namun tak berhasil menutupinya. Awan-awan itu tetap melintas, tetapi bulan dan cerobong sinarnya tetap bersinar terang. Sama sekali tak terpengaruh oleh lintasan-lintasan awan hitam itu. Kami menikmati pemandangan ini cukup lama, dari jam 01.00 sampai jam 04.00.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Pada malam itu kami telah menyaksikan peristiwa gerhana bulan total sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa yang kami saksikan adalah bulan yang bersinar terang yang disertai bingkai cerobong sinar yang menjulur ke bawah, tepat ke atas kami. Bulan yang bersinar beserta cerobongnya itu tak terhalang walaupun awan hitam berkali-kali melintasinya.

Seandainya saja kami sempat merekam kejadian itu, tentu akan menjadi dokumentasi yang sangat berharga. Akan tetapi selalu saja pada setiap kejadian, kami selalu tak bersama kamera. Entahlah mengapa kami selalu saja tak pernah terpikirkan mengadakan kamera. Beruntunglah pada setiap keadaan itu selalu banyak di antara kami yang ikut menyaksikannya.

Jibril Alaihissalam menjelaskan bahwa pemandangan gerhana bulan total yang aneh itu dikatakannya, itulah sesungguhnya cahaya di atas cahaya yang dilukiskan dalam surah An-Nur, ayat 35,

Yang artinya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu dalam kaca. (Dan) kaca itu laksana bintang (yang berkilauan) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak (juga) di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir menerangi, sekalipun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya, kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Ini sebagai pembuktian karunia rahmat Allah kepada bangsa Indonesia yang sedang menerima karunia-Nya, menjadi penerima janji Allah Subhanahu wa Taala, yaitu tempat dibangkitkannya Nabi Isa. Sedangkan penjelasan sunnatullahnya adalah sebagai berikut: Karena telah terjadi perubahan penataan pada sistem galaksi, perubahan itu mengakibatkan bulan yang sedang mengelilingi bumi sebagaimana bumi juga yang sedang menyusuri keadaannya, menyesuaikan dirinya terhadap perubahan itu. Bulan menyertai bumi, mengitarkan dirinya, sampai dipertemukan pada penempatan yang diperuntukkan baginya. Sesuai dengan permohonan doa kami agar Allah menempatkan planet bumi tetap pada persilangan yang seimbang.

Maka sesungguhnya telah diperlihatkan Allah pada kami bahwa pada kitaran galaksi itu telah terjadi penetapan persilangan yang tak seberapa mengalami perubahan. Sistem yang seharusnya berlaku adalah bahwa kami seharusnya menyaksikan gerhana bulan total, penghalangan sinar matahari menuju ke bulan oleh planet bumi. Maka keadaan itu seharusnya bulan akan tertutup sehingga kita tak dimungkinkan melihat bulan bersinar pada saat gerhana itu. Sedangkan justru yang terlihat adalah bulan yang bersinar penuh bahkan disertai cerobong sinardan tak terhalang sekalipun oleh awan-awan hitam yang selalu melintasinya.

Menyaksikan keadaan itu dikatakan bahwa Allah telah memperlihatkan kepada kami betapa planet bumi tetap berada di kawasan kepatutan sistem. Sinar matahari tetap dapat menembuskan sinarnya pada saat terjadinya perpindahan persilangan tersebut. Karena pantulan kembali sinar matahari dari bulan telah membias melalui sudut tembus persilangan yang terjadi pada saat itu yaitu lebih kurang (0.167+9.6) derajat. Kami malam itu sedang menyaksikan pertemuan gelombang sinar matahari dan pantulan balik sinar matahari dari bulan tepat di atas kami. Lintasan penyatuan gelombang sinar langsung dari matahari dengan sinar pantul dari bulan itu tertarik oleh daya gravitasi bumi sehingga gelombang yang saling meluruh dan ikatan serat cahaya gabungan itu menyesuaikan biasannya mengikuti tarikan gravitasi bumi. Keadaan itu terlihat sebagai cerobong sinar.

Dalam surah An Nuur:35 disebutkan cahaya yang di atas cahaya itu memancar tidak dari Barat tidak pula dari Timur. Makna ini dijelaskan bahwa keadaan yang kami saksikan itu terjadi karena akibat pergeseran planet sehingga peredaran orbit planet menyimpang dari kepatutan sistem. Penyinaran itu dimungkinkan terjadi secara tiba-tiba sehingga menyalahi regulasi dan arah kurun cahaya. Arah kurun cahaya itu terbit dari Timur ke Barat, katakan saja ini adalah kesempatan yang tiada taranya menyaksikan penjabaran dan visualisasi surah An Nuur:35. Subhanallah.

Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Aminuddin Day, Umar Iskandar, Abdul Rachman, Siti Zainab Luxfiati, Titing Sulistami, Hendrawati Umar, Sri Murdiningsih Irawan, Kuriyati, Mira Julia, Rahima Lukman, Sri Kurniati.

3. Kesaksian di Kota Bunga, Puncak, 18 September 1997, Pk. 13.40 WIB

Dalam perjalanan pulang, kami telah mampir dan beranjang sana ke Kota Bunga. Di sana Jibril Alaihissalam menyapa kami dan menyatakan agar berhenti dan memandang ke langit lagi. Pada langit di atas kami terlihat bentangan awan gelap yang membiaskan garis-garis sinar berwarna putih ke bawah. Sedangkan tepat di atas awan gelap itu terdapat bentangan awan putih yang membiaskan garis-garis sinar berwarna hitam ke atas. Dua macam biasan sinar yang berbeda warna dan bertolak belakang arahnya.

Biasan garis sinar di sela-sela awan adalah hal yang biasa. Melainkan biasan garis sinar hitam yang mengarah ke atas rasanya belum pernah terjadi. Setidaknya aku belum pernah melihatnya. Kejadian apakah sebenarnya ini? Tak ada penjelasan darinya. Kami menganggapnya sebagai tambahan hiburan saja. Semuanya bagaikan pesona dunia metafisis.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Bagaimana sebenarnya penjelasan Jibril Alaihissalam tentang biasan cahaya hitam dan putih yang bertolak belakang arah itu? Siang itu Allah telah menghadirkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami. Sebuah pengalaman yang luar biasa. Di antara penjelasannya yang sulit kupahami, kucoba merangkumnya dalam ungkapan seadanya.

Begini, ketika itu di atas kami ada bentangan awan gelap yang sedang berada pada posisi tepat di bawah bentangan awan terang. Bias cahaya matahari dari awan terang itu sedang menembus bingkai awan gelap. Sehingga terciptalah bias garis-garis sinar putih ke bawah. Dan selanjutnya tepat pada saat itu juga kitaran perpindahan antar planet itu memungkinkan planet bumi sangat berdekatan dengan planet lain. Sehingga rangsangan gravitasi planet tersebut telah menarik sejumlah ion-ion dan kandungan H2O pada awan gelap yang berada di bawah awan terang itu sehingga biasannya mencuat ke atas.

Menurut pendapatnya, tak akan dimungkinkan lagi melihat keadaan semacam itu. Perpindahan planet bumi dan bulannya merupakan perpindahan sebuah pasangan. Di antara kitaran-kitaran mereka itu bulan sempat hampir bersentuhan dengan planet bumi. Dan peristiwa di Kota Bunga itu adalah bukti kenyataan keadaan itu. Kali ini beruntung kami sempat memotretnya.

Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Abdul Rachman, Siti Zainab Luxfiati, Sri Murdiningsih Irawan, Mira Julia, Titing Sulistami, Sri Kurniati.

4. Peristiwa-peristiwa dalam perjalanan Umrah, tanggal 12 Oktober 1997

Penjelasan tentang hikmah mutasyabihat surah Ar Ruum diawali pada 12 Juli 1997. Sebagai pendukung penjelasannya kami dianjurkan pergi Umrah. Dikatakannya akan ada peristiwa penting dalam perjalanan Umrah. Itu adalah kesaksian terhadap uraiannya tentang surah Ar Ruum. Bersama rombongan kami menumpang pesawat Uni Emirates Airline, berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pukul 19.30.

Dalam perjalanan setelah melampaui Singapura sampai ke Dubai, sepanjang jalan, selama berjama-jam, lebih kurang 6 - 7 jam, kami telah menyaksikan di antara kegelapan malam itu langit sekejap-sekejap menjadi terang oleh semburan percikan sinar di sepanjang langit yang kami lewati. Sungguh pemandangan itu dapat terlihat oleh siapa saja yang berada dalam pesawat.

Kami berbondong-bondong mengintip lewat jendela pesawat. Selanjutnya ketika kami berada di atas Colombo, kami dikejutkan oleh tayangan dari seluruh pesawat televisi di dalam pesawat, baik televisi besar di tengah kabin pesawat, maupun pesawat-pesawat mini di tempat duduk masing-masing penumpang. Semuanya menayangkan secara langsung keadaan langit di depan pesawat kami.

Di layar teve kami menyaksikan bentangan sinar infra merah yang memenuhi layar teve. Sinar merah itu pada sepertiga bagiannya mulai bercabang, kemudian menyatu kembali sampai ke ujung lainnya. Pada sebelah kanan bagian bawah dari bentangan sinar merah itu terdapat dua bulatan besar seperti bola yang letaknya berdampingan, berwarna biru. Ketika kutanyakan hal itu pada Jibril Alaihissalam, dikatakan bahwa itu pertanda Ya'juj dan Ma'juj. Diperlihatkannya kepadaku, surah Al-Kahfi ayat 94,

"...sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj membuat kerusakan di bumi. Maka kami memberikan kepadamu upah supaya engkau membuatkan batas (dinding) antara kami dengan mereka?"
Pemandangan itu disebutkan sebagai sebuah penetrasi penglihatan timbal balik. Apa yang dimaksudkan sebagai penetrasi penglihatan timbal balik itu tak dijelaskan lebih rinci olehnya. Suguhan pemandangan di langit melalui layar teve itu sungguh merupakan kejanggalan yang pada saat itu masih tetap kami jadikan pesona dunia metafisis.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Mendengar penjelasan Jibril Alaihissalam tentang kilatan sinar sepanjang jalan, dari Singapura sampai Dubai, tentulah kami tak akan termangu-mangsu seperti hari ini, apabila peristiwa itu telah dijelaskan pada kami saat itu. Begini penjelasannya:

Perubahan tata letak galaksi telah mengakibatkan setiap planet berputar-putar mencari penyesuaian. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya gerakan-gerakan yang tak biasa. Seluruh alam semesta itu beregulasi dalam keabadian. Pada peristiwa menjelang kiamat telah terjadi perubahan akibat kecerobohan umat manusia.

Kenaikan Isa Al-Masih merupakan penentuan batasan itu sehingga kelayakan perubahan itu memang telah termasuk dalam ketentuan Takdir Allah. Goncangan-goncangan yang dialami planet-planet itu mengakibatkan kelebihan dan penyimpangan gerakan. Demikianlah sehingga goncangan-goncangan itu membuat pada planet-planet itu terjadi peleburan kasus-kasus, deregulasi keakuratan sistem.

Banyak kejadian yang menyalahi regulasi sistem. Ion-ion bertumpuk-tumpuk seketika sehingga tercipta ruang-ruang lengang ion. Pengosongan dan penumpukan ion menghadirkan suatu keadaan pengecualian. Sesungguhnya penumpukan ion itu mengelebat di antara ruang-ruang kosong tersebut. Ketika terjadi pemuaian panas, kesatuan ion-ion itu terdorong oleh panas yang mengisi ruang lengang itu. Sehingga kesatuan ion-ion atom itu melesat dan terlempar ke luar dan terikut dalam getaran kitaran rotasi planet-planet. Sehingga eksitasi gabungan ion-ion atom itu saling berbenturan di padang luas alam semesta. Menurut penjelasannya, perbenturan itulah yang telah menimbulkan semburan percikan cahaya yang kami saksikan pada waktu itu.

Penjelasan Jibril Alaihissalam tentang bentangan sinar infra merah dan dua benda bulat berwarna biru:

Katanya, sebenarnya pandangan kami itu adalah proses kemayaan verbal. Sesungguhnya kejadian sebenarnya di luar jangkauan visual. Frekuensi gelombang elektro magnetis pemandangan itu terekam oleh receiver decoder dalam pesawat kami sehingga dapat terpancar oleh CCTV (close circuit television). Tayangan bentangan sinar infra merah dan dua bola biru yang berdampingan itu adalah dikatakan sebagai penetrasi penglihatan timbal balik. Penyekat penglihatan itu telah dibebaskan oleh penyeimbang indra penglihatan yaitu pelarutan frekuensi gelombang elektro magnetis yang berada di area jangkauan perekaman decoder pesawat.

Di tempat itu sesungguhnya secara kebetulan sedang terjadi pertemuan bulan dan matahari. Sedangkan kejadian itu tak dimungkinkan terlihat secara kasat mata. Akan tetapi gelombang frekuensi pemandangan peristiwa itu tersambungkan oleh sistem penerimaan gelombang ekektro magnetis di dalam pesawat kami. Maka kami itu telah tersempatkan melihat pertemuan dan wujud sebenarnya dari matahari dan bulan.

Pengalaman kami ini semakin bermakna ketika Jibril Alaihissalam mengemukakan penjelasannya. Sebenarnyalah kami itu telah disempatkan memperoleh izin Allah melihat penayangan sebuah momentum yang tiada tara pentingnya. Sesuai dengan kehendak Allah, momen itu telah dipersaksikan kepada sekelompok umat manusia yang saat itu sedang menumpang pesawat Uni Emirates Airlines yang sedang melintas di sekitar tempat itu. Jibril berusaha menyederhanakan penjelasannya kepadaku dengan mengumpamakan peristiwa itu adalah sebagai penguasaan materi terhadap pengenalanku pada ketentuan Takdir ini. Dikatakannya setiap Takdir itu memiliki ketentuannya masing-masing.
Dimintanya aku membaca surah Al-Qiyaamah ayat 8 dan 9,

"Dan bulan hilang cahayanya" (ayat 8). "dan matahari dan bulan dikumpulkan." (ayat 9)
Ternyata di sana tertulis tanda-tanda kiamat itu adalah ketika terlihat bulan yang tak bersinar dan pertemuan bulan dan matahari. Kedua hal itulah yang ternyata telah kami saksikan. Melalui kun fayakun Allah dan kecanggihan teknologi, kami telah dapat menjangkau peristiwa yang tak dimungkinkan disaksikan oleh siapa pun kecuali yang disempatkan oleh Allah. La haula wala quwwata illa billah.

Saksi Peristiwa:

Lia Aminuddin, Ahmad Mukti, Zainab Gaffar, Yahya Hanafiah, Fathun Nur, Syahrir Djamaluddin, Chamma Syahrir, Nurhadi, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Abdul Rachman, Siti Zainab Luxfiati, Titing Sulistami, Sulistina Sutomo, Sri Sulistami, Yanthi Sulistiono, Sri Murdiningsih Irawan.

5. Pembukaan Mutasyabihat Alif Laam Miim di Masjidil Haram, Selasa, 14 Oktober 1997 Pukul 04.00

Di Masjidil Haram, selepas salat tahajud, usai tawaf dan sai, di depan Kabah, Alhamdulillah aku berhasil menunaikan salat persis tak jauh di depan pintu Multazam. Seusai salat, tiba-tiba mata batinku ingin memandang ke atas dan tiba-tiba terlihat seorang laki-laki seakan turun melayang dari langit membawa sesuatu di tangannya. Dia menyapaku dan menyatakan bahwa hari itu akan dibaiatkan. Aku belum paham, apa dan siapa yang mau dibaiatkan.

Dan setelah itu aku diberitahu untuk melihat ke atas anjungan Kabah. Setelah aku lama mengamatinya, baru kemudian terlihat oleh mata batinku lagi. Kulihat, dari keempat sudut Kabah keluar sinar biru dan bertemu pada titik pusat, di mana pada titik pusat itu terlihat tulisan Alif Laam Miim. Dan di tengah anjungan Kabah terlihat olehku sorotan sinar lurus ke atas, menyinari Alif Laam Miim dan tembus lurus sampai ke langit.

Setelah itu, kemudian kami salat Subuh. Selesai salat Subuh, ketika kami beranjak pulang, kami tiba-tiba tertarik ingin melihat ke langit dan terlihat oleh kami awan yang bersinar keemasan dan sinarnya berkilauan. Entah mengapa mata kami tak ingin lepas dari awan itu dan tak lama kemudian awan itu membentuk tulisan 'Allah' sangat jelas. Tulisan 'Allah' itu, berempat kami menyaksikannya, aku bersama Bapak dan Ibu Umar Iskandar dan Bapak Ir. Nurhadi.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Kapankah umat Islam dapat meyakini sebuah penjelasan yang disampaikan dari sebuah peristiwa kegaiban? Umat Islam akan mempercayai pandangan dan sebuah penjelasan semacam itu bila dialami di tempat yang sangat disucikan. Kabah di Masjidil Haram adalah ketentuan Allah bahwa di sanalah kiblatnya umat Islam. Ketika salat, seluruh umat Islam mengarahkan sujudnya ke Kabah.

Dari sujud umat Islam di seluruh dunia yang diarahkan ke Kabah, mungkinkah Allah tak menjaga kesucian Kabah itu? Bayangan iblis pun tak ada yang berani sampai ke sana. Masjidil Haram dijaga para malaikat sampai pada setiap sudutnya. Siapakah yang terlihat olehku turun dari langit itu? Sampai hari ini kusangka itu adalah Jibril Alaihissalam. Tetapi ketika aku mempertanyakan hal itu kepadanya barulah aku mengetahui bahwa ternyata itu adalah Nabi Isa Alaihissalam. Kedatangannya adalah untuk menyampaikan dan menempatkan Alif Laam Miim.

Dinyatakan bahwa makna Alif Laam Miim itu adalah keselamatan yang diturunkan Allah, Salamullah. Alif Laam Miim. Alif adalah Allah, Laam adalah Jibril, Miim adalah Muhammad. Isa yang menerimakan Alif Laam Miim kepadaku pada saat aku disertai oleh Jibril. Umat Nasrani meyakini trinitas yaitu Allah, Ruhul Kudus, dan Nabi Isa yang ketiganya adalah Tuhan dalam satu kesatuan. Allah menyimpan nama Ruh Kudus dan Muhammad di dalam Alif Laam Miim. Inilah tanggapan Allah terhadap trinitas itu.

Dinamakan-Nya Alif Laam Miim untuk mengimbangi kesalahpahaman umat Nasrani yang telah terlanjur menuhankan ketiganya. Kini Allah menaburkan rahmat-Nya melalui kalimat Alif Laam Miim. Sedangkan Allah pun sambil membuktikan bahwa Jibril Alaihissalam adalah Malaikat dan Nabi Isa hanyalah seorang manusia. Keduanya bukanlah Tuhan melainkan makhluk Allah yang ditunjuk menjadi rasul dan utusan-Nya. Keyakinan umat Nasrani terhadap trinitas itu diperbandingkan Allah dengan kejelasan Takdir ini.

Alif Laam Miim yang disampaikan itu merupakan penuntas sarana. Alif Laam Miim ini terbungkus kemukjizatan. Kesulitan-kesulitan yang kami hadapi, insya Allah, dapat kami atasi bersama kalimat Alif Laam Miim. Mengapa Allah membungkus kalimat Alif Laam Miim itu dengan kemukjizatannya yang di dalamnya adalah nama Allah, Jibril, dan Muhammad? Janji-janji Allah dipenuhi ketika umat manusia memanjatkan doa dengan menyertakan Alif Laam Miim-nya. Keberkahan Alif Laam Miim diturunkan Allah pada saat ini, pada saat Allah membangkitkan Nabi Isa.

Umat manusia akan mempersaksikan keberkahan Alif Laam Miim itu sebagai bukti kekuasaan Allah dan pernyataan Allah kepada kebenaran agama Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad. Nabi Isa-lah yang diberikan Allah kemukjizatan Alif Laam Miim itu. Betapa dekatnya Nabi Isa dengan Alif Laam Miim, dengan janji-janji Allah, dengan kun fayakun Allah. Sungguh pernyataanku ini takkan berani kuungkapkan seandainya aku belum merasakan kebenaran kemukjizatan Alif Laam Miim. Aku tak mampu menyatakan ini.

Tak sepantasnya aku menyatakan ini. Namun kesaksianku pada kemukjizatan Alif Laam Miim ini dan penyaksianku pada amanah Allah yang harus kusampaikan terhadap segala keadaan yang meliputi Alif Laam Miim, tanpa kekuasaan Allah aku tak mungkin dapat membuktikan keberkahan itu. Maka dengan bersungguh-sungguh dan penuh kesadaran aku bersumpah kepada Allah bahwa apa pun yang terjadi atas pernyataanku ini akan kuterima dengan ikhlas. Sesungguhnya, adakah sebuah kemukjizatan dapat dinyatakan apabila belum pernah dibuktikan dan sebelum pembuktian itu terjamin?

Pengayoman dan kemukjizatan diberikan Allah melalui Alif Laam Miim yang menyertai Nabi Isa. Maka inilah keadaan yang dimungkinkan sebagai pembuktian bahwa ajaran Islam itu adalah ajaran yang dibenarkan Allah dan yang menjadi tugas Nabi Isa pada akhir zaman untuk disampaikan kepada umatnya. Lillahi Taala, inilah amanah yang kuterima. Aku hanya takut kepada Allah. Berikanlah aku waktu untuk membuktikan kebenaran pernyataanku ini.

Bagaimana aku bisa melihat bayangan Nabi Isa itu? Aku tak dikejutkan. Bahkan ketika saat itu alangkah Maha Kuasanya Allah, tak dibuatnya aku menimbulkan suara sedikit pun. Bahkan aku tak bercerita kepada siapa pun pada waktu itu. Bahkan siapa yang melayang turun itu, Allah seakan-akan membiarkanku tak memikirkan hal itu terlalu serius. Entahlah mengapa, aku tak tanggap sama sekali pada waktu itu.

Ketika Malaikat Jibril Alaihissalam mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi, sungguh baru kusadari bahwa peristiwa itu sangat penting. Dan bahkan aku semakin tertunduk mensyukuri karunia Allah ketika dia menyatakan bahwa tulisan 'Allah' di atas langit itu adalah pernyataan Allah bahwa segala yang telah kualami itu memang dibenarkan Allah.

Saksi Peristiwa (melihat tulisan Allah di atas Kabah):
Lia Aminuddin, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Nurhadi.

6. Kesaksian di Masjid Nabawi - Madinah Al Munawarah, Sabtu, 18 Oktober 1997, Pk. 8.30

Hari itu aku dan Titing Sulistami, Hendrawati Umar, dan Siti Zainab Luxfiati menunaikan salat di masjid Nabawi. Setelah salat kami menuju ke Raudhah dan kemudian di depan makam Rasulullah kami berempat berdoa untuk Rasulullah dan membacakan Al Fatihah untuk beliau.

Sesaat setelah kami membaca Al Fatihah, tiba-tiba kami rasakan ada angin dingin berhembus ke arah kami dari arah makam. Setelahnya aku tiba-tiba mengalami suatu in trance. Ketiga temanku itu segera menolong merapatkan diriku ke sisi pagar agar aku tak terjatuh. Sesaat aku tak paham apa yang sedang terjadi pada diriku, tetapi kemudian aku mendengar suara di dalam kalbuku, isyarat dari Rasulullah.

Beliau menyapaku dan menyatakan akan mengutarakan kesaksiannya. Dan aku pun mendengarkan beliau menyatakan bahwa beliau bersaksi bahwa aku menerima ketentuan dari Allah. Dan beliau bersaksi bahwa kepada sayalah penjelasan Takdir Kebangkitan Nabi Isa. Penjelasan itu kuucapkan dan dicatat oleh teman-temanku pada saat itu.

Demikianlah kejadian itu. Tak tertanggungkan akibat dari penjelasanku ini. Aku pribadi sungguh tak berani mengungkapkan ini. Sebenarnya peristiwa ini ingin kutiadakan dalam penjelasan-penjelasan di buku ini mengingat betapa tiada terhingganya hujatan yang akan kuterima karenanya. Namun di sisi lain, di lubuk hatiku, sungguh aku lebih takut meniadakan suatu kenyataan, yaitu sebuah kesaksian yang tiada terhingga pentingnya. Darimanakah keberanianku ini sebenarnya? Kalau bukan dari rasa takutku kepada Allah di atas rasa takutku dari segala hal yang paling menakutkanku.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Keterkejutanku dengan pengalaman tersebut di atas telah membuatku lemas tak berdaya dan pengaruh kejadian itu sangat sulit kuhilangkan sehingga gemuruh perasaanku itu menyulitkanku untuk berkomunikasi dengan kalbuku. Aku tak dapat mengikuti nalar, demikian pula aku sangat sulit mendengarkan isyarat kalbuku. Keadaan ini menyebabkan aku tak dapat mempertanyakan hal tersebut segera kepada Jibril Alaihissalam. Setiap kali mengingat itu, setiap kali keadaan itu kualami. Sehingga belum sempat kuulangi kembali menanyakan hal itu kepadanya hingga buku ini dituliskan. Saat inilah aku mendengar penjelasannya.

Katanya, itulah pelabuhan takdirmu ketika kau mendengarkan kesaksian Rasulullah di depan makamnya sendiri. Nampakkah kamu bahwa adakah dimungkinkan iblis berada di sana dan menyaru sebagai Rasulullah? Kegegabahan apa sehingga mereka mampu mendekati makam Rasulullah dan menyatakan itu, sedangkan peristiwa itu kaualami di dalam masjid-Nya. Masjid Nabawi adalah masjid yang disucikan Allah, yang senantiasa dijaga oleh para malaikat sebagaimana Kabah dan Masjidil Haram. Seyogianyalah Allah tak akan membiarkan iblis mengganggu keabadian ajaran-Nya, yaitu ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

Mengapakah dimungkinkan peristiwa itu terjadi? Padahal selama ini kedaulatan terhadap kesucian dan penjagaannya terhadap keabadian jejak Rasulullah itu telah dijamin Allah. Karena sesungguhnya, segala yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam akan sangat dipentingkan dan dimuliakan oleh umat Islam. Demi kemuliaan itu, agama Islam dapat terjaga. Itulah bagian dari penjagaan Allah terhadap keabadian ajarannya.

Maka sesungguhnya, tak dimungkinkan hal itu terjadi kalau bukan kehendak Allah. Dan kejadian itu terjadi karena memang merupakan pembuktian akan kebenaran Takdir ini. Dapatkah itu dilihat sebagai suatu pengecualian yang hanya dimungkinkan oleh sebuah Takdir yang sangat penting? Kejadian itu betapa pun diupayakan tak akan mungkin terjadi. Maka sesungguhnya, itulah sebuah kesaksian yang sungguh-sungguh berasal dari Rasulullah dan atas perkenan Allah terhadap Takdir ini.

Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Titing Sulistami, Siti Zainab Luxfiati, Hendrawati Umar.

Next : Masih Fenomena Alam Semesta
Sebuah Takdir Menjelang Kiamat 5


This Homepage is Copyright � 1996-1998, Armansyah.,
All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1