Mengenal Jemaah Salamullah

Sebuah Takdir Menjelang Kiamat
Oleh : Lia Aminuddin
Mukjizat

Berbagai Penyaksian dan Penjelasannya

Di dalam pengembaraanku bersamanya ke dalam dunia metafisis, banyak di antaranya telah melibatkan teman-temanku kepada penyaksian-penyaksian peristiwa-peristiwa non-metafisis, sedangkan peristiwa-peristiwa itu sebenarnya adalah peristiwa kegaiban alam semesta sebagaimana halnya pada peristiwa-peristiwa berikut ini:

1. Menemukan Air Salamullah, Jl. Mahoni 30, Jakarta - Pusat

Sesungguhnya keterlibatan Jibril denganku adalah pada 1974. Ketika suatu malam, aku bersama adik ipar, dokter Rosmini, sedang duduk di teras rumahku di Jalan Mahoni no. 30, daerah Senen. Di langit tiba-tiba sebuah benda bulat seperti bola berwarna kuning seperti bulan terbang menuju ke arahku. Semula kukira benda itu adalah meteor. Tak disangka benda bulat bersinar itu ketika melayang di hadapanku, ia berhenti. Dan kami berdua menatap benda itu dengan terpana. Setelah itu tiba-tiba benda itu melesat menuju ke arahku dan persis di atas kepalaku kemudian menghilang.

Selanjutnya ketika Jibril telah mengenalkan dirinya dan membimbingku dalam pengobatan, suatu hari dia mengatakan kepadaku bahwa bangsa Indonesia itu tak lama lagi akan mengalami penderitaan-penderitaan antara lain kebakaran hutan dan krisis ekonomi yang parah. Akibat kebakaran hutan itu, virus-virus di sekitar daerah itu mengalami peningkatan pemutasian habitat.

Bahkan apabila koloni-koloni virus itu terbawa oleh asap menyeberang lautan, di antaranya memungkinkan menyatukan diri dengan koloni-koloni virus di atas permukaan laut. Sedangkan pencemaran di dalam laut oleh limbah-limbah kimia, limbah plastik, radiasi nuklir, dan lain-lainnya telah menyebabkan penambahan pengebalannya lagi.

Penyatuan koloni virus tersebut ketika sampai di kota-kota akan pula berkontaminasi dengan polusi. Akibatnya virus ini akan sangat kebal. Penjelasannya ini membuatku sangat takut, terlebih-lebih ketika dikatakan krisis ekonomi yang berkepanjangan akan menyebabkan bangsaku menderita. Harga obat-obatan sangat tinggi.

Menghadapi kedua ancaman itu, aku menangis dan berdoa kepada Allah agar Allah berkenan memberikanku cara untuk menolong umat. Banyak di antara pasien-pasienku yang tak memiliki cukup uang untuk mengadakan biaya pengobatan. Aku bercita-cita ingin mengurangi beban mereka.

Kemudian jawaban yang kuterima adalah Allah mengabulkan doaku dan Allah memberikan sumber mata air yang berkhasiat dapat menyembuhkan. Berita itu kami terima pada 1 Oktober 1997, pukul 15.00. Ketika kupertanyakan di mana aku bisa menemukan sumber mata air itu, diberitahukannya kepadaku tempat di mana aku dulu pernah menyaksikan bola yang bersinar itu jatuh.

Kami pun menggali tempat itu. Umar Iskandar adalah seorang jamaah Salamullah yang terlibat penuh dalam proses penggalian dari sejak awal. Jibril Alaihissalam menuntunnya menemukan air Salamullah itu dan membuatkan instalasinya, karena sesungguhnya instalasi itu oleh Jibril telah direncanakan kemungkinan perluasannya.

Saat ini sumur itu dapat dipompakan melalui 7 pipa. Ternyata kedalaman mata air itu tak terlalu dalam, 5 sampai 7 meter dari permukaan, air itu telah berhasil dipompakan. Sumur Salamullah telah dapat mengucurkan airnya dan telah layak diminum adalah pada 2 Februari 1998. Pada awal dimulainya penggalian, yaitu pada 15 Januari 1998, kami dianjurkan salat sunah dua rakaat untuk mohon izin menjalankan amanah Allah dan membaca surah Ar Ruum. Penggalian awal kami lakukan beramai-ramai dengan terus menerus membacakan Alif Laam Miim. Demikianlah proses penggalian sehingga ditemukannya air Salamullah.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Keajaiban benda bulat bersinar yang terlihat olehku pada 1974 itu telah menempatkanku di dalam sebuah Takdir. Untuk penjelasan benda tersebut, Jibril Alaihissalam mengemukakan sebagai berikut:

Umat manusia selalu terpulang kepada takdirnya. "Di penghujung awal Takdir itu, akulah yang terlihat melayang turun menemuimu, Lia, " demikian kata Jibril. "Itulah jantung Takdir ini." Menurutnya, pada saat itulah ketentuan Takdir untukku itu ditetapkan Allah.

Bagaimanakah kiranya sehingga Jibril Alaihissalam itu turun dengan cara semacam itu? Seseorang yang sedang menemui sakaratul maut akan menampak malaikat yang akan membawanya. Maka untuk hal Takdir ini, seorang malaikat diperkenankan Allah menyerupai sinar.

Dari ketentuan itu, maka pembuktian kebenaran Takdir ini barulah diperlihatkan ketika aku berdoa, memohon agar Allah memberiku kesempatan menolong bangsaku. Sungguh banyak jaminan Allah yang telah diberikan kepadaku sehingga tak dimungkinkan lagi bagiku untuk bertanya apakah Takdir ini benar-benar dari Allah.

Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Ahmad Mukti, Aminuddin Day, Siti Zainab Luxfiati, Danarto, Titing Sulistami, Wowiek Prasantyo, Rinta Prasantyo, Umar Iskandar, Hendrawati Umar, Feri A. Latief, Ratri Handayani, Sri Murdiningsih Irawan, Mira Julia, Tri Sudiati, Nur Rahayu Harahap, Abdul Rachman, Landung Wahana, Martini, Sarnen, Rahima Lukman, Sri Kurniati, Ratnawati Haris, penggali sumur ( Adung, Kasad, Mulyanto, Adiyanto, Tony).

2. Pencemaran Dajjal, Desa Salatiga, Pontianak-Kalimantan Barat, Sabtu, 1 Maret 1997

Aku telah diajak menelusuri jejak pencemaran dajjal dalam kehidupan umat manusia. Salah satu di antaranya, penguasaan dajjal terhadap iman manusia khususnya pada bangsa Indonesia saat ini.

Gelombang yang pesat terhadap kemarakan praktek perdukunan di Indonesia, dikatakan inilah pencemaran yang dapat membalik nasib bangsa Indonesia. Jenglot dan sejenisnya, pelarungan sesajen ke laut, pemujaan kepada Nyi Roro Kidul dan kepada arwah- arwah yang dikeramatkan, penyajian tumbal-tumbal, pembaiatan manusia oleh para jin, perdagangan jin dan persantetan, susuk dan aji-aji kebal dan pesugihan, serta angkara murka serta kebiadaban yang telah diperlihatkan oleh bangsa kita, penyalahgunaan harkat dan kedudukan, kesewenang-wenangan, kemaksiatan, dan pengaruh alkohol dan pengaruh narkotik, dan lain-lainnya.

Bagiku hal ini sangat menarik untuk dikaji. Khususnya yang berkaitan dengan kriminalitas mistik. Karena dari pengamatan itu, aku dapat melihat pembauran ajaran Allah dengan pengupayaan setan. Dari pengemukaan mereka terhadap ilmu-ilmu mereka, di antaranya menyelubungkan dirinya dengan penggunaan ayat-ayat Allah. Bagaimanakah seandainya manipulasi hakekat ini apabila diterangkan Jibril Alaihissalam, dan bagaimanakah keadaan itu sebenarnya?

Menurutnya, mengemukakan ayat-ayat Allah di dalam penghayatannya ke dalam ilmu-ilmu iblis adalah upaya iblis mengelabui umat manusia. Ayat-ayat Allah tak mengandung berkah apabila digunakan untuk hal-hal demikian. Sebenarnya iblis itu sengaja mengutak-atik akal manusia agar dia dapat memperdayakannya. Sedangkan manusia itu telah dijerumuskan mempergunakan kesucian ayat-ayat Allah untuk perbuatan dosa.

Melalui penjelasan ini aku dibaiatkan olehnya sistem penangkalan dan cara menaklukkan iblis. Melalui kemakrifatan berkah Alif Laam Miim dan surah Ar-Ruum, umat manusia dibekali Allah menjauhkan diri dari penyesatan iblis itu. Selanjutnya aku dilibatkan dengan upaya dajjal mengurung bangsa Indonesia.

Sebenarnya peristiwa kesurupan massal di Aceh, pembunuhan massal suku Madura di Kalimantan Barat oleh suku Dayak, pusat kemusyrikan di Gunung Kawi dan Pantai Selatan, dan maraknya ilmu-ilmu hitam dan perdukunan dan lain-lainnya seperti yang telah tersebut di atas, adalah program dajjal yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia.

Sesungguhnya dajjal itu telah menemukan jejak Takdir Allah ini berada di Indonesia. Sehingga pada saat peristiwa pembunuhan berdarah di pedalaman Kalimantan Barat itu, aku disuruhnya ikut membantu mengatasi masalah tersebut. Peristiwa kanibalisme tersebut telah mencoreng bangsa Indonesia karena peristiwa tersebut sempat diliput oleh stasiun TV luar negeri.

Di desa Salatiga, di sekitar Pontianak, tepat di tempat perisitiwa berdarah yang baru saja terjadi, aku diminta untuk memohon kepada Allah, agar Allah segera mencabuti kekuatan dajjal yang sedang mengurung tempat itu dan menyelamatkan suku Dayak dari cengkeramannya.

Peristiwa yang kualami bersama seorang teman, yaitu Rachman, yang menyertaiku, tak akan pernah dapat kulupakan selama hidup. Sesaat setelah kami berdoa, terpandang oleh kami segaris awan putih melintas dari ujung langit sebelah kanan berjalan menuju ke ujung langit sebelah kiri dan kemudian seberkas sinar putih mengumpulkan awan-awan hitam di atas tempat kami. Hingga langit di atas kami yang tadinya berwarna kegelapan menjadi jernih, bening serta berkilauan.

Selanjutnya di samping munculnya berkas sinar putih itu, tiba-tiba muncul suatu pemandangan yang sangat mengejutkan, bahkan kami terpana melihatnya, yaitu sebuah perwujudan sesuatu yang sosoknya belum pernah kami lihat sebelumnya, di atas langit. Sosok itu bergerigi, berwarna merah lembayung, dipenuhi bulatan-bulatan berwarna pelangi dan berkilauan. Aku berdua dengan Rachman serta penduduk setempat menikmati dua kali pemunculannya. Manakah yang patut kusyukuri? Jawaban Allah di langit itu ataukah kesempatan melihat keajaiban alam yang tiada taranya itu? Subhanallah.

Penjelasan Jibril Alaihissalam:

Penjelasan tentang peristiwa suku Dayak di desa Salatiga, Kalimantan Barat, sebagaimana dengan penjelasan sebelumnya, bahwa bersamaan dengan ketentuan Allah menempatkan Nabi Isa di Indonesia, maka dajjal berusaha menghancurkan iman dan moral bangsa Indonesia. Sebagian besar suku Dayak menganut animisme dan memiliki kepercayaan terhadap kekuatan mistik melalui pengagungan mereka terhadap arwah-arwah leluhur yang dikeramatkan serta ruh-ruh makhluk halus (jin).

Peristiwa persaingan sosial dengan suku Madura menjadikan suku Dayak marah dan terpaksa meluapkan kemarahannya itu dengan menyerbu ke pemukiman suku Madura. Pengaruh mistik yang sebenarnya adalah pengaruh penguasaan dajjal kepada kaum suku Dayak ini, menjadikan mereka membabi buta menghabisi kaum suku Madura.

Kanibalisme ini sebenarnya tak mereka sadari. Karena sesungguhnya kekejian dajjal-lah yang melatar belakangi peristiwa ini. Dikatakan bahwa sesungguhnya pemandangan di langit yang kami saksikan itu adalah pengungkapan maqam pengenalan, menyaksikan jawaban Allah secara langsung. Melalui doa yang dilakukan secara bersungguh-sungguh, perlawatan kami di tengah ketercekaman peristiwa sadistis itu ternyata merupakan perlawatan yang beresiko tinggi sehingga hal itu dikatakan sebagai refleksi, kesungguh-sungguhan kami berdoa dan berjihad.

Sesungguhnya penyaksian terhadap jawaban Allah itu juga menunjukkan kepada kami tentang kebenaran Takdir ini. Ketentuan Takdir perlu kami yakini. Mungkin itulah yang dimaksudkan.

Saksi Peristiwa:
Lia Aminuddin, Abdul Rachman, dan beberapa penduduk desa Salatiga - Pontianak - Kalimantan Barat.

Next : Fenomena Alam Semesta
Sebuah Takdir Menjelang Kiamat 4


This Homepage is Copyright � 1996-1998, Armansyah.,
All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1