Mengenal Jemaah Salamullah

Sebuah Takdir Menjelang Kiamat
Oleh : Lia Aminuddin
Habib Al Huda

Berita-berita Langit

Adakah pada zaman sekarang berita-berita dari langit itu dimungkinkan? Bagaimana membedakan berita langit itu dengan bisikan jin atau iblis? Dari pengalamanku, berita langit itu selalu disertai dengan penyaksian-penyaksian di langit. Dari seluruh penjelasan di dalam buku ini, yang sempat kami cantumkan adalah penyaksian-penyaksian yang berskala penting menurut kami dan sebagai visualisasi fokus berita.

Sedangkan banyak kejadian lain, baik yang kualami sendiri maupun yang bersama-sama jamaah Salamullah (sendiri atau sekelompok), tak kumasukkan dalam penjelasan buku ini. Dari pengalaman-pengalaman tersebut telah banyak penyaksian-penyaksian yang kami alami yang tak dimungkinkan bagi kami untuk tak meyakini lagi kebenaran Takdir ini.

Bagaimanakah sebenarnya perbedaan berita langit dari Allah dengan bisikan jin atau iblis? Berita-berita langit dari Allah, yaitu ketika keadaan alam ikut menjamin berita-berita yang disampaikan. Setelah berita disampaikan, alam juga memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari hal yang biasanya terlihat. Setiap kali kami menerima berita penting, kami dianjurkan melihat langit dan selalu saja di langit terjadi suatu panorama yang luar biasa dan aneh yang belum pernah terlihat sebelumnya. Maka keadaan itu telah menjadi pertimbangan kami bahwa tak seharusnya langit berubah seperti itu kecuali Allah yang menghendakinya demikian. Maka perubahan itu secara langsung kami kaitkan dengan berita yang baru kami terima.

Berapakah kemampuan seorang atau sekelompok jin menyertakan pernyataannya melalui kesaksian di langit? Maka dijelaskan oleh Jibril bahwa itu tak akan dimungkinkan. Perjalanan kehidupan alam semesta ini telah menjadi ketentuan Allah sebagai sebuah keabadian. Alam semesta hanya tunduk dan patuh kepada Allah. Melalui izin-Nya-lah alam semesta dapat berubah.

Makhluk Allah seperti jin atau iblis itu hanya mampu menciptakan fatamorgana kegaiban. Mereka itu sebagai makhluk gaib dapat membuat sebuah benda itu bergerak, berdiri atau melayang, atau tiba-tiba muncul. Dan itu bukanlah sebuah kemukjizatan melainkan penyertaan jin atau iblis bersama benda-benda itu. Dipergunakannya kegaiban mereka itu untuk dapat menciptakan pesona sehingga umat manusia mempercayainya dan mereka pun menyertakan ayat-ayat suci Al-Quran untuk menyesatkan karena ketakziman umat manusia terhadap ayat-ayat suci Al-Quran dapat dijadikan penyesatan olehnya dengan menyajikan hal-hal yang biasa atau hal yang sederhana dalam kehidupan gaib. Karena mereka itu sesungguhnya hanya menyertakan kelayakan sistem alam gaib. Hal itulah sebenarnya yang diperlihatkan kepada umat manusia.

Maka dengan memperdayakan ketakziman umat manusia kepada ayat-ayat Allah, iblis menyesatkan mereka dengan keajaiban-keajaiban alam gaib. Sedangkan keajaiban yang diperlihatkan itu sama sekali bukanlah keajaiban atau dapat dikategorikan sebagai kemukjizatan, sehingga keris dapat melayang dan berpindah tempat sehingga memungkinkan umat manusia itu takjub dan merasa telah mempunyai pelindung dan kesaktian. Dengan cara inilah jin dan iblis mengelabui dan menyesatkan umat manusia. Secara berkala iblis berupaya terus menambah keganjilan-keganjilan gaib itu sehingga manusia yang teperdaya olehnya semakin percaya dan terjerumus dalam kemusyrikan.

Bagaimanakah sebenarnya daya keunggulan malaikat? Malaikat itu tak akan pernah memperlihatkan kemampuannya, melainkan apabila telah diperkenankan Allah. Sampai sebatas apa pun yang dapat dilakukan malaikat, pasti selalu sampai pada batas yang diperintahkan Allah. Malaikat tak pernah bertabiat melebihkan keadaan, selain yang disepakati dan yang ditentukan Allah Subhanahu wa Taala. Seandainya keadaan itu dimungkinkan dan sekalipun keadaan itu dapat memudahkan sebuah kebaikan, seorang malaikat tetap tak akan menerobos ketentuan Allah karena sesungguhnya para malaikat itu sangat taat dan patuh kepada Allah dan ketaatan malaikat kepada Allah itu murni dan mutlak.

Makhluk alam gaib tersebut diterima dan dipahami oleh umat manusia sebagai pemrasarana keajaiban, karena mereka itu tak dapat terlihat oleh indra penglihatan manusia sehingga kejadian gaib selalu dapat menimbulkan pesona fantasi dan juga pentakziman. Perubahan-perubahan yang terjadi karena kegaiban selalu akan dihubungkan dengan penafsiran spiritual. Maka di balik rahasia kegaiban tersebut ada dua kemungkinan, yaitu penyesatan iblis atau kedatangan malaikat.

Bayangkan seandainya ada malaikat menamakan dirinya sebagai Jibril padahal dia bukan Malaikat Jibril. Adakah itu tidak menodai dan melanggar hak dan ketentuan Allah? Malaikat telah ditakdirkan suci dan hanya taat dan patuh kepada Allah. Kalau sekarang ini ada malaikat lain yang telah mengaku sebagai Jibril, maka itu adalah sebuah pelanggaran yang sangat berat dan suatu penyimpangan kepada takdir. Darimana seorang malaikat mampu mempunyai keberanian melakukan pelanggaran semacam itu?

Sungguh itu tak dimungkinkan, di samping itu bolehlah mengkaji berita-berita yang disampaikan. Adakah itu pernyataan-pernyataan yang sesat? Kalau di antara tulisan-tulisan itu ada penyesatan atau penyimpangan yang telah menodai kitab suci-Nya dan yang telah mengurangi makna dan ke-Esaan dan ke-Kuasaan Allah maka mohon dikaji kedalaman kaidah- kaidah penyampaiannya, berapakah dimungkinkan kemampuan seorang manusia mengetengahkan itu yang sedalam mana pun sehingga meliputi keseluruhan fasilitatornya?

Mampukah seorang wanita semacam aku ini menyimpulkan seluruh keadaan itu dengan penyajiannya selayak dengan pengetahuan yang kumiliki? Seandainya aku ini mempunyai ilmu dengan kesadaran apa pun, tak dimungkinkanlah aku ini menyimpan sebuah ilmu yang dapat kuarahkan sedemikian rumit dalam kurun waktu yang tak lama. Buku ini kutulis dari 16 Juni sampai 15 Juli 1998.

Sebagian besar pengetahuan itu belum kumiliki saat mengawali tulisanku untuk buku ini. Dan aku sendiri terdaftar sebagai orang pertama yang baru menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi yang menyangkut nasib umat manusia dengan planet buminya. Manakala telah muncul kesungguhan pada kami barulah Jibril membukakan penjelasannya perihal yang berkaitan pada pokok materi pembahasan yang sedang ingin kami ketahui. Tentu kemungkinan dia jugalah yang mengarahkan kami untuk memikirkan hal tersebut.

Maukah Anda melihat perbedaan pengetahuanku tiga tahun yang lampau dengan pengetahuan yang kusajikan dalam buku ini? Adakah itu dimungkinkan? Bagaimanakah sebenarnya aku mendapatkan ilmu itu tanpa prosedur pendalaman yang selayaknya? Sesungguhnya itulah pengetahuan yang diberikan Jibril kepadaku.

Segala penjelasan yang kusampaikan di sini adalah penjelasan-penjelasan Malaikat Jibril, yang sedikit pun penjelasan itu tak menyimpang dari penjelasan-penjelasan para Nabi utusan Allah (Nabi Musa Alaihissalam, Nabi Isa Alaihissalam, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasallam). Siapakah sebenarnya malaikat yang mendampingiku yang menyatakan dirinya sebagai Jibril Alaihissalam? Dapatkah dimungkinkan iblis menyaru sebagai dirinya dan mampu mepergunakan dan mempermainkan ayat-ayat Allah, sedangkan hal itu dibiarkan terjadi seolah- olah Allah tak berdaya menghukum iblis dan manusia yang bersamanya yang telah mempermainkan ayat-ayat Allah dan ajaran-Nya? Dan niscaya tertutuplah kemungkinan bahwa seorang iblis atau malaikat lain itu berbohong dan menyaru sebagai Jibril.

Berkali-kali kami telah menyaksikan berita langit itu yang disertai kesaksian-kesaksian alam semesta. Bahkan kami tak dapat mengingat jumlahnya lagi. Sebenarnya kesaksian- kesaksian itu tak dapat dinafikan karena telah dipersaksikan oleh banyak orang. Sedangkan sebuah kesaksian kebenaran berita langit adalah tentang air Salamullah. Pada kenyataannya, air Salamullah telah dirasakan kemanfaatannya, sungguh memang benar dapat dijadikan obat. Banyak orang yang telah menerima syafaat itu. Maukah melihat hal itu sebagai pembuktian berita langit? Manakah yang lebih dimungkinkan, pernyataan alam semesta (air bumi itu) adalah sebuah pernyataan sekaligus kesaksian akan kebenaran Takdir ini.

Seringkali kepadaku dituduhkan bahwa telah terjadi penyesatan iblis atau jin terhadap diriku. Sedangkan apa-apa yang kualami ini kuyakini telah menyibakkan kemaslahatan umat manusia dan tiadalah pernah ada kejadian yang merugikan, apalagi menyesatkan. Maka betapapun aku mengharapkan kesaksian-kesaksian itu tak dianggap sebagai perangkat penakjuban dalam usahaku agar Takdir ini mau dipercaya. Melainkan aku lebih mengharapkan berita-berita langit yang disampaikan itu dapat dikaji dan dimanfaatkan sebagai sebuah kemukjizatan yang diberikan Allah kepada umat manusia melalui Takdir ini sebagai pertolongan- Nya.

Bagaimanapun gejolak hiruk-pikuk masyarakat yang nanti mendengar pernyataan- penyataanku melalui buku ini, maka segala keadaan yang akan menjadi dampak kehadiran buku ini, apa pun dan bagaimanapun kejadiannya, aku hanya dapat berpasrah diri kepada Allah. Semoga sifat manusia yang tak mudah mempercayai itu adalah didorong oleh perlindungan keimanan. Dan semoga janganlah ada orang yang dijadikan oleh iblis untuk menghancurkan Takdir ini. Sesungguhnya ketentuan Allah yang telah membuka Takdir ini, telah diketahui dajjal, sehingga mereka pun berkerumun mengusahakan kegagalannya.

Pesona dunia jin, penyerikatan ruh manusia dengan ruh, jin, atau iblis, dan segala upaya penyempurnaan sarananya telah mengakibatkan iblis (dajjal) telah mampu menghancurkan iman sebagian bangsa Indonesia. Sungguh saat ini telah terlihat betapa bangsa Indonesia telah berlumuran dosa. Tandanya dajjal telah sempat menguasai sebagian bangsa Indonesia ini.

Allah telah menurunkan seperangkat keselamatan bagi bangsa Indonesia, yaitu ujian- ujian yang diturunkan Allah dan pertolongannya melalui ketentuannya terhadap Takdir ini. Jibril Alaihissalam akan menuntun kita menapak di jalan yang selamat dan menghimpun kembali kemampuan-kemampuan yang memungkinkan untuk dapat kita jadikan sarana untuk memulihkan keadaan bangsa kita lagi.

Berikanlah pendalaman kajian terhadap fenomena ini dengan kelapangan hati. Bersama Jibril, kehidupanku sarat dengan perjanjian dengannya. Di antaranya adalah dia telah membayangkan padaku bahwa dia akan tetap membiarkanku terhujat, karena sesungguhnya melalui hujatanlah masyarakat akan menerima kejelasan dan kebenaran Takdir ini. Sungguhpun hujatan itu dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang, sesungguhnya penderitaan itu akan dirasakan sama. Dikatakannya Allah tak akan melupakanku.

Hiruk-pikuk penghujatan menjadikan Takdir ini dikenal orang, sedangkan mahligai kebenaran itu terletak pada jenjang yang tertinggi, yaitu apabila kebenaran itu telah berhasil melalui uji coba. Kebenaran itu memang dapat ditepiskan, tapi bukan dikalahkan. Kejadian apa pun tak akan mungkin mengalahkan kebenaran. Terlebih-lebih kalau kebenaran datangnya dari Allah. Demikianlah pernyataan Jibril untuk menghibur hatiku.

Berikut ini segala penjelasan Jibril Alaihissalam. Benarkah dia yang menemaniku? Dan adakah penjelasan-penjelasannya itu benar dan tidak menyesatkan? Dapatkah itu kubuktikan? Maka kupersilahkan Anda menilainya sendiri.

Pertemuanku dengan Malaikat Jibril Alaihissalam

Malaikat Jibril telah menyapaku sejak 28 Juli 1997, sedangkan sebelumnya, sejak 27 Oktober 1995, dia kukenal sebagai seorang malaikat bernama Habib Al-Huda. Maka sesungguhnya aku telah mengenalnya sejak 1995. Tapi, tersebut dinyatakan bahwa sesungguhnya dia telah datang sejak 1974. Namun pengenalanku secara langsung adalah pada 1997 itu.

Adalah ketika aku sedang salat tahajud pada malam itu, di antara doa-doa, tak kusangka badanku tiba-tiba menggigil kedinginan. Sesudahnya ternyata aku telah berada pada suatu keadaan yang mana kemudian untuk seterusnya selalu ditemani oleh seseorang yang tak terlihat.

Aku sangat ketakutan ruhku telah bergabung dengan jin atau mungkin iblis. Setiap saat aku menyapa kalbuku, setiap itu pula ada yang menjawab. Bahkan seringkali aku hanya menjadi pendengar. Dia sibuk menyampaikan penjelasan dan nasehat-nasehatnya sehingga setelahnya aku menangis karena dia mengingatkanku atas segala kesalahan dan dosa yang pernah kulakukan. Dia mengetahui seluruh perjalanan hidupku. Karenanya, aku berjuang menghilangkan dosa-dosaku itu.

Berkali-kali aku sujud memohon ampunan kepada Allah. Setiap kali habis memohon taubat kepada Allah, setiap kali pula aku merasa diringankan bebannya. Berkali-kali aku terjebak pada suatu keadaan, tak dapat mengelak dari berbuat salah, maka nasehat-nasehat dan omelan- omelannya kudengar berulang kali sehingga membuatku malu dan takut.

Kita semua terlahir sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Siapa yang bisa mendengar kalbunya ketika dia melakukan dosa? Terbayang olehku, misalkan suara- suara itu akan seterusnya menemaniku, alangkah terbatasnya langkahku. Aku tak dimungkinkan lagi bebas menetapkan sikap dan keinginanku.

Bagaimanapun ternyata itu adalah suatu kenyataan bagiku. Dia tidak datang untuk sementara, selalu saja dia ada. Dia berkata benar dan selalu menyuarakan kebenaran. Pada akhirnya aku harus menyesuaikan diri dengannya. Aku harus menempatkan diriku berjauhan dari dosa. Dari nasehat-nasehatnya dan omelannya aku menjadi terjaga dari perbuatan-perbuatan dosa. Mungkinkah aku dapat menghindarkan diri darinya? Kesempatan seperti itu tak dimungkinkan lagi bagiku.

Namun pengaruh kehadirannya semakin terasa kemanfaatannya. Rumah tangga dan keluargaku semakin harmonis. Aku menjadi betah di rumah mengurusi keluarga, dan kehilangan selera beraktivitas yang kurang bermanfaat. Seluruh waktuku terasa lebih nikmat kalau kupakai untuk bersujud dan mengamalkan segala nasehat-nasehat dan petunjuknya. Secara bertahap dia mengajariku perbaikan tauhid. Keadaan itu selanjutnya kulalui dengan berbagai ujian yang sengaja dijebakkan kepadaku. Betapapun kini aku telah dapat mengambil manfaat dari ujian- ujiannya itu, walaupun pada saat itu sungguh ujian-ujian itu terasa cukup berat.

Bagaimanakah kiranya bentuk ujiannya itu? Tak mungkinlah semuanya itu aku tuliskan di sini. Terlalu banyak dan sangat berliku-liku. Sementara tulisanku ini harus aku singkat, mengingat sungguh banyak informasi yang lebih penting yang harus kukemukakan di dalam buku ini. Hampir seluruh waktuku didominasi bersama dengannya. Ketajaman firasat, kepekaan merasakan kegaiban, ketajaman penglihatan batin, kemampuan menyembuhkan, dan penempaan- penempaan darinya, diselingi kebahagiaan baru, yaitu menulis.

Tiba-tiba saja aku lancar menuliskan apa saja, antara lain, menguraikan segala masalah dalam bentuk tulisan, puisi, bahkan menulis lagu. Khusus mengenai penulisan lagu ini, aku ini tak paham notasi balok. Lirik-lirik lagu itu cukup kuberikan kepada Yanthi Sulistiono untuk mengenali irama lagu itu. Yanthi cukup merenung sebentar dan aku memberitahukan jenis irama lagu dan mengawali Yanthi menemukan bentuk lagunya, termasuk iringannya. Seketika Yanthi dapat menyanyikan lagu itu. Demikianlah penciptaan sebuah lagu. Dalam kurun waktu enam bulan, lagu- lagu itu telah berjumlah 30 sampai pada saat ini. Yanthi dan Lala (Mira Julia), mereka berdualah yang selalu menyanyikan lagu-lagu itu.

Itulah jenjang pengenalanku dengan Malaikat Jibril yang pada awalnya kukenal sebagai Habib Al Huda. Nama itu disebutkannya ketika aku sedang membaca buku "Dialog dengan Jin Muslim", yang sangat laris pada waktu itu.

Dalam buku tersebut tertera bahwa Nabi Muhammad telah didampingi jin yang bernama Habib Al Huda. Namun dikatakannya bahwa dia adalah seorang malaikat yang memang dulu mendampingi Rasulullah. Ditegaskan pula olehnya bahwa penjelasan di buku itu salah. Seorang Rasulullah tak akan mungkin diperkenankan Allah didampingi oleh jin. Menurut Malaikat Jibril buku itu hanya memikirkan daya jual. Tak dipentingkannya keakuratan dan jaminan yang dituliskan.

Kala itu aku hanya menyangka Habib Al Huda adalah malaikat pendamping Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, di samping Jibril Alaihissalam. Siapakah Habib Al Huda, tak kupentingkan, karena tak kupahami benar hirarki dunia kemalaikatan. Simpul rahasia itu dibukakan olehnya, bahwa dia mengaku sebagai Habib Al Huda demi menimbang-nimbang seandainya dia langsung menyebutkan dirinya sebagai Jibril Alaihissalam tentulah aku tak akan percaya. Dan sebelum menerima penjelasan Takdir ini, aku harus melalui penempaan-penempaan darinya. Apabila dia menjumpaiku dengan predikatnya yang sungguh tinggi itu, tak dimungkinkan keadaan itu berjalan dengan apa adanya.

Sesungguhnya pengakuannya sebagai Habib Al Huda tak disebutkan olehnya melainkan hanya sebagai pengumpamaan. Karena sesungguhnya dia hanya selalu menyebutkan dirinya sebagai malaikat pendamping Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Tersebut nama Habib Al Huda adalah karena nama itu tertera dalam buku Dialog Dengan Jin Muslim yang sedang dibaca oleh adik iparku, dokter Syarifuddin Laingki. Diselipkan sebuah tulisan bahwa yang dimaksud itu adalah dia. Kemudian dia tak menolak ketika kami memanggil namanya Habib Al Huda. Sesungguhnya tiada penyimpangan dari pengakuannya ini, dia mengaku sebagai malaikat pendamping Rasulullah sedangkan Habib Al Huda adalah bermakna pemberi petunjuk yang dicintai Allah.

Umat Islam memuliakan nama Jibril Alaihissalam. Kedatangannya padaku tentu akan menghebohkan. Sedangkan pada diriku sendiri tak ada kesiapan ditemui olehnya. Mendengarkan namanya saja mungkin saya akan beranggapan diri saya sudah gila. Maka sesungguhnya semua itu dilakukan olehnya demi pengamanan menyampaikan Takdir ini. Demikianlah, dia baru menyatakan dirinya sebagai Jibril Alaihissalam pada 28 Juli 1997.

Selanjutnya aku pun dibimbingnya mengetahui keadaan-keadaan yang akan menimpa bangsa Indonesia. Disebutkannya bahwa bangsa kita ini akan menderita oleh berbagai hal yang sulit sekali untuk dapat diuraikan. Bangsa Indonesia akan menghadapi masa-masa yang penuh beban. Kemudian dia menyuruhku, melalui doa dapat dimungkinkan mengurangi beban itu. Lalu dijadwalkannya aku ke tempat-tempat yang dipilihnya untuk berdoa.

Pertama-tama aku disuruhnya ke Gunung Kawi memohon agar Allah membersihkan tempat itu dari kemusyrikan. Kemudian ke Bondowoso memohon agar Allah menjauhkan kita dari serbuan hama belalang dan ilmu-ilmu hitam. Kemudian ke Pantai Selatan, juga memohon agar Allah menjauhkan tempat itu dari kemusyrikan. Kemudian ke desa Salatiga, Pontianak, Kalimantan Barat untuk memohon agar Allah mencabut kekuasaan dajjal di sana.

Selanjutnya, aku dianjurkan ke kantor-kantor departemen pemerintah dan swasta yang akan menghadapi masalah-masalah berat. Kami juga sempat disuruh ke pesantren-pesantren agar bersama-sama para santri mendoakan bangsa ini. Aku sempat ke pesantren dan lembaga pendidikan Islam (La Tansa Masyira - Rangkas Bitung, Sa'adah - Serang, Sunanul Huda - Sukabumi, Darul Ulum - Bogor, Darun Najah - Jakarta, Daar El-Qalam - Tangerang, Asrama Putri Institut Ilmu Al-Quran - Bogor, dan lain-lain). Aku pun diminta membuat acara untuk mengingatkan bangsa ini agar menjaga kerukunan. Acara itu dilaksanakan pada 28 Nopember 1996 di Gedung Kesenian Jakarta sambil meluncurkan tiga buah buku puisi. Ketiga buku itu berisi penjelasan- penjelasan yang sebenarnya adalah pendapat dia tentang keadaan bangsa kita. Begitulah cara dia mengumandangkan pendapat-pendapatnya dan nasehat-nasehatnya.

Segala masalah dan peristiwa yang dihadapi bangsa Indonesia hampir seluruhnya telah disampaikan kepadaku jauh hari sebelumnya. Sayangnya aku hanya bisa menyampaikan kepada orang-orang yang kukenal dekat. Aku tak memiliki otoritas untuk menyampaikan hal itu. Lagi pula siapa yang ingin mempercayaiku. Seluruh penjelasan-penjelasan tentang itu telah disampaikan dan yang telah menerimanya insya Allah dapat menempatkan pernyataan-pernyataanku ini sebagai kesaksiannya.

Sungguh pengalaman-pengalaman ini tak dapat kuterangkan dengan kata-kata secara rinci. Sungguh sangat banyak pengalaman-pengalaman itu. Maukah Anda melihat bahwa sebenarnyalah aku ini terlarut hingga sangat jauh dan menyelami keadaan ini tanpa dapat mengelakkannya? Manakah yang dapat lebih kupastikan? Kedamaian batin bersamanya telah mempertemukan esensi kehidupan dan esensi keimanan, di mana Allah yang menjadi tujuan seluruh kehidupan itu tak berada jauh darinya.

Keterlibatanku dalam Takdir-Nya ini tak mungkin kuelakkan. Namun mengurusinyapun tak dapat disetarakan dengan kesulitan apa pun di dunia ini. Maukah Anda melihatku sebagai orang yang diharuskan menerima Takdir-Nya? Dengan membawa Takdir ini, aku terpaksa harus menunda apa pun dalam kehidupanku ini. Dan aku juga terpaksa harus menghentikan apa pun yang tak sesuai dengan keadaan Takdir ini.

Bagaimana selanjutnya aku meniti kehidupan yang masih tersisa ini? Aku hanya bergulir seadanya sekehendak-Nya dan menyesuaikan dengan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Melalui Malaikat Jibril Alaihissalam, aku menjadi sekedar peniti atau pun sekedar jarum, tak penting lagi bagiku. Sesuai dengan perintah-perintah Allah yang dibawanya, aku kemudian meluruskan kiblat kehidupanku hanya kepada Allah Subhanahu wa Taala. Kejadian ini selanjutnya membawaku mengenali Takdir Allah.

Keterlibatanku ke dalam Takdir

Sejak itu aku berada dalam kehidupan yang sangat berbeda, dunia gaib dan dunia fana, yang kedua-duanya adalah sebuah kenyataan. Bersama Jibril Alaihissalam dan teman-teman, aku merasakan kenikmatan memperoleh keberkahan Allah. Dari menyaksikan peristiwa-peristiwa penting hingga pada masalah-masalah kehidupan sehari-hari. Berkat bantuannya, tak satu pun masalah yang belum pernah tak dapat kami uraikan.

Seluruh uraian masalah dan cara mengatasinya diajarkannya kepada kami. Dan selalu melalui penyelesaian yang tuntas dan benar. Kami tak dimungkinkan berkompromi dengan kesalahan apalagi dosa. Bersama penyelesaian-penyelesaian itu, kami semakin paham, ternyata banyak cara yang dapat dipakai tanpa harus mengutak-atik dosa. Kebenaranlah yang harus selalu kami padani. Dan dia menandaskan kepada kami keharusan hanya meneladani kesempurnaan kebenaran. Dan di dalamnya dia selalu mengetengahkan pemurnian jenjang kebenaran.

Betapa pun kami tak lagi ada yang berani berdekatan pada kesalahan dan tentu saja dosa. Karena diperlihatkannya kepada kami betapa dia selalu mengikuti langkah kami. Bahkan dia dapat menjelajah ke dalam isi hati kami. Dari penjelasan-penjelasan dan pengajaran yang dikemukakannya, aku telah dipertemukan dengan orang-orang yang datang kepadaku dan yang kemudian ikut bergabung. Dan kepada kami, Malaikat Jibril memberikan nama majelis kami ini dengan nama Salamullah. Terlahir dari nama ini sebenarnya Jibril Alaihissalam mengemukakan bahwa nama itu adalah kelangsungan makna Alif Laam Miim.

Next : Kesaksian Lia Aminuddin dan Jemaah Salamullah
Sebuah Takdir Menjelang Kiamat 3


This Homepage is Copyright � 1996-1998, Armansyah.,
All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1