|
Chapter one
-He did not died-
“Hermione !”
Aku mendengarnya memanggil namaku saat tubuhku terhantam
kutukan sihir yang di lontarkan oleh salah seorang pelahap
maut disitu. Aku mendengarnya berlari ke arahku dan
menangkapku sebelum aku jatuh.
“Ron..”
“ Kamu ga apa-apa? Ada yang kena? Ada yang sakit?” kata Ron
sambil memegang tanganku. Wajahnya panik sekali. Dahinya
mengucurkan darah. Dia pasti terluka.
“Ron kepalamu terluka.. berdarah..” kataku kaget.
“Pantas rasanya sakit..” kata Ron sambil tersenyum pasrah.
Lalu dia menyentuh kepalanya. “ Hermione, kembalilah..
pergilah dari sini.. kumohon.. “ kata Ron sambil membantuku
berdiri.
“Tapi Ron.. Aku tidak bisa meninggalkan kalian begitu saja..
Aku ga akan pergi! Auch..!” Ron tiba-tiba menarikku maju
sampai aku hampir terjatuh.
“Expelliarmus!” teriak Ron kearah belakangku. Ternyata
seorang pelahap maut berencana menyerangku dari belakang.
Jarakku sangat dekat dengan Ron. Aku menggunakan tubuhnya
untuk menopang tubuhku yang nyaris jatuh saat dia menarikku
tadi. Saat aku berusaha berdiri tegak, Ron tiba-tiba
memelukku.
“Jangan! Aku mohon, Hermione! Pergilah dari sini.. Terlalu
berbahaya.. Kamu tau apa yang terjadi pada Mad-eye Moody dan
Dad?? Mereka meninggal.. Terbunuh oleh para pelahap maut ini..
“ teriak Ron sambil memelukku dengan kedua tangannya. Tubuh
Ron bergetar saat memelukku.
“Ikutlah dengan Mum dan Ginny, mereka akan ber-apparate ke
The Burrow.. Aku ga mau ngeliat kamu terluka.. Apalagi
sampai terbunuh.. Aku ga akan kuat kalau sampai terjadi
sesuatu sama kamu..”
“Ron.. kenapa.. tapii…” ku tak berhasil menyelesaikan
kata-kata yang ingin aku ucapkan karena tiba-tiba..
“Karena aku sayang sama kamu, Hermione!”
Kata-kata itu baru saja terucap dari mulut Ron. Aku sama
sekali tidak percaya kalau setelah 7 tahun akhirnya dia
mengatakannya. Sebelum sempat berkata apapun, Ron
mendorongku kea rah Mrs. Weasley dan ginny yang akan
ber-apparate. Sebelum ber-apparate tiba-tiba aku melihat
cahaya biru melintas dan mengenai tubuh Ron. Aku mendengar
Ron berteriak. Air mataku jatuh tanpa kusadari.
“Ron……!!” teriakku.
************
Aku membuka mataku. Disamping tempat tidurku ada Mrs.
Weasley dan Fleur De Lacour. Fleur membawa handuk kecil di
tangannya. Sedangkan Mrs. Weasley terlihat cemas.
“ Hermione, sayang.. Tenanglah.. Itu cuma mimpi..” kata Mrs.
Weasley sambil membatuku duduk. Ia mengelus rambutku.
“Kamu menangis dalam tidurmu..” kata Fleur pelan.
“Mena.. Menangis..??” tanyaku pelan. Baru kusadari kalau
sekitar pipiku basah. Dan nafasku tertahan-tahan.
“Oh, sayangku… jangan menagis lagi..” Mrs. Weasley berkata
sambil memelukku. Memang benar, aku mulai menangis lagi.
“Mrs. Weasley.. Aku memimpikannya lagi.. A..Aku melihatnya
lagi saat itu.. Apa.. Apa yang terjadi setelah itu..??!!”
kataku tergesa-gesa.
Mrs. Weasley tahu ‘saat itu’ yang ku maksudkan adalah saat
aku, Ginny dan Mrs. Weasley ber- apparate dari pertempuran
terakhir melawan Pangern Kegelapan, Lord Voldemort. Dan aku
melihat Ron terkena serangan dari pelahap maut. Akupun tidak
tahu apa yang terjadi setelah itu, karena tiba-tiba aku
sudah ter-apparate ke The Burrow.
“Tenang, sayang.. Jangan menagis..” kata Mrs. Weasley
bergetar. Aku tahu bahwa dari tadi dia juga menahan
tangisnya. Bagaimanpun juga Ron adalah anaknya.
“ Tapi sudah lima hari berlalu, Mrs. Weasley! Tapi Ron belum
ada kabar.. Ron belum pulang.. Apa yang terjadi dengannya?!!
Sudah banyak yang pulang.. Tapi kenapa Ron tidak??” isakku
semakin kencang.
Tanpa mengatakan apa-apa Mrs. Weasley melepaskan pelukannya.
Menatapku dan mengusap air mataku, lalu tersenyum pelan
kepadaku.
“Hermione, lebih baik kamu mandi dulu lalu berpakaian dan
turun ke bawah.. kami semua akan menunggumu untuk sarapan..
Akan kubuatkan sarapan kesukaanmu.. ya, sayang?”
Aku mengangguk dan saat Mrs. Weasley bersama Fleur keluar
dari kamarku, aku bangkit dan menuju jendela. Aku melihat
pemandangan dari The Burrow sangat indah.
Saat aku melihat kearah langit yang berawan itu, terpikir
lagi olehku apakah aku, Ron dan Harry masih berada di bawah
langit yang sama?
Sebelum turun kebawah untuk sarapan, aku berdiri di depan
meja rias dan menyemprotkan parfum yang pernah diberikan
oleh Ron saat kita masih sekolah di Hogwarts dulu. Wangi
parfum ini selalu mengingatkanku pada Ron.
Aku memakai sweater putih panjang dan rok pink muda, lalu
turun ke bawah. Di meja makan sudah ada Ginny, Fred dan
George, Lupin, Tonks, Bill, Fleur dan..
“Luna..??!!” kataku kaget saat melihatnya di ruang tengah
the Burrow. Luna menengok ke arahku dan tersenyum pucat. Aku
menghampirinya dan memeluknya.
“Luna, kamu pulang!!” kataku tersenyum senang. Luna
memelukku dengan satu tangan. Baru kusadari kalau salah satu
tangannya di perban dan di kaitkan ke bahunya.
“Hermione.. apa kabar…? Kamu terlihat agak pucat..” ujar
Luna tanpa expresi.
“ Oh, ga apa-apa kok..” kataku sambil menyibak poniku. “ ngg…
tanganmu gimana..?” tanyaku sambil melihat ke arah tangan
Luna.
“Patah.. Fleur bilang butuh 2 bulan untuk sembuh.. dan kalau
dalam 2 bulan ga sembuh, mungkin ga akan sembuh selamanya..”
kata Luna pelan dengan tenang. Lalu Luna bergabung di meja
makan, sebelum itu Luna berbisik ke telingaku kalau Neville
juga sudah pulang, Neville ada di sofa, tetapi Neville buta.
“Ha.. Hai, Neville..” kataku pelan menghampirinya. Aku
menatapnya sebelum pelan kusentuh tangannya.
Neville Longbottom adalah salah satu temanku dari Hogwarts.
Kita ada di asrama yang sama, Griffindor. Waktu di tahun
pertama saat aku, Harry dan Ron mengejar Snape, Neville
pernah melarang kita dan akhirnya kita harus menyerang
Neville kutukan ringan. Saat-saat yang menyenangkan. Ga
sadar peristiwa itu sudah 7 tahun yang lalu. Aku sempat
mengira bahwa Neville menyukai Ginny. Tapi baru-baru ini aku
baru sadar kalau ternyata Neville jatuh cinta pada Luna.
“ Hermione.. itu kamu ya..?!” tangan Neville kaget oleh
tanganku yg menyentuh tangannya.
“ Iya.. ini aku, Hermione.. Aku senang kamu pulang..”
Neville tersenyum. “ Aku kira aku akan mati disana..”
“ Jangan bilang gitu..” kataku. “ Neville.. ngg… gimana ini
bisa terjadi sama kamu.. kenapa mata kamu bisa sampai kyk
gini..?”
Neville menarik nafas yang panjang. “ Seingetku.. Aku lagi
bertarung dengan pelahap maut, aku berhasil mengalahkannya..
Lalu dari kejauhan aku melihat Harry terjatuh karena
serangan Vol.. Voldemort. Aku berusaha membantu Harry, tapi
sebelum aku berhasil menuju ke arahnya, sesuatu yang besar
menimpa kepalaku.. Aku terjatuh, samara-samar aku melihat
Harry terkena kutukan berwarna biru.. Setelah itu semuanya
berubah menjadi hitam..”
Harry.. terkena kutukan sihir..? Apa yang terjadi dengannya..
Apa lagi yang sudah terjadi..
“ Neville.. kamu melihat Harry.. apa ada di suatu kesempatan,
selama kamu masih di sana.. apakah kamu melihat Ron?”
tanyaku ragu-ragu. Aku bertanya kepada semua orang yang
pulang tentang Ron. Apakah mereka melihat Ron..
“ Maaf, Hermione.. Aku tidak melihat Ron.. Sudah
berhari-hari aku tidak melihatnya selama di sana.. mungkin
Ron.. mungkin dia sudah..”
“ Tidak! Jangan katakan itu..”
Aku berjalan ke arah belakang. Aku melihat Fred dan George
sedang memanggang daging. Aku mengambil sebotol jus apel
dari kulkas dan pergi ke teras belakang. Angin di pagi itu
sangat sejuk. Menusuk kulit. Seperti rasa cemas ini yang
menusuk hatiku.. Ron ga mungkin meninggal.. kata-kata it
terus berulang di pikiranku..
Kembali
Next |