|
GRYFFINDOR IS MY CHOICE
Kini Diomaberada di pintu kastil.
Setelah sampai di stasiun Hogsmeade Dioma berpisah dengan
Harry, Ron dan Hermoine. Sama seperti murid kelas satu
biasanya, Dioma harus menyeberangi danau dengan perahu
sebelum sampai ke kastil.
Namun kali ini yang menyambutnya
bukanlah Profesor Mc Gonagall, nampaknya penyihir wanita itu
hanya khusus menyambut murid-murid kelas satu. Kini
dihadapannya berdiri seorang pria berjubah hitam menyapu
lantai dengan rambut berbelah tengah berminyak,
menyambutnya, "Profesor Dumbledore
memintaku mengantarkanmu ke Aula Besar untuk mengikuti
ritual penyeleksian. Profesor Dumbledore juga berpesan,
seusai persta awal tahun kau dan Potter diminta menemuinya
di ruang kepala sekolah," ucap Snape lambat dengan
tatapan dingi ke arah Dioma.
"Cokelat kodok!" lanjutnya. Dioma
hanya mengangguk tanda mengerti tanpa memandang ke arah
Snape. Keduanya berjalan menuju ke arah Aula Besar , seasatt
kemudian semua mata tertuju ke arah keduanya. Dioma tetap
berjalan dengan tenang dan anggun. Pemandangan yang sangat
kontras dengan adanya Snape di samping Dioma, jalannya yang
kaku dengan wajah yang murung.
Sementara Dioma kini tengah terseyum
manis ke arah salah satu meja anak Gryffindor. Wajah Harry
sudah semerah kepiting rebus ketika matanya bertemu pandang
dengan mata hitam Dioma.
Nampaknya penyeleksian untuk murid
kelas satu sudah selesai dan kini tinggal Dioma yang akan
mengikuti ritual yang sudah ada sejal sekolah ini didirikan.
"Selamat datang Miss Kwok, senang
bertemu denganmu lagi," ucap Dumbledore sambil menjabat
tangan Dioma ketika ia dan Snape sampai di meja terdepan.
Lalu Snape pergi meninggalkan keduanya dan menuju mejanya.
"Senang bertemu dengan Anda Profesor
Albus Dumbledore," balas Dioma. Profesor Dumbeldore
menggandeng tangan Dioma dan mengantarkannya ke depan sebuah
kursi kayu. Di hadapan Dioma terdapat sebuah topi usang
dengan robekan di bawahnya yang menyerupai mulut.
"Sebuah ritual dan silakan duduk
Miss Kwok." Seorang penyihir wanita bertopi kerucut khas
penyihir dan berbibir tipis berkata kepada Dioma sambil
tersenyum. Perut Dioma bergolak membuatnya mual ketika topi
tersebut diletakan di atas kepalanya.
"Jangan Slytherin...jangan Slytherin...jangan
Slytherin...," pintanya dalam hati sambil merapatkan kedua
jarinya.
"Hmmm.... Dioma Stavila Kwok, coba
kulihat, kau gadis yang luar biasa. Selama ini aku sudah
banyak menyeleksi para murid Hogwarts. Menilik pikiran dan
bakat mereka lalu mengirimkan mereka ke asrama yang sesuai.
Dan aku tak pernah salah. Kau adalah gadis pertama dan orang
ketiga selain Tom Marvolo Riddle dan Harry James Potteryang
layak menghuni semua asrama. Kau pintar, berani, ambisius,
licik, dan satu hal kau memiliki darah Slytherin,"
"Jangan Slytherin, aku mohon jangan..."
Harry berani bersumpah saat ini bibir mungil Dioma tengah
menyuarakan 'Jangan Slytherin!'
"Yakinkan hatimu Dioma!" Pekik Harry
dalam hati
"Tapi aku melihat pendidikan sihir
yang telah kau terima selama 5 tahun, telah membuat
sifat-sifat dasarmu pudar. Hal itulah yang membuatmu layak
menjadi seorang..." Topi seleksi terdiam, lalu tiba-tiba
berteriak, "GRYFFINDOR!!!". tepuk tangan seluruh anak
Gryffindor
menyringi langkah gadis ini menuju
asramanya yang baru. Senyum Dioma kembali mengembang begitu
dijumpainya Ron, Hermione, dan Harry.
"Senang bisa berada di asrama yang
sama dengan kalian," ujar Dioma berseri-seri, sesuatu yang
ada di dalam perut Harry kembali bergolak ketika Dioma yang
ada di sampingnya menggenggam tanganya.
"Harry, Profesor Dumbledore meminta
kita menemuinya setelah pesta ini di kantornya,"
"Memangnya ada apa?" tanya Harry
sebiasa mungkin. Dioma hanya mengangkat bahunya.
"Hallo anak-anak! Selamat datang di
tahun pelajaran yang baru. sebelum perut kita diisi penuh
dengan berbagai hidangan, pertama-tama aku ingin
menyampaikan selamat datang kepadamurid pindahan dari
Hongkong yang sebelumnya bersekolah di sekolah sihir Yau Su
Sie Siau dan begitu juga untuk murid-murid kelas satu.
Selamat bergabung di keluarga barumu, Hogwarst. Baiklah aku
Albus Dumbledore mengucapkan selamat makan anak-anak!" kata
pria berjenggot perak panjang dan
berkacamata bulan separo. Sekejap
kemudian berbagai hidangan lezat sudah tersedia di meja
amasing-masing dan langsung mendapat serbuan dari anak-anak
yang sudah kelaparan.
Di ujung meja para guru seseorang
berwajah pucat memandang penuh jijik ke arah meja
Gryffindor, "Dioma Kwok!" desisnya bagai ular.
“Cokelat kodok!” kata Dioma di depan patung gargoyle. Lalu
pintu pun terbuka , Harry dan Dioma menaiki tangga batu
tersebut dan membawa keduanya menuju ke arah menara, tempat
kantor kepala sekolah.
‘Kira-kira apa yang akan Profesor
Dumbledore bicarakan pada mereka berdua?’ pikir Harry
sebulum memasuki kantor Dumbledore.
“Hallo Harry…Dioma…, silakan masuk,
senang melihat kalian datang tepat waktu. Ayo duduk!”
“Apa hal yang ingin Anda bicarakan
Profesor Dumbledore?” Tanya Harry.
“Bagaimana liburanmu Harry?
Menyenangkan?” Harry hanya terdiam sesaat, liburannya kali
ini memang sangat tidak menyenangkan. Hampir tiap malam
Harry diselimuti mimpi buruk tentang kematian Sirius karena
terjatuh ke dalam Tirai Kuno di Departemen Sihir. Dan setiap
kali bermimpi, Harry selalu menyalahkan dirinya atas
pertarungan anggota the Order of Phoenix dengan para pelahap
maut beberapa bulan yang lalu.
“Nampaknya liburanmu tidak begitu
menyenangkan. Aku tahu sulit bagimu untuk bisa menerima
kematian orang yang telah kau anggap sebagai orang tuamu
sendiri. Tapi aku harap kau tidak larut dalam kesedihanmu
apalagi menyalahkan dirimu sendiri atas kematian Sirius.”
Perkataan Dumbledore membuat rasa sakit itu kembali terasa
di sekujur tubuh Harry. Tanpa dirinya sadari matanya telah
basah oleh air mata. Kehangatan dan ketengan yang kuar biasa
Harry rasakan ketika tangan Dioma menggenggam tangannya.
Harry memandang gadis itu dari matanya Harry dapat membaca
tatapan itu, ‘Kau laki-laki yang kuat Harry’.
“Dan bagaimana denganmu Dioma?”
Tanya Dumbledore beralih pandang.
“Menyenangkan terlebih-lebih ketika
aku mengetahui akan bersekolah di Hogwarts.” Jawab Dioma
ceria.
“Harry sebelum kepergian Sirius, dia
meninggalkan ini untuk mu.” Dumbledore menyerahkan segulung
perkamen kepada Harry yang berisi hak kepemilikkan Grimauld
Place no. 12 diwariskan kepada Harry selaku anak baptis
Sirius.
“Tapi bagaimana mungkin aku layak
mendapatkan semua ini?”
“Kau cukup menandatanganinya Harry
dan tak perlu membahas layak atau tidaknya kau mewarisi
harta keluarga Black. Sebab bila kau tidak menandatanganinya
maka rumah itu akan jatuh ke tangan kerabat terdekat
keluarga Balack, Bellatrix Lestrange. Aku rasa kau tak akan
menginginkan itu terjadi ‘kan
Harry?” setelah mendengar penjelasan itu, akhirnya Harry
menandatangani perkamen tersebut lau menyerahkannya apda
Dumbledore.
“Baiklah mulai saat ini kau sudah
menjadi pemilik baru Grimauld Place no. 12, bolehkan aku
bertanya satu hal Harry?”
”Apa?”
“Bisakah anggota the Order of
Phoenix menggunakannya sebagai markas lagi seperti tahun
lalu?”
“Tentu”
“Terima kasih Harry. Dioma, tadi
pagi seekor Phoenix emas mengantarkan hasil OWL-mu,”
Dumbledore lalu menyerahkan sebuah amplop bertuliskan huruf.
Dioma membuka amplop coklat dengan tenang lalu membacanya.
Melihat ekspresi Dioma, Harry jadi teringat bagaimana
persaannya ketika pertama kali memndapat hasil OWL-nya.
“Bagaimana Dioma?” Tanya Harry
penasaran.
“15 OWL dan aku berhak mengikuti
semua pelajaran!” Dioma menjawab dengan riang.
“Nilai yang menakjubkan, mata
pelajaran apa yang akan kau ambil nantinya?”
“Semuanya, terkecuali Ramalan,
Sejarah Sihir dan Pemeliharaan Satwa Gaib tentunya,”
“Kau mengambil pelajaran dasar untuk
menjadi seorang Auror. Apakah kau ingin menjadi….” Pekataan
harry terpotong.
“YA! Aku memang ingin menjadi
seorang Auror…” jawab Dioma
"Cita-cita yang bagus, mengingat
kemapuan kalian memang sangat bagus untuk menjadi seorang
auror." komentar Dumbledore.
"Dan ini untuk kalian," Harry dan
Dioma menerima masing-masing segulung perkamen.
"Itu adalah jadwal latihan tambahan
kalian"
"Latihan tambahan...?"
Kembali
Next
Previous |