|
THE ORIENTAL GIRL
Harry, Ron, dan Hermoine menyelusuri lorong kereta
api mencari kompartemen kosong sambil menenteng koper yang
berat. Gerbong demi gerbong mereka lalui tapi tak satu pun
ada kompartemen yang kosong. Hingga akhirnya mereka sampai
di gerbong paling belakang.
“Pilihan terakhir…,” gumam harry. Ron dan Hermoine hanya
mengangkat bahu.
“Permisi…, bolehkah kami duduk di sini, sebab sudah tak ada
lagi kompartemen yang kosong,” ujar Hermione sopan kepada
seorang gadis berwajah oriental berhidung bengkok. Sepintas
wajahnya mengingatkan Harry pada salah satu orang yang ia
benci.
“ Oh…silakan! Silakan masuk!” jawab gadis itu, nampaknya ia
baru menyadari bahwa dirinya tak sendiri lagi dalam
kompartemen itu.
“Harry Potter!” seru gadis bermata hitam itu ketika melihat
parutan luka yang ada dikening Harry.
“Yeah!” jawab Harry singkat. Harry terpesona memandang
secara keseluruhan wajah gadis berambut hitam ini. Perlahan
namun pasti dirinya mulai merasakan sensai yang luar bias
ketika gadis yang ada dihadapannya menyebut namanya dengan
lembut.
“Hai kenalkan aku Dioma, Dioma Stavila Kwok,” gadis yang
bernama Dioma itu mengulurkan tangan kanannya. Harry
menjabat uluran tangan tersebut,
”Senang berkenalan denganmu.” Dioma memamerkan kedua lesung
pipitnya lewat semburat senyuman, lagi-lagi sesuatu yang ada
di perut Harry bergolak.
“Dan kau pasti Miss Granger. Murid paling pandai
diangkatanmu.”
“Hermione Granger! Kau boleh memanggilku Hermione saja,”
pinta Mione.
“Ronald Weasley, Ron!” ucap Ron begitu pandangan Dioma
tertuju padanya.
“Hai Ron senang berkenalan denganmu. Kalian boleh
memanggilku Dioma.” Ketiganya mengangguk.
“Aku baru pertama kali melihatmu. Apakah kau utusan dari
sekolah sihir yang lain?” Tanya Hermione ingin tahu. Dengan
senyuman manis Dioma berbicara,
“Aku memang baru pertama kali dating ke Hogwarts namun aku
bukan utusan dari sekolah sihirku. Emmm… lebih tepatnya aku
murid pindahan. Professor Albus Dumbledore-2 minggu yang
lalu mengirim surat kepada Guru Besar Yau Su Sie Siau,
sekolah sihirku yang lama. Guru Besar Lee memintaku
melanjutkan pendididkan di tahun keenamku di Inggris.
Walaupun aku tahu Profesor Dumbledore-lah yang memintanya.
Tapi…” Dioma terdiam.
“Tapi apa Dioma?” Tanya Hermione dan Ron bersamaan.
“Aku berharap tak akan berada di Asrama Slytherin. Aku tak
boleh berada di sana,” ucap Dioma penuh jijik seolah-olah
Slytherin adalah Azkaban kedua baginya. Harry bertanya-tanya
dalam hari, ‘Mengapa gadis ini begitu membenci Slytherin?’
walau di tahun pertamanya Harry pun tak ingin berada di
asrama yang telah banyak melahirkan penyihir hitam termasuk
You-Know-Who.
“Mengapa?” Tanya Harry pelan. Dioma menatapnya tajam menusuk
seluruh sumsum tulang Harry membeuatnya merasa tak nyaman.
Apalagi tatapan itu kembali mengingatkan Harry pada Snape,
Harry mencoba untuk tetap tenang.
“Ada beberapa hal yang untuk saat ini tak dapat aku
memberitahukan pada kalian. Aku berjanji bila waktunya tepat
aku pasti akan menceritakan semuanya pada kalian.” Ekspresi
wajah Dioma sudah kembali normal.
“Kau harus punya keyakinan yang kuat dengan pilihanmu. Bila
kau tak ingin berada di Slytherin,” ucap harry setelah cukup
tenang untuk dapat bicara sebiasa mungkin dengan Dioma.
“Thanks untuk perhatian kalian. Aku berharap dapat berada di
asrama yang sama dengan kalian. Apakah kalian mau berjanji,
bila nantinya aku berada di asrama yang berbeda, kalian
tetap menjadi temanku,”
“PASTI!!!” pekik Harry penuh semangat. Membuat Hermoine dan
juga Ron menatapnya heran campur curiga.
“Terima kasih,” kata Dioma lembut. Kompartemen belakang
dipenuhi oleh canda tawa mereka berempat. Bagi Dioma ini
adalah awal yang menyenangkan untuk tahun pertamanya di
Hogwarts, sementar Harry mengganggap perkenalannya dengan
gadis oriental ini sebagai hal yang paling menyenangkan di
awal tahun keenamnya.
Kembali
Next |