Chapter 1
Impatience
Dibawah tutupan malam gelap itu, sebuah bayangan berjalan
pelan menyusuri blok residensial yang bernama Privet Drive
itu.
Harry Potter.
The Boy Who Lived.
Hujan yang turun rintik belum bisa menghentikan langkah
majunya. Malam ini adalah titik balik hidupnya... dimana ia
akan melawannya. Sendirian.
Petir menyambar keras, sebelum Harry menyadari tiba-tiba
bahwa ada yang mengikuti langkahnya. Petir tadi pasti
menyembunyikan bunyi yang akan timbul bila seseorang baru
muncul ber-apparate. Dengan cepat, Harry membalik badan dan
menemukan dua tubuh berjubah hitam, sekitar 30-an meter
dibelakangnya.
Satu langkah... dua langkah...
“Jejak panasnya di sini. Itu pasti dia,” ujar salah satu
figur berjubah itu. Figur satunya, jelas lebih tinggi
sekepala dari figur sebelumnya, hanya mengangguk sambil
mengangkat tongkatnya, langsung ke arah Harry.
“Avada Kedavra.”
Harry segera berguling ke samping, menghindari larik sinar
hijau yang pernah merenggut nyawa orang-orang terpenting
dalam hidupnya itu.
“Aaaah~ sialll...” gerutu si pendek sambil mencabut sebatang
golok dari balik jubah hitamnya lalu berteriak, “Supraccelero!”
Harry tersentak. Bagaimana
mungkin dia merapal mantera aneh itu tanpa tongkat?,
teriaknya dalam hati.
Tapi tak ada waktu untuk kaget sekarang. Si pendek itu
langsung bergerak cepat bak ninja-ninja dalam game yang
dimiliki Dudley. Sekejap mata saja si pendek sudah berada di
samping Harry, siap memenggal kepalanya dengan satu sabetan
golok yang dipegangnya.
Harry menunduk dan berguling ke samping, tepat kala golok si
pendek akan menyentuh lehernya, sebelum meloncat mundur
sambil mencabut tongkatnya. Namun sebelum Harry sempat
bereaksi, si pendek sudah terlebih dahulu roboh bersimbah
darah dari dua lubang tembakan di keningnya.
“Fyuuuh~ untung dia cukup dekat...” desah sebuah suara tanpa
bentuk di dekat Harry.
Sementara itu si besar juga tak tinggal diam. Ia langsung
mengacungkan tongkat ke arah Harry, namun sebelum sempat
mengucapkan mantera apapun, iapun roboh ke samping dengan
dua lubang tembakan di dahi kirinya.
“Sayang sekali mereka sempat melempar mantra...” ujar suara
misterius itu lagi, “Suit Decloak.”
Pemandangan yang tidak umum langsung menyambut Harry. Ia
mendapati seorang pemuda yang dibalut baju ketat berbahan
hitam mengkilat dari ujung kepala hingga ujung kaki,
kira-kira seumurannya, muncul dari udara kosong membawa
sepasang pistol berperedam suara.
“Kau...” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Harry.
“Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini... pasti sekarang
rumah kita penuh surat dari kementerian...” ujar sang pemuda
sambil melempar sebuah kacamata berlensa merah ke arah
Harry, “Pakailah. Kau bisa melihatku dengan kacamata itu.”
...
Mereka sekarang berdiri di sebuah bukit kecil, kira-kira
beberapa mil dari Privet Drive. Hujan masih turun, namun tak
sederas tadi.
“Nampaknya mereka masih bertempur dengan para Death Eaters
di daerah rumah Dursley. Kita belum bisa kembali sekarang,”
ujar sang pemuda misterius sambil mengecek sesuatu di
pergelangan tangannya.
“Kukira aku harus mengucapkan terima kasih,” ujar Harry
sambil melepas kacamata berlensa merah yang tadi dipakainya.
“Haha, tak masalah... sudah jadi tugasku untuk melindungimu,”
ujar sang pemuda sambil tersenyum. Rambutnya yang pirang
sepundak menjuntai basah, baru bebas dari kungkungan tudung
baju yang sedari tadi dikenakannya.
“Jadi sebenarnya siapa kau?” lanjut Harry penasaran, “Apa
kau anggota Orde juga?”
“Secara formal bukan, tapi kira-kira begitulah...” ujar sang
pemuda sambil mengibas-ngibaskan rambut basahnya, “Sudah
beberapa bulan ini kami menggantikan para Dursley sambil
menunggu saat yang tepat.”
Harry tersentak. Jelas-jelas ia berada di sekitar para
Dursley selama liburan musim panas ini, namun sedikitpun ia
tidak menyadari kalau para Dursley “digantikan”.
“Tapi bagaimana...?” desis Harry tak percaya.
“Yah, kami tidak sehebat kalian yang mempunyai Polyjuice...
tapi kami mempunyai teknologi holografi optik yang cukup
untuk mengubah penampilan kami, atau bahkan menghilang
seperti tadi,” jelas sang pemuda sambil mengulurkan tangan
ingin bersalaman, “Kita belum berkenalan. Kurz Weber, CSF.”
Ragu Harry menerima tangan sang pemuda.
“Kami unit khusus yang bekerja langsung dibawah komando
Albus Dumbledore. Dia ingin menjamin kemananmu secara tidak
mencolok di dunia muggle,” jelas Kurz sambil mengamati
sekeliling, “untuk itu, ia menjalin kerjasama dengan
beberapa perwira tinggi dari Pentagon, Downing 10, dan KGB
untuk membentuk unit ini. Kau ingat Koa Reakizh... er,
maksudku Angeline Marguerite? Kudengar dia ditempatkan di
Gryffindor juga.”
“Kukira aku pernah mendengar namanya sepintas... ia bawahan
kalian juga...?” tanya Harry sambil mendengarkan penjelasan
yang sepintas tak masuk akal itu.
“Yah, boleh dikatakan begitu. Kami juga mempunyai kontak di
asrama lain. Bahkan salah satu pengurus Hogwarts pun menjadi
kontak kami atas perintah Dumbledore,” jawab Kurz sambil
duduk di sebuah batang kayu melintang, “Tapi hal itu tidak
penting sekarang. Yang sekarang sedang kami pikirkan adalah
bagaimana kami melumpuhkan sebuah fasilitas milik Lucius
Malfoy dekat sini...”
“Fasilitas macam apa?” sambar Harry cepat.
“Maaf, tapi hal ini masih perlu penyelidikan lebih lanjut.
Kami seharusnya belum melepas informasi ini ke pihak
Kementerian...” sahut Kurz sambil menoleh ke arah timur.
“Tapi... kukira ini saat yang tepat untuk meyerbunya!”
sembur Harry sambil berdiri, “Kalau letaknya dekat sini,
pasti sebagian penjaga yang ada dialihkan untuk meyerbu
Privet Drive! Penjagaan pasti melemah!”
“Kau benar juga... yah, kukira tak ada salahnya kita
mengintip mereka sebentar,” ujar Kurz sambil tersenyum.
...
“Gyr Dolour Base... begitulah yang dikatakan beberapa Death
Eater yang berhasil kami tangkap dan kirim ke Tel Aviv.
Entahlah, mungkin kata-kata itu yang ditangkap oleh
agen-agen Mossad, tapi rata-rata mereka mengakui adanya
fasilitas ini,” jelas Kurz yang berdiri di atas bukit yang
berdiri di belakang fasilitas itu.
“Hmm... seperti yang kukira, penjagaannya agak longgar...”
gumam Harry sambil mengamati patroli-patroli yang menjaga
bangunan bak benteng yang membentang dibawah mereka itu,
“walaupun begitu, tetap sulit membobol fasilitas ini berdua...”
“Berminat mengetuk pintu depan dan masuk?” canda Kurz sambil
tertawa kecil. Harry tetap tenang, tapi tak urung saran Kurz
itu membuatnya bergidik juga.
Tiba-tiba suara kemeresak terdengar dari belakang mereka.
Harry dan Kurz langsung menyembunyikan diri mereka dengan
perangkat persembunyian masing-masing. Dengan gugup mereka
menunggu wujud benda yang mengagetkan mereka tadi.
“GROOOARR!”
Tiba-tiba sebuah cakaran mendarat di pundak kanan Harry,
merobek kulitnya dengan ganas. Kurz langsung menembak 2
kali, sedikit diatas pundak Harry yang tercakar itu, namun
tampaknya tembakan Kurz hanya menembus angin.
Petir menyambar keras, dan tampaklah penyerang mereka.
Seekor hewan besar, namun berdiri diatas dua kaki yang
dipunyainya. Mulutnya yang sedang menyeringai tampak penuh
gigi tajam, sementara ujung jarinya dilengkapi cakar besar.
Kulitnya dipenuhi bulu berwarna loreng.
“Weretiger...” desis Kurz sambil melongok sekeliling, “ini
benar-benar jelek... pasti sebentar lagi para Death Eater
yang berjaga akan menghampiri kita...”
“Revitalia,” geram Harry sambil mengarahkan tongkatnya ke
luka yang baru didapatnya. Luka itu pun menutup perlahan.
Belum sempat luka itu tertutup total, sang weretiger
menyerang lagi. Harry sempat mengelak, namun tak urung
mantera penyembuhan yang dirapalnya gagal dan lukanya
terbuka lagi.
“Harry, kau pergilah duluan! Aku akan menahannya sebentar
disini!” teriak Kurz sambil menembak tangan sang weretiger
dua kali. Namun kemampuan penyembuhan weretiger yang sangat
tinggi membuat tembakan Kurz seolah tak berguna. Luka akibat
terjangan peluru itu segera menutup. Sang weretiger pun
menyerang Kurz lagi, namun dengan lincah ia mengelak.
“Incendio,” bisik Harry sambil mengarahkan tongkatnya ke
sebatang kayu tumbang. Sebentar kemudian, api yang cukup
besar berkobar di kayu itu. Segera Harry menaburkan bubuk
floo ke dalam api tersebut, lalu dengan cepat masuk tanpa
sempat memikirkan tujuannya dengan jelas.
...
Suasana yang cukup ceria menyelimuti seluruh bangunan kastil
Hogwarts, didukung oleh dekorasi yang meriah untuk
penyambutan murid baru. Prof. McGonnagall sementara menjabat
sebagai kepala sekolah, sementara Kementerian menyeleksi
para calon yang tepat untuk kepala sekolah tetap.
Namun, kegembiraan itu seperti tidak ditakdirkan berlangsung
lama.
Dua orang elf berkulit gelap tampak bertemu dalam sebuah
ruangan bawah tanah yang diterangi temaram oleh sebatang
lilin. Seorang manusia, yang tak lain adalah Severus Snape,
tampak sudah menunggu mereka.
“Vendui’,” ujar Snape pendek dalam bahasa
drow, bahasa ibu
para dark elf yang menemuinya itu.
“Sel’varess, hau phor gaer?” tanya seorang gadis elf
berkulit-gelap. Bagaimana
di atas sana, tanyanya dalam bahasa drow.
“Cukup bagus. Mereka sedang menghadiri acara pembukaan tahun
ajaran,” ujar Snape sambil meminum sebotol kecil ramuan,
“Nau alur draeval.”
Tak ada waktu yang lebih
baik, memang, pikir sang gadis, membenarkan kalimat
terakhir Snape yang dikatakannya dalam bahasa drow.
“Dos orn tlu phlithus, Sel’varess, usstan dalninuk,” ujar
sang pemuda sementara sosok Snape berubah menjadi dark elf
seperti mereka. Sorot matanya seakan mengatakan apa yang ia
katakan dalam bahasa drow tadi:
Kau akan dibenci,
Sel’varess saudaraku...
“Xunin ukt khaless zhah phor jal,” balas Snape/Sel’varess
sambil menepuk pundak sang pemuda dan tersenyum penuh arti.
Sang pemuda hanya tersenyum saat ia mendengar pepatah lama
kaum dark elf tentang kepercayaan itu:
menunaikan kepercayaannya
adalah diatas segalanya.
“Saa, udos thalackz’hind?” ujar sang gadis, setelah
Sel’varess selesai memperlengkapi dirinya.
Apakah kita akan menyerang?,
batinnya bertanya.
“Xas. Jal Oloth Velven wun k’lar, Drizzt?” tanya Sel’varess.
Apakah semua Pisau
Kegelapan sudah di tempatnya, pertanyaan Sel’varess
menyadarkan Drizzt, sang pemuda dark elf itu, dari lamunan
sejenaknya.
“Xas, xas... jal wun k’lar. Usstan uil vust’av,” jawab
Drizzt sekenanya. Ia yakin sudah mengecek posisi para
anggota Pisau Kegelapan sebelum ke sini.
“Bwael. Faernen wun k’lar, M’ein?” ujar Sel’varess sambil
menoleh ke arah sang gadis. Sang gadis hanya mengangguk
untuk menjawab pertanyaan Sel’varess yang menanyakan apakah
para penyihir sudah bersiaga ditempatnya.
“Bwael, bwael... thalckz’hind nina...”
Dinding-dinding bisu seakan mengulangi perintah terakhir
Sel’varess/Snape.
Bagus, bagus... serang
mereka...
----------------------------
sudah saatnya barang ini dipost ^^ daripada kelamaan
dipendam...
Kembali
Next
Previous |