APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

Chapter 0
First Steps




shizukana kono yoru ni anata wo matteru no
ano toki wasureta hohoemi wo tori ni kite
are kara sukoshi dake jikan ga sugite
omoide ga yasashiku natta ne.


Di malam sunyi ini, aku menunggumu
Seyummu telah pudar dimakan waktu
Dan sekarang, setelah sedikit waktu berlalu,
Kenangan indah mulai muncul kembali.



Seorang gadis berambut perak duduk di ambang jendela sebuah menara yang menjulang cukup tinggi dari atas tanah. Matanya memandang kosong langit malam yang cerah bertaburan bintang.

“Hmm~ rupanya kau di sini, mawar kecilku yang manis,” ujar seorang lelaki paruh baya yang berdiri di ambang pintu, “Menikmati langit malam yang indah?”

“Ya, paman Forbes,” jawab sang gadis datar, tanpa ekspresi. Walaupun begitu, gerak dan bahasa tubuhnya melambangkan penghormatan.

“Asa, Nerine, dan ayahmu sedang berbincang di bangku bawah,” balas lelaki bernama Forbes itu sambil tersenyum, “tak mau bergabung dengan mereka?”

“Aku...” jawab sang mawar kecil sambil memandang bulan, ragu.

“Aku mengerti,” potong Forbes pelan sambil berjalan ke arah jendela, “Dia sedang bergerak kan?”

Sang mawar kecil hanya mengangguk. Sekilas ia tampak sedikit sedih.

“Tirai telah tersingkap...” balas Forbes dengan mata menerawang jauh.


hoshi no furu basho de
anata ga waratte irukoto wo
itsumo negatteta
ima tookutemo
mata aeru yo ne


Di tempat bintang-bintang beralih,
Ku selalu mengharap senyummu.
Walaupun terpisah sekarang
Kita bisa bertemu kembali, kan?



Seorang gadis berambut panjang tampak sedang menyisir rambutnya yang sedikit acak-acakan. Memandang ke arah meja, ia mendesah pendek.

Di sana terletak sebuah pigura kecil yang berisi sebuah foto tiga orang.
Ia tersenyum kecil, sebelum mendesah murung lagi.

“Hermione~~~ makan pagi sudah siap~~!”

“Ya Mom, aku segera ke sana...” seru Hermione menjawab ibunya sambil merapikan rambutnya untuk yang terakhir kali.

Menoleh untuk terakhir kali ke arah meja, ia mendesah lagi. Ada sesuatu yang tidak beres... dan besar.


itsu kara hohoemi wa konna ni hakanakute
hitotsu no machigaide kowarete shimau kara
taisetsuna mono dake wo hikari ni kaete
tooi sora koete yuku tsuyosade


Sejak senyumku memudar ditelan waktu
Hancur berkeping karena satu kesalahan
Ubahlah kenangan berharga menjadi cahaya dan
Tembuslah angkasa dengan kekuatannya.



Seorang gadis muda berambut pendek sedang berjalan mengelilingi sebuah fasilitas penampungan dan pengembangan klon. Nampak ia memegang sebuah clip-board dengan catatan tentang beberapa obyek penelitian yang sedang disimpan dalam ruangan itu.

“Bagaimana perkembangannya?” tanya seorang figur berjubah hitam yang baru saja memasuki ruangan.

“Semua klon dalam keadaan nominal. Laju pertumbuhan, + 99%. Diharapkan selesai dalam 4-5 bulan ke depan,” jawab sang gadis tanpa ekspresi.

“Bagaimana dengan batch pertama?” lanjut sang sosok misterius.

“Telah selesai beberapa hari yang lalu. Anda ingin meninjaunya?” jawab sang gadis dingin.

“Bagus sekali. Aku bisa memulai percobaan ini,” jawab sang sosok misterius sambil tertawa kecil.


hoshi no furu basho e
omoi wo anata ni todoketai
itsumo soba ni iru
sono tsumetasa wo dakishimeru kara
ima tookutemo
kitto aerune


Di tempat bintang-bintang beralih,
Ku harapkan sukmaku mencapai dirimu.
Ku kan selalu di sampingmu
Karena ku ingin menyongsong dingin itu.
Walaupun kita terpisah sekarang,
Kita pasti ‘kan kembali bersama.



Seorang pemuda berperawakan kecil menatap ke luar jendela kecil yang menghadap ke Privet Drive. Malam yang cukup gelap, ditingkahi gerimis hujan rintik, membuat suasana muram yang dialaminya sejak awal liburan musim panasnya semakin tidak mengenakkan.

Sejenak terpikir olehnya berbagai peristiwa yang telah dialaminya saat ini. Kematian orang yang telah berusaha menyelamatkannya. Kehancuran dan pembunuhan yang telah dilakukan di atas namanya.

Ia mendesah sedih.

“Ini telah sampai pada kesimpulannya...” ujarnya pelan, “Cukup aku yang menanggung semua ini...”

Dengan langkah dan bahasa tubuh yang pasti, ia membuka daun jendela yang menghubungkannya dengan dunia luar itu. Disandangnya sebuah ransel bekas yang agak kusam, penampung benda-benda yang mungkin diperlukannya, sebelum ia memakai satu-satunya pakaian peninggalan ayahnya.

“Ini adalah pertempuran terakhir...” ujarnya pada diri sendiri, memompa percaya dirinya hingga titik maksimum.

Dengan langkah yang mantap, ia melompati jendela dalam balutan Invisible Cloak, menuju pelukan malam sepi yang telah menunggunya.


shizuka na yoru ni

Dalam malam sepi ini...



----------------------------
jangan heran, karena fic ini hanya Curtain-raiser/preview/promo untuk fanfic baru gw. tapi harus sabar yah, minimal baru sebulan - 2 bulan lg keluar di sini Very Happy kalau mau komentar, boleh bikin thread baru, tapi klo mau hemat2 benwit ya di sini aja ^^


Kembali       Next
Hosted by www.Geocities.ws

1