APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

CHAPTER 3


London, 31 Juli
Sore bertanda tanya

“Harry, aku tahu. Pasti kau yang melakukan itu. Kau yang membangunkan ular itu. Pasti kau!” ucap Paman Vernon dengan penuh keyakinan.

“Bagaimana bisa, Paman? Aku tidak memecahkan kaca itu. Kaca itu bahkan hilang seketika tanpa aku menyentuhnya.”

“Itulah sebabnya aku yakin kau yang melakukannya, Harry. Kaulah satu-satunya orang di sana yang aku percaya bisa melakukannya tanpa menyentuh kaca itu.”

“Tapi aku kan tidak bisa sulap, Paman.”

“Bukan, bukan sulap. Itu sihir, Nak. Kau telah menyihir kaca itu agar lenyap dari tempatnya. Kau juga yang menyihir ular itu untuk menyelamatkan Dudley-ku. Kau ini penyihir, Harry. Penyihir.” dengan gigihnya Paman Vernon mencoba menjelaskan. Kata-kata Paman Vernon bertubi-tubi menghantam tiap lapisan otaknya.

Kini Harry bagai tersambar petir di siang bolong. Harry merasa inilah satu-satunya pernyataan Paman Vernon yang paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar. Harry sudah lama tahu kalau otak pamannya ini agak kurang beres. Sekarang, ia makin yakin dengan dugaannya.

“A-a-apa? Penyihir? Aku penyihir? Ha…ha…ha… Paman pasti bercanda. Ya, kan?” Harry yakin ini hanya salah satu lelucon tidak lucunya Paman Vernon.

“Tidak, Harry. Aku tidak bercanda. Sudah lama aku ingin menyampaikan ini padamu. Aku sangat bangga bisa bertemu bahkan mengenal seorang penyihir. Kau tahu, bagiku sihir itu luar biasa hebat. Sihir bisa membuat hidupmu jauh lebih mudah.”

Karena merasa pamannya sudah benar-benar gila, Harry memandang bibinya. Ia minta bantuan Bibi Petunia untuk meyakinkan dirinya bahwa semua yang dikatakan pamannya tidak benar. Baru saja ia hendak bertanya pada Bibi Petunia, bibinya sudah lebih dulu berkata, “Itu benar, Harry. Kau penyihir. Kau memang penyihir.”

“Tidak mungkin. Tidak! Mana mungkin!” Harry masih saja tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Ya, Harry. Itu benar. Ibumu, Lily yang juga adikku, adalah penyihir. Hari itu persis sama dengan hari ini. Lily mendapatkan surat yang sama dengan yang kau dapatkan tadi pagi. Sekarang, bukalah surat itu agar kau lebih merasa yakin.”

Akhirnya Harry memutuskan untuk membuka suratnya. Ia hampir gila karena kata-kata dua orang dewasa ini. Harry benar-benar merasa harus mencari tahu kebenaran antara ia atau paman dan bibinya yang tidak waras.

SEKOLAH SIHIR HOGWARTS

Kepala Sekolah: Albus Dumbledore
(Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)

Mr Potter yang baik,
Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan.
Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menunggu burung hantu Anda paling lambat 31 Juli.

Hormat saya,
Minerva McGonagall
Wakil Kepala Sekolah*

Selesai membaca, Harry menghempaskan surat itu ke lantai. Kini, ia yakin bahwa ia yang tidak waras. Bagaimana bisa kata-kata Paman Vernon dan Bibi Petunia yang baginya sangat tidak masuk akal itu adalah fakta yang sebenarnya. Ya, akulah yang gila, batin Harry.

“Nah, aku benar, kan? Kau diundang ke Hog… ‘Hog’ apa, Petunia sayang?”

“Hogwarts.”

“Ya, itu dia. Hogwarts. Kau diundang ke sana, kan? Setahuku Hogwarts adalah sekolah sihir. Tentu yang bersekolah di sana adalah para penyihir. Karena kau diundang sekolah di sana, itu berarti kau penyihir.”

Kini, Harry sudah tidak bisa membantah lagi. Harry hanya bisa tertegun dengan pikiran menerawang melayang-layang entah ke mana.

Tiba-tiba ia teringat dengan pembicaraan Bibi Petunia tentang ibunya. Bukankah selama ini bibinya selalu bilang kalau ia tidak mengenal orang tua Harry. Bukankah bibinya selalu berupaya meyakinkan satu-satunya kemungkinan yang ada tentang orang tuanya adalah kematian orang tua Harry disebabkan oleh kecelakaan mobil. Ia berharap paling tidak kewarasannya masih berlaku pada hal ini.

“Bibi, tadi kau bilang ibuku -Lily- adalah adikmu. Apa itu benar? Kau tidak serius, kan?”

Petunia ingat akan kata-katanya tentang Lily tadi. Ia tadi hanya bermaksud membenarkan kata-kata Vernon. Namun, secara tak sadar, dirinyalah yang membuka tabir masa lalu Harry Potter.

“Err… Apa iya aku berkata begitu? Emm… sebenarnya…”

“Ya, Bi. Kau tadi bilang begitu. Sebenarnya… sebenarnya apa, Bi?”

Petunia merasa sudah tidak bisa mengelak lagi. Lagipula, ia pikir sekarang saat yang tepat untuk menceritakan segalanya. Segala yang ia tahu tentang asal usul Harry.

“Begini, Harry. Maafkan aku dan Paman Vernon karena telah membohongimu selama ini. Ayah dan ibumu bukan mati karena kecelakaan mobil. Aku pun kenal dengan mereka, kenal dengan ibumu lebih tepatnya. Lily Evans, dia adikku. Tapi ayahmu, aku tidak tahu betul. Yang jelas, laki-laki bernama James Potter itu ditemukan Lily di Hogwarts. Aku tidak jelas soal cara mereka mati. Yang kutahu kejadian itu sangat mengerikan. Hanya ada ledakan dan kupikir ledakan itulah yang membunuh Lily dan si Potter itu.”

Penjelasan Bibi Petunia tentang orang tuanya mencengangkan Harry. Harry hampir tidak percaya kalau Bibi Petunia membohonginya selama ini. Ayah ibuku mati karena ledakan? Ledakan apa? batin Harry.

Tak berapa lama kemudian Harry merasakan kepalanya berdenyut seolah berjuta tanda tanya memenuhi otaknya. Harry sudah tak tahan lagi dengan segala fakta yang menurutnya luar biasa tidak masuk akal itu. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana, sedangkan menurut Paman Vernon ia harus menjawab panggilan dari sekolah antah berantah itu malam ini juga.

To be continued…

*Harry Potter dan Batu Bertuah, JK Rowling, hal. 69


written and imaginated by,

_________MG__________
(March, 17th 2006)

Kembali     Next     Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1