APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

CHAPTER 2


London, 31 Juli
Siang menegangkan

Masih di hari ulang tahun Harry Potter, siang harinya, Harry dan keluarga Dursley memutuskan untuk merayakan hari jadi Harry dengan pergi ke kebun binatang. Harry sebenarnya tidak ingin ulang tahunnya dirayakan, terlebih lagi jika ia tahu perayaan itu membuatnya sekarang jadi tontonan orang satu kebun binatang. Bagaimana tidak, Paman Vernon mengadakan pesta ulang tahun kesebelas Harry tepat di tengah-tengah kebun binatang itu. Sekarang, semua pasang mata yang ada di sana -tak terelakkan- tertuju padanya.

Paman dan bibinya memang aneh. Sepanjang yang ia tahu, mana ada orang yang memilih kebun binatang sebagai tempat merayakan ulang tahun. Namun, setelah satu jam ia tersiksa dengan ratusan pasang mata memandang aneh, ia bersyukur akhirnya Paman Vernon dan Bibi Petunia menyudahi atraksi mereka.

Selepas pesta, Harry memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri saja. Kesempatan emas untuk melepas bosan akan suasana Privet Dirve nomor 4 tidak akan ia sia-siakan begitu saja. Lagipula ia butuh waktu sendiri untuk memutuskan sikap apa yang harus diambilnya untuk menghadapi surat aneh itu.

Baru beberapa meter menjauh dari paman dan bibinya, ia sudah menemukan Dudley yang sedang dikelilingi sekerumunan anak bertampang mengerikan. Harry juga heran kenapa setiap detik dalam hidupnya seakan tidak bisa dipisahkan dengan keluarga Dursley. Kini ia harus berurusan dengan anak-anak berandal tadi demi saudara sepupunya. Jangan harap Dudley bisa membereskan anak-anak ini. Meskipun memiliki tubuh besar, tubuhnya itu tidak lebih dari gelembungan balon yang tidak menyimpan secuil kekuatan pun.

Sebelum ia menghampiri Dudley dan membantunya mengusir preman-preman kecil itu, pandangan Harry teralihkan ke sebuah etalase raksasa. Di balik kaca etalase itu, seekor ular boa raksasa yang kelihatannya mampu meremukkan tubuh dalam sekejap mata, tiba-tiba terjaga dari tidur nyenyaknya. Tiba-tiba saja ular itu memusatkan matanya ke mata Harry. Tanpa bisa dikendalikannya, Harry pun menatap kedua mata ular itu. Lalu, di luar kesadarannya, Harry bergumam -atau bisa dibilang berbicara- dengan ular itu.

“Kenapa kau bangun?” tanya Harry.

“Aku ingin membantumu. Aku tahu. Kau ingin menyelematkan anak gendut yang tidak bisa apa-apa itu, kan? Biarkan aku melakukannya untukmu,” jawab si ular raksasa.

“Bagaimana bisa? Apa yang akan kau lakukan?” Harry masih saja bingung. Ia tidak habis pikir kenapa ia bisa tahu isi kepala ular itu.

“Percaya saja padaku. Lihat saja!”

Tiba-tiba saja kaca yang tadinya ada di sana sebagai pembatas antara ular boa itu dengan dunia luar hilang seketika. Sang ular mulai bergerak, mendesis-desis. Boa itu bergerak mendekati Dudley yang keadaannya sudah makin terjepit. Mungkin Dudley sudah hampir kehabisan napas karena dikelilingi oleh anak-anak yang seakan ingin menyedot habis seluruh oksigen yang mampu Dudley hirup.

Begitu si ular sudah ada dalam jarak sangat dekat dengan anak paling belakang di antara anak-anak yang mengerumuni Dudley, kehebohan segera saja terjadi. Si anak tersadar kalau di belakangnya ada seekor ular raksasa yang siap memangsanya.

“U-u-ularrr!!!” teriak anak itu.

“Apa?” anak-anak yang ada di depannya masih belum yakin dengan jeritan yang sekilas mereka dengar. Namun, ketika mereka menoleh ke belakang…

“Ular!!! Lar… Lar… Lari…” seketika saja seluruh anak yang tadi mengerubungi Dudley lari kocar kacir. Sementara itu, Dudley masih terpaku di tempatnya. Ia masih belum sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi.

Sesaat kemudian, ular terbesar yang ada di kebun binatang itu mulai merayap mendesis-desis lagi, meninggalkan Dudley yang mematung. Ia lalu menghampiri Harry. Peristiwa dialog antara Harry dan sang ular terjadi lagi.

“Aku sudah membalas budimu. Terima kasih kau sudah menyelematkanku dari kebosanan yang nyaris abadi. Utangku impas.”

Harry bingung setengah mati. Ia bertanya-tanya dalam hati apa yang telah dilakukannya untuk menyelamatkan ular itu. Yang ia tahu, kaca tadi hilang dari begitu saja lalu si ular keluar dengan sendirinya. Walau dilanda kebingungan luar biasa, secara tak sadar bibirnya bergumam.

“Ya. Terima kasih juga telah menyelamatkan sepupuku.”

Si ular merayap menjauhi Harry. Jauh dan semakin menjauh. Pergi meninggalkan sebuah kurungan membosankan.

Setelah si boa tak tampak lagi di matanya, Harry bergegas menghampiri Dudley. Ia membantu Dudley untuk sadar dari keterkejutannya. Harry tak ingin Paman Vernon dan Bibi Petunia melihat kondisi Dudley saat ini. Rona pucat pasi dengan ekspresi penuh ketakutan tergambar jelas di wajah bulat Dudley.

Di sisi lain, Paman Vernon dan Bibi Petunia tergopoh-gopoh berlari menghampiri Dudley dan Harry. Tiba-tiba saja…

“Terima kasih, Harry. Kau telah menyelamatkan Dudley. Kau yang mengeluarkan ular itu untuk menghalau gerombolan anak tadi, kan? Aku tahu pasti kau yang melakukannya.” segenap hati Paman Vernon menghaturkan terima kasih pada Harry.

“Iya, terima kasih, my sweety boy. Dinky duddidums, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Mereka tidak menyakitimu, kan?” Bibi Petunia memberondong Dudley dengan sejumlah pertanyaan. Ia sangat mengkhawatirkan putra semata wayangnya itu.

Dengan tergagap Dudley mencoba menjawab, “A-a-aku b-b-baik-baik sa-saj-saja, Mom.” Dudley sebenarnya tidak yakin kalau ia oke, tapi ia tidak mau membuat ibunya khawatir.

To be continued…


written and imaginated by,

_________MG__________
(March, 11 2006)

 

Kembali     Next      Previous

Hosted by www.Geocities.ws

1