APAKAH             FESTIVAL           OWLERY

 

CHAPTER 1


London, 31 Juli
Pagi menggemparkan

Sebelas tahun yang lalu seorang bocah bernama Harry Potter lahir dari rahim penyihir wanita, Lily Potter. Harry tidak tahu banyak tentang ibu ataupun ayahnya. Fakta bahwa ayah ibunya adalah penyihir terkubur bersama waktu yang terus berlalu. Satu-satunya hal dari masa lalu yang ia ketahui, hanyalah bahwa ia diletakkan di depan pintu rumah keluarga Dursley. Keluarga yang kemudian dikenalnya sebagai paman, bibi, dan seorang saudara sepupunya inilah satu-satunya keluarga yang -ia ketahui- bisa dijadikannya tempat berlindung.

Selama ini Harry hanya seorang anak laki-laki biasa yang jauh dari kata luar biasa. Namun, sebenarnya ia adalah seorang yang bahkan sepanjang sebelas tahun dan mungkin seumur hidupnya tidak akan pernah ia bayangkan kalau saja ia tidak dikagetkan pagi itu, penyihir.

Pagi itu, mungkin akan berjalan seperti biasanya, seandainya ia tidak menerima surat aneh yang dengan sangat jelas ingin menunjukkan bahwa surat itu khusus dikirim untuknya. Di bagian depan surat jelas tertulis:
_Mr. H. Potter
_Lemari di Bawah Tangga
_Privet Drive no 4
_Little Whinging
_SURREY(*)

Tidak ada nama pengirim, apalagi alamat pengirim. Hanya ada cap bertuliskan huruf ‘H’ di bagian belakang amplop surat itu. Ini juga surat pertama yang ia terima dalam hidupnya. Karena itulah, ia ragu apakah ia akan membuka surat itu atau tidak. Siapa orang yang mau mengiriminya surat? Tidak ada orang-orang di luar sana yang mengenalnya selain keluarga Dursley. Lagipula, tidak mungkin teman-teman sekolahnya akan mengiriminya surat.

Herannya, surat yang bagi Harry penuh misteri itu, membuat Vernon Dursley -pamannya- tersenyum senang. Wajah penuh kebanggaan dan seakan ingin menunjukkan betapa leganya ia karena akhirnya hari yang telah dinanti-nantikannya tiba juga. Paman Vernon bahkan meminta Harry untuk segera membuka surat itu.

“Ayo buka, Harry. Aku sudah tahu kalau suatu hari kau akan mendapatkannya,” ucap Paman Vernon dengan penuh antusias.

Harry masih bimbang, apakah ia akan membuka surat itu atau tidak. Baginya, surat aneh itu sedikit mencurigakan. Petunia Dursley, bibinya yang juga sudah tahu gambaran isi surat itu nampak tidak seantusias Paman Vernon. Ia bahkan nampak murung sejak kedatangan surat itu.

Sementara Dudley Dursley, anak tunggal keluarga Dursley yang ukuran tubuhnya agak lebih besar dibanding anak seusianya, nampak tidak peduli dengan kehebohan yang terjadi di rumahnya pagi itu. Sandwich, burger, roti panggang, omelet, dan segelas susu nampaknya lebih mampu menarik perhatiaannya daripada sepucuk surat yang belum jelas dari mana asal datangnya.

Kebimbangan di hati Harry masih terus saja terjadi. Bibi Petunia sendiri memilih untuk diam seribu bahasa, tanpa ada komentar apa-apa. Jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya ingin Harry tidak akan pernah menerima apalagi membuka surat itu.

To be continued…

(*) Harry Potter dan Batu Bertuah, JK Rowling, hal. 47

written and imajinated by,

_________MG_________
(March, 10th 2006)

Kembali      Next
 

Hosted by www.Geocities.ws

1