|
Chapter 1: Green Valley
Tanda kehidupan mulai
tampak di desa kecil yg diapit gunung-gunung tinggi di
pedalaman Scotland. Desa Green valley begitu orang – orang
menyebutnya.
Sinar mentari pagi yg cerah menerobos masuk ke
jendela-jendela usang menyapa orang-orang yg memulai hiruk
pikuk rutinitas dipagi hari.
Sementara itu di salah satu kamar di dalam sebuah rumah
besar diatas bukit, seorang remaja kurus berhidung bengkok
masih tertidur pulas. namun tiba-tiba dari lantai satu
terdengar suara meleking seorang perempuan memecah kesunyian
’’Albus bangun’’ kata si perempuan. ”Albus cepat bangun klo
tidak kita akan telat’’ tambah si perempuan lagi.
Dengan agak malas remaja berhidung bengkok yg di panggil
Albus ini menjawab, ’’ Iya mom, sepuluh menit lagi aku turun’’.
Dengan tergesa gesa Albus memakai pakaiannya menyisir rambut
panjangnya dengan tangan dan menuruni tangga kayu yg
berderit derit seakan protes karena puluhan tahun di injak
injak oleh manusia.
Setelah menuruni tangga, Albus langsung menuju ruang makan
dimana seorang perempuan berambut hitam bermata coklat dan
sangat cantik untuk ukuran perempuan di usianya sedang sibuk
mengolesi roti dengan mentega.
’’Mom kenapa membuat sarapan dgn cara muggle?’’ tanya Albus,
’’ Oh kau sudah turun rupanya’’ kata si perempuan. ’’Albus
sayang, kadang-kadang kita harus belajar cara-cara muggle,
dengan begitu kita bisa tau kesulitan yg mereka hadapi dalam
menjalani hidup tanpa karunia kemampuan sihir, seperti yg
Satu telah berikan kpd kita kaum penyihir’’ tambahnya.
’’Mom dimana Aberforth ’’ tanya Albus lagi ’’ dia sudah
pergi bersama ayah mu ke kantor dan nanti kita akan ketemu
di Diagon Alley, adikmu sudah tak sabar menunggu hari
pertamanya membeli tongkat dia bangun pagi sekali dan tidak
mau menunggu makanya dia ikut ayahmu kekantor’’ jawab si
perempuan.
Mendengar ini Albus teringat hari pertamanya membeli tongkat
ditempat Mr Roderik Olivander. masih jelas diingatanya
perasaanya saat itu, saat mengetahui dia masuk Hogwarts dan
sudah boleh membeli tongkat. ’’Sayang cepat makannya’’ kata
si perempuan membuyarkan lamunan Albus.
Setelah menghabiskan roti dan segelas susu dengan
terburu-buru Albus mengikuti ibunya ke perapian. Ibunya
mengambil segenggam bubuk di sebelah perapian, kemudian
masuk ke perapian dan sambil menaburkan bubuk yg di
genggamnya dia berkata ‘’Diagon Alley’’ dan langsung lenyap
dgn kilatan nyala api hijau.
’’Seandainya mom setuju kita ber Apparate’’ gerutu Albus
dalam hati. ’’Diagon Alley’’ ucapnya kemudian,yg setelah
mengucapkan kata itu langsung merasakan sensasi berputar dan
meluncur dalam api hijau hangat melewati banyak perapian
sebelum akhirnya berhenti.
Dengan terbatuk-batuk
Albus keluar dari perapian besar dan mendapati dirinya ada
di sebuah ruangan yg padat di penuhi penyihir. Ruangan ini
sangat familiar bagi Albus, ruangan berbentuk kubus besar
dgn lantai dari kayu, ruangan ini terkesan kuno dan sangat
tidak menarik seandainya tidak ada banyak penyihir di tempat
itu.
Tepat di depan Albus berdiri, ada sebuah pintu dari kayu
mahoni pintu ini sangat besar menurut ukuran Albus, hampir
sama besar dengan pintu aula Hogwarts. Di atas pintu kayu
tertulis ‘’ Stasiun Floo ‘’ . Di sebelah kiri dan kanan,
Albus melihat perapian yg berderet-deret dan di depannya
terdapat antrian penyihir.
Albus mendapati ibunya bercakap-cakap dengan seorang gadis
usia belasan yg bagi Albus gadis ini sangat cantik dan
kebetulan dia mengenalnya.
Masih jelas di benak Albus bagaimana dulu pertemuanya dengan
gadis itu. Saat itu hari pertama dia menjejakkan kakinya di
Hogwarts, aula penuh celoteh anak-anak yang dengan antusias
menunggu proses seleksi, meski tentu saja beberapa anak
terlihat tidak sabar dan ingin segera menyantap hidangan
Hogwarts yg lezat.
Albus berbaris dengan anak-anak kelas satu yang lain didepan
meja guru, dimana topi seleksi di letakan di sebuah kursi
tua yg bahkan Albus berpikir kursi itu akan patah saat dia
mendudukinya.
Tiba-tiba seseorang berbisik di telinga Albus, ‘’ Aku sangat
gugup kau bagaimana?’’ Albus menoleh dan disebelahnya
berdiri gadis cantik yg tersenyum padanya.
Gadis ini lain dari yang lain, dia berkulit kuning berhidung
mancung dengan mata yg sangat indah khas gadis-gadis negara
timur. ‘’Oh..er..aku ok ‘’ jawab Albus. Tiba-tiba suara
serak seseorang terdengar, ‘’ Selamat datang murid-murid
kelas satu seperti yg sudah di jelaskan sebelumnya bahwa
kalian akan mengikuti seleksi untuk menentukan di asrama
mana kalian tinggal, baiklah sebaiknya segera dimulai,
silahkan professor Jackson ‘’.
Seorang penyihir tua yg memakai jubah hitam lusuh maju
kedepan sambil membawa perkamen dan dia mulai memanggil
anak-anak kelas satu sesuai abjad.
Setelah beberapa anak maju kedepan… ‘’Albus Dumbledore ‘’
panggil professor Jakson, Albus maju kedepan dan dengan
hati-hati duduk di kursi tua tempat topi seleksi diletakkan,
dan dengan hati-hati pula memakai topi yg kemudian berbicara
di atas kepalanya, ‘’Sangat berbakat, genius malah, berani,
ambisius, bijaksana, dan aurora kekuatan mu sungguh luar
biasa, tapi dimana menempatkanmu?’’.
Sejenak topi seleksi diam, Albus hanya berpikir, ‘’ Jangan
tempatkan aku di tempat penyihir jahat terbentuk dan
berkumpul ‘’. Tiba-tiba topi seleksi berbicara lagi, ‘’
Permintaan yang sangat bijaksana, baiklah aku rasa aku tau
dimana menempat kan mu….RAVENCLAW ‘’ teriak topi seleksi yg
disambut tepuk riuh dari meja Ravenclaw.
Albus langsung duduk dimeja Ravenclaw di sebelah remaja
tanggung yg menyematkan lencana biru berbentuk huruf ‘’ P ‘’
di dadanya. Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya
professor Jakson berkata, ‘’ Deborah Xiao Yu ‘’, gadis yg
tadi berbicara dengan Albus maju ke depan dan bahkan sebelum
topi seleksi menyentuh telinganya topi seleksi sudah
berteriak, ‘’ RAVENCLAW ‘’ suara gemuruh tepuk tangan anak
Ravenclaw memenuhi aula. Gadis yg bernama Deborah Xiao Yu
langsung bergabung di meja Ravenclaw dan duduk di sebelah
Albus.
‘’ Selamat yach, er nama kamu keren ‘’ kata Albus sambil
tersenyum. ‘’ Oh…thanks…kau boleh memanggil ku Xiao Yu ‘’
jawab si gadis. ‘’ Albus sayang lihat siapa yg bersamaku ‘’
sebuah suara membuyarkan lamunan Albus, dan dia melihat
ibunya datang sambil menggandeng tangan Xiao Yu yg melambai
dan tersenyum kepadanya.
Kembali
Next
|