![]() |
Ditayangkan April 25, 2001
Jakarta Bebas Intrusi Air Laut?
Oleh : Soetrisno
S.
Di harian Kompas 2 April 2001, diberitakan bahwa air tanah Jakarta bebas
dari intrusi air laut. Meskipun diwartakan sehari setelah guyonan April,
mudah-mudahan berita tersebut benar adanya. Dengan demikian penduduk
Jakarta dapat bernafas lega, di tengah kesumpekan dan beratnya hidup saat
ini, bahwa sumur mereka terbebas dari ancaman intrusi air laut, sehingga
kelangsungan pasokan air mereka terjaga. Namun apakah memang demikian
kondisi air tanah di Jakarta saat ini?.
Hal intrusi air laut di Jakarta, terutama di bagian utara
sekitar garis
pantai, agaknya telah merupakan hal yang klasik diperdebatkan di kalangan
para ahli keairtanahan. Oleh sebab itu, sebelum sampai pada jawaban
pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, baiklah diuraikan terlebih
dahulu kondisi keairtanahan di Jakarta.
Tataan
geologi
Dalam kaitan dengan air tanah para ahli sering menyebut Jakarta sebagai
satu sistem cekungan air tanah. Sistem ini di bagian bawahnya dialasi oleh
endapan batuan kedap air (impermeable) yang berumur Miosen (kurang lebih
70 juta tahun sebelum hari ini), yang sebgian muncul di selatan
Jakarta, di sekitar Depok dan Ciseeng. Sementara isi dari cekungan ini
adalah endapan Kuarter (kurang lebih 3 juta tahun yang lampau) campuraduk
dari sedimen laut, endapan delta, laguna, endapan darat, dan kipas endapan
gunung api, terdiri dari pasir, lempung,lanau, tufa. Pada kala Holosen,
dalam jaman Kuarter tersebut, Laut Jawa menggenangi daratan Jakarta
sekarang ini hingga sekitar Gambir, dan mengendapkan sedimen laut dangkal.
Karena lingkungan pengendapan yang sebagian berada di lingkungan laut,
maka sebagian endapan tersebut mengandung kegaraman yang tinggi yang akan
mempengaruhi tingkat kegaraman yang terkandung di dalamnya.
Isi cekungan tersebut mempunyai ketebalan antara 0 m di bagian selatan dan
lebih dari 300 m di bagian utara dekat pantai. Artinya adalah, beberapa
isian dari cekungan ini ada di bawah dasar dari Laut Jawa di Teluk Jakarta
saat ini. Irisan vertikal dari isi cekungan ini didominasi oleh lapisan
yang bersifat lempungan, lapisan pasir hanya mengisi 20 % dari total isian
cekungn. Ketebalan lapisan pasir tunggal hanya sekitar 1 m hingga 5
m. (Soefner, 1985).
Tatan air
tanah
Daya meluluskan air secara horisontal dari lapisan batuan antara 0,1
m/hari dan 40 m/hari. Sementara kelulusan vertikalnya diperkirakan
berkisar antara 1/100 dan 1/5000 dari kelulusan horisontalnya. Ini artinya
adalah pergerakan air tanah secara horisontal di Jakarta pada dasarnya
tidak terlalu cepat, apalagi ke arah vertikal. Hal ini akan menentukan
jauh dan luasan sebaran intrusi air laut dari garis pantai.
Mengingat tataan geologinya, adalah sulit menetapkan satu
sistem akuifer yang dapat dirunut secara menerus dengan jelas
penyebarannya. Oleh sebab itu beberapa zona hidrologi diperkenalkan
berdasarkan kelulusan serta kedudukannya (Soefner,1985; Jabotabek Water
Resources Management Study - JWRMS,1994). Setiap zona ini terdiri dari
beberapa perselingan antara akuifer, akuitard dan akuiklud.
Akuifer pada zona paling atas hingga kedalaman 40 m dari
muka tanah biasa
disebut sebagai sistem akuifer dangkal. Air tanah di sini tersimpan dalam
akuifer tak tertekan (unconfined aquifer), yakni akuifer yang tidak
dibatasi oleh lapisan penutup kedap air di bagian atasnya. Karena
sifatnya yang demikian, tekanan air tanah dalam akuifer ini sama dengan
tekanan udara luar. Dan karena tiadanya lapisan penutup, akuifer ini
rawan pencemaran serta paling mudah mengalami intrusi air laut di
daerah pantai. Air tanah pada sistem akuifer ini umumnya dimanfaatkan oleh
penduduk Jakarta dengan membuat sumur gali atau sumur bor pasak (driven
well).
Sementara akuifer yang terletak pada zona di bawah 40 m
hingga 300 m,
disebut sebagai sistem akuifer dalam. Air tanah di sini umumnya tersimpan
dalam akuifer tertekan (confined aquifer) yakni akuifer yang dibatasi oleh
lapisan batuan kedap atau setengah kedap air, baik di bagian bawah maupun
bagian atas akuifer. Karenanya tekanan air tanah pada akuifer jenis ini
lebih besar daripada tekanan udara luar. Akibatnya, apabila pengeboran
menembus akuifer ini pada kondisi lokasi yang memungkinkan, air tanah akan
mengalir ke permukaan (artesis), tanpa dipompa. Hal umum yang dijumpai di
Jakarta pada kurun waktu 1970an. Karena sifatnya yang demikian, air
tanah dari sistem ini umumnya terlindung dari pencemaran termasuk
kemungkinan terkena intrusi air laut. Air tanah dari sistem akuifer ini
saat ini dimanfaatkan bagi keperluan industri, hotel, perkantoran,
apartemen, dan perumahan mewah, dengan membuat sumur bor dalam yang
dilengkapi dengan pompa selam (submersible pump).
Pada kondisi aliran alami (awal 1900an), daerah imbuh
(recharge
area) bagi sistem akuifer dalam berada pada daerah pebukitan pada
ketinggian antara 25 m dan 200 m. Imbuhan dari air tanah tertekan ke dasar
tingkat alami (natural base level) di daerah dataran dekat pantai terjadi
terutama melalui bocoran ke atas (meskipun berlangsung lambat karena
rendahnya kelulusan vertikal), evapotranspirasi, dan aliran keluar menuju
sistem aliran permukaan (sungai, saluran, dll.). Saat ini, imbuhan ke
sistem akuifer dalam, selain dari aliran horisontal dari daerah selatan
Depok (kurang dari 1 juta m3/tahun, Schmidt et al, 1985), terjadi di
seluruh Jakarta melalui bocoran ke bawah (juga berlangsung lambat karena
rendahnya kelulusan vertikal). Hal ini terjadi karena muka air tanah dari
sistem akuifer dalam dari cekungan Jakarta secara regional menurun di
bawah muka air tanah dari sistem akuifer dangkal, antara 2 m dan 4,6
m/tahun. Ini artinya adalah pada awalnya air tanah dangkal dipasok oleh
air tanah dalam, sehingga pada saat itu hingga tahun 1970an, sumur
penduduk airnya dekat permukaan dan tak pernah kering meskipun kemarau
panjang. Sebaliknya setelah pemakaian air tanah dalam meningkat seiring
peningkatan jumlah penduduk dan industri, air tanah dangkal memasok ke
dalam akuifer air tanah dalam. Akibatnya sumur penduduk kebanyakan
sekarang bertambah dalam muka airnya, serta sering kering bila
kemarau. Dampak negatif lain adalah, air tanah pada sistem akuifer dalam
menjadi rawan terhadap pencemaran yang bersumber dari air tanah dangkal
serta dari intrusi air laut di daerah dekat pantai.
Didasarkan atas lingkungan pengendapan batuan penyusun
akuifer maupun
akuitard seperti telah diuraikan di muka, maka air tanah yang terbentuk
secara bersamaan pada saat batuan tersebut diendapkan (conate
water) maupun sesudah batuan penyusun diendapkan mempunyai tingkat
kegaraman yang tinggi. Hal ini dibuktikan dari analisis contoh air di
berbagai tempat di Jakarta, dari berbagai kedalaman yang dilakukan sejak
sebelum tahun 1920 hingga sekarang, yang ditunjukkan oleh nilai kandungan
unsur khlorida (Cl-) yang melebihi 600 mg/l (Soefner,1986). Namun analisis
tersebut juga membuktikan adanya kenaikan Cl- seiring dengan waktu.
Jadi benar pernyataan bahwa air tanah asin di beberapa
tempat di Jakarta
memang sudah ditemui sejak air tanah terbentuk, tetapi juga benar bahwa
ada air tanah yang menjadi asin hanya setelah terjadi pengambilan air
tanah secara berlebihan. Hanya masalahnya adalah apa penyebab meningkatnya
kegarama tersebut, yang akan dibahas berikut.
Intrusi air
asin/laut
Air asin di dalam akuifer dapat berasal dari:(Journal
Hydraulics, ASCE,
1969)
Intrusi air asin adalah suatu peristiwa penyusupan air
asin ke dalam
akuifer di mana air asin menggantikan atau tercampur dengan air tanah
tawar yang ada di dalam akuifer. Penyusupan ini akan menyebakan air tanah
tidak dapat dimanfaatkan, dan sumur yang memanfaatkannya terpaksa ditutup
atau ditinggalkan.
Berdasarkan pengertian tersebut serta asal air asin, maka
intrusi air laut
adalah intrusi air asin yang berasal dari air laut, sehingga hanya terjadi
di daerah pantai. Sementara intrusi air asin dapat terjadi di mana saja,
bahkan di daerah pedalaman (inland).
Intrusi sebenarnya baru akan terjadi karena adanya aksi,
dalam hal ini
pengambilan air tanah. Intrusi adalah reaksi dari aksi tersebut, dan
mengubah keseimbangan hidrostatik alami antar-muka (interface) air tanah
tawar dan air asin.
Adalah Badon Ghyben ilmuwan Belanda dan Herzberg ilmuwan
Jerman, sekitar
1889 dan 1901, secara sendiri-sendiri di sepanjang dataran pantai Laut
Utara mengadakan penyelidikan hubungan antara air tanah tawar dan air
asin. Keduanya menemukan bahwa muka air asin akan ditemui tidak pada
ketinggian muka laut, namun pada suatu kedalaman di bawah muka laut
sekitar 40 kali ketinggian muka air tanah tawar di atas muka laut. Sebaran
antar-muka air tawar dan air asin melekat pada keberadaan keseimbangan
hidrostatik antar kedua jenis air tersebut. Hubungan tersebut lazim
dikenal dengan persamaan Ghyben-Herzberg seperti nama para
penemunya. Ekuilibrium alami tersebut akan berubah manakala terjadi
perubahan dari tekanan muka air tanah tawar akibat pemompaan yang
berlebihan di daerah, sehingga membentuk ekuilibrium baru dengan air asin
mendorong sebaran antar-muka ke arah daratan, dan mulailah peristiwa
intrusi air laut.
Dalam hal Jakarta, berdasarkan pengertian di atas, dapat
diyakini telah
terjadi intrusi air asin. Faktanya adalah:
Pertama, seperti telah dijelaskan sebelumnya analisis
contoh air tanah
dari akuifer dangkal maupun dalam di beberapa tempat sejak sebelu 1920
hingga kini menunjukkan kenaikan kadar Cl-. Cl- umumnya dijumpai dalam air
tanah dengan kadar rendah dalam kondisi normal. Sumber utama Cl- adalah
limbah, air fossil (conate water), dan air laut. Jadi faktanya adalah air
tanah di beberapa tempat di Jakarta terutama di bagian utara, paling tidak
di sebelah utara garis yang menghubungkan daerah Kapuk - Grogol - Gambir
- Cempaka Putih dan Sunter, meninggi kadar garamnya dan berubah dari
tadinya tawar menjadi payau atau asin.
Kedua, intrusi terjadi sebagai reaksi telah terjadi
penurunan muka air
tanah baik dari sistem akuifer dangkal maupun sistem akuifer dalam akibat
aksi pengambilan air tanah dari kedua sistem akuifer di Jakarta. Seperti
telah disebutkan, penurunan muka air tanah dari sistem akuifer dalam
mencapai 2 hingga 4,6 m per tahun. Di beberapa tempat, muka air
tanah tersebut telah berada lebih dari 40 m di bawah muka tanah
setempat. Penurunan ini mengubah keseimbanhan hidrostatik antar-muka air
tanah tawar/asin di cekungan Jakarta. Tidak dapat diungkiri bahwa ada
fakta pengambilan air tanah yang terus meningkat untuk berbagai keperluan
di Jakarta. Hingga tahun 1995, kontribusi air tanah bagi pasokan air di
Jakarta sekitar 250 juta m3/tahun. Jumlah tersebut terutama diambil
melalui sumur-sumur dangkal yang tak terhitung (80 %), dan lebih dari 3000
sumur-sumur dalam (20%). Antara 1900 dan 1950, pengambilan air tanah tercatat
di bawah 10 juta m3/tahun. Akan tetapi sejak itu, terutama setelah 1970,
pengambilan air tanah terus meningkat. Pada tahun 1994 pengambilan air
tanah dari sistem akuifer dalam diperkirakan 53 juta m3, atau hampir dua
kali lipat dari pengambilan sumur yang terdaftar. Sulit mendapatkan angka
pasti pengambilan air tanah di Jakarta, karena tidak semua sumur yang ada
terdaftar pada instansi yang berwenang.
Kembali kepada judul tulisan ini, berdasarkan bahasan di
atas maka jawabnya adalah :
Catatan
Penutup
Namun yang paling penting adalah adanya fakta bahwa air
tanah Jakarta
telah meningkat kegaramannya/kandungan Cl- dan penyebarannya meluas ke
arah pedalaman (selatan). Di samping itu adalah fakta adanya penurunan
muka air tanah yang menerus, akibat pengambilan air tanah yang terus
meningkat. Kalau hal ini terus berlanjut tanpa adanya upaya-upaya untuk
mengatasinya, maka lingkungan Jakarta akan bertambah parah kerusakannya
dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, semisal kelangkaan air tanah,
pencemaran, penurunan muka tanah (land subsidence) yang memicu banjir
berlangsung lebih lama.
Perubahan pola imbuhan, di mana saat ini air tanah
dangkal justru memasok
ke dalam air tanah dari sistem akuifer dalam, menjadikan air tanah dalam
rawan terhadap pencemaran.
Upaya-upaya jangka pendek, menengah dan jangka panjang
untuk mengatasi persoalan tersebut dapat meliputi:
|