Saturday, 10/05/03 9:33
In The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful
 

 

Judul Competitive Intelligence :
Piranti Strategis Memenangkan Persaingan Global
Penulis Taryanto, Farid Aulia, Kadarsyah Suryadi, Taridi
Editor Muhammad Badarudin dan Imam Nur Azis
Penerbit Multi Utama Indojasa
Tahun Terbit 1, Februari 2003
Tebal xiii + 106 halaman
 
MEMENANGKAN PERSAINGAN DENGAN KEKUATAN INTELEJEN
Oleh : Doni Riadi

Jarang ada buku yang mengupas dunia intelejen di Indonesia. Karenanya, buku ini bisa jadi termasuk istimewa, mengingat bahwa buku tentang intelejen kompetitif yang ditulis dalam bahasa Indonesia masih sangat sulit ditemui dalam khasanah literatur Indonesia. Apalagi buku ini bukanlah produk dari sebuah terjemahan melainkan karya orisinil dari kolaborasi empat penulis yang kesehariannya berkecimpung dalam dunia intelejen kompetitif.

Intelejen kompetitif sering dianggap sebagai hal yang baru dan menakutkan. Dunia gelap dan suram dimana terdapat praktek-praktek, penyuapan, spionase industri, pencurian informasi dan sebagainya. Semua hal itu terlanjur melekat pada intelejen. Imej negatif itu terbangun terutama berasal dari kosakata intelejen itu sendiri yang memiliki arti luas dan multitafsir. Setiap negara akan mendefinisikan intelejen dalam terms sesuai dengan standar etis yang berlaku di negara tersebut.

Pada bab-bab awal buku ini, penulis memberikan pencerahan tentang bagaimana seharusnya memandang intelejen, khususnya intelejen kompetitif. Dengan menyitir pendapat pakar intelejen kompetitif, Jim Underwood (2002) dan Larry Kahener (1996), penulis menegaskan bahwa perbedaan krusial antara inteljen dengan spionase industri adalah pada pertimbangan etis dan legal. Intelejen kompetitif meliputi pengambilan dan pengumpulan informasi secara legal, analisis dan penyajian informasi. Intelejen kompetitif juga didefinisikan sebagai program sistematik untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kegiatan para pesaing dan kecenderungan-kecenderungan bisnis umum untuk mewujudkan tujuan perusahaan (hal. 5). Kemampuan yang jeli dalam menganalisis itulah dikatakan sebagai inti makna "intelejen kompetitif" (intelejen = informasi + creative analysis).

Definisi ini terdengar lebih etis dan legal, meski pada prakteknya diketahui beberapa perusahaan yang melakukan praktek pelanggaran hukum dalam mengumpulkan informasi tentang kegiatan pesaing. Aktifitas seperti pencurian informasi, penyadapan, perampokan kantor dan penyuapan pada dasarnya telah mengubah prinsip intelejen menjadi spionase industri.

Dibanding dengan beberapa negara lain, seperti Jepang, Amerika, Perancis, Uni Eropa, Australia, dan bahkan Malaysia, apresiasi pemerintah Indonesia terhadap intelejen kompetitif masih sangat rendah. Kesadaran akan perlunya intelejen yang kuat telah tumbuh namun penerapannya masih terbatas pada bidang militer dan keamanan saja, seperti lembaga BIN dan BAIS (hal 86). Sehingga terjadi kesenjangan pengelolaan informasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Berkaca dari kebijakan pemerintah ini dan pengalaman kemajuan ekonomi dari negara-negara lain, maka masyarakat bisnis Indonesia menurut saran buku ini harus proaktif untuk menumbuhkembangkan dan mensinergikan intelejen militer, intelejen ekonomi dan intelejen kompetitif lainnya menjadi sebuah alat kekuatan dalam membangun perekonomian bangsa. Leading-nya Indonesia sebagai negara dengan pemeluk muslim terbesar memiliki nilai strategis tersendiri secara ekonomi dan sosial politik di kawasan Asia Tenggara bahkan Asia Pasifik.

Contoh negara yang mengapresiasi tinggi intelejen kompetitif adalah Jepang. Negara dengan sedikit sumber daya itu mampu memasok 18 % produk bruto dunia, menghasilkan sepertiga mobil dunia, dua pertiga chip komputer di seluruh dunia. Salah satu kunci keberhasilan Jepang adalah adalah intelejen. Keberhasilan Jepang ini membuktikan kebenaran sebagian pakar yang mengatakan bahwa "keberhasilan dan kekuatan suatu negara adalah berbanding lurus dengan penguasaan negara tersebut dalam bidang intelejen kompetitif".

Keberhasilan Jepang dalam bidang ini bahkan menjadi motto dan motivasi intelejen ekonomi di Eropa, khususnya Perancis, yang mengatakan bahwa dasar kebutuhan terhadap intelejen ekonomi adalah kebutuhan mutlak untuk inovasi serta bukti kemajuan Jepang.

Tidak hanya dalam lingkup negara, buku ini juga memaparkan manfaat intelejen kompetitif bagi sebuah organisasi maupun perusahaan. Dari aktifitas intelejen kompetitif ini, seorang pengambil kebijakan setidaknya dapat memahami lingkungan bisnisnya dengan lebih baik. Bahkan dapat mengantisipasi strategi dan riset bisnis pesaing, meramalkan kesempatan dan ancaman terhadap perusahaannya, memahami dampak perubahan politik, legislatif, dan perundang-undangan, melakukan validasi terhadap rumor-rumor hingga membantu dalam proses akuisisi atau merger.

Bagian terpenting buku ini adalah terletak pada Bab 3 dan seterusnya yang merupakan jawaban rinci atas beberapa pertanyaan krusial. Semisal, jika intelejen kompetitif merupakan sesuatu yang hebat lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ? Bagaimana cara memulainya ? Bagaimana implikasinya terhadap organisasi perusahaan kita ?

Penulis memulai jawabannya dengan memaparkan alternatif Model Intelejen Kompetitif yang berisi fase atau tahapan-tahapan mekanisme aliran informasi menjadi data intelejen siap saji. Disusul kemudian dengan pembentukan Struktur Intelejen Kompetitif yang kesemuanya itu berlandaskan pada kekuatan analisis.

Analisis menurut buku ini memegang peranan kunci dalam pengambilan suatu keputusan khususnya dalam era unpredictable ini. Analisis dibaca sebagai proses pengujian dan evaluasi dari informasi-informasi yang relevan utnuk mendapatkan tindakan yang paling baik atas beberapa alternatif (hal. 40). Dalam dunia intelejen kompetitif, analisis itu terbagi menjadi 5 bagian yaitu : analisis strategi, analisis berorientasi produk, analisis berorientasi konsumen, analisis keuangan, dan analisis perilaku.

Setiap praktisi intelejen kompetitif memiliki diferensiasi tersendiri dalam melakukan aktifitasnya. memperoleh data dan informasi. Perkembangan teknologi khususnya TI (Teknologi Informasi) yang sering disingkat dengan "e" adalah salah satu tolok ukurnya, bahkan telah melahirkan cara pandang baru yang disebut e-intelejen kompetitif (cyber).

Intelejen kompetitif cyber memiliki kekhasan terutama dalam proses transfering data dan informasi. Termasuk didalamnya akses GPRS (General Packet Radio system) dan WAP (Wireless Aplication Protocol) pada piranti handphone, PDA, personal digital asistance, dan PC Tablet). Buku ini pun membantu anda memperoleh data-data yang diperlukan dengan memberi beberapa alamat referensi situs yang relevan dengan bisnis, seperti informasi pasar dan informasi sensus.

Namun demikian, buku ini memiliki beberapa kelemahan. Diantaranya adalah judul buku yang ditulis dalam bahasa Inggris terasa kontraproduktif dengan semangat untuk mencari padanan dalam bahasa sendiri. Walaupun mungkin ada faktor pertimbangan orisinalitas istilah, tetapi ternyata di bagian dalam penulis konsisten menggunakan istilah inteljen kompetitif bukan Competitive Intelligence..
Demikian juga dengan kesalahan cetak berupa halaman ganda (hal 15-18) dan beberapa kesalahan editing, seperti lalainya pengalihbahasaan istilah asing ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti (hal. 31) dan ketidakcermatan dalam mengemas gambar model (hal. 22). Pemberian margin icons yang dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memetakan materi yang dibahas, sebenarnya menjadi mubazir karena buku ini termasuk tipologi buku berukuran kecil dan tipis, sehingga mudah untuk dipahami tanpa memerlukan kehadiran icons apapun.

Secara keseluruhan, buku ini enak dibaca. Walaupun temanya termasuk berat, tetapi dengan kemasan bahasa yang lugas dan mengalir, membaca buku ini seperti layaknya kita membaca buku fiksi, dapat kita selesaikan dengan sekali duduk. Bahkan jika anda memiliki keinginan untuk menindaklanjuti beberapa saran yang terdapat di buku ini, maka seperti penulis tegaskan di pengantarnya, buku ini telah menjadi buku yang customized dan spesial dalam menerapkan inteljen kompetitif di organisasi Anda. []

(Dimuat di harian Republika, 27 April 2003,
English Version-nya dimuat di The Jakarta Post, Minggu 6 April 2003)

"Barangsiapa yang menyaksikan dunia dengan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunaan sebagian besar waktu dan tenaganya hanya semata-mata untuk merengkuh dunia dalam genggamannya.."

(noname)

All Rights Reserved © 2003, dedicated to godspot journalism, designed by bro_doni under Dreamweaver 4, Swish 2.0, and Photoshop 7.0
1