Saturday, 10/05/03 9:05
In The Name of Allah The Most Gracious The Most Merciful
 


Judul Kontroversi Ba'asyir :
Jihad Melawan Opini "Fitnah" Global
Penulis Idi Subandy Ibrahim dan Asep Syamsul M. Romli
Penerbit Nuansa, Bandung
Tahun Terbit 1, Januari 2003
Tebal 168 halaman
 
MENGENAL LEBIH ARIF
SOSOK "SANG IMAM"
Oleh : Doni Riadi

Ustadz Abu Bakar Ba'asyir nampaknya masih harus memendam harapannya untuk dapat segera menghirup udara bebas. Perppu No.1/2002 yang saat ini telah menjadi UU Antiterorisme, sebagai dasar hukum penahanan, memungkinkan polisi untuk memperpanjang masa penahanannya.

Aparat nampak meyakini betul bahwa Ba'asyir-lah "Sang Imam" yang harus bertanggungjawab atas serangkaian tindakan teror dan peledakan bom di kawasan Asia Tenggara. Bahkan, ia juga dituding melakukan percobaan pembunuhan RI-1 (pasal 104 KUHP) dan makar terhadap pemerintahan Indonesia (pasal 107 KUHP).

Ustadz Ba'asyir mungkin tak pernah menduga, jika di usia senjanya saat ini, ia harus menghadapi cobaan sangat berat : dituduh sebagai teroris internasional. Potretnya menghiasi media nasional dan internasional. Kini ia di cap sebagai teroris dan bahkan dianggap sebagai most wanted No.2 oleh AS setelah Usamah bin Ladin. Lebih dari sosok Saddam Hussein yang 'hanya' merepresentasikan bentuk pembangkangan pemerintah Irak terhadap AS (hal.32).

Buku ini, menawarkan perspektif yang berbeda. Dengan menyitir pendapat Herbert Strentz dalam News Reporters and News Sources (1989), "Terorisme bukanlah fenomena yang mewarnai abad ke-20, tetapi tindakan ini kian menonjol karena liputan media berita" (hal. 28). Penulis ingin menegaskan bahwa media massa juga turut andil besar dalam stigmatisasi seseorang sebagai teroris atau tidak.

Dalam konteks Ustadz Ba'asyir, disadari atau tidak, media dapat masuk "perangkap" sumber berita tertentu yang punya "hidden agenda" (agenda tersembunyi) lebih luas. Dengan sumber berita yang terbatas dan sulit diakses biasanya media cenderung memanfaatkan sumber berita resmi, baik yang bersumber dari agen-agen resmi pemerintah maupun agen-agen yang sedang menekan atau berkolaborasi dengan pemerintah.

Konsekuensinya, media seperti ini cenderung mengembangkan budaya jurnalisme yang dikenal sebagai jurnalisme pispot (hal 29). Yakni media dan para jurnalisnya menerima informasi bergitu saja dari sumber berita tanpa mengecek kembali kebenaran dan keabsahannya, sehingga menjadi alat propaganda praktis. Kritikus media Edwind Diamond (1985) menyebutnya sebagai Terrorvision atau Terorisme Media.

Berlatar belakang kesamaan pengalaman sebagai jurnalis dan editor buku-buku Islam, dua penulis ini melakukan penelitian literatur dan analisis media terhadap propaganda yang memojokkan Ba'asyir. Hasil penelitiannya itu kemudian diklasifikasikan kedalam empat bab utama, yaitu sosok pribadi Ba'asyir, penghancuran karakter Ba'asyir, misteri yang menyelimuti Ba'asyir, dan skenario Ba'asyirisasi tokoh-tokoh umat. Dan sebagai penutup, buku ini dilengkapi dengan paparan visioner pergulatan batin penulis sebagai pekerja media, berupa ide Media Literacy atau Melek Media.

Seperti apa sesungguhnya sosok Ba'asyir ? Buku ini melukiskan, bahwa orang-orang dekat Ba'asyir menyebut sosok Amir MMI ini sebagai pribadi yang sederhana, bahkan sangat sederhana, lembut, namun tegas dalam berpendirian. Bisa dikatakan, Ba'asyir tidak memiliki harta berharga apa-apa. Rumah minus kursi tamu, yang ia diami pun adalah aset ponpes Al-Mukmin. Barang berharga yang dimilikinya barangkali hanya kitab-kitab agama dan seperangkat komputer sebagai alat vitalnya berdakwah.

Alumnus Gontor ini juga terkenal akan kelembutannya. Ia dikenal sebagai kyai yang tidak pernah mengajarkan radikalisme atau melakukan aksi kekerasan. Santrinya bahkan pernah mengira Ba'asyir seorang penakut karena terlalu halus dan jauh dari kekerasan (hal 33).

Lalu, mengapa ia menjadi target perburuan ? Banyak motif. Salah satunya menurut ZA Maulani, Ba'asyir hanyalah kambing hitam dari skenario AS menghegemoni dunia Islam. Dan kebetulan Ba'asyir mempunyai bad record dalam data intelejen Indonesia, saat ia melawan rezim Orde baru yang memaksakan azas tunggal Pancasila. Ia menganggap penerapan azas tunggal itu merupakan suatu kezhaliman. Menurutnya, kalau sesuatu dipaksakan, dimana letak kebebasannya ?

Dalam perspektif Ba'asyir sendiri, seperti yang sempat terrekam pada jumpa pers 18 Oktober 2002, ia mengatakan, " Oleh karena itu, saudara boleh lihat bahwa definisi teror dimonopoli oleh AS. Yang disebut teror oleh mereka adalah semua penegak, mujahid yang akan menegakkan syariat Islam. Termasuk diri saya ini. Jadi saya akan dikorbankan itu bukan karena memerintahkan orang mengebom. Saya jadi korban karena saya ingin menegakkan syariat Islam dengan sempurna." Bahkan, ia menilai bahwa Al-Qaidah adalah organisasi buatan AS yang digunakan sebagai kamuflase teror untuk menyudutkan kelompok Islam (hal.45).

Ba'asyir kemudian menjadi bulan-bulanan komentar, pemberitaan, dan analisis jurnalis media massa internasional. Tidak hanya bagi publik AS, di Indonesia sendiri, Ba'asyir dicitrakan sebagai sosok seorang teroris. Sebuah media yang cukup disegani di Indonesia bahkan mampu menggiring opini publik untuk mengatakan iya ketika menurunkan cover "Diakah Sang Imam ?" Maka, terjadilah trial by the press (pengadilan oleh media massa) yang merupakan salah satu kasus paling menonjol di dunia pers.

Kesaksian kontroversial Al-Faruq yang dipublikasikan Time dan menjadi bahan rujukan banyk media pada akhirnya mengakibatkan penghancuran karakter Ba'asyir hingga titik nadhir. Prinsip azas praduga tak bersalah sudah tak lagi menjadi relevan. Begitu juga dengan pemberitaan miring media lainnya. Seperti The Washington Post (11/01/2002) yang menurunkan tulisan intelejen AS, Rajiv Chandrasekaran yang mensinyalir adanya keterkaitan Al-Qaidah, Laskar Jihad, dan kelompok Ba'asyir sebagai jaringan terorisme di Indonesia.

Pendeknya, seperti yang tercantum dalam subjudul buku ini, Ba'asyir berada dalam opini "fitnah" global dari jaringan konspirasi media dunia. Pertanyaanya adalah, siapakah yang bermain dibalik semua itu ?

Presiden EURO (European-American Unity and Rights Organization), David Duke dalam artikelnya Who Runs The Media (2001) memberikan jawaban dengan mensinyalir bahwa media-media paling berpengaruh di AS dan menjadi rujukan dunia : The New York Times, The Washington Post, dan The Wall Street Journal dibawah pengaruh Yahudi. Termasuk juga tiga majalah utama : Time, Newsweek, dan US News and World Report dan media penyiaran utama Amerika seperti Time-Warner dan Disney, serta jaringan berita ABC, CBS, dan NBC, yang lalu merger dengan MSN menjadi MSNBC.

Karena itulah, sebagai alat perlawanan, penulis merekomendasikan agar Media Literacy atau Melek Media menjadi salah satu program pencerahan masyarakat di masa mendatang. Melek Media dimaksudkan untuk mendidik khalayak supaya senantiasa bersikap kritis terhadap informasi apapun yang diperoleh dari media. Ia juga memiliki agenda yang jelas yaitu untuk melakukan perlawanan terhadap agenda yang terselubung dibalik media. Merujuk pada Chomsky, filter untuk mengontrol pesan media itu, dimulai dari kekritisan terhadap ukuran media, orientasi profit, kepemilikan media, para pengiklan, sumber-sumber media, dan kelompok penekan, serta ideologi.

Secara keseluruhan, walaupun buku ini tak mewancarai Ba'asyir secara langsung sebagai subyek utama pembahasan buku ini, dapat dikatakan buku ini berhasil melakukan misinya. Yaitu memberikan wacana alternatif agar khalayak lebih kritis dan arif dalam menilai Abu Bakar Ba'asyir dan isu-isu terorisme pada umumnya. []


"Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena tokohnya, tetapi kenalillah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu akan mengetahui siapa tokohnya."

(Ali bin Abi Thalib)

All Rights Reserved © 2003, dedicated to godspot journalism, designed by bro_doni under Dreamweaver 4, Swish 2.0, and Photoshop 7.0
1