http://www.indopubs.com/varchives/0081.html
Indonesia terkenal sebagai negara yang agamawis,
artinya berbagai ragam agama dapat diketemukan di
Indonesia, misalnya Islam, Kristen, Buda, Hindu, dst.
Sayang sekali walau berbagai agama ada di Indonesia,
namun pelanggaran HAM dan Korupsi, Kolusi serta
Nepotisme (KKN) selalu menempatkan Indonesia pada
posisi tiga besar di dunia. Berbagai agama, justru
menyemarakan kekerasan dan kejahatan.
........
Disimpulkan bahwa Indonesia bangkrut justru karena
para cerdik pandai, rohaniwan dan pejabat tingginya
sudah tidak beragama, mereka pada hakekatnya bukan
beragama melainkan sedang memanipulasi agama!!!
Pantesan saja, Tuhan bagaikan tak pernah berhenti
menghukum Indonesia.
........
Saya mohon bantuan anda untuk mengobati iman saya,
silahkan ...
Benar apa yang diuraikan diatas.
Ada dua pandangan hidup dibawah kolong langit ini.
Yang pertama bilang bahwa manusia dasarnya sejak lahir adalah mahluk
yang tidak ada dosa, murni dan kalau lingkungannya baik dan pendidikannya
mendukung pasti akan dihasilkan sumber daya manusia yang kwalitasnya baik
pula.
Dalam tatanan masyarakat yang rapi dan teratur, biasanya sistem pelaksanaan
hukum juga berjalan dengan tuntas. Konsekwensi pelanggaran hukum dan aturan
ditegakkan tanpa pandang bulu. Ini berakibat semua lapisan masyarakat menjadi
tunduk terhadap hukum. Setiap insani memiliki hak dan kewajiban yang sama
untuk memperoleh keadilan, keteraturan serta terciptanya rasa aman.
Dan dalam jangka panjang pada gilirannya akan menjadi semacam prasarana
sosial untuk membangun kemakmuran.
Polisi dan ketertiban hukum menjaga agar manusia berprilaku sebagai
mahluk yang beradab dalam
tatanan hidup budaya bersopan santun. Pada hakekatnya ajaran ajaran
agama menjadi sumber sumber nilai bagi terbentuknya sistem pranata hukum
dari suatu negara yang beradab.
Pandangan yang kedua percaya bahwa dari lahir umat manusia telah cacat
dan bobrok sejak Adam
melanggar sabda Allah. Dan jumlah kelompok yang berpandangan seperti
ini jumlahnya tidak banyak. Mereka percaya bahwa manusia sama sekali tidak
mampu untuk berbuat apa yang baik dari dalam hatinya karena semua manusia
telah cacat dari sono - nya.
Oleh karena dari dalam, yaitu dari dalam hati, timbul pikiran-pikiran
jahat yang menyebabkan orang
berbuat cabul, mencuri, membunuh, berzinah, menipu, memfitnah, serta
melakukan segala sesuatu yang
jahat, menjadi serakah, tidak sopan, iri hati, sombong, dan susah diajar.
Semua yang jahat itu timbul dari dalam, dan itulah yang menjadikan
orang najis.
Sebab, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang
(=Adam), dan oleh dosa itu juga
maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena
semua orang telah berbuat dosa.
Bagaimanapun rapinya tertib hukum dari suatu negara, penjara dan polisi
tetap diperlukan.
Ini menandakan bahwa kecenderungan orang berbuat melaggar hukum itu
sudah ada dari sononya.
Karena batin kita suka akan hukum Allah, tetapi kita sadar bahwa dalam
diri kita ada pula hukum lain
yang memegang peranan--yaitu hukum yang berlawanan dengan hukum yang
diakui oleh akal budi kita.
Itu sebabnya kita terikat pada hukum dosa yang memegang peranan di
dalam diri kita.
Siapakah yang mau dan mampu menyelamatkan kita dari badan ini yang membawa
kita kepada kematian?
Apapun agama seseorang, ajaran agamanya tidak dapat membuat penganutnya
merubah watak dasarnya
yang sudah cacat itu. Ajaran agama yang dipelajarinya memang memberikan
petunjuk untuk berbuat
kebaikan bagi sesamanya. Namun motivasi dasarnya bisa bermacam macam;
intinya selalu berfokus pada
kepentingan diri, self preservation, kelompok sendiri yang sehati sepikir,
kepada saya, aku, gua, beta ....
Sehingga orang menganut agama apapun sama sekali tidak menjamin bahwa
prilaku hidupnya
akan menghasilkan buah buah keteladanan yang baik bagi sesama manusia.
Contoh:
beragama Kristen = berusaha berbuat kebaikan, berbuat amal, melakukannya
sesuai ajaran Alkitab agar dipandang menjadi orang saleh, diberkati dengan
tujuan akhir supaya moga moga (=tidak ada kepastian) setelah mati akan
selamat masuk surga dan tidak dihukum keneraka.
Pengertian 'selamat' yaitu apabila jumlah perbuatan baik selama hidup
lebih besar dari perbuatan dosa akan membawa masuk ke surga.
Dengan dasar pengertian seperti itu maka tidak salah kalau semua agama itu memang sama.
Oleh karena manusia bercacat tidak tahu apakah amal baktinya akan diterima
atau ditolak maka orang lalu berusaha mati-matian mengamalkan ajaran agamanya,
walaupun kadangkala bertentangan dengan hati
nuraninya. Misalnya memaksa orang masuk keagama yang memaksa, atau
memberikan 'sesuatu' (makanan, pakaian , fasilitas dst) sebagai suapan
agar yang menerimanya mau masuk agamanya atau pindah agama.
Ia berusaha sedemikian rupa dengan harapan kalau mati mendapat pahala
dan tidak keneraka. Manusia
bercacat dosa ini berusaha dan berdoa sungguh sungguh supaya setelah
mati tidak dihukum tetapi luput dari maut. Dan itu mustahil karena manusia
lahir sudah cacat dosa.
Ibaratnya orang sakit kanker, maka nasibnya tidak dapat ditolak, yaitu
kematian.
Karena semua orang sudah berdosa dan jauh dari Allah yang hendak menyelamatkan
mereka.
Lalu adakah jalan keluar menghadapi dilema yang tidak terelakan ini ?
Sebuah ilustrasi;
Seorang kepala lurah mendapat kabar dari atasannya bahwa kelurahannya akan lenyap ditelan air.
Pasalnya daerahnya akan dijadikan waduk air untuk kepentingan wilayah yang lebih luas.
Lurah ini sayang kepada binatang binatang. Ia memiliki banyak binatang diatas tanahnya yang luas.
Secara bertahap dipindahkannya binatang piaraannya ketempat yang lebih tinggi.
Namun ada satu jenis binatang yang sulit untuk dipindahkan dengan tuntas, yaitu binatang semut. Karena
ia pencinta binatang, maka tidak tegalah sang lurah memindahkan paksa dengan mencangkul rumah
sarang semut dan memindahkannya memakai ember dan sekop. Ia mencari akal bagaimana caranya agar
semut semut itu sadar bahwa mereka harus pindah ketempat yang lebih tinggi agar selamat.
Akhirnya lurah ini sampai kepada kesimpulan," Ah, seandainya aku mampu menjadi semut dan
mengkomunikasikan apa yang akan menimpa mereka, pasti mereka akan pindah. Masalahnya kemudian
apakah mereka akan percaya akan berita itu walaupun aku menjadi semut .........?"
Syukur kepada Allah! Sang pencipta mau menyelamatkan kita melalui
Yesus Kristus.
Pada dasarnya Ia sama dengan Allah, tetapi Ia tidak merasa bahwa keadaan-Nya
yang ilahi itu harus
dipertahankan-Nya.
Sebaliknya, Ia merelakan diri menjadi sama seperti seorang hamba. Ia
menjadi seperti manusia, dan nampak hidup seperti manusia.
Ia merendahkan diri, dan hidup dengan taat kepada Allah sampai mati--yaitu
mati disalib, ganti kita
manusia berdosa.
Hanya karena rahmat Allah saja yang diberikan dengan cuma-cuma, hubungan
manusia dengan Allah
menjadi baik kembali; caranya ialah: manusia dibebaskan oleh Kristus
Yesus.
Allah mengurbankan Kristus Yesus supaya dengan kematian-Nya itu manusia
dinyatakan bebas dari
kesalahan kalau mereka percaya kepada-Nya. Allah berbuat begitu untuk
menunjukkan keadilan-Nya.
Sebab pada masa yang lampau Allah sudah berlaku sabar terhadap dosa-dosa
manusia, sehingga Ia tidak
menghukum mereka. Tetapi sekarang Ia bertindak terhadap dosa untuk
membuktikan keadilan-Nya. Dengan cara itu Ia menunjukkan bahwa diri-Nya
benar; dan setiap orang yang percaya kepada Yesus, dinyatakan-Nya sebagai
orang yang sudah berbaik kembali dengan Allah.
Masalahnya lalu bukan iman kepada sesuatu agama (religion), melainkan
hubungan pribadi
(relationship) antara orang yang dosanya sudah ditebus, dengan
sang penebus dosa yang telah
menggantikan hukumannya.
Dari situ orang yang beriman kepadaNya memperoleh kekuatan ilahi untuk
hidup berbuat kebaikan bagi
sesamanya serta mentaati hukum karena sudah dibebaskan dari kutuk hukuman
maut. Sebab kematian
adalah upah dari dosa; tetapi hidup sejati dan kekal bersama Kristus
Yesus Tuhan kita adalah pemberian
yang diberikan oleh Allah dengan cuma-cuma.