31 Juli 2000
Kita masih ingat sebelum Mei 98 program Indonesia 'Tinggal
Landas' menjadi bahasa sehari hari dikalangan bisnis, akademika dan
masyarakatumum.
Seluruh tatanan infra struktur 'landasan bendara' beserta
pesawat 'Rajawali Indonesia' telah ditata untuk diterbangkan menjelang
tahun
millennium. Namun apa yang terjadi ? Hembusan angin topan 'krisis
monoter' yang berhembus dari kawasan Asia Timur telah menyulut sumbu
bom waktu dan memporak perandakan bendaranya. Penumpang pesawat
melakukan 'pembajakan' karena pesawatnya urung terbang.
Masyarakat dibandara beserta penumpang akhirnya memecat
pilotnya karena dinilai telah gagal dalam mempersiapkan grand skenario
untuk 'Tinggal Landas'. Ditenggarai pula bahwa seluruh fasilitas &
infra struktur bendara 'Indonesia' telah dikorup oleh sahabat, kenalan,
konco, dan handai tolan dari sang pilot demi mengamankan kelangsungan
keturunan merekasampai tujuh generasi yad.
Lalu pilot diganti dengan copilot yang lulusan Jerman.
Infrastrukur/ fasilitas 'bendara' Indonesia makin dirusak oleh anasir
anasir jahat yang dikoordinasi dari dalam pesawat yang urung terbangitu. Pilot dari Jerman ini katanya berguru pada pilot pendahulunya.
Landasan makin dibolongi, penumpang saling gontokan dan
merusak sistem peralatannya termasuk membunuhi penumpang tidak berdosa
yang bernama Aceh, Cina, Timtim dan Ambon. Dari keluarga Jawa ada juga
yang dibunuh walaupun tidak separah yang diatas. Melalui urun rembug
yang alot waktu itu copilot jebolan Jerman akhirnya diganti oleh pilot
baru yang lebih lihai mengenal 'isi jantung &
rempelo' dan dompet para penumpang.
Urun rembug yad dengarnya sang pilot dituntut memberi jawaban mengapa anak buahnya yang mau memperbaiki pesawat dipecat.
Isue pemecatan menjadi fokus utama. Mereka lupa berpikir secara makro
mengapa 'bendara' rusak sehingga 'Rajawali" tidak bisa terbang. Mereka
tidak mau tahu diantara penumpangnya masih ada yang berkelahi.
Mereka tutup mata akan kehidupan moral yang merosot drastis.
Mereka tidak perduli bahwa rasa tentram kerta raharja mau juga 'ikut'
tinggal landas. Mereka 'ketar ketir' akan periuk nasinya, anak cucunya
dan konconya, ketimbang bagaimana menemukan cara terbaik memperbaiki
yang telah rusak. Mereka takut ketahuan 'isi dompet' nya karena ulah
mereka dilakukandalam kegelapan.
Mari kita sembayang kepada sang Pencipta langit dan bumi, yang
juga menciptakan perangkat keras bendara, pesawat berserta
penumpangnya, agar urun rembug yang akan datang selamat dari
'pembajakan'. Beri kesempatan pilot kita yang sekarang ini agar mampu
berkonsentrasi mengemban tugas raksasa mengobati burung 'Rajawali
Indonesia' serta menghapusketerpurukannya dikawasan burung burung lain.