Bertubi tubinya kabar 'buruk' akan meningkatnya frekwensi
bencana alam, gempa bumi, isu persiapan perang,
maraknya terorisme global, menjamurnya 'sleeper' bom bunuh diri;
warga penduduk bumi mengantisipasi masa depan dengan waswas.
MEE dan UN berusaha keras untuk mewujudkan 'peace' dan 'safety'
bagi seluruh bangsa bangsa didunia.
Semoga negara kesatuan Republik Indonesia masih sempat mencapai
masyarakat yang aman, adil & makmur. Mari kita doakan.
Karena ada tertulis: "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang."
Masyarakat kita sudah rusak dari dalam. Apa yang ditabur oleh para elite pemimpin bangsa selama 3 dasawarsa, itulah yang dituai sekarang. Kata orang pembusukan seekor ikan selalu dimulai dari kepalanya.
Pranata dan tatanan hukum tak lagi mampu untuk memberikan rasa aman
dan
damai pada mayoritas rakyat kita. Tanah Aceh, bumi Poso, daerah Ambon
masih lembab dengan darah, duka nestapa dan cucuran air mata.
Martabat bangsa Indonesia beradab makin terpuruk di pergaulan dunia
International dan didalam negeri sendiri. Hal serupa terjadi juga dimana
mana. Salah satu contoh terkini negara Zimbabwe di Afrika.
Mayoritas generasi penerus tidak dibiasakan dididik dengan disiplin
dan
self control.
Setiap hari mereka ketularan nilai nilai amoral, kekerasan, enaknya
narkoba, ketamakan materi, keangkuhan hidup yang ditayangkan melalui
media audio & video, TV, bacaan dan Internet. Santapan batiniah
sampah dengan toxin
kandungan tinggi menjadi 'makanan' mereka sehari hari.
Pikiran mereka telah rusak, sehingga dilakukanlah hal-hal yang dilarang.
Hati mereka penuh dengan semua yang jahat, yang tidak benar;
penuh dengan keserakahan, kebusukan dan perasaan dengki; penuh dengan
keinginan untuk membunuh, berkelahi, menipu dan mendendam.
Mereka suka membicarakan orang lain, suka memburuk-burukkan nama orang
lain; sombong dan kurang ajar, dan suka membual. Pandai
mencari cara-cara baru untuk melakukan kejahatan. Mereka melawan,
membodohi dan menghina orang tua; banyak orang tua yang sekarang takut
terhadap anaknya sendiri.
Kelompok masyarakat yang masih menjunjung tinggi kesopanan, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, keramahtamahan, suka menolong, mudah memaafkan, toleran kepada kesalahan yang tak disengaja; menyusut secara tajam. Kekuatan nilai luhur sebagai unsur pengawet lestarinya kehidupan tentram merosot sangat drastis.
Menurut tradisi ada tiga institusi yang mempengaruhi pertumbuhan karakter
dan pengembangan sumber daya dari saat sesorang lahir sampai masuk liang
kubur. Pertama rumah tangga sebagai wadah pendidikan asih, asuh dan asah.
Kedua sekolah untuk mendapatkan ilmu dan keterampilan sebagai bekal
memasuki kehidupan masyarakat. Dan ketiga lembaga keagamaan dalam mengembangkan
nalar, budi pekerti, nilai nilai luhur dan moral kehidupan saleh terhadap
sesamanya.
Kalau salah satu institusi sistemnya rusak, maka keluarannya
akan rusak pula.
Yang paling kritis adalah sistem keluarga.
Anak anak yang diproduksi dari sistem keluarga yang bobrok, celakalah
masa depannya. Kecuali ada pertolongan dari 'atas', amatlah gelap nasibnya
diatas bumi dan diakhirat.
Generasi penerus menjadi sasaran empuk untuk ditanamkan sistem nilai berorientasi kepada membela diri ketimbang membela kebenaran. Mereka amat getol kepada pemenuhan kebutuhan sesaat, berdedikasi mencari jawaban instant daripada pemikiran jauh kedepan. Malas berpikir merumuskan solusi tuntas berjangka panjang demi kesejahteraan semua komponen bangsa.
Dibidang karier kaum eksekutif muda dipacu selalu dalam top
condition untuk memperbesar laba perusahaan. Kemegahan dibidang materi,
nyamannya memiliki power to decide, makan makanan enak dan kenikmatan
dibidang sex mendominasi para pemimpin yang sudah mapan; dan celakanya
malah dijadikan panutan oleh bawahan atau pengikutnya.
Banyak yang akhirnya mengalami stress dan ambruk terkena stroke.
Celakalah kita kalau tidak tahu apa makna/tujuan hidup.
Anak anak TK, SD/ SMP sudah diarahkan menjadi laskar 'jahat' sejak mampu
bermain PC/Internet dan akrab dengan mesin Games seperti 'Mortal Combat',
'Dangerious Creature', "Dungeon & Dragon", Nitendo, Pokemon dst.
Generasi penerus yang dimasuki 'virus bom waktu' ini tak mengenal kelompok
atau golongan. Apakah dari kalangan Nasrani, Muslim, Buddha, Hindu, Aliran
Kepercayaan, semua sudah tercemar dengan dosa.
Strategi Gerakan Zaman Baru melanda seluruh dunia memakai pola GIGO
-
'Garbage In Garbage Out'. Menerapkan hukum 'Menabur untuk Menuai'.
Indonesia masih tambang emasnya industri play station.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang berkwalitas, sarat dengan nilai
luhur kebangsaan dan bisa diandalkan omongannya. Perkataannya dapat dipercaya
dan dijadikan pegangan dalam rangka menapaki visi kedepan?
Masalah berlarut larut di Indonesia kalau dilihat secara mendasar disebabkan
faktor kualitas kepemimpinannya. Masalah ekonomi hanyalah pemicu, bukan
akar problemanya.
Adakah pemimpin yang mumpuni, yang memiliki visi, karakter, walaupun
hanya "secuil" karakter, kearifan dan prilaku dari seorang pemimpin dibawah
ini ??
Seluruh barisan tentara yang pernah berbaris, seluruh armada perang
yang pernah berlayar, seluruh parlemen dan pemerintahan yang pernah bersidang
dan seluruh raja yang pernah berkuasa, semua digabung menjadi satu; tidak
menang terhadap pengaruh dari satu orang ini.
Waktu baru lahir sebagai bayi digubuk, sudah dikunjungi raja. Beliau
tidak pernah menulis buku, namun perpustakaan yang beken diseluruh dunia
memuat buku buku tentang omongannya. Ia tidak pernah keluar dari negerinya
apalagi keliling dunia, namun namanya hampir dikenal diseluruh muka bumi.
Tidak pernah mengarang lagu, namun jumlah musik tentang dia melampaui
semua
thema lagu dan nyanyian yang pernah dikarang orang.
Kalender tahunan internasional dipatok dari waktu lahirnya di dunia.
Ia tak pernah mendirikan universitas atau sekolahan, namun murid muridnya
berserakan keseluruh dunia -memberitakan kabar sukacita- sejak ia pergi
untuk menyiapkan tempat kediaman baru bagi para pengikutnya.
Kisah hidupnya, ucapannya dibukukan oleh para muridnya dan telah diterjemahkan
lebih dari 1000+ bahasa. Setahu penulis belum ada buku lain yang mampu
menandingi dari segi jumlah dan terjemahan.
Banyak orang besar dan tersohor datang dan pergi, lahir dan mati.
Namun yang satu ini lain dari yang lain. Bahkan kematian sekalipun
tak dapat
menaklukkannya. Maut tak dapat mengalahkannya. Kuburanpun tak dapat
mengekangnya. Dan yang paling asyik yalah dia akan datang lagi menjemput
orang orang yang percaya kepadanya, umat kepunyaannya, mereka mereka
yang telah ditebus oleh kematiannya.
Penulis jadi mengerti mengapa banyak orang yang pasrah kepada dia, rela
bertahan sampai akhir, karena ia berkata:
"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah
pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan
mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun
ringan."