Menyelami Amsal 8:26 di Tengah Konflik Negara Israel
Amsal 8 adalah salah satu kidung yang paling agung dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama). Di dalamnya, Hikmat (bahasa Ibrani: Ḥokhmah; bahasa Grika: Sophia) yang dipersonifikasikan sebagai sosok perempuan berbicara langsung, menyatakan bahwa ia sudah ada bersama Allah sejak sebelum penciptaan dimulai. Ayat 26 berbunyi:
Amsal Pro8:26 (TB) “ketika Ia belum menjadikan bumi dengan ladang-ladangnya, atau lumpit-lumpit tanah dunia yang mula-mula.”
Ayat ini berada di tengah-tengah puji-pujian panjang (ayat 22–31) yang menggambarkan keberadaan Hikmat sebelum gunung-gunung ditegakkan, sebelum laut diberi batas, dan bahkan sebelum butir debu pertama bumi ini dibentuk. Intinya sangat jelas: Hikmat Allah itu kekal dan turut serta bersama Allah ketika Ia meletakkan dasar-dasar alam semesta.
Pada pandangan pertama, ayat ini tampak jauh dari konflik geopolitik modern. Namun bagi banyak orang Yahudi dan Kristen yang memahami janji-janji Alkitab masih berlaku hingga kini, Amsal Pro8:22-31 memiliki implikasi teologis yang sangat dalam bagi bangsa dan tanah Israel.
Ketika kita membaca berita tentang jaringan proksi Iran – Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hamas dan Jihad Islam di Gaza, milisi Syiah di Irak dan Suriah – yang mengelilingi Israel dari hampir segala penjuru, kontras dengan Amsal 8 menjadi sangat mencolok:
Dari sudut pandang Amsal 8, klaim Alkitab terdengar sangat berani: Allah yang bergembira bersama Hikmat sebelum butir debu pertama dibentuk, telah memilih sepetak “debu” kecil di antara Laut Tengah dan Sungai Yordan sebagai panggung di mana hikmat, keadilan, dan rencana penebusan-Nya akan dibela di hadapan semua bangsa.
Amsal 8:26 bukanlah “cek kosong” bagi Israel untuk melakukan apa saja tanpa hukuman – nabi-nabi sendiri sangat keras mengkritik dosa bangsa itu. Namun ayat ini mengingatkan kita bahwa, dalam pandangan dunia Alkitab, tanah yang kini menjadi pusat pertumpahan darah itu tidak pernah netral secara politik atau rohani. Tanah itu sudah ditetapkan di hati Hikmat Allah yang kekal, jauh sebelum kekaisaran Persia, Romawi, Utsmani, atau peta modern digambar.
Bagi yang beriman, keberadaan kembali bangsa Israel di tanah leluhurnya – melawan segala kemungkinan demografis dan militer – bukan semata-mata hasil kekuatan manusia atau rasa bersalah Barat pasca-Holocaust, melainkan penggenapan dari rencana yang sudah ada sebelum butir debu dunia yang pertama diciptakan. Konflik yang kita saksikan hari ini, seberat apa pun, pada akhirnya akan tunduk kepada Hikmat yang sama yang menyaksikan penciptaan dunia sejak awal mula.
Apakah kita menerima atau menolak
penafsiran
teologis ini, Amsal 8:26 tetap menjadi pengingat yang kuat.
Di balik
semua headline dan ledakan bom, ada Hikmat kekal yang sudah lebih dulu
“melihat” dan mengasihi sepetak tanah kecil itu sejak sebelum waktu
dimulai. Konflik bernuansa spiritual disini.
Maranatha