Predestinasi
><
Kehendak Bebas ?Ishak Natan
April 2010, Sep 2021
Pengantar
Selisih
pendapat tentang 'bebas memilih' atau 'free will' sudah ada diawal abad
ke-5 antara
Agustinus dan Pelagius yang mengkontraskan dua aliran
pemikiran yang paradox. Agustinus bilang bahwa Tuhan Allah
adalah sumber dan inisiasi untuk bertobat. Hal itu datang dari
'atas', dan
bukan dari
manusia. Disisi lain Pelagius yakin manusia
mampu dan harus memilih apa yang benar karena dosa warisan tidak pernah
ada. Anak bayi lahir tanpa cacat dosa sampai
mereka besar dan memilih untuk berdosa. Isyu berubah menjadi
perdebatan
antara faham Predestinasi versus Kehendak Bebas (Free Will).
Kemudian berkembang lebih seru
dibidang theologia diabad ke-16, khususnya setelah Jacob Arminius
(1560-1609), seorang
teolog
Belanda berusaha menjelaskan hubungan antara kedaulatan Allah dan
kehendak
bebas manusia tentang keselamatan. Ia dengan lima poin
argumentasinya mempresentasikan kepada Gereja di Blanda ditahun 1610. Hal ini
mengundang reaksi dari
golongan Calvinis dengan menerbitkan T.U.L.I.P.
(akronim mengacu tanaman bunga yang beken dinegeri Belanda).
Akhirnya rapat Sinode dikota Dort tahun 1619 mengukuhkan konsep TULIP
dan pandangan
Faham Kehendak Bebas dikenali dengan julukan Arminianism,
sebagai kebalikan dari
Calvinism dalam doktrin keselamatan.
Istilah Calvinism mengacu kepada pengajaran dari
karya-karya Johanes Calvin (1509-1564), seorang reformator kelahiran
Prancis
dan menetap di Swiss (Jenewa) sampai wafatnya. Seorang teolog terkenal
pada zamannya setelah
Martin Luther. Ia yang merancang sistem soteriologi (studi
tentang keselamatan) dan dikembangkan lebih jauh oleh para
pengikutnya.
Sampai abad ke-21 selisih pendapat ini
masih berkelanjutan di Indonesia.
https://www.youtube.com/watch?v=i5H2-izEiOo


Aliran
Calvinism
Hiper-Calvinisme
ber-keyakinan bahwa Allah
menyelamatkan umat pilihan melalui kedaulatan-Nya dengan sedikit/
tanpa
usaha dalam mengabarkan keselamatan (seperti penginjilan, pemberitaan,
pemuridan dan doa
bagi yang hilang).
Kelompok
ini menekankan kedaulatan Allah dan meniadakan peran
tanggung jawab manusia dalam karya keselamatan.
Yang
kedua kelompok 'Lima Poin Calvinisme'. Catatan: Calvin tidak menulis ini, karena
ia sudah
mati sebelumnya ditahun 1564.
T
- Total Depravity (kebejatan total),
U
- Unconditional Election (pemilihan tanpa
syarat),
L-
Limited Atonement (penebusan terbatas),
I
- Irresistible Grace (rahmat yang
tak tertahankan), dan
P
- Perseverence of the Saints (ketekunan
orang-orang kudus).
Kelompok ketiga
adalah Calvinis Moderat. Mereka
dapat menerima satu atau lebih dari
Aliran Arminianism
Dilain
pihak faham
Kehendak Bebas lebih jelas
dengan mengkontraskan Arminianisme dengan 'Lima Poin Calvinisme'.
Berangkat dari latar
belakang Predestination
(Pemilihan yang telah ditetapkan) dan Free Will (Kemerdekaan untuk
menentukan
pilihan), kedua faham diatas dapat lebih diserap dengan
melihat kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dari Calvinism
adalah
pengertian 'Eternal Security' yang disamakan
dengan
akronim OSAS (Once Saved Always Saved). Proses Kehidupan Kristen yang
mengacu
ke- Hidup Kudus (Sanctification) sulit dicerna apabila orang berdosa
yang
telah ditebus itu masih meragukan akan keselamatannya.
Disisi lain,
kelemahannya adalah 'pintu Anugrah' cenderung tidak dibukakan,
ditawarkan dan
diberitakan seluas luasnya karena toh Allah sendiri yang akan
menetapkan siapa
siapa yang diselamatkan berdasarkan kedaulatanNya.
Mereka yang
memberitakan, sudah cenderung
apriori (berpraduga) bahwa jangan jangan mereka yang akan
dipanggil sudah masuk
kategori bukan umat pilihan, sehingga usaha Pekabaran Injil tidak
diprioritaskan dan diutamakan.
Sedangan dipihak Armenianism,
keunggulannya adalah
Global Anugrah Keselamatan - Unlimited Atonement. Injil
Anugraha diberitakan dan ditawarkan kepada segala bangsa apapun
agamanya,
warna kulit dan kebudayannya. Kekurangan kelompok
ini menempatkan unsur 'kehendak manusiawi' secara otonom, tanpa
pengaruh
dari ‘atas’. Faham ini memposisikan manusia masih memiliki daya kuasa
penuh untuk mengatakan 'Tidak Mau' atau 'Mau' terhadap tawaran
AnugrahNya. Bagi yang 'Mau' menerima anugerah keselamatan, mereka
sepertinya perlu 'kerja
keras' untuk memelihara dan 'merawat' AnugrahNya agar tidak hilang
atau dicopot.
Singkatnya, Calvinisme menyatakan bahwa Tuhan mentakdirkan, memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan yang lain tidak. Mereka yang terpilih, ditetapkan oleh Allah sebelumnya agar menerima keselamatan dan tidak akan mampu menolak anugerahNya . Sedangkan, mereka yang tidak dipilih akan hilang selamanya dan masuk ke lautan api, tanpa harapan untuk selamat. Doktrin ini pada umumnya menjadi ciri gereja-gereja Reformasi dan beberapa Baptis.
Pandangan
Kitab Suci
Mari kita melihat apa yang
tertulis dalam Alkitab.
Apakah Predestinasi hanya dibatasi
kepada
sekelompok tertentu yang dipilih untuk diselamatkan dan yang lainnya
tidak? Bagaimana
dengan orang orang atheis, agnostik, animis dan pemeluk agama agama
lain bukan
Kristen?
1 John 2:2 Dan Ia adalah pendamaian untuk
segala dosa
kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk
dosa seluruh dunia.
John 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup
yang kekal.
1 Timothy 2:4 yang menghendaki supaya semua
orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
1 Timothy 2:6 yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan
bagi semua manusia:
itu kesaksian pada waktu yang
ditentukan.
2 Corinthians 5:14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami,
karena kami
telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka
semua sudah mati.
Mark 16:15
2 Peter 3:9 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada
orang
yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu,
karena Ia
menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan
bertobat.
Acts 17:30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka
sekarang
Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di
mana-mana semua mereka harus bertobat.
Romans 5:18 Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman,
demikian pula
oleh satu perbuatan kebenaran semua orang
beroleh pembenaran untuk hidup.
Hebrews 2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat
sedikit
lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang
oleh
karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya
oleh
kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi
semua
manusia.
Romans 10:13 Sebab, barangsiapa
yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
Lalu, bagaimana dengan ayat ayat berikut;
Romans 8:29-30 Sebab semua
orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari
semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia,
Anak-Nya itu,
menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang
ditentukan-Nya
dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang
dipanggil-Nya,
mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka
itu juga
dimuliakan-Nya.
Romans 8:29-30 For whom
he did foreknow,
he also did predestinate to be conformed to the image of his Son, that
he might
be the firstborn among many brethren. Moreover whom he did
predestinate, them
he also called: and whom he called, them he also justified: and whom he
justified, them he also glorified.
Konteks dari pasal delapan kitab Roma diatas berkaitan dengan masalah Eternal Security (Keamanan Kekal) bagi mereka mereka yang telah diselamatkan. Sebab
ayat-ayat pertama dibuka dengan:
Romans 8:1-2 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka
yang ada di dalam
Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan
kamu dalam
Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.
dan
ditutup dengan
-->
Terjemahan Bahasa
Indonesianya kurang pas, seyogianya 'Allah
mengetahui sebelumnya' (foreknowledge) dan 'bukan semua orang yang
dipilih-Nya dari semula'(ayat 29). TUHAN Allah mengetahui yang akhir
dari awal, sebab Dia adalah
Allah yang Omniscient
(MahaTahu) seperti tertulis:
TUHAN
Allah dari
'perspektif kekekalan' (diluar dimensi ruang & waktu) mengetahui
siapa siapa yang akan
menerima AnugrahNya dan tidak menetapkan 'engkau harus' karena Allah
memberikan
kebebasan untuk menerima atau menolak tawaranNya. Secara hakiki,
Allah
yang adalah Kasih menyiratkan himbauan kepada manusia berdosa
untuk datang kepadaNya tanpa paksaan. "Marilah kepada-Ku, semua
yang
letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu".
Mat 11:28
Kalau ada yang bilang bahwa 'dari sono' nya
sudah
ditetapkan dan telah dipilih, maka ia memposisikan dirinya sebagai juri
(hakim), padahal Paulus menulis:
1 Corinthians 1:11-13 Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?
1 Corinthians
4:5-6 Karena
itu, janganlah
menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan
menerangi,
juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan
apa yang
direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian
dari
Allah. Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri
dan pada
Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah
artinya
ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada
di
antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu
dari
pada yang lain.
Seumpama ditulis dizaman Now, akan seperti ini: "Adakah Johanes Calvin disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Jacob Armenius"?
Lalu bagaimana dengan ini . . .
Ephesians 1:4-5
Sebab di dalam Dia Allah telah
memilih kita
sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di
hadapan-Nya. Dalam
kasih Ia telah menentukan kita dari semula
oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan
kehendak-Nya,
Paulus
menulis kepada
orang-orang kudus di Efesus tentang segala berkat-berkat rohani sorgawi
'didalam
Kristus' yang telah dicurahkan sebagai bekal untuk hidup kudus bagi anak
anak Tuhan Allah. Perlu direnungkan perbedaan pengertian diluar Kristus,
ke-Kristus
dan di-dalam Kristus.
Perikop ayat ayat itu menekankan
pengertian -->
Ephesians
1:11-14 Aku
katakan "di dalam Kristus",
karena di dalam
Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari
semula ditentukan
untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam
segala
sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- supaya
kami, yang sebelumnya telah menaruh
harapan pada Kristus, boleh
menjadi puji-pujian bagi
kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah
mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam
Dia kamu
juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan
dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah
jaminan
bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang
menjadikan
kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
Terjemahan bahasa Inggrisnya lebih jelas
dalam menampilkan urutan proses 'keselamatan'.
Dilain pihak faham 'Kehendak Bebas' mengajarkan bahwa manusia dapat
memberikan
respon melalui kemampuannya sendiri. Apa begitu?
Ephesians 2:8 Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah,
Ephesians 2:9 itu bukan
hasil pekerjaanmu:
jangan ada orang yang memegahkan diri.
Galatians 3:22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala
sesuatu
di bawah
kekuasaan dosa, supaya oleh
karena iman
dalam Yesus Kristus janji itu diberikan
kepada
mereka yang percaya.
Pertanyaannya, bilakah seseorang mengetahui bahwa ia sudah dipilih dari semula? Sebelum percayakah atau sesudah percaya? Sebelum menerima atau sesudahnya? Apa kesimpulan Anda?
Ringkasan
Ada dua alur pemahaman. Yang pertama dari
titik tolak predestinasi. Tuhan menciptakan sebagian umat manusia
untuk
diselamatkan dan
sebagian yang lain menjadi hilang. Oleh
karena itu, di-keberadaan kekal (
Yang kedua pemikiran faham Kehendak Bebas;
berpandangan bahwa manusia dapat menolak
atau menerima tawaran anugrah Tuhan.
Namun
Tuhan tidak memaksa, hanya menghimbau untuk menerima
anugrah tersebut.
2 Peter 3:9 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
Posisi ini dianut oleh pengikut Arminian. Implikasinya barangsiapa yang menolak, resikonya ditanggung sendiri dan bukan ditentukan sebelum dunia dijadikan. Alasannya?
John 3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
John 3:36 Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."
Kebebasan
memilih diberikan seperti halnya
dengan 'mengunakan hak pilih pada waktu Pemilihan Umum'. Walaupun
demikian, toh iman untuk percaya
itu juga datang
dari 'atas' dan bukan muncul otomatis dari dalam diri manusia yang
sudah
bejat total.
Contoh
Alkitab: Seorang ayah yang anaknya kerasukan roh bisu minta tolong kemurid-murid Yesus dan gagal melepaskannya.
Ayah ini mengeluh pada Yesus dan anak tersebut dibawa ke hadapanNya
dalam keadaan 'terpelanting
ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa'. Wawancara
singkat terjadi:
Mark 9:21-24 Lalu Yesus bertanya kepada ayah
anak itu: "Sudah
berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya. Dan
seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk
membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah
kami dan kasihanilah kami." Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat?
Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" Segera ayah anak itu
berteriak: "Aku
percaya.Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"
Kita lihat disini sang ayah percaya namum butuh intervensi dari 'atas', dan bukan seluruhnya dari diri sendiri
Meminjam
analogi dari dunia
industri. sepertinya setiap 'produk' roh/jiwa yang lahir kedunia,
memiliki
"nomer identitas", dan dicatat didalam "Kartu Induk
Produksi".
Sungguh, semua
jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan
orang yang
berbuat dosa, itu yang harus mati. Eze 18:4
Hebrews 12:9 Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita
beroleh
ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus
lebih
taat kepada Bapa segala roh,
supaya kita boleh hidup?
Sebelum
dunia
dijadikan TUHAN Allah dalam kemaha-kuasaNya menulis nama SETIAP
ORANG
didalam kitab kehidupan. Dan tidak disebut kitab kematian atau kitab
kebinasaan. Mereka yang tidak mau tobat dan percaya/ pasrah sampai
akhir
hayatnya, barulah namanya dihapus. Bagi yang percaya dan menerima Yesus
sebagai
Juruslamat dan Tuhan pribadinya, maka namanya dicawang
(di-tick).
Sama seperti kalau kita menerima
Contoh:
Saking Allah sangat mengasihi umat pilihanNya [Israel], mereka toh
mampu menolak
kedatangan anakNya sebagai Mesias mereka dan Yesus bernubuat:

Kesimpulan
Seperti Anda dapat lihat, titik
inti
perselisihan tentang Predestination atau Free Will, adalah pilihan
SIAPA bahwa manusia diselamatkan. Apakah itu pilihan sepenuhnya dari Tuhan
berdasarkan
kedaulatanNya atau sepenuhnya kita manusia yang memilih?
Dengan kalimat lain, kebenaran
Firman Tuhan itu seumpama 'Batu Intan' yang memiliki ratusan
faset-faset diseluruh permukaan nya. Sama seperti salah satu faset
utamanya berseberangan total dengan faset inti kebalikannya, demikian
juga
antara faset pikiran kedaulatan Allah dan faset logika
pikiran manusia.
Kedua faham pengertian tersebut adalah setengah kebenaran.
Predestinasi dan
Kehendak Bebas adalah seluruh kebenaran Alkitabiah.
Penutup
Sebuah
kisah jenaka
menceritakan sekelompok akhli-akhli teologia membahas predestinasi dan
kehendak
bebas. Diskusi menjadi hangat dan beralih ke perselisihan sampai pecah
menjadi
dua fraksi yang saling bermusuhan. Lalu seorang berdiri
karena ia tidak
tahu kepada grup yang mana ia akan pilih. Akhirnya ia memutuskan
bergabung
dengan grup predestinasi. Ia melangkah mendekati dan disambut dengan:
"Siapa suruh lu kemari?" "Tidak ada yang suruh, aku sendiri yang pilih
untuk bergabung." "Aha, Kehendak Bebas?', mereka berteriak
kepadanya: "Kamu tidak bisa datang kesini. Tempat lu digrup