Ishak Natan
September 2011
Prakata
Tulisan ini dibuat untuk memperkaya kehidupan rohani 'Komunitas Kristus' (ekklesia) dan mencoba urun rembug dalam rangka menyikapi topik diatas. Diawali dengan Pengantar, Alasan alasan yang mendukung, Alasan alasan yang menyanggah, Prospek kedepan serta Kesimpulan.
Pengantar
Latar Belakang Identifikasi Permasalahan
Waktu upacara PK (Perjamuan Kudus) di Jemaat berbahasa Inggris ditengarai (suspected) anak anak kecil ikut upacara sakral dilayani oleh gembala sidang yang sekarang sudah pensiun. Hal ini 'menggugah' gembala sidang jemaat Indonesia untuk mulai 'men-sosialisaikan' diberbagai kesempatan antara lain lewat komisi Sekolah Minggu dan IC (Indonesian Council) agar anak anak kecil diperkenankan mengambil bagian diupacara PK, mengingat ada tertulis:
Mark 10:13-14 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
Sebagai catatan:
Penyelengaraan Sidang Jemaat berbahasa Indonesia bernaung dibawah payung PCANZ (Presbyterian Church of Aotearoa New Zealand). Didalam Book of Orders dari PCANZ, semacam 'Peraturan Tata Tertib Penyelengaraan Rumah Tangga' dibedakan antara anggota penuh dan anggota asosiasi (associate member). Anggota asosiasi namanya masih terdaftar di Gereja Protestan berdenominasi lain dan belum dipindahkan. Bedanya dengan anggota penuh, anggota asosiasi tidak dapat dipilih menduduki jabatan struktural. Anak anak mereka dari kedua macam keanggotaan memiliki hak yang sama; "to have any child participate in communion," (Bab 4.4 (e); Bab 4.5 (d). 1
Gereja gereja dibawah synode Gereja Kristen Indo, anak2 yang sudah dibabtis dan sidi bisa ikut makan roti dan minum anggur dalam PK. (sidi: pada usia anak2 Indonesia dianggap sudah cukup dewasa untuk memahami arti PK)
Congregation bahasa Inggris St Andrews saat inipun memegang policy secara resmi anak2 tidak boleh ikut dalam PK, sebelum melakukan confirmation of faith.
Alasan alasan mendukung
Pada pertemuan rapat Indonesian Council (IC) tanggal 3 September 2011 pimpinan rapat mengajak para anggota IC agar penyelengaraan bergereja berbahasa Indonesia perlu ditingkatkan mengikuti perkembangan bergereja di New Zealand yang makin komplex. Jemaat 'pusat' dan 'cabang' agar bertambah mantap, sepatutnya para anggota IC melakukan 'perubahan' yang berkesinambungan, khususnya dari sudut pandang theologia. Sarana kelas PETA antara lain dibentuk untuk pembelajaran ide/konsep pemikiran dalam bergereja dan berteologia. Didepan kita akan menemukan kata 'reformasi'.
Definisi Reformasi secara sederhana:
1 [uncountable] (formal) the act of improving or changing
somebody/something
2 the Reformation [singular] new ideas in religion in 16th century Europe that led to attempts to reform the Roman Catholic Church and to the forming of the Protestant Churches; the period of time when these changes were taking place.2
Alasan kedua mengacu ke Perjanjian Lama memperingati peristiwa Paskah pada malam hari dan keluarnya umat pilihan Israel dari tanah Mesir secara tergesa gesa . . .
Exodus 12:7-14 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. . . buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN. . . . Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. . . . Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.
Sebagai komunitas Kristus yang telah dipilih 'keluar dari Mesir (dunia)' apa salahnya anak anak 'diharus sertakan' dalam PK sama seperti disetiap keluarga Israel yang anak anaknya juga boleh memakan daging domba?
Alasan terakhir kita perlu konsisten. St Andrews Church menerima sakramen Baptisan Anak, mengapa kalau sakramen PK anak anak tidak boleh diikutkan?
Alasan alasan sangahan
Pertama tama contoh kaum keluarga Israel di Perjanjian Lama walaupun diharuskan memperingati Perayaan Paskah; tidak bearti jemaat Kristen di Perjanjian Baru juga harus mengikut sertakan anak anak 'mengenang kebelakang' akan korban Anak Domba Allah dikayu salib sebagai tebusan dosa umat manusia. Meskipun beberapa gereja Presbyterian sudah ada yang melakukannya, namun penyelengaraannya berlandaskan kesepakatan bersama session setempat dan bukan polesi yang harus diterapkan diseluruh jajaran gereja Presbyterian. 3
Alasan kedua, warga jemaat Indonesia umumnya keluarga immigran dan sudah memaklumi bahwa upacara sakral & khidmat menuntut keteraturan dan ketertiban dalam penyelegaraannya. Arti sakral keyakinan iman akan penebusan tubuh dan darah Yesus sulit dipahami anak2 & remaja. Kanak kanak tidak diikutkan PK karena tidak mengerti arti ayat ayat 'sebagai peringatan akan Daku'. Apalagi untuk meresapi makna 1 Corinthians 11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Mereka bukan ditolak, melainkan dilibatkan diperayaan Paskahnya atau pada waktu acara Paskah keluarga dan bukan pada upacara PK-nya dimana sakramen makan roti dan minum anggur dilakukan. 4
Alasan ketiga tentang penafsiran ayat:
1 Corinthians 11:28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.
Secara gamblang memang anak anak belum mampu menguji dirinya, namun disanggah bahwa kata 'menguji' dapat ditafsirkan lebih jauh lagi. Pada momen inilah tercetus kata 'reformasi'.
Penulis menyimpulkan bahwa kata 'reformasi' tidak tepat. Mengapa? Dalam rangka mengupayakan agar anak anak dapat ikut PK, maka cara seperti ini dijuluki Dekonstruksi dan bukan Reformasi. Dalam bahasa Indonesianya kosakata ini masih belum ada, dalam bahasa Inggrisnya adalah: "(in literature and philosophy) a theory that states that it is impossible for a text to have one fixed meaning, and emphasizes the role of the reader in the production of meaning".5 Awalnya kata reformasi lahir diawal abad 16 zamannya Martin Luther dan Johannes Calvin menelanjangi kebobrokan sistem percaya gereja Roma Katolik dan menempatkan kembali Alkitab sebagai sumber otoritas tunggal; dan bukan budaya & tradisi gereja. Sejak itu lahirlah motto Reformasi (5S) yaitu Sola Scriptura (Hanya Alkitab saja), Sola Fide (Hanya Iman saja), Sola Gratia (Hanya Anugrah saja), Sola Christo (Hanya Kristus saja) ,Soli Deo Gloria (Demi Kemuliaan Yang Maha Tinggi).6
Alasan keempat, walaupun Baptisan Anak diterima,
tidak berarti PK melibatkan anak anak harus diterima. Dikalangan
Presbyterian banyak gereja gereja yang menolak PK anak anak. Kalau
begitu St Andrews Church ikut-ikutan tidak konsisten kan? Jawab: topik
Baptisan Anak ini besar dan memerlukan diskusi khusus dilain kesempatan
karena sudah menyangkut pengajaran 'Sejarah Gereja' (Church History).
Alasan kelima; jalur yang memungkinkan anak anak & remaja bisa mengerti dan memahaminya telah tersedia melalui sarana kateksasi & 'baptisan' sidi sebelum akhirnya mereka diperkenankan ikut Perjamuan Kudus.
Prospek kedepan
Pada rapat Session sebelum rapat IC tanggal 3 Sep., masalah ini dibahas dan diusulkan pembentukan 2 KK (kelompok kerja) dari jemaat Indonesia dan jemaat berbahasa Inggris agar ditinjau aspek theologianya boleh atau tidak boleh. Selanjutnya akan dibahas lagi di Session untuk pengambilan keputusan.
Dari silang pendapat yang berlangsung penulis sudah membaca 'tanda-tanda' bahwa session 'Bule' memandangnya sebagai 'inappropriate conduct' seandainya melibatkan anak anak dalam upacara sakral PK. Perlu diingat sistem pegambilan keputusan dibawah tata-gereja presbyterial menekankan musyawarah untuk mufakat untuk Session lokal. Kedudukan posisi jabatan kependataan dan posisi kemajelisan kaum awan secara struktural adalah sama. Struktur hirarkinya satu level di Session dan di IC setempat. Hal ini amat berbeda sekali dengan sistem penyelengaraan bergereja model Pentakosta/ Kharismatik dimana gembala sidang memang memiliki hak 'memforsir' perubahan.7 Masalah PK kalau tidak ditutup, berpotensi menimbulkan 'keretakan didalam'. Meskipun tidak mencuat dipermukaan, paling tidak sudah 'memecah belah pemikiran bersama tentang PK' dijajaran IC dan Elder Indo.
Kesimpulan
Ephesians 4:30-32 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Mengingat perdebatan ini akan mendukakan Roh Kudus serta menimbang pemeliharaan akan kesatuan dengan session 'Bule'menduduki prioritas yang lebih tinggi plus masukan masukan dari para anggota IC, para Elder Indo dan jemaat umumnya, maka penulis menghimbau masalah diatas seyogyanya tidak dilanjutkan lagi sampai ada kepastian jawaban dari Tuhan Yesus sendiri. Lho, mengapa? Ada dua sebab. Yang pertama, sebab Dialah yang pertama-tama menginstitusikan lewat rasul Paulus,
1 Corinthians 11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti . . .
Yang kedua pada saat kedatanganNya kita langsung tanya kepadaNya: "Tuhan apakah kanak kanak boleh ikut Perjamuan Kudus"? Bagaimana pendapat Anda?
Bahan bahan rujukan
1http://presbyterian.org.nz/sites/default/files/for_parishes/Book_of_Order_2010_corrected_March_2011.pdf
3"In 1977 Assembly decided that, if the
Session or Parish Council agreed, baptised children may share
communion. "
Special services | Presbyterian Church of Aotearoa New Zealand.pdf, p
72.
4Setelah Votum, Salam, Doa, Pengakuan Dosa dan Nyanyian Jemaat, anak anak dan remaja dikirim keluar kekelasnya masing masing.
7Seorang Elder Indo berkata: “Perubahan yang hanya bersifat practical / pelaksanaan bergereja bisa saja dilakukan. Tapi kalau mau mengadakan pembaruan (baca: merubah!) hal2 yang bersifat structural, doktrin / dogma, sakramen, theologis, ta-tib, perlu dipertanyakan lebih jauh: apakah ada yang keliru dalam kita bergereja, apakah ada terjadi hal2 yang tidak alkitabiah selama ini? Apakah pemahaman yang kita bawa dari Indonesia sewaktu kita bergereja disana dan yang mendewasakan kita, ternyata salah dan perlu di”reformasi”?