Alasan kedua mengacu ke Perjanjian Lama memperingati peristiwa Paskah pada malam hari dan keluarnya umat pilihan Israel dari tanah Mesir secara tergesa gesa . . .

Exodus 12:7-14 Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. . . buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN. . . . Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. . . . Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.

Sebagai komunitas Kristus yang telah dipilih 'keluar dari Mesir (dunia)' apa salahnya anak anak 'diharus sertakan' dalam PK sama seperti disetiap keluarga Israel yang anak anaknya juga boleh memakan daging domba?

Alasan terakhir kita perlu konsisten. St Andrews Church menerima sakramen Baptisan Anak, mengapa kalau sakramen PK anak anak tidak boleh diikutkan?



Bahan bahan rujukan

1http://presbyterian.org.nz/sites/default/files/for_parishes/Book_of_Order_2010_corrected_March_2011.pdf

2http://www.oxfordadvancedlearnersdictionary.com/

3"In 1977 Assembly decided that, if the Session or Parish Council agreed, baptised children may share communion. "
Special services | Presbyterian Church of Aotearoa New Zealand.pdf, p 72.

4Setelah Votum, Salam, Doa, Pengakuan Dosa dan Nyanyian Jemaat, anak anak dan remaja dikirim keluar kekelasnya masing masing.

5http://www.oxfordadvancedlearnersdictionary.com/

6http://www.gotquestions.org/Protestant-Reformation.html

7Seorang Elder Indo berkata: “Perubahan yang hanya bersifat practical / pelaksanaan bergereja bisa saja dilakukan. Tapi kalau mau mengadakan pembaruan (baca: merubah!) hal2 yang bersifat structural, doktrin / dogma, sakramen, theologis, ta-tib, perlu dipertanyakan lebih jauh: apakah ada yang keliru dalam kita bergereja, apakah ada terjadi hal2 yang tidak alkitabiah selama ini? Apakah pemahaman yang kita bawa dari Indonesia sewaktu kita bergereja disana dan yang mendewasakan kita, ternyata salah dan perlu di”reformasi”?