ORANGTUA
SEBAGAI PENDIDIK BAGI ANAKNYA
Oleh:
Karyanto Gunawan & Ishak Natan
Mei 2012
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari
ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya
berulang-ulang
kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu,
apabila
engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila
engkau
bangun.” (Deu 6:6-7).
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan
amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam
ajaran dan
nasihat Tuhan” (Eph 6:4).
“Didiklah orang
muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia
tidak akan
menyimpang dari pada jalan itu.” (Pro 22:6).
Bagian Kitab Suci
yang kami kutip di atas dengan jelas memperlihatkan peran dan tugas
orangtua
dalam hal mendidik anaknya dengan “kurikulum” yang berhubungan dengan
perintah Tuhan atau ajaran dan nasihat
Tuhan, agar anak-anak menjadi pribadi yang mengasihi / menghormati
Tuhan dengan
melakukan perintah / ajaran dan nasihat Tuhan dalam kehidupan mereka.
Pada
bagian lain di Exo 12:24-28, kita dapati bagaimana Tuhan memerintahkan
para orangtua Israel untuk menjawab pertanyaan anak-anak mereka yang
berhubungan dengan masalah ibadah / iman mereka.
Kami yakin pembaca INKOM (khususnya yang sudah
lama menjadì murid Kristus) tahu ayat-ayat Kitab Suci tersebut,
sehingga tahu
bahwa kepada kita, para orangtua, Tuhan memberikan peran sebagai
pendidik bagi
anak-anak yang Tuhan titipkan dalam keluarga kita. Masalahnya adalah
apakah hal-hal
yang harus kita perhatikan agar kita menjadi pendidik yang efektif bagi
anak
kita.
1. Mulailah Sejak Dini.
Perkembangan moral seorang anak bertumbuh
melalui tahapan-tahapan tertentu. Karena itu sejak dini isilah hati dan
pikiran
anak dengan kisah-kisah dari Alkitab dengan menceritakannya. Bagi anak
yang
sudah dapat mengerti kata benda / kerja / sifat yang abstrak, seperti:
mengasihi, membenci,
pandai, bodoh, rajin, malas; ajaklah anak untuk membaca bersama kitab
Amsal
secara berkala diselingi dengan tanya-jawab.
Mengapa kitab Amsal ? “Untuk mengetahui hikmat dan didikan,
untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang
menjadikan
pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan
kecerdasan kepada
orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan
kepada orang muda.”
(Pro 1:2-5, 7-10).
Kitab Amsal berjumlah 31 pasal. Bacalah
bersama anak setiap hari satu pasal, yaitu pasal yang sesuai tanggal
hari
tersebut (sedikit berubah untuk bulan dengan jumlah hari bukan 31
hari).
Lakukan tanya jawab sesudahnya mengenai hal-hal yang ia mengerti dalam
rangka
membangun sifat patuhnya (obedience). Kegiatan ini hanya memerlukan
waktu
sekitar 15-30 menit per hari. Inilah investasi yang paling bernilai
yang kita
dapat lakukan sebagai orangtua bagi anak, daripada membiarkannya
berjam-jam
nonton film kartun di televisi.
2. Teladan Orangtua.
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari
ini haruslah engkau perhatikan.” (Deu. 6:6). “Kamu harus memegang ini
sebagai
ketetapan……..” (Exo. 12:24). Sebelum orangtua berperan sebagat pendidik
bagi
anaknya, maka orangtua haruslah menjadi pribadi yang terlebih dahulu
memperhatikan / memegang / mematuhi perintah Tuhan. Orangtua haruslah
terlebih
dahulu menjadi murid Kristus, bila ia ingin menjadi pendidik yang
efektit dalam
proses pemuridan anak-anaknya menjadi murid Kristus.
Teladan kehidupan orangtua adalah metode
yang paling efektif dan aman dalam mendidik anak. Sebuah pepatah
berkata
demikian: You may train your child by what you say, or by what you do;
but you
train them most by what you are. Atau mungkin Anda pernah mendengar
ungkapan:
Like father like son. Salah satu faktor pemicu yang membangkitkan
amarah anak
kepada orangtuanya (khususnya kepada ayah) adalah absennya tetadan
orangtua
dibalik perintah-perintah / kehendak orangtua kepada anaknya.
Timbul pertanyaan bagaimana bila orangtua
yang di dalam ketidaksempurnaannya sebagai manusia melakukan suatu
perbuatan
yang tidak sesuai dengan perintah / ajaran / nasihat Tuhan, dan
perbuatari itu
diketahui oleh anaknya ? Dalam kasus demikian, kami yakin anak akan
tetap
menghormati orangtuanya, bila orangtua segera
bertobat, menunjukkan penyesalan yang mendalam, dan dengan rendah hati
mengaku
di hadapan anak.
3. Berulang-ulang di Setiap kesempatan.
Mengapa berulang-ulang ? Karena kita semua
menyadari, bahwa adalah sebuah kemustahilan untuk membentuk karakter /
moral /
kerohanian seseorang hanya dalam satu kali langsung jadi. Repetition is
the
mother of skill and character, demikian kata Rick Warren.
Bagian ini secara implisit mengingatkan
kita para orangtua, bahwa untuk membentuk satu pribadi yang berkenan
kepada
Tuhan diperlukan waktu, perlu sebuah proses, jangan mengharapkan hasil
secara
instan. Bandingkanlah bila kita ingin menghasilkan sebuah film yang
baik, yang
berkualitas, pasti diperlukan banyak waktu, apalagi ingin membentuk
satu
pribadi yang hidupnya mengasihi Allah dan sesamanya.
Berikut ini adalah intisari dari buku
Training Your Children for Christ yang ditulis oleh
William Booth.
Prinsip-prinsip Mendisiplin Anak:
- Pastikan
perbuatan “apa” yang salah.
- Pastikan bahwa
perbuatan salah itu dilakukan dengan sengaja.
- Lakukan
pendisiplinan sedini mungkin setelah anak bersalah, jangan menunda.
- Hukuman yang
diberikan harus memberi efek jera agar perbuatan salah itu tidak
diulangi lagi.
- Pakai “tongkat
didikan” dimana perlu, dan imbangi dengan ungkapan kasih segera setelah
itu. Pro 13:24 berkata “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada
anaknya tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.
(Bandingkan Pro 22:15; 23:13-14; 29:15).
- Jangan
mendisiplin anak bila orangtua dalam keadaan letih atau marah.
- Jangan diulur
menjadi konflik berkepanjangan. Pendisiplinan yang cepat mempercepat
proses ketaatan daripada dibiarkan.
Hal-hal “JANGAN”
yang Perlu Orangtua
Ketahui:
1. Jangan
sekali-kali mengutamakan hal-hal duniawi dan sementara lebih daripada
hal-hal
surgawi dan kekal.
2. Jangan
ditipu diri sendiri, bahwa membiarkan anak semaunya akan membuatnya
menjadi
pribadi baik dan rela berkorban.
3. Jangan
berharap anak yang keras hati akan tunduk pada Tuhan dan orangtua,
tanpa
kesabaran dan doa orangtuanya.
4. Jangan
berpikir anak tidak tahu kalau hidup Kristen Anda palsu dan pura-pura.
5. Jangan
berharap karakter anak akan Iebih baik dari contoh hidup Anda sendiri
dan teman
sepergaulannya.
6. Jangan
cemari “keindahan” hati anak dengan “kecantikan palsu” dunia.
7. Jangan
isi pikiran anak dengan “superioritas” atas teman sekolah, sepergaulan
dan
orang sekitarnya.
8. Jangan
jadikan anak letaki “raja kecil” atas saudaranya yang perempuan
9. Jangan
bisiki anak perempuan bahwa tujuan utama hidup hanyalah perkawinan.
10. Jangan manjakan anak berlebihan.
11. Jangan berargumentasi di hadapan anak dengan
pasangan hidup kita
12. Jangan pilih kasih di antara anak-anak.
13. Jangan segan mendisiplin kalau anak berjalan
di jalan sesat, atau mendambakan sesuatu yang salah menurut Anda
sebagai orangtua,
walaupun mesti ribut dengannya.
Sebagai penutup, patut kita semua ketahui,
bahwa tugas yang paling utama dari orangtua Kristen bukanlah menjadikan
anak-anaknya beragama Kristen, melainkan hiduplah secara Kristen dengan
konsisten. Ketika anak-anak melihat keagungan iman dan keindahan
kehidupan
orang-orang yang percaya kepada Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus,
maka
anak-anak pun akan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru selamat mereka
secara
pribadi. Kiranya Allah Tritunggal menganugerahkan rahmat dan hikmat-Nya
agar
kita dapat menjadi orangtua-orangtua yang berkenan kepada-Nya.